PENERIMAAN DIRI PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK TUNAGRAHITA BERAT (SEVERE) Titin1 Ayunda Ramadhani2 Meyritha Trifina Sari2 Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus Samarinda. Indonesia. Dosen Fakultas Psikologi. Universitas 17 Agustus Samarinda. Indonesia. E-mail : titintitin28@ymail. ABSTRAK Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus sedikit sulit untuk menerima keadaan anak yang berbeda dengan anak normal pada umumnya. Orang tua dengan keadan anak AucacatAy merasa sulit untuk menerima keberadaan anak, bahkan setelah bertahun-tahun berada ditengah keluarga, orang tua cenderung menyembunyikan anaknya yang memiliki kekhususan. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerimaan diri orangtua yang memiliki anak tunagrahita tipe berat . Subjek dalam penelitian ini adalah berjumlah 2 orang ibu yang memiliki anak tunagrahita berat . di UPTD SLB Pembina Samarinda. Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Berdasarkan bentuk-bentuk penerimaan ibu secara keseluruhan dua subjek dapat menerima sepenuhnya kondisi anak mereka yang didiagnosa tunagrahita berada pada tahap menerima dan memahami pada anak yang ditandai dengan adanya ibu menerima segala kelebihan dan sekurangan anak, seperti yang ditunjukan ibu dalam menyayangi, memberikan perhatian dan kasih sayang seperti anak normal pada umumnya. Kata Kunci : penerimaan diri, ibu, tunagrahita ABSTRACT Parents with children with special needs are a little difficult to accept the situation of children who are different from normal children in general. Parents with the condition of "disabled" children find it difficult to accept children, even after years of staying in the family, parents who use specificity. The purpose of the study was to find out how self-acceptance of having heavy . type of retarded children. The subjects in this study were to highlight 2 mothers who had severe . children with mental retardation at the UPTD SLB Pembina Samarinda. The data technique used in this study is the interview book and. Based on forms, contents, words, words, key words, children, children, children, children, children, children, children, by way of love, give attention and love to children like normal children in general. Keywords: self acceptance, mother, mental retardation BAB I PENDAHULUAN Indonesia dan di Provinsi Setiap manusia akan menentukan retardasi mental berjumlah 69. 403 anak Latar belakang Kebudayaan menjalin suatu ikatan pernikahan yang selanjutnya akan merencanakan untuk memiliki buah hati, dimana hal tersebut menjadi suatu kelengkapan sebuah Memiliki buah hati dengan tubuh kembang yang sempurna serta miliki fungsi yang baik dan tingkah laku yang sesuai keinginan orang tua. Kalimantan timur sendiri ada 1. 012 anak, yang tercatat pada Dinas Pendidikan kota ada 12 2016/2017 memiliki jumlah sebanyak 610 anak yang telah tercatat. Salah satunya pada sekolah luar biasa negeri UPTD Pembina Samarinda terdapat 2 anak yang memiliki retardasi mental. Mean . ata-rat. skor dalam tes IQ secara teoritis diharapkan 27% dari populasi berada pada dua Harapan setiap orangtua terhadap Standart Deviasi = SD . engan skor IQ= 70lam test intelegensi WISC- ny. atau jauh dibawah rata-rata. Dalam gambaran kurva normal, tampak dipersiapkan sebaik-baiknya, orangtua bahwa satu SD sama dengan 15 terutama ibu yang memiliki impian dan pointskor IQ, berarti 34. 13% dari populasi memiliki skor antara 85-100, dikandungnya, berharap menjadi anak yang baik, pintar, dan membanggakan menunjukkan skor IQ antara 55-70% orang tua. Lahir dengan keadaan sehat 13% menunjukkan skor dibawah jasmani dan rohani tanpa kekurangan populasi menunjukkan skor antara 0-70 Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan . Mangunsong 2. Namun demikian prevalensi anak cacat mental yang ada sebenarnya lebih rendah dari itu, yaitu hanya sekitar 1%. Hal antropologi budaya, disebut sebagai metode kualitatif karena data yang seorang anak cacat mental bukan hanya terkumbil dan analisisnya lebih akurat. dari sekor IQ melainkan juga tingkah (Sugiyono, 2. laku adaptifnya. Selain itu, ditemukan bahwa orang tua dan petugas sekolah cenderung memasukan anak-anak yang . angat Sampel Sumber Data Pengambilan penelitian ini menggunakan teknik mendekati batas mental retardas. pada pada golongan kesulitan belajar, karena pengambilan sampel didasarkan pada lebel tersebut dianggap lebih baik kriteria tertentu yang dibuat oleh . Mangunsong 2. Tujuan penelitan ditetapkan peneliti ialah: Tujuan memiliki anak tunagrahita tipe berat Kriteria Orangtua kandung terdiri dari ibu dan ayah yang Anak pada subjek kelompok . METODE PENELITIAN . Rancangan Penelitian rata-rata Pendekatan dalam penelitian ini kualitatif sering juga disebut penelitian dilakukan pada kondisi yang alamiah . atural settin. , disebut juga sebagai awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang Latar menengah kebawah Subjek bertempat tinggal di Samarinda dan bersekolah pada sekolah luar biasa (SLB) Pembina Samarinda, hal ini agar peneliti mudah untuk berkoordinasi Teknik Pengumpulan Data Tehnik Hasil penelitian AuPenerimaan memiliki anak Tunagrahita di UPTD SLB Pembina SamarindaAy. Secara menggunakan cara tanya jawab, bisa khusus data diperoleh dari subjek sambil bertatap muka maupun tanpa dengan kriteria yang telah ditetapkan tatap muka yaitu melalui media peneliti yaitu ibu yang memiliki anak telekomunikasi antara pewawancara tunagrahita, tinggal bersama dengan dengan orang yang diwawancarai, gangguan dalam berkomunikasi, dan Pada Wawancara kegiatan untuk memperoleh informasi Pengambilan dalam penelitian ini menggunakan tehnik studi kasus dimana merupakan penelitian mengenai manusia . apat suatu kelompok organisasi maupun mendalam, tujuan dari penelitian ini mendalam tentang suatu kasus yang Penelitian mengambil subjek 2 orang yaitu ibu dari TS dan Ibu RG. Teknik Analisa Data bersedia untuk berpartisipasi dalam secara mendalam tentang isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. tunagrahita, peneliti juga melakukan tes terhadap kedua anak tersebut untuk lebih memastikan. Informan dari kedua subjek tersebut yaitu ayah dari TS dan ayah dari RG. Penelitian dilakukan dalam beberapa bulan dengan 4 kali wawancara dengan setiap subjek dan 1 kali wawancara bersama informan. sedang diteiti. Pengumpulan data dapat Berdasarkan dari hasil observasi diperoleh dari wawancara, observasi, dari kedua subjek yang dilakukan pada dan dokumentasi. bulan April 2017 sampai september 2018, kedua subjek menunjukkan sifat dengan melalui beberapa terapi dan yang hampir mirip satu dengan lainnya. diagnosa dari beberapa dokter yang Kedua memperkuat bahwa benar anaknya anak-anaknya yaitu salah satu subjek memilih untuk menunggu anak di luar kelas dan bercerita bersama para ibu murid lainnya dan subjek lainnya memilih untuk mengawasi anaknya dari luar kelas atau sesekali masuk kelas untuk menggontrol anaknya. Pada peneliti lakukan terhadap kedua subjek yang merupakan ibu yang memiliki anak dengan klasifikasi Tunagrahita. Peneliti melihat aspek penerimaan diri yang bermacam-macam pada setiap subjek dan sebagian besar subjek Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti sebanyak 4 kali yang berkebutuhan khusus yaitu tunagrahita dilakukan dari bulan April 2017 hingga pada saat ini. Hal ini ditandai ibu sepetember 2018, dari masing-masing mampu menerima kekurangan dan subjek, keduanya memiliki kesamaan kemampuannya, dan puas akan hasil Namun ada beberapa aspek salah satu subjek mampu melewati fase yang menolak apa yang terjadi pada anak, menyalahkan dirinya sendiri dan tunagrahita secara baik dan mampu orang lain, tetapi subjek tetap berusaha mengalahkan perasaan yang merugikan untuk berdamai dengan dirinya sendiri diri sendiri dan mampu membuat diri dan berusaha untuk menerima kondisi keadaan anak dan mulai menerima anak dengan kondiri tersebut, tetapi ada pula subjek yang mampu menerima keadaan anaknya namun perasaan sedih dan tidak menerima keadaan anak Handayani mempersiapkan penerimaan terhadap yang didiagnosa . alam Faradina, 2. berpendapat bahwa penerimaan diri adalah sejauh mana mengakui karakteristik pribadi dan Sikap khususAy yang melibatkan 3 . penerimaan diri ditunjukkan oleh sikap mereka menunjukkan perilaku dan cara memperlakukan anak dengan cara yang berbeda-beda. Dua dari tiga kelemahan-kelemahannya subjek memiliki kedekatan yang sangat tanpa menyalahkan orang lain dan baik dengan anaknya, namun satu subjek tidak memiliki kedekatan yang kelebihan-kelebihannya mengembangkan diri. Menurut baik pada anaknya. Selain itu, dua Kubbler Ross . alam Ramanda, 2. , ibu dapat berada dalam satu tahap untuk waktu yang dibandingkan dengan ibu lain, oleh karena itu mereka tidak memberi patokan waktu dalam tiap tahapanya. Selain itu perlu diingat bahwa dalam melewati proses penerimaan setiap ibu keunikan-keunikan dengan kepribadian mereka, ada ibu yang tidak mengalami reaksi tertentu, dan langsung melompat pada reaksi subjek tersebut turun tangan langsung dalam merawat anak subjek seperti membantu aktivitas yang dilakukan Berdasarkan wawancara dua dari tiga orang subjek penelitian mampu menerima kondisi penanganan dan perlakuan pada anak berkebutuhan khusus dapat dijalani dan Namun, menerima dirinya yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Kajian-kajian Pada subjek pertama yaitu adalah penelitian yang dilakukan oleh Faradina . Samarinda Universitas Mulawarman Program S1 Psikologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, mengenai AuPenerimaan diri pada ibu AA memiliki perasaan sederajat yang baik dengan menunjukkan penerimaan diri yang baik. Subjek menerima kondisi anak subjek dengan melalui fase penerimaan secara baik. Subjek dengan membawa anak ke psikolog namun masih merasakan sedih ketika untuk didiagnosa, kemudian melalui melihat keadaan anak saat ini. beberapa perasaan yang ada dalam diri seperti perasaan bersalah yang ada seperti menyalahkan diri atas keadaan anak pada saat ini, merasa memiliki sekarang, namun perasaan itu mampu dilewati karena dukungan dari suami dan keyakinan diri yang menganggap anak yang dia miliki adalah sebuah karunia yang diberikan sang pencipta kepada dirinya setelah sekian lama tidak memiliki keturunan. Kajian-kajian penelitian dilakukan oleh Ramanda . Jakarta UIN Syarif Hidayatullah Psikologi. Fakultas AuDinamika tunagrahitaAy yang melibatkan 3 . Reaksi emosional ibu yang berbeda, setiap ibu memiliki kekhasan masing-masing, reaksi umum yang terjadi adalah kaget . , sedih, mempercayai kenyataan yang terjadi Pada subjek kedua yaitu BB pada anaknya, sehingga menimbulkan penerimaan diri dalam diri sedikit sulit, perasaan marah pada diri sendiri. ini dibuktikan dari hasil beberapa kali Bukan hal yang mudah untuk dapat menerima kondisi anak yang pada awal beberapa kali pemeriksaan terhadap kehamilan diharapkan menjadi anak yang tumbuh normal, kenyataan yang disekolah, ke dokter THT bahkan ada tidak sesuai dengan harapan, sempat dibawa terapi, kemudian anak karena harapan fisik yang sempurna dari subjek sempat tidak disekolahkan Hingga subjek memberi keterangan bahwa subjek menerima keadaan sang anak dibandingkan dengan anak-anak lain pada umumnya. KESIMPULAN Dengan adanya dorongan dari pasangan dan keluarga membuat ibu lebih cepat menerima keadaan anak dengan berkebutuhan khusus, hal itu perkembangan anak berkebutuhan khusus agar berkembang lebih baik, dan optimal dengan harapan bisa diterima oleh orang tua, keluarga dan yang tidak sebentar. Diharapkan penerimaan orang tua terhadap anak menerima dan memahami kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri anak seperti anak normal pada Setelah orang tua dapat menerima keadaan anaknya, maka orang tua juga tetap mempunyai serta membina anak tunagrahita. anak, dimana anak yang seharusnya bisa mendapat penanganan tetapi perkembangan anak berkebutuhan khusus yang lebih maksimal. Karena dengan penerimaan diri, ibu bisa menerima banyak informasi tetang Sehingga anak bisa mendapat penanganan yang lebih Ibu seminar-seminar tentang anak anak berkebutuhan khusus. SARAN