GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. PERAN KOMUNIKASI. INFORMASI. DAN EDUKASI SERTA KONSELOR SEBAYA DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA THE ROLE OF COMMUNICATION. INFORMATION. AND EDUCATION AND PEER COUNSELORS IN INCREASING THE EFFECTIVENESS OF YOUTH CARE HEALTH SERVICE PROGRAMS Dwi Nur Siti Marchamah1*. Restu Ayu Eka Pustika Dewi2. Wahyuni Arumsari3 Universitas Ivet. Kota Semarang. Indonesia (Email: dwinurs. ma@gmail. ABSTRAK Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) merupakan layanan kesehatan yang dirancang khusus untuk remaja, disesuaikan dengan minat, kebutuhan, dan karakter mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta konselor sebaya dalam meningkatkan efektivitas program pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain potong lintang . ross sectiona. , dan dilakukan di SMK Kesehatan Kabupaten Semarang dengan melibatkan 88 responden melalui teknik pengambilan sampel acak sederhana. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program PKPR telah berjalan cukup baik dengan penyampaian informasi melalui media audio-visual dan metode interaktif yang sesuai kebutuhan remaja. Beberapa remaja juga telah membantu teman sebaya mencari bantuan profesional. Namun, keterlibatan mereka dalam advokasi dan evaluasi masih minim. Disarankan agar sekolah menyediakan ruang konseling dan melibatkan tenaga Remaja perlu meningkatkan kesadaran diri, khususnya dalam penggunaan media sosial, dan memperluas pengetahuan tentang perilaku sehat. Pihak terkait juga perlu lebih aktif dalam supervisi dan evaluasi program secara rutin. Kata kunci : Edukasi. Informasi. Kesehatan. Pelayanan. Remaja ABSTRACT The Youth Care Health Service Program is a health service specifically designed for adolescents, tailored to their interests, needs, and character. This study aims to determine the role of communication, information, education, and peer counselors in increasing the effectiveness of adolescent healthcare service programs. This study used a descriptive quantitative approach with a cross-sectional design and was conducted at the Semarang Regency Health Vocational School involving 88 respondents through a simple random sampling technique. Data were collected using a questionnaire. The results of the study indicate that the youth care health service program has been running quite well with the delivery of information through audio-visual media and interactive methods that are appropriate to the needs of Some adolescents have also helped their peers seek professional help. However, their involvement in advocacy and evaluation is still minimal. It is recommended that schools provide JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. counseling rooms and involve trained personnel. Adolescents need to increase self-awareness, especially in the use of social media, and expand their knowledge of healthy behavior. Related parties also need to be more active in supervising and evaluating the program regularly. Keywords : Education. Health. Information. Service. Teenager PENDAHULUAN Kurangnya mengenai kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah minimnya wawasan yang dimiliki. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan intervensi berupa penyuluhan Edukasi kesehatan dapat disampaikan melalui berbagai media Komunikasi. Informasi, dan Edukasi (KIE), seperti ceramah, permainan interaktif, leaflet, poster, podcast, video animasi, buku saku, dan flipchart (Khairunnisa & Kurniasari, 2. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) adalah salah satu layanan kesehatan yang disediakan di puskesmas dan difokuskan untuk remaja, dengan tujuan mendukung terciptanya kondisi remaja sehat (Afrianti & Tahlil, 2. Tujuan dari program ini adalah menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi remaja untuk menyampaikan keluhan serta memperoleh bantuan dalam mengatasi berbagai permasalahan yang mereka hadapi (Avilla, 2. Berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi kelebihan berat badan hingga obesitas tercatat sebesar 19,7% pada anak usia 5Ae12 tahun dan 16% pada anak usia 13-15 tahun. Angka ini tidak jauh berbeda dengan temuan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018, yang masing-masing mencatat prevalensi sebesar 19,8% dan 16,2% pada kelompok usia yang sama. Secara keseluruhan, dalam kurun waktu satu dekade terakhir, terjadi tren peningkatan prevalensi overweight, meskipun terdapat penurunan angka obesitas khususnya pada kelompok usia 5Ae12 Untuk tahun 2023, prevalensi overweight pada anak usia 5Ae12 tahun menunjukkan distribusi tertinggi di wilayah Jawa. Bali. Kalimantan, dan Papua (Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), 2. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Gambaran pola makan remaja berdasarkan data Global School Health Survey tahun 2015 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak rutin sarapan . ,2%), jarang mengonsumsi sayur dan buah yang kaya serat . ,6%), serta cenderung sering mengonsumsi makanan yang mengandung penyedap rasa . ,7%). Selain itu, sekitar 42,5% remaja juga kurang melakukan aktivitas fisik. Jika pola konsumsi seperti ini terus berlanjut dan menjadi kebiasaan jangka panjang, maka risiko terkena penyakit tidak menular akan semakin meningkat (Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan RI, 2. Remaja tetap berada dalam kelompok yang rentan terhadap berbagai persoalan kesehatan reproduksi, seperti perilaku seksual berisiko, hubungan seksual sebelum menikah, infeksi HIV/AIDS, kehamilan yang tidak direncanakan, tindakan aborsi, serta minimnya akses dan paparan terhadap informasi mengenai kesehatan reproduksi (Nadirahilah et al. , 2. Siswa mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti dismenore, sakit kepala, serta munculnya perilaku negatif seperti membolos, tidak menyelesaikan tugas sekolah, merokok, dan melakukan perundungan. Meskipun sekolah pelaksanaan Trias Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), fasilitas dan aktivitas yang tersedia masih belum memadai. Kendati terdapat dukungan lintas sektor melalui pembinaan dari puskesmas, manfaat dan peran UKS belum sepenuhnya dirasakan secara positif oleh para siswa maupun guru (Ernawati et al. , 2. Program Informasi Cerdas Ala Remaja (INCAR) yang menjadi bagian dari Generasi Berencana (GenR. telah berperan dalam mendukung Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) untuk menyampaikan informasi kepada remaja, terutama yang berada di wilayah I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. terpencil atau sulit dijangkau. Melalui program ini, para remaja dapat memperoleh informasi terkini dengan lebih mudah. Sekolah dan orang tua merasakan manfaatnya, karena aktivitas remaja tersalurkan dalam wadah yang positif dan terpantau, sehingga kekhawatiran terhadap pergaulan remaja pun berkurang (Aziza. SP. MP & Itcianday, 2. Jejaring PKPR adalah salah satu cara untuk mendukung keberhasilan program PKPR. Pihak pemerintah sebagai stakeholder memiliki pengaruh besar dalam menjalankan langkahlangkah strategis. Namun, masih ada beberapa pihak yang perannya kecil dan belum aktif, karena terbatasnya sumber daya serta kurangnya pengetahuan tentang masalah kesehatan remaja. Oleh karena itu, perlu adanya penguatan komitmen dari semua pihak dengan membuat aturan yang jelas tentang tugas dan tanggung jawab masing-masing, baik di tingkat pembuat kebijakan maupun pelaksana di lapangan, agar program PKPR bisa berjalan dengan baik (Muthmainnah. Jati & Suryoputro, 2. Pendidikan kesehatan reproduksi melalui program PKPR di puskesmas masih belum berjalan dengan maksimal karena belum bisa menjangkau semua anak jalanan di rumah singgah, serta kurangnya tenaga kesehatan yang terlatih untuk menjalankan program ini. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk memperkuat komitmen dan membangun kerja sama agar pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak jalanan bisa ditingkatkan (Rachmawati et al. Akses remaja ke PKPR masih rendah, hanya 9,73%. Petugas program belum mendapat pelatihan dari tim PKPR pusat, dan mereka juga menangani banyak program lain sehingga tidak bisa fokus ke PKPR. Program ini belum memiliki ruang khusus maupun alat bantu. Dana yang tersedia juga masih terbatas. Meskipun petugas sangat mendukung PKPR, beberapa Prosedur pelaksanaan PKPR masih disamakan dengan pelayanan umum, sehingga belum sesuai dengan standar yang seharusnya (Amieratunnisa & Indarjo, 2. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Model pendidikan saat ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas setiap individu melalui pendidikan. Masyarakat yang tinggal di sekitar sekolah diharapkan bisa menggunakan kemampuannya dengan baik dan ikut aktif (Yustikasari Seorang konselor sebaya sebaiknya memiliki rasa percaya diri dan mampu menguasai keterampilan dasar konseling, seperti kemampuan mendengarkan secara aktif (Fitriana & Hamim Rosyidi, 2. Konselor sebaya yang mengelola pusat informasi dan konseling remaja memiliki peran krusial dalam meningkatkan wawasan remaja (Utami, 2. Media sosial bisa membawa dampak negatif bagi remaja. Jika sudah kecanduan, media sosial dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain, menurunkan prestasi, melemahkan kondisi fisik, dan menimbulkan masalah psikologis seperti rasa cemas. Perasaan tidak nyaman ini biasanya juga disertai gejala fisik dan gangguan emosional (Pramudani et al. Puskesmas punya peran penting sebagai pemberi layanan kesehatan utama di masyarakat, termasuk untuk remaja, melalui program PKPR. Sebagian besar kegiatan PKPR sudah berjalan dengan baik, tapi masih ada hal yang belum tercapai, seperti pembentukan konselor sebaya dan kurangnya penyuluhan yang menyeluruh kepada remaja. Meski begitu, program PKPR dianggap sangat bermanfaat dan penting bagi remaja (Kadek Alit Arsani, 2. Dari uraian diatas peneliti bermaksud melakukan penelitian mengenai peran komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta konselor sebaya dalam meningkatkan efektivitas program pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR). BAHAN DAN METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif untuk menganalisis variabel dengan cara menggambarkan sebagaimana Sedangkan desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dimana pengukuran variabel dilakukan pada suatu saat GG I ILM AT A N S EK O L e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yakni pada bulan Maret-Mei 2025. Lokasi penelitian telah dilaksanakan di SMK Kesehatan Kabupaten Semarang. Populasi dalam penelitian yaitu seluruh siswa di SMK Kesehatan Kabupaten Semarang sejumlah 319 orang. Jumlah sampel sebanyak 88 orang ditentukan dengan menggunakan Rumus Slovin. Pemilihan responden menggunakan teknik simple random sampling, dimana yang terambil adalah partisipan yang bersedia ikut dalam penelitian ini. menggunakan media google form. Instrumen penelitian memuat pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh data atau informasi terkait standar jejaring dan manajemen kesehatan pada program pelayanan kesehatan peduli remaja. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari referensi jurnal, media masa, peraturan perundang-undangan dan penelitian terdahulu yang selaras serta berbagi informasi yang bersangkutan dalam penelitian. Analisis univariat memiliki tujuan untuk menjelaskan variabel penelitian secara rinci berdasarkan Pada penelitian ini, analisis univariat bertujuan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi masing-masing variabel. Pengumpulan data primer diperoleh dari sumber data pertama penelitian atau objek Dalam penelitian ini yang digunakan adalah pengumpulan data dengan kuesioner baku sesuai pedoman Standar Nasional Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kuesioner tersebut disebar HASIL Remaja Pelayanan KIE Tabel 1. Pelayanan KIE No. Pertanyaan Apakah petugas yang memberikan layanan informasi . elayanan KIE) memiliki pemahaman yang cukup tentang topik yang disampaikan? (%)N (%)N (%) N (%) Apakah petugas yang memberikan informasi melalui pelayanan KIE memiliki kemampuan yang efektif dalam menyampaikan ceramah dan melakukan diskusi? Apakah petugas yang menyampaikan informasi melalui pelayanan KIE menunjukkan sikap yang ramah dan mampu menciptakan suasana menyenangkan selama kegiatan Apakah media audio-visual . eperti leaflet, poster, lembar balik, atau JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Tidak Tidak Tahu Total I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. yang digunakan dalam pelayanan KIE cukup menarik dan relevan dengan kebutuhanmu? Apakah metode yang digunakan dalam pelayanan KIE . eperti ceramah, diskusi, simulasi, atau bermain pera. cukup menarik dan sesuai dengan kebutuhanmu? Apakah kamu pernah mendapatkan informasi dari puskesmas mengenai pertumbuhan dan perkembangan yang sehat selama masa pubertas atau akil balig? Apakah kamu pernah memperoleh informasi dari puskesmas terkait dampak negatif dari perilaku seksual yang berisiko? Apakah kamu pernah mendapatkan informasi dari puskesmas mengenai risiko penyalahgunaan NAPZA, termasuk konsumsi rokok dan Apakah kamu pernah memperoleh informasi dari puskesmas mengenai infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual, serta HIV/AIDS? Apakah kamu pernah mendapatkan informasi dari puskesmas mengenai dampak dari pernikahan dini dan kehamilan yang tidak Berdasarkan tabel 1, petugas yang memberikan layanan informasi . elayanan KIE) memiliki pemahaman yang cukup tentang topik yang disampaikan sebanyak 58 . ,9%) orang. Petugas yang memberikan informasi melalui pelayanan KIE memiliki kemampuan yang efektif dalam menyampaikan ceramah dan melakukan diskusi sebanyak 62 . ,5%) orang. Petugas yang menyampaikan informasi melalui pelayanan KIE menunjukkan sikap yang ramah dan mampu menciptakan suasana menyenangkan selama kegiatan berlangsung sebanyak 58 . ,9%) orang. Media audio-visual . eperti leaflet, poster, lembar balik, atau fil. yang digunakan dalam pelayanan KIE cukup menarik JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 dan relevan dengan kebutuhan sebanyak 59 . %) orang. Metode yang digunakan dalam pelayanan KIE . eperti ceramah, diskusi, simulasi, atau bermain pera. cukup menarik dan sesuai dengan kebutuhan sebanyak 57 . ,8%) orang. Remaja pernah mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat selama masa pubertas atau akil balig sebanyak 63 . ,6%) orang. Remaja pernah memperoleh informasi dari puskesmas terkait dampak negatif dari perilaku seksual yang berisiko sebanyak 62 . ,5%) orang. Remaja pernah mendapatkan informasi dari puskesmas mengenai risiko penyalahgunaan NAPZA, termasuk konsumsi I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. rokok dan alkohol sebanyak 65 . ,9%) orang. Remaja pernah memperoleh informasi dari puskesmas mengenai infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual, serta HIV/AIDS sebanyak 64 . ,7%) orang. Remaja pernah Jejaring No. Tabel 3. Jejaring Tidak Pertanyaan Apakah kamu pernah terlibat dalam perencanaan kegiatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)? Apakah kamu pernah berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)? Apakah kamu pernah terlibat dalam kegiatan evaluasi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)? mengenai dampak dari pernikahan dini dan kehamilan yang tidak direncanakan sebanyak 53 . ,2%) orang. (%) 38,6 35 (%) (%) (%) 37,5 36 37,5 37 Pertanyaan Apakah kamu pernah terlibat dalam kegiatan advokasi yang dilakukan oleh puskesmas ke berbagai instansi, seperti sekolah, cabang dinas pendidikan kecamatan. KUA, dinas sosial, atau kantor camat? Apakah kamu mengetahui bahwa berbagai jenis kasus dapat ditangani di puskesmas dan, jika diperlukan, dirujuk ke rumah sakit? JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) sebanyak 36 . ,9%) orang. Remaja tidak pernah terlibat dalam kegiatan evaluasi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) sebanyak 37 . %) orang. Tabel 4. Manajemen Kesehatan No. Total Berdasarkan tabel 3, remaja tidak pernah terlibat dalam perencanaan kegiatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) sebanyak 35 ,8%) Remaja berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan Manajemen Kesehatan Tidak Tahu Tidak Tidak Tahu Total (%) (%) (%) (%) I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. Berdasarkan tabel 4, remaja tidak pernah terlibat dalam kegiatan advokasi yang dilakukan oleh puskesmas ke berbagai instansi, seperti sekolah, cabang dinas pendidikan kecamatan. KUA, dinas sosial, atau kantor camat sebanyak 42 PEMBAHASAN Remaja Pelayanan KIE Seiring pesatnya perkembangan informasi dan teknologi, remaja mengalami berbagai perubahan alami yang sering memicu masalah serius, termasuk perilaku seksual. Masalah remaja pun menjadi semakin kompleks. Program PKPR hadir sebagai salah satu solusi untuk membantu remaja mengatasi berbagai persoalan tersebut. Pelaksanaannya panduan dari Kementerian Kesehatan RI, dengan dukungan dana dari DAK. BOK, dan juga pendanaan dari program UKS (Suciana, 2. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan PKPR dilakukan dalam berbagai bentuk, antara lain dengan mengakses layanan medis atau berobat ke fasilitas kesehatan . ,9%), mengikuti kegiatan penyuluhan atau sosialisasi baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal . ,4%), serta berkonsultasi dengan konselor sebaya, meskipun jumlahnya masih kecil . ,2%) (Laili et , 2. PKPR adalah program layanan kesehatan di puskesmas yang ditujukan untuk mendukung terciptanya remaja yang sehat. Meskipun ada komitmen untuk menjalankan program ini, pelaksanaannya masih menghadapi kendala seperti terbatasnya dana, kurangnya sarana dan prasarana yang sesuai standar nasional, serta belum adanya pencatatan dan evaluasi yang Akibatnya, masalah utama JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 ,7%) orang. Remaja tidak mengetahui bahwa berbagai jenis kasus dapat ditangani di puskesmas dan, jika diperlukan, dirujuk ke rumah sakit sebanyak 50 . ,8%) orang. dalam pelaksanaan PKPR belum bisa diidentifikasi dengan jelas untuk ditindaklanjuti (Septiani et al. , 2. Hasil menunjukkan bahwa puskesmas dapat memperkuat pengembangan program pelayanan kesehatan remaja dengan memanfaatkan website atau layanan online, agar pelaksanaannya di sekolah bisa lebih optimal. Selain itu, penting juga untuk memberdayakan remaja agar mereka lebih aktif terlibat dan mendukung keberhasilan program ini (Marchamah, 2. Konselor Sebaya Untuk mewujudkan remaja yang program PKPR sebagai salah satu Kegiatan dalam program ini mencakup penyuluhan, layanan medis termasuk pemeriksaan penunjang, keterampilan hidup sehat, pelatihan bagi pendidik sebaya sebagai kader kesehatan remaja, pelatihan tambahan bagi konselor sebaya yang fokus pada penyediaan layanan rujukan (Salmiati et al. , 2. Hasil penelitian melalui program PKPR, remaja bisa mendapatkan informasi dan layanan kebutuhan mereka di puskesmas. Namun, masih sedikit remaja yang mengetahui dan memanfaatkan layanan Berbagai faktor memengaruhi pemanfaatan layanan kesehatan, salah satunya adalah kesadaran akan kebutuhan itu sendiri. Karena itu, petugas PKPR diharapkan bisa GG I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. menggunakan pendekatan khusus untuk menjangkau remaja laki-laki, agar minat dan partisipasi mereka PKPR meningkat (Islami et al. , 2. Remaja berada dalam masa transisi menuju dewasa dan cenderung suka mengambil risiko, yang dapat memicu masalah seperti seks pranikah, aborsi, dan HIV-AIDS. Untuk menjalankan program PKPR yang diterapkan di seluruh Indonesia. Namun, cakupan pelayanannya masih Penelitian dukungan teman, guru, dan informasi tentang PKPR berpengaruh besar terhadap pemanfaatan layanan ini. antara faktor tersebut, dukungan teman Remaja kemungkinan 5,4 kali lebih besar untuk menggunakan layanan PKPR. Oleh karena itu, pelatihan konselor sebaya sangat penting untuk meningkatkan dukungan dari teman sebaya agar penggunaan PKPR semakin optimal (Yenti, 2. Konselor sebaya berperan dalam remaja mengenai akses layanan kesehatan reproduksi serta mendorong dukungan masyarakat terkait isu Keberhasilan mereka dalam menjalankan peran ini tercermin dari kemampuan sosial yang dimiliki (Agustini, 2. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, disimpulkan bahwa kehadiran konselor sebaya membantu mempermudah konselor dalam memberikan layanan kepada para remaja (Mufidah & Widyastuti. Relasi antar teman sebaya berperan penting dalam kehidupan remaja karena membangun rasa saling JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Remaja cenderung lebih dibandingkan orang tua, sehingga pelatihan konselor sebaya menjadi langkah strategis untuk melindungi lingkungan (Sarmin, 2. Jejaring Pemanfaatan PKPR oleh remaja Rendahnya kunjungan ke puskesmas dan kurangnya pemanfaatan layanan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan remaja tentang keberadaan layanan PKPR di puskesmas, sehingga mereka belum Dari sisi fasilitas, layanan kesehatan sebenarnya sudah memadai, tetapi masih perlu dimaksimalkan, terutama di lingkungan sekolah. Selain itu, dukungan dari petugas kesehatan juga belum sepenuhnya menjangkau semua remaja, sehingga perlu pendekatan yang lebih menyeluruh (Santi & Cheristina. Remaja memerlukan kegiatan yang inovatif dan terus berkembang. Kegiatan tersebut sebaiknya tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi lebih diarahkan pada upaya promosi dan pencegahan, seperti penyuluhan, edukasi, dan sosialisasi tentang kesehatan remaja (Sarweni & Hargono. Hasil menunjukkan bahwa pelaksanaan PKPR didukung oleh kesiapan para pelaksana yang bersedia menjalankan kebijakan Petugas juga telah memiliki mendapat pelatihan dan pemantauan secara Meskipun PKPR bukan program utama, program ini menjadi bagian dari prioritas layanan kesehatan ibu dan anak, sehingga pendanaannya masih terkait dengan penyediaan sarana dan prasarana. Untuk pelaksanaan PKPR, diperlukan penguatan kerja sama antar sektor dan optimalisasi I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. peran masing-masing pihak (Pratiwi et al. Manajemen Kesehatan Masa perkembangan di mana fisik, mental, dan kemampuan berpikir tumbuh dengan pesat. Di usia ini, rasa ingin tahu remaja sangat tinggi, dan jika mereka membuat keputusan yang keliru, bisa berisiko terhadap diri mereka sendiri. Salah satu cara untuk mengatasi berbagai tantangan remaja adalah melalui PKPR. Pelaksanaan program ini sangat dipengaruhi oleh adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) dan koordinasi yang baik antar pihak terkait (Mega Maulidia. Hasil sebelumnya menunjukkan bahwa PKPR bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan khusus bagi remaja, memanfaatkan puskesmas sebagai tempat mendapatkan layanan kesehatan, serta memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mencegah berbagai masalah kesehatan (Qisty et al. , 2. Remaja mengakses layanan PKPR cukup dengan mendatangi puskesmas yang telah ditunjuk untuk menjalankan program ini. PKPR lebih menekankan pada layanan yang bersifat promotif dan preventif, karena masa remaja seringkali diwarnai oleh kurangnya pengetahuan, salah pengertian, dan keputusan yang kurang matang. Kurangnya informasi tentang PKPR menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi rendahnya akses remaja terhadap layanan ini (Farahdiba & Hartuti, 2. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faktor utama yang membuat informan tidak memanfaatkan layanan PKPR di wilayah pengetahuan remaja tentang keberadaan program tersebut. Hal ini disebabkan oleh lemahnya manajemen puskesmas, terutama dalam menjalin kerja sama dengan berbagai sektor terkait (Delita Ayu et al. , 2. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2025 |VOL 16 NOMOR 1 Beberapa faktor yang menyebabkan PKPR di puskesmas belum berjalan optimal antara lain kurangnya komunikasi antar tim dalam mengatur jadwal kegiatan, sehingga pengelolaan waktu petugas belum efektif. Selain itu, masih ada ketidakjelasan dan perbedaan pemahaman tentang program PKPR di kalangan petugas, yang berdampak pada kurang maksimalnya pelayanan kepada remaja. Ruang pelayanan sepenuhnya untuk melayani remaja, sehingga remaja merasa kurang nyaman untuk terbuka mengenai masalah yang mereka hadapi. Di sisi lain, kegiatan monitoring dan evaluasi masih terbatas, dan belum ada tindak lanjut terhadap program yang belum terlaksana (Pujiastuti et al. KESIMPULAN DAN SARAN Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) adalah layanan kesehatan khusus untuk remaja yang disesuaikan dengan minat, keinginan, dan kebutuhan mereka. SMK Kesehatan Kabupaten Semarang, program ini telah berjalan dengan baik. Informasi. Edukasi, dan Komunikasi (KIE) disampaikan melalui media audio-visual seperti leaflet, poster, lembar balik, dan film yang menarik. Metode penyampaian seperti ceramah, diskusi, simulasi, dan bermain peran juga disesuaikan dengan kebutuhan remaja. Kehadiran konselor sebaya turut berkontribusi dalam meningkatkan efektivitas program, terutama dalam menjangkau remaja yang lebih nyaman berbagi dengan teman Beberapa remaja bahkan sudah membantu temannya untuk mencari bantuan ke tenaga profesional. Namun, mereka belum pernah dilibatkan dalam kegiatan advokasi dan evaluasi yang dilakukan puskesmas bersama instansi lain. Sekolah mengoptimalkan pelaksanaan PKPR, misalnya dengan menyediakan ruang khusus untuk konseling remaja serta melibatkan tenaga I ILM AT A N S EK O L Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 16 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: http://dx. org/10. 30633/jkms. puskesmas terlatih dalam proses konseling. Peran konselor sebaya sebaiknya diperkuat melalui pelatihan dan pendampingan berkala, sehingga mereka mampu menjalankan fungsi secara lebih maksimal. Remaja juga diharapkan lebih sadar dan bijak dalam bersikap, khususnya dalam menggunakan media sosial, serta terus meningkatkan pengetahuan tentang perilaku Pihak terkait juga diharapkan lebih aktif dan serius dalam menjalankan PKPR melalui supervisi, pemantauan, dan evaluasi yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA