Jurnal Peduli Masyarakat Volume 6 Nomor 3. September 2024 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA KORBAN BENCANA BAGI KADER SIGAB Nadif Zalfi1 . Muhammad Ridho1. Dusi Andriyadi1 . Dewi Rafina Hastuti2. Mia Karina Liani2 . Dendy Kharisna1. Mardianti3 Fakultas Keperawatan. Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru. Jalan Tamtama No. Labuh Baru Timur. Payung Sekaki. Labuh Baru Timur. Pekanbaru. Pekanbaru. Riau 28292. Indonesia Fakultas Kesehatan dan Informatika. Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru. Jalan Tamtama No. Labuh Baru Timur. Payung Sekaki. Labuh Baru Timur. Pekanbaru. Pekanbaru. Riau 28292. Indonesia Public Safety Centre 119. Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Jl. Cut Nyak Dien No. Jadirejo. Sukajadi. Pekanbaru. Riau 28121. Indonesia *nadifzalfi20@gmail. ABSTRAK Indonesia merupakan negara kepulauan dan berada diantara lempeng-lempeng bumi yang secara geografis termasuk negara yang rawan terhadap bencana alam. Provinsi Riau termasuk dalam salah satu provinsi dengan indeks ancaman bencana yang tinggi seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, penting adanya upaya peningkatan kapasitas masyarakat dalam mitigasi, kesiapsiagaan, dan penyelamatan korban bencana. Mitra dalam kegiatan ini yaitu kader Santri Siaga Bencana (SIGAB) Pondok Pesantren Modern Al-Kautsar yang telah dibentuk dan dibekali dengan pengetahuan dasar tentang bencana. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader dalam memberikan pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar bagi para korban bencana sebagai salah satu solusi terhadap tingginya kerentanan mitra terhadap bencana hidrometeorologi. Kegiatan ini dilakukan mulai dari 31 Agustus sampai 7 September 2023 di Pondok Pesantren Modern Al Kautsar dengan melibatkan 30 orang kader SIGAB sebagai peserta. Bentuk kegiatan pelatihan dilakukan mulai dari persiapan pelaksanaan, pemaparan materi, demonstrasi, dan pembuatan laporan hasil kegiatan serta publikasi. Pada pelaksanaan kegiatan demonstrasi peserta dibagi ke dalam 3 kelompok dan masing-masing kelompok didampingi oleh fasilitator dari tim pengabdian masyarakat. Peserta diberikan pelatihan tentang teknik dan langkah-langkah bantuan hidup dasar (BHD), evakuasi, dan balut bidai pada korban. Hasil kegiatan didapatkan 1 dari 3 kelompok mampu melakukan BHD dan evakuasi korban bencana dengan sempurna dan 2 kelompok lainnya masih perlu pendampingan dari pemateri. Sedangkan untuk balut bidai dapat dilakukan dengan baik oleh setiap kelompok. Seluruh tahapan kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan peserta aktif selama pelaksanaan kegiatan. Kata kunci: bencana. kader SIGAB. pertolongan pertama VICTIMS FIRST AID TRAINING FOR SIGAB CADRES ABSTRACT Indonesia is an archipelagic country and is located between the earth's plates, which geographically is a country that is prone to natural disasters. Riau Province is included in one of the provinces with a high disaster threat index such as forest and land fires, floods and landslides. Therefore, it is important to make efforts to increase community capacity in mitigating, preparing and rescuing disaster victims. The partners in this activity are the Disaster Preparedness Santri (SIGAB) cadres of the Al-Kautsar Modern Islamic Boarding School who have been formed and equipped with basic knowledge about disasters. This activity was carried out to increase the knowledge and ability of cadres in providing first aid and basic life support Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group for disaster victims as a solution to the high vulnerability of partners to hydrometeorological disasters. This activity was carried out from 31 August to 7 September 2023 at the Al Kautsar Modern Islamic Boarding School involving 30 SIGAB cadres as participants. The form of training activities is carried out starting from preparation for implementation, presentation of material, demonstrations, and preparation of activity results reports and publications. During the demonstration activities, participants were divided into 3 groups and each group was accompanied by a facilitator from the community service team. Participants are given training on basic life support (BHD) techniques and steps, evacuation, and splinting the victim. The results of the activity showed that 1 out of 3 groups were able to carry out BHD and evacuate disaster victims perfectly and the other 2 groups still needed assistance from the presenters. Meanwhile, splint dressing can be done well by each group. All stages of the activity were carried out well and participants active during the activity. Keywords: disaster. first aid. SIGAB cadre PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan dan berada diantara lempeng-lempeng bumi yang secara geografis termasuk negara yang rawan terhadap bencana alam (Yuliharni & Nur Efniyati, 2. Berdasarkan hasil data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Selama tahun 2022 di Indonesia mengalami 3. 531 bencana. Dari jumlah tersebut, 43% merupakan banjir, 30% disebabkan oleh cuaca ekstrem, dan 18% adalah tanah longsor. Bencana ini menyebabkan 851 orang meninggal, 46 orang hilang, 8. 726 mengalami luka-luka, dan 5. 046 orang harus mengungsi (BNPB, 2. Ketika bencana terjadi, masalah utama yang muncul adalah ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapinya. Ketidaktahuan tentang lokasi titik kumpul dan jalur evakuasi, kepanikan serta tindakan terburu-buru yang memicu kecelakaan, dan kurangnya perhatian terhadap kelompok rentan merupakan beberapa masalah yang timbul akibat kurangnya kesiapan masyarakat, yang pada akhirnya memperburuk kondisi saat bencana terjadi (Nugraheni & Suyatna, 2. Kesiapsiagaan bencana memegang peran penting dalam pengurangan risiko bencana, karena mampu mengurangi dampak yang ditimbulkan serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah yang muncul selama bencana (Kharisna et al. , 2. Penerapan pengetahuan kesiapsiagaan bencana di masyarakat memberikan beberapa keuntungan, antara lain meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan yang tepat, mempercepat respons saat bencana terjadi, serta memperbaiki koordinasi antar individu dan kelompok dalam menghadapi situasi bencana (Kusumastuti et al. , 2. Provinsi Riau merupakan wilayah dengan tingkat ancaman bencana yang tinggi, terutama terkait bahaya banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, serta kebakaran hutan dan lahan. (Sasmita et al. Saat terjadi bencana, cedera seringkali tak terhindarkan. Dalam situasi tersebut, penting untuk segera memberikan pertolongan pertama kepada korban. Pertolongan Pertama pada korban merupakan langkah awal yang dapat dilakukan untuk menangani korban secepat mungkin di lokasi kejadian, sebelum bantuan medis profesional mengambil alih penanganan (Anggraini et , 2. Tenaga kesehatan yang terlatih dalam pertolongan pertama biasanya tiba di lokasi terlambat, sehingga banyak korban meninggal dunia tanpa mendapatkan bantuan awal. Beberapa kasus di lapangan menunjukkan bahwa individu yang seharusnya memberikan pertolongan pertama kerap membiarkan korban tanpa tindakan apa pun, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kecacatan bahkan kematian (Meryanto, 2. Oleh karena itu, penting adanya upaya Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group peningkatan kapasitas masyarakat dalam mitigasi, kesiapsiagaan, dan penyelamatan korban Mengingat besarnya potensi terjadinya bencana, siswa perlu dibekali dengan kesiapsiagaan bencana guna meningkatkan sikap kepedulian terhadap korban yang membutuhkan pertolongan Peningkatan pengetahuan siswa tentang kesiapsiagaan bencana dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memasukkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler disekolah, ataupun bekerjasama dengan pihak luar sekolah untuk melakukan sosialisasi ataupun simulasi bencana. Pendidikan kesiapsiagaan bencana di sekolah bertujuan untuk menanamkan kesadaran bencana pada para siswa baik sebelum, saat ataupun setelah terjadinya bencana, yang pada saatnya nanti para siswa akan menjadi bagian dari Masyarakat (Kharisna et al. , 2. Setiap satuan pendidikan seharusnya mendukung kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana (Pahleviannur, 2. Namun, pondok pesantren sebagai satuan pendidikan non-siaga bencana masih belum memasukkan pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulumnya (Arisona et , 2. Mitra dalam kegiatan ini yaitu kader Santri Siaga Bencana (SIGAB) Pondok Pesantren Modern Al-Kautsar yang telah dibentuk dan dibekali dengan pengetahuan dasar tentang bencana. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader dalam memberikan pertolongan pertama dan bantuan hidup dasar bagi para korban bencana sebagai salah satu solusi terhadap tingginya kerentanan mitra terhadap bencana hidrometeorologi. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Pondok Modern Al-Kautsar Pekanbaru yang berada di jalan Hangtuah Pekanbaru. Metode kegiatan dilakukan secara langsung dan tatap Kegiatan ini dilakukan mulai dari 31 Agustus sampai dengan 7 September 2023. Peserta dalam kegiatan ini adalah kader SIGAB (Santri Tanggap Bencan. yang berjumlah 30 orang Bentuk kegiatan pelatihan dilakukan mulai dari persiapan pelaksanaan, pemaparan materi, demonstrasi, serta pembuatan laporan publikasi. Tahap persiapan dimulai dengan menyiapkan alat-alat yang di gunakan sebagai media untuk praktikum. Selanjutnya melakukan komunikasi dengan pihak terkait dan tim pengabdian masyarakat untuk tahapan pelaksanaan kegiatan. Pada tahap ini juga disusun materi pelatihan, presensi kehadiran peserta, dan penyusunan kelompok peserta . ader SIGAB). Tahap pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan teknik evakuasi bencana. Kegiatan pelatihan dilakukan selama dua kali pertemuan mulai dalam bentuk pemberian materi, diskusi, dan demonstrasi. Tahap akhir kegiatan berupa evaluasi yaitu peserta yang telah terbagi dalam tiga kelompok melakukan demonstrasi terkait materi BHD peserta mempraktekkan secara langsung cara resusitasi jantung paru (RJP), teknik evakuasi, dan balut bidai dan di nilai langsung oleh pemateri. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian ini telah dilaksanakan mulai dari 31 Agustus sampai 7 September 2023. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan ruang l lingkup Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Kemdikbudristek tahun 2023. Hasil kegiatan didapatkan 1 dari 3 kelompok mampu melakukan BHD dan evakuasi korban bencana dengan sempurna dan 2 kelompok lainnya masih perlu pendampingan dari pemateri. Sedangkan untuk balut bidai dapat dilakukan dengan baik oleh setiap kelompok. Seluruh tahapan kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan peserta tampak aktif selama pelaksanaan kegiatan. Adapun hasil Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group kegiatan pelatihan pertolongan pertama bagi kader SIGAB yang telah dilakukan antara lain sebagai berikut: Pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) Gambar 1. Pemaparan materi dan demonstrasi bantuan hidup dasar oleh kader SIGAB didampingi PSC 119 Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mitra dalam memberikan bantuan hidup dasar bagi korban bencana sebagai salah satu solusi terhadap tingginya kerentanan mitra terhadap bencana hidrometeorologi. Metode yang digunakan pada kegiatan ini berupa ceramah yang diberikan terlebih dahulu mengenai materi konsep dan teknik bantuan hidup dasar bagi masyarakat awam dalam menghadapi situasi krisis seperti bencana. Penjelasan materi dilakukan sekitar 30 menit menggunakan slide ppt. Selanjutnya dibuka sesi diskusi dan tanya jawab dengan peserta kegiatan sekitar 20 menit. Peserta yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diberikan mendapatkan doorprize dari panitia. Demonstrasi dan role play dilanjutkan setelah Narasumber dari PSC 119 Dinas Kesehatan Provinsi Riau memberikan contoh melakukan BHD secara langsung kepada seluruh peserta dan setelah itu 5 peserta diminta untuk mencoba melakukan BHD didepan seluruh peserta. Selanjutnya mitra dibagi menjadi 5 kelompok dan masing-masing kelompok dengan didampingi oleh tim narasumber dan tim pelaksana. Masingmasing anggota kelompok mitra melakukan role play untuk memberikan BHD pada korban. Dua kelompok terbaik mendapatkan doorprize dari tim pelaksana. Kegiatan pelatihan BHD ini telah dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus 2023. Pelatihan evakuasi dan balut bidai Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mitra dalam memberikan pertolongan pertama pada korban khususnya mengenai evakuasi dan balut bidai. Pelatihan dimulai dengan pemaparan materi oleh narasumber yang berasal dari PSC 119 Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Materi berisikan tentang konsep dan teknik evakuasi korban serta balut Edukasi diberikan selama 45 menit dengan menggunakan slide ppt. Selanjutnya sesi diskusi dan tanya jawab dengan peserta kegiatan. Peserta yang aktif diberikan doorprize oleh tim Kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi oleh narasumber menggunakan tandu/long spine board/scoop stretcher dan juga tanpa alat dengan kategori 1, 2, 3 hingga 4 penolong. Peserta secara berpasangan dan juga berkelompok diminta untuk melakukan role play dengan didampingi oleh narasumber untuk memperagakan kembali teknik-teknik evakuasi yang telah diajarkan. Begitu juga dengan teknik balut bidai. Peserta diminta secara berkelompok melakukan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group pembidaian dengan beberapa kondisi korban. Setiap anggota kelompok melakukan role play secara bergantian. Kegiatan ini telah dilakukan pada tanggal 07 September 2023. Penanggulangan bencana sangat dibutuhkan oleh peserta untuk dapat menghadapi bencana yang datang secara tiba-tiba. Menurut Dito dan Pamungkas, . Upaya penanggulangan bencana dapat dilakukan dalam 3 . tahap yaitu tahap pra bencana, tahap saat bencana, dan tahap pasca Tahap pra bencana merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. Kegiatan dalam tahap pra bencana meliputi pencegahan, mitigasi, peringatan dini, dan Peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Hal ini disebabkan sebagian besar korban akibat bencana mengalami kondisi panik mengungsi sehingga menimbulkan kekacauan. Oleh karena itu, pemberian edukasi dan pelatihan mengenai penyelamatan dan evakuasi serta penanagan korban bencana menjadi penting untuk diberikan kepada kader. Gambar 2. Pemaparan materi dan demonstrasi evakuasi korban dan balut bidai oleh kader SIGAB didampingi PSC 119 Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Kesiapan pengetahuan dan penanganan awal menjadi poin penting untuk mencegah memburuknya kondisi korban. Oktaviani et al. , . menyebutkan pertolongan pertama yang tepat pada kegawatdaruratan harus didukung dengan pengetahuan yang cukup. Oktaviani et al. , . dalam penelitiannya mendapatkan adanya peningkatan nilai rerata pretest dengan kategori cukup baik . %) menjadi baik pada nilai posttest . %) dan peserta menjadi terampil dalam penanganan kasus cedera yang sering terjadi disekolah. Pelatihan pertolongan pertama pada kasus kedaruratan disekolah harus diberikan sejak dini sebagai bekal memberikan pertolongan sesegera mungkin guna menghindari bahaya yang lebih kompleks (Syarifah et al. , 2. Pengetahuan tentang pertolongan pertama sangat dibutuhkan dalam menghadapi situasi gawat darurat. Yoesra dan Susilo . menyebutkan bahwa pertolongan pertama korban bencana dilakukan untuk membekali anggota Tim Reaksi Cepat untuk bisa memprioritaskan korban sesuai dengan kondisi gawat darurat. Selain itu, juga bisa melakukan pertolongan pertama di tempat kejadian bencana dan mentransport korban ke pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan utama (Burhanuddin. Basuki, & Darmanijati, 2. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 6 No 3. September 2024 Global Health Science Group SIMPULAN Secara keseluruhan kegiatan pemberdayaan kader dapat terlaksana sesuai yang diharapkan mulai dari tahap perencanan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dan program pelatihan yang diberikan dengan sangat baik dan tampak bersemangat serta antusias. Setelah diberikan pelatihan berupa teknik dan langkah-langkah pertolongan pertama mulai dari bantuan hidup dasar, evakuasi, dan balut bidai pada korban bencana, terdapat peningkatan tingkat pengetahuan, kemampuan, kesiapan dan kepercayaan diri dari kader SIGAB dalam menghadapi bencana. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan kader melalui pelatihan, edukasi dan demonstrasi bermanfaat bagi pendidikan kebencanaan santri khususnya kader. Pendidikan kebencanaan yang diberikan melalui pelatihan pertolongan pertama bagi kader SIGAB ini dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mengurangi risiko bencana yang berbasis komunitas di sekolah. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kami ucapkan kepada pimpinan dan seluruh keluarga besar Pondok Modern AlKautsar Pekanbaru yang telah bersedia menjadi mitra kami dalam kegiatan ini. Kegiatan ini tidak akan dapat terlaksana tanpa dukungan dari Kemdikbudristek yang telah mendanai seluruh pelaksanaan kegiatan ini. Begitu juga kepada Public Safety Centre (PSC) 119 Dinas Kesehatan Provinsi Riau yang telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Selanjutnya terimakasih kami ucapkan kepada seluruh tim pengabdian masyarakat dan Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru yang telah membantu dan memfasilitasi terlaksananya kegiatan pengabdian ini. DAFTAR PUSTAKA