Bencana dan Cara Pandang Pengelolaan Bencana Berbasis Dakwah Lailan Rafiqah STAI Diniyah Pekanbaru Lailan@diniyah. Abstrak Konsep bencana pada tulisan ini memaparkan cara pandang Islam dalam memaknai dan menyikapi bencana secara tradisi berpikir keilmuan, meluruskan asumsi yang kurang tepat terhadap bencana yang direspons irrasional. Sebagian bencana dikarenakan tindakan manusia yang berlaku malampaui batas pada alam dan lingkungan sosial. Tulisan ini juga menyuarakan perlindungan kepada kelompok yang terdampak dari bencana dalam rangka penyelamatan kemanusiaan dengan mengedepankan nilai agama, dakwah amar maAoruf nahi munkar dengan sistem pengelolaan yang mutakhir dalam rangka memulihkan dan menormalkan kembali Kata kunci: bencana, cara pandang pengelolaan bencana Pendahuluan Beberapa tahun terakhir ini bangsa Indonesia menghadapi musibah yang beruntun, diantaranya terjadi kebakaran hutan dan lahan . , erupsi gunung Merapi, banjir, gempa bumi, kekeringan, hingga tanah longsor. Saat ini Indonesia dan dunia juga sedang mengalami bencana non-alam, yaitu terjadi penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid. yang berasal dari negeri Cina, yaitu kota Wuhan dan menyebar ke seluruh dunia mulai awal tahun 2020 sampai kini. Covid-19 merupakan salah satu epidemi, yaitu suatu jenis wabah penyakit yang menjangkiti masyarakat, bersifat menular dengan jumlah penderita yang terus bertambah secara tidak wajar di suatu daerah serta waktu yang mengakibatkan musibah Musibah dalam arti bencana merupakan fakta kehidupan yang tidak diharapkan, terjadinya sering tidak terduga, kemudian menimbulkan kerusakan disertai dengan kematian, cacat dan kehilangan harta benda. Namun keadaan tersebut harus diterima sebagai sebuah ketetapan yang telah ditakdirkan Allah SWT, yaitu takdir bencana. Bencana itu bisa terjadi dikarenakan perilaku manusia yang destruktif dan ekspolitatif terhadap lingkungan alam. Sebagaimana Allah SWT berfirman yang maksudnya: AuTelah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari . perbuatan mereka, agar mereka kembali . e jalan yang bena. Ay. (Q. Ar-Rum/30: . Vol. No. Juni 2021 90 | L a i l a n R a f i q a h Dari pemaparan tersebut, dapat dirumuskan beberapa pertanyaan: Apa hakikat dan penyebab bencana, mengapa bencana silih berganti menerpa Bagaimana cara pandang pengelolaan musibah dan bencana? Bagaimana solusi menyelamatkan masyarakat terdampak bencana dengan semangatpartisipasisecarakonsepdakwahamarmaArufnahimunkar? Hakikat dan Penyebab Bencana Bencana (Inggris: disarte. , merupakan suatu kejadian dikaitkan dengan kondisi yang menyedihkan atau tidak menyenangkan yang menimpa pada sejumlah orang secara terus menerus misalnya kematian, kerusakan rumah atau tempat tinggal serta kejadian negatif 1 Dalam bahasa Arab, bencana dikenal dengan Aal- kyritsahAy(A)EAyang bermakna suatu keadaan yang diliputi oleh kesulitan. Istilah lainnya adalah al-baliyyah ( A )EEOAdan ad-dahr (A )ENAyang diartikan sebagai hal yang tidak disenangi oleh setiap insan, contohnya kemalangan dan musibah. 2 Dalam bahasa Indonesia, istilah bencana dimaknai sebagai suatu yang menyebabkan . kesusahan, kerugian, atau penderitaan. mala petaka. Definisi bencana yang dituangkan dalam Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memaknai bahwa bencana merupakan kejadian yang mengusik ketenangan hidup karena adanya peristiwa yang berasal faktor alam dan non alam serta faktor manusia sehingga menimbulkan kerusakan dan kerugian materi dan non materi serta berdampak psikologis. Dalam sebuah hadits Rasulullah dalam kitab JamiA Shahih al-Bukhari, disebutkan bahwa musibah adalah sesuatu yang hadirnya tidak disukai. AuBarangsiapa yang dikehendaki Allah SWT untuk mendapat kebaikan, maka dia akan ditimpa musibah. Yakni diuji dengan berbagai bencana, supaya Allah SWT memberikan pahala kepadanya. Musibah adalah perihal yang turunnya atau kehadirannya pada manusia tidak disukai. Ay Bencana atau musibah merupakan sebuah rahasia Allah yang tidak bisa diketahui manusia jadwal terjadinya. Andai manusia bisa memprediksi sebuah bencana, yang bisa diidentifikasikan hanyalaah fenomena alamnya saja atau gejala- gejalanya saja, manusia tidak Angus M. Gunn. Encyclopedia of Disaster (Connecticut: Greenwood Press, 2. , hlm. Ibn Manzur. Lisyn al-AArab (Beirut: Dyr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1. , vol. 1, hlm. Tim Penyusun Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Jurnal Dakwatul Islam Bencana dan Cara Pandang Pengelolaan B e n c a n a B e r b a s i s D a k w a h | 91 bisa menentukan kapan terjadinya bencana dan jenisnya, apakah gempa bumi, tsunami ataupun letusan gunung. Kehidupan tanpa terpaan ujian, coban dan musibah adalah Karena pada hakikatnya kehidupan dan kematian adalah ujian. Allah berfirman dalam Q. al-Mulk/67: 2: a AIa a aI UE o aON aaO eEa aA AOA a aAO eEa a AEacaO aEaCa eE aI eOa aO eE aOa Oa aEOa eEa aO aE eI aOac aE eI a eA Artinya: AuYang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa. Maha pengampun. Ay4 Hal ini menunjukkan bahwa ujian itu adalah konsekuensi logis dari keimanan seseorang dan proses verifikasi siapa diantaranya yang sungguh-sungguh beriman dan siapa yang melakukan kebohongan terhadap keadaan, termasuk perilaku yang destruktif dan ekspoitatif terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial. Bencana . yang silih berganti menerpa masyarakat, sering sekali dikonotasikan dengankehendak Allah, untuk itu perlu jawaban yang terukur mengenai musibah atau bencana ini. Pertama, setiap musibah yang terjadi sesungguhnya sudah tertulis di Lauh Mahfuz . uper server, pusat data Allah SWT). Dalam Q. Al-Hadid/57: 22, diterangkan bahwa Allah SWT MahaTahu apa yang akan terjadi pada ciptaan-Nya. Kedua, bencana yang terjadi karena ulah manusia itu sendiri yang bertindak di luar batas normal dalam mengeksploitasi alam, serakah dan tidak ramah pada alam dan lingkungan Allah SWT telah menjelaskannya Q,S. Asy-Syura/42:30. AuDan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar . ari kesalahanm. Ay Perilaku destruktif manusia mengakibatkan kerusakan alam dan berdampak buruk bagi manusia, untuk itu manusia diminta untuk memperbaiki keaadan. AuTelah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari . perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Ay (Q. Ar-Rum/30:. Ketiga, walaupun sejumlah besar musibah yang terjadi dikarenakan perilaku manusia, tetapi semua kejadian tersebut atas Auizin AllahAy sebagai pemilik semesta alam (Rabbul Aylamy. sesuai dengan Q. S At-Taghabun/64: 11. AuTidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui Ay Muhbib Abdul Wahab. Musibah dan Edukasi Lingkungan: untuk Masa DepanKemanusiaan(Jakarta: Mjalah Tabligh, 2. Edisi No. 2/XIX, hlm. Vol. No. Juni 2021 92 | L a i l a n R a f i q a h Keempat, mengambil ibrah dari kisah terdahulu, ketika umat Nabi Nuh menentang ketauhidan. Allah datangkan banjir, saat umat Nabi Luth menjadi pelaku peristiwa LGBT. Allah menurunkan hujan batu. Demikian juga halnya dengan konglomerat Qarun yang serakah dan sang diktator FirAaun Allah tenggelamkan di laut merah. Dalam menyikapi bencana, musibah atau ujian, tentu perlu memahami bahwa pada hakikatnya . Bencana atau musibah adalah rangkain dari rencana Allah SWT yang mempunyai segala apa yng ada di langit dan di bumi. Dan apa yang terjadi di muka bumi sudah tercatat di Lauh Mahfuz. Bencana menjadi alarm bagi manusia dan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Ilahi Rabbi, sekaligus tetap bersyukur dalam setiap keadaan dan berhusnu az-zhan . erprasangka bai. kepada-Nya. Konseksuensi beriman adalah bersiap dalam menerima ujian dan bersabar, seperti firman Allah dalam Q. al- Ankabut/29: 2: aA aI Oae a aE eO aI aOCaOEa eO a aIIac aONa eI aE Oa eAaIaOIA a ca EIA a Aa aA Artinya: AuApakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya denganmengatakan. AKami telah berimanA, daan mereka tidak diuji?Ay Sudah menjadi janji Allah bahwa dalam kehidupan, manusia akan diuji dalam situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan, yaitu kelabilan pangan, krisis kesehatan, dan lain Allah berfirman dalam Q. al-Baqarah/2: 155: a aOeIA a a AA acaIIa eaEa eI aO aE aO eaEa eIAa a aOEac aI A a AaOs acaIIa eE eaOA s AA aO eE a eOa aOIa eCA c A aOa c aa EA e AaOEaIa eEa aOIac aE eI aA Artinya: AuDan kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Ay Cara Pandang Pengelolaan Bencana Persepsi mengenai cara pandang pengelolaan bencana merupakan salah satu upaya yang sangat penting, meluruskan asumsi masyarakat dalam merespon bencana agar berpikir positif dalam memandang, menyikapi bencana dan tentunya tetap tidak boleh lepas dari ajaran agama agar masyarakat waspada terhadap dampak bencana akibat dari perilakunya yang merusak lingkungan dan siaga untuk menghindarinya. Untuk menyikapi hal tersebut, perlu tindakan awal berupa pencegahan . yaitu pertama, masyarakat memahami apa penyabab bencana secara komprehensif mengapa bencana melanda, kedua, masyarakat memahami bahwa selain sebagai hamba Allah, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah . akil Allah di muka bum. dalam menjaga dan melestarikan alam seperti perintah dalamagama. Jurnal Dakwatul Islam Bencana dan Cara Pandang Pengelolaan B e n c a n a B e r b a s i s D a k w a h | 93 Memahami peran manusia sebagai khalifah, yang dibekali akal untuk memaksimalkan berpikir sehingga bisa melaksanakan fungsi kekhalifahannya dan menegakkan hukum-hukum dan peraturan yang telah ditetapkan Allah seperti yang termaktub dalam Surah Al-Baqarah/2: 30-33: A a aE eOAa a CaEa eeO a a e a aE Aa eO aN aI eI Oac eA aa Aa eO aNA a AaOa e Ca aE aacEa aE eE aI E aiO aE a aIca eO a a UE AaO eaEa eA Aa EaEa a Ca aE aIca eeO a eEa aI aI aE a eEa aI eOIA a cAca a a a eIaEa aOIaCaA a aOOa e aAEa E aca aI o a aOI eaIa IA Dari daya berpikir ini manusia bisa mengolah pengalamannya menjadi ilmu pengetahuan yang berguna untuk memberikan solusi pada persoalan yang dihadapi. Secara dasar pengetahuan manusia, bencana dikategorikan menjadi dua, yaitu: dapat diketahui . nown, maAly. dan tidak dapat diketahui . nknown, ghairu maAly. , jumlah yang dapat diketahui oleh indera mungkin banyak, namun yang tidak diketahui berjumlah lebih banyak lagi. Inilah alasannya, mengapa manusia diwajibkan untuk menambah ilmu, agar bisa memahami dan memberi solusi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengidentifikasi kejadian yang disebabkan oleh faktor alam dengan logika bukan klenik, seperti terjadinya gempa karena pergeseran lempeng bumi, banjir di suatu wilayah karena drainase yang tidak dirancang bisa mengatur debit air tinggi pada saat musim hujan. Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam semesta memberikan amanah kepada manusia yang memiliki akal pikiran untuk mengurus dan melestarikan alam, namun manusia harus patuh pada ketentuan Allah (Sunnatulla. , untuk itu manusia harus memiliki visi atau pandangan, antaralain: Interspatial vision . isi antar ruan. artinya sebagai makhluk yang berakal, manusia harus bisa mengidentifikasi ketentuan yang ada di suatu tempat dengan mengikuti petunjuk dari sumber valid yang telah ditetapkan. (Q. azZumar/39:. Intertemporal vision . isi antar wakt. artinya setiap manusia harus berbekal perencanaan yang kuat untuk masa yang akan datang. Karena perencaanaan yang baik akan membuahkan hasil akhir yang baikpula. Allah SWT memberikan mandat kepada manusia untuk mengurus, dan melestarikan semesta alam, namun manusia enggan mengemban amanah itu, hingga yang berani mengambil amanah itu adalah manusia yang tidak mampu. Dalam Q. al- Ahzab/33: 72 Allah berfirman: Vol. No. Juni 2021 94 | L a i l a n R a f i q a h A aO eE a a aE Aa a aOeIa a eI O eac aI eEIa aN aO a eAa eCIa aI eI aNA a AIa eaEa aIIaa aEaO EacI OA e AaIac a aA a A aO eaEa eA a AA a aAIa aIacN aEIA AEa eO I a aN eO aEA a e AaO a aIEa aNA a AaE eIA Artinya: Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya . , lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh. Amanah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam adalah tanggung jawab yang cukup besar, harus berlaku adil dan tidak bertindak eksploitatif. Jika hal ini diingkari maka yang terjadi adalah bencana. Akibatnya akan mempengaruhi keharmonisan hubungan manusia dengan lingkungan, manusia dengan sesamanya, demi menghindari bertambahnya nilai kerugian yang muncul. Untuk menjawab persoalan ini Islam mengingatkan ajaran istimewa yaitu Akhlaq,yang mengajarkan kepada umatnya untuk berlaku baik, arif dan bijaksana kapan saja, dimana saja tanpa terbatas ruang dan waktu. Solusi terhadap Bencana Pada tahap selanjutnya perlu ada tindakan praktis penanggulangan bencana. Kuratif yaitu menindaklanjuti tugas menanggulangi bencana, diantaranya: . mitigasi dan kesiapsiagaan, . tanggap darurat, dan . , recovery pasca bencana dan ini harus dijalankan secara simultan. Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana Mitigasi bencana adalah upaya awal yang dilakukan untuk mengurangi resiko berupa perencanaan yang bertujuan untuk meminimalisir resiko yang hadir pasca Tindakan ini meminimalisir resiko bencana ini sejalan dengan nilai Islam yang tertulis dalam Q. Yusuf/12 : 47-49, yakni yang mengisahkan tentang kiris pangan yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf As. Ketika itu Nabi Yusuf menasehati umatnya untuk menerapkan pola hidup sederhana dan saving. Ibrah yang bisa diambil adalah ketika melihat ada gejala yang berpotensi hadirnya sebuah bencana, maka harus mengupayakan Sehingga pada saat terjadi bencana, setidaknya bisa meminimalisir Jurnal Dakwatul Islam Bencana dan Cara Pandang Pengelolaan B e n c a n a B e r b a s i s D a k w a h | 95 Tujuan utama mitigasi dan kesiapsiagaan adalah untuk : pertama, menghindari kelihangan nyawa. kedua, meminimalisir derita masyarakat, mengedukasi secara benar masyarakat dan pihak yang berwenang tentang resiko bencana, meminimalisir sektor-sektor infrastuktur, materi serta sumberekonomis. 5 Mitigasi dapat diimplementasikan denga cara, pertama, pendekatan struktural, yaitu melakukan pengurangan resiko dengan cara membangun infrastruktur yang tahan bencana contohnya pembangunan bendungan, drainase, dan sebagainya. Kedua, pendekatan mitigasi non-struktural, yaitu upaya meminimalisir resiko bencana, diantaranya seperti mencegah pembangunan di wilayah rawan banjir, longsor dan gempa bumi melalui sumber informasi perencanaan tata ruang dan wilayah, skema asuransi, dan cara peningkatan kesadaraan dan kepedulian pemerintah dan masyarakat melalui kegiatan pendidikan, pelatihan dan penyebaran informasi. Mitigasi bencana setidaknya memiliki unsur utama, yaitu penilaian bahaya, peringatan dan persiapan. Pertama, penilaian bahaya . azard asseemen. ini adalah unsur pengindetifikasian masyarakat dan inventaris yang terancam. Penilaian dilaksanakan data-data Penilaian ini menghasilkan Peta Potensi Bencana. Kedua, peringatan . ini adalah unsur peringatan kewaspadaan pada masyarakat akan bahaya yang akan terjadi . eperti Ketiga, . Kesiapsiagaan ini adalah ketanggapdaruratan yang telah disiapkan guna mengatasi wilayah yang terkena berbekal pengetahuan hipotesa bencana. Pada progres perencanaan, konservasi dan kesiapsiagaan untuk mengurangi resiko bencana diperlukan pendekatan partispatoris. Partispasi masyarakat sesuai dengan ajaran Islam, yang sumbernya berasal pada firman Allah Q. al-Maidah/5: 2. AuDan tolong menolonglah kamu dalam . kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Ay Mitigasi bencana bisa diimplementasikan dengan memahami komponen- kompenen yang berkaitan dengan jumlah dampak suatu bencana, di ataranya: bahaya, kerentanan, resiko bencana dan kapasitas. Resiko juga bisa jika ancamanbahaya tidak Godschalk. Browser. , & Kaisar. Natural Hazard Mitigation: Recasting Disarter Policy and Planning. Washington. : Island Press, 1999. Prater. , & Perry. Fundamentals of Emergency Mangement. Emmetsburg. MD: Federal Emergency Management Agency Emergency Management Institute, 2006. UU RI Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana: Nurjanah, dkk. Manajemen Bencana. Bandung: Alfabeta, 2021. HPT, hlm. Vol. No. Juni 2021 96 | L a i l a n R a f i q a h Kemudian ancaman bahaya bisa diminimalkan berdasarkan analisa dan pengelolalan faktor penyebab bencana secara sistematis melalui iptek. Pengurangan resiko adalah penurunan kerentanan manusia, properti, dan lingkungan. Faktor kerentanan manusia dan lingkungan sering terjadi seiring dengan faktor berkembangnya penduduk yang pesat, sehingga keadaan ini akhirnya memungkinkan mereka untuk tinggal dan melangsungkan kegiatan sosial ekonomi di daerah yang rawan bencana, misalnya daerah rawan gempa bumi, daerah pinggiran sungai yang berpotensi banjir tatkala hujan deras, kawasan yang berpotensi longsor. Penyebab lain bencana adalah demografi penduduk, kemiskinan, ketidaktahun, tidak adanyaa akses informasi dan transportasi masalah kerentanan juga disebabkan kemiskinan, ketidaktahuan, dan tidak adanya akses transportasi. Tanggap Darurat Tanggap darurat adalah kesiapsiagaan dalam melakukan hal yang sangat mendesak. Tujuannya adalah menyelamatkan jiwa para korban untuk kelangsungan hidup manusia, meminimalisir derita para masyarakat yang terdampak dari bencana. Upaya tanggap darurat mengusung prinsip-rinsip dasar yang disepakati dalam rangka orientasi kemanusian, yaitu: Pertama, setiap upaya pertolongan diorientasikan untuk mengurangi derita masyarakat kaarena bencana. Kedua, memperjuangkan hak bantuan terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Dalam merespon bencana ada beberapa pedoman yang berlaku bagi petugas kemanusiaan dalam merespons bencana. Pedoman tersebut berdasarkan dalil dari sumberhukumIslam. al-QurAandanHaditsNabi,yaitu:. Mengutamakanpanggilan kemanusiaan dalilnya Q. al-Anbiya/21: 107, . memberikan sumbangan pangan kepada yang membutuhkan, dalilnya Q. Al-Insan/76: 8 dan al-Baqarah/2: 272, . sukarela berparisipasi dalam membantu dengan mengharap ridho Allah, dalilnya Q. al-Insan/76: 9, . Tidak menyebut-nyebut bantuan sehingga menghilangkan pahalanya, dalilnya Q. al-Baqarah/2: 264, . berempati, dalilnya haditsmuttafaq Aoalaih. AuSeorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya. Janganlah menzhalimi dan jangan membiarkannya . idak membela dan tidak menolongny. Dan barangsiapa yang memberikan jalan keluar untuk kesulitan saudaranya, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamatAy, . bermusyawarah dengan penerima bantuan dalam pengurusan bantuan, dalilnya Q. Ali Imran/3: 159, . Bertanggungjawab atas apa yng telh dikerjkan, dalilnya Q. at-Taubah/9: 105. HPT, hlm. Jurnal Dakwatul Islam Bencana dan Cara Pandang Pengelolaan B e n c a n a B e r b a s i s D a k w a h | 97 Pemulihan (Recover. SetelahBencana Pemulihan pasca bencana menyesuaikan dengan UU No. 24 tahun 2007 yang meliputi rehabilitasi dan kontruksi. Rehabilitasi merupakan tahap memperbaiki dan memulihkan segala lini kepentingan masyarakat sampai pada tingkat perbaikan yang normal keadaan di tingkat pemerintahan dan masyarakat di daerah pasca bencana. Rekonstruksi adalah proses pengembalian atau pembangunan kembali sarana dan prasarana, struktur sosial, kesehatan jiwa di daerah pasca bencana, terutama masyarakat yang terdampak bencana. Sehinagga arus sosial, budaya, ekonomi berjalan normal, serta ketertiban dan hukum berdiritegak. Tujuan utama dari rehabilitasi dan rekontruksi adalah menggerakkan kegesitan yang lebih unggul, dengan akselerasi yang handal dan akurat. sehingga ketahanan dan tatanan masyarakat menjadi lebih meningkat jika terjadi bencana berulang. Limit waktu rehabilitasi dan rekontruksi tidak hanya tergantung dari seberapa parah kerusakan yang terjadi, tetapi juga tergantung dari kesediaan dan kemampuan masyarakat yang terkena bencana untuk bisa bangkit sendiri, kesediaan para relawan dari masyarakat yang bukan terkena bencana untuk menolong, ketersediaan dana atau sumber daya, efisiensi tata kelola dana yang tersedia, serta kepemimpinan di tingkat pemerintah dan komunitas. Ruang lingkup kegiatan rehabilitasi dan rekontruksi meliputi : Sektor properti, seperti beragam kegiatan: rehabilitsi dan kontruksi perumahan. Sektor infrastruktur, seperti beragama kegiatan: rehabilitasi dan rekontruksi infrastruktur masal kebutuhan masyarakat seperti jalan, tempat ibadah, institusi pendidikan, pusat perbelanjaan. PLN. PDAM. Telkom dan fasilitas Sektor psiko-sosial, melalui layanan kesehatan, konseling dan pemulihan trauma . Sektor ekonomi produktif, melalui: menggiatkan usaha kecil menengah, home industry, dan lainsebagainya. Setelah proses tanggap darurat, masyarakat korban bencana wajib dipastikan untuk mendapatkan haknya berupa rehabilitasi dan rekontruksi. Prinsipnya adalah mensegerakan keberfungsian sistem yang berjalan di masyarakat dengan tepat dan lebih baik sebelum terjadi bencana. Hak rehabilitasi dan rekontruksi bagi korban bencana, sangat berkaitan Ibid, hlm, 65 Vol. No. Juni 2021 98 | L a i l a n R a f i q a h dengan pembicaraan Hak Asasi Manusia yang juga sejalan dengan kandungan Piagam Madinah pada zaman Rasulullah, yakni: Persamaan hak, kebebasan beragama, hak ekonomi, dan hak hidup. Masyarakat korban bencana dan pihak-pihak yang mengalami bencana semestinya mendapatkan hak sesuai martabatnya serta hak menjadi tangguh. Tingkat ketangguhan masyarakat sangat tergantung dengan lingkungan. Ketangguhan tersebut bisa diperoleh dari luar masyarakat, yaitu berupa layanan yang terkait penanggulan bencana maupun layanan sosial dan administrasi lain. Ketangguhan masyarakat dalam menghadapi menjadi bagian yang melekat dari sistem dakwah masyarakat, maka jika mereka sabar dan sanggup menghadapi bencana maka kerugian fisik, kerugian sosial dan kerugian aqidah bisa terkurangi. Kerugian fisik itu bisa berarti kerusakan fasilitas kesehatan, pendidikan, masjid, pantiasuhan dan lain sebagainya. Kerusakan sosial yang terjadi seperti berhentinya dakwah, pembentukan karakter generasi muda, bahkan terjadi degradasi karena penanganan psikososial pada kondisi darurat yang tidak tertangani dengan baik, karena proses pendidikan berhenti, pelayanan kesehatan tidak terpenuhi, pelayanan sosial tidak berjalan, serta kegiatan dakwah yang lumpuh. Hal tersebut tidak diharapkan, sejarah telah mengingatkan bahwa salah satu sebab runtuhnya peradaban umat manusia disebabkan oleh ketidakmampuan menghadapi kejadiaan bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial seperti peperangan. Dampak kerugian yang dialami tidak hanya menyentuh persoalan fisik dan jiwa saja, namun meruntuhkan kekayaan intelektual dari para ilmuan dan ulama lenyap, sehingga harus kerja keras lagi untuk memulai peradaban baru. Salah satu ciri dari konsep keunggulan sebuah generasi terbaik . haira umma. tidak hanya membangun peradaban, tetapi harus menjaga hasil-hasil pencapaian peradaan untuk menuju masyarakat utama baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (Q. SabaA/34: . Ibid, hlm, 665 Twigg. Karakteristik Masyarakat yang Tahan Bencana. Australia Indonesia Facility for Disarter Reduction (AIFDR) AusAID 2009. Dalam HPT, hlm 668 Jurnal Dakwatul Islam Bencana dan Cara Pandang Pengelolaan B e n c a n a B e r b a s i s D a k w a h | 99 Kesimpulan Bencana menyenangkan menerpa populasi makhluk yang disebabkan oleh faktor alam dan manusia dan berakibat kerugian jiwa serta materi dan melumpuhkan beberapa sendi kehidupan. Istilah dan hakikat bencana terdapat dalam al-QurAan dan Hadits,Islam memandang bahwa setiap bencana hendaknya dipahami serta disikapi dengan sabar dan proporsional. Ibrah dari bencana memberikan kesempatan kepada Muslim untuk mengerakkan perannya sebagai khalifah di muka bumi dan membantu sesamanya melalui pelaksanaan mitigasi, persiapan, tanggap darurat, dan recovery pasca bencana hingga penanggulangan bencana yang mendepankan hak masyarakat yang terdampak bencana berupa rehabilitasi dan rekontruksi. Daftar Pustaka