AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Vol. No. Juni 2024 ISSN: 2354-8576 (Prin. ISSN:0000-0000 . http://doi. PENGARUH PEMBELAJARAN PAI BERBASIS HIGHER ORDER THINKING SKILL TERAHADAP SIKAP BERPIKIR KRITIS SISWA DI MA SUNAN AMPEL BUKUR PATIANROWO NGANJUK Ruly Budiyanto1. Misbakhul Munir2 rulybudiyanto@updn. id, 2bakhul1990@gmail. Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk, 2STIT Sunan Giri Trenggalek Abstract This study aims to determine the critical thinking ability of students in PAI learning at Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk. In addition, to find out the efforts of implementing HOTSbased PAI learning to improve students' critical thinking. Finally, to find out the effect of HOTS-based PAI learning on students' critical thinking attitude at Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk. This research uses a qualitative approach with a case study type. Data collection techniques were conducted through interviews, observations, and documents. The research subjects included PAI subject teachers and students of class XI and XII of Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk. The first research result is that the critical thinking ability of students at Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk has developed significantly. This is manifested through learning strategies that emphasise problem solving, discussions, scientific debates, and written work Second. Efforts to implement HOTS-based PAI learning have been carried out in a structured and consistent manner, both in the classroom and outside the classroom through routine activities such as Scientific Discussions and Munaqosah Examinations. This approach provides space for students to develop a critical, independent, and reflective mindset. Third, there is a positive effect of HOTS-based PAI learning on students' critical thinking attitude. Students' critical attitudes can be seen in their courage to express their opinions, ability to formulate logical arguments, and increased awareness to understand Islam contextually. Keywords: Higher Order Thinking Skills. Islamic Religious Education. Critical Thinking. PENDAHULUAN Pentingnya pendidikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan potensi diri peserta didik, mulai dari aspek spiritual hingga keterampilan hidup. Di era revolusi industri 0 seperti sekarang ini, pendidikan ditantang untuk mengembangkan kompetensi lulusannya dari hal keterampilan yaitu berupa soft skill, seperti keterampilan menganalisis dan mengambil keputusan yang cepat dan juga bisa tepat atau juga bisa dikenal dengan kemampuan berpikir kritis (Azmi, 2. Dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang berkualitas, pendidikan dituntut untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi tinggi, terutama soft skill seperti kemampuan berpikir kreatif dan kritis. Agar siswa mampu memahami argumentasi-argumentasi yang disampaikan oleh guru dan teman-temannya, supaya siswa mampu menilai argumentasi pendapat tersebut secara kritis, membangun dan mempertahankan argumen yang dibangun secara sungguhsungguh dan meyakinkan (Christina, 2. Berdasarkan penelitian ini, terdapat kesenjangan yang signifikan antara tuntutan zaman modern dan realitas pendidikan di Indonesia. Kesenjangan ini terletak pada Vol. 12 No. 1 | 215 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam ketidakmampuan sistem pendidikan saat ini untuk secara konsisten menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan soft skill unggul, padahal kemampuan ini sangat dibutuhkan di era Revolusi Industri 5. 0 dan sangat dihargai oleh para pemberi kerja. Sebagai solusi, penelitian ini menawarkan pendekatan baru dalam pembelajaran, yaitu penerapan Higher Order Thinking Skills (HOTS) secara terstruktur. Hal baru yang diusung bukan hanya sekadar mengaplikasikan HOTS, melainkan secara spesifik menerapkannya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendekatan ini dinilai mampu mengatasi pola pikir yang monoton terhadap hukum Islam, mendorong siswa untuk berpikir "out of the box," dan membentuk karakter kritis yang sesuai dengan ajaran Islam serta norma masyarakat Indonesia. Penelitian ini juga memberikan bukti empiris dari studi kasus di Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk, di mana penerapan HOTS sejak 2017 telah berhasil meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa HOTS tidak hanya efektif untuk mata pelajaran umum, tetapi juga sangat relevan dan berhasil dalam konteks PAI, sehingga menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu berargumen logis, sistematis, dan Pendekatan ini menawarkan cara konkret untuk menjembatani kesenjangan kompetensi yang ada. Higher Order Thinking Skills (HOTS) dinilai mampu memberikan rangsangan positif terhadap perkembangan kognitif, memaksimalkan kemampuan siswa untuk menstransformasikan pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk penyelesaian masalah yang tersaji di kehidupan sehari-hari, dan menghasilkan konsep-konsep baru yang aplikatif serta kaya akan informasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi persoalan rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa, terutama di Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk. Upaya-upaya ini dilakukan secara terstruktur dan konsisten sejak tahun 2017 dengan menerapkan pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) (W. GRB. KMAPK. Meskipun secara keseluruhan penerapan pembelajaran berbasis HOTS dianggap berhasil, terdapat satu kekurangan atau kendala yang teridentifikasi dalam pelaksanaannya. Kekurangan tersebut terjadi pada metode diskusi kelompok di dalam kelas. Seperti yang disampaikan oleh salah satu guru mata pelajaran Akidah Akhlak, saat diskusi kelompok dilakukan, tidak semua anggota dalam kelompok tersebut aktif dan kritis dalam menanggapi isu yang sedang didiskusikan (W. LH. GMPAA. Hal ini menunjukkan bahwa metode diskusi kelompok tidak selalu efektif untuk memastikan seluruh siswa berpartisipasi aktif dalam mengembangkan pemikiran kritisnya. Untuk mengatasi kendala ini, guru tersebut mengambil langkah lanjutan dengan melakukan tes individu berupa tes tulis analitis pada setiap akhir materi per bab. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap siswa secara individu tetap diasah kemampuan berpikir kritisnya meskipun ada kekurangan dalam keaktifan diskusi kelompok. Berdasarkan penelitian yang telah diberikan, argumen utama yang ditawarkan adalah bahwa untuk menghadapi tantangan Revolusi Industri 5. 0, pendidikan di Indonesia harus bergeser dari model tradisional ke model pembelajaran yang secara aktif mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan soft skill siswa. Penelitian ini secara Vol. 12 No. 1 | 216 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam spesifik mengemukakan bahwa terdapat kesenjangan antara tuntutan zaman modern yang membutuhkan lulusan dengan kemampuan berpikir kritis yang unggul dan realitas pendidikan di Indonesia yang belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Sebagai solusi, penelitian ini berargumen bahwa penerapan Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah langkah yang sangat efektif. Argumen ini tidak hanya bersifat teoretis, tetapi didukung oleh bukti nyata. Penelitian ini secara spesifik menunjukkan bahwa HOTS, ketika diterapkan secara terstruktur dan konsisten, bahkan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir kritis Hal ini dibuktikan melalui studi kasus di Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk, di mana praktik seperti "Diskusi Keilmuan" dan "Bahtsul Masail" berhasil membentuk siswa yang tidak hanya memahami materi secara mendalam, tetapi juga mampu membangun dan mempertahankan argumen mereka sendiri secara logis dan Dengan demikian, penelitian ini menawarkan argumen kuat bahwa HOTS adalah metode yang ampuh untuk menjembatani kesenjangan kompetensi yang ada. Jejak awal topik dalam penelitian ini dimulai dari pemahaman mendasar mengenai esensi pendidikan. Penelitian ini mengawali dengan definisi pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi diri peserta didik, yang mencakup kekuatan spiritual, kepribadian, kecerdasan, dan keterampilan. Argumen awal yang disampaikan adalah bahwa pendidikan memiliki kapasitas luar biasa untuk membentuk masa depan individu dan bangsa, sehingga perlu didukung secara konsisten untuk menciptakan manusia berkualitas. Kemudian, topik berkembang ke arah tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk mengembangkan kompetensi tingkat tinggi seperti kemampuan berpikir kreatif. Penelitian ini menekankan bahwa berpikir kreatif dan kritis merupakan keterampilan penting yang sangat dihargai di dunia kerja modern. Pada titik ini, penelitian mengidentifikasi adanya kesenjangan . antara tuntutan era Revolusi Industri 5. 0 yang membutuhkan lulusan dengan kemampuan berpikir kritis yang unggul dan realitas pendidikan di Indonesia yang belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Inilah yang menjadi landasan utama penelitian. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi kesenjangan ini adalah dengan menerapkan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Penelitian ini juga secara spesifik mengemukakan perlunya penerapan HOTS dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk menanamkan pola pikir kritis yang sesuai dengan keyakinan Islam dan standar masyarakat Indonesia, sehingga siswa dapat berpikir out of the box dan tidak monoton. Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk dipilih karena memiliki beberapa keunggulan yang menjadikannya unik, menarik, dan urgen sebagai objek Sekolah ini dianggap unik karena berperan sebagai sekolah percontohan di lingkup Kecamatan Patianrowo yang berhasil mengaplikasikan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Keunikan utama terletak pada penerapan pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) secara konsisten sejak tahun 2017, khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Selain itu, sekolah ini memiliki program wajib unik seperti "Diskusi Keilmuan dan Bahtsul Masail" yang dilaksanakan setiap hari Rabu, di mana seluruh siswa dilatih untuk berpikir kritis terhadap ilmu, terutama ilmu Vol. 12 No. 1 | 217 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Lokasi ini menarik perhatian karena lokasinya yang strategis, jauh dari kebisingan kota, namun tidak tertinggal oleh peradaban. Selain itu, sekolah ini memiliki banyak prestasi unggul dan mengajarkan 8 keterampilan soft skill sebagai bekal bagi para siswanya setelah lulus. Pemilihan lokasi ini dianggap urgen karena keberhasilan Madrasah Aliyah Sunan Ampel dalam menerapkan HOTS menjadi bukti nyata bahwa model pembelajaran ini efektif dan mampu menghasilkan lulusan berprestasi. Sekolah ini menjadi studi kasus yang penting dan mendesak untuk diteliti karena dapat menjadi motivasi dan tantangan untuk meningkatkan mutu daya saing pendidikan di Indonesia, khususnya pada mata pelajaran PAI. METODE Penelitian ini menggunakan metode studi kasus untuk menyelidiki secara mendalam mengenai Implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) terhadap sikap berpikir kritis siswa di Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk. Pendekatan studi kasus ini dipilih untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai suatu kasus atau peristiwa dalam konteks kehidupan nyata yang alami. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitiannya adalah guru mata pelajaran PAI serta siswa kelas XI dan XII di sekolah tersebut. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan data. Data yang dikumpulkan bersifat kualitatif, berupa kata-kata dan tindakan, bukan angka. Terdapat tiga teknik utama pengumpulan data yang digunakan untuk meneliti Implementasi pembelajaran PAI berbasis HOTS terhadap sikap berpikir kritis siswa di Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk. Pertama. Observasi dilakukan dengan mengamati lingkungan sekolah secara langsung (Danim, 2. Peneliti bertindak sebagai pengamat penuh untuk melihat dan mengamati dukungan lingkungan sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran PAI berbasis HOTS. Kedua. Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data primer langsung dari subjek penelitian (Sumanto, 2. Narasumber yang diwawancarai meliputi kepala sekolah, guru mata pelajaran PAI, serta siswa kelas XI dan XII. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi terkait kemampuan berpikir kritis siswa dan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkannya. Ketiga. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data sekunder yang tidak diperoleh langsung dari wawancara atau observasi. Data ini mencakup dokumen kelembagaan sekolah, seperti data guru, data siswa, data sarana dan prasarana, jadwal kegiatan, serta foto-foto kegiatan. Data-data ini berfungsi sebagai pendukung informasi yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Kombinasi dari ketiga teknik ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh data kualitatif yang komprehensif, berupa kata-kata, tindakan, dan dokumen, yang kemudian dianalisis untuk menyimpulkan hasil penelitian. Analisis data pada penelitian kualitatif dilakukan melalui pengaturan data secara logis dan sistematis, dan analisa data itu dilakukan sejak awal peneliti terjun ke lokasi penelitian hingga akhir penelitian (Ghony dan Almanshur, 2. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman, yang terbagi ke dalam tiga alur kegiatan yang saling terkait, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Vol. 12 No. 1 | 218 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Mengenai validitas data yang digunakan dalam penelitian yaitu Validitas Data Kualitatif: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang berarti peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data. Untuk memastikan keabsahan atau validitas data, peneliti melakukan verifikasi data. Pengecekan Keabsahan Data (Validita. : Untuk memastikan data yang dikumpulkan valid, penelitian ini menggunakan dua teknik utama: Perpanjangan Kehadiran Peneliti: Peneliti memperpanjang waktu di lokasi penelitian untuk mengamati dan mengumpulkan data secara mendalam, memastikan data yang diperoleh benar-benar sesuai dengan kondisi Triangulasi: Peneliti membandingkan dan mengombinasikan berbagai sumber data untuk menguji keabsahan informasi. Triangulasi dilakukan dengan cara: Triangulasi Sumber: Membandingkan data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan Triangulasi Teknik: Menggunakan lebih dari satu metode pengumpulan data . awancara, observasi, dan dokumentas. untuk menguji informasi yang sama. Hasil Verifikasi: Dengan menggunakan teknik-teknik tersebut, peneliti berhasil mendapatkan data yang valid dan dapat dipercaya. Verifikasi data ini merupakan bagian dari proses analisis data . odel Miles dan Huberma. yang membantu peneliti menarik kesimpulan yang akurat dan bertanggung jawab. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, penelitian ini, kemampuan berpikir kritis siswa di Madrasah Aliyah Sunan Ampel telah berkembang secara signifikan berkat penerapan pembelajaran PAI berbasis HOTS. Siswa didorong untuk tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan argumen mereka sendiri. Hal ini terlihat dari adanya kegiatan rutin seperti diskusi keilmuan yang membiasakan siswa untuk berdebat, bertanya, dan menyanggah argumen dengan logis dan terstruktur. Untuk menilai kemampuan berpikir kritis siswa, guru mengadakan tes tertulis biasanya dilakukan diakhir bab atau materi yang dibahas, selain itu juga analisis kasus dan juga diskusi keilmuan yang dilakukan siswa. Terdapat ujian Munaqosah sebagai bentuk tugas akhir yang harus ditempuh siswa untuk memenuhi syarat ketuntasan belajar siswa (W. GRB. Dalam kegiatan ini, siswa dilatih menjadi narasumber dan audiens yang aktif, sehingga mereka terbiasa berdebat, bertanya, dan menyanggah argumen dengan logis. Selain itu, ada "Ujian Munaqosah" sebagai syarat kelulusan bagi siswa kelas akhir, di mana mereka harus membuat dan menguji makalah tugas akhir secara individu. Upaya ini secara menyeluruh bertujuan untuk membentuk siswa yang aktif, kreatif, dan memiliki pemikiran kritis yang mendalam. Madrasah Aliyah Sunan Ampel menerapkan metode diskusi keilmual, debat keilmuan, ujian lisan, ujian munaqoah, dan diberikan semacam kasus kasus soal, tugas siswa menganalisis dan memberikan solusi atau pemecahan masalah, yang mana hal ini bisa mengasah cara berpikir kritis siswa Madrasah Aliyah Sunan Ampel (W. EWN. Vol. 12 No. 1 | 219 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Di dalam kelas, kemampuan berpikir kritis siswa diasah melalui metode-metode seperti diskusi dan analisis kasus. Guru PAI memberikan materi yang menantang siswa untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan informasi, dan mencari solusi. Meskipun demikian, penelitian juga mencatat adanya kendala, yaitu tidak semua siswa aktif dalam diskusi kelompok. Untuk mengatasi hal ini, guru menerapkan tes tulis individu di akhir materi untuk memastikan setiap siswa tetap mengasah kemampuan analisisnya. Siswa sudah cukup memiliki sikap berpikir kritis terhadap permasalahan Agama Islam, karena di Madrasah Aliyah Sunan Ampel sudah diasah sejak kelas 10 dengan menerapkan pembelajaran PAI dengan metode analisis. Diskusi, dan debat yang mana kegiatan ini pasti menciptakan tanya jawab didalamnya sehingga tidak hanya yang menyampaikan materi saja yang berpikir tetapi semua audien juga ikut aktif dalam menghidupkan diskusi dan memecahkan masalah (W. SM. Indikator kemampuan berpikir kritis yang terlihat pada siswa mencakup beberapa Pertama, kemampuan untuk memfokuskan pertanyaan, di mana siswa mampu merumuskan pertanyaan yang relevan dengan topik. Kedua, kemampuan untuk menganalisis argumen, yaitu siswa mampu membedakan argumen yang kuat dari yang Ketiga, kemampuan untuk menyimpulkan, di mana siswa dapat membuat kesimpulan logis dari data yang tersedia. Dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis HOTS siswa dapat mengasah cara berpikir kritis dan inovatif, meningkatkan rasa keingin tahuan siswa pada suatu pembelajaran islam yang kurang dipahami. Hal ini menjadikan pemikiran siswa semakin luas akan pengetahuan serta mendorong kemampuan siswa dalam berpikir kritis (W. MMA. Secara keseluruhan, paparan data menunjukkan bahwa pembelajaran PAI berbasis HOTS tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga membentuk karakter kritis yang sesuai dengan keyakinan Islam. Siswa menjadi lebih terbuka, tidak monoton dalam memandang hukum Islam, dan mampu berargumentasi dengan santun. Upaya penerapan pembelajaran PAI berbasis HOTS untuk meningkatkan pemikiran kritis siswa di Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk. Strategi yang bisa digunakan disini itu kegiatan Diskusi Keilmuan. Debat Keilmuan yang sifatnya bisa berkelompok dan individu, hal ini dapat melatih siswa untuk berpikir, yang menjadi Narasumber berfikir tentang penyampaian materinya dan menanggapi sanggahan Audien, dan yang menjadi Audien berfikir memahami materi yang disampaikan Narasumber dan memberikan pertanyaan ataupun sanggahan terhadap apa yang disampaikan oleh Narasumber. dan satu lagi Ujian Munaqosah sebagai bentuk Tugas Akhir, setiap siswa akan bertemu dengan Ujian Munaqosah di akhir kelas 12, yaitu ujian pertanggung jawaban Makalah yang sudah dibuat mulai dari kelas 11 sampai kelas 12, dan dalam pembuatan Makalah ini siswa juga diwajibkan melaksanakan bimbingan kepada guru pembimbingnya masing masing seperti Mahasiswa yang sedang mengerjakan Penelitian (W. GRB. Selanjutnya menurut Ibu Endang Wahyu Ningsih S. Pd selaku guru walikelas 11 IPS. Beliau menjelaskan bahwa : Vol. 12 No. 1 | 220 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Upaya penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis High Order Thinking Skill yang dapat dilaksanakan di Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk pada pembelajaran di kelas yaitu dengan cara menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, menganalisis, mengevaluasi, pemecahan masalah, dan lain lain. Kemudian materi yang relevan yang berhubungan dengan Pendidikan Agama Islam adalah yang terjadi di kehidupan sehari hari yang tujuannya untuk memicu berpikir kritis siswa. Selain itu juga menggunakan sumber belajar yang beragam, bisa dari buku, artikel, video, karena dengan itu bisa membentuk sikap berpikir kritis siswa (W. EWN. Bapak Lukman Hakim S. Pd selaku Guru Mata Pelajaran Akidah Akhlaq menyampaikan. Pembelajaran Aqidah Akhlaq di kelas dengan metode problem solving yaitu dengan cara membuatkan pertanyaan yang memicu berpikir kritis, membuat proyek, meminta siswa untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi atau kasus yang terjadi, dan memberikan alternatif solusi untuk memecahkannya. Selain itu juga diskusi dengan membentuk kelompok kelompok kecil di kelas, namun dengan diskusi ada kendala yaitu tidak semua anggota dalam kelompok tersebut aktif dan kritis dengan isu yang sedang didiskusikan, maka dari itu juga melakukan tes individu dengan tes tulis analisis suatu problem Akhlaq di lingkungan sekitar setiap akhir penyelesaian materi per bab (W. LH. Meskipun penerapan HOTS berjalan baik, penelitian juga mencatat adanya kendala, yaitu tidak semua siswa dalam kelompok diskusi aktif dan kritis. Menanggapi kendala ini, para guru menunjukkan upaya perbaikan berkelanjutan. Mereka tidak berhenti pada metode diskusi kelompok semata, tetapi juga melengkapi dengan asesmen individu. Misalnya, setelah diskusi kelompok, guru akan memberikan tes tulis analitis pada setiap akhir materi per bab. Tes ini dirancang untuk mengukur pemahaman dan kemampuan berpikir kritis setiap siswa secara individu, sehingga memastikan bahwa tidak ada siswa yang pasif dan mengandalkan teman kelompoknya. Upaya perbaikan ini menunjukkan bahwa penerapan HOTS di sekolah ini bersifat dinamis dan terus beradaptasi untuk memastikan efektivitasnya dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan diterapkannya Pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis High Order Tinking Skill (HOTS) dengan metode Diskusi di luar Kelas Siswa lebih sering mendapatkan prestasi dibidang Akademik Keislaman dan Ke NU an, karena mereka sudah terlatih dan problematika islam (W. GRB. Penelitian menunjukkan adanya Implementasi positif yang signifikan dari pembelajaran PAI berbasis HOTS terhadap sikap berpikir kritis siswa. Implementasi ini terlihat dari perubahan sikap siswa yang menjadi lebih proaktif, rasa ingin tahu yang meningkat, dan keberanian untuk bertanya serta mengeksplorasi suatu masalah secara Sebelum adanya HOTS, siswa cenderung menerima materi PAI apa adanya tanpa banyak bertanya. Namun, dengan penerapan HOTS, siswa terbiasa untuk mengevaluasi setiap informasi, membedakan argumen yang kuat dari yang lemah, dan tidak mudah menerima suatu pernyataan tanpa dasar yang jelas. Sikap ini didukung oleh metode pembelajaran yang menantang siswa untuk menganalisis, mensintesis, dan Vol. 12 No. 1 | 221 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam mengevaluasi informasi, yang pada akhirnya membentuk sikap kritis yang menjadi bekal penting dalam kehidupan sehari-hari maupun masa depan. Bu Endang Wahyu Ningsih S. Pd selaku wali kelas 11 IPS Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk menyampaikan. Setelah Pendidikan Agama Islam berbasis High Order Tinking Skill (HOTS) Siswa memiliki wawasan yang luas tentang Dunia Islam dan Pendidikan karena mempelajari tentang Pendidikan Islam tidak hanya di kelas saja, tetapi juga dengan adanya kegiatan keilmuan diluar kelas yang dilaksanakan setiap hari Rabu yaitu Diskusi dan Debat antar semua siswa Madrasah Aliyah Sunan Ampel dan juga Tugas Akhir Makalah tentang Islam dan Problem yang tengah terjadi beserta Ujian Munaqosahnya (W. EWN. Implementasi HOTS juga sangat terlihat dari peningkatan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan diskusi, baik di dalam kelas maupun dalam forum-forum khusus seperti "Diskusi Keilmuan". Data menunjukkan bahwa siswa tidak lagi pasif dalam pembelajaran PAI, melainkan menjadi pembelajar yang aktif dan responsif. Mereka mampu memahami dan menanggapi argumentasi yang disampaikan oleh guru dan teman-temannya, serta memiliki kemampuan untuk menilai argumen tersebut secara kritis, membangun, dan mempertahankan argumen mereka sendiri. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran PAI berbasis HOTS berhasil mendorong siswa untuk terlibat dalam dialog yang konstruktif dan intelektual, yang merupakan inti dari sikap berpikir kritis. Selanjutnya menurut Bu Siti Masrok S. Pd Guru Mata Pelajaran Fiqih, beliau menjelaskan bahwa. Setelah diterapkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis High Order Tinking Skill (HOTS) dengan metode problem solving atau penugasan Analisis terhadap suatu permasalahan di dalam kelas Siswa lebih tanggap dan kritis terhadap suatu pertanyaan atau pernyataan dari guru atau dari siapapun yang menyampaikan, siswa memiliki pola pemikiran dan pendapat menurut mareka sendiri. Siswa juga memiliki dasar dan pandangan masing masing dalam menyampaikan argument (W. SM. Pembelajaran PAI berbasis HOTS memberikan dampak besar pada kemandirian belajar dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Siswa tidak lagi bergantung pada guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Mereka dilatih untuk menstransformasikan pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk penyelesaian masalah yang tersaji di kehidupan sehari-hari dan menghasilkan konsep-konsep baru yang aplikatif. Dengan membiasakan diri berpikir tingkat tinggi, siswa memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh terhadap suatu topik atau materi, yang kemudian mengarah pada kesiapan mereka untuk menerima materi atau pengetahuan lanjutan. Dampak ini menciptakan siklus positif di mana kemampuan berpikir kritis yang terbentuk menjadi fondasi untuk pembelajaran yang berkelanjutan. Beberapa peserta didik di Madrasah Aliyah Sunan Ampel Patianrowo Nganjuk mengatakan bahwa. Pengalaman Kami dalam mengikuti Pembelajaran Pendidikan Islam Berbasis High Order Tinking Skill (HOTS) adalah meningkatkan rasa keingin tahuan pada Ilmu tentang Islam yang lebih mendalam, yang kurang kami pahami. Hal ini memperluas pengetahuan dan mendorong kemampuan dalam berpikir kritis, dan juga menumbuhkan Vol. 12 No. 1 | 222 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandanganpandangan lain yang berbeda, yang dimana sikap ini dapat membentuk karakter berpikir kritis (W. PSMA. Salah satu Implementasi terpenting dari penerapan HOTS dalam PAI adalah pembentukan karakter siswa yang tidak monoton terhadap hukum Islam. Penelitian ini menunjukkan bahwa melalui pembelajaran berbasis HOTS, siswa diajak untuk berpikir out of the box dan memiliki pemikiran yang kritis terhadap pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Islam. Hal ini membantu siswa untuk memiliki pemahaman yang lebih holistik dan kontekstual terhadap ajaran Islam, menghindari sikap dogmatis, dan mendorong mereka untuk mencari hikmah serta alasan di balik suatu ketentuan hukum. Dengan demikian. HOTS tidak hanya meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi juga memengaruhi cara pandang siswa terhadap agama, menjadikan mereka individu yang kritis, reflektif, dan berwawasan luas. PENUTUP Temuan terpenting dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya terbatas pada pengetahuan normatif dan hafalan, tetapi dapat menjadi media yang sangat efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui penerapan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Temuan ini menunjukkan bahwa PAI dapat berperan ganda, yaitu sebagai pembentuk akhlak sekaligus sebagai pengasah kemampuan intelektual yang relevan dengan tuntutan zaman modern. Vol. 12 No. 1 | 223 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam DAFTAR PUSTAKA