EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 MEMAHAMI ESENSI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM: PRINSIP-PRINSIP DASAR UNTUK MENCAPAI KUALITAS PENDIDIKAN MAWLANA NABRISNI HAWNA1. ABD AZIZ2. NUR EFENDI3 UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung e-mail: mawlananabris@gmail. com, abdaziz@uinsatu. id, nurefendi2016@gmail. ABSTRAK Kepemimpinan merupakan pondasi pokok dalam manajemen dalam bidang pendidikan. Melalui kepemimpinan pendidikan tujuan dari akan dicapai dan diwujudkan. Penelitian ini fokus pada esensi kepemimpinan dalam pendidikan islam yang meliputi makna, konsep dasar dan karakteristik yang harus ada pada kepemimpinan pendidikan islam. Sebagai seorang pemimpin harus memahami secara konseptual dan hakikat dari kepemimpinannya, sehingga hal-hal pokok selalu mewarnai kebijakannya atas dasar islami dan sesuai tujuan pendidikan. Hal ini dipandang penting, sebab maju dan mundurnya kualitas pendidikan, sangat tergantung kepada sejauhmana seorang pemimpin dapat menjalankan tugas dan peran kepemimpinanya secara efektif dan efisien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research dengan pengumpulan data melaui buku, dokumen, majalah dan sebagainya. Melalui penelitian tersebut terungkap bahwa sosok panutan utama dalam kepemimpinan pendidikan islam adalah nabi Muhammad saw. terbukti dengan keberhasilan dalam dakwahnya menyebarkan agama islam dimuka bumi, sehingga kepemimpinan dalam pendidikan islam perlu memiliki sifat utama beliau yakni shidiq, amanah, tablig, dan fathonah. Kata Kunci: Kepemimpinan. Pendidikan. Pendidikan Islam ABSTRACT Leadership is the main foundation in management in the field of education. Through educational leadership, the goals will be achieved and realized. This study focuses on the essence of leadership in Islamic education which includes the meaning, basic concepts and characteristics that must exist in Islamic educational leadership. As a leader, one must understand conceptually and the nature of his leadership, so that the main things always color his policies on an Islamic basis and in accordance with educational goals. This is considered important, because the progress and decline of the quality of education, greatly depends on the extent to which a leader can carry out his duties and leadership roles effectively and efficiently. This study uses a qualitative method with a library research approach by collecting data through books, documents, magazines and so on. Through this study, it was revealed that the main role model in Islamic educational leadership is the Prophet Muhammad SAW. proven by his success in preaching spreading Islam on earth, so that leadership in Islamic education needs to have his main characteristics, namely shidiq, amanah, tablig, and fathonah. Keywords: Leadership. Education. Islamic Education PENDAHULUAN Salah satu unsur terpenting dalam memajukan sebuah institusi pendidikan adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Melalui Sumber Daya Manusia yang unggul secara bersamasama akan menyumbangkan pikiran dan tenaga mereka memberikan yang terbaik bagi lembaga pendidikan tempat mereka bernaung. Sumber daya yang baik tentu tidak terlepas dari tata kelola atau manajemen. Maju tidaknya sebuah lembaga pendidikan juga sangat ditentukan dari kualitas tata kelola yang ada. Kepemimpinan atau leadership adalah seni dan keahlian seorang untuk menjalankan kekuasaannya dalam mempengaruhi bawahan supaya melakukan suatu kegiatan yang mengarah pada sebuah visi tertentu yang sudah direncanakan. Memimpin ialah Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 melaksanakan sesuatu untuk sebuah visi tertentu, yang dalam melaksanakan dibantu melalui tangan orang lain. Mereka yang dipimpin ialah orang yang mendapat perintah, diatur dan dipengaruhi oleh aturan yang adasecara baik secara formal mupun nonformal. Kepemimpinan adalah bagian yang signifikan pada aspek pengembangan sumber daya manusia. Melalui model kepemimpinan tertentu akan menghasilkan corak manajemen tersendiri, kemudian dari sini akan menghasilkan sumber daya yang unggul. Secara sederhana kepemimpinan diberikan kepada seseorang yang dinilai telah mampu memimpin dirinya sendiri, kemudian ia mendapatkan amanat untuk memimpin orang lain. Konsekwensi yang sangat logis bagi seorang pemimpin adalah bahwa ia dianggap layak dan mampu mengemban amanah karena telah mampu memimpin dirinya sendiri. Dalam konteks pendidikan Islam pemimpin juga memiliki posisi yang strategis. Pemimpin sebagai nahkoda dalam menentukan kemana arah yang akan dituju. Kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam adalah proses sekaligus kunci. Peran pimpinan sebagai inisiator agar terciptanya kerjasama diantara sumber daya yang ada, dalam hal ini proses mempengaruhi adalah menjadi tugas pokok dari seorang pemimpin. Pendidikan merupakan sarana untuk mengembangkan keilmuan dan pengetahuan, selain itu pendidikan diharapkan memiliki konsep dan dasar-dasar yang tertata, dan memiliki etika (Mursal, 2. Pendidikan merupakan suatu yang sangat urgen dalam berbagai persoalan termasuk kepemimpinan. Pendidikan adalah suatu proses untuk mengubah sikap dan cara individu atau kelompok dalam suatu masyarakat dalam proses pendewasaan manusia melalui upaya pembelajaran dan pelatihan (Mesiono, 2. Oleh sebab itu pendidikan adalah salah satu faktor penting dalam Dengan menggunakan analisisi studi kepustakaan, uraian di bawah ini akan mendeskripsikan tentang kepemimpinan dalam pendidikan islam. Oleh karena luasnya cakupan materi tersebut maka penulis membatasi pada konsep pemimpin dalam islam, sifat dan karakteristik pemimpin dalam pendidikan islam. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library Penelitian kepustakaan . ibrary researc. merupakan penelitian yang berfungsi mendapatkan informasi dari buku, majalah, dokumen, catatan sejarah atau dengan kata lain fasilitas yang terdapat dalam perpustakaan. Pendekatan kepustakaan adalah penelitian dengan kegiatan mencari data dari membaca buku dan mengolahnya, yang dalam hal ini adalah mengenai konsep dasar kepemimpinan dalam pendidikan Islam. Dalam proses penelitian library research, perpustakaan menjadi tempat yang utama untuk mendapatkan data dan informasi yang relevan untuk dibaca dan dikumpulkan, dikaji dan dicatat. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Kepemimpinan Pendidikan Agama Islam Berdasarkan pada pemikiran para ahli yang telah berupaya memberikan pemahaman kepemimpinan, diantaranya Ralp M. Stogill. Sondang P Siagian dan Fred E. Fiedler. Pertama. Ralp M. Stogill berpendapat bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatankegiatan kelompok yang diorganisir menuju kepada penentu dan pencapaian tujuan. Kedua Sondang P Siagian berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan motor atau daya penggerak dari pada semua sumber-sumber, dan alat yang tersedia bagi suatu organisasi. Dan ketiga Fred Fiedler yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah individu di dalam kelompok yang memberikan tugas pengarahan dan pengorganisasian yang relevan dan kegiatan-kegiatan. Ada hubungan antara manajemen dengan kepemimpinan. Sondang P. Siagian menegaskan bahwa inti manajemen ialah kepemimpinan. Dengan pengertian lain, manajemen Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 lebih luas daripada kepemimpinan, atau kepemimpinan berada dalam lingkup manajemen. Walaupun pada dasarnya terdapat asumsi yang berbeda antara manajemen dan leadership, namun keduanya diakui memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lainnya, hal ini disebabkan karena perbedaan yang ada pada keduannya, justru disadari sebagai faktor yang saling mendukung dan menguatkan, hal ini merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam level apapun, dimana upaya keberhasilannya sangat ditentukan oleh kemampuan leadership dan management yang baik, dalam organisasi yang dipimpinnya. Fakta penting mengenai sinergi antara kepemimpinan dan manajemen, telah diuraikan oleh Peter F. Durucker, seorang Ilmuwan dan sekaligus pemikir manajemen, yang melahirkan karya besarnya berupa Management by Objectives (MBO). Dalam karya tersebut. Peter F. Durucker menguraikan konsep manajemen yang berupaya memastikan agar setiap orang dalam organisasi memiliki pengetahuan yang sangat jelas, mengenai sasaran dan tujuan dari organisasi Hal ini penting menurut Peter F. Durucker, sebab dengan kondisi demikian, setiap individu dalam organisasi akan memilki pemahaman tentang betapa pentingnya perannya dalam mensukseskan ketercapain tujuan organisasi (Mesiono, 2. Konsep Management by Objectives (MBO), adalah upaya dalam mensinergikan dimensi manajemen sebagai faktor keteraturan peran dan fungsi, dengan dimensi leadership sebagai faktor rasa memiliki yang akan melahirkan tangungjawab kolektif dari seluruh anggota organisasi. Pentingnya penyatuan antara dimensi manajemen dan dimensi leadership juga telah diuraikan oleh Jack Welch, seorang CEO di General Electric (GE) dan merupakan seorang sarjana yang mendapat gelar Ph. D pada University of Illinois. Sebagai seoarang CEO diperusahan besar. Jack Welch mencatat torehan prestasi yang sangat luar biasa dalam karirnya, berbagai terobosannya sebagai seorang CEO, mengantarkan General Electric (GE) meraup keuntungan yang signifikan, dan bahkan pada tahun 1999, majalah Fortune menyebut Welch sebagai AuManajer Abad IniAy. Jack Welch mengakui bahwa dalam kepemimpinnya ia menerapkan perannya sebagai seoarang leader sekaligus manajer, hal inilah yang mendorong General Electric (GE) mengembangkan model competitive advantage . euntungan kompetiti. (Mesiono, 2. Model ini memungkinkan setiap pemimpin disetiap kelasnya dapat memaikan perannya sebagai seorang manajer dan leader sekaligus secara bersamaan. Jika beberapa pengertian pemimipin tersebut diterapkan dalam organisasi lembaga pendidikan, kepemimpinan pendidikan dapat diartikan sebagai usaha untuk menggerakan orang-orang yang ada dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan Pendidikan (Rusdiana, 2. Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakan pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien (Rusdiana, 2. Salah satu bentuk kepemimpinan dalam lembaga pendidikan islam adalah kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan. karena ia merupakan pemimpin dilembaganya. Mulyasa menyatakan, kegagalan dan keberhasilan sekolah banyak ditentukan oleh kepala sekolah karena mereka merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh sekolah menuju tujuannya. Sekolah yang efektif, bermutu, dan favorit tidak lepas dari peran kepala sekolahnya. Maka ia harus mampu membawa lembaganya kearah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan, ia harus mampu melihat adanya perubahan serta mampu melihat masa depan dalam kehidupan global yang lebih baik. Kepala sekolah harus bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua urusan pengaturan dan pengelolaan sekolah secara formal kepada atasannya atau secara informal kepada masyarakat yang telah menitipkan anak didiknya (Mulyasa, 2. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Konsep Dasar Kepemimpinan Pendidikan Islam Konsep dasar dan fondasi awal kepemimpinan pendidikan Islam sesungguhnya berkaitan erat dengan tugas manusia itu sendiri tatkala Allah turunkan dibumi dengan mengemban amanah sebagai kholifah sebagai pemimpin, hal ini ditegaskan dalam Al-quran Surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya: AuIngatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. " mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan . di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahuiAy Ayat tersebut menunjukan bahwa manusia diciptakan oleh Allah bertugas sebagai pemimpin . yang akan mengatur seluruh alam dan proses kepemimpinannya berlandaskan pada al-Quran dan mencontoh sifat yang dicontohkan oleh Rasulullah. Sifat tersebut antara lain siddiq . ,amanah . apat dipercay. , tabligh . , dan fathanah . Keempat sifat tersebut yang melandasi seorang pemimpin dalam bersikap dalam organisasi yang dipimpinnya. Termasuk di dalamnya menentukan arah serta tujuan organisasi di masa yang akan dating (Nurul Sahana, 2. Dalam islam manusia tidak pernah terlepas dari dua posisi yaitu posisi memimpin dan posisi dipimpin. Diutusnya Rasulullah Muhammad di dunia ini sebagai pemimpin, yaitu pemimpin manusia di akhir zaman, sehingga potret pemimpin pendidikan Islam yang utama ada pada figur Rasulullah dengan segala aspek kehidupan. Beliau pemimpin dalam urusan agama dan keluarga, urusan bernegara, bahkan pemimpin dalam peperangan. Konsep kepemimpinan dalam Islam sejatinya hampir hadir pada setiap aktivitas kehidupan, seorang kepala keluarga misalnya, dia adalah pemimpin bagi istri dan anakanaknya, seorang Imam dalam sholat, dia adalah pemimpin pada waktu itu untuk makmummakmum yang berdiri mengikuti di belakangnya, seorang panglima perang, dia adalah pemimpin bagi pasukannya. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah Sallalahu alaihi wassallam telah memberikan amanah agar pada setiap perjalanan seorang muslim dalam berpergian hendaknya ditunjuk terlebih dahulu sosok pemimpin dari rombongan tersebut, jikalau perjalanan hanya diikuti oleh dua orang saja, maka hendaknya salah satu di antara mereka di tunjuk sebagai pemimpnnya, hal ini terekam dalam hadits Nabi Sallalahu alaihi wassallam yang artinya : AyJika Tiga orang . untuk berpergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombonganAy (Hadits Riwayat Abu Dawud no. Dalam memilih pemimpin tatkala safar Islam juga memberikan rambu-rambu bahwa orang yang layak menjadi pemimpin adalah dia yang paling baik akhlaknya, yang paling shalih di antara yang lainnya, karena dia akan bertugas menjaga agama teman-temannya dalam perjalanan, dia bertugas sebagai pemimpin yang akan menegur mereka apabila berbuat salah, akan membantu mereka tatkala dibutuhkan, dan akan mengajari mereka jika mereka tidak tahu sesuatu yang dibutuhkan dalam perjalanan. Dalam Agama Islam semua manusia mendapat amanah sebagai pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri untuk mengarahkan hawa nafsunya agar berjalan di atas kebenaran, hal ini sesuai sabda Rasulullah Sallalahu alaihi wassallam yang artinya :AySetiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnyaAy. (Hadits Riwayat Bukhori dan Musli. Setiap dari kita adalah pemimpin yang telah diamanahkan untuk memimpin berdasarkan pada Al-qurAoan dan Hadits, konsep dasar kepemimpinan dalam Islam adalah konsep dakwah amar maAoruf nahi munkar, menyeru kepada surga dan menghalangi kepada terjerumus ke dalam api neraka. Allah SWT berfirman dalam surat At-tahrim ayat 6 yang artinya :Ay Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 manusia dan batu. penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkanAy (QurAoan surat At-tahrim ayat . Pada ayat di atas nampak jelas bahwa kita semua sebagai seorang muslim memiliki kewajiban untuk menjadi pemimpin yang bertugas memberikan pendidikan kepada orangorang yang ada di sekitar kita. Tugas kita untuk menyampaikan ajaran yang tertuang dalam alQurAoan dan As Sunnah sebagai sumber hukum Islam. Dengan demikian tujuan utama kepemimpinan pendidikan Islam mengajak ke pada segenap kaum muslimin untuk bisa menjalankan syariat Islam yang bermuara mengantarkan manusia ke dalam surga dan menjauhkan dari dari neraka. Secara umum, konsep kepemimpinan dalam Islam sebenarnya memiliki dasar-dasar yang sangat kuat dan kokoh yang dibangun berdasar nilai-nilai transendental, dan telah dipraktikkan sejak berabad-abad yang lalu oleh Nabi Muhammad saw . Al-KhulafaAo alRasyidin, dan juga sahabat-sahabat Nabi yang lainnya yang senantiasa kita jadikan potret Pijakan kuat yang bersumber dari Al QurAoan dan Sunnah serta dengan bukti empiriknya telah menempatkan konsep kepemimpinan dalam Islam sebagai salah satu model kepemimpinan yang diakui dan dikagumi oleh dunia internasional. Pendekatan dalam Kepemimpinan Pendekatan leadership pada dasarnya sangat bervariasi tergantung pada kondisi dan situasi organisasi yang dijalankan. Sutarto memfokuskan pada 4 pendekatan utama, yang dipandang sangat berpengaruh pada kepemimpinan . seseorang, yaitu sebagai berikut (Sutarto, 2. Pendekatan Sifat Pendekatan sifat pada dasarnya, berawal dari konsep pemikiran AuheraditaryAy, sebagaimana yang didefinisikan oleh Robert J. Thierauf. Robert C. Klekamp, dan Daniel W sebagaimana yang dikutip oleh Sutarto ialah AuThe hereditary approach states that leaders are born and not made Aethat leaders do not acquire the ability to lead, but inherit itAy. (Pendekatan turun-temurun menyatakan bahwa pemimpin dilahirkan bukan dibuat, bahwa pemimpin tidak dapat memperoleh kemampuan untuk memimpin, tetapi mewarisiny. Sehingganya untuk menjamin kelanjutan pemimpin dalam garis keturunan, maka dilakukan proses perkawinan antara anggota dekat. Dengan jalan ini maka, kekuasaan dan kesejahteraan dapat dilangsungkan kepada generasi pemimpin berikutnya, yang termasuk dalam garis keturunan keluarga yang saat itu berkuasa. Pada era selanjutnya, berkembang pula pendapat bahwa pemimpin pada dasarnya dapat juga diciptakan, hal ini menyatakan bahwa setiap orang dapat dilatih menjadi pemimpin sehingga melalui pendapat ini, dipahami bahwa setiap orang berpotensi menjadi seorang Dinamisasi inilah yang mengantarkan pada kesimpulan akhir mengenai pentingnya seorang pemimpin memiliki sifat kepemimpinan, terlepas apakah hal tersebut dipandang sebagi bawaan lahir, ataupun sebagai sesuatu yang dibentuk kemudian. Pendekatan sifat menyakini bahwa setiap situasi yang dihadapi oleh suatu organisasi, selalu berbeda dengan kenyataan yang dihadapi oleh organisasi yang lain. Hal ini juga dipengaruhi oleh keadaan yang juga terus mengalami perubahan dan perkembangan. Keadaan dan kondisi inilah yang menuntut perlunya penyesuain sifat-sifat pemimpin agar berubah mengimbangi perubahan situasi yang terjadi. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh A. Stoner yang dikutip oleh Sutarto, sebagai berikut: AuNo one traith was common to all effective leaders: no one style was most effective in all situationAy, . idak ada satu sifat umumpun untuk semua pemimpin yang efektif. tidak ada satu gaya yang sangat efektif dalam segala situas. Pendekatan Perilaku Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Pendekatan perilaku berlandaskan pada pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin, ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan nampak dari cara melakukan perintah, cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara mendorong semangat bawahannya, cara melakukan bimbingan, cara menegakkan disiplin, cara mengawasi pekerjaan bawahan, cara meminta laporan dari bawahan, cara memimpin rapat, cara menegur kesalahan bawahan, dan lain-lain. Melalui pendekatan perilaku seorang pemimpin menyadari bahwa dalam mengelola organisasi terdapat tiga hal yang sangat menonjol, yaitu: pertama, pengelolaan organisasi yang menitikberatkan pada tugas, pekerjaan, dan produksi. Kedua, pengelolaan organisasi yang menitik beratkan pada aspek yang berhubungan dengan relasi antar-individu, perasaan, kejiwaan, emosi, kebutuhan, kepercayaan, dan pergaulan. Dan ketiga pengelolaan organisasi yang memperhatikan keduanya secara sekaligus, baik dari aspek produksi maupun aspek Berdasarkan hal tersebut pendekatan perilaku dalam konsep kepemimpinan, memegang peranan yang sangat penting untuk memahami situasi organisasi yang dipimpinnya, dan sekaligus memutuskan perilaku seperti apa yang nantinya akan diambil untuk memimpin organisasi tersebut, sehingga konsep kepemimpinannya menjadi produktif, efektif, dan efisien. Pendekatan Kontigensi Pendekatan kontigensi adalah pendekatan yang lahir atas ketidakpuasan terhadap pendekatan perilaku. Pendekatan perilaku meyakini bahwa untuk mengurus organisasi dapat dilakukan dengan perilaku tunggal setelah memahami situasi organisasi. Hal ini dikenal dengan sebutan Auone best wayAy, . atu jalan terbai. Konsep tersebut dibantah oleh pendekatan kontigensi, yang menyakini bahwa setiap organisasi memilki ciri khusus dan unik, hal ini juga ditunjang oleh situasi yang berada pada sekitar organisasi tersebut, sehingga penting untuk melihat dan memahami organisasi, sebagai proses dinamis yang selalu berubah dan Kenyataan ini mengantarkan pada satu kesimpulan akhir, bahwa perlu adanya suatu pendekatan kepemimpinan yang dinamis, sehingga dapat mengimbangi organisasi itu kenyataan inilah yang melahirkan pendekatan kontigensi . ontigency approac. Pendekatan kontigensi disebut juga sebagai pendekatan situasional, yaitu pola pendekatan yang mencoba untuk memahami bahwa organisasi merupakan sistem yang terdiri atas subsistem-subsistem dan dilukiskan dengan pengenalan batas-batas lingkungan Pandangan ini mencoba untuk mengerti antarhubungan di dalamnya, dan antara subsistem-subsitem baik antara organisasi dengan lingkungannya, dan sekaligus menegaskan pola-pola atau bentuk-bentuk variabel. Hal ini menempatkan bermacam-macam sifat organisasi, dan berusaha untuk mengerti bagaimana organisasi beroperasi di dalam bermacam-macam kondisi, dan dalam keadaan khusus. Pandangan kontigensi pada akhirnya diarahkan untuk mencapai rancangan organisasi yang diharapkan melahirkan konsep manajemen yang tepat untuk segala situasi. Pendekatan Terpadu Pendekatan terpadu dalam konsep kepemimpinan merupakan pola pendekatan yang lahir dari satu keadaan yang melihat bahwa berbagai teori dalam ilmu administrasi baik yang menyangkut daya, motivasi, kepemimpinan, kepribadian, kontrol, pengembangan organisasi, perubahan organisasi, dan berbagai hal yang menyangkut dengan hal tersebut dijelaskan secara individual, sehingga memungkinkan tidak maksimalnya proses pengelolaan organisasi. Sehingga melalui pendekatan terpadu inilah seluruh konsep tersebut dicoba untuk diintegrasikan menjadi satu kesatuan utuh dan terpadu, sehingga yang diharapkan nantinya akan melahirkan satu konsep utuh mengenai bagaimana seharusnya seorang pemimpin mengelola suatu organisasi. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Salah satu contoh dalam pendekatan terpadu ini ialah, dirumuskannya konsep perpaduan antara teori motivasi jenjang kebutuhan Maslow, teori tingkat kematangan bawahan, dengan pendekatan kepemimpinan situasional. Melalui pola keterpaduan ini, berhasil ditemukan bahwa upaya mengerakkan dan mengelola organisasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan jenjang kebutuhan yang dirumuskan oleh Maslow, dimana seorang pemimpin dapat mempertimbangan kebijakan yang hendak dikeluarkan, dengan melihat tingkat kedewasaan dari para bawahannya, jika ternyata para bawahan masih mengutamakan kebutuhan fisik, hal ini menandakan bahwa tingkat kedewasaanya masih sangat rendah, sehinga gaya kepemimpinan yang digunakan adalah gaya kepemimpinan yang lebih kepada Namun sebaliknya jika para bawahan lebih mengutamakan kebutuhan pemuasan diri, maka hal tersebut merupakan pertanda tingkat kedewasaan bawahan sangat tinggi, sehingga gaya kepemimpinan yang digunakan ialah lebih banyak mendelegasikan wewenang bagi para bawahan, untuk melaksanakan tugas-tugas strategis pada organisasi tersebut. Teori Kepemimpinan Pendidikan Telah banyak studi yang dilakukan tentang kepemimpinan, dan hasilnya ialah berupa rumusan, konsep, dan teori kepemimpinan. Studi dan rumusan kepemimpinan yang dihasilkan, sangat dipengaruhi oleh paradigma dan pendekatan yang digunakan, sehingga teori-teori yang dihasilkan mempunyai perbedaan dalam hal metodologi, pendapat dan uraiannya, penafsiran, serta kesimpulannya. Adapun beberapa teori kepemimpinan yang dipandang berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan, yang dirangkum oleh Kartini Kartono dari G. Terry, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Machali dan Ara Hidayat, ialah sebagai berikut (Machali & Ara Hidayat, 2. Teori Otokratis. Kepemimpinan dalam teori ini, didasarkan atas perintah-perintah, paksaan, dan tindakan-tindakan yang arbirer . ebagai wasi. Ia melakukan pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien. Konsep kepemimpian dalam teori ini, dipahami sebagai sebuah tindakan untuk berperan tunggal dan berambisi untuk mengasai situasi dan kondisi yang terdapat dalam organsiasi tersebut, dan sangat terlihat peran seorang pemimpin memperlihatkan perilaku a one-man show dalam organisasi yang dipimpinnya, dengan tingkat pendelagasian wewenang sangat rendah. Teori Psikologis. Teori psikologis menyatakan, bahwa fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk merangsang kesedian bekerja para pengikut dan anak buah. Seorang pemimpin merangsang bawahan, agar mereka mau bekerja, guna mancapai sasaran-sasaran organisatoris maupun untuk memenuhi tujuan-tujuan pribadi. Dalam teori kepemimpinan ini, seorang pemimpin menitik beratkan pengaruhnya melalui motivasi kepada para bawahannya, dengan memanfaatkan rasa pengakuan, martabat, status sosial, kepastian emosional, memperhatikan keinginan, dan kebutuhan para bawahannya. Teori Sosiologis. Dalam teori sosiologis, kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan relasi dalam orgnisasi, dan juga sebagai usaha untuk menyelesaikan usaha dalam setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya. Agar tercapai kerja sama yang baik, pemimpin menetapkan tujuan-tujuan, dengan menyertakan para pengikut dalam pengambilan keputusan akhir. Teori Suportif. Menurut teori ini, para pengikut harus berusaha dan bekerja sekuat mungkin, dan bekerja dengan penuh gairah, sedang pemimpin akan memposisikan diri sebagai seorang pembimbing, yang akan mengarahkan anggotanya melalui policy Sehingga dalam teori ini, seorang pemimpin didorong untuk mampu menciptakan suatu lingkungan kerja yang menyenangkan, dan bisa membantu mempertebal keinginan setiap pengikutnya, untuk melaksanakan pekerjaan dengan sebaik mungkin, sanggup bekerjasama dengan pihak lain, memiliki keinginan untuk Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 mengembangkan bakat dan keterampilannya, serta menyadari besar keinginan untuk Dalam makna yang sederhana teori suportif juga disebut sebagai teori partisipatif. Teori Laissez Faire. Teori Laissez Faire, ialah teori kepemimpinan yang beroreantasi pada pendelegasian wewenang. Dalam teori ini, seorang pemimpin akan menyerahkan langsung tanggung jawab, serta pekerjaan kepada bawahan atau kepada semua anggota, pada teori ini status dan kapasistas seorang pemimpin, ialah sebagai simbol belaka. Teori Kelakuan Pribadi. Teori kelakuan pribadi, merupakan teori kepemimpinan yang mendasarkan pada analisis terhadap kualitas-kualitas pribadi, atau pola-pola kelakuan para pemimpinnya. Teori ini menegaskan bahwa seorang pemimpin selalu berkelakuan kurang lebih sama dalam setiap situasi yang dihadapi. Pemimpin dalam kategori ini, harus mampu mengambil langkah-langkah yang paling tepat untuk suatu masalah. Teori Sifat Orang-Orang Besar (Traits of Great Me. Menurut teori ini, seorang pemimpin dapat diprediksi dan dilihat dengan mencermati sifat, karakter, dan perilaku orang-orang besar yang terbukti sudah sukses dalam menjalankan kepemimpinannya. Sehingga ada beberapa ciri unggul sebagai predisposisi yang diharapkan akan dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu memiliki intelegensi tinggi, banyak inisiatif, energik, punya kedewasaan emosional, memiliki daya persuasif, dan keterampilan komunikatif, memilki kepercayaan diri, peka, kreatif, mempuanyai keinginan yang tinggi untuk terlibat dalam bentuk partisipasi sosial. Teori Situasi. Teori situasi berpandangan bahwa munculnya seorang pemimpin bersamaan dengan masa pergolakan, kritis seperti revolusi, pemberontakan, dan lainlain. Pada situasi dan kondisi yang kacau tersebutlah, menurut teori ini akan muncul seorang pemimpin yang mampu mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Pemimpin dalam teori ini, dipandang sebagai penyelamat dan cocok untuk situasi Hal ini misalnya dapat dilihat dalam isu kultural seperti AuSatrio PiningitAy, dan isu keagaamaan seperti AuImam MahdiAy. Teori Humanistik/Populistik. Esensi kepemimpinan menurut teori ini, ialah merealisir kebebasan manusia dan memenuhi setiap kebutuhan insani, yang dicapai melalui interaksi pemimpin dengan rakyat. Untuk melakukan hal ini perlu adanya organisasi yang baik dan pemimpin yang baik pula, yang mau memperhatikan kepentingan dan kebutuhan anggota organisasi dalam organisasi tersebut. Dalam teori ini, organisasi beperan sebagai sarana untuk melakukan kontrol sosial, agar pemerintah melakukan fungsinya dengan baik, serta memperhatikan kemampuan dan potensi rakyat. Karakteristik Kepemimpinan Pendidikan Islam Karakteristik kepemimpinan pendidikan Islam merupakan karakter ideal yang harus ada pada diri pemimpin-pemimpin di lembaga pendidkan islam, karakter tersebut menyangkut aktualisasi diri dari pemimpin itu sendiri yang bisa berupa bahasa, perilaku, dan tindakan. Karakteristik merupakan salah satu kekuatan pada diri setiap pemimpin yang akan menjadi nilai lebih dan keunggulannya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Melihat paradigma di atas maka perlu adanya pemaparan tentang karakteristik kepemimpinan pendidikan Islam yang menjadi acuan dan tolak ukur bagi para pemimpin di lembaga pendidikan Islam. Menurut Ulinnuha mengutip dari Nawawi dalam artikelnya yang berjudul karakteristik kepemimpinan pendidikan Islam menyatakan bahwa kepemimpinan pendidikan Islam memiliki karakteristik khusus diantaranya : Tasamuh, yaitu memahami dan menghargai orang lain atau biasa kita sebut sebagai Hal ini bisa dilakukan dengan mengoreksi diri sendiri sebelum sibuk mengoreksi orang lain. Prinsip ini sejalan dengan perintah Rasulullah Sallalahu alaihi wassallam Auhisablah . mal perbuata. i duni. sebelum nanti akan dihisab di Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Mampu menumbuhkan kebiasaan berkerjasama dan solidaritas sesama umat Islam. Hal ini sesuai firman Allah (QS. Al-Maidah ayat . yang artinya : AuDan tolong-menolonglah kamu dalam . kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-NyaAy. Menerapkan fastabiqul Khoiroot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal ini sesuai firman Allah surat Al-baqarah ayat 148 yang artinya: AuMaka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanyaAy. Harus open minded dan bisa menerima kritik dari orang lain, hal ini sesuai dengan firman Allah (QS. Az-Zumar ayat . AuYang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akalAy Mampu menciptakan kaderisasi dan bersikap demokratis. Hal ini sesuai sabda Rasulullah Sallalahu alaihi wassallam : AuBukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda diantara kami dan tidak menghormati orang yang tua diantara kamiAy (HR. at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah Mampu menghilangkan jahid . ikap reaksioner yang terburu-buru dalam menyikapi sesuat. dan jamid . eku dalam berfikir sehingga tidak terbuka kepada hal-hal yang bar. di tubuh masyarakat. Hal ini sesuai dengan firman Allah (QS. Al-AnbiyaAo ayat . yang artinya: AuManusia telah dijadikan . Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera. Ay Ayat di atas jelas menyebutkan bahwa tabiat manusia memanglah tergesa, sebagaimana yang diterangkan Wahbah Zuhayli dalam Tafsir Al-Wajiz. Selain karakteristik diatas, beberapa sifat yang harus dimiliki oleh kepemimpinan pendidikan islam juga lebih kepada bagaimana sifat yang dicerminkan oleh nabi Muhammad Beliau dikaruniai empat sifat utama, yaitu: shiddiq, amanah, tablig dan fathanah. Menerapkan sifat utama yang dimiliki oleh beliau, otomatis kepemimpinan pendidikan Islam akan berjalan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Adapun karakteristik yang harus dimiliki kepemimpinan pendidikan Islam yang mengacu pada karakteristik Rasulullah saw. adalah sebagai berikut (Sakdiah, 2. Memiliki sifat shidiq . Sifat jujur merupakan nilai transendental yang mencintai dan mengacu kepada kebenaran yang datangnya dari Allah swt. baik dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Perilaku pemimpin yang shiddiq selalu mendasarkan pada kebenaran dari keyakinannya, jujur dan tulus, adil, serta menghormati kebenaran yang diyakini pihak lain yang mungkin berbeda dengan keyakinannya, bukan merasa diri atau pihaknya paling benar. Keutamaan dan kemuliaan sifat benar itu diperkuat dan dijelaskan dalam Surat Al-Ahzab ayat 22 yang artinya: AuDan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata. AuInilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kitaAy. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan kedudukanAy. Dengan sifat tersebut Nabi Muhammad saw. menjadi seorang pemimpin kepercayaan bagi orang-orang yang hidup semasanya. Beliau selalu memperlakukan orang dengan adil dan jujur. Beliau tidak hanya berbicara dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan dan keteladanan. Kata-kata beliau selalu konsisten. Tidak ada perbedaan antara kata dan perbuatan. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Dalam hubungannya dengan kepemimpinan pendidikan. Karakter shiddiq dapat dikatakan sebagai hal yang urgent dalam penerapannya dalam kepemimpinan pendidikan karena dengan karakter shiddiq yang dimiliki oleh pemimpin suatu madrasah atau lembaga pendidikan dapat jauh dari kebobrokan karena pemimpin yang membiasakan jujur dan adil akan membuat bawahan menjadi lebih percaya terhadapnya sehingga bawahan dapat bekerja tanpa adanya kecurigaan dan dapat bekerja dengan semangat yang lebih Memiliki sifat amanah . Pemimpin yang amanah yakni pemimpin yang benar-benar bertanggungjawab pada tugas dan kepercayaan yang telah diberikan Allah swt. dalam hal ini adalah apapun yang dipercayakan kepada Rasulullah saw. meliputi segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, maupun agama. Firman Allah yang berbicara tentang amanah yang diemban oleh setiap manusia terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 72 yang artinya: AuSesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodohAy. Berdasarkan ayat tersebut menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah swt. , walau sekecil apapun amanat itu. Sifat amanah yang ada pada diri Nabi Muhammad saw. memberi bukti bahwa beliau adalah orang yang dapat dipercaya, karena mampu menyampaikan sesuatu yang seharusnya Bukan saja tidak ditahan-tahan, tetapi juga tidak akan diubah, ditambah atau Demikianlah kenyataannya bahwa setiap firman selalu disampaikan Nabi sebagaimana difirmankan kepada beliau. Dalam peperangan beliau tidak pernah mengurangi harta rampasan untuk kepentingan sendiri, tidak pernah menyebarkan aib seseorang yang datang meminta nasihat dan petunjuknya dalam menyelesaikannya dan lain-lain. Karakter amanah yang dimiliki oleh pemimpin jika diterapkan dalam pendidikan akan memberikan keberhasilan pada madrasah atau lembaga pendidikan yang dipimpin. Apabila pemimpin dapat menyampaikan suatu hal yang dapat disampaikan dan tidak menyembunyikan suatu hal otomatis akan berpengaruh pada keberhasilan atau kesuksesan dalam madrasah atau lembaga pendidikan lainnya. Sebaliknya, jika terdapat hal yang harus disampaikan tetapi tetap disembunyikan maka lambat laun akan berpengaruh terhadap kebobrokan madrasah atau lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Memiliki sifat tabligh . Tabligh merupakan sifat Rasul yang ketiga, cara dan metodenya agar ditiru. Sasaran pertama adalah keluarga beliau, lalu berdakwah ke segenap penjuru. Sebelum mengajarkan sesuatu, beliau yang terlebih dahulu melakukannya. Sifat Ini adalah sebuah sifat Rasul untuk tidak menyembunyikan informasi yang benar apalagi untuk kepentingan umat dan agama. Beliau tidak pernah sekalipun menyimpan informasi berharga hanya untuk dirinya sendiri. Beliau sering memberikan berita gembira mengenai kemenangan dan keberhasilan yang akan diraih oleh pengikutnya di kemudian hari. Firman Allah yang menyangkut dengan karakter tabligh dijelaskan dalam Surat. Ali AoImran ayat 104 yang artinya: AuDan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh . yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntungAy. Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa untuk mencapai maksud tersebut perlu adanya segolongan umat Islam yang bergerak di bidang dakwah yang selalu memberikan peringatan, bilamana tampak gejala-gejala perpecahan dan penyelewengan. Karena itu pada ayat ini diperintahkan agar diantara umat Islam ada segolongan umat yang dengan tegas menyerukan kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dengan demikian umat Islam akan terpelihara dari perpecahan dan infiltrasi dari pihak manapun. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Jika hal tersebut dikaitkan dalam kepemimpinan pendidikan Islam, maka secara tidak langsung madrasah atau lembaga pendidikan akan berjalan dengan sukses tanpa ada perpecahan Oleh karenanya pemimpin sangat disarankan untuk memiliki karakter tabligh yaitu dengan memberikan suatu wejangan ataupun motivasi terhadap bawahannya sehingga dalam madrasah atau lembaga pendidikan yang dipimpinnya akan berjalan sukses tanpa adanya Memiliki sifat fathonah . Kesuksesan Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin umat memang telah dibekali kecerdasan oleh Allah swt. Kecerdasan itu tidak saja diperlukan untuk memahami dan menjelaskan wahyu Allah swt. , kecerdasan dibekalkan juga karena beliau mendapat kepercayaan Allah swt. untuk memimpin umat, karena agama Islam diturunkan untuk seluruh manusia dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu diperlukan pemimpin yang cerdas yang akan mampu memberi petunjuk, nasihat, bimbingan, pendapat dan pandangan bagi umatnya, dalam memahami firman-firman Allah swt. Dalam pledoinya. Fathanah mengutip ayat Alquran surat Al-Imran ayat 186 yang artinya: "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk yang patut diutamakan. Fathanah merupakan sifat Rasul yang keempat, yaitu akalnya panjang sangat cerdas sebagai pemimpin yang selalu berwibawa. Selain itu, seorang pemimpin juga harus memiliki emosi yang stabil, tidak gampang berubah dalam dua keadaan, baik itu di masa keemasan dan dalam keadaan terpuruk sekalipun. Menyelesaikan masalah dengan tangkas dan bijaksana. Sifat pemimpin adalah cerdas dan mengetahui dengan jelas apa akar permasalahan yang dia hadapi serta tindakan apa yang harus dia ambil untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada umat. Sang pemimpin harus mampu memahami betul apa saja bagian-bagian dalam sistem suatu organisasi/lembaga tersebut, kemudian ia menyelaraskan bagian-bagian tersebut agar sesuai dengan strategi untuk mencapai sisi yang telah digariskan. Karakter fathanah yang diterapkan dalam kepemimpinan pendidikan otomatis dalam suatu madrasah atau lembaga pendidikan dapat berjalan sesuai yang diinginkan karena dengan pemimpin yang cerdas dapat memahami bagaimana organisasi yang dipimpin, sehingga dalam menyelesaikan permasalahan pemimpin dapat mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan. Selain itu pemimpin yang cerdas dapat memberi petunjuk, nasihat, bimbingan, pendapat dan pandangan bagi bawahannya sehingga madrasah yang dipimpinnya tidak akan tersesat. Demikian seluruh perspektif pendidikan Islam tentang karakteristik kepemimpinan pendidikan yang baik menurut perspektif pendidikan Islam. Meskipun Islam atau pendidikan Islam dapat menerima segala sifat kepemimpinan pendidikan secara umum, namun pendidikan Islam lebih menekankan kepemimpinan pendidikan itu berdasarkan pada sumber pokok yakni al-QurAoan dan hadis, yang memiliki sifat-sifat yang terpuji. KESIMPULAN Kepemimpinan dalam pendidikan Islam memiliki dasar teologis dari Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 30 yang menyatakan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, bertanggung jawab untuk mengelola dan memimpin seluruh ciptaan Allah. Manusia diberi mandat untuk mengatur alam semesta dengan adil dan bijaksana, selaras dengan kehendak Allah. Dalam proses kepemimpinan ini, seorang pemimpin diharapkan meneladani sifat-sifat Rasulullah, yaitu shidiq . , amanah . apat dipercay. , tabligh . enyampaikan kebenara. , dan fathanah . Sifat-sifat ini menjadi landasan utama dalam kepemimpinan yang baik dan efektif. Dalam praktiknya, terdapat empat pendekatan yang Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 digunakan dalam kepemimpinan pendidikan Islam. Pertama, pendekatan sifat, yang menekankan pentingnya karakter dan moral pemimpin. Kedua, pendekatan perilaku, yang fokus pada tindakan dan keputusan yang diambil oleh pemimpin. Ketiga, pendekatan kontingensi, yang mempertimbangkan faktor-faktor situasional dalam kepemimpinan. Keempat, pendekatan terpadu, yang menggabungkan seluruh aspek sifat, perilaku, dan situasi untuk menciptakan kepemimpinan yang komprehensif dan adaptif. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini, kepemimpinan dalam pendidikan Islam tidak hanya bertujuan menciptakan pemimpin yang efektif, tetapi juga pemimpin yang memiliki akhlak mulia dan mampu memajukan umat sesuai dengan ajaran Islam. DAFTAR PUSTAKA