Vol. No. 1, 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202526022 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Pengaruh layanan bimbingan kelompok siswa terhadap peningkatan nilai karakter kemandirian pada siswa RR Baiduri Nilawati1. Fatma Nofriza1 Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Article Info ABSTRACT Article history: Kemandirian belajar merupakan karakter esensial yang dibutuhkan siswa untuk menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21, khususnya dalam konteks sekolah menengah di wilayah urban seperti Jakarta. Berdasarkan hasil observasi awal di SMAN 39 Jakarta, ditemukan bahwa banyak siswa kelas X mengalami kesulitan dalam mengelola proses belajar secara mandiri, cenderung bergantung pada bantuan teman, dan menunjukkan perilaku akademik yang tidak etis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap peningkatan nilai karakter kemandirian siswa. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, dengan desain deskriptif korelasional dan teknik analisis regresi sederhana. Sampel berjumlah 50 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert yang telah diuji validitas dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok berpengaruh signifikan terhadap nilai karakter kemandirian siswa, dengan koefisien regresi sebesar 0,926 dan nilai RA sebesar 0,797. Ini berarti 79,7% variasi dalam kemandirian siswa dijelaskan oleh partisipasi dalam layanan bimbingan kelompok. Kebaruan dari studi ini terletak pada pendekatan kuantitatif yang sistematik untuk mengukur kontribusi layanan BK dalam membentuk empat dimensi karakter mandiri: tanggung jawab, etos kerja, disiplin, dan rasa ingin tahu. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi guru BK dalam merancang program bimbingan kelompok yang lebih terstruktur, adaptif, dan kontekstual sesuai tantangan sosial siswa di sekolah negeri perkotaan. Received May 16th, 2025 Revised Jun 23th, 2025 Accepted Jul 17th, 2025 Keyword: Bimbingan Kelompok. Kemandirian Belajar. Karakter Siswa. Layanan BK. Pendidikan Karakter A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: RR Baiduri Nilawati. Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Email: Baiduri@gmail. Pendahuluan Pendidikan memegang peranan strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul, tidak hanya dari sisi kognitif, tetapi juga dari aspek afektif dan karakter. Dalam konteks global, pendidikan modern tidak lagi dipandang semata-mata sebagai sarana transfer ilmu, melainkan sebagai proses pembentukan nilai dan sikap yang menunjang keberhasilan jangka panjang (UNESCO, 2. Oleh karena itu, sistem pendidikan masa kini diharapkan mampu melahirkan individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara mandiri. Dalam hal ini, kemandirian belajar menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur kesiapan siswa menghadapi dinamika dan kompleksitas kehidupan. Nilawati. Nofriza. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Di Indonesia, peran guru memiliki posisi sentral dalam proses pembentukan karakter peserta didik, terutama guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang tidak hanya bertugas sebagai fasilitator pembelajaran, tetapi juga sebagai pembimbing dalam proses pengambilan keputusan dan pengembangan potensi diri siswa (Bhakti & Safitri, 2. Salah satu tanggung jawab utama guru BK adalah membantu siswa mengembangkan kemandirian belajar, yang dimaknai sebagai kemampuan untuk merencanakan, mengatur, dan mengevaluasi proses belajarnya secara otonom (Zhang & Zou, 2024. Schel & Drechsel, 2. Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, siswa dituntut untuk mampu belajar secara mandiri, mengelola waktu, merumuskan tujuan belajar, dan melakukan evaluasi reflektif terhadap hasil belajarnya (Alodia & Suryadi, 2. Tanpa kompetensi tersebut, siswa berisiko mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan perubahan cepat dan tuntutan global yang kompetitif. Maka dari itu, diperlukan intervensi pendidikan yang terstruktur dan sistematis untuk menumbuhkan karakter kemandirian dalam diri siswa. Kondisi di SMAN 39 Jakarta mencerminkan permasalahan konkret dalam aspek kemandirian belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi peneliti, ditemukan bahwa sebagian siswa menunjukkan kurangnya motivasi belajar, ketergantungan yang tinggi terhadap teman, serta kecenderungan untuk melakukan tindakan akademik yang tidak etis seperti mencontek. Fenomena ini menunjukkan lemahnya kemampuan regulasi diri dan minimnya inisiatif pribadi dalam proses belajar, yang berdampak langsung terhadap prestasi akademik. Selain itu, beberapa siswa mengalami ketidakpercayaan diri yang bersumber dari kondisi keluarga yang kurang mendukung, seperti kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Faktor-faktor psikososial ini turut memperburuk kemandirian belajar siswa. Padahal, lingkungan sosialAitermasuk layanan bimbingan konseling di sekolahAidiharapkan mampu menjadi penopang utama dalam mengembangkan karakter dan potensi siswa. Permasalahan utama yang teridentifikasi adalah rendahnya tingkat kemandirian belajar siswa di SMAN 39 Jakarta, yang belum ditangani secara sistematis melalui layanan bimbingan. Program BK yang berjalan dinilai belum optimal dalam membina siswa menjadi individu yang mandiri, adaptif, dan bertanggung jawab. Berdasarkan tinjauan literatur, masih terdapat kesenjangan penelitian terkait penerapan layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kemandirian belajar. Mayoritas studi terdahulu lebih berfokus pada aspek psikososial seperti kepercayaan diri, kedisiplinan, dan motivasi (Nadhifa et al. , 2020. Annisa. Trisnani, & Setyowati, 2024. Fadhilah & SaAoadah, 2. Misalnya. Nadhifa et al. meneliti efektivitas bimbingan kelompok berbasis realita untuk meningkatkan kedisiplinan belajar siswa madrasah ibtidaiyah, sementara Munajat et al. membahas dampaknya terhadap motivasi dan harga diri siswa. Meskipun hasilnya positif, pendekatan yang digunakan dalam studi-studi tersebut belum secara eksplisit menargetkan pembentukan karakter kemandirian yang meliputi tanggung jawab, etos kerja, disiplin, dan rasa ingin tahu. Selain itu, masih jarang ditemukan penelitian yang fokus pada konteks Sekolah Menengah Atas Negeri di wilayah urban seperti Jakarta, yang memiliki keragaman sosial dan tantangan budaya tersendiri. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan literatur dengan memberikan bukti empiris mengenai efektivitas layanan bimbingan kelompok dalam meningkatkan nilai karakter kemandirian siswa secara sistematik dan terukur. Nilai kebaruan . dari penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan bimbingan kelompok berbasis dinamika sosial yang tidak hanya bersifat preventif, tetapi juga promotif dalam menumbuhkan karakter kemandirian siswa secara komprehensif. Karakter kemandirian yang dimaksud mencakup dimensi tanggung jawab, etos kerja, disiplin, dan rasa ingin tahu, yang merupakan fondasi pembentukan individu mandiri (Rosada et al. , 2. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada aspek afektif umum atau hasil akademik, studi ini mengajukan konstruksi karakter mandiri sebagai variabel yang dapat diukur secara objektif. Pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif dan analisis regresi sederhana digunakan untuk mengukur pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap pembentukan karakter mandiri siswa. Hal ini memberikan kontribusi kebaruan mengingat sebagian besar studi sebelumnya masih bersifat kualitatif atau studi kasus, terutama dalam konteks sekolah negeri urban seperti Jakarta. Urgensi penelitian ini semakin meningkat seiring dengan penerapan Kurikulum Merdeka dan perkembangan global yang menekankan pentingnya kompetensi non-kognitif, termasuk kemandirian, sebagai prasyarat keberhasilan individu (OECD, 2021. Sianturi & Ndona, 2. Kemandirian bukan sekadar kemampuan menyelesaikan tugas tanpa bantuan, tetapi juga mencakup kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, serta tanggung jawab sosial. Siswa yang memiliki karakter mandiri akan lebih siap menghadapi tantangan disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan transformasi dunia kerja. Sebaliknya, tanpa adanya intervensi pendidikan yang tepat dan berkelanjutan, termasuk optimalisasi layanan BK, potensi siswa dapat terhambat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara empiris Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Siswa Terhadap Peningkatan Nilai Karakter Kemandirian pada Siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 39 Jakarta. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pengaruh layanan bimbingan kelompok siswa. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena memungkinkan peneliti untuk mencatat dan menganalisis data secara objektif melalui teknik perhitungan statistik (Lodico et al. , 2. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena berdasarkan data numerik tanpa dimaksudkan untuk melakukan generalisasi ke populasi yang lebih luas (Sugiyono, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di SMAN 39 Jakarta dengan jumlah total N = Penentuan jumlah sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan . sebesar 0,05, yang menghasilkan jumlah sampel sekitar n OO 52, kemudian dibulatkan menjadi 50 responden untuk alasan kepraktisan (Astriani & Wibisono, 2. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang dianggap relevan dan mendukung tujuan penelitian (Nyimbili & Nyimbili, 2024. Tuckett et al. , 2. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner tertutup berbentuk skala Likert 5 poin, mulai dari Sangat Setuju (SS) hingga Sangat Tidak Setuju (STS). Skala Likert dipilih karena memiliki validitas tinggi dalam penelitian di bidang pendidikan dan sosial, serta memungkinkan analisis statistik secara efisien (Mohd Noor & Fuzi, 2. Proses pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan software IBM SPSS versi 25, yang telah banyak digunakan dalam analisis kuantitatif di ranah ilmu sosial (Rahman & Muktadir, 2021. Mohd Noor & Fuzi, 2. Tahapan Analisis Data yaitu Analisis Deskriptif. Uji Validitas. Uji Reliabilitas. Uji Asumsi Klasi. Koefisien Determinasi (RA). Analisis Regresi Sederhana dan Uji Hipotesis (Uji-. Analisis Deskriptif. Digunakan untuk menggambarkan persebaran skor dari dua variabel utama: layanan bimbingan kelompok (X) dan nilai karakter kemandirian siswa (Y), dengan fokus pada nilai minimum, maksimum, mean, dan standar deviasi (Sugiyono, 2. Uji Validitas. Validitas butir instrumen diuji menggunakan teknik korelasi item-total dengan rumus Pearson Product Moment, di mana suatu item dikatakan valid jika r_hitung > r_tabel (Mohd Noor & Fuzi, 2. Uji Reliabilitas. Reliabilitas instrumen ditentukan menggunakan nilai CronbachAos Alpha, dengan kriteria Ou 0,60 sebagai batas minimal instrumen dianggap reliabel (Rahman & Muktadir, 2. Uji Asumsi Klasik. Sebelum dilakukan analisis regresi, sejumlah uji asumsi klasik dilakukan yaitu Uji Normalitas dengan metode KolmogorovAeSmirnov, di mana data dikatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi p > 0,05. Uji Multikolinearitas, dilakukan dengan melihat nilai Tolerance > 0,10 dan VIF < 10, menunjukkan tidak terdapat korelasi tinggi antar variabel bebas (Ghozali, 2. Uji Heteroskedastisitas, ditinjau melalui scatterplot residual untuk memastikan tidak terdapat pola tertentu yang mengindikasikan masalah heteroskedastisitas (Ghozali, 2. Koefisien Determinasi (RA). Analisis RA digunakan untuk melihat sejauh mana variabel bebas (X) mampu menjelaskan variabel terikat (Y). Semakin tinggi nilai RA, semakin kuat pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap karakter kemandirian siswa (Ghozali, 2. Analisis Regresi Sederhana. Digunakan untuk mengetahui hubungan antara satu variabel bebas (X = layanan bimbingan kelompo. terhadap satu variabel terikat (Y = nilai karakter kemandirian sisw. secara langsung melalui persamaan regresi linear sederhana (Ghozali, 2. Uji Hipotesis (Uji-. Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Pengaruh dinyatakan signifikan secara statistik apabila nilai signifikansi p < 0,05 (Chandrarin, 2. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian ini diawali dengan menggambarkan karakteristik responden yang menjadi subjek penelitian. Data karakteristik ini mencakup distribusi responden berdasarkan jenis kelamin, usia, dan jenjang kelas. Informasi demografis ini penting untuk memahami konteks persebaran data yang akan dianalisis lebih lanjut dalam uji pengaruh layanan bimbingan kelompok terhadap nilai karakter kemandirian siswa. Sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah siswa laki-laki dengan persentase 68%. Komposisi ini memberikan gambaran bahwa keterlibatan layanan bimbingan kelompok didominasi oleh siswa laki-laki, yang dapat memberikan warna tersendiri dalam menilai tingkat kemandirian mereka. Perbedaan gender bisa memengaruhi cara siswa merespon bimbingan yang diberikan (Enokela. , & Enwa. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Nilawati. Nofriza. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki-laki Perempuan Total Sebanyak 72% responden berada pada rentang usia 16 dan 17 tahun. Usia ini berada pada masa pertengahan remaja, yang menurut Alodia. , & Suryadi. merupakan periode kritis dalam pembentukan karakter dan kemandirian individu. Siswa pada usia ini cenderung memiliki kebutuhan yang tinggi untuk memperoleh pengakuan atas kapasitas mereka dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap pilihan mereka. Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Usia (Tahu. Frekuensi Persentase (%) Total Komposisi siswa berdasarkan jenjang kelas menunjukkan bahwa kelas XI merupakan representasi tertinggi dengan proporsi 40%. Ini mengindikasikan bahwa layanan bimbingan kelompok banyak menjangkau siswa kelas menengah, yang umumnya sedang dalam fase penguatan identitas diri dan kemandirian belajar. Hal ini relevan dengan temuan yang menyatakan bahwa siswa kelas XI mulai menunjukkan kestabilan dalam peran akademik dan sosialnya (Hairi. Badarudin. , & Mashun. Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Kelas Kelas Frekuensi Persentase (%) XII Total Selanjutnya, hasil deskriptif ini menjadi landasan dalam mengkaji validitas, reliabilitas, serta hasil analisis regresi yang menjelaskan hubungan antara layanan bimbingan kelompok dengan peningkatan nilai karakter kemandirian siswa. Tabel 4. Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian Variabel Jumlah Item Keterangan Layanan Bimbingan Kelompok (X) Valid Nilai Karakter Kemandirian (Y) Valid Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh item instrumen pada variabel layanan bimbingan kelompok dan karakter kemandirian memiliki nilai r-hitung lebih besar dari r-tabel . , yang berarti semua item valid. Ini sejalan dengan prinsip validitas konstruk dalam penelitian kuantitatif (Creswell & Creswell, 2. Tabel 5. Hasil Uji Reliabilitas Cronbach's Alpha Jumlah Item Keterangan Reliabel Nilai Cronbach's Alpha sebesar 0. 873 > 0. 60 menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki konsistensi internal yang sangat baik (Sugiyono, 2. Artinya, kuesioner yang digunakan memiliki tingkat keandalan yang tinggi dalam mengukur variabel yang diteliti. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data penelitian berdistribusi normal, hal ini ditandai dengan nilai signifikansi sebesar 0,188 yang lebih besar dari batas kriteria 0,05. Berdasarkan pendapat Ghozali . , kondisi ini mengindikasikan bahwa asumsi dasar analisis regresi telah terpenuhi, sehingga model regresi yang digunakan dapat dianggap valid dan layak untuk dilakukan pengujian lebih lanjut. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pengaruh layanan bimbingan kelompok siswa. Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Statistik Uji Mean Std. Dev. Sig. -taile. Nilai Tabel 7. Hasil Uji Multikolinearitas Variabel Tolerance VIF Layanan Bimbingan Kelompok Nilai tolerance > 0. 10 dan VIF < 10 menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas antar variabel Tabel 8. Hasil Uji Heteroskedastisitas Sig. Nilai Nilai signifikansi sebesar 0. 560 > 0. 05 menandakan bahwa model tidak mengalami gejala heteroskedastisitas, sehingga residual dapat dianggap homogen. Tabel 9. Model Summary R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Sebesar 79. 3% variasi nilai karakter kemandirian dijelaskan oleh layanan bimbingan kelompok, sisanya 7% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian ini. Tabel 10. Hasil Analisis Regresi Variabel Std. Error Sig. (Konstant. Layanan Bimbingan Kelompok Persamaan regresi: Y = 3. 926X Interpretasi: setiap peningkatan satu satuan layanan bimbingan kelompok akan meningkatkan nilai karakter kemandirian sebesar 0. Tabel 11. Hasil Uji t (Parsia. Variabel Sig. Layanan Bimbingan Kelompok Nilai signifikansi 0. 000 < 0. 05 menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok berpengaruh signifikan terhadap nilai karakter kemandirian siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan nilai karakter kemandirian siswa tingkat sekolah menengah atas. Nilai koefisien regresi sebesar 0,926 dan koefisien determinasi (RA) sebesar 0,797 mengindikasikan bahwa sebesar 79,7% variasi dalam karakter kemandirian siswa dapat dijelaskan oleh partisipasi mereka dalam layanan bimbingan Angka ini mencerminkan tingkat prediktabilitas yang sangat tinggi, menandakan bahwa intervensi bimbingan kelompok bukan hanya pelengkap kegiatan sekolah, melainkan memiliki kontribusi strategis terhadap pengembangan karakter siswa, khususnya dalam aspek tanggung jawab, kemandirian, etos kerja, dan disiplin belajar. Temuan ini selaras dengan studi sebelumnya yang menekankan bahwa bimbingan kelompok berperan dalam meningkatkan kapasitas siswa untuk membuat keputusan secara mandiri, mengembangkan rasa tanggung jawab, serta memperkuat sikap disiplin dan kepercayaan diri (Aulia & Saragih, 2024. Al Adawiyah et al. , 2. Namun, berbeda dari studi-studi terdahulu yang cenderung menitikberatkan pada aspek afektif umum, penelitian ini memberikan kontribusi empiris yang lebih terukur melalui pendekatan kuantitatif, serta secara khusus menargetkan konstruk karakter mandiri sebagai variabel yang dapat diuji secara statistik. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Nilawati. Nofriza. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Lebih lanjut, hasil penelitian ini juga memperkuat temuan Rahmah & Nuraini . bahwa keterlibatan aktif dalam dinamika bimbingan kelompok mendorong siswa untuk lebih terstruktur dalam mengelola waktu, memiliki orientasi tujuan akademik yang lebih jelas, dan menunjukkan otonomi dalam menyelesaikan tugas. Melalui pendekatan kuantitatif yang sistematis, hubungan antara layanan bimbingan kelompok dan nilai karakter kemandirian dibuktikan secara signifikan . = 0. 000 < 0. , memperkuat argumen bahwa intervensi ini berdaya guna tidak hanya dalam ranah emosional-sosial, tetapi juga dalam pembentukan karakter fungsional yang terukur. Penjelasan ini dapat dipahami dalam kerangka teori perkembangan remaja sebagaimana dijelaskan oleh Alodia & Suryadi . , bahwa usia 15Ae18 tahun merupakan fase kritis dalam pembentukan identitas diri. Dalam fase ini, kebutuhan akan pengakuan, kemandirian, dan pencarian makna sosial berada pada puncaknya. Bimbingan kelompok dapat menjadi wadah efektif untuk menfasilitasi kebutuhan tersebut melalui interaksi sosial yang terarah, dinamika kelompok, dan ruang reflektif untuk pembentukan nilai. Sebagaimana ditambahkan Rahmah & Nuraini . , proses pembentukan karakter mandiri erat kaitannya dengan pengalaman sosial yang konsisten dan bermakna. Dalam konteks ini, layanan bimbingan kelompok dapat berfungsi sebagai ruang dialogis yang mempertemukan pengalaman pribadi siswa dengan nilai-nilai sosial yang berlaku, sehingga menghasilkan kesadaran moral dan strategi bertindak yang otonom. Pendekatan ini senada dengan konsep social-emotional learning, yang mengintegrasikan pengembangan emosi, hubungan sosial, dan karakter dalam satu kesatuan pembelajaran (Tobari, 2. Dari sisi implementasi praktis, model bimbingan kelompok berbasis karakter seperti yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pengembangan kurikulum bimbingan konseling yang lebih adaptif terhadap kebutuhan aktual siswa. Hal ini menjadi semakin relevan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka, yang menekankan pentingnya kompetensi non-kognitif seperti kemandirian dan kemampuan pengambilan keputusan dalam menghadapi tantangan global (OECD, 2. Dalam sistem pendidikan saat ini, siswa dituntut tidak hanya memahami materi akademik, tetapi juga mampu mengatur diri, menyelesaikan masalah, dan menavigasi kehidupan sosial secara mandiri. Berdasarkan data demografis, mayoritas responden merupakan siswa kelas XI dengan rentang usia 16Ae17 Hal ini memperkuat asumsi bahwa intervensi bimbingan kelompok paling efektif jika difokuskan pada fase pertengahan masa remaja, ketika nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, rasa ingin tahu, kerja keras, dan disiplin sedang dalam proses penguatan intensif. Nilai-nilai ini juga merupakan inti dari profil pelajar Pancasila yang menjadi orientasi pendidikan nasional (Sianturi & Ndona, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap praktik bimbingan kelompok yang tidak hanya bersifat preventif dan kuratif, melainkan juga bersifat transformatif. Artinya, intervensi yang dilakukan tidak hanya menyasar kebutuhan psikologis jangka pendek siswa, tetapi juga membentuk pola pikir dan kultur sekolah yang menempatkan kemandirian sebagai inti dari pendidikan karakter. Dalam konteks sekolah negeri di Jakarta yang penuh dinamika sosial dan heterogenitas ekonomi, pendekatan ini menjadi penting untuk menjawab kebutuhan siswa secara kontekstual. Dengan demikian, penguatan karakter kemandirian melalui layanan bimbingan kelompok bukan hanya menjadi intervensi pedagogis, tetapi juga strategi pendidikan jangka panjang dalam membentuk generasi muda yang resilien, berdaya, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Penelitian ini mempertegas bahwa layanan bimbingan kelompok perlu mendapatkan perhatian lebih besar dalam kebijakan pendidikan formal, karena memiliki dampak sistemik terhadap kesiapan siswa menghadapi tantangan kompleks di masyarakat global yang terus berkembang. Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan nilai karakter kemandirian siswa kelas X di SMAN 39 Jakarta. Temuan empiris dengan koefisien regresi sebesar 0,926 dan RA sebesar 0,797 membuktikan bahwa intervensi ini menjelaskan hampir 80% variasi dalam pembentukan karakter kemandirian, yang mencakup tanggung jawab, etos kerja, disiplin, dan rasa ingin Kebaruan dari penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan kuantitatif untuk mengukur efektivitas layanan bimbingan kelompok berbasis karakter secara sistematis di lingkungan sekolah negeri dengan konteks sosial perkotaan yang kompleks. Kontribusi penelitian bersifat teoretis, karena memperkaya literatur yang masih terbatas tentang intervensi kemandirian melalui layanan BK, sekaligus praktis sebagai rujukan bagi guru bimbingan konseling dalam merancang program yang lebih adaptif, responsif, dan kontekstual. Dengan demikian, penguatan karakter kemandirian melalui layanan bimbingan kelompok perlu menjadi bagian integral dari kebijakan dan praktik pendidikan karakter di sekolah. Hal ini krusial untuk membentuk generasi pelajar Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Pengaruh layanan bimbingan kelompok siswa. Indonesia yang tidak hanya tangguh dan mandiri secara personal, tetapi juga kompetitif dalam menghadapi tantangan global di abad ke-21. Referensi