Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 JERUK MANIS MEMBANTU KESULITA BELAJAR SISWA KELAS IX SMP DALAM MEMAHAMI KONSEP LUAS SISI BOLA Agusalim Guru SMP Negeri 1 Praya Abstrak. Dalam setiap proses pembelajaran seorang guru menginginkan ketercapaian dari tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan dapat dicapai manakala siswa mampu menyerap seluruh materi pelajaran dengan maksimal. Pelajaran Matematika yang dirasakan siswa sementara ini masih sulit dan ada kecenderungan membosankan, merupakan tantangan bagi guru untuk dapat merubah image tersebut sehingga menjadi pembelajaran Matematika lebih menyenangkan, bermakna, dan berkesan. Guru sudah saatnya untuk memposisikan diri menjadi sosok yang memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya dalam memahami dan membangun konsep Matematika . uru sebagai fasilitato. Karya Ilmiah berjudul Au AuJeruk Manis Membantu Kesulitan Siswa Kelas IX SMP dalam Memahami Konsep Luas Sisi Bola (Model Pembelajaran Konstruktivisme dan Kontekstua. Au ini diharapkan menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah kesulitan belajar siswa dalam memahami konsep luas sisi bola. Penemuan rumus luas bola ini disajikan melalui sebuah percobaan pembelahan buah jeruk manis. Model pembelajaran konstruktivisme dan kontekstual yang menjadi landasan kegiatan ini, dengan harapan pelajaran Matematika bukan lagi menjadi hal yang sulit dan menakutkan, melainkan pelajaran yang menyenangkan. Kata kunci: Kontekstual. Aktif. Kreatif. Menyenangkan, dan Mencerdaskan PENDAHULUAN Latar Belakang Masih terdengar keluhan bahwa mata membosankan, tidak menarik, penuh misteri, dan merupakan salah satu mata pelajaran yang cukup memusingkan. Hal ini tidaklah mengherankan, disebabkan karena mata pelajaran matematika dirasakan sulit, gersang, dan tidak tampak kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, terlebih lagi guru dalam penyajiannya masih menggunakan pola sentralistik dan dominasi ceramah. Akibatnya, perasaan bosan belajar matematika sewaktuwaktu dapat muncul mendera diri siswa. Sebagai kebosanan tersebut, maka langkah akhir yang dilakukan siswa dalam memahami konsep matematika adalah dengan cara menghafal. Kenyataan inilah yang memunculkan persepsi siswa yang selalu mengindentikkan matematika dengan rumus yang penuh Rumus-rumus yang ada harus dihafalkan dengan tanpa mengetahui tahapan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan penemuan rumus dan manfaat dari rumus Karena rumus hanya sekedar untuk dihafal, maka banyak siswa mengalami kesulitan dalam menerapkan dan memilih rumus yang tepat untuk menyelesaikan soal. Terlebih lagi menyelesaikan soal pengembangan yang model dan bentuknya berbeda dengan contoh soal yang berikan oleh guru pada saat menerangkan materi tersebut. Sehingga dapat dipastikan prestasi hasil belajar siswa tidak sesuai yang diharapkan. Selanjutnya, prestasi para siswa dalam belajar matematika, maka tentunya kita tidak bisa menyangkal terhadap kenyataan yang ada bahwa umumnya prestasi belajar matematika termasuk di SMP masih relatif rendah. Ini dibuktikan dengan angka ketidaklulusan pada Ujian Nasional (UN) siswa SMP dari tahun ke tahun masih besar, salah satu yang menjadi tolak ukurnya adalah nilai matematika yang kurang dari standar nasional . Namun demikian kita harus mengakui pula bahwa banyak siswa kita yang berprestasi dalam Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 belajar matematika, mendapatkan nilai maksimal dalam Ujian Nasional dan mampu berbicara dalam even bergensi Olimpiade Sains Nasional, serta mampu bersaing dalam berbagai kompetisi matematika, seperti Olimpiade Ceria UNRAM. Olimpiade IAIN. OSN tingkat Nasional, dan kompetisi lainnya. Karena itulah berbagai usaha untuk mencoba menggali strategi-strategi, modelmodel pendekatan-pendekatan memungkinkan pembelajaran matematika khususnya di SMP menjadi lebih baik. Pembelajaran konstruktivisme menekankan siswa sendiri . pengetahuan di dalam pikirannya, bukan menerima transfer pengetahuan dari orang Pengalaman siswa sendiri dan hasil refleksi dari pengalaman itu menjadi kunci dalam pembelajaran bermakna. Pembelajaran diperoleh melalui pengalaman langsung siswa dengan melibatkan diri siswa sendiri. Belajar konstruktivisme adalah melakukan kegiatan matematika melalui pengalaman kongkrit, aktivitas kolaboratif, refleksi, dan interpretasi. Dengan demikian seseorang dikatakan telah belajar matematika jika ia melakukan sendiri kegiatan-kegiatan matematika. (Muhammad Shohibul Kahfi . Jean Piaget, pakar psikologi keturunan Swiss ber-pendapat. Au Seorang anak berpikir sepanjang ia berbuat. Tanpa berbuat anak tak Agar ia berfikir sendiri . ia harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiriAy. Berfikir pada taraf verbal baru timbul setelah individu berfikir pada taraf Di sini berlaku prinsip learning by doing Ae learning by experience. (Ahmad Rohani HM. , 2004 . Pembahasan materi geometri bangun ruang khususnya luas sisi bola dirasakan masih sulit dipahami oleh siswa,disebabkan pembahasan sebelumnya mengenai luas sisi tabung dan kerucut melalui proses membuat jaring-jaring kedua bangun tersebut dengan kertas karton dimana siswa dilibatkan dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan penemuan rumus luasnya, sehingga siswa lebih mudah memahaminya. Bagaimana sekarang dengan luas sisi bola ? Bisakah dibuat jaring-jaring bola. Pertanyaan inilah yang sulit dijawab, itulah sebabnya penulis coba menemukan rumus luas sisi bola dengan menggunkan jeruk manis. Lingkup Ruang lingkup penulisan karya tulis ini adalah penggunaan model pembelajaran konstruktivisme dan kontekstual melalui Jeruk Manis pemahaman konsep luas sisi bola pada pembelajaran matematika kelas IX SMP. Tujuan Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa pada materi luas sisi bola yang menggunakan metode/pendekatan tradisional . ominasi cerama. dengan model konstruktivisme dan kontekstual melalui Jeruk Manis pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Praya Kabupaten Lombok Tengah. Manfaat Manfaat pembelajaran yang menggunakan model konstruktivisme dan pendekatan kontekstual melalui Jeruk Manis ada dua yaitu . Bagi Siswa. Meningkatkan motivasi belajar matematika. Meningkatkan kepercayaan diri dan daya kreasi dalam membangun Meningkatkan prestasi belajar matematika, . Bagi Guru. Sebagai tambahan koleksi pengetahuan . lternatif pembelajara. dalam penyampaian konsep luas sisi bola kepada siswa, yang tidak menutup kemungkinan masih ada model pembelajaran lain yang barangkali lebih cocok dan pas. Penegasan Istilah / Definisi Untuk pemahaman . resepsi yang sam. antara peneliti dan pembaca tentang pemakaian kata/istilah, maka dapat disampaikan sebagai . Model Pembelajaran Konstruktivisme, adalah Pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa melakukan kegiatan matematika, menata pengetahuan matematika melalui pengalaman Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 kongkrit, aktivitas kolaboratif, refleksi, dan interpretasi, dan . Pendekatan Pembelajaran Kontektual, adalah pendekatan pembelajaran yang mengkaitkan materi yang diajarkan dengan konteks . dunia nyata siswa. Pembelajaran ini berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa : bekerja, mengalami, dan bukan transfer pengetahuan dari guru ke LANDASAN TEORI DAN KAJIAN PUSTAKA Kajian Tentang pembelajaran Contektual Learning. Model Pembelajaran CTL adalah sebuah model pembelajaran yang dalam proses belajarnya bertujuan untuk menolong para peserta didik melihat arti dan makna dibalik materi ajar yang mereka pelajari dengan cara mengaitkan subjek-subjek materi pembelajaran dengan konteks yang ada kaitannya dengan kehidupan siswa, baik itu dari keadaan pribadi, sosial, dan budaya Dengan model pembelajaran CTL diharapkan proses belajar siswa berlangsung alamiah dimana siswa bekerja dan juga mengalami tidak sebatas transfer ilmu dari guru ke siswanya. Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dari model pembelajaran CTL terhadap proses belajar siswa. Ketiga hal ini merujuk pada manfaat dari model pembelajarn itu sendiri . dengan diterapkannya model pembelajaran CTL diharapkan siswa mampu menemukan materi berdasarkan pemahaman sendiri (Konstruks. , . diharapkan dengan model pembelajarn ini siswa mampu menghubungkan antara materi yang dipelajari dengan konteks - konteks kehidupan nyata, dan . siswa mampu menerapkan ilmu dari materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari - hari. Dari penjelasan diatas jelas, model pembelajaran kontekstual and learning adalah salah satu model pembelajaran yang bisa dijadikan oleh para pendidik sebagai senjata untuk tercapainya tujuan belajar yang memberlakukan peran aktif siswa lebih dari itu model pembelajaran CTL mampu memberikan suatu keadaan dimana materi Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan belajar yang dipelajari siswa dapat terkoneksikan dengan kehidupan nyata. Langkah - langkah Model Pembelajaran CTL Langkah - langkah apa saja yang harus CTL. Adapun adalah sebagai berikut: . kembangkan sebuah pemikiran dimana siswa akan belajar lebih bermakna jika mereka bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksikan sendiri berkenaan dengan pengetahuan dan keterampilan barunya, . aktifitas inkuiri untuk semua pembahasan kembangkan sifat ingin tahu para peserta didik dengan bertanya, . ciptakan masyarakat belajar di dalam kelas, . , . lakukan sebuah kegiatan refleksi diakhir pertemuan, . lakukan sebuah penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara dan teknik. Model pembelajaran CTL yang diambil pada penelitian ini adalah model pembelajaran learning community dimana pada prosesnya semua siswa harus berpartisifasi dalam belajar kelompok dan individual , otak berfikir dan tangan bekerja ,mengerjakan Kajian tentang Pembelajaran Matematika Istilah Mathematics (Inggri. Mathemetik (Jerma. , dan Matematico (Ital. , berasal dari kata latin Mathematike yang mulanya diambil dari perkataan Yunani. Mathematike yang berarti Aurelating to learningAy. Perkataan itu mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu, perkataan Mathematike sangat berhubungan dengan sebuah kata lain yang serupa, yaitu mathanein yang mengandung arti belajar atau berfikir. Jadi Matematika Auilmu bernalarAy. Hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index . , sedang dalam ilmu lain lebih di samping Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang dengan ide, proses dan penalaran. Pada awal Matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunia secara empiris, karena Matematika pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep Matematika. Agar konsep-konsep Matematika terbentuk itu dapat dipahami orang lain dan dapat dengan mudah dimanipulasi secara tepat, maka digunakan notasi atau istilah yang cermat yang disepakati secara global . yang bisa dikenal dengan bahasa Matematika. Pengertian Prestasi Belajar Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapaun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik Sehubungan dengan prestasi belajar. Poerwanto . memberikan pengertian prestasi belajar yaitu Auhasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport. Ay Selanjutnya Winkel . mengatakan bahwa Auprestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Ay Sedangkan menurut Nasution . prestasi belajar adalah: AuKesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria Prinsi-prinsip dalam pengajaran Matematika Matematika yang diajarkan di Sekolah Dasar adalah bagian Matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan dan membentuk pribadi siswa yang mengacu pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini berarti bahwa penggunaan Matematika disekolah tidak dapat dipisahkan dari ciri Ae ciri yang Matematika yaitu. Memiliki obyek kajian yang abstrak, dan Berpola pikir deduktif dan konsisten. Tujuan Pengajaran Matematika Sebagaimana kurikulum pendidikan dasar 2006 bahwa tujuan umum pengajaran Matematika ditingkat sekolah dasar adalah. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dalam kehidupan dan dunia yang terus mengalami perkembangan, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif, . Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index mempersiapkan siswa agar menggunakan Matematika dan pola pikir mtematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Dari tujuan umum tersebut dapat disimpulkan bahwa tekanan pengajaran Matematika terletak pada penataan nalar pembentukan sikap dan keterampilan dalam penerapan matematika. Adapun tujuan khusus pengajaran Matematika di Sekolah Dasar sebgaia berikut: . Menumbuhkan berhitung sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari, . Menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialih gunakan melalui matematika, . Mengembangkan Matematika sebagai bekal belajar lebih . Membentuk kritis,jujur,cermat. Fungsi Pengajaran Matematika Fungsi pengajaran Matematika yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar adalah instrumental yang dimiliki obyek dasar berlandaskan kebenaran konsistensi yaitu kebenaran pernyataan tertentu didasarkan pada kebenarankebenaran terdahulu yang telah diterima dalam sistem proses belajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal-hal yang harus dilaksanakan dalam pengajaran matematika Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar guru hendaknya memilih dan menggunakan srategi yang melibatkan siswa secara aktif dalam belajar,baik secara mental fisik maupun sosial. Pengajaran Matematika hendaknya disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta tidak melupakan perkembangan fisik siswa. Dengan demikian diharapkan akan terdapat keserasian antara pemahanan konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. Pengajaran dimulai dari halAehal yang kongrit dilanjutkan kehal Ae hal yang absrak,dari hal Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Ae hal yang mudah ke hal yang sulit dan dari hal yang sederhana ke hal kompleks. METODOLOGI PENELITIAN Setting Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Praya Kabupaten Lombok Tengah pada semester II Tahun Pelajaran 2018/2019 di kelas IX. Populasi penelitian adalah siswa kelas IX Ae 10 sebagai kelas perlakuan/eksperimen . siswa putra dan putr. dan kelas IX Ae 9 sebagai kelas pembanding . siswa putra dan putr. Materi yang disampaikan adalah materi KD. tentang luas bangun ruang sisi lengkung . uas sisi bol. Alokasi waktu yang dipergunakan adalah 3 . jam pelajaran atau setara dengan 120 menit. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan data kualitatif diperoleh dari kreatifitas siswa dalam kegiatan pembelajaran melalui observasi oleh guru, sedangkan pengambilan data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar siswa melalui pelaksanaan ulangan harian yang didesain/dirancang sedemikian rupa sehingga peneliti/guru bertindak sebagai Pembelajaran disesuaikan dengan tingkat berpikir peserta didik dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkreasi, yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesimpulan maksimal atas apa penyelidikan/percobaan kelompoknya masing-masing, selanjutnya hasil kerja kelompok dipresentasikan. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi : pengamatan . , dan tes tulis . Penerapan Sebelum kegiatan penelitian, peneliti . membagi kelas IX Ae 10 menjadi 9 . kelompok dengan anggota 4 . orang siswa dengan cara siswa berhitung 1 s. 4 secara bergantian ( yang berhitung 1 sebagai kelompok 1, yang berhitung 2 sbg kelompok 2 dan menginformasikan kepada siswa bahwa Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index pada pertemuan mendatang akan membahas materi tentang luas sisi bola, dimohon kepada masing-masing untuk menyiapkan alat dan bahan, yaitu : kertas karton, penggaris, pensil/spidol, jangka, pisau tangkai/cutter, stepless kecil, gunting dan jeruk . Sebelum memulai kegiatan pembelajaran, guru meminta kepada siswa untuk duduk Untuk menanggulangi terhambatnya pembelajaran, akibat distribusi alat dan bahan yang tidak merata . iswa lupa membaw. , guru memeriksa kelengkapan setiap kelompok. Guru membagikan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) kepada masing-masing Guru meminta siswa untuk memulai kegiatan kelompoknya dengan terlebih dahulu membaca Lembar Kegiatan Siswa (LKS) menyampaikan bahwa kelompok yang hasil kerjanya bagus dan tepat waktu akan memperoleh hadiah. Siswa membagi/membelah buah jeruk menjadi 2 . bagian yang sama besar. Siswa mengukur diameter buah jeruk yang sudah dibelah dengan penggaris, kemudian dengan jangka membuat 2 buah lingkaran yang diameternya sama dengan belahan jeruk tsb. Belahan jeruk tersebut kemuadian dibelah lagi menjadi dua bagian sama besar . /4 bagia. ,selajutnya siswa menguliti buah jeruk dan kulit jeruk tersebut ditempelkan pada lingkaranlingkaran yang telah dibuat sampai semua kulit jeruk habis tertempel/ terpasang pada lingkaran yang ada. Siswa mengisi langkah-langkah pada Lembar Kegiatan Siswa (LKS) sampai siswa menemukan rumus luas kulit buah jeruk . uas sisi bol. Hasil kerja kelompok ditempelkan di papan tulis. Dengan cara diundi acak salah satu Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 kelompoknya, sedangkan kelompok yang lain menanggapinya. Bagi kelompok yang paling bagus hasil kerjanya dan selesai tepat waktu diberi hadiah masing-masing satu jeruk sebagai Selanjutnya : Guru meminta siswa secara berkelompok percobaan yang mereka lakukan yang terdiri dari : Berapa banyak lingkaran yang terisi penuh oleh kulit buah jeruk ? Mencari perbandingan luas kulit buah jeruk . uas sisi bol. dan luas lingkaran, sehingga mendapatkan hubungan : Luas A bola = . x luas = . x A r 2 Luas bola = . x luas = . x A r 2 Siswa diminta menuliskan rumus luas sisi Untuk memantabkan pemahaman siswa, guru memberikan beberapa soal yang harus diselesaikan dengan menggunakan rumus yang telah ditemukan. Pada memberikan tugas kepada setiap siswa untuk membuat laporan tertulis secara individual yang berkenaan dengan langkah-langkah memperoleh rumus luas sisi bola berdasarkan pengalaman kerja Penugasan ini perlu diberikan untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan siswa dalam kegiatan kerja kelompok dan mengukur pemahaman siswa terhadap konsep luas sisi bola. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Setelah serangkaian kegiatan penelitian ini dilakukan, ternyata diperoleh hasil bahwa model pembelajaran kontruktivisme dan kontekstual melalui Jeruk Manis dalam memahami konsep luas sisi bola memberikan gambaran hasil yang cukup memuaskan dibandingkan dengan kelas lain yang tidak menggunakan model pembelajaran ini. Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Berikut ini peneliti sajikan tabel nilai siswa dari kelas yang menggunakan model kontekstual melalui Jeruk Manis . elas kronstruktivisme dan kontekstual melalui Jeruk Manis . elas pembandin. Tabel Daftar Nilai Ulangan Bangun Ruang Sisi Lengkung ( Bol. Dari tabel di atas tampak bahwa siswa kelas IX Ae 10 yang menggunakan model kontekstual melalui Jeruk Manis memperoleh nilai rata-rata 84,72. Hal ini tentunya cukup menggembirakan dibandingkan dengan kelas IX Ae 9 yang tidak menggunakan model kontekstual melalui Jeruk Manis hanya memperoleh nilai rata-rata 78,33, walaupun pada kedua kelas tersebut terdapat beberapa siswa yang memperoleh nilai maksimal, yaitu (Data nlai hasil ulangan siswa selengkapnya sebagaimana terlampi. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini diperoleh kronstruktivisme dan kontekstual melalui Jeruk Manis ini siswa melakukan beberapa hal sebagai berikut : Siswa mempersiapakan peralatan yang akan diperlukan untuk melakukan Siswa aktif dan antusias melaksanakan setiap tahapan kegiatan percobaan sesuai yang ada pada Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Siswa kelompoknya . danya pembagian tuga. dan berusaha untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dengan tepat Siswa membuat laporan kegiatan secara Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Salah satu kelompok . erdasarkan undi mem-presentasikan percobaan dan kelompok yang lain . eberanian Melalui diskusi kelas diperoleh kesimpulan mengenai tujuan kegian (KBM) Semua ditempelkan di papan tulis untuk dinilai oleh guru . enilaian terbuk. , kelompok siswa yang karyanya bagus sesuai menunjukkan ekspresi puas. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan hasil evaluasi sebagaimana disampaikan di atas, ternyata pembelajaran dengan konstruktivisme dan pendekatan kontekstual di samping dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa juga mampu memberikan perubahan sikap siswa dalam belajar matematika, di antaranya : Siswa merasa lebih senang dan bersemangat dalam belajar matematika. Siswa lebih cepat merespon setiap perintah, baik yang ada dalam Lembar Kegiatan Siswa (LKS) maupun yang disampaikan oleh guru. Siswa menggunakan daya pikirnya untuk merespon setiap permasalahan yang dihadapi, sehingga kreatifitasnya Siswa menunjukkan sikap kritis dalam adu argumen dan menghargai setiap pendapat yang disampaikan siswa yang Siswa menunjukkan jiwa sosialnya, kelompok, berbagi tugas, dan sikap peduli dalam menerima kesulitan belajar dari teman-temannya. Siswa lebih tanggap dan peka terhadap materi matematika yang rumusrumusnya ditemukan dalam kehidupan sehari-hari . , hal ini menunjang dalam penerapan rumus matematika dalam penyelesaian soal. Jurnal Ilmu Sosail dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index PENUTUP Kita semua tentu berharap bahwa apa yang disampaikan kepada siswa dapat bermakna dan sesuai dengan tujuan karenanya seorang guru dituntut untuk. Terus berfikir untuk mencari, menemukan, dan memilih metode, model, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang sesuai . , sehingga tujuan pembelajaran tercapai, salah satunya adalah dengan konstruktivisme dan kontekstual melalui kulit buah jeruk manis dalam memahami konsep luas sisi bola sebagaimana penulis paparkan . Dapat membangkitkan semangat belajar siswa, melalui berbagai upaya, sehingga siswa menikmati betul belajar matematika yang menyenangkan, bermakna dan berkesan, seperti belajar sambil bermain. Dapat memposisikan diri sebagai fasilitator yang memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk dapat menunjukkan potensi dan . Mempersiapkan secara maksimal yang berkaitan dengan kegiatan pembelajarannya lebih terencana, terarah, dan pada akhirnya tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. DAFTAR PUSTAKA