Original Artikel ANALISIS FAKTOR EKONOMI RUMAH TANGGA TERHADAP RESIKO STUNTING PADA ANAK BATITA Salma Fithran Sani. Aprilia Ratna Widyaninggar* UIN Raden Mas Said Surakarta. Sukoharjo. Indonesia, 57168 Email corresponding author: apriliaratnawidyaninggar@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko stunting pada balita usia 12Ai36 bulan di Desa Sekaran. Kecamatan Wonosari. Kabupaten Klaten. Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan lima responden utama yang merupakan orang tua balita, serta pengukuran antropometri menggunakan Microtoise dan Baby Scale untuk memperoleh data objektif tinggi dan berat badan anak. Data sekunder dikumpulkan dari catatan posyandu dan laporan desa terkait status gizi balita. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian: Menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi, tingkat pendidikan ibu, dan pola konsumsi keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap status gizi balita. Keluarga dengan pendapatan tidak tetap cenderung mengalami kesulitan dalam menyediakan makanan bergizi secara konsisten, sedangkan tingkat pendidikan ibu yang rendah berkaitan dengan kurangnya pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang. Kebiasaan mengonsumsi makanan instan serta rendahnya partisipasi keluarga dalam kegiatan posyandu juga ditemukan sebagai faktor yang memperburuk risiko stunting. Beberapa keluarga mengandalkan makanan cepat saji karena alasan praktis, yang berdampak pada rendahnya asupan gizi harian anak. Sementara itu, keluarga dengan kebiasaan memasak makanan bergizi di rumah menunjukkan hasil pengukuran antropometri yang lebih baik. Kesimpulan:Temuan ini menegaskan bahwa intervensi pencegahan stunting perlu mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat, serta mengedepankan program edukasi gizi yang berkelanjutan, pendampingan pola asuh, dan peningkatan kesadaran orang tua mengenai pentingnya gizi seimbang dalam mendukung pertumbuhan optimal balita. Kata kunci: Stunting: Sosial ekonomi: Pola konsumsi. Pendidikan ib ABSTRACT Background: This study aims to analyze the risk factors of stunting among children aged 12Ae36 months in Sekaran Village. Wonosari Subdistrict. Klaten Regency. Methods: The research employed a qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews with five primary respondents, who were parents of stunted children, as well as anthropometric measurements using a Microtoise and Baby Scale to obtain accurate height and weight data. Secondary data were obtained from village reports and posyandu . ntegrated health pos. records related to the nutritional status of children. Data analysis was conducted in three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Result: The findings indicate that socioeconomic factors, maternal education level, and family dietary patterns significantly influence the nutritional status of children. Families with unstable incomes tend to face difficulties in consistently providing nutritious food, while low maternal education levels are associated with a lack of understanding of balanced nutrition. Frequent consumption of instant foods and low participation in posyandu activities were also identified as contributing factors to an increased risk of stunting. Some families relied on fast food due to practicality, resulting in lower daily nutritional intake for children, whereas families that regularly prepared nutritious home-cooked meals showed better anthropometric results. Conclution: Highlight that stunting prevention programs should take into account local socioeconomic and cultural conditions, prioritize sustainable nutrition education, provide parental guidance on child feeding practices, and promote awareness of the importance of balanced nutrition for optimal child growth. Keywords: Stunting: Socioeconomics. Consumption patterns. Maternal education PENDAHULUAN Stunting merupakan keadaan di mana pertumbuhan anak terhambat karena kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik, kemampuan berpikir, serta potensi sosial dan ekonomi anak di masa mendatang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting pada anak merupakan salah satu hambatan paling signifikan bagi perkembangan manusia, yang secara global memengaruhi sekitar 162 juta anak di bawah usia 5 tahun. Di Indonesia, stunting masih menjadi masalah serius, proyeksi menunjukkan bahwa 127 juta anak di bawah usia 5 tahun akan mengalami stunting pada tahun 2025. Oleh karena itu, investasi dan tindakan lebih lanjut diperlukan untuk mencapai target Majelis Kesehatan Dunia 2025 untuk mengurangi jumlah tersebut menjadi 100 juta. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah dari standar usia akibat kekurangan gizi kronis yang dialami sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan (Fikrina & Rokhanawati, 2. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak secara signifikan, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif, sistem imunitas, serta kemampuan belajar yang dapat berlanjut hingga dewasa. Penyebab utama stunting meliputi asupan gizi yang tidak mencukupi, terutama protein dan mikronutrien penting, frekuensi infeksi yang tinggi, pola asuh yang kurang optimal, serta sanitasi lingkungan yang buruk (Indrastuty & Pujiyanto, 2. Faktor ekonomi rumah tangga menjadi penentu utama ketercukupan gizi dan akses layanan kesehatan yang diperlukan dalam upaya pencegahan stunting. Dampak stunting bersifat jangka panjang dan multidimensi, tidak hanya pada kesehatan individu tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia secara nasional. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki kecerdasan dan prestasi akademik yang rendah, lebih rentan terhadap penyakit, serta berpotensi mengalami penurunan produktivitas saat dewasa yang berdampak pada kompetensi dan pembangunan ekonomi bangsa (Sutikno, 2011. Haile, 2. Di Desa Sekaran. Kecamatan Wonosari. Kabupaten Klaten, dimana ibu rumah tangga sering menghadapi keterbatasan ekonomi, risiko stunting pada anak balita menjadi masalah serius yang harus diatasi. Oleh karena itu, pemahaman tentang hubungan faktor ekonomi rumah tangga dengan risiko stunting sangat penting sebagai dasar untuk merancang intervensi yang efektif di tingkat keluarga dan masyarakat desa. Faktor ekonomi rumah tangga dengan adanya stunting pada anak batita . ayi dibawah umur tiga tahu. berkaitan erat dengan pemenuhan makanan yang berfungsi sebagai sumber utama energi dan zat gizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal anak. Ketika kemampuan ekonomi keluarga terbatas, pemenuhan kebutuhan pangan sering kali hanya berorientasi pada kuantitas dan mengabaikan kualitas gizi. Hal ini menyebabkan anak rentan mengalami kekurangan zat gizi penting seperti protein, vitamin, dan mineral yang berperan dalam pembentukan jaringan tubuh, perkembangan otak, serta daya tahan tubuh. Selain itu, kondisi ekonomi yang rendah juga berdampak pada terbatasnya akses keluarga terhadap layanan kesehatan, pemeriksaan rutin, dan program gizi yang diselenggarakan pemerintah. Keterbatasan ini semakin diperburuk dengan rendahnya literasi gizi di kalangan orang tua, sehingga kesalahan pola asuh dan pemberian makan yang tidak tepat terus berulang. Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi memperbesar angka kejadian stunting di tingkat desa. Kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Sekaran sebagian besar ditandai oleh mata pencaharian di sektor informal seperti buruh harian, petani, dan pedagang kecil yang pendapatannya tidak menentu. Fluktuasi pendapatan ini berimplikasi pada kemampuan keluarga dalam menyediakan bahan pangan bergizi secara konsisten bagi anak-anak mereka. Selain itu, beberapa keluarga masih bergantung pada makanan cepat saji atau instan karena dianggap lebih praktis dan murah, padahal kebiasaan ini berdampak negatif pada kecukupan gizi harian. Keterbatasan pengetahuan tentang gizi seimbang memperburuk kondisi ini, di mana orang tua sering kali belum memahami pentingnya keberagaman makanan dalam menu harian anak. Situasi tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting perlu mempertimbangkan aspek ekonomi dan edukasi secara bersamaan. Selain faktor ekonomi dan perilaku konsumsi, partisipasi masyarakat dalam layanan kesehatan anak seperti posyandu juga memegang peranan penting. Namun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkat kehadiran keluarga dalam kegiatan posyandu masih rendah. Beberapa alasan yang dikemukakan antara lain kurangnya waktu, jarak yang dianggap jauh, serta minimnya kesadaran akan manfaat pemeriksaan rutin. Padahal, posyandu merupakan wadah penting untuk memantau pertumbuhan anak, mendeteksi dini risiko stunting, dan memberikan edukasi gizi. Rendahnya partisipasi ini mengindikasikan perlunya strategi komunikasi dan pendekatan yang lebih efektif agar masyarakat mau memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara kondisi ekonomi rumah tangga dan risiko stunting pada anak batita di Desa Sekaran. Pendekatan kualitatif dipilih untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai latar belakang, kebiasaan, dan kendala yang dihadapi keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan pihak terkait lainnya dalam menyusun program pencegahan stunting yang lebih tepat sasaran, berbasis pada kondisi riil masyarakat, dan berkelanjutan. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi intervensi yang mampu menurunkan angka stunting secara signifikan di wilayah tersebut. METODE Jenis dan Lokasi Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Lokasi penelitian mencakup wilayah Desa Sekaran. Kecamatan Wonosari. Kabupaten Klaten. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan analitik observasional. Populasi dan Sampel Populasi adalah semua balita usia 12-36 bulan di wilayah Desa Sekaran. Kecamatan Wonosari,Kabupaten Klaten, tahun 2025. Sampel adalah batita yang berusia 12-36 bulan yang mengalami stunting. Sampel diperoleh melalui tekhnik probability sampling yaitu dengan metode proportional statified random sampling. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen Data primer dalam penelitian ini yaitu data identitas warga, identitas batita dan data sosial ekonomi yang diperoleh dengan wawancara. Adapun data tinggi badan batita diperoleh dengan mengukur tinggi badan batita menggunakan Microtoice, berat badan batita menimbang dengan Baby Scale/Timbangan Badan. Data sekunder berupa data jumlah batita dan status gizi batita Sekaran. Kecamatan Wonosari,Kabupaten Klaten, tahun 2025. Intrumen yang digunakan adalah Microtoice. Baby Scale/Timbangan Badan dan in-depth interview. Validasi dan Reliabilitasi Instrumen Uji validitas Microtoise dilakukan dengan pengkalibrasian untuk memastikan tingkat validitas alat ukur yang digunakan sudah baik. Uji validitas Baby Scale/Timbangan Badan dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran berat badan dengan standar pembanding yang telah diketahui, guna memastikan ketepatan alat ukur. Uji reliabilitasi Microtoice dilakukan dengan pengulangan pengukuran sebanyak dua kali agar data yang diperoleh dapat dipercaya dan lebih akurat. Dari hasil uji validitas, maka butir-butir soal yang valid kemudian di uji reliabilitasnya. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Dilakukan pengolahan dan analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan informasi secara langsung dari responden menggunakan teknik wawancara mendalam. Data yang diperoleh kemudian ditranskrip secara lengkap, dibaca berulang, dan dikelompokkan ke dalam tema-tema atau kategori tertentu sesuai fokus penelitian. Selanjutnya, data dianalisis dengan cara membandingkan temuan lapangan, mengidentifikasi pola atau hubungan antarvariabel, serta menafsirkan makna di balik jawaban responden untuk mendapatkan kesimpulan yang valid dan relevan dengan tujuan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil wawancara dengan lima responden utama, yaitu Fadhil. Lutfi. Nabil. Aleena, dan Adeeva, memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi sosial ekonomi keluarga yang memiliki batita di Desa Sekaran. Setiap responden memiliki latar belakang pekerjaan, tingkat pendidikan, dan pendapatan yang berbeda, sehingga memengaruhi pola asuh dan pemenuhan gizi anak. Data identitas warga dan batita yang diperoleh menunjukkan adanya variasi usia orang tua, jumlah anggota keluarga, serta tingkat kepadatan rumah tangga. Faktor-faktor ini menjadi indikator penting dalam memahami risiko stunting yang dihadapi anak-anak di wilayah tersebut. Kondisi rumah tangga yang memiliki keterbatasan ekonomi cenderung memengaruhi kualitas makanan yang diberikan kepada Selain itu, wawancara juga mengungkapkan adanya keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan informasi gizi. Pengukuran tinggi badan batita menggunakan Microtoice dan penimbangan berat badan dengan Baby Scale menghasilkan data yang dapat dibandingkan dengan standar pertumbuhan WHO. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sebagian batita memiliki tinggi dan berat badan yang berada di bawah standar usia mereka. Misalnya, batita dari keluarga dengan pendapatan rendah dan pola makan tidak seimbang cenderung memiliki skor z-tinggi badan terhadap usia (TB/U) yang lebih Perbedaan ini menguatkan temuan bahwa status gizi sangat berkaitan erat dengan kondisi ekonomi dan pengetahuan gizi orang tua. Dalam konteks penelitian ini, perbedaan data fisik batita antara satu responden dan responden lainnya menjadi titik awal untuk mengidentifikasi faktor risiko Dengan demikian, pengukuran antropometri menjadi dasar analisis yang kuat. Dari sisi sosial ekonomi, ditemukan bahwa pekerjaan orang tua berpengaruh terhadap kemampuan menyediakan makanan bergizi secara konsisten. Fadhil dan Lutfi, misalnya, berasal dari keluarga dengan pekerjaan tidak tetap sehingga pendapatan bulanan berfluktuasi, yang berdampak pada ketersediaan bahan pangan bergizi. Sementara itu. Nabil dan Aleena berasal dari keluarga dengan penghasilan lebih stabil, sehingga kebutuhan dasar gizi anak lebih mudah terpenuhi. Namun, faktor pendidikan ibu ternyata juga menjadi penentu signifikan, di mana keluarga yang ibunya memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung lebih memahami pentingnya variasi gizi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa status ekonomi bukan satu-satunya faktor, melainkan harus dilihat bersama-sama dengan aspek pengetahuan dan perilaku gizi. Hal ini sejalan dengan teori perilaku yang menyatakan bahwa pengetahuan memengaruhi sikap dan tindakan. Selain faktor ekonomi, hasil wawancara menunjukkan adanya pengaruh kebiasaan dan pola makan dalam keluarga. Beberapa responden terbiasa memberikan makanan instan atau jajanan kepada anak karena alasan praktis dan keterbatasan waktu. Misalnya. Adeeva mengungkapkan bahwa anaknya sering mengonsumsi makanan cepat saji yang dibeli di warung sekitar rumah. Pola makan ini berpotensi mengurangi asupan gizi seimbang yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal. Di sisi lain, keluarga dengan kebiasaan memasak di rumah dan mengutamakan sayur serta protein hewani menunjukkan hasil pengukuran tinggi dan berat badan batita yang lebih baik. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku konsumsi sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap status gizi anak. Data sekunder yang diperoleh dari desa mengenai jumlah batita dan status gizi tahun 2025 menunjukkan bahwa Desa Sekaran masih menghadapi permasalahan stunting meskipun telah ada program pemerintah untuk pencegahan. Persentase batita dengan status gizi kurang masih cukup tinggi dibandingkan target nasional. Fakta ini diperkuat dengan temuan lapangan bahwa kesadaran gizi belum sepenuhnya tertanam di kalangan masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah. Program posyandu yang rutin dilakukan ternyata belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal oleh semua keluarga. Rendahnya partisipasi ini sebagian disebabkan oleh kurangnya informasi atau motivasi dari orang tua. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara program intervensi dan penerimaan masyarakat. Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi, pendidikan, dan perilaku konsumsi keluarga sangat memengaruhi risiko stunting pada batita di Desa Sekaran. Pengukuran antropometri yang dilakukan memberikan bukti objektif bahwa perbedaan tinggi dan berat badan batita terkait erat dengan latar belakang keluarga. Wawancara dengan responden mengungkapkan bahwa selain faktor ekonomi, pola asuh, kebiasaan makan, dan pengetahuan gizi turut menentukan status gizi anak. Data sekunder dari desa memperkuat temuan bahwa stunting masih menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius. Oleh karena itu, intervensi pencegahan stunting perlu dirancang secara lebih spesifik sesuai kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi angka stunting secara berkelanjutan. Responden Fadhil Lutfi Nabil Aleena Adeeva Tabel 1. Responden anak Stunting Tingkat Pola Pekerjaan Pendapatan Pendidikan Makan Orang Tua Bulanan Ibu Anak Kurang Tidak tetap Berfluktuasi Rendah Kurang Tidak tetap Berfluktuasi Rendah Penghasilan Stabil Tinggi Seimbang Penghasilan Stabil Tinggi Seimbang Sering Penghasilan Stabil Tinggi Hasil Pengukuran TB/U Sesuai standar Sesuai standar Sedikit bawah standar KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa faktor sosial ekonomi, tingkat pendidikan orang tua, dan perilaku konsumsi keluarga berpengaruh signifikan terhadap risiko stunting pada balita di Desa Sekaran. Keluarga dengan pendapatan rendah, pekerjaan tidak tetap, dan pengetahuan gizi yang terbatas cenderung kurang mampu menyediakan pangan bergizi secara Data antropometri menunjukkan bahwa perbedaan tinggi dan berat badan anak berkorelasi erat dengan kondisi ekonomi, jenis pekerjaan orang tua, serta kebiasaan konsumsi pangan keluarga. Pola makan yang didominasi oleh makanan instan dan rendahnya variasi gizi turut memperburuk status gizi anak. Temuan ini menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan terpadu yang mencakup peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga, edukasi gizi yang berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat untuk menerapkan pola makan sehat dan seimbang. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak perangkat Desa Sekaran. Kecamatan Wonosari. Kabupaten Klaten, yang telah memberikan izin dan fasilitas selama proses penelitian berlangsung. Terima kasih juga kepada para warga d esayang telah meluangkan waktu untuk memberikan informasi dan pengalaman berharga, serta kepada rekan-rekan peneliti dan pembimbing yang senantiasa memberikan arahan, masukan, dan motivasi. DAFTAR PUSTAKA