PERUBAHAN BUNYI PADA BAHASA NIAS Salman Fauzan Siahaan Universitas Sumatera Utara. Medan Salmanfauzan079@students. Prayogo Universitas Sumatera Utara. Medan prayogo@usu. ABSTRACT The Nias language has unique phonological characteristics, including open vowel patterns . lmost all words end in vowel. and a rich grammatical system, such as the use of prefixes and suffixes to form words, this underlies the author's interest in studying the Nias language through comparative historical linguistics theory. This study aims to reveal what changes are found in the Nias language. This study uses a qualitative approach with recording and transcription techniques and then filters the data obtained. Informants who speak the Nias language are sources of Nias language data that meet the requirements of informants according to Comparative Historical Linguistics. The swadesh list contains vocabulary taken from speaker recordings. The results of this study found only four sound changes in the Nias language. There are four changes that occur in the sound position of the Proto Austronesian language into the Nias language, namely apheresis, syncope, apocope, and paragoge with apocope as the most changes found in this study. Keywords: Comparative Historical Linguistics. Sound Changes. Nias Language. ABSTRAK Bahasa Nias memiliki ciri khas fonologi yang unik, termasuk pola vokal terbuka . ampir semua kata berakhir dengan voka. dan sistem tata bahasa yang kaya, seperti penggunaan prefiks dan sufiks untuk membentuk kata, hal tersebut mendasari penulis tertarik unntuk meneliti bahasa nias melalui teori linguistik historis komparatif. Penelitian ini Bertujuan untuk mengungkapkan perubahan apa saja yang terdapat pada bahasa nias adapun Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik rekam dan transkrip lalu menyaring data yang di dapatkan. Informan yang berbicara bahasa Nias adalah sumber data bahasa Nias yang sesuai dengan syarat informan menurut Linguistik Historis Komparatif. Daftar swadesh mengandung kosakata yang diambil dari rekaman penutur. adapun hasil dari penelitian ini di temukan hanya empat perubahan bunyi pada Bahasa Nias terdapat empat perubahan yang terjadi pada posisi bunyi bahasa proto-Austronesia ke dalam bahasa Nias yaitu aferesis, sinkop, apokop, dan paragog dengan apokop sebagai perubahan terbanyak yang di temukan dalam penelitian ini. Kata Kunci: Linguistik Historis Komparatif. Perubahan Bunyi. Bahasa Nias. PENDAHULUAN Menurut Keraf . , bahasa Proto . adalah bahasa tua yang menurunkan banyak bahasa yang sekerabat, dan bahasa Proto-Austronesia adalah bahasa purba dari bahasa Indonesia. Nama bahasa Proto Austronesia mengacu pada kelompok bahasa yang tinggal di daratan Asia timur laut. Selanjutnya, bahasa Proto Austronesia (PAN) ditulis. Subrumpun Austronesia Barat terdiri dari bahasa Indonesia atau bahasa Melayu, dan subrumpun Austronesia Timur terdiri dari bahasa Oseania atau bahasa Polinesia. Menurut Keraf . , bahasa Malagasi. Formosa. Filipina. Minahasa. Aceh. Gayo. Batak. Melayu. Jawa. Madura. Sunda. Nias, dan Minangkabau termasuk dalam kelompok bahasa Indonesia Barat. Kelompok bahasa Indonesia Timur terdiri dari bahasa Timor-Ambon. Sula-Bacan. Halmahera Selatan, dan Irian Barat Didasarkan pada pembagian sub rumpun Ausrtronesia ini, dapat disimpulkan bahwa bahasa purba yang sama yang digunakan untuk munculnya berbagai bahasa di Indonesia adalah induknya. Namun, kesamaan antara bahasa sub rumpun dan bahasa proto sendiri berubah dan berkembang selama prosesnya karena banyak variabel. Pada dasarnya, perubahan bahasa adalah fenomena universal. Perubahan bahasa sebagai fenomena yang umum dapat dilihat dari perubahan bunyi pada tataran fonologi, yang sangat penting untuk studi linguistik historis komparatif. Menurut Keraf . , linguistik bandingan sejarah, juga dikenal sebagai linguistik komparatif sejarah, adalah bidang ilmu bahasa yang mempelajari bagaimana bahasa berubah seiring berjalannya waktu dan bagaimana unsur-unsurnya berubah seiring berjalannya waktu. Perubahan bunyi menunjukkan perubahan bahasa yang Dengan kata lain, perubahan ini jelas terlihat di tataran fonologis, yang merupakan tataran kebahasaan yang paling dasar dan penting untuk mempelajari bidang linguistik Linguistik historis komparatif merupakan salah satu cabang linguistik yang mempelajari perubahan bahasa melalui perbandingan bentuk-bentuk bahasa dari berbagai masa atau dari berbagai bahasa dalam satu keluarga bahasa. Fenomena seperti afaresis, sinkop, apokope, dan paragog merupakan bagian dari proses fonologis yang sering terjadi dalam perkembangan Bahasa khususnya perubahan bunyi. Afaresis Afaresis adalah penghilangan bunyi atau suku kata pada awal kata. Fenomena ini sering terjadi dalam evolusi bahasa karena alasan ekonomi dalam pengucapan. Hockett . dalam A Course in Modern Linguistics menyatakan bahwa afaresis sering terjadi dalam bahasa lisan sebagai bentuk simplifikasi fonologis. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh faktor sosial dan kebiasaan pengucapan. Crowley . dalam An Introduction to Historical Linguistics menyebutkan bahwa afaresis sering ditemukan dalam dialek atau bahasa yang cenderung mengurangi bunyi yang tidak memiliki tekanan . Contoh dalam Bahasa nias kata */kutu/ Ie /utu/ AukutuAy. Sinkop Sinkop adalah penghilangan bunyi atau suku kata di tengah kata. Fenomena ini biasanya terjadi untuk mempercepat pengucapan. Bloomfield . dalam Language menjelaskan bahwa sinkop sering muncul dalam bahasa ketika suku kata tengah dianggap tidak penting atau terlalu sulit diucapkan. Campbell . dalam Historical Linguistics: An Introduction mencatat bahwa sinkop sering terjadi dalam proses morfologis dan fonologis, terutama dalam bahasa dengan struktur suku kata kompleks. Contoh dalam Bahasa nias kata */abu/ Ie /awu/ AuabuAy. Apokope Apokope adalah penghilangan bunyi atau suku kata di akhir kata. Fenomena ini sering muncul dalam bahasa yang mengalami perubahan ritme atau tekanan. Trask . dalam Historical Linguistics menyebutkan bahwa apokope biasanya muncul dalam bahasa dengan kecenderungan mengurangi akhir kata untuk menyesuaikan struktur metrik. Lass . dalam Phonology: An Introduction to Basic Concepts menambahkan bahwa apokope sering terjadi pada bunyi vokal akhir yang tidak memiliki tekanan. Contoh dalam Bahasa nias kata "angin" berubah menjadi "angi". Paragog Paragog adalah penambahan bunyi atau suku kata di akhir kata. Fenomena ini biasanya terjadi untuk memenuhi kebutuhan ritme atau morfologi bahasa. Anttila . dalam Historical and Comparative Linguistics menjelaskan bahwa paragog sering terjadi dalam bahasa untuk memperjelas struktur kata, terutama dalam konteks prosodi. Hopper and Traugott . dalam Grammaticalization mencatat bahwa paragog dapat muncul dalam proses gramatikalisasi untuk menandai perbedaan makna atau fungsi gramatikal. Contoh dalam Bahasa nias */ular/ Ie / uly / AuulyAy. Linguistik historis komparatif berperan penting dalam memahami perkembangan bahasa-bahasa Nusantara, termasuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Nias, dari ProtoAustronesia (PAN). Fenomena afaresis, sinkop, apokope, dan paragog merupakan bagian dari proses fonologis yang umum terjadi dalam transformasi PAN ke bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia. Penulis mencoba melihat bagaimana bunyi berubah dari bahasa proto (Austronesi. ke bahasa daerah melalui studi linguistik historis komparatif ini. Penulis memilih untuk menganalisis jenis perubahan bunyi dalam bahasa Nias pada kesempatan ini karena Bahasa Nias (Li Nih. memiliki sejumlah keunikan yang telah menarik perhatian para linguis dan peneliti Bahasa. Bahasa Nias terkenal karena pola fonologinya yang unik, di mana hampir semua kata berakhir dengan vokal. Fenomena ini sangat jarang ditemukan di bahasa Austronesia lainnya. Yoder . mencatat bahwa pola ini mungkin berkaitan dengan sejarah evolusi bahasa di pulau yang relative terisolasi. Bahasa Nias memiliki sistem morfologi yang kaya dengan penggunaan prefiks, infiks, dan sufiks untuk membentuk kata. Menurut Brown . , sistem afiksasi ini menunjukkan kesamaan dengan beberapa bahasa Austronesia, tetapi dengan inovasi lokal yang unik. Struktur sintaksis bahasa Nias berbeda dari bahasa Austronesia lainnya. Hymmerle . menjelaskan bahwa bahasa Nias cenderung memanfaatkan urutan kata yang fleksibel dengan fokus pada pemarkahan subjek melalui afiks tertentu, yang memberikan informasi tentang peran semantik. Bahasa Nias adalah salah satu bahasa Austronesia yang dianggap tonal. Tone atau nada digunakan untuk membedakan makna kata. Donohue . menegaskan bahwa ini adalah fitur yang cukup langka di antara bahasa Austronesia, menandakan pengaruh perkembangan unik lokal. Bahasa Nias memiliki tiga dialek utama (Nias Utara. Tengah, dan Selata. , yang menunjukkan perbedaan leksikal dan fonologis, tetapi masih saling dimengerti. Dialek-dialek ini memberikan wawasan tentang perbedaan budaya dan sejarah antar wilayah di Pulau Nias (Zorc, 1. Bahasa Nias adalah bahasa yang dituturkan oleh orang-orang Nias. Ini adalah bagian dari rumpun bahasa Sumatera Barat LautAikepulauan Penghalang, dan berhubungan dengan bahasa Batak dan Mentawai. Pada tahun 2000, ada sekitar 770. 000 penutur. Bahasa Nias memiliki tiga dialek. Orang-orang dari dialek utara berbicara di Gunungsitoli. Alasa, dan Lahewa, orang-orang dari dialek selatan berbicara di Nias Selatan, dan orang-orang dari dialek tengah berbicara di Nias Barat, terutama di Sirombu dan Mandrehe. Karena informan berasal dari daerah gunung sitoli, penelitian akan membahas dialek utara bahasa nias. Masyarakat Nias, baik di pulau maupun di perantauan, berbicara bahasa Nias atau Li Niha. Bahasa Nias adalah satu-satunya bahasa di dunia yang setiap katanya diakhiri dengan huruf vokal. huruf-huruf tersebut adalah a, e, i, u, o, dan , yang dibaca dengan "e" seperti ketika seseorang mengatakan "enam". Bahasa Nias Utara dan bahasa Nias Selatan adalah dua bahasa yang digunakan di Kepulauan Nias, menurut penelitian Zagoto . Di Nias Utara. Nias Barat. Nias Timur, dan Nias Tengah, orang menggunakan li niha yyudan, sedangkan di Nias Selatan, orang menggunakan li niha raya. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami bagaimana bunyi dalam bahasa yang berkerabat ini berubah secara Perubahan bunyi bahasa Nias termasuk Afaresis. Sinkop. Apokop, dan Paragog. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode linguistik historis komparatif untuk menganalisis data perubahan bunyi dalam Bahasa Nias. Pendekatan ini digunakan untuk menelusuri evolusi fonologis Bahasa Nias dari data historis dan membandingkannya dengan bahasa-bahasa serumpun. Bogdan & Biklen . menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang Selanjutnya, penelitian deskriptif menurut Riyanto . adalah AuPenelitian yang diarahkan untuk memberikan fakta-fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentuAy. Sumber data utama adalah seorang penutur asli Bahasa Nias. David Putra Hulu, yang berasal dari Kabupaten/Kota Gunungsitoli. David adalah seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas di Medan. Hock dan Joseph . Pemilihan informan dilakukan berdasarkan syarat-syarat dalam kajian Linguistik Historis Komparatif, yaitu: Penutur asli bahasa . ahasa ibu adalah Bahasa Nia. Kelayakan kompetensi bahasa . emiliki penguasaan kosakata dan tata bahasa yang bai. , dan Relevansi dengan konteks budaya lokal . inggal di lingkungan berbahasa Nias dalam waktu yang cukup lam. Teknik Pengumpulan Data dalam penelitian ini adalah dengan Peneliti melakukan wawancara langsung dengan informan menggunakan daftar kosakata Swadesh sebagai Informan diminta untuk menyebutkan padanan kosakata Bahasa Nias dari daftar Swadesh, kemudian Perekaman Data dengan cara Seluruh sesi wawancara direkam menggunakan perangkat audio untuk memastikan akurasi pelafalan. Hal ini bertujuan untuk mendokumentasikan detail fonologis dari setiap kosakata yang disebutkan. Lalu melakukan Dokumentasi Data Setelah proses perekaman, data ditranskrip secara fonetik untuk menganalisis bentuk bunyi secara rinci. Transkripsi dilakukan dengan menggunakan standar fonetik internasional (IPA - International Phonetic Alphabe. Dan terahir Pengumpulan Data Pendukung sebagai data pelengkap, peneliti juga melakukan tinjauan pustaka terhadap penelitian sebelumnya mengenai fonologi Bahasa Nias dan perubahan bunyinya. Literatur ini digunakan sebagai pembanding dalam menganalisis data primer. Data disajikan dalam tiga tahap yaitu Data yang direkam disajikan dalam bentuk transkripsi fonetik untuk setiap kosakata. Peneliti menyusun tabel yang memuat kosakata Bahasa Nias dan padanannya dari daftar Swadesh. Analisis Perubahan Bunyi dengan Kosakata yang telah ditranskripsi dianalisis menggunakan teori perubahan bunyi dari Linguistik Historis Komparatif. Pola perubahan bunyi . eperti penghilangan konsonan, penambahan vokal, atau pergeseran nad. akan diidentifikasi. Pemetaan Perubahan sebagai Hasil analisis disajikan dalam bentuk deskriptif dan visual . eta perubahan buny. , termasuk perbandingan dengan bentuk leksikal Bahasa Nias dari berbagai sumber. HASIL DAN PEMBAHASAN Salah satu aspek bahasa yang terkecil adalah perubahan bunyi, terjadi di mana Bunyi bahasa berubah dari satu bunyi ke bunyi berikutnya. Tipe perubahan bunyi lebih memfokuskan pada perubahan secara individual, hanya mempertimbangkan bunyi baru tanpa mengaitkannya dengan fonem lain dalam lingkungannya. Jenis perubahan bunyi bergantung pada bagaimana bunyi tertentu berinteraksi dengan fonem lainnya dalam segmen atau ruang yang lebih luas. Metatesis, aferesis, sinkop, apokop, protesis, epentesis, mesogog dan paragog adalah beberapa contoh perubahan bunyi tersebut. Aferesis adalah Proses perubahan bunyi, atau penghilangan di awal bunyi awal vokal/konsonan. Tabel 1. Perubahan Bunyi Aferesis No. PAN Kutu Tua Kulu Tali Bahasa Nias Utu Atua Ulu Ali Kata *kutu/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis Ie /utu/ yaitu suatu proses perubahan bunyi antara bahasa kerabat berupa penghilangan sebuah atau beberapa fonem pada awal sebuah kata. Fonem yang hilang adalah fonem konsonan /k/. Ciri fonem konsonan /k/ adalah velar, letup/hambat, tak bersuara. Kata */tua/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis Ie /atua/ dalam Bahasa Nias, yaitu bunyi yang berpindah */a/ Ie /t/. Dengan ciri fonem konsonan /a/ adalah vokal tinggi. Sedangkan ciri fonem konsonan /t/ adalah dental, letup/hambat tak bersuara. Kata */kulu/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis Ie /ulu/ dalam Bahasa Nias, yaitu bunyi yang berpindah */k/ Ie /u/. Dengan ciri fonem konsonan /k/ adalah konsonan velar, letup tak bersuara. Sedangkan ciri fonem vokal /u/ adalah vokal belakang, sempit. Perubahan ini menunjukkan penghilangan konsonan /k/ yang diikuti oleh perubahan fonem vokal yang lebih terbuka menjadi /u/. Kata */tali/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis Ie /ali/ dalam Bahasa Nias, yaitu bunyi yang berpindah */t/ Ie /a/. Dengan ciri fonem konsonan /t/ adalah dental, letup/hambat tak bersuara. Sedangkan ciri fonem vokal /a/ adalah vokal depan, terbuka, dan tidak berkontraksi dengan suara konsonan, yang menyebabkan perubahan ini terjadi pada akhir kata. Perubahan ini termasuk dalam proses aferesis, di mana fonem konsonan di awal kata dihilangkan atau disederhanakan. Sinkope adalah proses perubahan bunyi yaitu penghilangan bunyi ditengah kata. Tabel 2. Perubahan Bunyi Sinkope No. PAN Abu Dewa Bahasa Nias Kata */abu/ Ie /awu/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop yaitu perubahan bunyi dengan penghilangan bunyi fonem pada tengah kata. yaitu bunyi yang berubah */b/ Ie/w/. Ciri fonem /b/ adalah letup, hambat, bersuara. Sedangkan ciri fonem konsonan /w/adalah bilabial, semi vokal, bersuara. Kata */dewa/ Ie /dea/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop, yaitu perubahan bunyi dengan penghilangan fonem di tengah kata. Dalam hal ini, bunyi yang berubah adalah */w/ Ie yo . ianggap hilan. Ciri fonem /w/ adalah bilabial, semi vokal, bersuara. Pada kata /dewa/, fonem /w/ yang terletak di tengah kata dihilangkan, menghasilkan bentuk /dea/. Proses sinkope ini mengurangi jumlah bunyi dalam kata, sementara fonem /d/ dan /a/ tetap dipertahankan dalam pengucapan. Apokope adalah perubahan bunyi yang berupa penghilangan sebuah fonem atau lebih pada akhir kata. Tabel 3. Perubahan Bunyi Apokope No. PAN Bahasa Nias Angi Bua Bunu Mate Kata */angin/ Ie /angi/ mengalami perubahan bunyi secara apokop yang penghilangan bunyi /n/ yang memiliki ciri dental, sengau, bersuara. Kata */buah/ Ie /bua/ mengalami perubahan bunyi secara apokop yang penghilangan bunyi /h/ yang memiliki ciri glotal, geser, bersuara Kata */bunuh/ Ie /bunu/ mengalami perubahan bunyi secara apokop yang penghilangan bunyi /h/ yang memiliki ciri glotal, geser, bersuara Kata */mati/ Ie /mate/ mengalami perubahan bunyi secara apokop yang berubah bunyi*/i/ Ie /e/. /i/ yang memiliki ciri vokal kuat. Sedangkan ciri fonem konsoanan /e/ adalah lingua, vokal kuat. Paragog adalah adalah teknik untuk mengubah bunyi dengan menambah satu atau lebih fonem pada akhir kata. Tabel 4. Perubahan Bunyi Paragog No. PAN Tanah Ular Pohon Mata Bahasa Nias Tany Uly Pyhy Maty Kata */tanah/ Ie /tany/ yaitu mengalami perubahan bunyi secara paragog berupa perubahan bunyi pada akhir kata. Bunyi tersebut adalah perubahan konsonan /ah/ Ie /y/. /ah/ yang memiliki ciri glotal, geser, bersuara. Sedangkan ciri fonem/y/ yang memiliki ciri lingua, vokal kuat. Kata */ular/ Ie /uly/ yaitu mengalami perubahan bunyi secara paragog berupa perubahan bunyi pada akhir kata. Bunyi tersebut adalah perubahan konsonan /ar/ Ie / y /. /ar/yang memiliki ciri getar, bersuara. Sedangkan ciri fonem /y/ yang memiliki ciri lingua, vocal kuat. Kata */pohon/ Ie /pyhy/ mengalami perubahan bunyi secara paragog berupa perubahan bunyi pada akhir kata. Bunyi tersebut adalah perubahan vokal /o/ Ie /y/. /o/ yang memiliki ciri vokal tengah, bulat, dan sedikit tertutup, berubah menjadi /y/ yang memiliki ciri vokal lebih terbuka, lingua, dan vokal kuat. Perubahan ini menunjukkan fenomena paragog, di mana fonem terakhir pada kata mengalami modifikasi yang menyesuaikan dengan pola fonologi lokal dalam Bahasa Nias. Kata */mata/ Ie /maty/ yaitu mengalami perubahan bunyi secara paragog berupa perubahan bunyi pada akhir kata. Bunyi tersebut adalah perubahan vokal /a/ Ie /y/. Fonem /a/ memiliki ciri vokal depan terbuka, sedangkan fonem /y/ memiliki ciri vokal tengah, lingua, dan kuat. Perubahan ini terjadi pada akhir kata, menambahkan karakter baru pada pengucapan dan makna kata dalam Bahasa Nias. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan gambaran tentang perubahan bunyi bahasa Nias. Kajian Linguistik Historis Komparatif, dapat disimpulkan bahwa bahasa Nias mengalami perubahan bunyi berdasarkan tempat Informan Yang Sesuai dengan syarat informan menurut Linguistik Historis Komparatif Informan Berasal dari Nias Kabupaten Gunung Sitoli. Perubahan Bunyi Bahasa Nias ditemukan pada empat tipe perubahan bunyi yang dapat diperinci sebagai Aferesis adalah perubahan bunyi yang menghilangkan sebuah atau beberapa fonem di awal kata, seperti kata */kutu/ Ie /utu/, yang berarti "kutu". Sinkop adalah perubahan bunyi yang menghilangkan sebuah atau beberapa fonem di tengah kata, seperti kata */abu/ Ie /awu/, yang berarti "abu". Apokop adalah perubahan bunyi yang menghilangkan sebuah atau beberapa fonem di akhir kata. Contoh, kata */angin/ Ie /angi/, yang berarti AuanginAy. Paragog adalah proses mengubah bunyi dengan menambah fonem ke akhir. Seperti kata, misalnya, */tanah/ berubah menjadi / tany /, yang berarti AutanahAy. DAFTAR PUSTAKA