Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 206 - 213 REVITALISASI WISATA RELIGI LAMONGAN MELALUI LITERASI DIGITAL DAN PENYUSUNAN NARASI BUDAYA ISLAM NUSANTARA Siti Mujanah. Sumiati. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya e-mail: sitimujanah@untag-sby. id, . sumiati@untag-sby. ABSTRACT The revitalization of religious tourism in the local culture-based area requires an adaptive approach to technological developments and the preferences of the digital generation. This article aims to increase the capacity of the community in managing religious tourism in Lamongan through digital literacy and the preparation of the archipelago's Islamic cultural narrative. Using a qualitative approach with participatory observation methods, in-depth interviews, and Focus Group Discussions (FGD), this activity involved local tourism actors. MSME actors, and cultural leaders in training in digital content creation and strengthening local cultural identity. The results of the activity show a significant increase in people's digital skills and the creation of cultural narratives that can be published online. These findings contribute to community empowerment and strengthening the theory of cultural communication in the context of tourism promotion. In conclusion, digital literacy and local cultural narratives are strategic instruments in strengthening the attraction of religious tourism. Further research is recommended to evaluate the long-term effectiveness of this program in increasing tourism visits and cultural preservation. Keywords: religious tourism, digital literacy. Islam Nusantara, community service. Lamongan ABSTRAK Revitalisasi wisata religi di daerah berbasis budaya lokal memerlukan pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan preferensi generasi digital. Artikel ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas komunitas dalam mengelola wisata religi di Lamongan melalui literasi digital dan penyusunan narasi budaya Islam Nusantara. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD), kegiatan ini melibatkan pelaku wisata lokal, pelaku UMKM, dan tokoh budaya dalam pelatihan pembuatan konten digital dan penguatan identitas budaya lokal. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam keterampilan digital masyarakat serta terciptanya narasi budaya yang dapat dipublikasikan secara daring. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan komunitas dan penguatan teori komunikasi budaya dalam konteks promosi wisata. Kesimpulannya, literasi digital dan narasi budaya lokal merupakan instrumen strategis dalam memperkuat daya tarik wisata religi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang program ini dalam meningkatkan kunjungan wisata dan pelastarian budaya. Kata kunci: wisata religi, literasi digital. Islam Nusantara, pengabdian masyarakat. Lamongan Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 206 - 213 PENDAHULUAN Lamongan merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata religi, terutama melalui keberadaan kompleks makam Sunan Drajat di Kecamatan Paciran. Sebagai bagian dari Wali Songo. Sunan Drajat memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa, dan peninggalannya menjadi daya tarik spiritual dan budaya bagi ribuan peziarah setiap Potensi ini tidak hanya bernilai historis dan spiritual, tetapi juga strategis dalam membangun perekonomian berbasis masyarakat lokal. Namun demikian, potensi wisata religi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal, terutama dalam aspek promosi dan narasi budaya. Kabupaten Lamongan, yang terletak di pesisir utara Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi wisata religi yang signifikan. Beberapa destinasi seperti Makam Sunan Drajat. Makam Maulana Ishaq, dan Makam Sendang Duwur telah menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat lokal maupun luar (Oktober 2023. Kunjungan Wisatawan Lamongan Capai 4,2 Juta Pengunjun. Data dari Dinas Pariwisata Lamongan menunjukkan bahwa pada tahun 2022, kunjungan wisatawan ke Makam Sunan Drajat mencapai 1. 116 orang, menjadikannya salah satu destinasi unggulan di wilayah tersebut (Kunjungan Wisata 2022, 2. Di era digital, promosi pariwisata tidak lagi mengandalkan metode konvensional. Kehadiran media sosial, website, dan konten visual telah menjadi sarana utama dalam menarik perhatian wisatawan, termasuk dalam ranah wisata religi. Sayangnya, banyak destinasi wisata religi di Lamongan yang masih tertinggal dalam hal literasi digital. Minimnya pemanfaatan platform digital untuk menyampaikan narasi budaya Islam yang khas Nusantara menyebabkan informasi tentang nilai-nilai spiritual dan historis di balik destinasi tersebut kurang tersampaikan dengan baik kepada publik yang lebih luas, khususnya generasi muda. Urgensi pengembangan literasi digital dalam wisata religi semakin diperkuat dengan data dari Kreatif. , . Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekra. yang menyatakan bahwa lebih dari 60% wisatawan domestik kini mencari informasi destinasi melalui platform digital sebelum melakukan perjalanan (Kemenparekraf, 2. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pengelola wisata religi di Lamongan agar mampu bertransformasi ke arah promosi berbasis teknologi dan narasi yang otentik. Sayangnya, narasi yang berkembang tentang wisata religi di Lamongan masih bersifat parsial dan sering kali terjebak dalam pendekatan komersial semata. Belum banyak upaya sistematis yang mencoba mengangkat nilai-nilai budaya Islam Nusantara secara mendalamAiyakni Islam yang bersinergi dengan kearifan lokal, toleran, dan ramah. Padahal, konsep ini justru menjadi identitas unik yang dapat membedakan wisata religi di Indonesia dengan negara lain. Penyusunan narasi ini penting tidak hanya untuk promosi, tetapi juga sebagai bentuk edukasi budaya dan spiritualitas kepada pengunjung. Permasalahan utama yang dihadapi adalah rendahnya kapasitas masyarakat, pengelola wisata, dan pelaku UMKM lokal dalam mengelola branding digital dan menyusun narasi budaya yang relevan. Sebagian besar hanya mengandalkan brosur cetak atau informasi lisan tanpa dokumentasi digital yang Akibatnya, wisata religi Lamongan belum memiliki citra digital yang kuat, terstruktur, dan mampu bersaing dengan destinasi lain di Jawa Timur yang lebih mapan secara promosi daring. Selain itu, terdapat kesenjangan antara potensi lokal dan pemanfaatan teknologi informasi yang Sebagian besar konten digital yang dihasilkan bersifat sporadis, tidak konsisten, dan kurang memperhatikan kualitas narasi atau visual yang sesuai dengan nilai-nilai budaya Islam lokal. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya program yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kultural dan edukatif dalam pengembangan konten digital untuk wisata religi. Meskipun jumlah kunjungan yang tinggi, pengelolaan dan promosi destinasi wisata religi di Lamongan masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kurangnya pemanfaatan teknologi digital dalam mempromosikan potensi wisata yang ada. Literasi digital di kalangan pengelola wisata dan masyarakat sekitar masih tergolong rendah, sehingga informasi mengenai destinasi wisata tidak tersebar secara luas dan efektif . (Arif, 2023. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 206 - 213 Narasi budaya yang mengangkat nilai-nilai Islam Nusantara sebagai identitas lokal belum dikembangkan secara optimal. Padahal, penguatan narasi budaya dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman spiritual dan budaya yang autentik. Kekayaan sejarah dan tradisi Islam di Lamongan merupakan aset berharga yang dapat dikemas dalam bentuk konten digital untuk memperkuat citra destinasi wisata religi. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya upaya revitalisasi wisata religi di Lamongan melalui pendekatan yang mengintegrasikan literasi digital dan penyusunan narasi budaya Islam Nusantara. Dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital dan mengembangkan narasi budaya yang kuat, diharapkan destinasi wisata religi di Lamongan dapat lebih dikenal luas dan menarik minat wisatawan dari berbagai kalangan. Tujuan utama dari artikel ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis proses penguatan literasi digital masyarakat lokal serta penyusunan narasi budaya Islam Nusantara sebagai upaya revitalisasi wisata religi di Lamongan. Program pengabdian masyarakat ini menggabungkan pelatihan teknis digital, pendampingan konten, serta lokakarya narasi budaya dalam satu pendekatan terpadu dan Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan konsep literasi digital dan narasi budaya dalam konteks pariwisata religi, serta memberikan rekomendasi praktis bagi pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat dalam mengelola dan mempromosikan destinasi wisata religi secara efektif dan berkelanjutan. TEORI 1 Konsep Wisata Religi Wisata religi merupakan bentuk perjalanan yang dilakukan individu atau kelompok ke lokasi yang memiliki nilai keagamaan tertentu, baik untuk beribadah, belajar, maupun sekadar mengenal sejarah spiritual. Karakteristik utama wisata religi meliputi keberadaan situs bersejarah, makam wali, masjid tua, pesantren karismatik, serta narasi spiritual masyarakat setempat. Dalam konteks Indonesia, wisata religi menjadi bentuk turisme spiritual yang berkembang pesat, terutama di Pulau Jawa dan Madura (Rahayu & Megasari, 2. Peran wisata religi dalam pembangunan budaya dan ekonomi lokal sangat signifikan. Selain menjaga kelestarian budaya dan sejarah Islam, wisata religi juga berkontribusi dalam menciptakan peluang ekonomi, mendorong UMKM lokal, dan memperkuat identitas keagamaan masyarakat. Studi di Pulau Mengare dan Lamongan mengungkap bahwa situs makam wali dan pesantren tua menjadi magnet wisata yang menarik ribuan peziarah setiap tahunnya (Rangkuty, 2. Namun, pengembangan wisata religi di era digital menghadapi tantangan seperti minimnya literasi digital komunitas pengelola, keterbatasan promosi daring, dan konservatisme sosial yang belum mendukung inovasi konten digital. Meski demikian, peluang besar terbuka melalui optimalisasi media sosial. Google Maps, dan konten video untuk memperluas jangkauan promosi dan narasi spiritual 2 Budaya Islam Nusantara Islam Nusantara adalah model keberislaman khas Indonesia yang menggabungkan ajaran Islam dengan budaya lokal, menjadikannya inklusif, moderat, dan kontekstual. Konsep ini menekankan nilainilai toleransi, keterbukaan, serta akulturasi budaya dan agama. Sejarah mencatat bahwa penyebaran Islam di Jawa Timur sangat dipengaruhi oleh pendekatan budaya, seperti seni wayang, gamelan, dan tradisi lokal (Sofanudin, 2. Dalam konteks wisata religi. Islam Nusantara berfungsi sebagai narasi kultural yang memperkaya pengalaman spiritual wisatawan. Tradisi haul, ziarah wali, dan budaya pesantren menjadi elemen penting yang merepresentasikan spiritualitas lokal. Di Lamongan, narasi budaya Islam seperti legenda Sunan Drajat dan petuah-petuah tasawuf menjadi daya tarik tersendiri dalam kemasan wisata religi. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 206 - 213 3 Literasi Digital dalam Konteks Komunitas Wisata Literasi digital adalah kemampuan masyarakat dalam mengakses, mengevaluasi, memproduksi, dan mendistribusikan konten digital secara efektif dan bertanggung jawab. Dalam konteks komunitas wisata, literasi digital mencakup kemampuan untuk mengelola media sosial, membuat konten video pendek, serta membaca data dari platform seperti TikTok Insight atau Google Business Profile. Media sosial berperan penting dalam promosi wisata karena mampu mengkomunikasikan daya tarik destinasi kepada pasar yang lebih luas dengan biaya rendah. Studi oleh Suharyanto & Faqihuddin, . menekankan bahwa peningkatan branding melalui konten visual berbasis komunitas mampu memperkuat promosi digital di sektor wisata religi. Namun, tantangan di desa meliputi kurangnya pelatihan, infrastruktur TIK yang lemah, dan resistensi terhadap teknologi baru. Solusi efektif adalah pendekatan literasi digital berbasis pelatihan komunitas . ommunity-based digital trainin. , di mana warga lokal diajak belajar membuat konten, mengelola akun desa wisata, hingga mengintegrasikan cerita lokal ke dalam narasi digital. Sumber : Peneliti . Gambar 1 Proses Pengembangan Wisata Religi METODE Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam fenomena sosial dan budaya yang kompleks, khususnya dalam konteks pengembangan wisata religi berbasis literasi digital dan narasi budaya lokal. Metode ini juga memungkinkan partisipasi aktif dari masyarakat setempat, yang merupakan subjek utama dalam kegiatan pengabdian ini. (Creswell, 2. Sumber data dalam kegiatan ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD) dengan pelaku wisata religi, anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. , pelaku UMKM lokal, serta tokoh budaya dan pemuda desa. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan dari dokumen desa, laporan program desa wisata sebelumnya, serta studi literatur mengenai branding digital dan pemberdayaan komunitas. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 206 - 213 Kegiatan ini juga melibatkan penelusuran konten digital yang telah dibuat sebelumnya oleh desa wisata, seperti akun media sosial atau brosur digital, sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran. Teknik pengumpulan data dilakukan secara sistematis melalui beberapa tahap. Pertama, observasi partisipatif dilakukan untuk memahami kondisi aktual di lapangan dan interaksi sosial yang terjadi dalam konteks wisata religi. Kedua, wawancara mendalam dilakukan dengan informan kunci untuk menggali perspektif dan pengalaman mereka terkait pengembangan wisata religi dan literasi Ketiga. FGD dilaksanakan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan mendalam mengenai isu-isu yang dihadapi serta solusi yang mungkin diterapkan. Keempat, dokumentasi digunakan untuk merekam kegiatan dan proses yang berlangsung selama pengabdian masyarakat. Prosedur analisis data mengikuti tahapan yang umum dalam penelitian kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan cara memilah dan memilih data yang relevan dengan fokus penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif yang menggambarkan temuan-temuan utama. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara menginterpretasikan data yang telah disajikan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan pengabdian masyarakat. Proses ini dilakukan secara iteratif dan reflektif untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan. Subjek dalam kegiatan ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut: . warga yang aktif dalam pengelolaan desa wisata. pelaku UMKM yang menjadi bagian dari atraksi atau ekosistem wisata lokal. tokoh budaya dan pemuda desa yang memiliki peran dalam komunikasi komunitas. Jumlah partisipan utama berjumlah 15Ae20 orang, yang terdiri dari anggota Pokdarwis, pelaku usaha kuliner dan kerajinan, serta pegiat media sosial desa. Teknik ini dipilih karena pengabdian bersifat kontekstual dan memerlukan keterlibatan subjek yang relevan dengan tujuan Sumber . Gambar 2 Bagan Prosedur Analisis Alur kegiatan pengabdian masyarakat secara menyeluruh, dari tahap awal identifikasi hingga implementasi digital. Identifikasi Masalah Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 206 - 213 Langkah awal dalam kegiatan pengabdian ini adalah mengidentifikasi masalah utama yang dihadapi oleh desa wisata religi, seperti kurangnya literasi digital dan belum tersusunnya narasi budaya Islam Nusantara secara sistematis. Proses ini dilakukan melalui observasi awal dan diskusi informal dengan tokoh masyarakat, perangkat desa, dan pelaku wisata setempat. Pemilihan Subjek Setelah masalah teridentifikasi, subjek pengabdian dipilih dengan menggunakan purposive sampling, yaitu teknik pemilihan partisipan berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan program. Tiga kelompok utama yang dipilih meliputi: Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisat. , sebagai pengelola langsung destinasi wisata religi. Pelaku UMKM, khususnya yang terkait dengan kegiatan pariwisata seperti kuliner dan kerajinan tangan. Tokoh budaya dan pemuda desa, yang memiliki pengaruh sosial dan peran penting dalam penyebaran informasi serta pelestarian budaya. Pengumpulan Data Proses pengumpulan data dilakukan melalui empat teknik utama: Observasi partisipatif, untuk memahami interaksi sosial, aktivitas wisata, dan potensi digital yang Wawancara mendalam, dengan informan kunci untuk menggali pengetahuan lokal, praktik keagamaan, serta pemahaman mereka tentang budaya Islam Nusantara. Focus Group Discussion (FGD), sebagai forum diskusi bersama untuk menyatukan pandangan dan menyusun strategi branding digital. Dokumentasi, berupa pencatatan, foto, dan video dari seluruh kegiatan, termasuk konten digital desa yang telah ada sebelumnya. Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis menggunakan pendekatan Miles dan Huberman . yang terdiri dari tiga tahap utama: Reduksi data: memilah dan menyederhanakan data yang diperoleh untuk fokus pada aspek yang paling relevan. Penyajian data: menyusun informasi dalam bentuk naratif atau visual agar mudah dipahami dan Penarikan kesimpulan: menyusun temuan akhir dan rekomendasi strategis berdasarkan data yang Penyusunan Narasi Budaya Islam Nusantara Berdasarkan analisis data dan hasil diskusi kelompok, dilakukan penyusunan narasi budaya Islam Nusantara yang kontekstual dengan sejarah dan nilai-nilai keislaman masyarakat Lamongan. Narasi ini disusun sebagai konten edukatif dan promosi untuk memperkuat identitas wisata religi berbasis budaya lokal. Implementasi Literasi Digital dalam Promosi Wisata Religi Langkah terakhir adalah pelatihan dan pendampingan pembuatan konten digital seperti video, infografis, dan posting media sosial. Konten ini digunakan untuk memperkenalkan wisata religi Lamongan secara lebih luas melalui platform digital. Literasi digital juga mencakup manajemen media sosial, strategi branding, dan penguatan kapasitas komunitas dalam menjaga kesinambungan promosi wisata. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kegiatan pengabdian yang dilaksanakan di beberapa lokasi wisata religi di kabupaten lamongan berhasil menunjukkan dampak positif, baik dari sisi pemberdayaan komunitas maupun penguatan identitas budaya. Salah satu hasil utama yang dicapai adalah meningkatnya kemampuan literasi digital masyarakat, terutama di kalangan pelaku wisata, anggota pokdarwis, dan pelaku umkm lokal. Melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan, peserta dapat memahami strategi pengelolaan media sosial, perencanaan konten digital, hingga penyuntingan visual dasar yang mendukung promosi wisata secara Hasil ini diperkuat dengan data evaluasi partisipan, yang menunjukkan peningkatan sebesar 70% dalam aspek keterampilan digital praktis setelah pelatihan selesai. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 206 - 213 Selain itu, kegiatan ini juga berhasil menyusun narasi budaya islam nusantara yang bersumber dari kisah lokal, sejarah tokoh-tokoh wali, serta praktik-praktik keagamaan yang masih hidup di tengah masyarakat lamongan. Narasi tersebut kemudian dikemas dalam bentuk konten kreatif seperti video pendek, kutipan budaya islam lokal, serta infografis sejarah situs religi yang dapat diakses melalui media sosial dan platform digital desa. Upaya ini bertujuan untuk menciptakan daya tarik wisata yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga edukatif dan kultural. Dengan demikian, wisata religi di lamongan tidak lagi dipandang hanya sebagai kunjungan ziarah, melainkan sebagai pengalaman budaya yang utuh dan bernilai tinggi. Implementasi digitalisasi juga berdampak pada peningkatan eksistensi destinasi wisata secara Akun media sosial yang sebelumnya tidak aktif kini telah menunjukkan aktivitas promosi rutin dengan konten visual yang menarik dan konsisten. Beberapa situs religi seperti makam sunan drajat dan makam sunan sendang duwur tercatat mengalami kenaikan interaksi daring, serta peningkatan kunjungan wisatawan, terutama dari generasi muda yang mulai melihat nilai historis dan spiritual melalui pendekatan visual digital yang lebih menarik. Pembahasan Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa literasi digital memiliki peran strategis dalam upaya revitalisasi destinasi wisata berbasis budaya. Hal ini selaras dengan teori partisipasi komunitas yang dikemukakan oleh Freire, . , bahwa proses pemberdayaan yang efektif harus melibatkan masyarakat secara aktif sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Dalam konteks ini, masyarakat tidak hanya dilatih, tetapi juga diajak menyusun narasi budaya mereka sendiri, yang selanjutnya menjadi kekuatan promosi dan identitas daerah. Di sisi lain, integrasi narasi budaya islam nusantara dalam promosi wisata sejalan dengan pemikiran Hall, . mengenai pentingnya representasi budaya dalam media. Penyusunan narasi berbasis nilai lokal menjadi pembeda utama kegiatan ini dengan program-program promosi wisata sebelumnya yang cenderung generik dan tidak menggali kekayaan kultural secara mendalam. Penekanan pada narasi lokal memperkuat daya tarik destinasi dan memperkaya pengalaman wisatawan. Meski demikian, pengabdian ini juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketimpangan literasi digital antar anggota komunitas, serta keterbatasan infrastruktur jaringan internet di beberapa titik lokasi wisata. Beberapa partisipan mengalami kendala dalam mengoperasikan perangkat digital secara mandiri, sehingga dibutuhkan pendampingan lanjutan dan pelatihan teknis tingkat Di samping itu, keberlanjutan program masih sangat tergantung pada dukungan eksternal, baik dari akademisi maupun pemerintah daerah. Implikasi dari temuan ini cukup luas. Pertama, kegiatan ini membuktikan bahwa pengembangan wisata tidak hanya memerlukan infrastruktur fisik, tetapi juga investasi pada sumber daya manusia, khususnya dalam bidang literasi digital dan penguatan identitas budaya. Kedua, penyusunan narasi islam nusantara sebagai bagian dari konten promosi menjadi alternatif pendekatan promosi yang lebih bermakna dibanding pendekatan komersial semata. Pendekatan ini mampu menyampaikan pesan budaya dan nilai-nilai lokal kepada generasi muda dan wisatawan. Kontribusi teoretis dari pengabdian ini terletak pada penggabungan pendekatan komunikasi budaya, literasi digital, dan pemberdayaan komunitas dalam satu kerangka implementatif. Secara praktis, program ini menawarkan model intervensi yang dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi wisata budaya dan religi serupa. Kebaruan program ini terletak pada integrasi konten naratif lokal dengan media digital secara langsung oleh komunitas, bukan oleh pihak luar. Adapun keterbatasan utama kegiatan ini adalah belum dilakukannya evaluasi jangka panjang terhadap dampak digitalisasi terhadap kunjungan wisatawan secara kuantitatif. Oleh karena itu, disarankan adanya riset lanjutan yang fokus pada pengukuran efektivitas promosi digital berbasis narasi lokal dalam jangka waktu lebih panjang. Dengan demikian, keberlanjutan dan skalabilitas program ini dapat dirancang secara lebih sistematis. Jurnal Semeru: https://ejournal. id/semeru https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. Mei 2025 E-ISSN : 3047-6518 Halaman : 206 - 213 KESIMPULAN Hasil dari pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi digital dan penyusunan narasi budaya Islam Nusantara memberikan dampak signifikan dalam upaya revitalisasi wisata religi di Lamongan. Kegiatan ini berhasil membekali komunitas lokal dengan keterampilan praktis dalam memproduksi dan mendistribusikan konten digital yang merepresentasikan identitas budaya dan nilai keislaman lokal. Temuan ini memberikan pemahaman mendalam bahwa promosi wisata yang efektif tidak hanya bergantung pada aspek fisik destinasi, tetapi juga pada kekuatan narasi budaya yang autentik dan representatif. Kontribusi pengabdian ini memperkuat teori partisipasi komunitas dan komunikasi budaya dengan menunjukkan bahwa masyarakat dapat menjadi aktor utama dalam membentuk citra destinasi wisata berbasis nilai lokal. Implikasi temuan ini merambah ranah sosial, budaya, dan akademik karena membuka ruang kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam pelestarian budaya berbasis teknologi. Keterbatasan pengabdian ini terletak pada cakupan wilayah dan belum adanya evaluasi jangka panjang terhadap keberlanjutan konten digital yang dihasilkan. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dan model kolaboratif lintas sektor dalam promosi wisata budaya digital. Berdasarkan hasil pengabdian, disarankan agar pemerintah daerah dan pemangku kepentingan wisata memberikan dukungan berkelanjutan berupa pelatihan lanjutan, pendampingan teknis, serta penguatan jaringan promosi digital berbasis komunitas. Bagi akademisi, pengembangan program serupa dapat dilakukan melalui pendekatan interdisipliner yang menggabungkan ilmu budaya, teknologi informasi, dan komunikasi strategis. Sementara itu, untuk kegiatan penelitian selanjutnya, disarankan untuk memperluas objek kajian ke desa wisata religi lain dengan potensi narasi budaya yang serupa, serta menerapkan metode triangulasi data untuk memperkuat validitas hasil. Penelitian di masa depan juga dapat mengkaji efektivitas jangka panjang dari strategi digital berbasis budaya terhadap peningkatan kunjungan wisatawan dan pelestarian identitas lokal. REFERENSI