62 REPRESENTASI BUDAYA JAWA DAN BARAT DALAM NOVEL RAHVAYANA KARYA SUJIWO TEJO Nuzulul Hidayah. Yarno. Panji Hermoyo Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya nuzululhidayah18@gmail. ABSTRAK Permasalahan dalam penelitian ini adalah representasi budaya Jawa dan Barat serta akulturasi budaya Jawa dan Barat dalam novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi budaya Jawa dan Barat serta akulturasi budaya Jawa dan Barat dalam novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan membaca novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo, menginventarisasi data, mereduksi data, menganalisis data, dan memberi simpulan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa representasi budaya Jawa dalam novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo menampilkan berbagai sikap, adat dan ritual sebagai suatu budaya masyarakat Jawa, seperti upacara kematian. Panggih, dan Tedak Siti. Representasi budaya Barat yang terdapat dalam novel ini meliputi sikap individualistik yang tercermin dalam pemakai budaya Barat. Gaya hidup bebas serta cara berpikir dan bertindak yang mengutamakan sikap disiplin. Sedangkan akulturasi budaya Jawa dan Barat dalam novel ini di antaranya terjadinya seks bebas, gaya hidup, dan tafsir mimpi yang berkembang di Jawa dan Barat. Kata kunci: Barat, budaya. Jawa. Rahvayana, representasi. Sujiwo Tejo PENDAHULUAN Pada hakikatnya sastra merupakan hasil ide, pengalaman, pikiran, ataupun perasaan seseorang yang dituangkan dalam bentuk tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah. Sastra bisa dijadikan sebagai wadah untuk menggambarkan realita kehidupan masyara-kat dengan menggunakan alat bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain. Selain untuk menggambarkan realitas kehidupan masyarakat, sastra juga diharapkan dapat memberikan hiburan untuk para penikmatnya. Nurgiyantoro . menyimpulkan bahwa Aimembaca sebuah karya sastra fiksi berarti menikmati cerita dan menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batinAn. Proses imajinatif tiap-tiap penga-rang dapat berbeda dalam mencitakan sebuah karya sastra. Hal tersebut sesyau dengan pernyataan Waluyo . bahwa karya STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 sastra hadir sebagai wujud nyata imajinatif kreatif seorang sastrawan dengan proses yang berbeda antara pengarang yang satu dengan pengarang yang lain, terutama dalam penciptaan cerita fiksi. Perbedaan itu meliputi beberapa hal di antaranya metode, munculnya proses kreatif dan cara mengekspresikan apa yang ada dalam diri pengarang hingga bahasa penyampaian yang digunakan. Sastra dan kebudayaan, khususnya peradaban berkaitan secara dialektik. Dengan alat bahasa, baik lisan maupun tulisan, baik bahasa sehari-hari maupun ilmiah, sama dengan karya tulis yang lain, sastra berfungsi untuk melegitimasikan berbagai aspek kultural yang dihasilkan melalui interaksi manusia. Tanpa bahasa pada dasarnya kehidupan ini dan dengan demikian kebudayaan itu sendiri tidak ada. Sebaliknya, kebudayaan, sebagai hasil aktivitas manusia itu sendiri menjadi sarana utama untuk Pada gilirannya tanpa aktivitas budaya, karya sastra pun tidak ada. Dengan singkat, sastra dan kebudayaan bersifat saling melengkapi (Ratna, 2011:. Selain berhubungan dengan bahasa dan budaya, karya sastra juga tak lepas kaitannya dari latar belakang pengarang. Seorang pengarang dapat menciptakan karya sastra melalui pengamatan dari keadaan ataupun kebudayaan dari masyarakat yang Disadari atau tidak, terdapat suatu hubungan atau keterkaitan antara karya sastra dengan realitas kehidupan masyarakat. Baik kehidupan pribadi pengarang maupun kehidupan masyarakat di sekitar pengarang. Seorang pengarang yang wawasan budayanya yang kuat akan menyertakan suatu budaya yang ada di sekelilingnya ke dalam proses imajinatifnya dalam menciptakan suatu karya sastra. Pada dasarnya budaya merupakan sikap, kepercayaan, cara berpikir, dan bertindak dalam suatu anggota komunitas atau masyarakat. Hubungan antara kebudayaan dan masyarakat amatlah erat, karena kebudayaan adalah hasil dari suatu golongan manusia atau ma-syarakat yang mengadakan suatu aturan atau nilai yang menentukan perbuatan yang dikehendaki. Setiap apa pun yang dilakukan manusia sebenarnya ada aturan tersendiri dalam suatu wilayah masyarakat yang ditempati. Tumanggor dkk . menyimpulkan bahwa budaya adalah konsep, keyakinan, nilai, dan norma yang dianut masyarakat untuk memengaruhi perilaku mereka dalam upaya menjawab tantangan kehidupan yang berasal dari alam sekelilingnya. Dewasa ini, untuk menyampaikan suatu makna, seseorang dapat menggunakan berbagai macam cara. Seseorang dapat mengatakan secara langsung apa yang ingin ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 Namun, tidak sedikit juga orang ingin menyampaikan sesuatu lewat tanda atau simbol untuk merepresentasikan makna yang ingin dikatakan. Suatu makna dapat disampaikan dengan memanfaatkan suatu budaya atau lebih. Barker . menyimpulkan bahwa representasi adalah sebuah tindakan simbolisme yang mencerminkan dunia objek yang independen. Akan tetapi, bagi kajian budaya, representasi bukan hanya merefleksikan dalam bentuk simbolis AisesuatuAn, melainkan representasi merupakan perjuangan untuk menyampaikan suatu makna. Salah satu pengarang yang terkenal dengan wawasan budaya yang luas adalah Agus Hadi Sudjiwo atau yang lebih sering disebut dengan Sudjiwo Tejo. Sudjiwo Tejo merupakan seorang sastrawan yang juga dikenal dengan seorang dalang dan bahkan disebut seorang budayawan. Salah satu karya terbarunya adalah novel Rahvayana. Novel Rahvayana adalah suatu novel wayang kontemporer yang bersumber dari kisah Ramayana. Ramayana adalah cerita dari India yang mengisahkan seorang Putera Mahkota kerajaan Ayodya, yang bernama Raden Rama Wijaya yang berhasil memenangkan sayembara untuk mendapatkan seorang puteri yang cantik jelita bernama Dewi Sinta. Dia seorang puteri raja negeri Mantili yaitu Prabu Janaka. sisi lain, terdapat juga Raja Alengka yaitu Prabu Rahwana yang sedang kasmaran dengan Dewi Widowati. Dari penglihatan Rahwana. Sinta dianggap sebagai titisan Dewi Widowati yang selama ini diimpikannya. Salah satu keunikan yang ada pada novel Rahvayana ini adalah Rahwana dan Sinta dapat hidup dalam zaman yang berbeda-beda. Kadang mereka hidup berabadabad yang lalu, tapi kadang juga mereka hidup di zaman modern, di mana Rahwana dan Sinta sudah menggunakan fasilitas seperti SMS. BBM, dan lainnya. Mereka juga bisa hidup di zaman yang berbeda. Sinta bisa hidup di zaman Cleopatra . , dia juga bisa hidup di zaman ketika Tartar menyerang Babilonia . , bahkan dia bisa berada di Kallang Teatre untuk menyaksikan pementasan Les Miserables . Tidak hanya Sinta. Rahwana pun demikian, dia bisa hidup di zaman Audrey Hepburn . , dia juga sempat menghadiri acara peresmian Burj Dubai, gedung berlantai 169 yang terkenal . Novel diteliti, karena Warna budaya tersebut adalah budaya Jawa dan budaya Barat STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 seperti yang telah dijelaskan di atas ketika Rahwana dan Sinta bahkan bisa hidup di berbagai zaman dan negara, meskipun novel ini menggunakan cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini yang sebenarnya merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia khusunya budaya Jawa, terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabharata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di Pulau Jawa. Hal ini menjadi sebuah tolok ukur bagi peneliti untuk mengembangkannya menjadi sebuah konteks permasalahan yang menarik untuk dianalisis, karena representasi budaya Jawa dan Barat sangat terlihat sebagai suatu upaya untuk menyampaikan sebuah makna yang ada dalam cerita. Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk me-lakukan penelitian dengan judul AiRepresentasi Budaya Jawa dan Budaya Barat dalam Novel Rahvayana Karya Sujiwo TejoAn. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa model, seperti studi kasus, biografi, fenomenologi, analisis teks, etnografi, dan seterusnya (Muhammad, 2011:. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah novel Rahvayana karya Sudjiwo Tejo dan objek penelitian adalah representasi budaya Jawa dan Barat dalam novel tersebut. Langkah pengumpulan data yang dilakukan adalah membaca novel, menginventarisasi data, mereduksi data, menganalisis data, dan member simpulan. Selanjutnya, teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data model Miles dan Huberman . alam Sugiyanto, 2012:. yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. PEMBAHASAN Data dari penelitian terhadap novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo ini terdiri atas tiga data yaitu . representasi budaya Jawa, . representasi budaya Barat, dan . akulturasi budaya Jawa dan Barat. Semua data di atas diperoleh dari membaca novel. ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 menginventarisasi data, mereduksi data, menganalisis data, dan memberi simpulan pada data. Representasi Budaya Jawa dalam Novel Rahvayana Karya Sujiwo Tejo Representasi budaya Jawa merupakan usaha untuk merepresentasikan atau menyampaikan sesuatu yang berbeda dari sikap, kepercayaan, cara berpikir maupun bertindak yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa untuk menunjukkan makna yang ingin disampaikan. Hasil analisis data representasi budaya Jawa dalam novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo adalah sebagai berikut. AnPak Tani kaget. Teriakannya tertiup angin gunung ke utara sawah-sawah, ke arah perkampungan tersembunyi pepohonan nyiur. Bu Tani dan para perempuan lain bermunculan dari balik nyiur-nyiur. Ibu-ibu sepuh, ibu-ibu muda, dan yang masih perawan bergegas menyingsingkan kain-kainnya. pangkal pematang mereka menyatu. Tergopoh-gopoh mereka susuri jalan setapak itu. Arahnya ke caping kelabu bagai satu-satunya jamur raksasa di seluas sawah. An (Tejo, 2014:. Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bahwa betapa eratnya kepedulian masyarakat Jawa ketika mereka mendengar teriakan bayi yang sangat kencang, semua warga kampung lalu berlarian mencari sumber teriakan suara bayi itu. Hal itu bermakna bahwa budaya Jawa masih erat dengan sikap gotong royong dan kepedulian yang masih tertanam pada masyarakatnya. AnAku punya saksi-saksi betapa kuat pertapaan Prabu Janaka sebelum memberimu nama. Betapa beliau mengurangi makan dan minum untuk menyongsong wahyu buat nama pantasmu. An (Tejo, 2014:. Penggalan novel di atas menggambarkan bahwa Prabu Janaka bertapa dengan mengurangi makan dan minum untuk memberi nama pada bayi perempuan yang ditemukan warga desa di pematang sawah. Hal tersebut menunjukkan bahwa salah satu budaya masyarakat Jawa adalah bertapa dengan tujuan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. AnSaking asik masyuknya perbincangan, kedua abdi itu sampai tak sadar bahwa Sri Ratu sudah kembali pingsan. Maka seperti kebiasaan ajaran leluhur dalam menyambut kematian, kedua abdi pergi ke kebun memetik mawar, melati. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 kembang gambir, dan ke-nanga. Semua disajikan bersama tiga ikat kayu An (Tejo, 2014:. Kutipan novel tersebut menggambarkan bahwa budaya Jawa ketika ada orang meninggal maka diperingati dengan bunga mawar, melati, kembang gambir, dan kenanga, serta kayu gaharu. Bunga bermakna filosofis kehidupan senantiasa mendapatkan keharuman atau perlindingan dari para leluhur sebagaimana keperjawaan masyarakat Jawa. AnSaat itu putri Prabu Sumali Raja Alengka ini sedang diwejang Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu oleh Resi Wisrawa. Ini sastra, tepatnya mantra, mantra ilahiah sebagai syarat Sukesi mau dipersunting laki-laki. An (Tejo, 2014:. Wejangan Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu terlihat penggalan novel di atas sebagai lambang atau mantra yang harus dimiliki oleh manusia agar mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari keburukan dan Masyarakat Jawa yang kejawen akan berpikiran dan menanamkan wejangan jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dalam setiap langkahnya untuk selalu mencari kebenaran. AnDulu. Sinta, waktu kanak-kanak, aku sulit tidur, lho. Tidurku baru jadi mudah kalau bapak atau ibuku sudah ikut naik ke ranjangku dan mulai Ubun-ubunku sambil dielusnya. Aku disirepnya ke dalam dongeng, hikayat, rubaiyat, dan sebagainya. An (Tejo, 2014:. Budaya mendongeng di kalangan masyarakat Jawa memang sudah ada sejak Para orang tua biasanya mendongengi anak-anak mereka sengan hikayat, rubaiyat, dan sebagainya. AnSering malam-malam sampai menjelang dini hari rumah panggung itu kandilnya masih menyala. Burung pungguk masih merindukan rembulan. Aku mendengar Trijata mendongengi Sinta melalui tembang-tembang Jawa. An (Tejo, 2014:. Kutipan novel di atas menunjukkan bahwa mendongeng sebelum tidur sudah menjadi budaya. Mendongeng dengan menggunakan tembang-tembang Jawa sudah menjadi budaya masyarakat Jawa. ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 AnBila ada penduduk yang meninggal, keluarga dan para sahabatnya tidak Tapi, mereka juga tidak tertawa. Jenazah itu ada yang dikubur, dibakar, ataupun dilarung ke laut. Tapi, tak ada tangis. Tak ada tawa. handai tolan dan para tamu itu hanya mengucapkan. AuHum pim pah alaiyum Ay Di Nusantara itu diserukan dalam tawa canda dolanan bocah. Lokapala artinya Aidari Tuhan kembali ke Tuhan. An (Tejo, 2014:. Kata Hum pim pah alaiyum gambreng pada penggalan novel di atas menggambarkan bahwa budaya atau kebiasaan di Lokapala tempat tinggal Rahwana jika ada orang yang meninggal maka saka kerabat dan masyarakat mengucapkan kalimat tersebut yang bermakna Aidari Tuhan kembali ke TuhanAn. AnDia hanya mengulang-ulang sambil tak melihatku. AiMimpi bernuansa biru pertanda depresi. An (Tejo, 2014:. Kutipan novel tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Jawa percaya pada tafsir mimpi, bahwa setiap mimpi mempunyai arti sendiri yang berpengaruh pada kehidupan manusia. AnBila setelah fajar ada teriakan berulang-ulang AiHalo . Halo . Ide mendahului realitasAn, ibu-ibu sudah tahu. Itu tandanya pak Plato mau lewat sambil mendorong gerobak sayurnya yang dihiasi rumah-rumahan Betawi. Seorang ibu baru bangun tidur dan masih berdaster lari tergopoh-gopoh. An (Tejo, 2014:. Penggalan novel tersebut menggambarkan bahwa di setiap daerah atau desa mempunyai kebiasan yang sudah menjadi budaya sendiri yang tidak diketahui oleh orang lain dari masyarakat desa atau daerah lain. AnAku sampai gerapan terbangun. Sinta. Selimut kupancal sampai keluar Ada apa ini? Saudaraku. Supiah, aku minta menerjemahkan prenjakprenjak itu. AiHai. Rahwana, buat apa aku ada di depan rumahmu kalau sampai beranak pinak kami di sini masih saja tak ada tukang pos yang menabuh keuntungan di gerbang pagar membawa surat-surat merah jambu dari Sinta?An kata prenjak-prenjakku mencerocos timpal-menimpal. An (Tejo, 2014: 88,. Budaya Jawa memang terkenal dengan berbagai macam mitosnya. Dalam penggalan novel di atas, pengarang memperkenalkan mitos burung prenjak kepada para penikmat novel. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 AnMereka pun undur diri. Tapi, sebelum pergi. Sinta. Nupus mencolek Dia berbisik. Aist, eh. Cuk, kenapa Rahwana harus bertapa sampai 50 ribu tahun? Bukannya 3 ribu tahun saja sudah cukup untuk mengimajinasikan keabadian jiwa manusia?An (Tejo, 2014:. Panggilan AiCukAn dalam kutipan novel di atas menunjukkan bahwa panggilan tersebut merupakan panggilan yang dipakai untuk menyapa teman dekat. Sapaan tersebut bukan bermaksud kasar tapi dengan tujuan untuk semakin akrab dengan persahabatan mereka. AnKenapa kamu, kok, seperti orang bengong?An tanya Tan Napas kepadaku. Dia sembari mengelus-elus ubun-ubun bayiku di rumah panggung di antara suara kalkun di bawahnya. AiO, ya. Jangan lupa pas Tedak Siti nanti kamu nanggap wayang, lho . An (Tejo, 2014:. Kalimat tersebut menggambarkan bahwa bayi yang baru lahir harus dirayakan dengan mela-kukan upacara Tedak Siti untuk kali pertama turun tanah. AnTedak Siti adalah upacara untuk kali pertama bayi turun tanah. Biasanya ini diadakan tujuh bulan pasaran Jawa dari hari ke-lahirannya. Sebulan pasaran se-kitar 36 hari sehingga upacara yang biasanya memakai kue jadah, kurungan, dan tebu wulung itu dilakukan pada bulan kedelapan dalam hitungan tahun Masehi. An (Tejo, 2014:. Kutipan novel diatas menjelaskan bagaimana budaya Tedak Siti berlangsung. Setiap bagian dari upacara tersebut me-miliki makna tersdiri bagi penganut budaya Jawa. AnAnak dititah berjalan di atas tujuh kue jadah ketan warna putih, merah, biru, kuning, ungu, hitam, jingga. Maknanya agar si anak kelak dalam perjalanan hidupnya mampu mengatasi wara-warni cobaan. Kemudian, anak akan dinaikkan ke tangga dari tebu wulung. Makna menapaki tebu yang berwarna merah hati ini agar si anak dalam jalan hidupnya kelak manteb kalbunya. An (Tejo, 2014:. Dalam penggalan novel di atas, pengarang pada dasarnya ingin menyampaikan pesan me-lalui simbolsimbol yang terdapat dalam upacara Tedak Siti seperti yang telah dijelaskan di atas. AnTer . Ter . Ter . An AnCiye . Ciye . Ciye . An ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 AnCihui . !!! Doaku sundul ke langit. Doaku didengar langit. Prenjak lumut betina dan pejantan kembali ngganter sahut-sahutan di pekarangan depan Pertama dalam seluruh waktu dalam hidupku: tukang pos bertopi oranye datang membawa surat darimu. Sampulnya putih berperangko teratai Tulisannya biru tua. An (Tejo 2014:. Penggalan novel di atas menggambarkan bahwa Masyarakat Jawa merawat burung prenjak dengan tujuan untuk mengetahui jika ada tukang pos datang. Jika burung prenjak me-ngeluarkan suara, itu pertanda bahwa ada tukang pos yang datang membawa surat. Ano . Hati Sukesi makin berbunga-bunga. Aih. Rahwana yang masih dalam keadaan linglung karena gagal cintanya kepada Dewi Citrawati dan Dewi Sukasalya, akhirnya menerima anjuran ibunya untuk ber-permaisuri Dewi Mandodari. Sejak itu Rahwana berpakaian lumayan rapi. Jasnya Ralph Lauren. Jaketnya pun Burberry. Dan, sejenisnya. Mandodari yang An (Tejo, 2014:. Kutipan novel di atas menggambarkan bahwa masyarakat Jawa masih banyak yang percaya dan memakai tradisi perjodohan oleh orangtua kepada anak-anaknya. Anak-anak pada masyarakat Jawa yang dijodohkan juga masih mempunyai rasa sopan santun yang tinggi kepada orang-tuanya sehingga mengikuti apa yang disuruh oleh orangtuanya termasuk dijodohkan. AnTugas pranatacara antara lain menjelaskan simbol-simbol upa-cara kepada Misalnya saat upacara Panggih, pertemuan antara mempelai pria dan wanita, aku jelaskan apa makna keduanya saling melempar gantal atau daun Masing-masing memegang gantal gondang asih dan gantal gondang Maknanya agar dalam bahtera rumah tangga kelak mereka saling asah, saling asih, saling asuh. Segala pahit getir seperti rasa daun sirih tak akan berarti bila keduanya saling mengasihi. An (Tejo, 2014:. Penggalan novel di atas menggambarkan adanya budaya Jawa yang dilakukan oleh masyarakat Jawa ketika melangsungkan upacara pernikahan. Upacara pernikahan dihiasi dengan upacara Panggih dengan masing-masing mempelai memegang gantal gondang asih dan gantal gondang telur. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Representasi Budaya Barat dalam Novel Rahvayana Karya Sujiwo Tejo Representasi budaya Barat merupakan usaha untuk merepresentasikan atau menyampaikan sesuatu yang berbeda dari sikap, kepercayaan, cara berpikir maupun bertindak yang berasal dari Eropa Barat untuk menunjukkan makna yang ingin Hasil analisis data re-presentasi budaya Barat dalam novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo adalah sebagai berikut. AnTahu-tahu aku sudah relaks ngobrol panjang lebar denganmu yang sudah berganti baju tanpa bra. Ya, tanpa bra. Betul kan. Sinta? Aku lihat jelas kok sembulan puting susumu pada T-shirt-mu . Heuheuheu . An (Tejo, 2014:. Nilai Budaya Barat dat kutipan novel di atas me-nunjukkan nilai kebebasan yang sangat tinggi. Hal tersebut di-buktikan dengan kebebasan Sinta sebagai penganut budaya Barat yang mengenakan pakaian sesuai dengan keinginannya. AnAih. Al Resi Subali, office boy hotel itu. Dia berhasil membantuku mendapatkan alamat stasiun televisi tempatmu siaran. Sinta. Ternyata, cuma satu blok dari hotelku. Aku tak sempat berpakaian. Langsung saja aku bergegas ke sana. Aku masih telanjang. Petugas sekuriti televisi tak heran melihatku bugil . Sama sekali tidak berpakaian . Dia cuma heran dengan An (Tejo, 2014:. Penggalan novel di atas menunjukkan bahwa budaya Barat memang identik dengan nilai acuh atau rasa tidak peduli terhadap lingkungan maupun tingkah laku orang lain. AnKamu tahu sendiri. Sinta, mereka tak memperhatikan kita. Kamu tahu sendiri, sejak tadi aku telanjang sendirian tak seorang pun menengokku. Mata mereka terus tertuju pada Burj Dubai, pencakar langit tertinggi dunia pada saat itu. An (Tejo, 2014:. Sikap individualistik orang-orang Eropa dalam kutipan novel di atas pe-rilaku orang-orang Hal ini dibuktikan dalam kutipan novel di atas, ketika Rahwana lari dalam keadaan telanjang di stasiun televisi Burj Dubay, tidak ada setu orang pun yang melihat dan memperhatikannya. AnSetelah kita makan malam serombotan, makanan khas daerah Klungkung Bali itu. Sinta, per-bincanganmu dari soal patung-patung khas Klungkung ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 tiba-tiba beralih ke perbincangan tentang kekanak-kanakanmu di Madison Avenue. New York. Ibu-ibu dan kaum perempuan belanja di sana. Mereka dengan sombongnya menenteng tas-tas bermerek. Kamu malah membeli kalung logam yang sangat mahal, tapi tak seorang pun tahu bahwa itu bikinan Christina DiorAn (Tejo, 2014:. Gaya hidup mewah memang sudah terkenal dalam penganut budaya Barat. Mereka lebih cenderung bersifat mengikuti trend yang berkembang sehingga mereka lebih memilih barang-barang yang sudah modern, bermerk ataupun glamour. AnHeuheuheu. Aku tahu hidupmu terlalu sibuk untuk menebak-nebak. Kamu pasti sedang sibuk menyusun perpustakaan Mesir Kuno . An (Tejo, 2014:. Sikap disiplin sangat tertanam dalam masyarakat penganut budaya Barat. Mereka lebih memperhatikan pengembangan keilmuan. Maka tidak heran bila masyarakat penganut budaya Barat sangat maju. AnPara presiden akan menggosok-gosokkan hidungnya terhadap tamu-tamunya dari Eskimo. Tak peduli apakah makna gesekan hidung itu sudah bergeser. Sinta, bergeser maknanya sedari mula. An (Tejo, 2014:. Kalimat-kalimat pada penggalan novel di atas menggambarkan bahwa budaya bangsa Eskimo jika mengadakan pertemuan, mereka akan menyusun upacara dengan cara menggosok-gosokkan hidung mereka sebagai tanda perkenalan atau mengawali AnTapi, adakah yang tidak bergeser di muka bumi ini. Sinta, selain lempenglempeng benua dan Greenland? Tak ada. Semua bergeser. Semua berubah Jabat tangan yang pada zaman kuno adalah perlambang bahwa keduanya tak membawa senjata, kini menjadi tegur sapa keakraban. An (Tejo, 2014:. Kutipan novel di atas menggambarkan budaya Barat tepatnya Inggris berjabat tangan dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada yang membawa senjata ada saat mengadakan pertemuan, namun kini jabat tangan dilakukan bergeser maknanya menjadi tegur sapa keakraban. AnSekarang aku mau tanya. Sinta, perempuan mana yang tidak aneh-aneh di bawah matahari ini? Perempuan sekarang bukan saja gemar membunuh Dewa Hanantaboga dan Dewa Baruna yang menyangga dasar Bumi dan menguasai STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Mereka bahkan dengan bangga menenteng-nentengnya di pusat perbelanjaan mewah di New York yang pernah kamu sebali itu. Ya. Hanantaboga dan Baruna di kami tak lain adalah Hermes, anak Zeus yang lahir di gunung Kellina Arkadia itu. An (Tejo, 2014: . Penggalan novel di atas menggambarkan bahwa salah satu budaya Barat adalah gaya hidup yang mewah, mereka tidak ingin tertinggal sehingga mereka akan mengutamakan barang-barang mahal dan mewah serta bermerek. AnSekarang aku mau tanya. Sinta, perempuan mana yang tidak aneh-aneh di bawah matahari ini? Perempuan sekarang bukan saja gemar membunuh Dewa Hanantaboga dan Dewa Baruna yang menyangga dasar Bumi dan menguasai Mereka bahkan dengan bangga menenteng-nentengnya di pusat perbelanjaan mewah di New York yang pernah kamu sebali itu. Ya. Hanantaboga dan Baruna di kami tak lain adalah Hermes, anak Zeus yang lahir di gunung Kellina Arkadia itu. An (Tejo, 2014: . Penggalan novel di atas menggambarkan bahwa salah satu budaya Barat adalah gaya hidup yang mewah, mereka tidak ingin tertinggal sehingga mereka akan mengutamakan barang-barang mahal dan mewah serta bermerek. Anah. Lihatlah cinta malah bisa membuatku menemukan cincin legenda pianis Sekar Melati. Mari. Dewi Indradi, kusematkan cincin ini di jari manis tangan kirimu karena orang-orang Ro-mawi kuno percaya jari manis kiri terhubung langsung dengan jantungmu oleh pembuluh darah vena amoris . An (Tejo, 2014:. Cincin pernikahan yang disematkan di jari manis tangan kiri karena dapat terhubung langsung dengan jantung yang terdapat dalam penggalan novel di atas merupakan salah satu budaya Barat. AnKita terus ke Seoul, ke musim gugur di Gunung Namsan ketika bunga-bunga berubah warna, ke tempat para pasangan mengikatkan gembok di pucak pagar menaranya sebagai sebagai janji setia. An (Tejo, 2014: . Kalimat dalam kutipan novel di atas menunjukkan bahwa budaya tersebut percaya bahwa jika pasangan suami istri atau kekasih mengikatkan gembok ke dalam pagar menara Namsan, mereka akan saling setia. Pengikatan gembok tersebut sudah menjadi budaya atau tradisi bagi setiap pasangan kekasih yang datang ke Gunung Namsan. ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 AnAku sendiri yang sebenarnya menusuk ban itu agar kamu bisa senyumsenyum terhibur melihat gelembung-gelembung di bak air. Bus kuning bunga kana itu kupastikan akan balik lagi karena bila kamu berdiri melihat gelembung air, kurva bokongmu tampak indah dengan celana jeans biru superpendek bertepi kriwil-kriwil itu. An (Tejo, 2014:. Penggalan novel di atas menunjukkan bahwa kebebasan berpakaian merupakan salah satu budaya yang dianut oleh orang-orang Eropa. Orang-orang Eropa memiliki kebebasan dalam berpakaian karena memiliki demokrasi yang tinggi. AnSinta, ini aku lagi. Semoga kamu masih baik-baik saja. Tak usah terlalu memaksakan agar AiRahvayanaAn kita lekas-lekas diperge-larkan di seantero Pekerjaan utamamu masih seabrek. Pati bukan pekerjaan ringan, pasti seberat tanggung jawab merawat bayi, mengumpulkan naskah-naskah cinta dari seluruh dunia sejak di alam semesta terdapat tangis manusia. An (Tejo, 2014:. Kutipan novel tersebut menggambarkan budaya barat yang mengedepankan tanggung jawab, kedisiplinan, dan ilmu pengetahuan. Sinta sebagai warga Eropa terus gigih dalam mengemban tanggung jawab dalam pekerjaannya mengumpulkan naskah-naskah cinta dari seluruh dunia dengan penuh kedisiplinan. Akulturasi Budaya Jawa dan Barat dalam Novel Rahvayana Karya Sujiwo Tejo Akulturasi budaya Jawa dan Barat merupakan percampuran antara budara Jawa dan Barat yang saling mempengaruhi, baik dari sikap, kepercayaan, cara berpikir maupun bertindak. Hasil analisis data akulturasi budaya Jawa dan Barat dalam novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo adalah sebagai berikut. AnHa? Tak ada talk show di televisi kami barusan. Pak. Sungguh. Kami berani sumpah pocong. Kalau perlu disaksikan seluruh Dubai. An (Tejo, 2014: . Penggalan novel di atas menunjukkan bahwa akulturasi budaya Jawa dan Barat telah terjadi, di mana sumpah pocong yang berasal dari budaya Jawa sudah merambat dan dikenal di Dubay. AnOo . Pak. Bros teratai pink? Ada. Tapi, tak ada talk show di televisi kami barusan. Pak. Sungguh. Kami berani sumpah pocong. Kalau perlu, disaksikan seluruh Timur Tengah . An (Tejo, 2014: . STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Sumpah pocong yang berada di Dubai berasal dari Jawa merupakan sebuah akulturasi budaya Jawa dan Barat yang terdapat dalam kutipan novel tersebut. AnHm . Kamu harus tahu. Sinta, ketika ayah Dewi Lokawati berkuasa, ada perantau yang hidup kaya di Lokapala. Dia seorang perancang Asalnya dari Stockholm. Namanya Acne Monincuk. Perempuanperempuan suka memakai rancangannya yang terkenal, yang membuat tubuh mereka dikenal sebagai tubuh telanjang. An (Tejo, 2014: . Gaya berbusana di Lokapa yang terdapat dalam penggalan di atas menandakan bahwa budaya Barat sudah mulai masuk dan berpengaruh dalam budaya Jawa melalui gaya berbusananya. AnKaum Hawa tampak telanjang berkat Acne. Acne memang dengan jeli dan cermat mengukur tubuh mereka. Memilihkan warna yang persis samadengan kuli mereka. Potongannya ketat, lekat, dan lentur di badan. Lengan panjang dengan scoop back seperti konstum penari balet. Kulit punggung menyatu dengan warna kostum. Kalau musim panen tiba, ani-ani seluas ladang, perempuan-perempuan Lokapala tampak telanjang semua bersama pohon, sungai, dan gunung-gunung . An (Tejo, 2014: . Kutipan novel di atas menggambarkan bahwa banyak proses yang menyebabkan terjadinya akulturasi budaya Barat dan Jawa. Dalam hal ini adalah gaya berpakaian. Dewasa ini, memang sudah banyak sekali perempuan dari kalangan remaja maupun ibu-ibu rumah tangga yang berpakaian dengan sangat ketat. Disadari atau tidak, itu merupakan akibat dari percampuran budaya Barat ke Jawa. An. Tan Nupus berabad-abad mengajar Sigmund Freud tentang tafsir mimpi. Dia bilang kepadaku bahwa mimpi bersaput biru pertanda depresi. Apa benar. Sinta? Benar begitu?An Penggalan novel di atas menggambarkan bahwa tafsir mimpi juga merupakan salah satu produk akulturasi antara Jawa dan Barat. Sigmund Freud merupakan ilmuan Barat sekaligus ahli dalam menafsirkan mimpi, pun di Jawa juga mempercayai bahwa mimpi setiap orang mempunyai arti tersendiri yang berkaitan dengan kehidupannya. Anah . Lihatlah cinta malah bisa membuatku menemukan cincin legenda pianis Sekar Melati. Mari. Dewi Indradi, kusematkan cincin ini di jari manis ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 tangan kirimu karena orang-orang Romawi kuno percaya jari manis kiri terhubung langsung dengan jantungmu oleh pembuluh darah vena amoris . An (Tejo, 2014:. Cincin sebagai lambang tali pernikahan yang dikenakan oleh sepasang suami istri yang berasal dari Romawi dalam kutipan novel tersebut, telah berpengaruh dan diimplementasikan juga oleh sepasang kekasih di Jawa. Hal itu menunjukkan adanya akulturasi budaya Jawa dan Barat. AnSakit rasanya mendengar kinanthi, bahwa Hanuman menyusup ke Taman Argasoka ternyata juga membawa tanda mata dari seorang. Cincin kawin. Sinta mengenakannya di jari manis tangan kirinya. Dan. Hanuman meyakinkan Sinta bahwa seseorang itu masih berdenyut di Hutan Dandaka. An (Tejo, 2014:. Penggalan novel di atas menggambarkan bahwa pemakaian cincin kawin yang berasal dari budaya Eropa, kini bahkan sudah menjadi budaya di Jawa akibat adanya proses akulturasi budaya. AnPelita dari jendela rumah panggung itu masih menjulur merah kekuningan sampai ke danau. Argasoka kembali menyenandungkan melodi berpoles AiSwan LakeAn baur dengan Megatruh. Asmaradana, dan Pangkur. Syairnya tentang subali yang mengindahkan petunjuk Resi Gotama, bukan Al Subali yang menjadi office boy pada hotel di Dubay. An (Tejo, 2014: . Kalimat-kalimat dalam penggalan novel di atas menggambarkan adanya akulturasi budaya Barat dan dan Eropa. Akulturasi budaya tersebut digambarkan dengan percampuran antara melodi AiSwan LakeAn yang sebetulnya adalah pertunjukan balet yang terkenal dari sebuah dongeng Jerman, namun dalam hal ini. AiSwan LakeAn dikombinasikan dengan Megatruh. Asmaradana, dan Pangkur yang sejatinya adalah tembang-tembang Jawa. AnBagaimana dulu aku tak kesal melihat kelakuan para seniman wayang? Cikar dan sapi pengangkut gamelan itu saksinya. Pesinden dan pemain rebab bisa senggama di sela-sela tumpukan gamelan di atas cikar sambil menikmati geronjalan roda edati. Oleng ke kiri . Oleng ke kanan . Bergetar naik turun oleh gunduk-gundukan jalan. An (Tejo, 2014:150,. STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 ISSN 1978-8800 Bersenggama dengan bebas bersama yang bukan mahram yang dilakukan para seniman wayang dalam cerita novel tersebut menunjukkan telah masuknya budaya Barat ke dalam budaya Jawa. AnOh, aku marah ketika melihat pemain seruling bisa pelan-pelan mlipir-mlipir menghilang dari pentas. Mereka bersetubuh di rumah pohon pisang. Bila di pohon itu tiba-tiba datang penonton lain yang kebetulan sedang pipis, bisa saja mereka spontan senggama bareng bertiga. " (Tej0, 2014:. Kutipan novel di atas menunjukkan bahwa Budaya Barat, khususnya free sex . eks beba. sudah masuk ke Jawa. Hal itu ditunjukkan ketika para pesinden, pemain rebab, dan pemain seruling melakukan hubungan seks dengan bebas, bahkan dengan lebih dari dua orang. Berdasarkan data representasi dan akulturasi budaya Jawa dan Barat yang diperoleh dari novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo di atas, budaya Jawa memiliki banyak kebiasaan yang bahkan sudah menjadi kepercayaan bagi yang meyakininya, di antaranya adalah sikap masyarakat Jawa yang masih sangat memegang teguh arti gotong royong, saling menolong, dan saling peduli. Masyarakat Jawa juga diwarnai dengan tradisi atau adat istiadat seperti upacara kematian dan upacara pernikahan Panggih. Setiap upacara memiliki nilai dan makna yang mendalam bagi masyarakat yang mempercayai dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Jawa juga tidak terlepas dari mitos yang sudah menjadi budaya bagi masyarakat Jawa. Mereka percaya apa yang diyakininya, sehingga mitos-mitos yang berkembang kemungkinan besar untuk dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Representasi budaya Barat yang terdapat dalam novel ini meliputi sikap individualistik yang tercermin dalam pemakai budaya Barat. Gaya hidup yang modern dan bebas serta cara berpikir dan bertindak yang mengutamakan sikap Temuan mengenai akulturasi budaya Jawa dan Barat dalam novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo, di antaranya adalah ritual sumpah pocong di Burj Dubay, gaya hidup ala budaya Barat yang sudah masuk dan berpengaruh ke dalam budaya Jawa, terutama dalam hal berpakaian. Seks bebas yang berasal dari budaya Barat yang sudah mulai diadopsi oleh masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa seakan sudah tidak malu-malu lagi melakukan hubungan seks dengan yang bukan suami atau istri Akulturasi yang terdapat dalam novel ini juga mengenai tentang adanya tafsir ISSN 1978-8800 STILISTIKA Vol. 9 No. 2 JuliAeDesember 2016 mimpi dalam budaya Barat. Tafsir mimpi yang dikenal banyak orang sebagai salah satu budaya Jawa, ternyata menarik perhatian bagi pengguna budaya Barat. Sigmund Freud membuktikannya dengan mengadakan penelitian secara ilmiah mengenai tafsir mimpi, hingga pada akhirnya, tafsir mimpi pun dikembangkan dan dipercaya oleh sebagian besar pengguna budaya Barat. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat diperoleh simpulan sebagai berikut. Representasi budaya Jawa ditampilkan oleh pengarang melalui berbagai sikap, adat dan ritual yang sudah menjadi suatu budaya bagi masyarakat Jawa. antaranya adalah upacara kematian, upacara pernikahan Panggih, upacara Tedak Siti, serta mitos-mitos yang berkembang dan sudah menjadi keyakinan bagi Representasi budaya Barat yang terdapat dalam novel ini meliputi sikap individualistik yang tercermin dalam pemakai budaya Barat. Gaya hidup yang modern dan bebas serta cara berpikir dan bertindak yang mengutamakan sikap Akulturasi budaya Jawa dan Barat dalam novel Rahvayana karya Sujiwo Tejo ini juga sangat menarik. Di antaranya perkembangan seks bebas yang berasal dari budaya Barat sudah mulai berpengaruh dan dipakai oleh pemakai budaya Jawa, gaya hidup ala budaya Barat juga sudah mulai merambat ke budaya Jawa. Sedangkan Tafsir mimpi yang terkenal sebagai budaya Jawa sudah mulai digunakan dan dipakai oleh orang-orang Eropa. Saran