Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI TEMU KUNCI (Boesenbergia rotunda L. Mans. TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT Sri Mulyaningsih*. Yolanda Anastasya. Endang Darmawan Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Ahmad Dahlan Email: sri. mulyaningsih@pharm. Artikel diterima: 04 April 2024. Disetujui: 17 Oktober 2024 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Minyak atsiri temu kunci (Boesenbergia rotunda L. (Mans. ) dilaporkan mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus tetapi belum spesifik terhadap bakteri penyebab jerawat. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kandungan kimia dan aktivitas antibakterinya terhadap S. dan Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Minyak atsiri yang diisolasi dengan distilasi uap dan air, dihitung rendemen, indeks bias dan diamati Identifikasi komponen minyak atsiri dilakukan dengan gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS). Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi dan mikrodilusi cair untuk penetapan kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM). Minyak atsiri temu kunci berwarna jenih, bau khas aromatis, berasa khelat dan agak pahit dengan rendemen 1,19%. Indeks bias sebesar 1,4785 C 0,0001. Identifikasi GC-MS menunjukkan 5 komponen utama minyak temu kunci adalah camphor . ,70%), ocimene . ,71%), eucalyptol . ,26%), geraniol . ,81%) dan methyl cinnamate . ,16%). Uji antibakteri menunjukkan diameter zona hambatan paling besar pada perlakuan minyak temu kunci konsentrasi 20% diikuti 10%, 5% dan 2,5%. KHM minyak temu kunci terhadap S. aureus dan S. epidermidis sebesar 0,625% dan terhadap P. sebesar 1,25%. Nilai KBM minyak temu kunci diperoleh dua kali lebih besar dari nilai KHM. Aktivitas antibakteri minyak atsiri temu kunci yang besar menjadikan potensial untuk dikembangkan menjadi sediaan anti jerawat. Kata kunci: antibakteri, jerawat. KBM. KHM, minyak atsiri, temu kunci ABSTRACT Essential oil of fingerroot (Boesenbergia rotunda L. (Mans. ) have antibacterial activity against Staphylococcus but was not specific against acnecausing bacteria. The aim of this study was to determine its chemical content and antibacterial activity of the fingerroot oil against S. epidermidis, and Propionibacterium acnes that cause acne. The essential oil was isolated by steam and water distillation. The organoleptic, yield, and refractive index were observed. Gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) carried out the identification of Sri Mulyaningsih, dkk | 303 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 essential oil components. Antibacterial activity of the oil was determined with the diffusion method. Broth microdilution methods was used for determination of the minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum bactericide concentration (MBC). Fingerroot essential oil was clear in color, aromatic odor, chelate taste, and slightly bitter with a yield of 1. The refractive index was 1. 4785 C 0. GC-MS identification showed 5 main components of fingerroot oil were camphor . 70%), ocimene . 71%), eucalyptol . 26%), geraniol . 81%), and methyl cinnamate . 16%). The diameter of the zone of inhibition of bacterial growth was greatest at 20% concentration of fingerroot oil, followed by 10%, 5%, and 2. MIC value of fingerroot oil against S. aureus and S. epidermidis was 0. 625% and against P. acnes was 1. The MBC value of fingerroot oil was doubled as the MIC value. The great antibacterial activity of fingerroot essential oil makes it potential to be developed into anti-acne preparations. Keywords: acne, antibacterial activity. Boesenbergia rotunda. MIC. MBC, essential oil PENDAHULUAN Jerawat atau jerawat diatasi dengan terapi topikal dan terapi sistemik . ntibiotik atau Namun, penggunaan obat menduduki prevalensi ke-8 menurut The Global Burden of Disease pada potensi efek samping. Salah satu efek tahun 2010 (Hay et al. , 2. samping jangka panjang misalnya Sementara di Indonesia, pada tahun resistensi antibiotik terhadap bakteri 2009 dijumpai 90% kasus jerawat jerawat (Kapoor and Saraf, 2. (Afriyanti, 2015. Hafianty. Batubara Saat ini, minyak atsiri banyak and Lingga, 2. Sebagian besar dimanfaatkan untuk produk perawatan Salah satu minyak atsiri yang psikologis khususnya pada remaja (Halvorsen et al. , 2. Timbulnya pengatasan jerawat secara empiris jerawat dapat dipicu oleh beberapa adalah temu kunci. Penelitian ini Staphylococcus difokuskan pada aktivitas antibakteri minyak atsiri temu kunci (MATK) yang dikenal dengan nama latin Propionibacterium (McLaughlin et al. , 2. Umumnya Boesenbergia Roxb Sri Mulyaningsih, dkk | 304 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 terhadap bakteri penyebab jerawat. Bahan utama yang digunakan sementara untuk ektrak etanol temu dalam penelitian ini adalah rimpang temu Temu Kalibawang. Kecamatan Kulonprogo diidentifikasi di Laboratorium Biologi antibakteri terhadap berbagai macam Farmasi, bakteri serta mempunyai aktivitas Yogyakarta. anti-inflamasi digunakan: S. aureus ATCC 25293 and S. (Chahyadi et al. , 2. MATK d-borneol. Mada Mikroorganisme ATCC 6919. Media: Mueller Hinton d-pinen- Broth (Himedi. and Mueller Hinton Agar Gadjah epidermidis ATCC 12228 dan P. seskuiterpen, zingiberene, kurkumin. Universitas (Himedi. Alat-alat Abbe prenypropanoid (Chahyadi et al. refraktometer (Atag. GC-MS (QP2010S Berdasarkan penelitian yang Shimadz. , (Monmout. , mikropipet (Socorex Acur. Soegianto . bahwa kandungan autoklaf (Shena. , inkubator (Binde. , dan monoterpen dalam MATK memiliki oven (Binde. aktivitas antibakteri terhadap bakteri Determinasi Tanaman B. Christiana MATK Identifikasi tanaman dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. antiinflamasi yang kuat. Sementara verifikasi sampel dilakukan (Veerasophon. Oleh anti-jerawat Sripalakit Saraphanchotiwitthaya, 2. Farmakope Herbal Indonesia . (Depkes RI. METODE PENELITIAN Pengumpulan Alat dan Bahan Sri Mulyaningsih, dkk | 305 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Rimpang B. rotunda diperoleh Kulonprogo Yogyakarta 37oC selama 18-24 jam (Hasan. Mulyaningsih and Setianto, 2. kemudian dilakukan pencucian, dan Penentuan KHM dilakukan dengan pengirisan dan dikeringkan. menggunakan metode mikrodilusi cair Isolasi dan Identifikasi Minyak pada konsentrasi terbesar 5% dan Atsiri (Organoleptik, indeks bias, diencerkan bertingkat dua kali lipat. GC-MS). Mikropelat yang sudah diisi masing- Isolasi minyak atsiri dilakukan masing minyak dalam seri kadar dengan menggunakan metode distilasi tertentu kemudian dicampur dengan uap dan air. Minyak yang diperoleh diinkubasi 37oC selama 24 jam. KHM organoleptik dan indeks bias untuk ditentukan dari konsentrasi terkecil melihat kemurniannya. Identifikasi yang dapat menghambat pertumbuhan komponen minyak atsiri dilakukan bakteri ditandai dengan kejernihan. Sementara chromatography-mass KBM Selanjutnya konsentrasi terkecil minyak yang (GC-MS). mana bakteri tidak tumbuh setelah Uji aktivitas antibakteri MATK disub kultur pada media Mueller terhadap bakteri penyebab jerawat. Hinton Agar Ramadhan Uji metode difusi dan mikrodilusi. Uji (Mulyaningsih. Putranti. Kontrol positif digunakan vankomisin dan kontrol negatif DMSO sebesar metode difusi dilakukan terhadap 2,5%. Analisis Data MATK pada konsentrasi 20, 10, 5, 2,5 Data diameter zona hambatan dan 1,25%. Media Mueller Hinton dilakukan analisis statistik dengan yang sudah ditanami dengan suspensi SPSS versi 20. 0 menggunakan uji bakteri dilubangi dan diisi dengan Kruskal minyak MATK 50 AAL. Diameter zona dengan posthoc uji Mann Whitmey. Wallis hambatan diukur setelah inkubasi Sri Mulyaningsih, dkk | 306 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 HASIL DAN PEMBAHASAN Organoleptik. Rendemen Indeks Bias MATK Minyak atsiri temu kunci yang diperoleh berwarna jenih transparan, berbau khas temu kunci dan berasa 1,19%. Hasil Tabel 1. Pengamatan organoleptik, rendemen dan indeks bias MATK Organoleptik Warna Pengamatan Jernih sedikit Khas bau temu kunci Khelat dan pahit 1,19% v/b 1,4785 A 0,0001 Bau Rasa Rendemen Indeks bias Komponen MATK tersusun atas rendemen ini lebih besar dibandingkan teroksigenasi dan tidak teroksigenasi. dengan peneltian sebelumnya . Kandungan kimia dalam penelitian ini Indeks bias minyak temu kunci sejalan dengan komponen minyak diperoleh 1,4785 (Tabel . Nilai ini temu kunci yang tumbuh di Malaysia, relatif sama dibandingkan dengan Indonesia dan Thailand seperti yang penelitian sebelumnya yaitu sebesar 1,4785-1,4806 (Putranti and Bachri, mengandung camphor . ,1Ae32,1%). Christiana and Soegianto, 2020. ,2Ae26,0%), (E)--ocimene Zainita, 2. ,0Ae23,7%). Komponen kimia dan Komposisi 13,9%), camphene . ,4Ae6,0%) and MATK methyl cinnamate . ,2Ae5,8%) (Jantan Hasil pemisahan komponen 1,8-cineole . ,5Ae et al. , 2001. Chahyadi et al. , 2014. MATK dengan kromatografi gas Zainita, menunjukkan ada 18 puncak seperti Apinundecha pada Gambar 1. Hasil identifikasi 18 komposisi minyak temu kunci yang puncak tersebut dapat dilihat pada agak berbeda dengan hasil penelitian Tabel 2. Adapun 5 komponen yang ini, yaitu tersusun atas -ocimene paling dominan pada MATK adalah . ,73%) sebagai komponen utama . ,70%), diikuti dengan geraniol . ,29%) dan . ,71%), . ,26%), champor . ,98%) (Apinundecha et , 2. Beberapa faktor yang dapat . ,81%) cinnamate . ,16%). Akan . mempengaruhi perbedaan komponen dan komposisi minyak atsiri adalah Sri Mulyaningsih, dkk | 307 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 fisiologis dan lingkungan. Faktor infeksi kulit seperti jerawat dan abses fisiologis seperti musim panen yang (Eso. Mulyawati and Rahmawati, kimia yang berbeda. Sebaliknya, menyebabkan infeksi kulit ringan faktor lingkungan disebabkan oleh yang disertai dengan menimbulkan variasi tanah, dan ketinggian yang pembengkakan . seperti jerawat berbeda (Apinundecha et al. , 2023. (Fardani Mulyaningsih. Penelitian Ramadhan Apriliani. Putranti, 2. bahwa MATK lebih aktif untuk semua Aktivitas Antibakteri MATK bakteri Gram-positif (S. aureus dan Uji aktivitas antibakteri MATK Bacillus diujikan terhadap bakteri S. terhadap bakteri Gram-negatif yang epidermidis dan P. Ketiga dipilih (Pseudomonas aeruginosa dan Escherichi. (Baharudin. Hamid and Susanti, 2. Gambar 1. Kromatogram gas minyak atsiri temu kunci menghasilkan 18 puncak. Tabel 2. Hasil identifikasi komponen penyusun minyak atsiri temu kunci dengan GC-MS Puncak ke1 Waktu retensi 15,157 15,557 16,234 17,532 19,297 Luas Area (%) 0,45 3,86 0,60 16,26 Jenis Komponen Tricyclene Alpha-Pinene Camphene Myrcene Eucalyptol Sri Mulyaningsih, dkk | 308 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Puncak ke6 Waktu retensi 19,626 20,162 21,117 21,489 22,434 23,427 23,691 24,196 24,816 25,075 26,322 26,923 30,460 Luas Area (%) 24,71 0,37 2,65 0,52 0,86 1,12 0,03 14,81 0,15 4,16 Jenis Komponen Cis-Ocimene -terpinene Alpha. -terpinolene 1,6-Octadien-3-ol, 3,7-dimethylBeta. -Ocimene-X Camphor, (. /-. 3-Methylcamphenilol Endo-Borneol Alpha. -Terpineol Androstane-3,17-Dione Geraniol E-Citral Methyl Cinnamate Gambar 2. Hasil uji aktivitas antibakteri minyak temu kunci terhadap S. epidermidis dan P. acnes dengan metode difusi Tabel 3. Diameter zona hambatan minyak atsiri temu kunci terhadap S. epidermidis dan P. Konsentrasi Rata-rata Diameter Zona Hambat A SD . 13,1 A 1,82abefg 21,63 A 1,15abdefg 16,86 A 3,55abefg 11,3 A 1,17abfg 16,63 A 2,05abcefg 13,16 A 1,50abcefg 10,06 A 0,50 12,65 A 2,33 10,70 A 0,79abcdfg 9,3 A 0,70 10,06 A 1,50 8,73 A 0,80abcdef 8,53 A 0,50 8,43 A 0,98 7,73 A 1,20abcde 27,06 A 0,92 27,43 A 0, 25,06 A 1,28bcdefg 0 A 0,0 0 A 0,0 0 A 0,0acdefg Kategori Kuat Kuat Kuat 2,5% Sedang 1,25% Sedang Kontrol Positif Kontrol Negatif Keterangan : a: berbeda signifikan terhadap kontrol positif b: berbeda signifikan terhadap kontrol negatif c: berbeda signifikan terhadap konsentrasi 20% d: berbeda signifikan terhadap konsentrasi 10% e: berbeda signifikan terhadap konsentrasi 5% f: berbeda signifikan terhadap konsentrasi 2,5% g: berbeda signifikan terhadap konsentrasi 1,25% Sri Mulyaningsih, dkk | 309 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 3 menunjukkan bahwa MATK pada konsentrasi 20%, 10% menghambat pertumbuhan S. dan 5% dapat menghambat S. epidermidis dan P. acnes dengan epidermidis dan P. acnes dengan nilai KHM berturut-turut sebesar 0,63, diameter zona hambatan yang berkisar 0,31, dan 0,02 mg/mL (Rahman. Yan antara 10-20 mm, sehingga aktivitas antibakterinya temasuk kategori kuat antibakteri terhadap bakteri yang lain (Hamzah et al. , 2. Diameter zona juga telah dilaporkan (Jitvaropas et al. ditunjukkan MATK pada konsentrasi 20% diikuti 10%, 5% dan seterusnya Gambar Rukayadi. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan antibakteri yang disebabkan oleh temu Aktivitas Tabel 4. Nilai KHM dan KBM minyak atsiri temu kunci terhadap bakteri penyebab jerawat Bakteri MATK (%) KHM KBM 0,625 1,25 Kontrol positif (%) KHM KBM 0,008 0,016 0,625 1,25 0,008 0,008 1,25 0,008 0,008 kunci dengan kontrol negatif . <0,. Aktivitas antibakteri kontrol positif . menunjukkan aktivitas yang lebih besar dan signifikan dengan semua perlakuan yang lain Tabel 4 menunjukkan nilai KHM MATK terhadap S. aureus dan epidermidis sebesar 0,625%, dan terhadap P. acnes menunjukkan KHM 1,25%. Sementara KBM MATK terhadap S. aureus dan S 1,25% terhadap P. acnes sebesar 2,5%. Penelitian lain menggunakan ekstrak pilosebasea yang disebabkan oleh . <0,. Jerawat penumpukan bahan keratin. Kondisi ini umumnya bermanifestasi dengan papula, pustule atau nodul terutama di wajah, meski bisa juga menyerang lengan atas, badan dan punggung (Chahyadi et al. , 2. Mekanisme kerja minyak atsiri temu kunci pada sel bakteri sangat kuat karena kemampuannya untuk Sri Mulyaningsih, dkk | 310 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 9. Oktober 2024, 303-314 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 KESIMPULAN (Chahyadi et al. , 2. Antimikroba Minyak mempunyai aktivitas antibakteri yang dalam dan besar terhadap bakteri S. merusak struktur membran sel. Selain epidermidis dan P. acnes sehingga itu. MATK ini dapat merusak dinding berpotensi besar untuk dikembangkan sel bakteri sehingga menyebabkan menjadi sediaan anti jerawat. mereka berdifusi ke keluarnya material intraseluer yaitu asam nukleat, protein dan ion-ion UCAPAN TERIMA KASIH intraseluler lainnya (Miksusanti et al. Terima kasih kepada LPPM Selain itu, kehadiran oksigen Universitas Ahmad Dahlan (PD-058/ dalam kerangka keton, seperti L- SP3/LPPM/UAD/Vi/2. antibakteri (Baharudin. Hamid and Susanti, 2. Aktivitas MATK terhadap bakteri penyebab jerawat MATK potensial untuk dikembangkan suatu sediaan yang sesuai untuk obat Sediaan yang baik akan mampu menahan minyak atsiri supaya Selain mempunyai tekstur yang halus dan lama menenpel pada kulit yang berjerawat (Hasrawati. Hasyim and Irsyad, 2016. Xavier-Junior et al. DAFTAR PUSTAKA