JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehata. Volume 6. No. Agustus 2022. Page 31-40 ISSN: 2579-7913 HUBUNGAN PROGRAM PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN KELANGSUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI DI PROVINSI JAMBI Farid Agushybana*. Risqi Khusnul Khotimah. Kharisma Olivia Anugrah Cahyani. Islakhiyah Mushoddiq. 1-3Bagian Biostatistika dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro. Semarang. Indonesia 4BKKBN Perwakilan Provinsi Jambi. Jambi. Indonesia email: agushybana@gmail. Abstrak Program pembangunan keluarga bertujuan untuk mencapai keluarga yang berkualitas dan Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan program ini adalah dengan menggunakan dan menjaga kelangsungan penggunaan kontrasepsi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara program pembangunan keluarga dengan kelangsungan penggunaan kontrasepsi di Provinsi Jambi. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional study dan menggunakan pendekatan Analisis Data Sekunder (ADS) SKAP 2018. Analisis statistik digunakan untuk menguji variabel penelitian. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan antara usia ibu, tingkat pendidikan, persepsi tentang jumlah anak ideal, jumlah anak yang terlahir hidup dan tempat pemberian pelayanan kontrasepsi terakhir dengan keberlangsungan penggunaan alat kontrasepsi pada WUS di Provinsi Jambi dengan nilai p <0,05. Selain itu, tersedianya akses informasi tentang program pembangunan keluarga juga berkontribusi pada kelangsungan penggunaan kontrasepsi meskipun tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa WUS yang masih terus menggunakan alat kontrasepsi memiliki pengetahuan dan akses sumber informasi yang baik mengenai program pembangunan keluarga. Kata kunci: pembangunan keluarga, kontrasepsi. WUS Abstract The family development program seeks to create thriving, high-quality families. Utilizing and maintaining a continuous contraceptive use regimen is one of the ways that this program's goals can be met. The aim this study to analyze the factors that influence the relationship between family development programs and the continuity of contraceptive use in Jambi Province. This study uses descriptive quantitative research methods with a cross-sectional study design and uses the 2018 SKAP Secondary Data Analysis (ADS) approach. Statistics analyzes were used to test the research variables. Based on the results of the study, it is known that there is a relationship between maternal age, level of education, perceptions of the ideal number of children, number of children born alive, and the place where the last contraceptive service was provided and the continued use of contraceptives in WUS in Jambi Province with a p-value <0. In addition, even though there is no statistically significant correlation, the availability of information on family development programs influences the continued use of contraception. According to this study's findings, women who continue to take contraceptives are well-versed in family development initiatives. Keywords: family development, contraception. WUS -31- Farid Agushybana, et. Hubungan Program Pembangunan Keluarga dengan Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi di Provinsi Jambi PENDAHULUAN Peningkatan merupakan salah satu permasalahan yang serius di suatu negara, tidak terkecuali di Indonesia. Tiap tahunnya laju pertumbuhan Indonesia peningkatan berkisar 1,6% (Kusumawardani & Machfudloh, 2. Peningkatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain angka kelahiran, kematian, dan migrasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan cara menekan angka kelahiran. Pada tahun 2017 angka kelahiran total di Indonesia sebesar 2,4, angka ini masih tergolong tinggi meskipun sudah mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2012, yaitu 2,6 (Badan Pusat Statistik, 2. Sehubungan dengan hal tersebut Pemerintah Indonesia mempunyai program berskala nasional yang dinamakan program Keluarga Berencana (KB) (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Pemerintah mengamanatkan kepada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk melaksanakan Program Pembangunan Keluarga. Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencan. guna mengatur laju pertumbuhan penduduk dan mewujudkan keluarga yang berkualitas serta sejahtera melalui kelompok kegiatan yang sering disebut dengan poktan tribina (Bina Keluarga Balita. Bina Keluarga Remaja. Bina Keluarga Lansia, dan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahter. (BKKBN, 2. Salah satu upaya yang digunakan untuk mendukung tujuan program tersebut adalah penggunaan alat kontrasepsi. Penggunaan alat kontrasepsi yang konsisten dan berdaya guna dapat menurunkan tingkat kehamilan yang tidak direncanakan, kematian ibu karena hamil atau melahirkan, dan kematian Sedangkan wanita usia subur (WUS) yang ingin mencegah kehamilan akan tetapi mengalami putus pakai kontrasepsi akan berisiko mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Apabila kehamilan yang tidak diinginkan dipertahankan maupun diakhiri dapat berkontribusi terhadap kematian ibu (Kemenkes RI, 2. Oleh sebab itu, kelangsungan pemakaian alat kontrasepsi pada WUS harus diperhatikan agar laju pertumbuhan penduduk dapat terkendali dan program pembangunan keluarga di Indonesia dapat terwujud. Indikator yang dapat digunakan untuk kontrasepsi pada suatu negara adalah angka putus pakai kontrasepsi (Nurjannah & Susanti, 2. Berdasarkan data survei diketahui bahwa persentase putus pakai kontrasepsi pada tahun 2012 sebesar 27% dan meningkat menjadi 29% di tahun 2017. Peningkatan ini terjadi karena sebagian besar beralasan mengalami efek samping atau masalah kesehatan . %) dan ingin melakukan program kehamilan . %) (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Badan Pusat Statistik. Kementerian Kesehatan, 2018. Badan Pusat Statistik. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Departemen Kesehatan, 2. Berdasarkan data BKKBN Provinsi Jambi jika dilihat dari capaian penggunaan kontrasepsi (CPR) terlihat adanya penurunan trend dari tahun 2017 ke 2018, yaitu dari 69,7% menjadi 57,9% (BKKBN Provinsi Jambi, 2. Penurunan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktorfaktor penggunaan alat kontrasepsi antara lain umur, status perkawinan, pendidikan, keinginan untuk hamil, pekerjaan dan ras/etnis (Mosher dkk. , 2015. Lyons dkk. Kusunoki dkk. , 2. Selain itu pengetahuan dan sumber informasi juga penggunaan alat kontrasepsi (Amanilah. Hanis, 2. Adanya penggunaan kontrasepsi di Provinsi Jambi serta adanya risiko kejadian kehamilan yang tidak diinginkan jika putus pakai kontrasepsi mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan menganalisis hubungan antara faktor risiko dan pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang program pembangunan keluarga -32- Farid Agushybana, et. Hubungan Program Pembangunan Keluarga dengan Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi di Provinsi Jambi kontrasepsi di Provinsi Jambi. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan desain crosectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari data Survei Kinerja Akuntabilitas Pemerintah (SKAP) 2018. Survei ini berskala nasional dan digunakan untuk mengukur capaian program kerja BKKBN yang meliputi aspek kependudukan. ketahanan keluarga dan pemberdayaan keluarga. keluarga berencana dan kesehatan reproduksi remaja. keterpaparan keluarga terhadap program Kepen-dudukan. Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) melalui media massa, petugas dan institusi. Survei ini terdiri dari empat macam kuesioner yaitu kuesioner rumah tangga, keluarga. Wanita Usia Subur (WUS) dan remaja belum menikah dengan rentang usia 15-24 tahun. Penelitian ini mengambil data kuesioner WUS terkait informasi karakteristik wanita, pengetahuan tentang Pemba-ngunan Keluarga (PK) serta sumber informasi Pembangunan Keluarga (PK) (BKKBN, 2. Responden dalam penelitian ini adalah WUS dengan rentang usia antara 15-49 tahun yang dipilih secara Stratified Multistage Sampling melalui beberapa tahapan: . memilih sejumlah desa/ kelurahan secara Probability Proportionate to Size (PPS) . memilih satu klaster dari setiap desa/kelurahan terpilih secara PPS sampling. memilih rumah tangga secara Systematic Random Sampling (SRS) (BKKBN, 2. Dari tahapan tersebut didapatkan sebanyak 1195 WUS yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini dengan kriteria pernah menggunakan kontrasepsi pada saat SKAP Sedangkan WUS yang mengalami missing data akan dikeluarkan dari penelitian. Penelitian ini telah disetujui oleh komisi etik penelitian kesehatan - Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro dengan surat pengesahan nomor 198 / EA / KEPKFKM / 2020, tanggal 28 Agustus 2020. Penelitian ini ingin melihat faktor yang penggunaan kontrasepsi di Provinsi Jambi. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kelangsungan penggunaan kontrasepsi. Jika saat pelaksanaan SKAP 2018 WUS sudah tidak menggunakan kontrasepsi diberi kode 0, sedangkan yang saat pelaksanaan SKAP 2018 masih berlangsung menggunakan kontrasepsi maka diberi kode 1 (BKKBN, 2. Sedangkan variabel bebasnya antara lain karakteristik WUS . sia, tingkat pendidikan, status pekerjaa. , pengetahuan Pembangunan Keluarga dan sumber informasi Pembangunan Keluarga. Usia terdiri dari O34 tahun . dan Ou 35 tahun . Tingkat pendidikan diberi kode 0 untuk pendidikan OSMP dan kode 1 untuk pendidikan Ou SMA. Status pekerjaan dibedakan menjadi tidak bekerja . dan bekerja . Variabel pengetahuan PK mengacu pada pengetahuan terkait keberadaan poktan tribina (BKB. BKR dan BKL). PIK R/M. UPPKS dan PPKS dikategorikan menjadi rendah . dan tinggi . Sementara variabel sumber informasi PK mengacu pada tersedianya akses informasi Pembangunan Keluarga baik dari media, petugas, maupun institusi diberi kode 0 bila tidak mendapatkan akses informasi Pembangunan Keluarga dan kode 1 bila mendapatkan akses informasi Pembangunan Keluarga (BKKBN, 2. Analisis distribusi frekuensi dan persentase untuk WUS, pengetahuan PK, dan sumber informasi PK. Penghitungan dilakukan dengan menerapkan bobot sampel berdasarkan SKAP 2018 (Morissan, 2. Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square. Keeratan hubungan dilihat dari pvalue dan confidence interval 95% (Darmawan, 2. Analisis multivariat pada penelitian ini digunakan untuk menganalisis lebih dari dua variabel secara bersamaan. Hipotesis dianggap signifikan secara statistik jika p-value kurang dari 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik WUS, Pengetahuan Pengembangan Keluarga, dan Sumber Informasi Pengembangan Keluarga Berdasarkan data SKAP Provinsi Jambi 2018 jumlah responden yang terpilih dalam penelitian ini sebanyak 1195 WUS dari total 1805 WUS. Hasil distribusi frekuensi dari variabel terpilih dapat dilihat pada tabel 1. -33- Farid Agushybana, et. Hubungan Program Pembangunan Keluarga dengan Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi di Provinsi Jambi Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik WUS. Pengetahuan Pengembangan Keluarga, dan Sumber Informasi Pengembangan Keluarga . = 1. Variabel Pengetahuan tentang program pengembangan keluarga Rendah Tinggi Akses informasi tentang program pengembangan keluarga Tidak Ada Akses Ada Akses Usia O19 tahun 20-34 tahun Ou35 tahun Tingkat pendidikan Tidak Sekolah Tidak Lulus Sekolah Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas D1/D2/D3/ Akademi Universitas Status pekerjaan Petani Pedagang Penyedia Jasa Pegawai Pemerintahan/PNS/ TNI/POLRI Belum Bekerja Ibu Rumah Tangga Tidak Bekerja Lainnya Jumlah anak ideal Ou3 Jumlah anak yang lahir hidup Ou7 Tempat terakhir untuk mendapatkan pelayanan keluarga berencana Tidak menggunakan Apotek/toko obat Swasta Pemerintah Kontinuitas penggunaan kontrasepsi Tidak Iya Jumlah Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar WUS . ,5%) memiliki tingkat pengetahuan rendah mengenai program pembangunan keluarga. 58,6% WUS memiliki akses sumber informasi program pembangunan keluarga. WUS berusia Ou35 tahun sebanyak 57,5%, 34,1% WUS menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SD. Sebagian besar responden berstatus sebagai ibu rumah tangga . ,4%), memiliki jumlah anak ideal 2 . ,2%), memiliki jumlah anak lahir hidup 2 . ,5%), dan menggunakan tempat pelayanan kontrasepsi terakhir di pelayanan kesehatan swasta . ,3%), serta sebanyak 71,0% WUS Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi Tabel 2 menunjukkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kontinuitas kelangsungan penggunaan kontrasepsi pada -34- Farid Agushybana, et. Hubungan Program Pembangunan Keluarga dengan Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi di Provinsi Jambi Faktor-faktor yang dianalisis antara lain: pengetahuan tentang program pengembangan keluarga, akses informasi tentang pengembangan keluarga, tingkat Pendidikan yang dikategorikan menjadi tingkat pendidikan menengah (SD dan SMP) dan tingkat pendidikan tinggi (SMA dan PT), jumlah anak ideal, jumlah anak yang KB. Tabel 2. Analisis Bivariat Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi Pengetahuan Tentang Program Pengembangan Keluarga Rendah Tinggi Akses Informasi Tentang Program Pengembangan Keluarga Tidak Ada Akses Ada Akses Usia O19 tahun 20-34 tahun Ou35 tahun Tingkat Pendidikan OPendidikan Menengah OuPendidikan Tinggi Status Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja Jumlah anak ideal Ou3 Jumlah Anak yang Lahir Hidup Ou7 Tempat Terakhir Untuk Mendapatkan Pelayanan Keluarga Berencana Tidak menggunakan Apotek/toko obat Swasta Pemerintah Kontinuitas Penggunaan Kontrasepsi p-value Tidak (%) Iya (%) Keterangan 0,604 Tidak 0,353 Tidak 0,005 Berhubungan 0,361 Tidak 0,021 Berhubungan 0,001 Berhubungan 0,025 Berhubungan 0,001 Berhubungan Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat faktor yang berhubungan dengan kelangsungan penggunaan kontrasepsi adalah usia . -value 0,. , status pekerjaan . -value 0,. , jumlah anak ideal . -value 0,. , jumlah anak lahir hidup . -value 0,. , dan tempat pelayanan kontrasepsi terakhir . -value 0,. Wanita yang tidak menjaga kelangsungan kontrasepsi lebih banyak ditemukan pada kelompok umur Ou35 tahun . ,3%), penggunaan kontrasepsi lebih banyak ditemukan pada WUS dengan kelompok usia O19 tahun . ,7%). WUS yang menjaga kelangsungan penggunaan kontrasepsi lebih banyak pada WUS yang tidak bekerja . ,7%). Kelangsungan kontrasepsi lebih banyak ditemukan pada WUS dengan jumlah anak ideal O2 . ,9%). Kelangsungan penggunaan kontrasepsi lebih banyak ditemukan pada WUS dengan jumlah anak lahir hidup O2 . ,1%). Dan WUS yang tidak menjaga kelangsungan kontrasepsi lebih banyak ditemukan pada -35- Farid Agushybana, et. Hubungan Program Pembangunan Keluarga dengan Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi di Provinsi Jambi WUS yang tidak menggunakan tempat pelayanan kontrasepsi terakhir kali . ,0%), kontrasepsi lebih banyak ditemukan pada WUS yang menggunakan tempat pelayanan kesehatan swasta . ,5%). Analisis multivariat kelangsungan penggunaan kontrasepsi pada responden yang terpilih ditunjukkan pada tabel 3. Tabel 3. Analisis Multivariat Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi Variabel Umur ibu <35 tahun Ou35 tahun Tingkat pendidikan OPendidikan Menengah OuPendidikan Tinggi Status bekerja Tidak bekerja Bekerja Sumber informasi PK Tidak ada akses Ada akses Pengetahuan PK Rendah Tinggi Jumlah ideal anak O2 Ou3 Jumlah anak lahir hidup O2 Ou3 Tempat pelayanan kontrasepsi Pemerintah Swasta Apotek/toko obat Konstanta Keterangan = * = Signifikansi pada 0,05 ** = Signifikansi pada 0,01 Lower CI 95% Upper 0,123 0,947 1,007 1,550 0,030* 1,044 2,302 0,933 0,771 0,586 1,487 0,964 0,856 0,647 1,435 1,168 0,449 0,782 1,744 0,723 0,006** 0,575 0,911 1,524 0,001** 1,223 1,899 0,994 0,091 21,837 0,989 0,001** 0,001 0,396 0,040 6,057 2,492 0,211 78,729 Odds Ratio p-value 0,976 Berdasarkan hasil analisis multivariat pada tabel 3 didapatkan hasil bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan penggunaan kontrasepsi adalah tingkat pendi-dikan, jumlah ideal anak, jumlah anak lahir hidup, dan tempat pelayanan kontrasepsi . <0,05 dan 0,. WUS dengan tingkat pendidikan SMA atau lebih memiliki kemungkinan 1,550 kali tinggi untuk menjaga kelangsungan penggunaan kontra-sepsi dibandingkan dengan WUS yang memiliki pendidikan SMP atau kurang (OR = 1,550. 95% CI= 1,044 - 2,302. pvalue = 0,. WUS yang memiliki jumlah ideal anak Ou3 maka semakin berkurang 0,723 kali kemungkinan untuk menjaga kelangsungan penggunaan kontra-sepsi dibandingkan dengan WUS yang memiliki jumlah anak ideal O2 (OR = 0,723. 95% CI= 0,575 Ae 0,911. p-value = 0,. WUS yang memiliki jumlah anak lahir hidup Ou3 memiliki kemungkinan 1,524 kali untuk kontrasepsi dibanding-kan dengan WUS yang memiliki jumlah anak lahir hidup O2 (OR = 1,524. 95% CI= 1,223 Ae 1,899. pvalue = 0,. Dan WUS yang menggunakan tempat pelayanan kontrasepsi terakhir di apotek/ toko obat maka semakin berkurang 0,091 kemungkinan untuk kelang-sungan kontrasepsi dibandingkan dengan WUS -36- Farid Agushybana, et. Hubungan Program Pembangunan Keluarga dengan Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi di Provinsi Jambi yang menggunakan tempat pelayanan kesehatan swasta serta pemerintah (OR = 0,091. 95% CI= 0,040 Ae 0,211. p-value = 0,. Ditemukan proporsi kelangsungan penggunaan kontrasepsi sebesar 71,0%. Sebagian besar WUS yang masih menjaga penggunaan kontrasepsi memiliki tingkat pembangunan keluarga, memiliki akses sumber informasi pembangunan keluarga, berusia O19 tahun, tingkat pendidikan SMA atau lebih, tidak bekerja, jumlah anak ideal O2, jumlah anak lahir hidup O2, dan menggunakan tempat pelayanan kesehatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan (SMA atau lebi. secara signifikan memiliki pengunaan kontrasepsi. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan diyakini dapat meningkatkan akses wanita terhadap informasi dan meningkatkan kemam-puan kesehatan (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Badan Pusat Statistik & ICF, 2. Selain itu, orang yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memiliki pola pikir yang lebih rasional dan lebih mudah menerima gagasan baru. Demikian juga dalam hal perencanaan keluarga, penggunaan kontrasepsi, serta peningkatan kesejahteraan keluarga (Mato & Rasyid, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Denpasar Barat yang menyatakan apabila pendidikan . ahun sukses pendidika. WUS naik 1 tahun dengan asumsi variabel bebas lainnya konstan, maka lama penggunaan kontrasepsi akan naik 0,481 tahun (Saskara & Marhaeni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel jumlah anak ideal berpengaruh kontrasepsi, tetapi hubungannya bersifat protektif dimana WUS yang memiliki Ou3 0,277 kelangsungan penggunaan kontra-sepsi dibandingkan dengan WUS yang memiliki jumlah anak ideal O2. Kemungkinan hal ini terjadi karena WUS dengan jumlah anak ideal Ou3 sebagian besar menggunakan jenis kontrasepsi suntik . ,9%), dan kontrasepsi suntik merupakan jenis kontrasepsi yang paling dominan untuk terjadinya berhenti pakai kontrasepsi pada penelitian ini . ,6%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menya-takan bahwa salah satu faktor yang menentukan keikutsertaan WUS dalam ber KB adalah banyaknya jumlah anak yang diinginkan (Agustini dkk. , 2. Selain itu persepsi masyarakat tentang banyak anak banyak rezeki, membuat massyarakat memiliki anggapan bahwa jumlah anak yang banyak akan dapat membantu orang tua dalam mencari uang (Rizali, 2. Hal tersebut dapat menjadi alasan WUS yang memiliki Ou3 memutuskan untuk berhenti menggunakan Penelitian lain yang dilakukan oleh Dewiyanti, 2020 juga menyatakan bahwa keikutsertaan keluarga dalam program KB terjadi ketika jumlah anak dalam keluarga sudah sesuai dengan persepsi jumlah anak ideal atau ketika jumlah anak lahir hidup melebihi atau sama dengan jumlah anak yang diinginkan dalam keluarga tersebut (Dewiyanti, 2. Berdasarkan jumlah anak lahir hidup. WUS yang memiliki jumlah anak lahir hidup Ou3 memiliki kemungkinan 1,524 kali untuk menjaga kelangsungan penggunaan kontrasepsi dibandingkan dengan WUS yang memiliki jumlah anak lahir hidup O2. Hal ini disebabkan karena WUS yang merasa sudah memiliki anak cukup cenderung sudah tidak ingin menambah anak lagi, sehingga kelangsungan pemakaian kontrasepsi juga bisa berlanjut lebih lama selama tidak ada keluhan-keluhan yang bisa mengganggu kesehatan akseptor. Penelitian ini sejalan dengan anggapan yang menyatakan bahwa banyaknya jumlah anak yang dimiliki dan sesuai dengan jumlah anak yang diinginkan merupakan salah satu faktor penentu keikutsertaan WUS dalam ber KB, sehingga dapat disimpulkan semakin banyak jumlah anak maka semakin tinggi penggunaan kontrasepsi. Jumlah anak mulai diperhatikan dalam sebuah keluarga karena masyarakat mulai beranggapan bahwa semakin banyak anak maka semakin banyak pula tanggungan kepala keluarga dalam mencukupi kebutuhan baik materil Selain berkontribusi dalam menjaga kesehatan -37- Farid Agushybana, et. Hubungan Program Pembangunan Keluarga dengan Kelangsungan Penggunaan Kontrasepsi di Provinsi Jambi sistem reproduksi WUS karena semakin sering ibu melahirkan maka semakin rentan ibu mengalami permasalahan kesehatan (Dewi & Notobroto, 2. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Amanilah . yang menyatakan bahwa akseptor yang memiliki paritas 1-2 anak rata-rata memiliki jangka waktu pemakaian kontrasepsi suntik lebih pendek . dibanding akseptor dengan paritas 3-6 anak . (Amaliah, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel tempat pelayanan kontrasepsi kelangsungan penggunaan kontrasepsi, tetapi hubungannya bersifat protektif dimana WUS yang menggunakan tempat pelayanan kontrasepsi terakhir di apotek/toko obat kemungkinan akan berkurang 0,091 kali untuk menjaga kelangsungan penggunaan kontra-sepsi dibandingkan dengan WUS kontrasepsi milik pemerintah. Hal ini dapat disebabkan karena apotek/toko obat tidak memiliki fasilitas pelayanan KB lengkap diban-dingkan pelayanan KB swasta maupun pemerintah. Hal ini sesuai dengan penelitian Fitriani . yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan signifikan secara statistik antara jenis fasilitas kesehatan dengan penggunaan MKJP pada WUS (Fitriani, 2. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aulia dkk, 2020 yang menyatakan bahwa pemilihan penggunaan suatu metode kontrasepsi secara kontinu selain dipengaruhi faktor individu . arakteristik sosiodemograf. , ling-kungan . eluarga, masyaraka. dan program yang berkaitan dengan peningkatan pengetahuan dan kualitas pelayanan, juga dipengaruhi sarana kesehatan seperti ketersediaan alat atau obat kontrasepsi, tenaga kesehatan yang kompeten, tempat pelayanan dan mekanisme pelayanan yang diberikan (Masitha Aulia dkk. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Secara tidak langsung akseptor KB yang masih terus menggunakan alat kontrasepi memiliki pengetahuan yang tinggi dan akses sumber informasi tentang program pembangunan keluarga. Sedangkan faktor yang mempengaruhi hubungan antara program pembangunan keluarga dengan kelangsungan penggunaan alat kontrasespsi antara lain, usia ibu, tingkat pendidikan, persepsi jumlah anak ideal, jumlah anak lahir hidup dan tempat pelayanan kontrasepsi terakhir . <0. Saran bagi pemangku kebijakan adalah meningkatkan layanan informasi terkait program pembangunan keluarga dan penggunaan alat kontrasepsi baik secara langsung maupun tidak langsung . kepada WUS. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kontinuitas penggunaan alat kontrasepsi di masyarakat REFERENSI