Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Optimalisasi Pemahaman Materi PAI melalui Metode Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Karakter Siswa di SD Negeri 25 Tanjung Beringin Dedek Saputra1. Ija Anggestia Pentami2 1 SD Negeri 25 Tanjung Beringin 2 SLB Husni Murni Jambak Correspondence: dedeksaputra7456@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Islamic Education. Project-Based Learning. Character Development. SD Negeri 25 Tanjung Beringin. Student Engagement. Educational Improvement. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to optimize the understanding of Islamic Education (PAI) material at SD Negeri 25 Tanjung Beringin by applying a project-based learning method. The research focuses on enhancing students' comprehension of PAI topics and fostering character development through active and engaging learning experiences. The study was conducted over two cycles, each involving planning, action, observation, and reflection phases. Data were collected through observations, student assessments, and teacher feedback. The results indicate a significant improvement in students' understanding of PAI material, with increased participation and enthusiasm in learning. The project-based approach allowed students to apply their learning in realworld contexts, leading to better retention and deeper understanding of Islamic values. Moreover, the method successfully promoted characterbuilding skills, including responsibility, teamwork, and critical thinking. This study highlights the effectiveness of project-based learning in improving both academic performance and character education in elementary schools, specifically in the context of PAI at SD Negeri 25 Tanjung Beringin. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa di sekolah dasar. Sebagai mata pelajaran yang mengajarkan nilai-nilai agama dan moral. PAI diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam. Namun, hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap materi PAI masih rendah, terutama dalam hal penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari (Sari, 2. Hal ini menandakan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan belum maksimal dalam mencapai tujuan tersebut. Salah satu tantangan dalam pembelajaran PAI di SD Negeri 25 Tanjung Beringin adalah metode pembelajaran yang masih konvensional. Sebagian besar guru masih menggunakan metode ceramah yang bersifat satu arah, di mana siswa hanya menerima informasi tanpa banyak melibatkan mereka dalam diskusi atau aktivitas praktis. Menurut penelitian oleh Suryani . , pembelajaran yang bersifat pasif seperti ini cenderung membuat siswa kurang tertarik dan tidak menginternalisasi materi yang diberikan. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan metode yang lebih interaktif dan dapat melibatkan siswa secara aktif. Selain itu, sebagian besar siswa di SD Negeri 25 Tanjung Beringin memiliki kesulitan dalam menghubungkan teori yang diajarkan dengan kehidupan nyata mereka. Materi PAI, yang seharusnya memberikan dasar nilai moral dalam kehidupan sehari-hari, kadang terasa sulit Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dipahami jika hanya disampaikan secara teoritis tanpa aplikasinya dalam kehidupan nyata. Penelitian oleh Azizah . menunjukkan bahwa pendekatan yang melibatkan pengalaman langsung dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih aplikatif dan kontekstual sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Salah satu metode yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi PAI adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Metode ini memungkinkan siswa untuk belajar secara langsung melalui pengalaman yang relevan dengan kehidupan Penelitian yang dilakukan oleh Fadilah . menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan keterlibatan siswa, karena mereka diberikan kesempatan untuk bekerja secara kolaboratif dan mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dalam proyek yang nyata. Metode ini dapat mendorong siswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan pendekatan pembelajaran berbasis proyek dalam PAI juga berpotensi untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa. Di dalam proyek, siswa bekerja dalam kelompok, yang memungkinkan mereka untuk saling berbagi pendapat, belajar bekerja sama, serta menyelesaikan masalah bersama. Penelitian oleh Sari . menunjukkan bahwa keterampilan sosial siswa dapat berkembang dengan baik melalui aktivitas kelompok yang Dengan demikian, pembelajaran berbasis proyek tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan karakter dan keterampilan sosial siswa. Meskipun pembelajaran berbasis proyek memiliki banyak potensi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi PAI, beberapa tantangan dalam implementasinya tetap ada. Salah satu kendala yang sering ditemui adalah keterbatasan waktu dan sumber daya yang tersedia di sekolah. Penelitian oleh Yuliana . mengungkapkan bahwa keberhasilan implementasi metode ini sangat bergantung pada kesiapan guru dan fasilitas yang ada. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana metode pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan secara efektif di SD Negeri 25 Tanjung Beringin dengan mempertimbangkan keterbatasan yang ada. Siswa di SD Negeri 25 Tanjung Beringin berasal dari latar belakang yang beragam, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun budaya. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran, terutama dalam hal penyamaan pemahaman dan pengalaman siswa terkait materi PAI. Penelitian yang dilakukan oleh Rahman . menunjukkan bahwa siswa dari latar belakang yang berbeda cenderung memiliki tingkat pemahaman yang berbeda terhadap materi yang diajarkan. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menggunakan metode yang inklusif dan dapat menjangkau seluruh siswa dengan cara yang mudah dipahami. Pembelajaran yang berbasis proyek memungkinkan siswa untuk belajar secara kontekstual, di mana mereka dapat menghubungkan pembelajaran dengan situasi yang mereka hadapi seharihari. Hal ini sesuai dengan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik ketika mereka dapat mengaitkan materi yang dipelajari dengan pengalaman nyata (Munir. Pembelajaran berbasis proyek mendorong siswa untuk aktif berpikir, berkolaborasi, dan berinteraksi dengan lingkungan mereka, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai PAI dalam kehidupan mereka. Guru juga memainkan peran yang sangat penting dalam keberhasilan penerapan metode pembelajaran berbasis proyek. Menurut Faturohman & Suryadi . , guru harus memiliki keterampilan dalam merancang dan mengelola proyek pembelajaran yang relevan dan menarik bagi siswa. Guru juga harus dapat memberikan bimbingan yang tepat kepada siswa selama proses proyek berlangsung. Dalam konteks PAI, guru diharapkan dapat mengaitkan proyek dengan nilai-nilai Islam yang relevan, sehingga siswa tidak hanya belajar tentang teori, tetapi juga mengimplementasikan ajaran Islam dalam tindakan mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Salah satu contoh penerapan metode ini adalah dengan membuat proyek yang berfokus pada nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengatur kegiatan sosial di lingkungan sekolah, mempromosikan kebersihan, atau melakukan kegiatan berbagi dengan sesama. Penelitian oleh Hidayati . menunjukkan bahwa proyek yang melibatkan kegiatan sosial dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pentingnya nilai-nilai agama dalam kehidupan Dengan demikian, proyek yang dirancang dengan tujuan sosial dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi perkembangan karakter siswa. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan melibatkan siswa dalam proyek, mereka akan merasa lebih bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Hal ini tercermin dalam temuan oleh Sari . , yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap tugas dan kegiatan yang mereka lakukan. Dalam pembelajaran PAI, rasa tanggung jawab ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan penerapan nilai-nilai Islam yang mengajarkan pentingnya amanah, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Namun, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mengukur keberhasilan dari metode pembelajaran berbasis proyek dalam konteks PAI. Penelitian oleh Amalia . menunjukkan bahwa penilaian terhadap pembelajaran berbasis proyek harus memperhitungkan tidak hanya aspek hasil, tetapi juga proses pembelajaran, seperti kerja sama, kreativitas, dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, penilaian akan dilakukan secara holistik, dengan mempertimbangkan berbagai aspek keterampilan yang dikembangkan selama pembelajaran berbasis proyek. Penting untuk dicatat bahwa implementasi metode pembelajaran berbasis proyek membutuhkan keterlibatan aktif dari semua pihak, baik guru, siswa, maupun orang tua. Sebuah penelitian oleh Suryani . menyatakan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendukung proyek pembelajaran di rumah dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan memberikan dampak yang lebih besar terhadap pemahaman mereka terhadap materi PAI. Dengan dukungan yang tepat, pembelajaran berbasis proyek dapat lebih efektif dalam mencapai tujuan Secara keseluruhan, meskipun pembelajaran berbasis proyek memiliki tantangan tersendiri dalam implementasinya, metode ini terbukti sangat potensial dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi PAI, serta mengembangkan keterampilan sosial dan karakter siswa. Berdasarkan penelitian ini, disarankan agar metode ini diterapkan secara lebih luas di SD Negeri 25 Tanjung Beringin, dengan penyesuaian terhadap kondisi yang ada, seperti ketersediaan sumber daya dan waktu. Hal ini akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan PAI di sekolah dasar. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri 25 Tanjung Beringin. PTK dipilih karena dapat memberikan ruang untuk perbaikan berkelanjutan terhadap proses pembelajaran dalam siklus yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pendekatan kualitatif dipilih karena fokus penelitian ini adalah untuk memahami secara mendalam proses pembelajaran dan interaksi yang terjadi selama penerapan metode pembelajaran yang baru. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen hasil pembelajaran siswa (Creswell, 2. Subjek penelitian ini terdiri dari 30 siswa kelas IV di SD Negeri 25 Tanjung Beringin, yang dipilih berdasarkan hasil observasi awal yang menunjukkan rendahnya pemahaman siswa terhadap materi PAI. Siswa-siswa ini mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep dasar dalam PAI, seperti nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini juga Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 melibatkan guru PAI sebagai subjek yang merancang dan menerapkan strategi pembelajaran. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap aktivitas kelas, wawancara dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen berupa hasil evaluasi siswa setelah pembelajaran (Sukardi. Pengumpulan data dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, guru merancang strategi pembelajaran berbasis proyek yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi PAI. Pada tahap pelaksanaan, guru menerapkan strategi yang telah dirancang, dan selama tahap observasi, peneliti mengamati dinamika kelas dan perkembangan siswa dalam memahami materi. Tahap refleksi dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan metode yang diterapkan, serta untuk merencanakan perbaikan pada siklus berikutnya (Kemmis & McTaggart, 2. Data yang diperoleh dari siklus pertama dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif Hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dievaluasi untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi dalam pemahaman siswa terhadap materi PAI dan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Proses refleksi dilakukan setelah setiap siklus untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan dari strategi pembelajaran yang diterapkan, serta untuk merencanakan perbaikan yang lebih efektif pada siklus berikutnya. Analisis ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keberhasilan dan tantangan dalam penerapan metode pembelajaran berbasis proyek di kelas (Sugiyono, 2. Pada akhir penelitian, peneliti menyusun laporan yang berisi hasil temuan terkait efektivitas penggunaan metode pembelajaran berbasis proyek dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran PAI. Peneliti juga memberikan rekomendasi terkait praktik pembelajaran yang lebih baik untuk diterapkan di SD Negeri 25 Tanjung Beringin atau lembaga pendidikan serupa. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan kualitas pembelajaran PAI, khususnya dalam konteks pembelajaran berbasis proyek di sekolah dasar (Suryani, 2. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran berbasis proyek pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dasar memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dasar agama. Sebelum tindakan, sebagian besar siswa menunjukkan pemahaman yang terbatas dan lebih berfokus pada hafalan tanpa kaitan dengan kehidupan sehari-hari. Hasil observasi dan evaluasi pembelajaran siklus pertama memperlihatkan adanya peningkatan, meskipun belum optimal. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyebut bahwa pembelajaran yang lebih aplikatif dapat membantu internalisasi nilai agama (Azizah, 2. Temuan selanjutnya menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa meningkat ketika mereka diberikan tugas proyek yang relevan dengan nilai-nilai PAI dan kehidupan nyata. Misalnya, siswa diminta merancang kegiatan sosial di sekolah yang mencerminkan nilai kejujuran atau tanggung jawab. Aktivitas tersebut mendorong interaksi antar siswa serta refleksi terhadap nilai yang dipelajari. Penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa strategi yang melibatkan siswa dalam konteks nyata dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman mereka (Strategi Guru PAI, 2. Salah satu aspek yang membaik adalah keterampilan kerja sama siswa dalam kelompok saat menyelesaikan proyek pembelajaran. Sebelumnya, banyak siswa yang cenderung bekerja sendiri atau menunggu instruksi guru. Setelah metode berbasis proyek diterapkan, kelompok kerja lebih aktif berdiskusi, membagi tugas, dan saling membantu. Hal ini mendukung temuan bahwa aktivitas kolaboratif bisa memperkuat pemahaman dan internalisasi nilai agama (Fadilah, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Lebih lanjut, siswa mulai menunjukkan perubahan sikap praktis terhadap nilai-nilai PAI. Contohnya, dalam tindak tanduk sehari-hari di kelasAiseperti berbagi, bergiliran, dan mengoreksi temanAitercatat adanya peningkatan. Perubahan sikap ini menandakan bahwa pembelajaran tidak hanya bersifat kognitif tetapi telah memasuki ranah afektif dan Hal ini relevan dengan literatur yang menyebut bahwa pembelajaran PAI harus menyentuh ketiga ranah tersebut agar efektivitas tercapai (Pengembangan PAI, 2. Meskipun demikian, penelitian juga menemukan tantangan. Salah satunya adalah sebagian siswa yang masih belum aktif dalam kelompok proyek karena sifat pendiam atau rendahnya rasa percaya diri. Ini menyebabkan distribusi tugas dan partisipasi kelompok tidak merata. Literasi menunjukkan bahwa tantangan kepemimpinan kelompok dan inklusi siswa pemalu dalam metode kolaboratif adalah hal yang perlu diantisipasi (Deep Learning PAI, 2. Tantangan lain yaitu keterbatasan sarana dan sumber daya di sekolah yang mempengaruhi kualitas proyek. Beberapa proyek yang direncanakan tidak dapat terlaksana optimal karena keterbatasan alat maupun dukungan material. Hal ini konsisten dengan penelitian yang mengemukakan bahwa implementasi metode inovatif dalam PAI sering tertahan oleh aspek fasilitas dan manajemen kelas (Model PAI BP, 2. Pengamatan menunjukkan bahwa secara bertahap guru mulai mengubah perannya dari Aupemberi materiAy menjadi Aufasilitator proyekAy. Guru tidak hanya menjelaskan materi, tetapi mengajak siswa merancang proyek, memfasilitasi diskusi, memonitor kemajuan kelompok, dan memberikan refleksi akhir. Perubahan peran ini selaras dengan strategi pembelajaran PAI yang direkomendasikan dalam literatur (Strategi Pembelajaran PAI SD, 2. Proses refleksi setiap akhir siklus menjadi sangat penting. Guru dan siswa bersama melakukan evaluasi terhadap proses proyek, kendala yang muncul, dan solusi untuk siklus berikutnya. Proses refleksi ini mendukung peningkatan kualitas pembelajaran karena memungkinkan perbaikan berkelanjutan. Studi terdahulu juga menyebutkan bahwa refleksi dalam pembelajaran PAI berkontribusi pada peningkatan penghayatan nilai (Implementasi Kurikulum Merdeka PAI, 2. Temuan juga menunjukkan bahwa pengukuran hasil tidak hanya dari nilai tes, tetapi pengamatan sikap dan keterlibatan siswa dalam proyek. Penggunaan instrumen yang mengevaluasi aspek afektif dan psikomotorik membantu guru memahami sejauh mana internalisasi nilai terjadi. Literatur menyebut bahwa evaluasi holistik perlu diterapkan dalam pembelajaran PAI agar hasilnya bermakna (Pengembangan PAI, 2. Data menunjukkan bahwa siklus kedua memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan siklus Peningkatan pemahaman konsep, partisipasi, dan nilai sikap lebih nyata. Ini menunjukkan bahwa penerapan metode yang diperbaiki berdasarkan refleksi sebelumnya mampu mendongkrak hasil pembelajaran. Temuan ini sejalan dengan konsep tindakan kelas berkelanjutan dalam literatur PTK (Strategi Guru PAI, 2. Siswa menyatakan melalui wawancara bahwa mereka merasa lebih senang dan termotivasi ketika belajar PAI melalui proyek. Mereka merasa materi lebih hidup dan dapat diterapkan, bukan hanya dihafal. Motivasi yang lebih tinggi ini berpotensi menjaga keberlanjutan pembelajaran nilai di luar kelas. Hal ini konsisten dengan studi yang menemukan bahwa inovasi metode pembelajaran agama meningkatkan motivasi siswa (Inovasi dan Tradisi PAI. Hubungan antara proyek pembelajaran dan karakter siswa juga ditemukan. Guru melaporkan bahwa siswa mulai menunjukkan tanggung jawab yang lebih tinggi dalam kelompok, tepat waktu menyerahkan hasil proyek, dan lebih menghargai teman kelompoknya. Ini relevan dengan tujuan PAI sebagai pembentukan karakter religius dan moral siswa (Pengembangan Pola PAI dan Karakter, 2. Orang tua siswa juga memberikan umpan balik positif: mereka melihat anak-anak lebih aktif berdiskusi tentang aktivitas sekolah dan proyek di rumah, serta mulai menerapkan nilai-nilai Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 yang dipelajari di lingkungan keluarga. Dukungan orang tua ini memperkuat pembelajaran dan memfasilitasi transfer nilai dari sekolah ke rumah. Literatur menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua adalah faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran nilai agama (Pengembangan Pola PAI dan Karakter, 2. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa metode pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan pemahaman materi PAI, partisipasi siswa, serta internalisasi nilai-nilai agama di sekolah dasar. Namun untuk mencapai hasil yang optimal, dibutuhkan pengelolaan kelompok yang inklusif, fasilitas yang memadai, refleksi rutin, dan dukungan orang tua serta sekolah. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap praktik pembelajaran PAI dan dapat menjadi acuan untuk penelitian dan implementasi lebih lanjut di sekolah dasar. CONCLUSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran berbasis proyek dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri 25 Tanjung Beringin berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, serta memperkuat keterlibatan dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi, ditemukan bahwa siswa yang terlibat dalam proyek pembelajaran lebih aktif berpartisipasi, dapat mengaitkan konsep-konsep PAI dengan kehidupan sehari-hari, dan mulai menerapkan nilainilai agama dalam tindakan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara lebih aplikatif dan kontekstual, yang sesuai dengan teori konstruktivisme yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam proses pembelajaran. Selain itu, metode ini juga berhasil meningkatkan keterampilan sosial siswa, seperti bekerja sama dalam kelompok, berbagi tugas, dan menghargai pendapat teman. Penerapan pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa untuk belajar dalam konteks kolaboratif, yang mendukung pengembangan keterampilan sosial mereka. Proyek-proyek yang dirancang mengajarkan mereka tanggung jawab, komunikasi, dan empati, yang merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Meskipun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu dan sumber daya yang mempengaruhi kelancaran pelaksanaan proyek. Beberapa siswa juga mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan format pembelajaran ini, terutama yang lebih pendiam atau kurang percaya diri. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran berbasis proyek, perlu ada perhatian lebih terhadap pengelolaan waktu, distribusi tugas yang adil, serta dukungan dari orang tua dan pihak sekolah. Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa metode pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI di SD, serta membentuk karakter siswa yang lebih baik. REFERENCES