Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Indonesian Language Skills through the Flipped Classroom Model at MI Al-Ma'ruf Denpasar: A Classroom Action Research Vina Nur Kumala1. Rahmawati2 1 MI Al-Ma'ruf Denpasar 2 MI Miftahuddin Correspondence: vinadzikra@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Flipped Classroom. Indonesian Classroom Action Research, self-directed Al-Ma'ruf Denpasar. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) investigates the implementation of the Flipped Classroom model to enhance Indonesian language skills at MI Al-Ma'ruf Denpasar. The study focuses on how this instructional approach, which shifts traditional classroom activities to out-of-class learning and vice versa, can improve students' engagement, comprehension, and performance in Bahasa Indonesia. The research was conducted in two cycles, involving planning, action, observation, and reflection to evaluate the effectiveness of the Flipped Classroom model in Indonesian language In the first cycle, students were given pre-class materials, such as video lessons, articles, and reading materials related to the Indonesian language. During in-class time, activities focused on discussion, problem-solving, and collaborative tasks that reinforced the pre-learned concepts. Observations revealed that students became more engaged and active in classroom discussions, and they demonstrated better comprehension of the topics However, some students faced challenges in managing their learning outside of class, requiring additional guidance on how to effectively use the pre-class materials. The second cycle involved refining the process by providing more structured guidance on how students should approach out-of-class learning. With these improvements, students showed greater confidence and independence in learning, and their language skills, especially in reading comprehension, vocabulary, and writing, improved significantly. The results suggest that the Flipped Classroom model is an effective strategy for enhancing Indonesian language proficiency in elementary school students. It encourages self-directed learning and maximizes classroom interaction, making learning more meaningful and engaging. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Bahasa Indonesia di tingkat dasar memegang peranan penting dalam membentuk dasar kemampuan berbahasa siswa. Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan analitis pada siswa. Oleh karena itu, pengajaran Bahasa Indonesia yang efektif sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di MI, seperti yang diterapkan di MI Al-Ma'ruf Denpasar. Pembelajaran Bahasa Indonesia harus dapat mencakup berbagai keterampilan, mulai dari membaca, menulis, mendengarkan, hingga berbicara secara efektif dan kreatif (Budi, 2. Dalam praktiknya, banyak sekolah yang masih menggunakan metode konvensional dalam mengajarkan Bahasa Indonesia, yang sering kali membuat siswa kurang terlibat aktif dalam Pembelajaran yang berfokus pada ceramah guru tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif berinteraksi atau menerapkan pengetahuan mereka sering kali Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 membuat siswa merasa bosan dan kurang termotivasi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih inovatif untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar (Suryani, 2. Salah satu pendekatan yang sedang banyak dikembangkan adalah model Flipped Classroom. Model pembelajaran ini membalikkan cara tradisional, di mana siswa belajar materi secara mandiri di luar kelas dan menggunakan waktu kelas untuk mendiskusikan materi dan mengerjakan tugas secara kolaboratif. Dengan menggunakan model ini, siswa dapat belajar dengan cara yang lebih mandiri dan aktif, meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran, serta memberi kesempatan kepada guru untuk lebih fokus pada aspek pengajaran yang lebih mendalam (Setiawan, 2. Penerapan model Flipped Classroom pada pembelajaran Bahasa Indonesia di MI Al-Ma'ruf Denpasar diharapkan dapat memaksimalkan keterlibatan siswa dalam belajar. Dalam model ini, siswa akan diberikan materi pembelajaran secara online sebelum pertemuan kelas, seperti video, artikel, atau modul pembelajaran yang dapat mereka akses di luar kelas. Waktu di kelas kemudian digunakan untuk diskusi, tanya jawab, dan kegiatan yang melibatkan siswa untuk menerapkan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk belajar dengan cara yang lebih aktif dan mendalam, serta memperkuat pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan (Hidayat, 2. Dengan pembelajaran berbasis Flipped Classroom, siswa diberikan kebebasan untuk mengatur kecepatan belajar mereka sendiri. Mereka dapat mempelajari materi dengan cara yang lebih santai dan fleksibel, tanpa tertekan oleh waktu atau keterbatasan kelas. Hal ini memungkinkan siswa yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami materi untuk lebih fokus, sementara siswa yang lebih cepat bisa melanjutkan ke materi berikutnya. Selain itu, pembelajaran ini juga memberi peluang bagi siswa untuk melakukan refleksi pribadi tentang apa yang telah mereka pelajari (Ibrahim, 2. Namun, tantangan utama dalam menerapkan model Flipped Classroom adalah kesiapan siswa dalam mengelola pembelajaran mereka di luar kelas. Siswa perlu memiliki kemampuan untuk mengakses materi, memahaminya secara mandiri, dan mengidentifikasi bagian-bagian materi yang perlu didiskusikan lebih lanjut di kelas. Beberapa siswa mungkin merasa kesulitan dalam memanfaatkan materi pembelajaran secara maksimal tanpa adanya bimbingan langsung dari Oleh karena itu, penting untuk memberikan instruksi yang jelas dan memastikan bahwa siswa memiliki akses yang cukup ke teknologi yang diperlukan untuk pembelajaran ini (Amri. Pada saat yang sama, guru juga harus siap dengan perubahan paradigma dalam pengajaran. Guru yang terbiasa dengan pendekatan konvensional mungkin akan merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan cara baru yang lebih bergantung pada teknologi. Oleh karena itu, pelatihan dan pendampingan guru dalam mengimplementasikan model Flipped Classroom menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa mereka dapat memanfaatkan teknologi dengan efektif dan memfasilitasi siswa dalam belajar secara mandiri (Purnama, 2. Dalam konteks MI Al-Ma'ruf Denpasar, penerapan model ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan model Flipped Classroom, siswa diharapkan dapat mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia secara lebih optimal. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses belajar yang lebih aplikatif dan kolaboratif. Pembelajaran ini juga berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa, yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam berbicara dan menulis secara efektif (Suryani, 2. Model Flipped Classroom juga memungkinkan guru untuk lebih fokus pada analisis dan diskusi materi yang lebih mendalam. Dengan pengurangan waktu untuk penyampaian materi secara langsung, guru dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk membantu siswa dengan pemahaman yang lebih kompleks, memberikan umpan balik yang lebih personal, dan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mengembangkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang lebih interaktif. Hal ini membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih menarik dan bermanfaat bagi siswa (Hidayat, 2. Namun, meskipun ada potensi yang besar dalam penerapan model Flipped Classroom, keberhasilan penerapannya sangat bergantung pada keterlibatan orang tua dan dukungan dari Orang tua perlu dilibatkan dalam memotivasi siswa untuk belajar secara mandiri di rumah, serta mendukung mereka dalam mengakses materi pembelajaran yang diberikan. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan kemitraan yang kuat antara sekolah dan orang tua untuk memastikan keberhasilan penerapan model ini (Teng, 2. Penerapan model Flipped Classroom dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di MI Al-Ma'ruf Denpasar tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, tetapi juga untuk membentuk siswa menjadi individu yang lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap proses belajar mereka. Pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada pengalaman ini akan membuat siswa merasa lebih dihargai dan lebih termotivasi untuk belajar. Dengan demikian, model ini dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar (Setiawan, 2. Sebagai langkah lanjutan, penting bagi MI Al-Ma'ruf Denpasar untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki implementasi model Flipped Classroom ini. Melalui evaluasi yang dilakukan secara terus-menerus, sekolah dapat memperbaiki kekurangan yang ada dan memastikan bahwa metode ini diterapkan dengan cara yang lebih optimal. Dengan melibatkan semua pihakAiguru, siswa, dan orang tuaAisekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia siswa secara lebih efektif (Amri. Secara keseluruhan, penerapan model Flipped Classroom di MI Al-Ma'ruf Denpasar diharapkan dapat memberikan dampak yang positif terhadap kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia. Pendekatan ini dapat membantu siswa untuk belajar secara lebih mandiri, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses belajar. Dengan demikian, model Flipped Classroom dapat menjadi solusi inovatif yang bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pendidikan Bahasa Indonesia di tingkat MI (Ibrahim. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di MI Al-Ma'ruf Denpasar melalui penerapan model Flipped Classroom. PTK dipilih karena memberikan kesempatan untuk perbaikan berkelanjutan dalam praktik pengajaran. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari empat tahapan utama: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan Peneliti bekerja sama dengan guru dalam merancang dan melaksanakan model pembelajaran ini, serta menganalisis dampaknya terhadap keterlibatan dan pemahaman siswa (Setiawan, 2. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama dengan guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis Flipped Classroom. Dalam model ini, materi pembelajaran Bahasa Indonesia disediakan dalam bentuk video pembelajaran, artikel, atau modul yang dapat diakses siswa di luar jam pelajaran. Tujuan dari tahap ini adalah untuk memberi siswa kesempatan untuk mempelajari materi terlebih dahulu secara mandiri sebelum bertemu dengan guru di kelas. Waktu kelas kemudian digunakan untuk diskusi, tanya jawab, dan kegiatan yang memungkinkan siswa untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari (Budi, 2. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan setelah RPP disusun dan disetujui oleh guru. Siswa diberikan akses ke materi pembelajaran melalui platform digital sebelum kelas dimulai. dalam kelas, guru memfasilitasi diskusi kelompok, memimpin tanya jawab, serta memberikan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 umpan balik terhadap hasil tugas yang telah dikerjakan siswa. Pembelajaran ini bertujuan untuk mengaktifkan pemahaman siswa terhadap materi Bahasa Indonesia, seperti keterampilan membaca, menulis, dan berbicara. Guru berfungsi sebagai fasilitator, memberikan arahan dan mendampingi siswa dalam menerapkan materi yang telah mereka pelajari secara mandiri (Suryani, 2. Pada tahap observasi, peneliti mengumpulkan data melalui pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Observasi dilakukan untuk menilai sejauh mana siswa terlibat dalam kegiatan diskusi, sejauh mana mereka dapat menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari di luar kelas, dan bagaimana interaksi antara siswa dan guru dalam proses Selain pengamatan, peneliti juga menggunakan wawancara dengan guru dan siswa untuk mendapatkan umpan balik terkait efektivitas metode Flipped Classroom dalam meningkatkan pemahaman Bahasa Indonesia siswa (Ibrahim, 2. Setelah pelaksanaan siklus pertama, dilakukan refleksi untuk mengevaluasi hasil yang diperoleh dan menentukan perbaikan yang perlu dilakukan pada siklus berikutnya. Refleksi dilakukan dengan menganalisis data observasi, umpan balik siswa dan guru, serta hasil tes atau tugas yang telah dikerjakan siswa. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dan guru mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki, seperti pembagian waktu yang lebih efisien, penyesuaian materi pembelajaran, atau pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa (Amri, 2. Pada siklus kedua, perbaikan yang telah dilakukan berdasarkan refleksi siklus pertama Penyesuaian pada pengelolaan waktu dan pemberian materi dilakukan untuk memastikan pembelajaran lebih efektif. Siswa yang sebelumnya merasa kesulitan dalam mengakses materi atau mengelola waktu belajar di luar kelas diberikan bimbingan lebih Pengelolaan kelompok dalam diskusi juga diperbaiki, dengan pembagian yang lebih merata dan instruksi yang lebih jelas dari guru. Peneliti kembali mengamati hasil dari siklus kedua untuk memastikan apakah perbaikan ini berdampak positif terhadap pemahaman siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia (Setiawan, 2. Di akhir penelitian, peneliti menganalisis data yang terkumpul dari siklus pertama dan kedua untuk menentukan efektivitas penerapan model Flipped Classroom dalam meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia. Data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan dalam keterlibatan siswa, pemahaman materi, dan hasil pembelajaran Hasil analisis ini akan digunakan untuk memberikan kesimpulan mengenai keberhasilan penerapan model Flipped Classroom serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan metode pengajaran Bahasa Indonesia di masa depan (Suryani, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan model Flipped Classroom di MI Al-Ma'ruf Denpasar menunjukkan beberapa peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa. Siswa tampak lebih aktif dalam berdiskusi dan lebih siap untuk bertanya tentang hal-hal yang belum mereka Salah satu temuan penting adalah bahwa siswa merasa lebih nyaman dengan konsep pembelajaran yang memungkinkan mereka belajar secara mandiri terlebih dahulu di luar kelas. Namun, ada juga siswa yang merasa kesulitan dalam mengakses materi secara mandiri, terutama bagi mereka yang kurang terbiasa dengan penggunaan teknologi. Hal ini menunjukkan perlunya dukungan yang lebih kuat dalam hal pengenalan teknologi dan cara efektif mengakses materi pembelajaran (Setiawan, 2. Selain itu, beberapa siswa yang sebelumnya kurang aktif mulai menunjukkan minat yang lebih tinggi dalam pembelajaran. Mereka tampak lebih antusias mengikuti diskusi kelompok dan aktivitas yang ada di kelas setelah mempelajari materi secara mandiri di rumah. Meskipun demikian, tantangan yang muncul adalah bahwa tidak semua siswa memiliki waktu yang cukup atau disiplin untuk belajar materi di luar kelas. Hal ini berimplikasi pada ketidakseimbangan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kesiapan antara siswa yang siap dan yang belum memahami materi dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk memberikan waktu dan dukungan tambahan kepada siswa yang membutuhkan lebih banyak bantuan dalam mengakses materi (Budi, 2. Di sisi lain. Flipped Classroom memungkinkan siswa untuk belajar pada kecepatan mereka sendiri, yang ternyata sangat bermanfaat bagi siswa dengan kemampuan yang lebih tinggi. Mereka dapat memanfaatkan waktu lebih banyak untuk memperdalam materi atau mengeksplorasi topik-topik tambahan yang tidak dijangkau dalam pembelajaran kelas. Hal ini memberikan mereka rasa pencapaian lebih besar karena mereka dapat melangkah lebih jauh dari materi yang disiapkan. Namun, beberapa siswa yang lebih lambat membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi tersebut, yang mengindikasikan pentingnya untuk memberikan tambahan waktu atau sumber belajar lebih bagi mereka (Purnama, 2. Penerapan Flipped Classroom juga membantu siswa untuk lebih mandiri dalam belajar. Siswa diberikan kebebasan untuk belajar di luar kelas dengan materi yang sudah disiapkan sebelumnya, seperti video pembelajaran atau artikel. Hal ini memberi kesempatan bagi mereka untuk belajar tanpa tekanan waktu yang ada di kelas. Siswa yang sebelumnya cenderung bergantung pada guru untuk menjelaskan materi, kini mulai belajar untuk mengeksplorasi dan memahami informasi dengan cara mereka sendiri. Dampak positif ini terlihat pada meningkatnya rasa percaya diri siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan (Suryani. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa meskipun ada banyak manfaat, tantangan utama yang muncul adalah perbedaan kesiapan siswa dalam menggunakan teknologi. Beberapa siswa merasa kesulitan dalam mengakses materi melalui platform online atau membutuhkan waktu lebih untuk memahami cara menggunakan teknologi yang disediakan. Oleh karena itu, guru perlu memberikan pelatihan atau bimbingan tambahan agar semua siswa dapat mengakses dan memahami materi dengan mudah. Keterampilan literasi digital menjadi sangat penting agar semua siswa dapat memanfaatkan model Flipped Classroom secara maksimal (Ibrahim, 2. Pada siklus kedua, perbaikan dilakukan dengan menambahkan sesi pembelajaran pengenalan teknologi dan cara efektif mengakses materi sebelum penerapan model Flipped Classroom. Hasilnya, lebih banyak siswa yang dapat mengakses materi dengan lancar, dan mereka mulai lebih percaya diri dalam mempersiapkan diri sebelum kelas dimulai. Pembelajaran ini membantu siswa untuk mengatur waktu belajar mereka dengan lebih baik dan mendorong mereka untuk memanfaatkan waktu di luar kelas secara lebih efektif. Dengan dukungan yang lebih baik dalam hal penggunaan teknologi, lebih banyak siswa yang siap mengikuti pembelajaran dan merasa lebih terlibat dalam diskusi kelas (Setiawan, 2. Selain itu, dalam siklus kedua, pembelajaran yang lebih terstruktur dan terorganisir berhasil meningkatkan kualitas diskusi di kelas. Waktu yang digunakan untuk kegiatan kelompok lebih efektif karena siswa sudah mempelajari materi terlebih dahulu di luar kelas. Mereka lebih siap untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari, dan diskusi menjadi lebih produktif. Siswa juga menunjukkan pemahaman yang lebih dalam terhadap materi, karena mereka tidak hanya mendengarkan ceramah guru, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam proses pemecahan masalah dan berdiskusi (Teng, 2. Peningkatan yang paling signifikan terlihat dalam keterampilan menulis siswa. Di siklus pertama, siswa cenderung mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide-ide mereka secara Namun, setelah diberi kesempatan untuk mempersiapkan materi terlebih dahulu melalui model Flipped Classroom, siswa menjadi lebih mudah menyusun dan mengembangkan gagasan mereka dalam tulisan. Mereka juga lebih mampu menggunakan kosakata dengan lebih tepat, menunjukkan peningkatan dalam kemampuan menulis mereka. Pembelajaran berbasis Flipped Classroom yang memberikan lebih banyak waktu untuk refleksi pribadi sebelum pembelajaran di kelas memberikan dampak positif bagi perkembangan keterampilan menulis siswa (Budi, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Model Flipped Classroom juga mendorong kolaborasi antara siswa. Ketika mereka bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan materi yang telah dipelajari sebelumnya, siswa belajar untuk menghargai pendapat orang lain, mendengarkan dengan aktif, dan berkontribusi pada penyelesaian masalah bersama. Pembelajaran yang berbasis pada kolaborasi ini meningkatkan keterampilan sosial siswa dan mempersiapkan mereka untuk bekerja dalam tim di masa depan. Hal ini sangat bermanfaat, mengingat pentingnya keterampilan sosial dalam kehidupan sosial dan profesional di masa depan (Suryani, 2. Secara keseluruhan, penerapan Flipped Classroom di MI Al-Ma'ruf Denpasar telah memberikan hasil yang positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia. Model ini mendorong siswa untuk lebih mandiri dalam belajar, memperkuat keterlibatan mereka dalam diskusi kelas, dan meningkatkan keterampilan menulis mereka. Dengan perbaikan yang dilakukan selama siklus kedua, siswa menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam penguasaan materi dan kemampuan sosial mereka. Model Flipped Classroom terbukti menjadi metode yang efektif untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik dan bermanfaat di tingkat sekolah dasar (Hidayat, 2. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MI Al-Ma'ruf Denpasar, penerapan model Flipped Classroom dalam pembelajaran Bahasa Indonesia menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Model ini, yang membalikkan pendekatan pembelajaran tradisional, memungkinkan siswa untuk mempelajari materi secara mandiri di luar kelas dan kemudian menggunakan waktu di kelas untuk diskusi, tanya jawab, dan kegiatan praktis lainnya. Penerapan Flipped Classroom di kelas Bahasa Indonesia terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, memperdalam pemahaman materi, dan meningkatkan keterampilan sosial serta kognitif mereka. Pada siklus pertama, meskipun ada beberapa tantangan, seperti ketidakseimbangan kesiapan antara siswa yang sudah siap dengan yang masih kesulitan dalam mengakses materi secara mandiri, ada peningkatan yang jelas dalam antusiasme dan keterlibatan siswa. Mereka merasa lebih siap untuk mengikuti diskusi dan lebih aktif dalam menjawab pertanyaan serta berbagi pendapat dengan teman-temannya. Salah satu temuan utama adalah bahwa Flipped Classroom memungkinkan siswa untuk belajar pada kecepatan mereka sendiri, yang sangat bermanfaat bagi siswa dengan kemampuan lebih tinggi. Mereka dapat melanjutkan ke topik berikutnya atau memperdalam materi, sementara siswa lain yang membutuhkan lebih banyak waktu dapat tetap fokus pada materi yang sama dengan dukungan yang tepat dari guru (Budi, 2. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah perbedaan kesiapan siswa dalam mengelola pembelajaran mereka di luar kelas. Beberapa siswa merasa kesulitan dalam mengakses materi atau memanfaatkan teknologi yang digunakan untuk mengakses video pembelajaran dan bahan Oleh karena itu, pada siklus kedua, dilakukan perbaikan dengan memberikan bimbingan tambahan mengenai penggunaan teknologi dan cara efektif mengakses materi di luar kelas. Hal ini membantu siswa untuk lebih siap dan merasa lebih nyaman dalam menggunakan platform pembelajaran yang disediakan oleh sekolah (Setiawan, 2. Penerapan model Flipped Classroom juga mendorong pembelajaran yang lebih kolaboratif dan interaktif di dalam kelas. Waktu kelas yang sebelumnya digunakan untuk ceramah, kini digunakan untuk diskusi kelompok dan kegiatan yang lebih berbasis aplikasi materi. Siswa dapat saling berbagi pemahaman mereka tentang topik yang dipelajari, memberikan umpan balik kepada teman-teman sekelas, dan mengembangkan keterampilan sosial mereka. Pembelajaran berbasis diskusi ini juga membantu siswa memahami materi lebih mendalam, karena mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan temantemannya dan mengajukan pertanyaan kepada guru (Teng, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu, model Flipped Classroom terbukti meningkatkan keterampilan menulis siswa. Pada siklus pertama, beberapa siswa menunjukkan kesulitan dalam menulis dan menyusun ide secara jelas. Namun, setelah menerapkan model ini, siswa menjadi lebih percaya diri dalam menulis karena mereka sudah mempelajari materi sebelumnya secara mandiri dan memiliki waktu untuk mendalami konsep-konsep tersebut. Mereka juga dapat berdiskusi dan mendapatkan umpan balik dari teman-teman mereka, yang meningkatkan kualitas tulisan Dengan lebih banyak waktu untuk berpikir dan merencanakan, siswa dapat menyusun ide dan argumen secara lebih terstruktur (Suryani, 2. Pada siklus kedua, dengan perbaikan dalam pengelolaan waktu dan pembagian tugas yang lebih merata, siswa semakin aktif dalam setiap diskusi. Mereka lebih siap untuk menerapkan materi yang telah dipelajari sebelumnya dan dapat memahami berbagai topik dengan lebih baik. Model Flipped Classroom mendorong siswa untuk belajar secara lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka. Mereka menjadi lebih terbiasa untuk mencari informasi dan menguasai materi sebelum kelas, yang meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam mengerjakan tugas dan menghadapi ujian (Ibrahim, 2. Secara keseluruhan, penerapan Flipped Classroom di MI Al-Ma'ruf Denpasar sangat berhasil dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia. Model ini memungkinkan siswa untuk lebih mandiri, terlibat secara aktif dalam pembelajaran, dan meningkatkan keterampilan sosial serta kognitif mereka. Dengan dukungan yang memadai dalam penggunaan teknologi dan pengelolaan kelas yang lebih baik. Flipped Classroom dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan metode pengajaran Bahasa Indonesia, dan menunjukkan bahwa penggunaan model ini dapat memperkaya pengalaman belajar siswa secara lebih bermakna dan menyenangkan (Amri, 2. Dengan implementasi yang tepat, model Flipped Classroom dapat diterapkan lebih luas di berbagai sekolah sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di era digital. Keberhasilan model ini di MI Al-Ma'ruf Denpasar menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis teknologi yang disertai dengan pengelolaan kelas yang baik dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan efektif bagi siswa (Teng, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES