ISSN : 2808-0084 Vol. 3 No. 1 (Oktober, 2. Analysis Of Nursing Care In Sensory Perception Disorders Hearing Hallucinations With The Implementation Of Family Psychoeducation Helda Faulina Program Pendidikan Profesi Ners. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Email: heldafaulina3@gmail. ABSTRACT Schizophrenia is a maladaptive response to the environment as evidenced by thoughts, feelings and behavior that are not in accordance with local norms and interfere with a person's social, work and physical functioning (Dermawan & Rusdi, 2. 70% of schizophrenia patients experience hallucinations. Hallucinations are changes in sensory perception, feeling false sensations in the form of sound, sight, taste, touch or smell. Factors causing recurrence of hallucinatory clients who return home include failure to take medication and the family's inability to care for the client. One of the nursing actions that can be implemented is the implementation of family psychoeducation. Family psychoeducation is one element of a family mental health care program by providing information and education through therapeutic communication. The aim to explain the analysis of the application of psychoeducation to reduce relapse in schizophrenia patients with auditory The research method is a case study of hallucination patients at Balangan Regional Hospital. The intervention carried out was in the form of 4 Family SP sessions where the results were that the family was able to carry out family implementation SP strategies and was able to reduce the relapse rate in clients as shown by the family being able to explain strategies for implementing hallucinations. And this is proven by the patient's understanding of strategies for implementing hallucinations when hearing voices. Keywords : Family Psychoeducation. Hallucinations. Schizophrenia PENDAHULUAN Gangguan jiwa atau skizofrenia merupakan respons maladaptif dari lingkungan internal dan eksternal yang ditandai dengan pikiran, perasaan, dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma atau budaya setempat serta mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, dan/atau fisik (Dermawan & Rusdi, 2. Pemahaman tersebut menjelaskan bahwa klien gangguan jiwa akan menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dimana perilaku tersebut mengganggu fungsi sosialnya. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2022 menunjukkan sekitar 300 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan jiwa, terdiri dari depresi, gangguan bipolar, demensia, dan termasuk 24 juta orang menderita Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), skizofrenia merupakan salah satu dari 15 penyebab utama kecacatan di seluruh dunia (NIMH, 2. Sedangkan berdasarkan American Psychiatric Association (APA) pada tahun 2018, 1% penduduk dunia menderita skizofrenia. Hasil penelitian Kesehatan dasar tahun 2018, diperoleh data prevalensi skizofrenia di Indonesia mencapai 6,7% penderita. Data prevalensi gangguan jiwa di Kalimantan Selatan yang mendapat pelayan sesuai standar yaitu sebanyak 001 kasus atau 81% pada tahun 2020, yang mana prevalensi penderita skizofrenia sebesar 1,4 per seribu penduduk (Wijaya, 2. Dari hasil data Dinkes Kabupaten Balangan penderita dengan diagnosa Skizofrenia sebanyak 249 kasus pada tahun 2021. Sedangkan data prevalensi pasien skizofrenia di RSUD Balangan pada tahun 2022 yaitu sebanyak 110 orang. Menurut (Yosep & Sutini 2. pada pasien skizofrenia 70% pasien mengalami halusinasi. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan atau penghiduan. http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 3 No. 1 (Oktober, 2. merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada (Keliat, 2. Pasien halusinasi yang sudah sembuh dan pulang dari Rumah Sakit bisa mengalami kekambuhan, faktor penyebab klien kambuh dan perlu di rawat di rumah sakit kembali, pertama dimana diketahui bahwa klien gagal mengkonsumsi obat secara teratur mempunyai kecenderungan untuk kambuh, kedua dokter sebagai pemberi resep yang diharapkan tetap waspada mengidentifikasi dosis teraupetik yang dapat mencegah kambuh dan efek Samping, ketiga yaitu penanggung jawab klien setelah pulang ke rumah, maka perawat puskesmas tetap bertanggung jawab atas program adaptasi klien di rumah sakit, dan yang keempat yaitu ketidakmampuan keluarga dalam klien merawat juga sebagai faktor penyebab kekambuhan klien. Adapun salah satu tindakan pembunuhan yang dapat digunakan untuk mencegah kekabuhan klien yaitu dengan penerapan psikoedukasi keluarga. Psikoedukasi keluarga adalah salah satu elemen program perawatan kesehatan jiwa keluarga dengan cara memberikan infromasi, edukasi melalui komunikasi terapeutik. Oleh karena itu pentingnya intervensi kepada keluarga melalui pendekatan psikoedukasi untuk memperkecil peluang munculnya dan bertahannya Berdasarkan hasil penelitian oleh Suryenti . terjadi perubahan atau peningkatan kemampuan keluarga merawat pasien dengan halusinasi yang diukur melalui penerapan strategi pelaksanaan keluarga. Hasil penelitian menyatakan bahwa strategi pelaksanaan keluarga dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat pasien dengan halusinasi. Menurut Yosep . kemampuan keluarga tersebut sangat berpengaruh terhadap pasien dalam mengontrol halusinasi. Pentingnya perawatan dilingkungan keluarga dapat dilihat dari berbagai segi yaitu keluarga yang merupakan suatu konteks dimana individu memulai hubungan interpersonal. Oleh karena itu setelah pasien tidak lagi dirawat di rumah maka perawatan sakit selanjutnya akan dilakukan oleh keluarga. Apabila keluarga tidak memiliki kemampuan untuk merawat pasien dengan halusinasi maka kecenderungan pasien untuk kambuh akan semakin besar. Keterlibatan keluarga dalam perawatan sangat menguntungkan proses pemulihan pasien. Berdasarkan penilitian betapa pentingnya sebuah metode alternatif, yang dapat dilakukan yaitu penerapan psikoedukasi keluarga untuk mengurangi kekambuhan pasien dengan gangguan Skzofrinia dengan Halusinasi. Dari uraian dan hasil temuan penelitian yang ada, maka peneliti tertarik untuk membuat karya ilmiah yang berjudul AuAnalisis Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Pendengaran Dengan Penerapan Psikoedukasi Keluarga Di RSUD BalanganAy. METODE Desain penelitian menggunakan desain studi kasus dengan kasus tunggal. Studi kasus tunggal adalah menguji suatu teori yang sudah disusun dengan baik, teori tersebut telah menspesifikasi serangkaian proporsi yang jelas serta dimana proporsi-proporsi tersebut diyakini kebenarannya (Yin, 2. Metode desain studi kasus merupakan metode yang berfokus dalam memberikan gambaran mengenai klien dengan gangguan persepsi sensori Halusinasi pendengaran dan Intervensi Keperawatan dengan Penerapan Psikoedukasi Keluarga. Tempat penelitian dilakuakan di RSUD Balangan. Waktu penelitian dilakukan selama 3 hari. Pengambilan data dengan menggunakan lembar ceklis skor RUFA dan SP keluarga HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengkajian pada klien Tn. R, klien mengalami bisikan-bisikan yang menyuruh dia Dengan tanda-tanda vital TD : 130/90 mmHg. HR : 70 x/mnt. RR : 20 x/mnt. T: 36,70C dan Spo2 : 99%. BB 62 Kg. TB 160 cm. klien tampak gelisah. Hasil pengkajian keperawatan didapatkan bahwa klien mengalami persepsi sensori halusinasi pendengaran. Riwayat putus obat dan mengalami kekambuhan Saat dilakukan pengkajian pada keluarga klien, keluarga klien tampak koperatif dan bisa diajari dalam memberikan psikoedukasi keluarga dengan menerapkan Strategi Pelakasanaan Keluarga. Psikoedukasi keluarga merupakan salah satu pengembangan dari terapi keluarga. dipilih oleh Anderson. Falloon. Goldstein dan McFarlane sebagai suatu metode edukasi bagi keluarga dengan salah satu anggota keluarganya menderita gangguan jiwa. Terapi ini dapat dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa untuk melatih anggota keluarga dalam merawat salah satu anggota keluarga yang mengalami gangguan Keluarga merupakan sumber dukungan positif yang sangat luar biasa untuk mempertahankan dan meningkatkan koping keluarga dengan klien gangguan jiwa. Tujuan psikoedukasi keluarga adalah untuk mencegah kekambuhan klien gangguan jiwa, dan untuk mempermudah kembalinya klien ke lingkungan http://journal. id/index. php/jnhe ISSN : 2808-0084 Vol. 3 No. 1 (Oktober, 2. keluarga dan masyarakat dengan memberikan penghargaan terhadap fungsi sosial dan okupasi klien gangguan jiwa. Hasil pengkajian kepada klien mendapatkan diagnosa yaitu, halusinasi pendengaran, manajemen kesehatan keluarga tidak efektif, isolasi sosial, dan risiko diagnosa perilaku kekerasan. Halusinasi pendengaran sebagai diagnosa prioritas. Perencanaan perawatan halusinasi klien dengan intervensi psikoedukasi keluarga dilakukan dengan 4 strategi pelaksanaan keluarga yang terdiri dari keluarga dapat mengetahui masalah dalam merawat klien halusinasi dan melatih mengontrol halusinasi klien dengan menghardik, keluarga mampu merawat klien halusinasi dengan enam benar minum obat, keluarga mampu mengajari klien bercakap-cakap cakap dan melakukan kegiatan, dan keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk menindaklanjuti kondisi klien. Hasil implementasi dari penerapan psikoedukasi keluarga yang diperoleh. Keluarga mengenal masalah dalam merawat klien halusinasi dan melatih mengontrol halusinasi klien dengan menghardik. Keluarga mengatakan paham tentang tata cara memberikan obat dengan enam benar-benar minum obat. Keluarga mengatakan paham tentang cara mengontrol apabila terjadi Halusinasi pada anaknya dengan cara bercakapcakap. Keluarga mengatakan akan rutin membawa klien untuk mengontrol anaknya ke fasilitas kesehatan. evaluasi dari intervensi psikoedukasi keluarga yang diperoleh keluarga dapat kembali apa yang telah dijelaskan oleh perawat Keluarga tampak antusias dalam mendengarkan dan mencontohkan tindakan yang telah mengajarkan sehingga masalah Halusinasi dapat terkontrol. Mengontrol halusinasi klien dengan Keluarga mengatakan paham tentang tata cara memberikan obat dengan enam benar-benar minum obat. Keluarga mengatakan paham tentang cara mengontrol apabila terjadi Halusinasi pada anaknya dengan cara bercakap-cakap. Keluarga mengatakan akan rutin membawa klien untuk mengontrol anaknya ke fasilitas kesehatan. Hasil evaluasi perawatan dengan intervensi psikoedukasi keluarga yang diperoleh keluarga dapat kembali apa yang telah dijelaskan oleh perawat Keluarga tampak antusias dalam mendengarkan dan mencontohkan tindakan yang telah mengajarkan sehingga masalah Halusinasi dapat Tujuan psikoedukasi keluarga adalah meningkatkan pencapaian pengetahuan keluarga tentang penyakit, mengajarkan teknik keluarga dalam membantu meraka melindungi keluarganya dengan mengetahui gejalagejala perilaku dan mendukung kekuatan. Pada prinsipnya tujuan dari psikoedukasi keluarga adalah untuk memberikan perasaan sejahtera atau kesehatan mental pada keluarga. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Penelitian oleh Butet Agustarika dan Made Raka dengan judul AuPengaruh Psikoedukasi Keluarga terhadap kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan skizofrenia di Kota SorongAy Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui Pengaruh Psikoedukasi Keluarga Terhadap Kemampuan Keluarga dalam Merawat Anggota Keluarga dengan Skizofrenia di Kota dan Kabupaten Sorong tahun 2016. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah AuQuasi eksperimental pre-post test with control groupAy dengan intervensi Psikoedukasi Keluarga. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yaitu seluruh pasien yang mengalami gangguan jiwa sebagai kelompok intervensi, yaitu 32 responden. Analisis yang digunakan adalah Mann Whitney U Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ada peningkatan yang berarti antara kemampuan keluarga merawat anggota keluarganya yang mengalami Skizofrenia sebelum mendapatkan terapi Psikoedukasi Keluargadan setelah mendapatkan terapi Psikoedukasi Keluarga di Kota dan Kabupaten Sorong . value 0,000, yaitu kurang dari 0,. KESIMPULAN Penerapan psikoedukasi mengurangi tingkat kekambuhan pada klien yang ditunjukan dengan keluarga dapat menjelaskan strategi pelakanaan halusinasi. Serta dibuktikan dengan pemahaman pasien untuk melakukan strategi pelakanaan halusinasi jika merasa medengar suara-suara. DAFTAR PUSTAKA