MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MENGGUNTING DI RA HIDAYATUN NAJAH BULUSARI TAHUN PELAJARAN 2023/2024 Hizbul Wathoni1. Anita Khoirun NiAomah2 Raudlatul Athfal Hidayatun Najah Bulusari, 2. STKIP Hamzar, e-mail: 1anitanita9952@gmail. com, 2hizbulwathoni177@gmail. Abstrak. Perkembangan motorik halus anak usia dini berkembang pesat pada masa prasekolah. Penelitian ini terinspirasi dari temuan observasi awal yang dilakukan peneliti di RA Hidayatun Najah Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri. Berdasarkan pengamatan tersebut terlihat bahwa kemampuan motorik halus anak kelompok B masih rendah dan belum berkembang sesuai harapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pembelajaran yang efektif menggunakan berbagai media, serta media yang sesuai dengan tujuan kegiatan perkembangan, memotivasi dan mengevaluasi hasil belajar anak. Langkah-langkah perbaikan yang dilakukan untuk memperkuat kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan memotong telah menghasilkan peningkatan keterampilan motorik halus anak secara keseluruhan. Hal ini dapat dilihat dari grafik prosentase ketuntasan perkembangan belajar anak pada siklus I dan siklus II telah terjadi peningkatan dalam kemampuan menggunting pada anak sebesar 12%, yang dihitung dari selisih nilai perkembangan 73% pada siklus I dan 85% pada siklus II Kata Kunci: Anak Usia Dini. Menggunting. Motorik Halus. Abstract. Early childhood fine motor development develops rapidly during the preschool period. This research was inspired by initial observation findings conducted by researchers at RA Hidayatun Najah. Tarokan District. Kediri Regency. Based on these observations, it can be seen that the fine motor skills of group B children are still low and have not developed as expected. This research uses a Classroom Action Research (PTK) approach. This research was carried out in two cycles, each consisting of four stages, namely planning, implementation, observation and reflection. Effective learning uses various media, as well as media that is in accordance with the objectives of developmental activities, motivating and evaluating children's learning outcomes. The corrective steps taken to strengthen children's fine motor skills through cutting activities have resulted in an overall improvement in children's fine motor skills. This can be seen from the graph of the percentage of completeness of children's learning development in cycle I and cycle II. There has been an increase in children's cutting ability by 12%, which is calculated from the difference in development scores of 73% in cycle I and 85% in cycle II. Keywords: Early Childhood. Scissors. Fine Motor Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah PENDAHULUAN Kehidupan Awal Anak-anak adalah makhluk individu yang berbeda dengan ciri-ciri berbeda berdasarkan fase perkembangannya. Waktu terbaik untuk membangun fondasi pembangunan manusia adalah ketika seseorang masih muda. Pendidikan anak usia dini (PAUD) digambarkan sebagai upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam . tahun dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal tersebut dilakukan dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak siap memasuki pendidikan lebih lanjut. Menurut Sujiono . , tujuan pendidikan anak usia dini secara umum adalah membantu anak mencapai potensi maksimalnya seiring pertumbuhannya dan belajar beradaptasi dengan lingkungannya. Suyanto . menyatakan bahwa tujuan pendidikan anak usia dini adalah untuk membantu setiap anak mencapai potensi maksimalnya sehingga kelak mereka dapat menghayati ideologi negara dan berfungsi sebagai manusia seutuhnya. Taman Kanak-kanak diharapkan menjadi tempat dimana anak dapat mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas yang dapat dijadikan modal bagi anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya serta untuk tumbuh kembangnya, sesuai dengan tujuan pendidikan anak usia dini. Anak Taman kanak-kanak memainkan peran penting dalam pengembangan kecerdasan ini, dengan instruktur yang berperan sebagai fasilitator, memungkinkan mereka membantu anak mencapai potensi penuh mereka melalui stimulasi Guru dapat memberikan aktivitas yang membahas seluruh bagian perkembangan anak dan digabungkan menjadi satu aktivitas berdasarkan tonggak perkembangan anak. Pendidikan anak usia dini menitikberatkan pada peletakan dasar pertumbuhan jasmani dan perkembangan motorik halus dan kasar, kecerdasan . aya pikir, kreativitas, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritua. , sosial emosional . ikap dan perilaku, serta agam. , bahasa, dan komunikasi, semuanya sesuai dengan keunikan dan tahapan perkembangan yang dialami anak usia dini. Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah Salah satu aspek terpentingnya adalah mengembangkan kemampuan motorik halus di awal kehidupan. Sujiono . mengartikan kemampuan motorik halus sebagai tindakan yang terbatas pada bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, seperti gerakan pergelangan tangan dan gerakan jari yang tepat. Oleh karena itu, energi tidak diperlukan untuk gerakan ini, tetapi koordinasi tangan-mata yang tepat Anak juga memerlukan bantuan keterampilan fisik dan perkembangan mental lainnya untuk melakukan gerak motorik halus. Menurut Samsudin . , keterampilan motorik halus anak prasekolah memungkinkan mereka melakukan tugas-tugas yang memerlukan sedikit otot halus, seperti menulis dan menggambar. Kemampuan motorik halus anak didefinisikan oleh Saputra dan Rudyanto . sebagai kemampuannya dalam melakukan tugas-tugas yang memerlukan otot-otot halus . , seperti menulis, meremas, membuat sketsa, menggenggam, meletakkan balok, dan memasukkan kelereng. Sumantri . mendefinisikan kemampuan motorik halus sebagai pengorganisasian penggunaan sekumpulan otot kecil seperti jari tangan dan tangan, yang seringkali memerlukan ketelitian dan koordinasi tangan-mata, keterampilan seperti bekerja dengan alat dan benda kecil atau mengendalikan mesin. Misalnya. Mengetik, menjahit, dan sebagainya. Sekitar usia tiga tahun, gerak motorik halus anak mulai berkembang dengan cepat, menurut Sujiono dkk. Anak-anak muda dapat meniru teknik memegang pensil ayah mereka pada usia tersebut. Namun jari-jarinya masih belum cukup jauh dari ujung pensil. Selain itu, tangan anak-anak masih kaku saat menulis. Sebaliknya, anak usia 4 tahun sudah bisa menggunakan krayon atau pensil warna untuk menggambar. Ketika mereka mulai bersekolah, anak-anak perlu menggunakan keterampilan motorik halus mereka untuk tugas-tugas seperti menulis dan menggambar. Menurut Prof. Janet W. Lerner (Triharso, 2. , kemampuan motorik halus meliputi kemampuan menggunakan media dengan tetap menjaga koordinasi tangan-mata. Oleh karena itu, pengembangan gerakan tangan yang baik sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan dasar seperti garis horizontal, vertikal, miring ke kiri atau ke kanan, melengkung, dan bulat. Lilin papan tulis, kertas, ranting kayu, pensil dan spidol gambar, jari, alat pemasangan, gunting, dan bentuk Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah geometris untuk menjiplak adalah beberapa instrumen yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan dasar. Perkembangan perkembangan motorik halus. Otot ini digunakan untuk aktivitas tubuh yang lebih terspesialisasi, antara lain memotong, mengikat tali sepatu, menulis, melipat, merangkai, dan mengancingkan pakaian (Suyanto, 2. Kemampuan anak dalam melakukan tugas-tugas yang memerlukan koordinasi yang tepat dan menggunakan bagian tubuh tertentu, seperti menulis, mencubit, dan melihat benda, dikenal dengan perkembangan motorik halus (Noorlaila, 2. Kesimpulan dari uraian di atas adalah ada beberapa keterampilan yang dapat dimasukkan dalam keterampilan motorik halus sebagai indikator capaian perkembangan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 137 Tahun 2014, tingkat pencapaian perkembangan motorik halus anak usia 5-6 tahun: . anak mampu menggambar sesuai idenya, . anak mampu meniru bentuk, . Anak dapat bereksplorasi dengan menggunakan berbagai media dan . Anak dapat menggunakan alat tulis dan memasak dengan benar. Anak dapat memotong sesuai pola. Anak dapat menempelkan gambar dengan benar, dan . Anak dapat mengekspresikan dirinya melalui gerakan menggambar secara detail. Berdasarkan observasi yang dilakukan di RA Hidayatun Najah Desa Bulusari Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri diketahui bahwa kemampuan motorik halus anak dalam kegiatan menggunting belum berkembang sempurna. Dari 12 anak, 7 berkembang normal, sedangkan 5 belum. Hal ini terlihat dari observasi kegiatan perkembangan di kelas, yaitu: Pertama, anak belum terbiasa menggunakan gunting, sehingga jari-jarinya terlihat kaku saat memegang gunting. Kedua, beberapa anak tidak bisa memegang gunting dengan benar. Ketiga anak tersebut merasa bosan dengan proses menggunting yang berulang-ulang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu ditingkatkannya kemampuan motorik halus anak melaui kegiatan menggunting dengan media yang lebih menarik bagi anak kelompok B di RA Hidayatun Najah Bulusari tahun pelajaran 2023/2024. Latihan menggunting bertujuan untuk meningkatkan koordinasi mata, kekuatan tangan, dan perhatian. Berbagai media yang digunakan peneliti dalam kegiatan ini Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah antara lain tisu, playdog, kertas lipat. HVS, kerbau, karton, dedaunan, dan kulit Dari bahan tersebut anak akan menggunting dari tahap awal menggunting sampai ke tahap yang lebih sulit. Anak dapat menyesuaikan alat dan bahan yang digunakan berkisar dari yang paling mudah hingga yang paling sulit dipotong. Selain itu, berbagai media yang digunakan dapat mendiversifikasi pembelajaran dan menggugah minat anak dalam melakukan kegiatan pendidikan. Program ini diharapkan dapat membantu anak memperkuat motorik halusnya melalui kegiatan Menggunting adalah keterampilan penting dalam perkembangan motorik halus anak usia dini. Aktifitas ini melibatkan koordinasi tangan dan mata, kontrol otot kecil dan kemampuan berpikir kritis. Dalam kegiatan mengunting anak dapat mengembangkan kemampuan motorik halusnya serta dapat mengembangkan Karena membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian. Sehingga selain untuk melatih perkembangan motorik halus melalui kegiatan mengunting anak juga dapat mengembangkan kemampuan sosial emosionalnya, seperti kesabaran dan Menggunting menurut Pamadhi . alam Chabibah, 2. merupakan tugas yang mengembangkan kemampuan motorik halus anak dan kemampuan menggunakan alat. Menurut Sumantri . alam Indriyani, 2. , menggunting adalah kegiatan pengembangan keterampilan motorik halus yang melibatkan pemotongan berbagai jenis kertas atau bahan lain dengan mengikuti garis atau bentuk tertentu. Anda bisa melatih jari-jari Anda untuk bergerak sedemikian rupa sehingga gunting mengikuti pola saat menggunting dengan koordinasi tangan dan Menggunting dilakukan untuk membantu anak usia dini agar siap memasuki jenjang sekolah selanjutnya, khususnya menulis, yang melibatkan koordinasi tangan-mata dan otot jari yang dapat dikembangkan melalui menggunting. Tujuan dari latihan menggunting seperti diungkapkan Mistriyanti dalam Tuntari . adalah untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak, kelenturan jari, ketelitian, kesabaran, serta koordinasi otak, mata, dan tangan. Kegiatan menggunting membantu anak kecil meningkatkan kemampuan motorik halusnya. Untuk mengembangkan kapasitas tersebut, sangat penting untuk Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah menciptakan latihan menggunting dengan menggunakan berbagai bahan dan media yang dapat menggugah rasa ingin tahu dan kecerdikan anak. Latihan menggunting tidak hanya meningkatkan kemampuan motorik halus anak, tetapi juga konsentrasi, koordinasi, dan rasa percaya diri. Sumantri . menyebutkan bahwa latihan menggunting bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan, melatih koordinasi tangan-mata, dan fokus sebagai persiapan awal atau pengenalan kegiatan menulis. Latihan menggunting membantu anak mengembangkan kemampuannya dalam menggerakkan otot tangan dan jari. Pengawasan dan dukungan orang dewasa sangat penting dalam membantu anak-anak mengembangkan keterampilan ini. Teknik menggunting yang dapat membantu perkembangan motorik halus anak dapat digunakan dalam berbagai aktivitas. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui selama proses pembelajaran. Begitu juga dalam kegiatan menggunting, tahapan menggunting yang harus dilalui oleh anak usia dini haruslah sesuai dengan Karena tingkat kesulitan dalam kegiatan menggunting akan semakin bertambah sesuai dengan semakin tinggi tahapan usia anak. METODE Menurut Arikunto . , penelitian tindakan kelas memadukan makna kata Aupenelitian, tindakan, dan kelasAy. Penelitian adalah tindakan memeriksa suatu item sambil mengikuti standar metodologi tertentu untuk mengumpulkan fakta yang bermanfaat bagi peneliti dan orang lain. Lebih lanjut, tindakan digambarkan sebagai suatu perlakuan yang diberikan secara aktif terhadap suatu benda dengan tujuan tertentu, dan penerapannya dibagi dalam serangkaian siklus atau periode. Terakhir, kelas diartikan sebagai suatu setting di mana sekelompok siswa belajar dari guru yang sama pada periode yang sama. Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh pendidik di kelas dengan menggunakan berbagai siklus persiapan, tindakan, observasi, dan refleksi untuk mencapai tujuan Tujuan PTK secara keseluruhan adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan (Abdillah, 2. Penelitian ini menggunakan model penelitian PTK (Penelitian Tindakan Kela. yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas yang didampinginya. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran di Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah kelas yang kemudian jika ada kekurangan akan diperbaiki dalam siklus perbaikan Subjek dalam penelitian ini adalah anak-anak Kelompok B RA Hidayatun Najah tahun ajaran 2023/2024, dengan jumlah siswa 12 anak terdiri dari 5 anak perempuan dan 7 anak laki-laki. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus perbaikan, tiap siklus terdiri dari 5 kali pertemuan yang masing-masing kegiatannya terdiri dari kegiatan awal atau pembukaan, kegiatan inti, dan penutup. Peneliti melakukan perbaikan kegiatan pembelajaran terkait motorik halus melalui kegiatan menggunting di siklus I . Pada masing-masing siklus, peneliti melakukan refleksi yang kemudian digunakan sebagai penentu dalam menyusun rencana perbaikan selanjutnya. Melihat hasil perbaikan dari siklus I dirasa belum maksimal, maka langkah selanjutnya peneliti melaknjutkan perbaikan pada siklus II. Dengan tahapan merefleksi perbaikan siklus I, kemudian merencanakan perbaikan, pelaksanaan dan dilanjutkan dengan observasi hasil. Pada perbaikan siklus II ini peneliti menggunakan strategi penyampaian materi yang lebih kreatif, pengelolaan kelas yang lebih baik, serta variasi kegiatan menggunting yang lebih menarik dari sebelumnya, hal ini dilakukan dengan harapan bisa meningkatkan kemampuan motorik halus anak dapat lebih maksimal. Secara umum, tahapan-tahapan PTK masing-masing siklus adalah sebagai berikut : Perencanaan : Tahap ini melibatkan identifikasi masalah atau isu yang akan diteliti, penetapan tujuan penelitian, serta perumusan pertanyaan penelitian. Selain itu, perencanaan juga mencakup perencanaan kegiatan, pemilihan metode, dan pengumpulan data. Pelaksanaan: Pada tahap ini, dilakukan implementasi tindakan atau intervensi yang dirancang untuk mengatasi masalah atau isu yang diidentifikasi. Tindakan ini dapat berupa penggunaan strategi pembelajaran baru, penggunaan materi pembelajaran yang berbeda, atau penggunaan metode evaluasi yang inovatif. Observasi : Tahap ini melibatkan pengumpulan data melalui observasi terhadap siswa atau proses pembelajaran. Data yang dikumpulkan dapat berupa catatan Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah d. Refleksi : pada tahap ini peneliti menganalisis dan mengevaluasi data yang telah Tujuan dari tahap ini adalah untuk memahami efektivitas tindakan yang dilakukan, mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan, serta membuat rekomendasi perbaikan untuk masa depan. Refleksi juga dapat melibatkan pembahasan temuan dengan sesama pendidik atau melaporkan hasil penelitian (Wardani & Wihardit, 2. Pendekatan pengumpulan data penelitian ini meliputi observasi, unjuk kerja, dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah lembar observasi check list. Peneliti mencentang setiap kejadian yang terjadi selama penelitian. Pada penelitian keterampilan motorik halus melalui kegiatan menggunting pada anak kelompok B RA Hidayatun Najah, peneliti mencentang setiap kejadian penelitian yang meliputi ketepatan, ketelitian, kecepatan dan Dengan format sebagai berikut: Tabel 1 Lembar Penilaian Anak Penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran Nama Siswa Ketepatan Ketelitian Kecepatan Kerapian Jumlah Keterangan Penilaian Anak: Nilai 4 (****) : Nilai 4 Sangat baik, mempunyai kemampuan lebih, dan dapat melaksanakan latihan dengan sukses tanpa dukungan guru, dengan hasil yang sangat baik dan rapi. Nilai 3 (***) : Nilai 3 baik dan dapat melakukan aktivitas dengan baik tanpa bantuan tutor, dengan hasil yang baik. Nilai 2 (**) : Nilai 2 cukup baik, dapat melaksanakan latihan namun masih memerlukan pendampingan guru, hasilnya cukup Nilai 1 (*) : Nilai 1 Kurang baik, melakukan aktivitas, namun memerlukan bantuan guru dalam melakukan aktivitas. Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah Rumus yang digunakan untuk mengukur persentase keseluruhan data yang dianalisis dari penilaian anak dalam kegiatan pembelajaran. X = Aexi Keterangan : Nilai rata-rata Aexi : Prosentase masing-masing : Jumlah aspek penilaian HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Menurut Slameto . alam Fakhrurrazi, 2. , pembelajaran yang efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis pada diri siswa. Pembelajaran yang efektif juga dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan sehingga dapat memberikan kreativitas siswa untuk dapat belajar dengan potensi yang telah dimilikinya, khususnya dengan memberikan kebebasan untuk melaksanakan pembelajaran dengan cara belajar sendiri. Untuk mencapai dan mencapai tujuan pembelajaran yang efektif diperlukan suatu strategi yang menjamin tercapainya proses pembelajaran yang diinginkan, yaitu pembelajaran Untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang efektif, guru harus memberikan bantuan. Berdasarkan hasil analisa terhadap kegiatan menggunting pada siklus I untuk meningkatkan keterampilan motorik halus dapat diketahui bahwa kegiatan yang dilakukan dianggap belum selesai. Evaluasi siklus I RPPH I hingga RPPH V mengungkapkan hal tersebut hanya dua RPPH yang mencapai ketuntasan, sedangkan tiga RPPH lainnya belum mencapai ketuntasan dengan masing-masing prosentase dibawah 75%. Hal ini disebabkan karena masih adanya kekurangan sepanjang berlangsungnya kegiatan pembelajaran, dan Guru belum mampu menciptakan pendekatan kegiatan pembelajaran yang efektif. Penggunaan media yang tidak sesuai dengan tujuan kegiatan pembelajaran, serta kurangnya motivasi dan evaluasi selama proses kegiatan pembelajaran. Pada pertemuan berikutnya, guru melanjutkan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah sebelumnya dan mengatasi kendala yang ada dengan berupaya menghasilkan pembelajaran yang efektif dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pengembangan. Nilai akumulasi dari siklus I berdasarkan perolehan prosentase RPPH 1 64%. RPPH II 69%. RPPH i 70%. RPPH IV 77%. RPPH V 85%, dihitung menggunakan rumus: X = Aexi X A 64% A 69% A 70% A 77% A 85% X = 73% Penilaian perkembangan anak pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada hasil belajar anak pada proses aktivitas motorik halus melalui aktivitas menggunting, hal ini menunjukkan bahwa guru mampu membangun proses aktivitas pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang efektif menggunakan media berbagai bahan seperti kertas lipat, kardus, bufalo, daun, kulit keruk dan kertas HVS, cara pemberian tugas melalui media sesuai dengan tujuan kegiatan perkembangan, pemberian motivasi, dan evaluasi hasil belajar anak. Secara umum anak dapat menunjukkan minat dan pemahaman terhadap materi pembelajaran sosialisasi kepada teman-temannya pada saat kegiatan pembelajaran, dan anak dapat berkomunikasi dengan guru mengenai hal-hal yang belum dipahaminya sehingga terjadi peningkatan hasil pencapaian siklus II yang Nilai akumulasi dari siklus II berdasarkan perolehan prosentase RPPH 1 88%. RPPH II 85%. RPPH i 79%. RPPH IV 83%. RPPH V 88%, dihitung menggunakan rumus : X = Aexi X A 88% A 85% A 79% A 83% A 88% X = 85 % Tabel 2 Data hasil keseluruhan hasil penilaian perkembangan belajar anak pada Siklus I dan II RPPH RPPH I Siklus I Siklus II Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah No RPPH Siklus I Siklus II RPPH II RPPH i RPPH IV RPPH V Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat masing-masing hasil penilaian perkembangan anak disetiap RPPH pada siklus I maupun siklus II. Pada siklus I di RPPH I hasil penilaian perkembangan belajar anak sebesar 64%. RPPH II 69%. RPPH i 70%. RPPH IV 77% dan RPPH V 85 %. Sedangkan di siklus II terdapat hasil penilaian perkembangan belajar anak pada RPPH I sebesar 88%. RPPH II 86%. RPPH i 79%. RPPH IV 83% dan di RPPH V sebesar 88%. Dari hasil penilaian tersebut tampak adanya peningkatan perkembangan belajar anak melalui tindakan menggunting disetiap RPPH. Tabel 3 Data hasil Prosentase Capaian Indikator Perkembangan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Menggunting pada Siklus I dan II Aspek yang diamati Siklus Ketepatan Ketelitian Kecepatan Kerapian Peningkatan Dari tabel diatas dapat dilihat adanya peningkatan capaian indikator perkembangan motorik halus anak melalui kegiatan menggunting dengan prosentase peningkatan disetiap aspek yang diamati. Pada siklus I aspek ketepatan terdapat 9 dari 12 anak yang mencapai ketuntasan, berikutnya aspek ketelitian ada 8 anak yang mencapai ketuntasan, begitu pula pada aspek kecepatan ada 8 anak yang mencapai ketuntasan dan ada 9 anak yang mencapai ketuntasan pada aspek Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah kerapian. Berikutnya pada siklus II pada aspek ketepatan terdapat 10 dari 12 anak yang mencapai ketuntasan, kemudian 9 anak mencapai ketuntasan pada aspek ketelitian begitu pula pada aspek kecepatan ada 9 anak dan terdapat 11 anak yang mencapai ketuntasan pada aspek kerapian. Hasil perhitungan dari siklus I dan siklus II ada peningkatan 11% pada aspek ketepatan, kemudian terjadi peningkatan 10% pada aspek ketelitian, berikutnya peningkatan prosentase 10% berdasarkan aspek kecepatan dan peningkatan 14% berdasarkan aspek kerapian hasil kerja anak. Berikut ini disajikan grafik prosentase keseluruhan dari analisis peningkatan perkembangan motorik halus anak melalui kegiatan menggunting. Gambar 1 Grafik Prosentase Capaian Indikator Peningkatan Perkembangan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Menggunting Pada Siklus I dan II Prosentase Perkembangan Belajar Anak KETEPATAN KETELITIAN KECEPATAN KERAPIAN ASPEK YANG DIAMATI SIKLUS I SIKLUS II Berdasarkan prosentase ketuntasan siklus I dan siklus II menunjukkan peningkatan sebesar 12%, maka hasil perolehan prosentase ketuntasan dapat kita lihat melalui grafik dibawah ini: Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah Gambar 2 Grafik hasil prosentase ketuntasan siklus I dan II. Siklus SIKLUS I SIKLUS II Peningkatan KESIMPULAN Dari hasil perbaikan kegiatan pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan menggunting, terbukti dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, khususnya meningkatkan keterampilan motorik halus anak kelompok B RA. Hidayatun Najah. Pembelajaran yang efektif menggunakan berbagai media, serta penggunaan media yang sesuai dengan tujuan kegiatan pengembangan, memberikan motivasi dan evaluasi terhadap hasil belajar Dengan penggunaan media yang berbeda dari yang diberikan sebelumnya yaitu kertas dan juga dengan pemberian bimbingan khusus kepada anak yang belum mampu mengerjakan kegiatan menggunting, juga memberi semangat tersendiri dan sangat menarik minat anak dalam melakukan kegiatan menggunting, sehingga hasil kemampuan anak mengalami peningkatan yang berarti. Hal ini terlihat dari grafik hasil pencapaian akhir siklus I dan siklus II, telah terjadi peningkatan dalam kemampuan menggunting pada anak sebesar 12% yang semula nilai prosentase ketuntasan sebesar 73% meningkat pada siklus II menjadi 85%. Saran untuk peneliti agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal dalam mencapai tujuan perbaikan pembelajaran hendaknya guru harus mengetahui tingakat kemampuan Hizbul Wathoni dan Anita Khoirun NiAomah anak, guru harus pandai memilih metode pembelajaran dan guru harus membari motivasi agar anak aktif dalam pembelajaran sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam peningkatan kemampuan anak. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih kepada seluruh dewan Guru dan seluruh Komite Pimpinan Madrasah yang ada dilingkungan tersebut, atas pelaksanaan dan bantuan yang telah diberikan selama kegiatan penelitian ini dilakukan. DAFTAR PUSTAKA