E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November Jurnal Manajemen dan Teknologi https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1548 Mengidentifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketidakteradaan Manual Prosedur pada UKM Paulus Perey Untajan 1, Anthoneta Kopong 2* 1*,2 Program Studi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bukit Zaitun Sorong, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Indonesia. Email: paulus.untajana@gmail.com 1*, kopongetha@gmail.com 2 Histori Artikel: Dikirim 14 Juli 2025; Diterima dalam bentuk revisi 28 Agustus 2025; Diterima 10 September 2025; Diterbitkan 1 November 2025. Semua hak dilindungi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STMIK Indonesia Banda Aceh. Abstrak Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, namun banyak yang menghadapi tantangan dalam mengelola operasional secara efisien. Salah satu masalah utama adalah ketidakteradaan prosedur yang terdokumentasi dengan jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat penerapan manual prosedur pada UKM dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan sistem manajerial serta operasional yang lebih terstruktur. Faktor-faktor seperti keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya pemahaman tentang pentingnya dokumentasi, serta keterbatasan teknologi ditemukan menjadi hambatan terbesar. Selain itu, kebijakan manajerial dan budaya kerja juga turut memengaruhi implementasi prosedur yang diperlukan. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada 80 UKM di Jakarta, penelitian ini menganalisis data menggunakan statistik deskriptif dan uji T untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya dan keterbatasan waktu menjadi faktor utama yang menghambat implementasi manual prosedur, sedangkan ukuran usaha dan pengetahuan terkait prosedur juga berperan penting. Diharapkan temuan ini dapat memberikan rekomendasi praktis bagi UKM untuk memperbaiki kualitas dan efisiensi operasional mereka melalui penerapan prosedur yang lebih terstruktur. Kata Kunci: UKM; manual prosedur; operasional; dokumentasi; manajerial. Abstract Small and Medium Enterprises (SMEs) play a crucial role in Indonesia’s economy, but many face challenges in managing operations efficiently. One of the main issues is the lack of well-documented procedures. This study aims to identify the factors that hinder the implementation of procedure manuals in SMEs and provide recommendations for improving managerial and operational systems. Factors such as limited human resources, lack of understanding of the importance of documentation, and technological constraints were found to be the biggest obstacles. Additionally, managerial policies and corporate culture also affect the implementation of necessary procedures. Using a quantitative approach through surveys distributed to 80 SMEs in Jakarta, the study analyzes data using descriptive statistics and T-tests to identify differences between groups. The results show that costs and time constraints are the main factors hindering the implementation of procedure manuals, while business size and knowledge of procedures also play significant roles. The findings aim to provide practical recommendations for SMEs to enhance their operational efficiency and quality by implementing more structured procedures. Keyword: SMEs; Procedure Manuals; Operations; Documentation; Managerial. 101 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1548 1. Pendahuluan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memainkan peran yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia, berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Meskipun demikian, banyak UKM yang kesulitan dalam mengelola operasional secara efisien. Salah satu masalah yang sering dihadapi adalah ketidakteradaan prosedur yang terdokumentasi dengan baik. Tanpa prosedur tertulis yang jelas, kelancaran operasional sering terganggu, yang berpotensi mengurangi konsistensi serta kualitas produk dan layanan. Beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakteradaan prosedur pada UKM meliputi keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya pemahaman mengenai pentingnya dokumentasi, dan keterbatasan teknologi. Selain itu, kebijakan manajerial dan budaya kerja perusahaan turut mempengaruhi apakah prosedur yang dibutuhkan dapat diterapkan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam ketidakteradaan manual prosedur pada UKM. Diharapkan temuan ini dapat memberikan panduan bagi UKM untuk meningkatkan sistem manajerial dan operasional yang lebih terstruktur, guna memperbaiki efisiensi dan kualitas operasional mereka. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia memiliki peran penting dalam perekonomian negara. Selama pandemi COVID-19, banyak UKM dihadapkan pada tantangan besar untuk bertahan dan berkembang. Dalam menghadapi perubahan cepat, banyak UKM mulai beralih ke teknologi dan mengadopsi model bisnis digital. Fatimah dan Mukarramah (2023) menekankan bahwa transformasi digital menjadi langkah kunci bagi UKM untuk tetap kompetitif dan efisien. Penelitian serupa yang dilakukan oleh Harsoyo et al. (2022) mengungkapkan bahwa sektor konstruksi juga tidak luput dari kebutuhan akan digitalisasi, khususnya melalui penggunaan marketplace untuk mengakses pasar yang lebih luas. Namun, meskipun digitalisasi penting, UKM juga harus menghadapi masalah lainnya, seperti implementasi keputusan operasional yang tepat. Marlena (2018) menjelaskan bahwa banyak UKM, termasuk di sektor cor kuningan, kesulitan dalam menerapkan keputusan yang efektif, yang berdampak pada efisiensi dan kelangsungan usaha mereka. Selain itu, kepatuhan terhadap prosedur standar operasional (SOP) juga menjadi tantangan bagi banyak UKM, seperti yang ditunjukkan oleh Nazvia et al. (2014) dalam penelitian mereka di sektor kesehatan. Inovasi, perilaku kewarganegaraan organisasi (OCB), dan kinerja UKM juga saling terkait dalam menentukan keberhasilan usaha, sebagaimana dijelaskan oleh Jiwa dan Arnawa (2019). Dengan melihat berbagai faktor ini, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana UKM beradaptasi dan mengatasi berbagai hambatan operasional di tengah ketidakpastian yang ada. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memegang peran penting dalam perekonomian Indonesia, tetapi banyak yang menghadapi berbagai tantangan untuk berkembang dan meningkatkan daya saing. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja UKM adalah efikasi diri kreatif, yang berhubungan langsung dengan inovasi dan hasil kerja yang dihasilkan. Menurut Noerchoidah, Nurdina, dan Ariprabowo (2022), berbagi pengetahuan di dalam UKM dapat memediasi hubungan antara efikasi diri kreatif dan kinerja kreatif, yang pada akhirnya berdampak positif pada keberhasilan usaha. Selain itu, orientasi kewirausahaan juga menjadi faktor penting dalam mendorong UKM untuk bertumbuh, terutama dalam sektor kuliner. Penelitian yang dilakukan oleh Fitriyah, Meutia, dan Anggraeni (2021) menunjukkan bahwa orientasi kewirausahaan yang kuat dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis memengaruhi kinerja pemasaran UKM di Kota Serang. Hal serupa juga diungkapkan oleh Usvita (2019), yang menekankan pentingnya orientasi pasar dalam meningkatkan keunggulan bersaing UKM pangan di Kota Padang. Jejaring kolaborasi dan kapabilitas inovasi turut mendukung kinerja UKM. Ranatiwi dan Mulyana (2018) menemukan bahwa kolaborasi yang kuat dalam jejaring usaha dapat meningkatkan kapabilitas inovasi, yang akhirnya memperbaiki kinerja UKM secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana faktor-faktor tersebut dapat saling mendukung dalam meningkatkan kinerja UKM di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi ketidakteradaan manual prosedur pada UKM dan memberikan panduan untuk meningkatkan sistem 102 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1548 manajerial serta operasional yang lebih terstruktur. UKM menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga kesulitan dalam implementasi prosedur operasional yang efektif. Selain itu, adopsi teknologi digital, yang sudah diterapkan di beberapa sektor, juga berperan penting dalam mendukung efisiensi dan daya saing. Penelitian ini juga akan membahas bagaimana inovasi, kewirausahaan, dan jejaring kolaborasi dapat memperkuat keberhasilan UKM di tengah perubahan. Diharapkan temuan yang diperoleh dapat memberikan rekomendasi praktis bagi UKM untuk meningkatkan kinerja dan daya saing mereka, serta membantu mereka dalam menghadapi tantangan yang ada. 2. Metode Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ketidakteradaan manual prosedur pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Adapun tujuan khususnya adalah untuk menganalisis alasan UKM tidak memiliki manual prosedur, mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tersebut, serta menilai tingkat formalisasi yang diterapkan pada pengelolaan operasional oleh Nurhayati, (2020). Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini menyatakan bahwa ketidakteradaan prosedur manual pada UKM dipengaruhi oleh kurangnya informasi, anggapan bahwa prosedur terlalu memakan waktu dan biaya, serta ketidaksesuaian prosedur dengan skala usaha. Sementara itu, hipotesis nol mengasumsikan bahwa ketidaktahuan tentang manfaat prosedur manual dan faktor penghambat lainnya tidak berpengaruh pada daya saing UKM. Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, yang memungkinkan pengumpulan data melalui kuesioner dengan skala Likert untuk mengukur persepsi responden terkait faktor-faktor yang berpengaruh oleh Yuliani, (2018). Penelitian ini menggunakan desain noneksperimental dan transversal, di mana data dikumpulkan hanya sekali dari sampel yang sudah ditentukan. Fokus utama adalah untuk memahami tingkat formalisasi yang diterapkan dalam operasional UKM. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada pemilik atau pengelola UKM yang dipilih. Kuesioner ini berisi pertanyaan tentang variabel-variabel seperti pengetahuan mengenai prosedur, biaya implementasi, ketersediaan alat, keterbatasan waktu, dan ukuran usaha oleh Suindari, Juniariani, (2020). Responden diminta untuk memberikan penilaian menggunakan skala Likert, mulai dari tidak setuju hingga setuju. Kuesioner disebarkan melalui Google Forms untuk memudahkan pengumpulan data secara digital. Setelah data terkumpul, analisis dilakukan menggunakan SPSS versi 23 untuk mengolah hasil dan menghasilkan statistik deskriptif. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 80 UKM yang beroperasi di Jakarta. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling, berdasarkan sektor usaha, jumlah karyawan, dan lama beroperasi. Setiap UKM diwakili oleh satu responden yang merupakan pemilik atau pengelola yang bersedia berpartisipasi. Dari 80 responden, 60% merupakan pemilik UKM dan 40% merupakan karyawan. Sebagian besar responden adalah perempuan (50%) dan 40% memiliki pendidikan sarjana. Berdasarkan lama beroperasi, mayoritas UKM telah beroperasi antara 3 hingga 5 tahun (45%), diikuti oleh UKM dengan masa operasional 6 hingga 10 tahun (25%), 1 hingga 2 tahun (20%), dan lebih dari 10 tahun (10%). Dalam hal jumlah karyawan, sebagian besar UKM mempekerjakan 1 hingga 3 orang karyawan (55%), diikuti oleh UKM dengan 4 hingga 6 karyawan (30%), dan 7 hingga 10 karyawan (15%) oleh Suarantalla, Rizqi, (2024). Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan karakteristik sampel. Untuk menguji hipotesis dan membandingkan antar kelompok, uji T dan ANOVA akan digunakan dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil analisis akan dibagi menjadi tiga bagian: pertama, menganalisis tingkat formalisasi pada UKM; kedua, menilai faktor-faktor yang memengaruhi ketidakteradaan manual prosedur; dan ketiga, melakukan uji perbandingan untuk memahami rata-rata respon yang diberikan oleh populasi. Temuan ini diharapkan dapat 103 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November Jurnal Manajemen dan Teknologi https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1548 memberikan gambaran yang jelas tentang pengelolaan prosedur dalam UKM serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Hasil 3.1.1 Tingkat Formalisasi Untuk mengukur tingkat formalisasi pada UKM, dilakukan analisis terhadap distribusi skor pada skala formalitas. Dari 80 UKM yang disurvei, nilai minimum yang tercatat adalah 60, sementara nilai maksimum mencapai 95. Rata-rata skor tingkat formalisasi adalah 82,5, dengan standar deviasi 8,4. Berdasarkan hasil analisis, UKM dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori tingkat formalisasi. Sekitar 25% UKM berada pada tingkat formalisasi rendah, dengan sedikit atau tanpa prosedur operasional yang terdokumentasi. Sekitar 50% UKM memiliki prosedur atau aturan yang ada, namun belum sepenuhnya terdokumentasi atau diterapkan secara konsisten. Di kelompok berikutnya, 25% UKM menunjukkan tingkat formalisasi yang lebih tinggi, dengan prosedur yang lebih terstruktur dan mulai diterapkan secara rutin oleh Abhimantra, & Suryanawa, (2016) . Hanya sebagian kecil UKM yang memiliki prosedur yang terdokumentasi dengan baik dan diterapkan secara konsisten dalam setiap operasionalnya. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas UKM cenderung berada pada tingkat formalisasi rendah hingga sedang, dengan sedikit yang memiliki sistem formal yang kuat. Tingkat Formalisasi Tidak Formal Formalisasi Rendah Formalisasi Sedang Formalisasi Tinggi Tabel 1. Tingkat Formalisasi Persentil 25 50 75 100 Nilai 60-74 75-84 85-89 90-95 % 22.5 40.0 18.5 19.0 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa 22,5% UKM yang disurvei tidak memiliki prosedur formal yang terdokumentasi. Sebanyak 40% UKM memiliki tingkat formalitas yang rendah, sementara 18,5% menerapkan formalitas sedang, dan 19% lainnya sudah memiliki sistem formal yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas UKM belum memiliki sistem manajerial yang terdokumentasi secara resmi. 3.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketidakteradaan Manual Prosedur Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ketidakteradaan manual prosedur pada UKM. Hasil survei menunjukkan bahwa biaya dan keterbatasan waktu menjadi faktor utama yang menghambat pembuatan prosedur tertulis. Banyak pemilik UKM merasa bahwa biaya yang dibutuhkan untuk menyusun dan memelihara manual prosedur cukup tinggi, yang membuat mereka enggan untuk melakukannya. Selain itu, keterbatasan waktu juga menjadi kendala besar, karena pemilik UKM lebih fokus pada aktivitas operasional sehari-hari, sehingga tidak memiliki waktu untuk menyusun prosedur yang formal oleh Salam, & Imilda. (2024). Tabel 2 menunjukkan statistik deskriptif dari dimensi biaya dan alat yang memperoleh skor rata-rata terendah. Hasil ini mengindikasikan bahwa meskipun pentingnya manual prosedur diakui oleh sebagian besar responden, masalah sumber daya, baik waktu maupun biaya, menjadi hambatan terbesar dalam penerapannya. Selain itu, ada ketidaktahuan terkait manfaat prosedur tertulis yang bisa meningkatkan efisiensi dalam operasional. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa masalah sumber daya dan alokasi waktu menjadi penghalang utama dalam implementasi manual prosedur pada UKM. 104 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1548 Dimensi Dimensi Biaya Dimensi Alat Tabel 2. Statistik Deskriptif Item dengan Nilai Terendah Pertanyaan Mengetahui biaya pembuatan manual prosedur. Apakah manual prosedur adalah alat yang penting? N 80 80 Min 1 1 Max 5 5 Dari Tabel 2, terlihat bahwa sebagian besar responden (dengan rata-rata 2,05) tidak mengetahui biaya yang diperlukan untuk membuat manual prosedur. Meskipun responden mengakui pentingnya prosedur tertulis (rata-rata 2,18), mereka merasa bahwa biaya untuk mengimplementasikan prosedur tersebut terlalu tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa biaya menjadi hambatan utama dalam penerapan prosedur yang terdokumentasi pada UKM. Banyak yang menganggap biaya pembuatan dan pemeliharaan manual prosedur sebagai beban tambahan yang tidak sebanding dengan manfaat yang didapat. Pada Tabel 3, analisis berfokus pada dimensi dengan nilai tertinggi, seperti pengetahuan, waktu, ukuran, dan biaya. Hasilnya menunjukkan bahwa waktu dan pengetahuan berperan penting dalam penerapan prosedur. Responden mengakui bahwa memiliki pengetahuan tentang manfaat prosedur tertulis dapat meningkatkan efisiensi operasional. Namun, mereka kesulitan meluangkan waktu untuk menyusun prosedur tersebut. Dimensi ukuran juga berpengaruh; UKM yang lebih besar lebih mudah untuk mengimplementasikan prosedur tertulis dibandingkan yang lebih kecil. Meskipun banyak yang menyadari pentingnya prosedur, faktor biaya, waktu, dan ukuran usaha menjadi penghalang utama. Dimensi Dimensi Pengetahuan Dimensi Waktu Dimensi Ukuran Dimensi Biaya Tabel 3. Statistik Deskriptif Item dengan Nilai Tertinggi Pertanyaan N Min Max Mean Saya mengetahui manfaat dari manual prosedur. 80 1 5 3.42 Saya tidak punya waktu untuk membuat manual 80 1 prosedur. Jika Anda tahu proses Anda, apakah itu akan 80 1 membantu Anda membuat manual prosedur? Jika Anda memiliki sumber daya yang cukup, apakah 80 1 Anda akan membuat manual prosedur? 5 3.72 5 4.1 5 4.38 Dari Tabel 3, terlihat bahwa mayoritas responden (rata-rata 3,72) merasa tidak memiliki waktu untuk menyusun manual prosedur. Namun, mereka mengakui bahwa memiliki ukuran usaha dan sumber daya yang cukup akan sangat membantu dalam proses pembuatan manual prosedur (ratarata 4,10 dan 4,38). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun keterbatasan waktu menjadi hambatan, dukungan dari ukuran usaha dan ketersediaan sumber daya dapat mempercepat implementasi prosedur tertulis dalam operasional UKM. 4.3 Perbandingan Rata-Rata Populasi Berdasarkan Dimensi Formalisasi Untuk menguji perbedaan antara UKM yang memiliki manual prosedur dan yang tidak, dilakukan analisis uji T. Tabel 4 menunjukkan perbandingan antara dimensi formalitas dan status UKM terkait keberadaan manual prosedur. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah keberadaan manual prosedur memengaruhi tingkat formalitas dalam operasional UKM oleh Umasugi, Kiyai, & Palar, (2017). Hasil analisis menunjukkan bahwa UKM yang memiliki manual prosedur memiliki skor rata-rata lebih tinggi pada dimensi pengetahuan dibandingkan dengan yang tidak memilikinya. Hal ini menunjukkan bahwa UKM yang menerapkan prosedur tertulis lebih memahami manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, pada dimensi waktu, UKM yang tidak memiliki manual prosedur melaporkan kekurangan waktu untuk membuatnya. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa keberadaan manual prosedur di UKM dapat meningkatkan pemahaman dan pengelolaan operasional. Namun, waktu dan keterbatasan sumber daya tetap menjadi kendala utama bagi UKM, terutama yang lebih kecil, dalam menyusun dan 105 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1548 mengimplementasikan prosedur tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya alokasi waktu dan dukungan sumber daya dalam pengembangan manual prosedur di UKM. Tabel 4. Perbandingan Rata-Rata Berdasarkan Keberadaan Manual Prosedur Apakah Ada Manual Prosedur? N Rata-Rata SD t Ya 30 24.5 2.2 2.1 Tidak 50 18.85 3.3 Sig. 0.042 Hasil Tabel 4 menunjukkan bahwa UKM yang memiliki manual prosedur memiliki nilai ratarata lebih tinggi pada dimensi pengetahuan (rata-rata 24,50) dibandingkan dengan UKM yang tidak memilikinya (rata-rata 18,85). Perbedaan ini signifikan pada tingkat signifikansi 0,042, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan tentang manfaat prosedur tertulis lebih tinggi pada UKM yang telah mengimplementasikannya. 3.2 Pembahsan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar UKM di Jakarta belum sepenuhnya menerapkan sistem prosedur yang formal dan terdokumentasi dengan baik. Hanya sedikit UKM yang memiliki prosedur operasional yang terstruktur dan diterapkan secara konsisten. Temuan ini menunjukkan bahwa masih banyak UKM yang beroperasi tanpa adanya dokumentasi prosedur yang jelas, yang pada gilirannya menghambat kelancaran operasional. Penelitian Abhimantra dan Suryanawa (2016) juga mengungkapkan hal serupa, di mana kebanyakan UKM kesulitan dalam mengimplementasikan prosedur formal dalam operasional sehari-hari. Faktor utama yang menghambat penerapan manual prosedur adalah biaya dan keterbatasan waktu. Banyak pemilik UKM merasa bahwa biaya yang dibutuhkan untuk menyusun dan memelihara manual prosedur terlalu tinggi. Selain itu, keterbatasan waktu juga menjadi hambatan utama karena UKM lebih fokus pada kegiatan operasional sehari-hari. Penelitian Salam dan Imilda (2024) mengungkapkan bahwa alokasi sumber daya yang terbatas, baik dalam hal waktu maupun biaya, menjadi penghalang besar bagi UKM untuk mengimplementasikan prosedur tertulis yang dapat meningkatkan efisiensi operasional. Pengetahuan mengenai manfaat prosedur tertulis menjadi faktor yang dapat memotivasi UKM untuk mulai mendokumentasikan prosedur mereka. Ketika pemilik dan karyawan memahami keuntungan dari memiliki prosedur yang terdokumentasi, mereka lebih cenderung untuk mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk menyusunnya. Fatimah dan Mukarramah (2023) menyebutkan bahwa penggunaan teknologi dalam manajemen UKM juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi operasional. Oleh karena itu, adopsi teknologi yang mendukung dokumentasi prosedur dapat mengurangi hambatan yang terkait dengan biaya dan waktu. Penelitian ini menunjukkan bahwa UKM yang lebih besar dengan sumber daya yang lebih banyak lebih mudah dalam mengimplementasikan prosedur tertulis. Hal ini sejalan dengan hasil yang ditemukan oleh Ranatiwi dan Mulyana (2018), yang menunjukkan bahwa kolaborasi yang baik dalam jejaring usaha dan kapabilitas inovasi dapat membantu meningkatkan kinerja UKM. UKM yang lebih besar cenderung memiliki kapasitas untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya, yang mempermudah mereka untuk mendokumentasikan dan melaksanakan prosedur yang diperlukan. Pengetahuan dan pemahaman tentang prosedur tertulis terbukti berperan penting dalam mengatasi hambatan yang ada. UKM yang memiliki pemahaman yang baik mengenai manfaat prosedur tertulis menunjukkan tingkat efisiensi operasional yang lebih baik. Namun, masalah waktu dan keterbatasan sumber daya tetap menjadi kendala utama, terutama untuk UKM yang lebih kecil. Dalam hal ini, UKM yang lebih kecil perlu memperoleh dukungan dalam bentuk alokasi waktu dan sumber daya yang lebih baik untuk dapat mengimplementasikan prosedur tertulis dengan efektif. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun banyak UKM yang mengakui pentingnya manual prosedur, hambatan utama yang mereka hadapi adalah keterbatasan biaya, waktu, dan sumber daya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas operasional, penting bagi UKM untuk 106 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1548 mengatasi hambatan-hambatan tersebut, serta meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya prosedur yang terdokumentasi dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung implementasinya 4. Kesimpulan Penelitian berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat penerapan manual prosedur pada UKM. Berdasarkan analisis terhadap 80 UKM di Jakarta, biaya dan keterbatasan waktu menjadi dua hambatan utama. Sebagian besar responden merasa bahwa biaya untuk menyusun dan memelihara manual prosedur terlalu tinggi, dan mereka tidak melihat manfaat yang sebanding. Selain itu, keterbatasan waktu juga menjadi kendala besar karena UKM lebih fokus pada operasional sehari-hari. Kurangnya pemahaman tentang pentingnya dokumentasi juga memainkan peran besar dalam ketidakteradaan prosedur tertulis. Banyak pemilik UKM yang belum menyadari bahwa prosedur yang terdokumentasi dapat meningkatkan efisiensi serta konsistensi dalam operasional. Masalah teknologi juga menjadi hambatan, terutama bagi UKM yang belum memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan manajerial dan operasional. Selain faktor-faktor tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran usaha dan tingkat pengetahuan tentang prosedur juga memengaruhi penerapan manual prosedur. UKM dengan sumber daya lebih besar cenderung lebih mudah menerapkan prosedur yang terdokumentasi dibandingkan UKM yang lebih kecil. Untuk itu, UKM perlu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya prosedur tertulis serta mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk menyusunnya. Mengadopsi teknologi dan membangun sistem manajerial yang lebih terstruktur akan membantu UKM mengatasi tantangan yang ada dan meningkatkan kinerja serta kualitas operasional. 5. Daftar Pustaka Abhimantra, W. P., & Suryanawa, I. K. (2016). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 14(3), 17821809. https://doi.org/10.30812/rekan.v3i2.2377 Fatimah, S. and Mukarramah, S. (2023). Model konseptual untuk transformasi digital ukm selama pandemi covid-19 di indonesia (r-model transformasi digital). Journal Social Society, 3(1), 1120. https://doi.org/10.54065/jss.3.1.2023.341 Fitriyah, S., Meutia, M., & Anggraeni, D. (2021). Pengaruh orientasi kewirausahaan dan adaptasi lingkungan bisnis terhadap kinerja pemasaran ukm kuliner banten di kota serang. ilmu pertanian, 3(2). https://doi.org/10.33512/jipt.v3i2.13737 Harsoyo, Y., Fitria, H., & Muhammad, J. (2022). Peningkatan kapasitas ukm industri konstruksi melalui marketplace di masa pandemi covid 19. Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat. https://doi.org/10.18196/ppm.44.705 Jiwa, I. and Arnawa, G. (2019). Anteseden inovasi, organizational citizenship behavior (ocb) dan kinerja ukm garam rakyat di kabupaten buleleng. Jurnal Mitra Manajemen, 3(1), 1-15. https://doi.org/10.52160/ejmm.v3i1.174 Marlena, N. (2018). Sudahkah ukm cor kuningan mengimplementasikan keputusan operasional?. Ekspektra, 181-191. https://doi.org/10.25139/ekt.v2i2.1224 107 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025) Jurnal Manajemen dan Teknologi E - ISSN: 3047-8251 | P- ISSN: 3047-826X Vol. 2 No. 2 (2025) | November https://journal.stmiki.ac.id https://doi.org/ 10.63447/jmt.v2i2.1548 Nazvia, N., Loekqijana, A., & Kurniawati, J. (2014). Faktor yang mempengaruhi kepatuhan pelaksanaan sop asuhan keperawatan di icu-iccu rsud gambiran kota kediri. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(1), 21-25. https://doi.org/10.21776/ub.jkb.2014.028.01.17 Noerchoidah, N., Nurdina, N., & Ariprabowo, T. (2022). Berbagi pengetahuan dalam memediasi antara efikasi diri kreatif terhadap kinerja kreatif pada ukm di jawa timur. Balance Economic Business Management and Accounting Journal, 19(1), 33. https://doi.org/10.30651/blc.v19i1.9952 Nurhayati, H. (2020, December). Pengaruh Persyaratan Perizinan, Prosedur Perizinan Dan Konsekuensi Perizinan Terhadap Perkembangan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) Di Kabupaten Sukabumi. In SEMNASTERA (Seminar Nasional Teknologi dan Riset Terapan) (Vol. 2, pp. 319-328). Ranatiwi, M. and Mulyana, M. (2018). Dampak jejaring kolaborasi dan kapabilitas inovasi terhadap kinerja. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 19(1), 49. https://doi.org/10.30659/ekobis.19.1.49-58 Salam, A., & Imilda. (2024). Transformasi Digital UMKM Indonesia di Era Industri 5.0: Studi Kasus di Kota Banda Aceh. Jurnal Manajemen Dan Teknologi, 1(1), 1-10. https://doi.org/10.63447/jmt.v1i1.772 Suarantalla, R., & Rizqi, R. M. . (2024). Penerapan Pemasaran Digital dalam Memfasilitasi Pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Sumbawa. JIIP Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(1), 505-512. https://doi.org/10.54371/jiip.v7i1.3566 Suindari, N. M., & Juniariani, N. M. R. (2020). Pengelolaan Keuangan, Kompetensi Sumber Daya Manusia Dan Strategi Pemasaran Dalam Mengukur Kinerja Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Krisna: Kumpulan Riset Akuntansi, 11(2), 148–154. https://doi.org/10.22225/kr.11.2.2020.148-154 Umasugi, R., Kiyai, B., & Palar, N. (2017). Pengaruh reformasi struktur birokrasi terhadap kinerja organisasi pada sekretariat daerah kota manado. Jurnal administrasi publik, 3(046). Retrieved from https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/JAP/article/view/16820 Usvita, M. (2019). Pengaruh orientasi kewirausahaan dan orientasi pasar terhadap kinerja perusahaan melalui keunggulan bersaing sebagai variabel intervening (survey pada ukm pangan dinas perindagtamben kota padang). Jurnal Apresiasi Ekonomi, 3(1), 30-37. https://doi.org/10.31846/jae.v3i1.186 Yuliani, W. (2018). METODE Penelitian Deskriptif Kualitatif Dalam Perspektif Bimbingan Dan Konseling. Quanta : Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling Dalam Pendidikan, 2(2), 83–91. https://doi.org/10.22460/q.v2i2p83-91.1641 108 Jurnal Manajemen dan Teknologi (JMT) Vol. 2 No. 2 (2025)