Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Article History: Submitted : 11/12/2023 Reviewed : 15/09/2025 Accepted : 09/10/2025 Published : 31/10/2025 MODERASI BERAGAMA DALAM MIMBAR GEREJA: PENDEKATAN INKLUSIF DAN KONTEKSTUAL Yeremia Hia 1* Elfin Warnius Waruwu2 Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta *)Email Correspondence: hia. yeremia@gmail. Abstract: This study originates from the urgency of religious moderation as a vital paradigm to maintain harmony in pluralistic societies often challenged by conflicts arising from diverse theological The church pulpit plays a strategic role not only as a platform for delivering the Word of God but also as a medium for internalizing values of tolerance and peace. Employing a qualitative method with a phenomenological approach, this research involved participatory observation, in-depth interviews, and analysis of sermon documents in three churches of different denominations. The findings reveal that inclusive and contextual preaching effectively enhances congregantsAo understanding of moderation values, fosters participation in interfaith dialogue, and reduces exclusivist attitudes and resistance toward However, resistance from some congregants viewing moderation as a threat to doctrinal purity remains a significant challenge. The study concludes that the church pulpit can serve as an effective agent in shaping moderate attitudes when the messages delivered are contextually relevant to the congregationAos social realities. The novelty of this research lies in integrating religious moderation with inclusive and contextual preaching as a strategic model for cultivating moderation values within the church. Keywords: religious moderation, church pulpit, inclusive preaching, contextual approach. Abstraksi: Penelitian ini berangkat dari urgensi moderasi beragama sebagai paradigma penting untuk menjaga kerukunan di tengah pluralitas masyarakat yang kerap menghadapi potensi konflik akibat perbedaan tafsir keagamaan. Mimbar gereja memiliki peran strategis bukan hanya sebagai sarana penyampaian firman, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai toleransi dan Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen khotbah di tiga gereja berdenominasi berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan khotbah yang inklusif dan kontekstual mampu meningkatkan pemahaman jemaat terhadap nilai moderasi, mendorong partisipasi dalam dialog lintas iman, serta mengurangi sikap eksklusif dan resistensi terhadap keberagaman. Namun, ditemukan pula hambatan berupa resistensi sebagian jemaat yang memandang moderasi sebagai ancaman terhadap kemurnian iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mimbar gereja dapat menjadi agen efektif pembentuk sikap moderat bila pesan yang disampaikan relevan dengan konteks sosial jemaat. Kebaruan penelitian terletak pada fokus integrasi moderasi beragama dengan pendekatan khotbah inklusif dan kontekstual sebagai model strategis bagi pendidikan nilai moderasi di gereja. Kata kunci: : Moderasi beragama, mimbar gereja, khotbah inklusif, pendekatan kontekstual. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 32 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Di tengah pluralitas keyakinan agama yang semakin kompleks, gereja memegang peranan penting sebagai ruang spiritual, sosial, dan kultural yang membentuk cara pandang umat terhadap Kehidupan beragama di era globalisasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan: peluang untuk membangun relasi lintas iman yang harmonis, tetapi juga potensi konflik akibat perbedaan tafsir dan praktik Moderasi beragama muncul sebagai paradigma penting yang menawarkan jalan tengah, menjauhi ekstremisme dan intoleransi, serta merayakan keragaman sebagai anugerah. Dalam konteks ini, mimbar gereja tidak hanya menjadi tempat penyampaian khotbah, tetapi juga sarana pembentukan karakter umat, sehingga perannya dalam mempromosikan moderasi beragama menjadi strategis. Secara khusus, penelitian ini memfokuskan diri pada moderasi beragama dalam mimbar gereja dengan pendekatan inklusif dan kontekstual. Khotbah gereja memiliki fungsi ganda: menyampaikan firman Tuhan sekaligus membentuk kesadaran sosial umat. Pendekatan penerimaan dan penghargaan terhadap kontekstual mengaitkan pesan khotbah dengan realitas hidup jemaat. Kombinasi menghadirkan pesan yang relevan, menyejukkan, dan mengarahkan umat untuk bersikap moderat di tengah Penelitian ini hendak nilai-nilai moderasi diwujudkan di mimbar, bagaimana khotbah disusun dan disampaikan agar mampu meredam konflik dan mendorong kerukunan, serta bagaimana jemaat meresponnya. Berbagai pentingnya topik ini. Teori moderasi beragama menekankan empat indikator utama: komitmen kebangsaan, toleransi. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 anti-kekerasan, dan akomodasi budaya. Teori teologi inklusif menegaskan bahwa gereja dipanggil menjadi agen rekonsiliasi . Kor 5:18-. dan pembawa damai bagi semua bangsa (Mat 5:. Pendekatan kontekstual menuntut pengkhotbah mengaitkan teks Alkitab dengan konteks sosial, ekonomi, dan politik jemaat agar pesan Injil relevan dengan realitas. Selain itu, teori komunikasi dialogis menekankan pentingnya komunikasi dua arah yang memberdayakan pendengar dan membuka ruang diskusi kritis. Integrasi keempat pendekatan ini menjadi kerangka konseptual penelitian, dengan fokus pada peran mimbar gereja sebagai arena pembelajaran moderasi yang aktif, partisipatif, dan kontekstual. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokusnya yang menggabungkan moderasi beragama, khotbah gereja, dan pendekatan inklusif-kontekstual secara Studi-studi sebelumnya lebih banyak menyoroti moderasi pada tataran kebijakan pemerintah atau pendidikan Misalnya. Akhmadi menegaskan bahwa Aumoderasi beragama merupakan kunci untuk menjaga kerukunan di tengah masyarakat majemuk melalui komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan akomodasi budayaAy. Namun, kajian yang mengupas peran Agus Akhmadi. AuModerasi Beragama Dalam Keragaman Indonesia Religious Moderation in Indonesia,Ay Jurnal Diklat Keagamaan 13, no. : 45Ae55. Matius I Totok Dwikoryanto Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi. Aris Munandar. Soelistiyo Daniel Zacheus. AuKajian Teologis Konsep Pemberitaan Injil Berdasarkan 2 Korintus 5: 18-21,Ay Veritas Lux Mea(Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. 3, no. 101Ae9. Thomas G. Long. The Witness of Preaching. Third Edition (Westminster John Knox Press / Presbyterian Publishing Corporation, 2. , 15. Paulo Freire. Pedagogy of the Oppressed (New York: Continuum, 2. , 77Ae Akhmadi. AuModerasi Beragama Dalam Keragaman Indonesia Religious Moderation in Indonesia,Ay 12. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 33 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf internalisasi moderasi beragama masih jarang dilakukan. Penelitian Carolina Etnasari Anjaya dan Yonatan Alex Arifianto menyebutkan bahwa gereja memiliki tanggung jawab misi untuk menjadi pelaku moderasi beragama, namun mereka menekankan perlunya metode penerapan yang kontekstual agar jemaat tidak sekadar memahami konsep tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Masalah yang muncul di lapangan dapat terlihat dari adanya ketegangan akibat perbedaan tafsir teologi di antara Misalnya, salah satu jemaat yang pendahuluan menyatakan: AuSaya merasa pesan tentang toleransi sering terdengar seperti mengaburkan iman kita, jadi saya kurang nyaman. Ay Pernyataan ini menunjukkan resistensi yang nyata terhadap pesan moderasi yang dianggap terlalu permisif. Selain itu, penelitian Derry Wiranto dan kawan-kawan mengungkapkan bahwa masih banyak khotbah di gereja yang menyinggung kelompok di luar iman Kristen, yang secara tidak langsung memperkuat sikap 7 Komunikasi satu arah yang bersifat doktriner juga menjadi penghambat keterlibatan aktif jemaat. Freire mengkritik pendekatan Aubanking educationAy yang hanya menjejalkan informasi tanpa memberi ruang dialog, dan menawarkan model komunikasi Aumemberdayakan pendengar dan memungkinkan mereka ikut menafsirkan realitas bersama. Ay8 Situasi ini dapat menghambat dan Yonatan Alex Arifianto Anjaya. Carolina Etnasari. AuMengembangkan Misi Gereja Dalam Bingkai Moderasi Beragama,Ay THRONOS: Jurnal Teologi Kristen 3, no. : 55Ae66. Derry Wiranto. Rikardo P. Sianipar, dan Selviawati Selviawati. AuAnalisis Khotbah Alkitabiah Berkemenangan Dunia Pluralisme,Ay Jurnal Teologi Cultivation 8, no. 390Ae406, https://doi. org/10. 46965/jtc. Paulo Freire. Pedagogy of the Oppressed, 79. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 upaya gereja menjadi agen perdamaian, karena pesan khotbah yang seharusnya merangkul justru bisa menimbulkan sekat baru. Maka, penting untuk merumuskan strategi khotbah yang tidak hanya menyampaikan doktrin, tetapi juga menumbuhkan sikap kritis. Dengan menyajikan contoh khotbah yang relevan dengan isu-isu sosial, seperti konflik antaragama lokal atau intoleransi di media sosial, gereja dapat membantu jemaat memahami bagaimana Injil mengarahkan mereka untuk menjadi pembawa damai di tengah pluralitas (Mat. Dengan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis praktik moderasi beragama dalam khotbah gereja melalui pendekatan inklusif dan kontekstual, dihadapi dalam penerapannya, serta menawarkan model pengembangan khotbah yang mendorong toleransi, kerukunan, dan perdamaian di tengah masyarakat majemuk. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami makna pengkhotbah dalam menyampaikan pesan moderasi beragama di mimbar 9 Fenomenologi dipilih karena penelitian ini berusaha mengungkap . ived mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam khotbah mereka, serta bagaimana mereka memaknai pembentukan sikap toleran dan inklusif. Objek penelitian difokuskan pada praktik khotbah yang disampaikan oleh pendeta senior, pendeta muda, dan pengkhotbah awam di tiga gereja Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 14Ae15. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 34 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf denominasi berbeda yang berlokasi di masyarakat multikultural. Teknik dilakukan melalui tiga tahapan utama. Pertama, observasi partisipatif terhadap kegiatan ibadah mingguan selama enam bulan untuk mengamati secara langsung bagaimana pesan moderasi beragama disampaikan melalui khotbah, termasuk penggunaan bahasa, ilustrasi, dan respons jemaat. Kedua, wawancara mendalam . n-depth intervie. dengan sepuluh pengkhotbah yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria memiliki pengalaman minimal lima tema-tema toleransi, kerukunan, atau hubungan antarumat beragama. Ketiga, analisis mencakup naskah, catatan persiapan, dan materi pendukung yang digunakan Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis fenomenologi interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis/IPA) yang fenomenologis untuk mengidentifikasi tema-tema utama, deskripsi struktural untuk menggambarkan pengalaman pengkhotbah, dan interpretasi makna untuk memahami esensi fenomena moderasi beragama di mimbar. Validitas triangulasi sumber, member checking, dan peer debriefing dengan melibatkan ahli teologi praktika dan komunikasi. HASIL Moderasi beragama di mimbar gereja tidak sekadar menjadi wacana normatif, tetapi sebuah praksis pastoral yang dapat membentuk karakter jemaat dalam hidup bersama secara damai di tengah masyarakat yang plural. Integrasi moderasi beragama ke dalam khotbah Creswell. & Poth. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches (London: SAGE Publications, 2. , 75Ae76. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 memperlihatkan bahwa pesan Injil dapat tetap setia pada kebenaran Alkitabiah sambil menjadi relevan bagi konteks sosial, budaya, dan pergumulan umat. Khotbah yang inklusif, yang berakar pada teks-teks kunci seperti Kejadian 12:3. Matius 5:9. Kisah Para Rasul 10, dan Wahyu 7:9, menjadi sarana untuk menanamkan nilai kasih, keadilan, dan manusia lintas agama. Temuan ini bukan kompromi teologis, melainkan perwujudan kasih Allah yang menembus batas etnis, agama, dan budaya. Hasil penelitian juga menegaskan merupakan kunci efektivitas moderasi beragama dalam pewartaan mimbar Dengan memahami latar sosial, budaya, dan pergumulan aktual jemaat, pengkhotbah dapat menghubungkan teks Alkitab dengan realitas kehidupan umat secara hidup dan aplikatif. Di sisi lain, tantangan internal seperti resistensi terhadap pesan moderasi dan tantangan eksternal seperti polarisasi sosial moderasi membutuhkan keberanian moral, kesabaran dalam membentuk karakter jemaat, dan strategi komunikasi yang berkesinambungan. Pembelajaran dari sejarah gereja mula-mula (Galatia 2. Kisah Para Rasul . dan prinsip pastoral Paulus . Korintus 8Ae. menunjukkan bahwa dialog terbuka, kepekaan budaya, dan fokus pada kasih merupakan fondasi untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Dengan menegaskan bahwa moderasi beragama di mimbar gereja adalah proses transformasi yang menuntut integrasi antara kesetiaan teologis dan kearifan pastoral untuk membentuk jemaat yang menjadi pembawa damai di tengah masyarakat majemuk. PEMBAHASAN Konsep Moderasi Beragama dan Landasan Alkitabiah Moderasi Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 35 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf dipahami sebagai sikap yang seimbang, fanatisme, dan terbuka terhadap perbedaan keyakinan. Dalam perspektif sosial, moderasi berarti mengakui keberagaman praktik keagamaan serta mendorong dialog antarumat beragama demi terwujudnya pemahaman bersama dan pencegahan konflik. Moderasi juga terkait erat dengan penghormatan terhadap martabat manusia, kebebasan beragama, dan nilai-nilai demokrasi, sehingga menjadi fondasi penting bagi terciptanya masyarakat yang harmonis dan damai melalui penghargaan terhadap Dalam konteks gereja, moderasi beragama tidak hanya berarti menerima perbedaan keyakinan di antara anggota jemaat, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pluralitas keagamaan sebagai bagian dari panggilan misi untuk menjadi terang dan garam dunia (Mat. 5:13Ae. Gereja yang menghidupi nilai-nilai universal Injil seperti kasih, keadilan, dan perdamaian sebagai buah iman yang nyata dalam relasi sosial. Dengan demikian, gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat mendorong keterlibatan aktif dalam dialog lintas iman dan karya sosial Gereja yang memimpin dengan teladan moderasi membantu jemaat menghargai keragaman sebagai anugerah Allah, membangun jejaring persaudaraan lintas iman, dan berperan dalam menjaga perdamaian serta rekonsiliasi dalam masyarakat majemuk. Namun, bagi gereja, moderasi beragama bukanlah produk budaya semata, melainkan berakar dalam kesaksian Alkitab. Sejak Perjanjian Lama. Allah menuntun umat-Nya untuk hidup di tengah bangsa lain dengan sikap adil, rendah hati, dan mengasihi sesama tanpa mengorbankan kesetiaan kepadaNya. Nabi Mikha menegaskan: AuTelah diberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik: dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu selain berlaku adil. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?Ay (Mikha 6:. John Goldingay menafsirkan tiga unsur ini mishpat . , hesed . asih seti. , dan kerendahan hati sebagai fondasi etika perjanjian yang mengarahkan umat Israel untuk hidup benar di hadapan Allah dan menunjukkan kebaikan kepada sesama. 11 Pilar inilah yang menjadi dasar biblika moderasi: keadilan sosial, kasih yang setia, dan kerendahan hati dalam perjumpaan dengan orang Amsal menegaskan moderasi sebagai jalan tengah yang lurus: AuPandanganmu tetap ke depan dan tatapanmu lurus ke mukaA jangan menyimpang ke kanan atau ke kiriAy (Ams. 4:25Ae. Bruce K. Waltke menjelaskan bahwa Aujalan yang lurusAy melambangkan disiplin hidup yang menolak ekstremisme dan mengarahkan umat untuk hidup bijaksana dan 12 Moderasi Perjanjian Lama kompromistis terhadap Allah, tetapi juga tidak terjebak dalam fanatisme yang memecah relasi sosial. Kisah Daniel memberi teladan bagaimana umat Allah hidup dalam Daniel menghormati otoritas Raja Babel dan mengabdi dalam pemerintahan asing, namun tetap menolak menyembah dewadewa Babel (Dan. 1Ae. Iain M. Duguid Daniel menunjukkan Aukesetiaan yang tidak menyerah kepada sinkretisme, namun tetap mau terlibat secara konstruktif dalam masyarakat pluralAy. 13 Ini adalah bentuk moderasi yang tidak mencairkan iman, tetapi menghidupi hikmat sosial John Goldingay. Old Testament Theology: IsraelAos Life (Downers Grove: InterVarsity Press, 2. , 417. Bruce K Waltke. The Book of Proverbs: Chapters 1Ae15 (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 320Ae22. Iain M Duguid. Daniel. Reformed Expository Commentary (Phillipsburg: P&R Publishing, 2. , 26Ae26. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 36 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf yang menghargai pihak lain. Dalam Perjanjian Baru. Yesus menegaskan panggilan untuk menjadi pembawa damai: AuBerbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak AllahAy (Mat. Kata Yunani aUC . , menurut D. Carson, tidak hanya menunjuk kepada mereka yang mencintai kedamaian, tetapi yang Ausecara memelihara damai dalam relasi yang rusakAy. 14 Dengan demikian, moderasi yang diajarkan Yesus adalah keterlibatan aktif dalam rekonsiliasi, bukan sikap netral atau kompromistis. Yesus juga memecahkan batas eksklusivisme etnis dan agama dengan mengajar: AuKasihilah musuhmu dan menganiaya kamuAy (Mat. Ulrich Luz menekankan bahwa perintah ini menuntut pemuridan yang radikal menjawab kebencian dengan kasih 15 Kasih kepada musuh adalah inti moderasi Injil: mengasihi orang yang berbeda iman atau bahkan yang memusuhi. Hukum kasih yang menjadi ringkasan Taurat AuKasihilah Tuhan. AllahmuA dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiriAy (Mat. 22:37Ae. menjadi landasan etis bagi Craig Blomberg menegaskan bahwa kasih kepada Allah yang sejati tidak pernah terpisah dari kasih kepada sesama. justru relasi vertikal yang benar akan menghasilkan relasi horizontal yang menghargai martabat semua manusia. Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik (Luk. 10:25Ae. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 menjadi ilustrasi paling tajam dari kasih yang melampaui batas agama. Joel B. Green menyebut perumpamaan ini sebagai Aupembalikan dramatisAy karena menjadikan orang Samaria yang secara historis dianggap musuh teologis Yahudi sebagai teladan kasih. 17 Moderasi yang diajarkan Yesus adalah sikap berbelas kasih kepada yang berbeda agama atau Kisah Yesus dan perempuan Samaria (Yoh. 4:1Ae. memperlihatkan model dialog lintas batas. Andreas J. Kystenberger menyoroti bahwa Yesus melanggar tabu sosial dengan berbicara kepada perempuan Samaria namun hormat dan kasih, sehingga akhirnya banyak orang Samaria percaya. 18 Ini menegaskan bahwa moderasi tidak menuntut kompromi terhadap kebenaran Injil, dengan cara yang inklusif dan menghormati pihak lain. Rasul Paulus menyebut gereja sebagai pelayan pendamaian: AuDan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah memberikan pelayanan pendamaian itu kepada kamiAy . Kor. Murray J. Harris menjelaskan bahwa istilah Yunani E . atallage, menunjuk pada karya Allah yang menjadi dasar misi gereja di dunia. Mimbar gereja dengan demikian merupakan pusat pelayanan pendamaian yang menuntun jemaat menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat Paulus juga menulis bahwa Kristus Autelah merubuhkan tembok D A Carson. The Sermon on the Mount: An Evangelical Exposition of Matthew 5Ae7 (Grand Rapids: Baker Books, 1. , 25Ae26. Ulrich Luz. Matthew 1Ae7: A Commentary (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 331Ae32. Craig L Blomberg. Matthew. The New American Commentary (Nashville: Broadman Press, 1. , 334Ae35. Joel B Green. The Gospel of Luke. The New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 430Ae31. Andreas J Kystenberger. John. Baker Exegetical Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , 153Ae55. Murray J Harris. The Second Epistle to the Corinthians. The New International Greek Testament Commentary (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 438Ae39. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 37 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf pemisahAy (Ef. , merujuk pada segregasi religius YahudiAenon-Yahudi. Andrew T. Lincoln menafsirkan bahwa Kristus, melalui salib-Nya, menciptakan komunitas baru yang diperdamaikan dengan Allah dan dengan sesama. Pesan ini relevan dalam konteks gereja di dunia plural: Injil membebaskan umat mengarahkannya pada kesatuan dalam Moderasi tidak berarti menyerah pada relativisme. Paulus mengingatkan: AuSedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orangAy (Rm. Douglas J. Moo menafsirkan frasa Yunani aIAo IE . phAo hoson. Ausedapat-dapatnyaA. sebagai pengakuan realistis bahwa perdamaian tidak selalu dapat dicapai, namun orang percaya dipanggil untuk berupaya maksimal tanpa mengorbankan iman. Batasan moderasi ditetapkan oleh pengakuan Kristus: AuAkulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui AkuAy (Yoh. Raymond E. Brown menjelaskan bahwa klaim eksklusif ini tidak mendorong eksklusivisme sosial, tetapi menegaskan keselamatan yang bersifat universal dalam Kristus. 22 Karena itu, orang percaya dapat bersikap inklusif secara sosial sebagaimana Yesus makan bersama orang berdosa (Luk. namun tetap memegang pengakuan iman yang eksklusif. Moderasi menurut Alkitab adalah kebijaksanaan untuk membedakan inti iman yang tidak dapat ditawar dari hal-hal sekunder . yang memberi ruang bagi toleransi . Andrew T Lincoln. Ephesians. Word Biblical Commentary Vol. 42 (Dallas: Word Books, 1. , 142Ae44. Douglas J Moo. The Epistle to the Romans. The New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 784Ae85. Raymond E Brown. The Gospel According to John XiAeXXI. Anchor Bible (New York: Doubleday, 1. , 630Ae31. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Kor. 8Ae. Dengan demikian, moderasi beragama menurut iman Kristen bukanlah kompromi yang mengaburkan iman, melainkan panggilan untuk menjadi pembawa damai, menegakkan keadilan, dan menghidupi kasih Allah di tengah masyarakat pluralistik. Gereja dipanggil untuk mewujudkan moderasi ini melalui pengajaran, khotbah, dan teladan hidup, sehingga mimbar gereja berfungsi sebagai pusat pembentukan sikap moderat yang berakar pada Injil. Peran Pemimpin Agama dalam Memoderasi Beragama Tanggung jawab pemimpin agama dalam memoderasi beragama Pemimpin agama memainkan peran yang sangat penting dalam memoderasi agama, bertindak sebagai pemimpin moral dan spiritual yang membimbing dan memberikan teladan bagi umat mereka. Membangun sikap toleransi, saling menghormati, dan diskusi antarumat beragama adalah tanggung jawab utama. Sebagai dasar untuk pemahaman dan keseimbangan antarumat beragama, para pemimpin mengedepankan nilai-nilai universal Pemimpin mengurangi kemungkinan konflik agama dan membangun masyarakat yang lebih toleran dengan memberikan ajaran yang mendukung moderasi. Pemimpin agama juga memainkan peran penting dalam mengubah cara orang melihat pluralitas keagamaan, mengajarkan orang bahwa perbedaan keyakinan adalah hal yang normal dan harus diterima. Selain itu. Pemimpin agama juga bertanggung jawab untuk mengatasi ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul karena perbedaan agama. Pemimpin agama diharapkan untuk Hadi Pajarianto. Imam Pribadi, dan Puspa Sari. AuTolerance between religions through the role of local wisdom and religious moderation,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 78, no. : 1Ae8. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 38 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf membela hak asasi manusia, termasuk kebebasan beragama, dan mendukung prinsip keadilan sosial yang mendorong moderasi agama. Pemimpin agama dapat membimbing umat mereka untuk menjalani kehidupan beragama yang sehat dan berkontribusi positif pada masyarakat melalui khotbah, dan pendekatan pastoral. Mereka juga dapat keharmonisan, dan kerjasama di tengah keragaman keagamaan yang semakin kompleks di era modern. Keterampilan yang diperlukan untuk memoderasi beragama Memoderasi membutuhkan banyak keterampilan, termasuk komunikasi, kepemimpinan, dan pemahaman budaya lain. Pertama, memfasilitasi percakapan antarumat beragama membutuhkan seseorang untuk menjadi pendengar yang baik, menghormati pandangan yang berbeda, dan membuat lingkungan aman di mana perbedaan dapat dibicarakan tanpa takut Selain itu, keterampilan komunikasi yang baik diperlukan untuk membangun hubungan yang baik dengan orang-orang dari berbagai background 24 Pemahaman mendalam tentang prinsip dan nilai-nilai dari berbagai kepercayaan juga penting. mengenali dan menghargai perbedaan keagamaan tanpa merendahkan atau menilai mereka. Kepemimpinan yang inklusif dan adaptif juga penting untuk memoderasi beragama dan mendorong upaya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung toleransi dan moderasi. Keprihatinan terhadap masalah agama dan sosial juga menjadi bagian integral dari keterampilan ini, memungkinkan seseorang untuk merespons tantangan dan ketegangan yang mungkin muncul dengan cara yang bijaksana dan efektif. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Dengan kombinasi keterampilan ini, seseorang dapat memainkan peran positif dalam membangun masyarakat yang menghargai dan merangkul keberagaman keagamaan. Pemimpin agama yang efektif dalam memoderasi beragama Pemimpin agama harus empati. Kemampuan untuk memahami dan menghargai keanekaragaman keagamaan sangat penting untuk dimulai. Untuk memberikan perspektif yang seimbang dan inklusif, pemimpin ini harus memahami secara mendalam ajaran dan prinsip dari berbagai kepercayaan. Selain itu, mereka harus memiliki kemampuan komunikasi interpersonal memungkinkan percakapan antarumat beragama, menciptakan lingkungan yang aman untuk berbicara dan saling Sangat penting bagi para pemimpin agama untuk memahami konteks sosial dan politik, karena ini memungkinkan mereka untuk merespons dengan bijaksana terhadap masalah yang muncul dalam masyarakat yang semakin Selain itu. Pemimpin agama juga memoderasi perbedaan agama. Mereka harus mampu mempromosikan nilainilai universal seperti kasih, persatuan, dan toleransi sambil membimbing Kepemimpinan agama yang mendorong moderasi juga memerlukan kemampuan untuk menangani konflik dan membantu orang berkontribusi pada rekonsiliasi. Pemimpin agama dapat memainkan peran penting dalam membangun masyarakat yang menghormati dan merangkul perbedaan keagamaan serta A R Adisti. AuThe Inspirational Female Religious Leaders in Peace-Building Viewed From a Religious Moderation Perspective,Ay PROCEEDING OF THE 1ST INTERNATIONAL CONFERENCE CULTURES & LANGUAGES 1, no. : 26Ae41. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 39 Andar Gunawan Pasaribu. AuPeran Pendidikan Teologi Berbingkai Moderasi Beragama Dalam Pengembangan Sikap Toleransi Mahasiswa,Ay Harati: Jurnal Pendidikan Kristen 3, no. : 11Ae24. Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf mendukung moderasi dan kerukunan menunjukkan kebijaksanaan, kesabaran, dan keberanian moral. Menyampaikan Pesan yang Inklusif: Perspektif Alkitabiah Inklusivitas dalam pewartaan Injil bukanlah konsep modern, tetapi tertanam sejak awal dalam rencana Allah. Allah memanggil Abraham agar Auolehmu segala kaum di muka bumi berkatAy (Kej. menegaskan bahwa tujuan pemilihan Israel bersifat universal, bukan eksklusif. Yesaya menubuatkan bahwa rumah Tuhan akan menjadi Aurumah doa bagi segala bangsaAy (Yes. 56:6Ae. , dan Mazmur 87 menggambarkan Yerusalem sebagai ibu bagi semua bangsa, menandai inklusivitas sebagai bagian dari visi perjanjian Allah. Menurut Christopher J. Wright, berkat bagi bangsa-bangsa adalah inti misi Allah sejak Perjanjian Lama dan menjadi landasan etis bagi sikap gereja terhadap 26 Dengan demikian, pesan inklusif di mimbar gereja berakar pada karya Allah yang menghendaki semua bangsa mengalami keselamatan dan hidup damai dalam keadilan, bukan sebagai wacana sosial semata. Yesus Kristus menampilkan model inklusivitas yang radikal. Ketika Ia mengutip Yesaya 56 dan berkata. AuRumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsaAy (Mrk. Ia menegur eksklusivisme religius yang menghalangi orang bukan Yahudi mendekati Allah. Dalam pelayanan-Nya. Yesus memuji iman perwira Romawi, seorang non-Yahudi, dan berkata bahwa Aubanyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama AbrahamAy (Mat. Ia juga menolong perempuan Kanaan (Mat. 15:21Ae. dan memuji iman seorang Samaria yang P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 kembali mengucap syukur (Luk. 17:11Ae Wright menegaskan bahwa tindakan Yesus menembus batas etnis dan agama menunjukkan misi Kerajaan Allah yang memulihkan relasi manusia lintas perbedaan. 27 Dengan meneladani Yesus, menyampaikan pesan yang menghargai martabat semua orang tanpa memandang latar belakang etnis maupun agama. Gereja mula-mula menjadi saksi inklusivitas Injil yang melampaui batas Dalam Kisah Para Rasul 10. Petrus mengajarinya agar Autidak menganggap haram apa yang telah ditahirkan Allah,Ay sehingga ia menerima Kornelius, seorang perwira Romawi, dan mengakui bahwa AuAllah tidak membedakan orangAy (Kis. Konsili Yerusalem (Kis. menegaskan bahwa orang nonYahudi diterima sebagai anggota jemaat tanpa harus mematuhi seluruh hukum Taurat, menampilkan gereja sebagai komunitas yang memelihara kesatuan dalam keragaman budaya. Filipus yang membaptis sida-sida Etiopia (Kis. 8:26Ae . memperlihatkan bahwa Injil merangkul mereka yang sebelumnya terpinggirkan secara sosial dan religius. Menurut F. Bruce, peristiwa-peristiwa ini adalah tonggak yang mengukuhkan sifat universal Injil dan menunjukkan menyambut semua orang. 28 Prinsip yang sama harus dihidupi dalam khotbah gereja masa kini untuk membentuk sikap moderat terhadap keberagaman. Visi disingkapkan dalam Kitab Wahyu menegaskan bahwa inklusivitas adalah rencana Allah yang final. Yohanes melihat Ausuatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasaAy menyembah Anak Domba (Why. , dan Wright. The Mission of God: Unlocking the BibleAos Grand Narrative (InterVarsity Press, 2. , 200Ae201. N T Wright. Matthew for Everyone. Part One (London: SPCK, 2. , 35Ae36. F F Bruce. The Book of the Acts (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 212Ae14. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 40 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf menggambarkan kota Allah yang baru di mana Aubangsa-bangsa akan membawa kemuliaannyaAy (Why. 21:24Ae. Richard Bauckham menekankan bahwa gambaran eskatologis ini menunjukkan kesatuan umat Allah dalam Kristus tanpa menghapus keragaman budaya. 29 Maka, mimbar gereja yang menyampaikan pesan inklusif selaras dengan visi eskatologis Alkitab: menerima dan menghargai keberagaman sebagai bagian dari kemuliaan Allah. Pesan ini bukanlah adaptasi terhadap pluralitas modern, melainkan penggenapan dari rencana Allah untuk mengumpulkan seluruh umat manusia dalam damai sejahteraNya. Namun, inklusivitas Alkitabiah Kristen dengan ajaran lain. Inklusivitas adalah keterbukaan sosial yang menghormati dan mengasihi semua orang, seperti Yesus yang makan bersama pemungut cukai (Luk. 15:1Ae. dan berbicara dengan perempuan Samaria (Yoh. tetapi tetap memegang kebenaran Injil dengan tegas: AuAkulah jalan dan kebenaran dan hidupAy (Yoh. Paulus menasihati jemaat untuk Auberkata benar dalam kasihAy (Ef. menunjukkan keseimbangan antara kebenaran dan keramahan. Menurut Timothy Keller, sikap inklusif sejati adalah mengasihi orang yang berbeda keyakinan tanpa harus merelatifkan kebenaran iman. 30 Prinsip ini penting dalam mimbar gereja untuk menghindari salah paham: menerima semua orang tanpa syarat, tetapi tetap setia pada pengakuan akan Kristus sebagai satusatunya Juruselamat. Menyampaikan pesan inklusif juga harus memperhitungkan pendekatan Pendekatan ini berarti mengaitkan pesan Injil dengan realitas Richard Bauckham. The Theology of the Book of Revelation (Cambridge: Cambridge University Press, 1. , 72Ae74. Timothy Keller. The Reason for God: Belief in an Age of Skepticism (New York: Dutton, 2. , 163Ae65. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 sosial, budaya, dan tantangan yang dihadapi jemaat agar khotbah tidak berhenti sebagai ajaran abstrak. Paulus di Areopagus (Kis. 17:22Ae. memberi teladan: ia menghargai keyakinan pendengarnya dan mengutip puisi Yunani untuk menjembatani Injil dengan menyatakan Kristus sebagai Hakim dan Juruselamat. Menurut Stephen B. Bevans, kontekstualisasi adalah proses menafsirkan Injil dalam terang budaya dan pengalaman lokal tanpa mengubah Dengan demikian, pesan inklusif di mimbar gereja tidak hanya berbicara tentang menerima orang lain secara umum, tetapi juga mengajarkan bagaimana hidup berdampingan dan bersaksi di tengah realitas pluralitas yang dihadapi jemaat sehari-hari. Pesan inklusif yang kontekstual memiliki implikasi praktis dalam Pertama, konfrontatif seperti Auorang Kristen versus orang kafirAy dan menggantinya dengan Ausaudara-saudara kita yang berbeda iman. Ay Kedua, ilustrasi yang dipilih hendaknya menampilkan kasih lintas batas, seperti perumpamaan Orang Samaria yang Baik (Luk. 10:25Ae. atau kisah penerimaan Kornelius (Kis. Ketiga, aplikasi khotbah perlu mengajak jemaat untuk menjadi tetangga yang baik bagi mereka yang berbeda agama, sesuai Yesus. Keempat, inklusivitas yang diajarkan Alkitab adalah inklusivitas dalam kasih, bukan sinkretisme teologi. Dengan pendekatan ini, mimbar gereja menjadi sarana pendidikan iman yang mendorong dialog antaragama, dan menumbuhkan jemaat yang rendah hati serta siap Bevans. AuModels of Contextual Theologizing in World Christianity,Ay In Essays in Contextual Theology, 2018, 3Ae5. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 41 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf menjadi berkat bagi semua. Pendekatan Kontekstual dalam Khotbah: Landasan Alkitabiah Pendekatan kontekstual dalam khotbah dan pemahaman sosial-budaya jemaat merupakan unsur yang tak moderasi beragama di mimbar gereja. Pendekatan kontekstual adalah metode yang menghubungkan kebenaran Injil yang universal dan tidak berubah dengan realitas konkret jemaat, termasuk budaya, sejarah, dan pergumulan sosial yang mereka hadapi. Pendekatan ini tidak mengubah inti Injil yaitu karya keselamatan Allah di dalam Kristus penyampaiannya agar dapat dipahami dan dihidupi oleh pendengar di konteks Christopher J. Wright menegaskan bahwa misi Allah selalu berlangsung dalam konteks sejarah dan budaya umat manusia. karena itu, gereja tidak dapat mewartakan Injil secara efektif tanpa memahami konteks 32 Prinsip ini menjadi dasar bahwa bentuk komunikasi dapat fleksibel, tetapi isi Injil harus tetap. Yesus sendiri adalah teladan utama bagi pendekatan kontekstual. menyampaikan pesan Kerajaan Allah dengan bahasa yang akrab bagi audiensNya. Kepada masyarakat agraris Ia berbicara tentang penabur, lalang di antara gandum, dan biji sesawi (Mat. 13:1Ae. kepada nelayan Ia berbicara tentang pukat dan penjala manusia (Mat. 4:19. 13:47Ae. kepada Nikodemus, seorang pemimpin Yahudi. Ia berbicara tentang kelahiran baru dan merujuk sejarah Musa (Yoh. 3:3Ae. kepada perempuan Samaria Ia berbicara tentang Auair hidupAy yang menjawab kebutuhan dasar akan penerimaan dan pemulihan (Yoh. Wright menekankan bahwa Yesus selalu setia pada inti pesan-Nya, tetapi fleksibel Wright. The Mission of God: Unlocking the BibleAos Grand Narrative, 200Ae P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 dalam metode dan titik awal komunikasi sesuai latar belakang pendengarnya. Inilah model pendekatan kontekstual yang menunjukkan kepekaan budaya tanpa mengorbankan kebenaran Injil. Teladan yang sama diperlihatkan oleh Paulus, rasul yang terkenal Dalam 1 Korintus 9:19Ae23, ia menyatakan kesediaannya untuk menjadi seperti orang Yahudi bagi orang Yahudi, atau seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat bagi orang bukan Yahudi, agar dapat memenangkan mereka bagi Kristus. Areopagus. Athena (Kis. 17:22Ae. Paulus memulai khotbahnya dari Aumezbah bagi Allah yang tidak dikenal,Ay mengutip penyair Yunani Aratus dan Epimenides untuk menjembatani Injil dengan budaya lokal, namun tidak mengurangi pesan inti tentang Allah Pencipta, panggilan pertobatan, dan kebangkitan Kristus. Menurut F. Bruce. Paulus menunjukkan bahwa kontekstualisasi yang sejati adalah menanamkan Injil dalam budaya pendengar tanpa meleburkan kebenaran Injil dengan kepercayaan lokal. 34 Ini adalah prinsip yang harus dipegang dalam khotbah di mimbar gereja: relevansi tanpa kompromi. Pemahaman yang mendalam terhadap sosial dan budaya jemaat adalah kunci untuk menerapkan pendekatan kontekstual dengan tepat. Pemimpin gereja harus mengenal latar belakang sosial jemaat, termasuk sejarah, nilai-nilai lokal, dinamika komunitas, dan isu-isu kontemporer seperti pluralitas agama, media sosial, atau ketegangan antarumat beragama. Richard Niebuhr menegaskan bahwa Injil selalu berinteraksi dengan budaya. budaya adalah medan tempat Injil diwartakan, yang di satu sisi bisa dipulihkan dan di sisi lain perlu Wright. Matthew for Everyone. Part One, 35Ae36. Bruce. The Book of the Acts, 212Ae14. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 42 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Pemahaman memungkinkan pengkhotbah untuk menyampaikan Injil dengan cara yang menyentuh pergumulan nyata umat, seperti panggilan untuk membawa damai di tengah meningkatnya polarisasi agama atau untuk menghargai martabat manusia di tengah arus intoleransi. Penerapan kontekstual ini menjadi nyata ketika khotbah tidak berhenti pada wacana teologis abstrak tetapi menjawab pergumulan aktual jemaat. Misalnya, ketika mengkhotbahkan Matius 5:9 AuBerbahagialah orang yang membawa damaiAy pengkhotbah dapat memulai dengan mengangkat kenyataan pluralitas agama di Indonesia, dampak ujaran kebencian di media sosial, dan pengalaman jemaat dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian teks dijelaskan secara eksegetis, menunjukkan makna kata Aumembawa damaiAy . UC) perdamaian, bukan sekadar menghindari Stephen B. Bevans menegaskan bahwa kontekstualisasi adalah cara gereja menghidupi Injil di tempat dan waktu tertentu, sehingga pewartaan Injil menjadi nyata dan transformatif dalam kehidupan umat. Dengan memahami sosial dan budaya jemaat, pemimpin gereja dapat menggunakan bahasa, ilustrasi, dan aplikasi yang relevan. Mereka dapat menolong jemaat untuk menghubungkan Injil dengan tantangan nyata yang mereka hadapi: bagaimana mengasihi bagaimana membangun dialog dan toleransi di lingkungan yang majemuk, dan bagaimana menjadi pembawa damai di ruang publik yang sering dipenuhi ujaran kebencian. Pendekatan ini menegaskan bahwa Injil tidak asing terhadap budaya, tetapi hadir untuk P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 menebus dan mentransformasikannya. Dengan cara ini, mimbar gereja menjadi sarana pendidikan iman yang relevan, menumbuhkan jemaat yang setia kepada Kristus, serta membentuk komunitas yang moderat, inklusif, dan berdampak bagi kehidupan bersama. Tantangan dalam Memoderasi Beragama di Mimbar Gereja Tantangan internal dalam komunikasi Memoderasi mimbar gereja menghadapi banyak masalah internal. Yang paling sulit adalah dalam hal komunikasi agama. Perbedaan interpretasi ajaran agama di dalam komunitas gereja itu sendiri merupakan masalah utama. Anggota jemaat mungkin memiliki pemahaman yang beragam tentang kitab suci dan menyebabkan konflik dan perbedaan 37 Untuk tetap sejalan dengan nilai-nilai moderasi, para pemimpin gereja bertanggung jawab untuk membimbing dan menyatukan jemaat. Selain itu, ada tantangan internal lainnya, seperti perbedaan dalam tingkat keterlibatan dalam kehidupan gereja, yang dapat berdampak pada penerimaan pesan moderasi. Pemimpin gereja harus mengatasi masalah ini dengan membuat metode komunikasi yang masuk akal dan mudah dipahami. Ini akan memastikan bahwa setiap anggota gereja merasa diakui dan terlibat dalam proses diskusi agama. Selain itu, konflik internal dalam komunitas gereja dapat menyebabkan masalah internal. Ini dapat disebabkan oleh perbedaan pendapat atau prinsip Pemimpin gereja dapat memperbaiki harmoni karena konflik dan ketidaksepakatan di antara anggota Oleh karena itu, para pemimpin H Richard Niebuhr. Christ and Culture (New York: Harper & Row, 1. , 45Ae Stephen B. Bevans. Models of Contextual Theology (Maryknoll: Orbis Books, 2. , 3Ae5. Chatia Hastasari. AuThe Religious Pluralism Model of Communication in Interfidei Yogyakarta,Ay Conferencce on Communication. Culture and Media Studies, 2016, 145Ae50. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 43 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf gereja harus mampu menangani konflik dengan baik dan dapat membantu anggota jemaat berbicara dengan cara yang konstruktif. Pemimpin gereja dapat mendukung moderasi beragama dan membangun komunitas yang bersatu dalam keberagaman dengan mengatasi tantangan internal ini. Tantangan eksternal dari masyarakat Salah satu kendala yang paling keagamaan di mimbar gereja adalah masalah yang berasal dari sumber luar Faktor-faktor eksternal dapat memengaruhi kehidupan di dalam Pengaruh arus berita dan media sosial, yang dapat menimbulkan polarisasi dan meningkatkan ketegangan masalah utama. Pemimpin gereja harus dapat menyaring informasi yang masuk pemahaman yang lebih dalam tentang realitas sosial, dan mengajak jemaatnya untuk mempertahankan pandangan yang seimbang tentang berbagai masalah keagamaan yang muncul di masyarakat. Selain diskriminasi yang mungkin muncul dari lingkungan sekitar merupakan tantangan eksternal lainnya. Ketidaksetaraan dan persepsi negatif terhadap kepercayaan agama tertentu seringkali terjadi dalam masyarakat yang beragam. Pemimpin gereja harus proaktif dalam memerangi prasangka dan stereotip yang dapat Bagian menghadapi tantangan eksternal ini adalah mendorong diskusi antaraagama dengan komunitas sekitar, berpartisipasi dalam inisiatif lintas agama, dan menjadi suara yang mendukung toleransi. Selanjutnya, para pemimpin gereja dipaksa untuk menghindari undangundang P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 membatasi kebebasan beragama atau menimbulkan masalah hukum terkait kegiatan keagamaan. Pemimpin gereja harus kuat, memiliki visi yang jelas, dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan politik. Pemimpin beragama di mimbar dan merancang strategi untuk membangun jemaat yang kuat dan berkontribusi positif dalam masyarakat yang beragam dengan mengelola tantangan luar ini secara Strategi untuk mengatasi tantangan dalam memoderasi beragama Untuk moderasi agama di mimbar gereja, pemimpin gereja dapat menggunakan berbagai pendekatan yang proaktif dan Pertama, pendidikan agama dan literasi lintas kepercayaan di dalam jemaat sangat penting untuk membentuk pemahaman yang mendalam terhadap keberagaman Pemimpin gereja dapat mendorong anggota jemaat untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan keagamaan melalui lokakarya, seminar, atau diskusi kelompok kecil. Hal ini Mendorong diskusi antarumat beragama, baik di dalam maupun di luar gereja, juga merupakan strategi penting. Mengundang orang-orang dari berbagai keyakinan untuk berbicara, pemimpin gereja dapat memfasilitasi forum diskusi yang terorganisir. Ini memungkinkan anggota jemaat untuk lebih memahami perbedaan dan menerima perspektif yang Selain itu, penggunaan media sosial dan platform digital dapat menjadi alat yang berguna untuk menyebarkan meningkatkan kesadaran akan prinsip Hans Knippenberg. AuThe political geography of religion: Historical state-church relations in Europe and recent challenges,Ay GeoJournal 67, no. : 253Ae65. Nirwana Nirwana dan Waode Surya Darmadali. AuInstilling Religious Moderation Value in ELT through Cross-Cultural Understanding Course,Ay Elsya : Journal of English Language Studies 3, no. : 117Ae Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 44 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Pemimpin gereja menyebarkan informasi yang membawa pesan moderasi dan mendorong diskusi positif di antara anggota jemaat dan masyarakat luas dengan memanfaatkan konten multimedia, seperti blog, atau Terakhir, persepsi positif tentang gereja di lingkungan sekitar dapat dibentuk melalui keterlibatan aktif dalam inisiatif lintas agama dan kerjasama komunitas. Kolaborasi dengan organisasi keagamaan lain, berpartisipasi dalam inisiatif sosial bersama, dan mendukung upaya perdamaian dapat ketegangan dan mendukung moderasi Pemimpin gereja dapat membangun jemaat yang inklusif, dan berkontribusi positif pada masyarakat KESIMPULAN Moderasi beragama di mimbar gereja terbukti menjadi sarana strategis untuk membentuk jemaat yang inklusif, toleran, dan relevan dalam menghadapi Melalui pendekatan khotbah yang inklusif, kontekstual, dan berlandaskan Alkitab, gereja tidak hanya menyampaikan menginternalisasi nilai-nilai moderasi seperti kasih, keadilan, dan perdamaian. Integrasi moderasi ke dalam pewartaan Injil membantu jemaat memahami perbedaan bukan sebagai ancaman tetapi sebagai peluang untuk membangun kesaksian iman yang membawa damai dan menumbuhkan dialog lintas iman. Namun, proses ini tidak terlepas dari tantangan, baik internal seperti resistensi terhadap khotbah yang dianggap mengaburkan doktrin maupun eksternal, termasuk polarisasi sosial dan tekanan budaya. Gereja dituntut untuk menanggapi tantangan ini dengan keberanian moral, strategi komunikasi yang sabar dan berkelanjutan, serta mengedepankan kesaksian kasih Kristus. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Dengan demikian, mimbar gereja dapat berfungsi bukan hanya sebagai pusat pengajaran rohani tetapi juga sebagai menumbuhkan sikap moderat dan memperkuat peran gereja sebagai pembawa damai di tengah masyarakat DAFTAR PUSTAKA