Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Pengalaman Intersubjektif Remote Audit Masa Post Covid Risyad Alfiqho Martha*. Nur Abdullah Birton. Adrian Muluk Universitas Muhammadiyah Jakarta *risyadalfiqho@yahoo. ABSTRACT This research aims to explain interactions . between individual auditors and between auditors and auditees in implementing remote audits from the engagement, planning, implementation and reporting stages after the COVID-19 pandemic. This research applies a qualitative approach in an interpretive paradigm and phenomenological methods. Indepth interviews were conducted with four auditors and one auditee. Using Alfred Schutz's intersubjective phenomenology to describe the experiences and meanings of each informant and combined with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The research results show that after the COVID-19 pandemic, the use of hybrid methods resulted in the intensity of direct interaction between audit teams reducing reductions in the planning and implementation stages. Meanwhile, direct interaction with auditees is increasing compared to during the pandemic. The effective use of remote audits post-pandemic has implications for making audit data collection easier, auditors can focus more on examining material accounts and shorten audit time in meeting audit deadlines. Keywords: Remote audit. COVID-19. Schutz's Phenomenology. Interpretative Phenomenological Analysis ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan interaksi . antara auditor individu dan antara auditor dan auditee dalam pelaksanaan audit jarak jauh pada tahap penugasan, perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan setelah pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam paradigma interpretatif dan metode Wawancara mendalam dilakukan dengan empat auditor dan satu auditee. Menggunakan fenomenologi intersubjektif Alfred Schutz untuk menggambarkan pengalaman dan makna masing-masing informan, dikombinasikan dengan Analisis Fenomenologis interpretatif (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah pandemi COVID-19, penggunaan metode hibrida mengakibatkan intensitas interaksi langsung antara tim audit berkurang pada tahap perencanaan dan pelaksanaan. Sementara itu, interaksi langsung dengan auditee meningkat dibandingkan selama pandemi. Penggunaan audit jarak jauhy ang efektif pasca-pandemi memiliki implikasi untuk mempermudah pengumpulan data audit, auditor dapat lebih fokus pada pemeriksaan akun material, dan memperpendek waktu audit dalam memenuhi tenggat waktu audit. Kata kunci: Remote audit. COVID-19. Fenomenologi Schutz. Interpretative Phenomenological Analysis 4034 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. PENDAHULUAN Akuntan merupakan profesi yang berkembang dari masa ke masa dalam menjaga eksistensinya terutama pada era digital dan perkembangan teknologi Perkembangan tersebut ditandai dengan perkembangan Robotics and Data Analytics . ig dat. yang mengambil alih pekerjaan dasar yang dilakukan oleh akuntan yaitu mencatat, mengolah dan memilah transaksi (Rayimovna, 2. Perkembangan teknologi informasi tidak hanya bagi perusahaan secara keseluruhan tetapi juga pada kantor akuntan publik (KAP) (Martusa et al. , 2. Perkembangan teknologi dan digitalisasi memungkinkan auditor memeriksa seluruh populasi untuk mencari pola dan anomali atas transaksi yang tidak biasa (Ajeng et al. , 2. Oleh sebab itu teknologi audit digital terus berkembang yang umumnya untuk meningkatkan kualitas audit. Penggunaan teknologi membuat proses audit dapat dilaksanakan secara jarak jauh . emote audi. Pada awalnya remote audit bertujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam proses audit serta dapat mengurangi biaya perjalanan audit (Efendi, 2. dan memaksimalkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam memperkuat dokumentasi dan pelaporan audit (Azizah & Wahyuni, 2. Setianto yang merupakan Presiden The Institute of Internal Auditors (IIA) Indonesia mendefinisikan remote audit sebagai audit jarak jauh yang pelaksanaannya menggunakan teknologi informasi untuk mengumpulkan data, mewawancarai auditee, dan prosedur audit lainnya, ketika metode tatap muka tidak dapat dilakukan (IAPI, 2. Penugasan audit dengan penerapan remote audit auditor menggunakan bantuan komputer serta perangkat teknologi informasi sebagai pengganti metode tatap muka (Agha, 2. Meskipun begitu, audit jarak jauh tersebut dapat berdampak pada kualitas bukti audit, auditor harus tetap mendapatkan keyakinan yang memadai atas keandalan dan kelengkapan bukti audit dalam penerapan audit jarak jauh (Ainurrofiq & Amir, 2. Audit jarak jauh merupakan pertimbangan praktis terhadap proses audit terutama pada periode 2020 Ae 2021 ketika wabah Corona Virus Disease-19 (COVID. yang menyebabkan pandemi secara global dan berpengaruh terhadap hampir seluruh dunia. Pandemi COVID-19 telah menyebabkan perubahan pola hidup dan pola kerja yang harus mengikuti protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penyebaran COVID-19 atau disebut dengan adaptasi kebiasaan baru (New Norma. (Efendi, 2. Hambatan tersebut membuat prosedur audit yang membutuhkan pertemuan langsung, diatasi dengan pelaksanaan secara virtual. Pandemi COVID-19 dapat menjadi peluang auditor EY Irlandia untuk membuka jalan bagi pendekatan baru dalam audit yaitu remote audit. Seperti strategi yang diterapkan oleh Deloitte Indonesia, auditor diharuskan bekerja secara jarak jauh (Minarhadi et al. , 2. Hal tersebut dapat menyebabkan cara kerja dan proses audit akan berubah secara perlahan dan akan mulai melakukan transisi dan kembali ke pengujian audit seperti sebelum terjadinya COVID-19 (Setyowicaksono et al. , 2. 4035 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Meskipun begitu, menurut penelitian pada KAP di Indonesia, transisi dari proses audit secara tatap muka ke model hybrid dan jarak jauh tidak akan berakhir hanya saat pandemi. (Febriyana et al. , 2. juga mengungkapkan bahwa fasilitas, cara kerja, dan proses audit yang sudah dibentuk dan digunakan selama masa pandemi COVID-19 akan berlanjut digunakan pasca COVID-19 dikarenakan memiliki potensi untuk menjadi komponen kunci dari proses audit di masa depan, memberikan fleksibilitas, efisiensi, dan akses yang lebih besar ke informasi audit. Remote audit memiliki keterbatasan yaitu bahwa pengamatan secara langsung dalam proses audit tidak dapat tergantikan, serta adanya keterbatasan dalam komunikasi dalam menjalin interaksi auditor dengan auditee (Anshori, 2. Penelitian yang dilakukan (Fitriana & Permana, 2. juga menyimpulkan bahwa pengamatan secara langsung dalam proses audit tidak dapat tergantikan dikarenakan audit jarak jauh menyulitkan dalam menjalin hubungan dan interaksi dengan auditee dan kurangnya interaksi personal secara langsung yang dapat membuka peluang terjadinya kecurangan . Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti ingin memberikan gambaran mengenai fenomena yang terjadi terhadap interaksi auditor dengan auditee dan juga antara tim auditor dalam lingkup penugasan yang sama dalam penerapan remote audit pada masa post pandemi COVID-19. Pertimbangan bahwa remote audit akan terus digunakan pada post pandemi COVID-19 menyebabkan beberapa KAP menggunakan model bekerja secara hybrid dan hybrid audit ini dianggap sebagai solusi terbaik untuk menghasilkan laporan audit yang berkualitas (Minarhadi et al. , 2. Model kerja hybrid adalah penggabungan antara bekerja dari rumah atau remote dengan kemampuan perusahaan untuk menyeimbangkan kebutuhan karyawan mulai dari alur kerja, komunikasi, alat, hingga software yang mampu memenuhi dan mengoptimalkan pekerjaan (Ainurrofiq & Amir, 2. Interaksi antar tim auditor dan dengan auditee dapat tergambarkan dengan menggunakan teori intersubjektif, seperti dalam penelitian (Khoirunnisa, 2. dengan metode fenomenologi intersubjektif yang meneliti interaksi yang terjalin antara auditor terkait peranannya dalam pelaksanaan audit serta hubungannya dengan rekan sejawat, pimpinan dan auditee. Fenomenologi intersubjektif Alfred Schutz dirasa tepat untuk menggambarkan realitas auditor pada tingkatan kolektif, yaitu secara sosial adanya perubahan interaksi antartim auditor maupun antara auditor dan auditee dalam penerapan remote audit pada masa post COVID-19. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, peneliti akan menginterpretasikan interaksi intersubjektif antara individu dalam tim audit dari interaksi intersubjektif junior auditor terhadap senior auditor, supervisor auditor, manajer auditor, partner dan auditee dan seterusnya sampai dengan interaksi partner terhadap masing-masing auditor dan auditee terkait pelaksanaan remote audit dari tahap perikatan, perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan di masa post pandemi COVID-19 dengan fenomenologi intersubjektif Alfred Schutz untuk menggambarkan pengalaman dan makna tiap informan yang saling berinteraksi 4036 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. secara intersubjektif dalam fenomena yang sama yaitu dalam lingkup penugasan audit yang sama. TINJAUAN LITERATUR Remote Audit IAPI Indonesia pada tahun 2020 menerbitkan publikasi teknis tentang respons auditor atas pandemi COVID-19 yaitu salah satunya terkait penerapan SA 330 tentang respons auditor terhadap risiko yang telah dinilai, yaitu auditor harus memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat selama pandemi COVID-19 dengan dapat menggunakan alternatif prosedur yaitu audit jarak jauh (Tanudiredja, 2. Remote audit atau audit jarak jauh merupakan salah satu prosedur alternatif yang dapat dilakukan selama masa pandemi COVID-19. Setianto . yang merupakan Presiden The Institute of Internal Auditors (IIA) Indonesia mendefinisikan remote audit sebagai audit jarak jauh yang pelaksanaannya menggunakan teknologi informasi untuk mengumpulkan data, mewawancarai auditee, dan prosedur audit lainnya, ketika metode tatap muka tidak dapat dilakukan. Penugasan audit dengan penerapan remote audit auditor menggunakan bantuan komputer serta perangkat teknologi informasi sebagai pengganti metode tatap muka (Litzenberg & Ramirez, 2. Pandemi COVID-19 mendesak KAP untuk mengintegrasikan remote audit, meskipun bukan merupakan hal yang baru karena sebelumnya sudah terdapat wacana atau gagasan bagi profesi audit dalam melakukan pekerjaan dan proses pemeriksaan sejak berkembangnya teknologi dan revolusi 0 (Putra, 2. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan inti dari remote audit dikarenakan dalam pelaksanaannya membutuhkan penggunaan media internet, video streaming dan database online (Agha, 2. sehingga auditor dan auditee harus memiliki kemampuan dan pemahaman atas teknologi informasi dan komunikasi. Pelaksanaan remote audit pada praktiknya dapat dilakukan sebagian atau seluruhnya di luar lokasi (Febriyana et al. , 2. dengan tetap mencakup semua area atau lingkup audit (Agha, 2. Pelaksanaan remote audit tersebut dilakukan seperti audit pada biasanya, yaitu dimulai dengan perencanaan, atau pra-audit, rapat pembukaan, audit implementasi, rapat penutupan, dan pelaporan (Febriyana et al. Meskipun begitu, audit jarak jauh tersebut dapat berdampak pada kualitas bukti audit, auditor harus tetap mendapatkan keyakinan yang memadai atas keandalan dan kelengkapan bukti audit dalam penerapan audit jarak jauh (Tanudiredja, 2. Remote Audit Post COVID-19 Penelitian Setyowicaksono et al. , . mengungkapkan bahwa Pasca COVID-19, cara kerja dan proses audit kemungkinan akan berubah secara perlahan. Metode remote audit yang telah digunakan selama pandemi kemungkinan akan terus digunakan, karena telah terbukti efektif dalam mengatasi kendala-kendala yang 4037 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. dihadapi selama pandemi. Selain itu, teknologi seperti analisis data dan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas audit. Pandemi Covid-19 tidak hanya memberikan dampak pada prosedur audit selama pandemi, tetapi juga berdampak pada prosedur audit pasca pandemi. Beberapa perusahaan mungkin telah mengalami perubahan signifikan dalam operasi mereka dan ini dapat mempengaruhi kondisi keuangan mereka, sehingga proses audit pasca pandemi menjadi lebih penting dari sebelumnya. Menurut KPMG . , proses audit pasca pandemi harus mencakup evaluasi terhadap perubahan kondisi keuangan perusahaan, risiko bisnis baru, dan dampak yang dihasilkan pada kontrol keuangan. Hal ini menuntut auditor untuk memperhatikan perubahan yang terjadi pada perusahaan dan mempertimbangkan risiko yang terkait dengan kondisi tersebut. Selain itu, auditor juga harus mempertimbangkan dampak pandemi pada prosedur audit di masa mendatang. Pertimbangan bahwa remote audit akan terus digunakan pada post pandemi COVID-19 menyebabkan beberapa KAP menggunakan model bekerja secara hybrid (Meyer Cheryl, 2. dan hybrid audit ini dianggap sebagai solusi terbaik untuk menghasilkan laporan audit yang berkualitas (Yan Minarhadi et al. , 2. Model kerja hybrid adalah penggabungan antara bekerja dari rumah atau remote dengan kemampuan perusahaan untuk menyeimbangkan kebutuhan karyawan mulai dari alur kerja, komunikasi, alat, hingga software yang mampu memenuhi dan mengoptimalkan pekerjaan (Ainurrofiq & Amir, 2. Menurut Bankova & Georgieva . audit secara hybrid adalah menggabungkan audit dengan metode FtF dan remote audit. Fenomenologi Alfred Schutz Teori utama dalam fenomenologi adalah makna. Makna merupakan isi penting yang muncul dari pengalaman kesadaran manusia. Untuk mengidentifikasi kualitas yang essensial dari pengalaman kesadaran dilakukan dengan mendalam dan teliti (Smith et al. , 2. Inti pemikiran fenomenologi Schutz adalah bagaimana memahami tindakan sosial . ang berorientasi pada perilaku orang atau orang lain pada masa lalu, sekarang dan akan datan. melalui penafsiran (Schutz, 1967 dalam Manggola & Thadi, 2. Weigert . mengungkapkan bahwa untuk menggambarkan seluruh tindakan seseorang. Schutz mengelompokkan motif dalam dua tipe motif, yaitu: Because motive yaitu motivasi yang timbul dari pengalaman masa lalu individu sebagai masyarakat sosial yang menjadikan alasan seseorang melakukan sesuatu tindakan sebagai usahanya menciptakan situasi dan kondisi yang diharapkan di masa datang (Ajeng et al. , 2. Dengan kata lain because motive adalah yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindakan tertentu. Motif tujuan (In order to motiv. In order to motive merupakan pandangan retrospektif terhadap faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan tertentu (Iskandar & Jacky, 2. 4038 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Dengan kata lain in order to motive adalah tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang yang melakukan suatu tindakan tertentu. Teori fenomenologi menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara motif Autujuan dan motif AukarenaAy. Hubungan kedua motif dalam teori. Seseorang melakukan sesuatu tentu memiliki alasan yang disebut motif, dan motif akan membagi dua maksud yaitu jika adanya tujuan maka akan ada sebab (Ajeng et al. , 2. Konsep Teori Intersubyektif Alfred Schutz Menurut Schutz dalam Anshori . fenomenologi merupakan cara untuk menafsirkan konsep-konsep sosiologis, peneliti diharuskan memproses reduksi fenomenologis, yaitu melepaskan diri dari segala teoritis dan ilmiah sehingga objek yang dianalisis hanya berdasarkan makna fenomena yang dialami. Dalam fenomenologi Alfred Schutz, proses pemaknaan dapat dihasilkan dari proses interaksi antar individu yang bersifat intersubjektif yaitu makna subjektif yang terbentuk dalam dunia sosial yang memiliki kesamaan dan kebersamaan (Wilson. Teori intersubjektif mengacu kepada suatu kenyataan bahwa kelompokkelompok sosial saling menginterpretasikan tindakannya masing-masing dan pengalaman mereka juga diperoleh melalui cara yang sama seperti yang dialami dalam interaksi secara individual (Trujillo, 2018. Faktor saling memahami satu sama lain baik antar individu maupun antarkelompok ini diperlukan untuk terciptanya kerja sama di hampir semua organisasi sosial (Choirunniswah, 2. Namun dalam mencoba memahami perilaku, tindakan, maupun pemikiran manusia tentu saja seorang peneliti dituntut secara fleksibel mampu menyesuaikan taraf pemikiran ilmiahnya dengan individu lain yang secara simultan menjadi obyek dan subyek penelitian, sebagai pihak yang sekaligus melakukan pemaknaan terhadap tindakannya sendiri. Selanjutnya dalam proses pemaknaan tersebut terjadi suatu kesepakatan yang intinya tidak mau terjebak hanya pada pemikiran ilmiah sosial tetapi lebih pada interpretasi terhadap kehidupan keseharian yang didasarkan kesepakatan peneliti dengan obyek penelitian yang sekaligus sebagai subyek yang menginterpretasikan dunia sosial dalam kerangka besar proses pencarian dalam proses pemahaman terhadap konstruksi makna dari suatu proses yang bernama intersubyektivitas (Nindito, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini berada dalam paradigma interpretatif. Peneliti menggunakan paradigma interpretatif dengan perspektif fenomenologi sosiologi Alfred Schutz dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan pengalaman dan makna yang dialami auditor dan auditee secara intersubjektif dalam fenomena yang sama yaitu proses audit yang dilakukan secara jarak jauh atau remote audit di masa post pandemi COVID-19. Untuk mengidentifikasi kualitas yang esensial dari pengalaman kesadaran dilakukan dengan mendalam dan teliti (Manggola & Thadi, 2. 4039 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif . ualitative researc. Penelitian dilakukan pada kantor cabang Kantor Akuntan Publik (KAP) Dra. Suhartati & Rekan serta PT IRH . sebagai situs penelitian yang berada di Jakarta. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun metode analisis menggabungkan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dengan konsep interaksi Alfred Schutz. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengalaman Auditor dan Auditee dalam Pelaksanaan Audit Masa Post Pandemi Informan 1 (Senior Audi. Ibu Amelia telah bekerja sebagai auditor yang memiliki pengalaman selama sekitar 5 tahun. Saat ini ia menjabat sebagai senior auditor tingkat satu dengan pengalaman mengaudit lebih dari lima belas klien dari berbagai industri. Setelah masa pandemi COVID-19 SA mengungkapkan tahapan proses audit dari tahap perikatan sampai dengan tahap pelaporan Aoprosesnya tetap samaAo dengan saat masa pandemi maupun sebelum pandemi COVID-19, dikarenakan semua prosedur tetap Untuk interaksi SA dengan tim audit yang lain juga tidak terdapat perubahan, hal tersebut dikarenakan prosedur audit yang melibatkan tim audit tetap dilaksanakan secara langsung. AuSetelah pandemi pun sama, karena pada saat covid kita masih masuk kantor WFO ya nggak WFH jadi prosesnya tetap samaAy (Wawancara SA, 23/05/. Informan 2 (Junior Audi. Ibu Dinda telah menekuni profesi sebagai auditor dengan pengalaman kurang lebih 4 tahun di Kantor Akuntan Publik. Menurutnya, pertemuan secara offline dirasa lebih efektif dalam pelaksanaan audit dikarenakan dapat melihat langsung AoAgestureAo dari AU dan meminimalisir adanya AomiskomunikasiAo dibandingkan jika dilakukan secara online. Selain itu pertemuan secara offline dapat menggunakan media pendukung seperti papan tulis untuk menjelaskan perhitungan. AuAkita melihat gesture mereka ya mas kita bertatap muka langsung dengan mereka. Nah lalu kalo kita secara offline itu lebih sedikit timbulnya miskomunikasi pada saat kita menyampaikan maksud kita. Ay Pengalaman informan 2 di masa post pandemi COVID-19, menghasilkan tema efektivitas audit secara offline, yaitu tidak terdapat perubahan interaksi informan 1 dengan tim audit yang lain pada post pandemi COVID-19 dikarenakan prosedur audit yang melibatkan tim audit tetap dilaksanakan secara langsung. 4040 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Informan 3 (Manajer Audi. Pak Sandy telah menekuni profesi sebagai auditor dengan pengalaman lebih 10 tahun di Kantor Akuntan Publik. Menurutnya, pada tahapan pelaksanaan MA mengungkapkan bahwa interaksi dengan JA semakin berkurang, dikarenakan JA setelah masa pandemi berakhir sering bertugas kelapangan yang dikoordinasikan oleh SA dengan metode hybrid sehingga SA tidak perlu sering ke kantor auditee sesuai arahan MA. Penerapan metode hybrid tersebut MA rasa tepat dikarenakan terdapat beberapa auditee yang ditangani bukan hanya PT IRH dan timeline yang juga sudah dipos-pos untuk dikerjakan dan Aoharus tepat waktuAo. AuAkita ada timeline-nya itu kan udah pasti pos-pos mana yang mereka kerjakan ya, yang mereka harus tepat waktuAAy Selain dengan JA. MA mengungkapkan bahwa interaksi dengan SA juga dilakukan secara hybrid, jadi bila SA sedang melaksanakan prosedur audit kelapangan dan terdapat hal yang mendesak harus di diskusikan, maka MA akan meminta SA untuk Zoom Meeting. Informan 4 (Partner Audi. Pak Adrian merupakan akuntan publik terdaftar dari tahun 2015 dan memiliki pengalaman akuntansi dan audit di berbagai sektor. Dengan tetap berjalannya proses audit di masa pandemi, selain adanya pengembangan beberapa cara metode audit. Muncul sebuah pemikiran dalam benak AP bahwa ternyata prosedur audit itu tidak harus selalu dilakukan secara offline dengan mendatangi Beberapa prosedur dapat dilakukan walaupun dengan jarak yang berjauhan yaitu dengan bantuan teknologi secara online. Au. Jadi online sama offline itu bahkan setelah pasca pandemi itu tuh, orang jadi berpikir bahwa ternyata gak harus offline gitu loh. Online itu juga efektif gitu loh. Ay Informan 5 (Audite. Pak Dodi telah memiliki pengalaman di bidang acoounting dan finance, ia mulai bergabung di PT IRH pada awal tahun 2016. Menurutnya, meskipun pandemi tidak membuat AU merasa kesulitan dalam proses audit, tetapi terdapat perbedaan yang begitu jelas dalam hal berjalannya proses audit. Hal ini dikarenakan sebelum pandemi AU tidak pernah menggunakan media zoom saat proses audit berlangsung. AU menambahkan bawah saat ini zaman teknologi sudah canggih, dikarenakan pada saat pandemi segala sesuatu sudah menggunakan online, sehingga setelah timbul kebiasaan baru yaitu meeting atau diskusi dengan menggunakan Zoom Meeting tanpa bertemu langsung agar dapat mempersingkat waktu. Au. karena udah kebiasaan COVID, udah kebiasaan online, untuk mempersingkat waktu kita bisa langsung by Zoom aja kan. Ay 4041 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Pembahasan Informan 1 Berdasarkan pengalamannya, informan 1 merasakan tidak terdapat perubahan interaksi dengan AP. MA dan JA dari tahap perikatan sampai dengan tahap pelaporan setelah pandemi. Tetapi pengalaman informan 1, melakukan audit di masa pandemi, membuatnya terbiasa berkomunikasi dan berinteraksi dengan AU secara online, sehingga informan 1 berkeyakinan bahwa komunikasi secara online cukup efektif dan menerapkan metode AohybridAo dalam berinteraksi dan distribusi data dengan AU (Minarhadi et al. , 2. Selain itu informan 1 juga merasa sudah mengetahui karakter dari AU sehingga setelah pandemi, interaksi dengan AU dirasa informan 1 lebih mudah. Meskipun begitu prosedur audit yang mengharuskan kelapangan tetap dijalankan secara FtF termasuk saat closing meeting. Terkait intersubjektivitas tersebut, digambarkan sebagai berikut. Gambar 1. Intersubjektif Pengalaman Informan 1 Sumber: Data Penelitian, 2024 Informan 2 Informan 2 mempunyai pandangan bahwa metode FtF lebih efektif dalam tahap pelaksanaan audit, dikarenakan dalam berinteraksi dapat melihat langsung AogestureAo dari AU dan meminimalisir adanya AomiskomunikasiAo, meskipun AU sering berinisiatif mengirimkan data secara online. Pandangan informan 2 terlihat tipikal, karena meskipun ia diberikan data secara online, informan 2 tetap melakukan verifikasi dokumen asli saat melakukan kunjungan lapangan. 4042 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Dalam interaksi dengan tim audit yang lain informan 2 tidak merasakan ada perubahan setelah pandemi dikarenakan pengalaman yang sama di masa pandemi yaitu interaksi terjalin secara langsung dari tahap perikatan audit, perencanaan, pelaksanaan, penyelesaian dan pelaporan. Terkait intersubjektivitas tersebut, digambarkan sebagai berikut. Gambar 2. Intersubjektif Pengalaman Informan 2 Sumber: Data Penelitian, 202 Informan 3 Setelah pandemi, informan 3 merasa bahwa penerapan remote audit dirasa efektif sehingga ia menerapkan metode hybrid setelah pandemi, selain untuk berkomunikasi, distribusi data dan prosedur audit dengan AU, metode tersebut juga untuk mengoordinasikan SA dan JA yang setelah pandemi lebih sering ditugaskan Hal tersebut dilakukan informan 3 dikarenakan terdapat beberapa auditee yang ditangani bukan hanya PT IRH dan timeline yang juga padat dan Aoharus tepat waktuAo. Interaksi intersubjektivitas informan 3 terlihat sebagai sesuatu yang pragmatis, dikarenakan penerapan metode hybrid yang ia terapkan didasarkan komitmennya terhadap timeline yang sudah disepakati. Terkait intersubjektivitas tersebut, digambarkan sebagai berikut. 4043 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Gambar 3. Intersubjektif Pengalaman Informan 3 Sumber: Data Penelitian, 2024 Informan 4 Setelah pandemi COVID-19 berakhir. AP memiliki pandangan bahwa audit tidak hanya harus dilakukan secara langsung, tetapi dapat dilakukan dengan metode remote audit. Hal tersebut juga didasarkan pengalamannya mengaudit perusahaan lain, bahwa ketika datang kelapangan belum tentu auditee dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan auditor dikarenakan auditee juga memiliki pekerjaan yang harus Selain itu. AP juga berpandangan bahwa data dan informasi yang diterima secara remote audit tidak mengurangi substansi dari data dan informasi yang ada. Hal tersebut yang membuat pelaksanaan audit setelah masa pandemi dilakukan secara Interaksi intersubyektif AP berdasarkan subyektif, yaitu pengambilan keputusan yang berdampak terhadap individu lain, berdasarkan pengalaman pribadi (Yowanda et al. , 2. Terkait intersubjektivitas tersebut, digambarkan sebagai 4044 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Gambar 4. Intersubjektif Pengalaman Informan 4 Sumber: Data Penelitian, 2024 Informan 5 Informan 5 merasa memiliki kebiasaan baru yaitu melaksanakan meeting secara online dalam pekerjaannya dikantor, termasuk dalam proses audit ia merasa terdapat perubahan interaksi dengan auditor dibandingkan sebelum pandemi yang auditor lebih sering datang kekantor, sementara setelah pandemi interaksi lebih sering secara online dibandingkan secara offline. Meskipun, untuk pelaksanaan prosedur cek aset dan cash opname dilakukan SA secara langsung termasuk saat pelaksanaan closing meeting. Informan 5 berpandangan meskipun metode online dirasa efektif untuk mempersingkat waktu AU maupun SA, tetapi ia merasa lebih baik jika pelaksanaan audit dilaksanakan langsung kelapangan. Intersubjektivitas informan 5 terwujud sebagai bahasa, dikarenakan interaksi yang terjadi didasarkan informasi (Tuffour, 2. Terkait intersubjektivitas tersebut, digambarkan sebagai 4045 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Gambar 5. Intersubjektif Pengalaman Informan 5 Sumber: Data Penelitian, 2024 Operasional intersubjektivitas individu auditor dan auditee di masa post pandemi COVID-19 Interaksi intersubjektivitas tim audit (AP. MA. SA. JA) dan AU memiliki pandangan yang sama yaitu masa pandemi mengubah pola interaksi auditor dan auditee yang pada awalnya sebelum pandemi interaksi pada proses audit sebagian besar dilaksanakan secara langsung (Martusa et al. , 2. , tetapi setelah pandemi menjadi lebih sering secara remote audit. Penerapan metode hybrid didasarkan pengalaman AP data yang diterima secara remote tidak mengurangi substansi dari data tersebut. MA meskipun juga berpandangan metode hybrid efektif dilakukan, tetapi memiliki dasar yang berbeda dengan AP yaitu, penerapan hybrid yang dilaksanakan oleh MA dapat mempersingkat waktu audit (Muttaqin & Birton, 2. sehingga komitmen terhadap timeline yang sudah disepakati dapat terpenuhi. Intersubjektivitas proses audit post pandemi memperlihatkan interaksi yang terjalin secara hybrid yaitu pada tahapan perencanaan dan pelaksanaan, sementara pada tahapan perikatan terjalin secara langsung di dalam tim audit, begitu pun 4046 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. ditahap penyelesaian dan pelaporan interaksi antar individu auditor terjalin secara langsung termasuk pada proses closing meeting dengan AU yang juga terjalin secara Intersubjektivitas antar individu auditor dan antar auditor dengan auditee dalam proses audit di masa post pandemi COVID-19 dapat terlihat seperti gambar Gambar 6. Operasional Intersubjektivitas Individu Auditor dan Auditee di Masa Post Pandemi COVID-19 Sumber: Data Penelitian, 2024 KESIMPULAN DAN SARAN Setelah masa pandemi COVID-19, digunakan metode hybrid yaitu mengombinasikan metode FtF dan remote audit. Pada tahap perencanaan, terdapat dua metode audit yang digunakan yaitu FtF dan remote audit, metode FtF digunakan untuk melakukan interaksi antar auditor secara langsung dalam rapat perencanaan, sementara metode remote audit sebagai media manajer untuk mengkoordinasikan pekerjaan secara jarak jauh kepada senior dan junior yang berada di lapangan. Sedangkan interaksi auditor dengan auditee terjalin secara hybrid dalam proses komunikasi dan pemerolehan data. Pada tahap pelaksanaan, metode hybrid diterapkan untuk berinteraksi antar auditor. Interaksi auditor dengan auditee dalam penerapan prosedur audit dilaksanakan secara langsung dengan metode FtF, sedangkan dalam berkomunikasi dan distribusi data dilaksanakan secara hybrid. 4047 | Volume 7 Nomor 11 2025 Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi. Keuangan & Bisnis Syariah Volume 7 Nomor 11 . 4034 Ae 4049 P-ISSN 2656-2871 E-ISSN 2656-4351 DOI: 10. 47467/alkharaj. Tahap penyelesaian dan pelaporan, keseluruhan interaksi antar auditor maupun antara auditor dengan auditee terjalin secara langsung dengan metode FtF yaitu pada saat meeting internal maupun closing meeting. Penelitian ini memiliki keterbatasan berupa cakupan informan yang hanya berada di dalam satu tim perikatan dan auditee yang berkaitan langsung. Pelaksanaan FTF yang dilakukan tim audit dimasa pandemi, juga menjadi keterbatasan tidak dapat melihat interaksi antar individu auditor berinteraksi dengan menerapkan remote audit di internal tim auditor. Sehingga pengalaman intersubjektif penggunaan remote audit hanya dapat dilihat dari sisi interaksi antar individu auditor dengan auditee. Hal tersebut membuat pengalaman yang terjadi bisa berbeda dengan tim perikatan yang lain ataupun pelaksanaan audit di KAP yang berbeda. Berdasarkan keterbatasan di atas, diharapkan kepada peneliti selanjutnya yang mengamati topik serupa untuk menggali dan melakukan observasi lebih mendalam serta menguji teori kepada kantor audit yang berbeda agar menemukan hasil yang lebih komprehensif. DAFTAR PUSTAKA