Volume 5 Nomor 1 . Juni GENITRI: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN ISSN: 2964-7010 Cegah Stunting dari Rumah: Edukasi Nutrisi Balita Untuk Meningkatkan Peran Ibu dalam Pemenuhan Gizi Anak Ade Elvina. Lety Arlenti. Resya Aprillia. Rismayani. Sari Widyaningsih Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti. Bengkulu Jl. Mahakam Raya No. 16 Lingkar Barat. Jl. Gedang. Kec. Gading Cemp. Kota Bengkulu Corresponding author: Ade Elvina Email: adeelvina55@gmail. ABSTRAK Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian serius di Indonesia karena berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam waktu lama, terutama pada 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini tidak hanya menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif, penurunan daya tahan tubuh, serta menurunkan produktivitas anak di masa depan. Tujuan dari pengabdian masyarakat yang dilakukan tim di Desa Bukit Peninjauan I yaitu memberikan edukasi nutrisi balita untuk meningkatkan peran ibu dalam pemenuhan gizi anak. Peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 20 orang ibu yang memiliki balita . Hasil yang didapatkan yaitu pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pengetahuan dan sikap ibu. Kegiatan ini berjalan dengan baik sesuai dengan rancangan yang telah di susun. Selama kegiatan pengabdian masyarakat ini berlangsung peserta sangat antusias dan peserta mengaku pengabdian masyarakat yang mengangkat tema yang berkaitan dengan kesehatan balita karena dari kegiatan inilah mereka dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait kesehatan anak yang sangat penting untuk orang tua ketahui. Kata Kunci: Stunting. Balita. Pengetahuan. Sikap ABSTRACT Stunting remains a public health issue that receives serious attention in Indonesia because it impacts the quality of human resources in the future. Stunting is a condition of growth failure in toddlers due to chronic malnutrition that occurs over a long period, especially during the First 1,000 Days of Life (HPK). This condition not only causes physical growth disorders, but also impacts cognitive development, decreased immunity, and reduces children's productivity in the future. The purpose of the community service carried out by the team in Bukit Peninjauan I Village is to provide nutrition education for toddlers to increase the role of mothers in fulfilling children's nutrition. Participants who took part in this activity were 20 mothers who had toddlers. The results obtained, namely the pre-test and post-test, showed a significant increase in mothers' knowledge and attitudes. This activity went well according to the plan that had been prepared. During this community service activity, participants were very enthusiastic and participants admitted that the community service that raised the theme related to toddler health because from this activity they were able to increase their knowledge and insight regarding child health which is very important for parents to know. Keyword: Stunting. Toddlers. Knowledge. Attitude Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/index PENDAHULUAN Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian serius di Indonesia karena berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam waktu lama, terutama pada periode 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) (Wijhati et al. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif, penurunan daya tahan tubuh, serta menurunkan produktivitas anak di masa depan (Handriyanti and Fitriani 2. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui pendekatan promotif dan preventif yang melibatkan keluarga serta masyarakat (Ulfatul Latifah. Ratih Sakti Prastiwi 2. Permasalahan stunting di Indonesia hingga saat ini masih menjadi tantangan nasional, termasuk di Provinsi Bengkulu dan Kabupaten Seluma. Pemerintah Kabupaten Seluma terus melakukan berbagai upaya percepatan penurunan stunting melalui pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), pendampingan keluarga berisiko stunting, serta edukasi kesehatan kepada masyarakat. Berdasarkan data yang dipublikasikan pemerintah daerah, kasus stunting di Kabupaten Seluma mengalami peningkatan dari 21,1% pada tahun 2022 menjadi 24,4% pada tahun 2023. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah stunting masih memerlukan perhatian dan intervensi yang lebih optimal, terutama pada wilayah dengan angka kasus tinggi. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan stunting di Kabupaten Seluma adalah Desa Bukit Peninjauan Kecamatan Sukaraja. Berdasarkan laporan pemerintah daerah. Kecamatan Sukaraja termasuk wilayah penyumbang angka stunting tertinggi di Kabupaten Seluma, dengan Desa Bukit Peninjauan I menjadi salah satu desa yang mengalami peningkatan kasus stunting. Data yang diperoleh pada bulan Desember 2025 menunjukkan bahwa jumlah kasus stunting pada balita mengalami tren peningkatan, yaitu sebanyak 13 kasus pada September 2025, meningkat menjadi 14 kasus pada Oktober 2025, dan kembali meningkat menjadi 17 kasus pada November 2025. Tingginya kasus stunting di wilayah tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kurang optimalnya pola asuh, rendahnya pemahaman keluarga tentang pemenuhan gizi balita, serta keterbatasan pengetahuan ibu mengenai pemberian makanan bergizi seimbang bagi anak. Selain itu, kondisi sosial masyarakat juga dapat memengaruhi status kesehatan dan gizi balita. Data demografi Desa Bukit Peninjauan I menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki tingkat pendidikan dasar dan menengah, sedangkan jumlah masyarakat dengan pendidikan tinggi masih relatif sedikit. Kondisi ini dapat memengaruhi tingkat pemahaman keluarga terhadap pentingnya pemenuhan gizi, pola pemberian makan anak, serta pemanfaatan layanan Rendahnya literasi kesehatan pada keluarga berisiko dapat menyebabkan kurang optimalnya upaya pencegahan stunting di tingkat rumah tangga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kejadian stunting dipengaruhi oleh faktor multidimensional, seperti asupan gizi yang tidak adekuat, pola asuh yang kurang tepat, kondisi sosial ekonomi keluarga, rendahnya pengetahuan ibu, serta kurang optimalnya pemantauan tumbuh kembang anak (Hidayat 2. Pencegahan stunting tidak dapat dilakukan hanya melalui intervensi medis, tetapi juga membutuhkan edukasi yang berkelanjutan kepada ibu sebagai pengasuh utama anak. Ibu memiliki peran penting dalam pemilihan bahan makanan, pengolahan makanan, pemberian makan anak, serta pemantauan status gizi balita di rumah (Sari et al. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul AuCegah Stunting dari Rumah: Edukasi Nutrisi Balita untuk Meningkatkan Peran Ibu dalam Pemenuhan Gizi AnakAy dilaksanakan sebagai salah satu upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan pengetahuan serta kesadaran ibu mengenai pentingnya nutrisi balita. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman ibu tentang kebutuhan gizi anak, pemberian makanan bergizi seimbang, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan balita secara rutin sehingga mampu mendukung upaya percepatan penurunan stunting di Desa Bukit Peninjauan I Kabupaten Seluma. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm METODE Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di Desa Bukit Peninjauan I Kecamatan Sukaraja. Kabupaten Seluma. Provinsi Bengkulu dengan diikuti oleh 20 orang ibu yang memiliki balita. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan tanggal 26 Januari 2026 dengan rangkaian kegiatan yaitu: Tim pengabdian melakukan pre test sebelum memberikan intervensi dan di akhir kegiatan melakukan post test dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur pengetahuan dan sikap ibu yang memiliki balita. Tim memberikan edukasi tentang nutrisi balita dalam pencegahan stunting sebagai peningkatan peran ibu dalam pemenuhan gizi anak. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu dalam pemenuhan gizi balita sebagai upaya pencegahan stunting dari rumah melalui edukasi nutrisi balita. Kegiatan dilakukan dengan metode pre-test dan posttest Hasil pengukuran menunjukkan bahwa terjadi peningkatan baik pada aspek pengetahuan maupun sikap ibu setelah diberikan intervensi Gambar 1. Hasil Pre-Test Dan Post-Test Pengetahuan Ibu Yang Memiliki Balita Pada variabel pengetahuan, nilai ratarata pre-test sebesar 50, yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu masih berada pada kategori cukup. Setelah diberikan edukasi nutrisi balita, nilai rata-rata pengetahuan meningkat menjadi 80, yang menunjukkan adanya peningkatan ke kategori Sebelum intervensi, masih banyak ibu yang belum memahami secara optimal terkait prinsip gizi seimbang, variasi makanan, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan anak. Hal ini terlihat dari masih banyaknya kesalahan pada beberapa item pertanyaan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh keterbatasan akses informasi, kurangnya paparan edukasi kesehatan, serta kebiasaan yang telah terbentuk dalam pola pemberian makan anak di rumah. Setelah diberikan edukasi, terjadi peningkatan pemahaman yang cukup Hal ini menunjukkan bahwa metode edukasi yang digunakan mampu menyampaikan informasi secara efektif dan mudah dipahami oleh ibu. Edukasi yang dilakukan secara langsung memungkinkan adanya interaksi, diskusi, serta klarifikasi terhadap informasi yang belum dipahami Selain itu edukasi nutrisi balita yang diberikan berperan dalam meningkatkan pengetahuan ibu melalui proses penyampaian informasi yang terstruktur, jelas, dan sesuai dengan kebutuhan sasaran (Fetty Chandra Wulandari 2. Materi edukasi yang mencakup prinsip gizi seimbang, variasi menu, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan anak membantu ibu memperoleh pemahaman baru sekaligus memperbaiki pemahaman yang sebelumnya kurang tepat (Ahmed et al. Selain itu, berdiskusi, dan mengklarifikasi informasi, sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih mudah dipahami dan diingat. Proses ini tidak hanya menambah informasi, tetapi juga menyeluruh (Evin Noviana Sari. Siti Khotimah. Sri Andar Puji Astuti 2. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Meningkatnya diharapkan terjadi perubahan dalam cara pandang dan pengambilan keputusan terkait pemenuhan gizi anak. Ibu yang memiliki pengetahuan yang baik cenderung lebih mampu memilih jenis makanan yang bergizi. Peningkatan memberikan dampak jangka panjang yaitu terbentuknya perilaku pemberian makan yang lebih baik dan konsisten di rumah. Hal ini kebutuhan gizi anak secara optimal, sehingga perkembangan yang sesuai dengan usia. Pada akhirnya, peningkatan pengetahuan ibu diharapkan dapat berkontribusi dalam menurunkan risiko terjadinya stunting, karena praktik pemenuhan gizi yang tepat merupakan salah satu faktor kunci dalam pencegahan stunting sejak dini (Majidah and Paramashanti Peningkatan pengetahuan yang terjadi setelah pemberian edukasi tidak hanya berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga berpengaruh terhadap pembentukan sikap ibu. Pengetahuan yang baik merupakan dasar dalam membentuk sikap yang positif, karena individu yang memahami suatu informasi dengan benar cenderung memiliki persepsi dan penilaian yang lebih baik terhadap pentingnya suatu tindakan. Dalam konteks ini, ibu yang telah memahami prinsip gizi seimbang, variasi makanan, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan anak akan lebih pemenuhan gizi balita di rumah (Naulia and Saudi 2. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata sikap ibu dari 30 menjadi 50 setelah Peningkatan menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan sikap ke arah yang lebih positif. Ibu menjadi lebih setuju dan mendukung praktik pemberian makanan bergizi, lebih siap dalam menyediakan menu yang seimbang, serta lebih memiliki kesadaran untuk memantau pertumbuhan anak secara rutin. Hal ini dibuktikan dari hasil pre-test dan post-test sebagai berikut: memperhatikan frekuensi dan variasi pemberian makan pada balita. Selain itu, ibu juga diharapkan lebih sadar akan pentingnya pemantauan pertumbuhan anak secara rutin sebagai upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan (Prijono. Andarwulan, and Palupi 2. Gambar 2. Hasil Pre-Test Dan Post-Test Sikap Ibu Yang Memiliki Balita Hasil pengukuran sikap ibu terhadap pemenuhan gizi balita sebagai upaya pencegahan stunting menunjukkan adanya peningkatan setelah diberikan edukasi nutrisi. Nilai rata-rata sikap pada saat pre-test sebesar 30, yang menunjukkan bahwa sikap ibu masih berada pada kategori negatif mendukung terhadap praktik pemenuhan gizi balita di Setelah diberikan intervensi berupa edukasi nutrisi balita, nilai rata-rata sikap meningkat menjadi 50, yang termasuk dalam Peningkatan menunjukkan adanya perubahan sikap ibu ke arah yang lebih baik dalam mendukung pemenuhan gizi anak sebagai upaya pencegahan stunting dari rumah. Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Sikap yang kurang mendukung sebelum intervensi dapat disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan, kebiasaan yang telah terbentuk, serta persepsi bahwa pemenuhan gizi seimbang memerlukan biaya tinggi atau sulit dilakukan. Selain itu, kurangnya pemahaman tentang pentingnya variasi makanan, pemberian protein hewani, dan pemantauan dapat memengaruhi sikap ibu dalam praktik sehari-hari (Al-shukaily 2. Setelah diberikan edukasi, terjadi perubahan sikap yang signifikan ke arah yang lebih Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan mampu memengaruhi cara pandang ibu terhadap pentingnya pemenuhan gizi balita. Ibu menjadi lebih menyadari Secara teoritis, sikap merupakan faktor predisposisi yang berperan penting dalam pembentukan perilaku kesehatan. Sikap yang positif akan mendorong individu untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Dengan demikian, peningkatan sikap ibu yang terjadi setelah edukasi merupakan indikator penting yang menunjukkan potensi perubahan perilaku dalam pemenuhan gizi balita di rumah. Edukasi nutrisi balita tidak hanya efektif dalam meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mampu membentuk sikap ibu yang lebih positif dalam mendukung pemenuhan gizi Perubahan sikap ini diharapkan dapat berlanjut pada perubahan perilaku nyata, pencegahan stunting secara berkelanjutan di tingkat keluarga (Majidah and Paramashanti Peningkatan pengetahuan ibu setelah edukasi dalam kegiatan ini terbukti diikuti dengan peningkatan sikap yang lebih positif. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan pada aspek kognitif berkontribusi terhadap perubahan pada aspek afektif. Ibu yang sebelumnya memiliki persepsi yang kurang tepat terkait pemenuhan gizi balita, seperti anggapan bahwa makanan bergizi harus mahal atau sulit dipenuhi, mengalami perubahan cara pandang setelah mendapatkan edukasi yang aplikatif dan kontekstual. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Majidah and Paramashanti . yang memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan . =0,. dan sikap ibu . =0,. dalam pemenuhan nutrisi balita bahwa pemenuhan gizi tidak selalu harus memanfaatkan bahan makanan lokal, serta merupakan tanggung jawab penting dalam mendukung pertumbuhan anak (Astriana Fransiska Butarbutar 2. Peningkatan menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan kesiapan ibu dalam menerapkan praktik pemberian makan yang lebih baik. Ibu menjadi lebih setuju terhadap pentingnya memberikan makanan bergizi seimbang, lebih termotivasi untuk menyediakan variasi makanan, serta lebih peduli terhadap pemantauan pertumbuhan anak sebagai indikator kecukupan gizi (Huljannah. Rochmah, and Garuda 2. Penelitian tersebut menegaskan bahwa intervensi edukasi merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan kapasitas ibu dalam pemenuhan gizi anak. Selain itu, penelitian oleh Hidayat . juga menunjukkan bahwa pendidikan gizi ibu berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktik pemberian makan bayi dan balita . Hal ini menguatkan bahwa edukasi tidak hanya berdampak pada pemahaman, tetapi juga pada kesiapan ibu pemberian makan yang tepat. Penelitian sebelumnya oleh Al-shukaily . juga menunjukkan bahwa pendidikan gizi dengan meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu secara signifikan dalam pemenuhan konsumsi pangan balita . Hal ini menunjukkan bahwa metode edukasi yang digunakan berperan penting dalam keberhasilan intervensi. Lebih lanjut, hasil penelitian oleh Astriana Fransiska Butarbutar . menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan status gizi balita, yang menegaskan bahwa kedua variabel tersebut merupakan faktor penting dalam menentukan kondisi gizi anak . Dengan demikian, peningkatan pengetahuan dan sikap ibu dalam kegiatan ini berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap perbaikan status gizi balita. Dalam konteks perilaku kesehatan, peningkatan pengetahuan dan sikap merupakan tahapan awal dalam perubahan perilaku. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh niat yang terbentuk dari sikap dan keyakinan yang dimiliki. Oleh karena itu, perubahan sikap yang terjadi Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm dalam kegiatan ini merupakan indikator penting menuju perubahan perilaku ibu dalam praktik pemenuhan gizi balita. Meskipun pengetahuan dan sikap tidak selalu secara langsung diikuti oleh perubahan perilaku. Faktor lain seperti kondisi sosial ekonomi, dukungan keluarga, serta akses terhadap implementasi praktik pemberian makan pada Oleh karena itu, diperlukan upaya monitoring agar perubahan yang telah terjadi dapat berkelanjutan. DOKUMENTASI KEGIATAN Gambar 3. Foto Bersama Tim Pengabdian Bersama Responden Pengabmas Di Desa Bukit Peninjauan I Gambar 4. Pembagian Kuesioner Pre-Test Dan Post-Test Kepada Responden Copyright @2026 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm Gambar 5. Pemberian Edukasi Nutrisi Balita Kepada Responden SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian masyarakat mengenai edukasi nutrisi balita untuk meningkatkan peran ibu dalam pemenuhan gizi anakterbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Terjadi peningkatan pengetahuan ibu setelah intervensi, yang menunjukkan bahwa edukasi mampu meningkatkan pemahaman ibu terkait prinsip gizi seimbang, variasi makanan, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan anak. Selain itu, terjadi peningkatan sikap ibu dari kategori kurang mendukung menjadi lebih Hal ini menunjukkan bahwa edukasi tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga mampu membentuk sikap ibu yang lebih mendukung praktik pemenuhan gizi Peningkatan pengetahuan dan sikap ini menjadi dasar penting dalam mendorong perubahan perilaku ibu dalam praktik pemberian makan anak di rumah. Dengan demikian, edukasi nutrisi balita dapat menjadi salah satu strategi yang efektif dalam upaya pencegahan stunting berbasis keluarga. Diharapkan menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam praktik pemenuhan gizi anak sehari-hari, sementara tenaga kesehatan dan puskesmas perlu meningkatkan edukasi nutrisi secara berkelanjutan melalui kegiatan seperti posyandu dan kelas ibu balita dengan metode yang interaktif. Selain itu, kader kesehatan diharapkan berperan aktif dalam melakukan pendampingan dan monitoring di masyarakat, serta peneliti selanjutnya disarankan untuk mengkaji hingga tahap perilaku dengan desain penelitian yang lebih komprehensif agar efektivitas intervensi dapat diketahui secara lebih mendalam. UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih disampaikan kepada LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti Pengabdian Masyarakat. Dan terima kasih kepada Camat Sukaraja dan Kepala Desa Bukti Peninjauan I yang sudah memberi izin sehingga kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat dilaksanakan. DAFTAR PUSTAKA