Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 GAYA KOMUNIKASI PENGGUNA MEDIA SOSIAL TIKTOK DALAM BERPENDAPAT MENGENAI KASUS PELECEHAN SEKSUAL Adisya Putri Hasanah1. Zuhriah2 1,2,3 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU). Medan. Indonesia Adisya0603202029@uinsu. *) corresponding author Keywords Abstract Tiktok. Sexual Harassment. Digital Communication. This research aims to analyze the communication style of TikTok social media users in expressing opinions regarding cases of sexual harassment. The research method uses a qualitative approach by collecting data through observation of TikTok content related to cases of sexual harassment. This research focuses on analyzing communication styles, including word choice, facial expressions, body movements, and visual elements used by TikTok users. The research results show variations in the communication styles used by TikTok users in conveying their opinions regarding sexual harassment cases. Some users tend to use humor or creative language, while others are more serious and prioritize facts. These findings provide insight into how TikTok users adapt their communication styles to address sensitive issues such as sexual harassment on social media. The implications of this research can be used to understand the dynamics of online communication in the context of relevant social PENDAHULUAN Media sosial adalah media online yang mendukung interaksi sosial. Media sosial menggunakan teknologi berbasis ueb yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif (Junaedi, 2011:. Dalam mengalkses media sosial, seseorang mempunyai motif tersendiri yang mendorongnya untuk memilih media sosial tersebut (McQu aiI, 19 87 :7 ). Perkembangan industri pada sosial media saat ini sangat pesat perkembangannya. Banyaknya hal yang mengharuskan masyarakat Indonesia khususnya di kota maupun desa. Begitu pula dengan salah satu aplikasi sosial media yang sangat ini sedang populer kemunculannya yaitu aplikasi Tik Tok. Tik Tok adalah media yang berupa audio visual, media ini sebuah media sosial yang dapat dilihat juga dapat didengar. Adanya media sosial memberikan hiburan bagi setiap orang untuk menghilangkan rasa lelahnya (Abdul Kadir, 2006 : . Penggunaan media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari- hari, mengubah lanskap komunikasi manusia secara signifikan. Salah satu platform yang memimpin gelombang perubahan ini adalah TikTok. Sebagai wadah ekspresi dan interaksi, 220 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 TikTok memberikan ruang bagi penggunanya untuk berbagi pandangan, gagasan, dan Namun, di balik kreativitas dan keceriaan yang dihadirkan oleh aplikasi ini, terdapat fenomena serius yang menuntut perhatian: kasus pelecehan seksual. Analisis gaya komunikasi pengguna TikTok dalam mengungkapkan pendapat mereka mengenai kasus pelecehan seksual menjadi sorotan utama dalam eksplorasi ini, dengan pemahaman mendalam terhadap bagaimana pesan disampaikan dan diterima di lingkungan ini dapat memberikan pandangan yang lebih kaya terkait dampak sosial dan tuntutan keadilan. Penting untuk memahami bahwa TikTok bukan sekadar platform berbagi video pendek, tetapi juga merupakan tempat di mana beragam pendapat dan narasi berkembang. Pengguna TikTok menggunakan berbagai gaya komunikasi untuk menyuarakan pandangan mereka tentang kasus pelecehan seksual. Beberapa mengandalkan narasi pribadi, menceritakan pengalaman mereka sendiri atau orang terdekat yang terkena dampak. Dalam hal ini, gaya komunikasi sangat dipengaruhi oleh unsur emosi dan keintiman, menciptakan narasi yang kuat dan dapat menyentuh hati pemirsa. Di sisi lain, ada juga pengguna yang memilih pendekatan lebih objektif, menggunakan data dan fakta untuk mendukung argumen mereka. Analisis terhadap gaya komunikasi ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi pola-pola umum dan perbedaan dalam cara pengguna TikTok menyikapi isu pelecehan seksual, memberikan wawasan mendalam tentang cara pandang dan sikap yang beragam. Pengguna Media sosial TikTok dalam merespons isu pelecehan seksual melalui elemen- elemen kreatif yang menjadi ciri khas platform ini. Dalam analisis ini, kita dapat meneliti bagaimana pengguna memanfaatkan musik, tata letak visual, dan efek khusus untuk menyampaikan pesan mereka. Beberapa mungkin memilih pendekatan yang lebih serius dan menyedihkan untuk menciptakan dampak emosional yang kuat, sementara yang lain mungkin menggunakan humor atau kreativitas untuk menyampaikan pesan mereka tanpa mengurangi seriusnya isu tersebut. Analisis ini tidak hanya membantu kita memahami variasi dalam gaya komunikasi, tetapi juga memungkinkan kita untuk mengeksplorasi efektivitas berbagai pendekatan dalam menyampaikan pesan yang bersifat edukatif atau menggerakkan tindakan. Respons pengguna TikTok terhadap isu pelecehan seksual mencerminkan dinamika kekuasaan dan kesetaraan di dalam komunitas digital ini. Apakah ada upaya bersama untuk mendukung korban, ataukah muncul perdebatan dan konflik antara kelompok- kelompok dengan pandangan yang berbeda, analisis ini akan membuka pintu bagi pemahaman mendalam tentang bagaimana struktur sosial dan nilai-nilai yang berkembang di dalam komunitas TikTok memainkan peran penting dalam membentuk sikap terhadap isu-isu kontroversial seperti pelecehan seksual. Gaya komunikasi pengguna TikTok dalam berpendapat mengenai kasus pelecehan seksual, dapat dipahami bahwa platform ini tidak hanya sebagai tempat hiburan semata, tetapi juga sebagai arena penting untuk menyuarakan aspirasi sosial dan mempengaruhi opini publik. Merinci gaya komunikasi pengguna TikTok dalam berpendapat mengenai kasus pelecehan seksual, kita dapat memahami bahwa platform ini tidak hanya sebagai tempat hiburan semata, tetapi juga sebagai arena penting untuk menyuarakan aspirasi sosial dan mempengaruhi opini publik. Dengan memahami dinamika ini, kita dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan mendukung, di mana suara-suara yang terpinggirkan memiliki ruang untuk didengar dan isu-isu serius dapat diperlakukan dengan serius. 221 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 Proses penelitian ini, terdapat penelitian terdahulu yang meneliti tentang penggunaan aplikasi TikTok. Pertama, sebuah jurnal dengan judul Analisis Perilaku Komunikasi Pengguna Media Sosial Tik Tok, diteliti oleh Abel Abdi Putra Pratama. Sri Narti. Yanto pada tahun 2023, hasil penelitian menunjukkan bahwa Mahasiswa Ilmu Komunikasi cenderung mendominasi perilaku komuniasi non verbal di Tik Tok. Partisipasi didominasi oleh mahasiswa perempuan, dengan respons yang bervariasi setelah menggunakan Tik Tok, termasuk terhibur, terinspirasidan keinginan untuk eksis melalui komentar. Kedua, penelitian yang ditulis oleh Febriany . Amalia Inzahroh. Syiddah Naelatul Muna pada tahun 2023, dengan judul Penggunaan Media Sosial Tiktok Dalam Pembentukan Karakter Remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi TikTok memiliki pengaruh yang signifikan terhadap gaya hidup dan etika remaja, sekitar 25%. Oleh karena itu, diperlukan pembentukan karakter remaja yang kuat dengan mengintegrasikan 9 pilar karakter dalam kehidupan sehari-hari untuk mengurangi kemungkinan ketidakseimbangan atau penyalahgunaan aplikasi TikTok. Ketiga. Penelitian yang ditulis Muhammad Hanif Permana. Stefani Koesanto Pada tahun 2023, dengan judul Analisis Media Komunikasi Online terkait Pelecehan Seksual dalam Chatbot di Telegram . Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan channel Annonymous chatbot telegram sebagai ruang baru dapat memberikan anonimitas dan keamanan bagi pelaku karena kerahasiaan identitasnya tinggi. Fenomena pelecehan seksual terjadi dalam chatbot di telegram dapat diakibatkan oleh karena kurangnya literasi digital serta anonimitas dalam penggunanya. Terlihat dari penelitian terdahulu di atas sama-sama membahas mengenai penggunaan aplikasi TikTok. Tetapi tentu terdapat perbedaan, selain fokus permasalahan yang berbeda juga terdapat perbedaan lainnya. Seperti pada penelitian Abel Abdi Putra Pratama. Sri Narti. Yanto Penelitian ini memiliki fokus yang lebih umum, sedangkan penelitian saya memiliki fokus yang lebih spesifik pada gaya komunikasi pengguna TikTok dalam konteks kasus pelecehan seksual. Jika pada jurnal yang ditulis oleh Febriany. Amalia Inzahroh. Syiddah Naelatul Muna Penelitian ini meneliti dampak penggunaan TikTok terhadap pembentukan karakter remaja, sedangkan penelitian saya meneliti gaya komunikasi pengguna TikTok dalam konteks kasus pelecehan seksual. Kemudian pada penelitian yang ditulis Muhammad Hanif Permana. Stefani Koesanto Penelitian ini menganalisis media komunikasi online di Telegram, khususnya chatbot. Sedangkan penelitian saya menganalisis gaya komunikasi pengguna di media sosial TikTok. Oleh karena itu, dari penelitian tersebut, peneliti belum menemukan penelitian yang membahas secara khusus tentang Analisis Gaya Komunikasi Pengguna Media Sosial Tiktok. Berdasarkan penjelasan diatas, penelitan ini meiliki tujuan untuk mengetahui gaya komunikasi pengguna TikTok dalam menyampaikan pendapat atau komentar terkait kasus pelecehan seksual melalui konten yang mereka unggah di platform tersebut. KAJIAN TEORITIS Teori Interaksi Simbolik George Herbert Mead Konsep teori interaksi simbolik ini diperkenalkan oleh Herbert Blumer sekitar tahun Dalam lingkup sosiologi, ide ini lebih dulu dikemukakan George Herbert Mead, kemudian dimodifikasi oleh blumer guna mencapai tujuan tertentu. Teori ini memiliki ide yang baik, tetapi tidak terlalu dalam dan spesifik sebagaimana diajukan G. Mead. Interaksi simbolik didasarkan pada ide-ide tentang individu dan interaksinya dengan masyarakat. Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif ini menyarankan bahwa 222 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Interaksi Simbolik menurut Effendy . 9, h. adalah suatu faham yang menyatakan bahwa hakekat terjadinya interaksi sosial antara individu dan antar individu dengan kelompok, kemudian antara kelompok dengan kelompok dalam masyarakat, ialah karena komunikasi, suatu kesatuan pemikiran di mana sebelumnya pada diri masingmasing yang terlibat berlangsung internalisasi atau pembatinan. Menurut Dewi Maryanto dan Sunarto dalam (Artur Asa Berger, 2004, h. teori interaksi simbolik adalah hubungan antara simbol dan interaksi. Menurut teori Interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia yang menggunakan simbol-simbol, mereka tertarik pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan Dan juga pengaruh yang ditimbulkan dari penafsiran simbol-simbol tersebut terhadap perilaku pihak-pihak yang terlihat dalam interaksi sosial. Konteks penggunaan TikTok, teori dramaturgi Goffman dapat membantu memahami bagaimana pengguna memainkan peran atau "dramatisasi" diri mereka saat mereka menyuarakan pendapat mereka tentang kasus pelecehan seksual. Goffman menyatakan bahwa individu berperilaku seperti aktor di atas panggung, berusaha untuk menciptakan kesan yang diinginkan kepada audiens. Dalam konteks TikTok, pengguna mungkin berusaha untuk membangun citra yang sesuai dengan identitas mereka sendiri dan mempresentasikan diri mereka dalam cara yang dianggap paling efektif untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dalam isu pelecehan seksual. Teori interaksi simbolik Mead menekankan bahwa identitas individu dibentuk melalui interaksi sosial dan penggunaan simbol-simbol. Di TikTok, pengguna secara aktif berinteraksi dengan simbol-simbol, baik dalam bentuk teks, gambar, atau video, untuk mengekspresikan diri mereka. Dalam konteks kasus pelecehan seksual, individu dapat menggunakan platform ini untuk membangun dan menyampaikan identitas mereka sebagai pendukung atau lawan pelecehan seksual, serta cara mereka memposisikan diri mereka dalam diskusi tersebut. Mead juga menggambarkan bahwa individu mengambil peran sebagai "subjek" dan "objek" dalam interaksi sosial. Dalam hal ini, pengguna TikTok berperan sebagai subjek saat mereka memposting konten atau memberikan pendapat mereka tentang kasus pelecehan seksual, sementara mereka menjadi objek ketika mereka menerima tanggapan dari pengguna lainnya. Interaksi ini membentuk proses komunikasi yang kompleks di platform tersebut. Teori Mead menekankan pentingnya makna simbolik dalam interaksi sosial. TikTok, makna simbolik diberikan kepada konten yang diposting, komentar yang dibuat, dan reaksi yang ditampilkan terhadap kasus pelecehan seksual. Pengguna mungkin menggunakan simbol-simbol tertentu, seperti emoji atau hashtag, untuk menyampaikan pandangan mereka atau mengungkapkan solidaritas dengan korban. Analisis ini akan membantu memahami bagaimana pengguna TikTok menggunakan simbol-simbol tersebut untuk berkomunikasi tentang isu yang sensitif dan kompleks seperti pelecehan seksual. Dengan menggunakan kerangka teori interaksi simbolik Mead, penelitian dapat mengeksplorasi bagaimana individu di TikTok berinteraksi satu sama lain, membentuk identitas, dan memberikan makna simbolik dalam konteks kasus pelecehan seksual. Ini akan membantu dalam pemahaman yang lebih baik tentang dinamika komunikasi online dan cara individu menyuarakan pendapat mereka tentang isu-isu yang penting di media sosial. 223 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 Kesimpulan dari penulis mengenai kaitan teori interaksi simbolis dengan penelitian ini yaitu menyimpulkan bahwa teori interaksi simbolik dapat membantu dalam memahami bagaimana individu menggunakan media sosial TikTok untuk berkomunikasi dan menyampaikan pendapat mereka tentang kasus pelecehan seksual. Teori ini menyoroti pentingnya simbol-simbol dalam interaksi sosial, dan bagaimana individu memaknai dan merespons simbol-simbol tersebut. Pengguna TikTok cenderung menggunakan gaya komunikasi yang kreatif, singkat, dan visual dalam menyampaikan pendapat mereka tentang kasus pelecehan seksual. Mereka mungkin menekankan penggunaan musik, tata letak visual, dan humor dalam menyampaikan pesan mereka. serta Berdasarkan teori interaksi simbolik, juga menyoroti bagaimana pengguna TikTok berperan dalam membangun makna bersama terkait dengan kasus pelecehan seksual, pengguna TikTok tidak hanya menyampaikan pendapat mereka sendiri, tetapi juga merespons dan bereaksi terhadap pendapat orang lain, menciptakan interaksi simbolik yang kompleks. Aplikasi TikTok Tik tok merupakan sebuah aplikasi yang memberikan efek spesial yang unik dan menarik yang bisa digunakan oleh para pengguna aplikasi ini dengan mudah untuk membuat vidio pendek yang keren dan bisa menarik perhatian banyak orang yang Aplikasi tik tok adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik tiongkok yang diluncurkan pada september 2016. Aplikasi ini adalah aplikasi pembuatan video pendek dengan didukung musik, yang sangat digemari oleh orang banyak termasuk orang dewasa dan anak-anak dibawah umur. Aplikasi tik tok ini merupakan aplikasi yang juga bisa melihat video-video pendek dengan berbagai ekspresi masing-masing Dan pengguna aplikasi ini bisa juga meniru dari video pengguna lainnya, seperti pembuatan video dengan musik goyang dua jari yang banyak juga dibuat oleh setiap Dan video-video tersebut dibuat juga oleh anak-anak dibawah umur yakni peserta didik yang belum begitu memahami arti dari video-video tersebut. Aplikasi media sosial tik tok banyak berbagai konten video yang ingin mereka buat dengan mudah. Tidak hanya melihat dan menirukan, mereka juga dapat membuat video dengan cara mereka sendiri. Mereka dapat menuangkan berbagai video-video yang kreatif sesuai dengan ide- ide mereka. Tidak hanya mengenai video-video menarik, joget, lipsync dll, mereka juga bisa ikut tantangan-tantangan yang dibuat pengguna lain. Aplikasi tik tok adalah salah satu aplikasi yang membuat pengguna nya terhibur. Media Sosial TikTok memenuhi kebutuhan informasi bagi remaja tergolong kurang, terkait dengan kebutuhan informasi berita, kebutuhan informasi menemukan bimbingan, kebutuhan informasi memuaskan minat umum,kebutuhan informasi edukasi, dan kebutuhan informasi hiburan (Indira,dkk. Aplikasi tik tok ini pun dapat membuat si pengguna dikenal atau terkenal. Dikenal atau terkenal karena video-video yang mereka buat, ada video yang terkenal karena kreatifitasnya, ada juga yang terkenal karena video nya yang lucu, ada juga yang terkenal karena keunikan video yang dibuat. Semua sesuai pandangan dari setiap penonton atau si pengguna lain. Aplikasi tik tok ini merupakan aplikasi yang memperbolehkan para pemakainya untuk membuat vidio musik pendek mereka sendiri. Aplikasi ini diluncurkan pada bulan september tahun 2016 yang dikembangkan oleh developer asal Tiongkok Pelecehan Seksual Dalam Media Sosial Tiktok 224 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 Pelecehan seksual memiliki banyak bentuk yang jarang kita ketahui apalagi sadari. Bahkan beberapa dari bentuk tersebut menjadi lelucon yang lumrah untuk dilakukan, sehingga banyak korban yang enggan untuk bersuara akan hal ini. Adapun menurut Rape Abuse & Incest Nasional Network (RAINN) yang dikutip dari Equal Employment Opportunity Commission (EEOC), pelecehan seksual mencakup rayuan seksual yang tidak diinginkan, permintaan bantuan seksual, serta pelecehan verbal atau fisik lainnya yang memiliki unsur seksual. Media sosial yang saat ini sebagai salah satu alat komunikasi yang sagat penting bagi masyarakat memiliki dampak baik itu dampak yang baik dan buruk. Selain banyak memberikan dampak positif media juga menimbulkan dampak negatif bagi pengguna(Nurulita and Primadini 2. Pelecehan seksual telah bertransformasi tidak hanya di ruang publik, tetapi juga merambah di dunia maya. Media sosial juga bisa menjadi temoat tindakan pelecehan Meskipun hanya sebatas platform tanpa interaksi secara langsung, tidak memastikan tindak pelecehan seksual yang ada hal yang ringan. Pada umumnya, tindakan pelecehan seksual yang ada di media sosial berupa lontaran komentar yang tidak pantas terhadap seseorang, ajakan berbau seksual yang dikirim dari orang yang tidak dikenal, bahkan foto-foto yang menampilkan privasi seseorang. Menurut Kesumastuti . TikTok, sebagai platform media sosial yang dikenal dengan format video pendeknya, memainkan peran yang signifikan sebagai wadah diskusi Pengguna TikTok tidak hanya menggunakan platform ini untuk berbagi hiburan kreatif, tetapi juga sebagai saluran untuk berkomunikasi dan berpendapat mengenai isu-isu sosial yang relevan, termasuk kasus pelecehan seksual. Dalam konteks ini. TikTok berfungsi sebagai ruang di mana pengguna dapat mengekspresikan pandangan mereka dengan cara yang kreatif dan seringkali mendalam. Statistik pengguna TikTok yang terlibat dalam pembicaraan mengenai kasus pelecehan seksual menjadi indikator penting untuk mengukur sejauh mana peran platform ini dalam membentuk kesadaran dan opini publik. Jumlah pengguna yang terlibat, demografi mereka, dan tingkat interaksi dalam bentuk komentar, likes, serta share, memberikan gambaran tentang sejauh mana kasus tersebut memengaruhi komunitas TikTok. Analisis statistik seperti ini juga dapat membantu memahami seberapa luas dampaknya, apakah melibatkan berbagai kelompok usia, lokasi, atau gender. Platform ini berfungsi sebagai alat untuk memperluas wawasan masyarakat, merangsang perbincangan yang mendalam, dan memberikan suara kepada mereka yang mungkin sebelumnya tidak memiliki platform untuk mengutarakan pendapat mereka. Oleh karena itu, peran TikTok sebagai wadah diskusi tidak hanya mencerminkan keberagaman perspektif, tetapi juga memberikan dampak signifikan dalam membentuk narasi dan pemahaman bersama terhadap isu- isu sosial yang mendesak. TikTok berfungsi sebagai ruang di mana pengguna dapat mengekspresikan pandangan mereka dengan cara yang kreatif dan seringkali mendalam. Statistik pengguna TikTok yang terlibat dalam pembicaraan mengenai kasus pelecehan seksual menjadi indikator penting untuk mengukur sejauh mana peran platform ini dalam membentuk kesadaran dan opini publik. Jumlah pengguna yang terlibat, demografi mereka, dan tingkat interaksi dalam bentuk komentar, likes, serta share, memberikan gambaran tentang sejauh mana kasus tersebut memengaruhi komunitas TikTok. Analisis statistik seperti ini juga dapat membantu memahami seberapa luas dampaknya, apakah melibatkan berbagai kelompok usia, lokasi, atau gender. Dengan adanya diskusi aktif mengenai kasus pelecehan 225 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 seksual di TikTok, platform ini berfungsi sebagai alat untuk memperluas wawasan masyarakat, merangsang perbincangan yang mendalam, dan memberikan suara kepada mereka yang mungkin sebelumnya tidak memiliki platform untuk mengutarakan pendapat Oleh karena itu, peran TikTok sebagai wadah diskusi tidak hanya mencerminkan keberagaman perspektif, tetapi juga memberikan dampak signifikan dalam membentuk narasi dan pemahaman bersama terhadap isu-isu sosial yang mendesak. METODE PENELITIAN Metode ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang di amati. Kemudian, penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, dengan tujuan untuk memahami objek yang diteliti. Strudi kasus merupakan suatu pendekatan dalam penelitian dimana peneliti menggali sebuah fenomena atau kasus dalam kurun waktu tertentu serta mengumpulkan informasi secara mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data. Penelitian ini dilakukan melalui aplikasi social media yaitu aplikasi tiktok, dengan mengamati tanggapan melalui kolom komentar. Metode peneliti kualitatif adalah mencari pengertian yang mendalam tentang suatu gejala, fakta atau realita. Fakta, realita, masalah, gejala serta peristiwa hanya dapat dipahami bila peneliti menelusurinya secra mendalam dan tidask hanya terbatas pada pandangan di permukaan saja. Hal ini yang menjadi ciri khas metode kualitatif, sekaligus sebagai faktor unggulnya (Yusanto, 2. Penelitian kualitatif secara umum digunakan untuk penelitian dalam masyarakat, sejarah, tingkah laku seseorang, aktivitas sosial dan lain sebagainya. Alasan menggunakan metode ini yaitu untuk menelaah bagaimana gaya komunikasi pengguna media sosial platform TikTok dalam berpendapat mengenai kasus pelecehan seksual yang terjadi. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi (Pengamata. Observasi atau pengamatan adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung ke lapangan terhadap objek yang diteliti. Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengamatan secara langsung pada media sosial HASIL DAN PEMBAHASAN TikTok berfungsi sebagai ruang di mana pengguna dapat mengekspresikan pandangan mereka dengan cara yang kreatif dan seringkali mendalam. Statistik pengguna TikTok yang terlibat dalam pembicaraan mengenai kasus pelecehan seksual menjadi indikator penting untuk mengukur sejauh mana peran platform ini dalam membentuk kesadaran dan opini Jumlah pengguna yang terlibat, demografi mereka, dan tingkat interaksi dalam bentuk komentar, likes, serta share, memberikan gambaran tentang sejauh mana kasus tersebut memengaruhi komunitas TikTok. Analisis statistik seperti ini juga dapat membantu memahami seberapa luas dampaknya, apakah melibatkan berbagai kelompok usia, lokasi, atau gender. Diskusi aktif mengenai kasus pelecehan seksual di TikTok, platform ini berfungsi sebagai alat untuk memperluas wawasan masyarakat, merangsang perbincangan yang mendalam, dan memberikan suara kepada mereka yang mungkin sebelumnya tidak memiliki platform untuk mengutarakan pendapat mereka. Oleh karena itu, peran TikTok sebagai wadah diskusi tidak hanya mencerminkan keberagaman perspektif, tetapi juga 226 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 memberikan dampak signifikan dalam membentuk narasi dan pemahaman bersama terhadap isu-isu sosial yang mendesak. Hasil Pengamatan salah satu Kasus pelecehan seksual yang terjadi yaitu di STIKes Buleleng Bali, di mana seorang dosen diduga melakukan tindakan pelecehan terhadap seorang mahasiswi di kos, mengekspos seriusnya tantangan yang dihadapi dalam menjaga integritas dan keamanan lingkungan akademis. Keberanian mahasiswi untuk melaporkan insiden tersebut adalah langkah penting dalam menyoroti perlunya penanganan yang tegas terhadap pelanggaran etika di lembaga pendidikan. Laporan ini didukung oleh bukti berupa rekaman CCTV yang memotret momen interaksi antara mahasiswa dan dosen, memberikan dimensi otentik pada tuduhan tersebut. Konteks kasus ini menciptakan kebutuhan akan tanggapan yang cepat dan adil dari pihak berwenang institusi, serta menekankan pentingnya transparansi dan keadilan dalam proses penyelidikan internal. Selain itu, kasus ini menciptakan dampak sosial yang lebih luas, membangkitkan pertanyaan tentang keamanan mahasiswa dan perlunya perubahan kebijakan dan mekanisme perlindungan di lingkungan pendidikan. Keseluruhan peristiwa ini menyoroti urgensi penanganan serius terhadap pelecehan seksual di lembaga pendidikan tinggi dan perlunya pembinaan etika bagi staf akademis agar menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Hasil pengamatan diatas beberapa kolom komentar pada tayangan Pelecehan seksual tersebut. Responden menyampaikan bahwa pengguna TikTok menunjukkan gaya komunikasi yang khas dan responsif terhadap isu yang sensitif ini. Komentar-komentar yang muncul mencerminkan beragam reaksi dari pengguna, mulai dari ungkapan simpati terhadap mahasiswi yang menjadi korban hingga kecaman terhadap dosen yang diduga Bahasa yang digunakan oleh pengguna dalam komentarnya bersifat ekspresif dan seringkali memuat unsur empati, menggambarkan rasa kepedulian terhadap kejadian Sebagian besar komentar juga mencerminkan kebutuhan akan keadilan, menyoroti pentingnya respons cepat dan adil dari pihak berwenang institusi. Pengguna 227 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 TikTok cenderung mengekspresikan keprihatinan terhadap integritas dan keamanan lingkungan akademis, seiring dengan pendorong untuk perubahan kebijakan dan peningkatan mekanisme perlindungan bagi mahasiswa di institusi pendidikan tinggi. Penggunaan emoji dalam komentar juga dapat ditemui, dimana emoji seperti wajah marah, simbol hati, atau tanda tanya digunakan untuk mengekspresikan emosi yang sulit diungkapkan secara verbal. Hal ini memberikan dimensi emosional pada respons pengguna, menunjukkan dukungan moral dan kecaman terhadap tindakan pelecehan seksual. Hashtag juga muncul dalam komentar sebagai upaya untuk mengelompokkan dan menyatukan suara pengguna TikTok dalam menyuarakan keprihatinan mereka terhadap kasus ini. Hashtag seperti #StopPelecehan atau #KeadilanBagiKorban dapat ditemui, mencerminkan semangat kampanye online untuk mengatasi isu pelecehan seksual. Gaya komunikasi yang unik oleh pengguna TikTok memberikan kontribusi nyata terhadap perbincangan online mengenai pelecehan seksual, membentuk narasi kolektif, dan menekankan pentingnya perubahan dalam upaya menciptakan lingkungan akademis yang aman dan mendukung. Sebagian besar responden menyatakan melihat pelecehan seksual tersebut di media sosial. Ini sesuai dengan teori menurut Subagijo dan Azimah . 8: 3. , bahwa berdasarkan media penyampaiannya tayangan pelecehan seksual dikategorikan sebagai sebagai fenomena kompleks, dapat dipahami melalui berbagai teori yang menyoroti aspek-aspek tertentu dalam perilaku ini. Teori Kontrol Sosial menekankan bahwa pelecehan seksual dapat terjadi ketika kontrol sosial terhadap individu melemah, dan norma-norma sosial tidak ditegakkan. Sementara itu. Teori Kekuasaan menyoroti dimensi kekuasaan yang mungkin terlibat, di mana ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban memfasilitasi terjadinya pelecehan. Perspektif Evolusioner mengeksplorasi aspek reproduksi dan strategi evolusioner yang mungkin berkontribusi pada perilaku pelecehan seksual, meskipun saat ini dianggap tidak etis. Dalam Teori Sosialisasi Gender, norma-norma gender dan sosialisasi gender memainkan peran penting dalam membentuk perilaku pelecehan seksual, dengan konsep maskulinitas yang mengandung elemen dominasi dan Pendekatan Psikologis memfokuskan pada faktor-faktor psikologis individu, seperti gangguan kepribadian atau pengalaman traumatis, yang dapat mempengaruhi perilaku pelecehan. Sementara itu. Teori Struktural dan Teori Ekologi menyoroti peran struktur sosial dan interaksi kompleks antara individu, lingkungan, dan faktor sosial dalam membentuk norma dan nilai yang mendukung atau memungkinkan terjadinya pelecehan Pemahaman holistik ini memberikan pandangan yang komprehensif terhadap pelecehan seksual, yang dapat membimbing upaya pencegahan dan penanganan dalam berbagai konteks sosial. Ragam tayangan pelecehan seksual dapat mengambil berbagai bentuk dalam berbagai konteks, menciptakan ragam tayangan yang memperlihatkan kompleksitas fenomena ini. Salah satu ragam yang umum terjadi adalah pelecehan verbal, di mana kata-kata atau komentar merendahkan digunakan untuk mengekspresikan hasrat seksual tanpa izin atau keinginan korban. Selain itu, pelecehan fisik termasuk dalam bentuk tayangan ini, melibatkan sentuhan yang tidak diinginkan atau tindakan fisik lain yang bersifat seksual. Pelecehan visual atau perundungan online juga menjadi ragam tayangan yang semakin umum, di mana gambar atau video yang merendahkan diunggah dan disebarluaskan secara Fenomena pelecehan seksual juga dapat tercermin dalam tayangan kekuasaan dan pelecehan yang terjadi di tempat kerja, institusi pendidikan, atau dalam konteks hubungan Ragam tayangan ini memberikan gambaran tentang kompleksitas dan perluasan 228 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 pelecehan seksual dalam masyarakat, menunjukkan perlunya kesadaran, pendidikan, dan langkah-langkah perlindungan untuk mengatasi dan mencegah perilaku ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang melihat tayangan pelecehan seksual di media sosial dapat berkomunikasi lewat kolom komentar dengan pendapat yang bervariasi dengan beragam pendapat. Hasil penelitian ini sesuai dengan pemaparan Habibah . , bahwa kasus ini menciptakan gaya komunikasi melalui kolom komentar aplikasi tiktok, yang Dimana kebanyakan hasil kominikasi dari responden yaitu kesadaran dan refleksi terhadap isu pelecehan seksual di lembaga pendidikan tinggi. Dengan mengajukan pertanyaan tentang integritas dan keamanan, kasus ini menjadi katalisator untuk mendesak perlunya perubahan budaya di kalangan staf akademis dan implementasi kebijakan yang lebih ketat untuk mencegah serta menangani pelecehan seksual. Keseluruhan peristiwa ini secara tegas menunjukkan urgensi penanganan serius terhadap pelecehan seksual di lembaga pendidikan tinggi dan mendorong perlunya pembinaan etika yang lebih ketat bagi para pendidik agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung bagi seluruh mahasiswa. Responden juga menyampaikan dengan tegas mengutuk tindakan pelecehan dan mengekspresikan dukungan penuh terhadap mahasiswi yang menjadi korban. Mereka menyuarakan simpati, solidaritas, dan membagikan pesan positif untuk membantu korban mengatasi trauma. Sebaliknya, ada netizen yang menuntut keadilan dan penegakan hukum terhadap pelaku, menekankan pentingnya penyelidikan menyeluruh dan hukuman Di samping itu, sebagian netizen menggunakan platform media sosial untuk memulai kampanye kesadaran terhadap pelecehan seksual, menciptakan hashtag khusus, dan berbagi informasi pendidikan. Ada juga yang mengajukan pertanyaan dan kritik terhadap sistem perlindungan di lembaga pendidikan, menyoroti potensi kelemahan dalam kebijakan atau prosedur yang dapat memungkinkan terjadinya kasus serupa. Meskipun beberapa netizen merespons dengan kreativitas, menyebarkan pesan anti-pelecehan seksual melalui seni atau konten multimedia lainnya, tidak bisa dihindari bahwa beberapa juga menunjukkan reaksi negatif terhadap pelaku dengan doxing atau serangan verbal Keseluruhan, respon netizen mencerminkan kompleksitas isu pelecehan seksual dan menunjukkan kebutuhan untuk dialog, kesadaran, dan perubahan yang mendalam dalam mendukung keamanan dan integritas lingkungan pendidikan. Dampak jangka panjang terhadap pelecehan seksual mencakup aspek psikologis, emosional, sosial, dan bahkan ekonomi bagi korban. Secara psikologis, korban pelecehan seksual dapat mengalami trauma yang mendalam, seperti gangguan stres pasca-trauma (PTSD), depresi, dan kecemasan. Dampak ini dapat berlanjut hingga jangka panjang, memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup korban. Di sisi emosional, korban mungkin mengalami kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat, kehilangan kepercayaan pada orang lain, dan merasa terisolasi. Dalam konteks sosial, stigma dan ketidakpercayaan terhadap korban pelecehan seksual dapat memengaruhi hubungan dengan keluarga, teman, dan masyarakat secara keseluruhan. Dampak ini dapat berlanjut dalam jangka panjang, bahkan setelah kasus tersebut terungkap. Selain itu, pelecehan seksual dapat menghambat perkembangan akademis dan karir korban, mengarah pada kesulitan dalam mencapai potensi penuh mereka. Faktor-faktor ekonomi juga dapat terpengaruh, terutama jika korban mengalami kesulitan mempertahankan atau memperoleh pekerjaan sebagai akibat dari dampak psikologis dan sosial yang mereka alami. Oleh karena itu, penanganan serius terhadap pelecehan seksual tidak hanya penting untuk 229 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 menegakkan keadilan, tetapi juga untuk meminimalkan dampak jangka panjang yang dapat memengaruhi seluruh aspek kehidupan korban. Hasil pengamatan menunjukan bahwa faktor yang paling bepengaruh terhadap perilaku pelecehan seksual, yaitu Faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku pelecehan seksual adalah kompleks dan melibatkan dinamika yang beragam. Salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi munculnya perilaku ini adalah unsur kekuasaan dan Penggunaan kekuasaan untuk memenuhi kebutuhan seksual atau untuk mengekspresikan dominasi seringkali menjadi motif di balik tindakan pelecehan. Selain itu, norma-norma gender dan budaya juga berperan penting, di mana budaya yang mendukung ketidaksetaraan gender atau memperkuat pandangan bahwa kontrol terhadap individu yang lebih lemah dapat diterima, dapat menjadi pendorong bagi perilaku pelecehan. Faktor ekonomi dan sosial, seperti ketidaksetaraan ekonomi dan ketidakamanan ekonomi, juga dapat memainkan peran dalam terjadinya pelecehan seksual, dengan situasi ketidaksetaraan kekuasaan atau kendali yang menciptakan lingkungan yang rentan terhadap perilaku tersebut. Selain itu, kondisi kesehatan mental, pengalaman traumatis sebelumnya, dan faktor-faktor psikologis juga dapat mempengaruhi motivasi dan impuls individu untuk melakukan pelecehan seksual. Oleh karena itu, pendekatan yang holistik dan pemahaman mendalam terhadap interaksi kompleks faktor-faktor ini sangat penting untuk mencegah dan mengatasi perilaku pelecehan seksual. Penelitian ini juga menunjukan bahwa responden yang memperoleh dorongan atau stimuli berupa tayangan pornografi dari sosial media cenderung akan mengkonsumsi tayangan tersebut secara berkelanjutan sehingga menjadi kebiasaan. Hal ini sesuai dengan teori faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia (Wardhani, 2. , faktor yang berpengaruh terhadap perilaku manusia secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor personal dan situasional. Faktor personal seringkali dipengaruhi oleh motif sosiogenis, atau sering juga disebut motif sekunder yaitu: . Motif ingin tahu, yaitu kecendrungan setiap orang untuk berusaha memahami dan memperoleh arti dari dunianya. Manusia membutuhkan kerangka rujukan . rame of referenc. untuk mengevaluasi situasi baru dan mengarahkan tindakan yang . Motif cinta, yaitu Berbagai penelitian membuktikan bahwa kebutuhan akan kasih sayang yang tidak terpenuhi akan menimbulkan peilaku manusia yang kurang baik. Motif kompetisi yaitu Setiap orang ingn membuktikan bahwa ia mampu mengatasi persoalan kehidupan apa pun. Perasaan mampu amat begantung pada perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Motif harga diri dan kebutuhan mencari identitas, yaitu Erat kaitannya dengan kebutuhan untuk memperlihatkan kemampuan dan memperoleh kasih sayang, ialah kebutuhan untuk menunjukkan eksistensi di dunia. Kebutuhan akan nilai, kedambaan, dan makna kehidupan yaitu dalam menghadapi kehidupan, manusia membutuhkan nilai-nilai untuk menuntunnya dalam mengambil keputusan atau memberkan makna pada kehidupannya. Termasuk ke dalam ini adalah motif- motif . Kebutuhan akan pemenuhan diri yaitu kebutuhan akan pemenuhan diri dilakukan melalui melalui berbagai bentuk. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa motivasi untuk mencari hiburan akan menjadi dalih untuk menikmati pelecehan seksual. Sesuai dengan yang disampaikan Nurudin . , bahwa motivasi seseorang juga akan ikut menentukan sebuah pesan diterima atau Sedangkan faktor situasional yang mempengaruhi manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: . Ekologi, yaitu keadaan alam mempengaruhi gaya hidup dan . Temporal, yaitu satu pesan komunikasi yang disampaikan di pagi hari, akan berbeda maknanya bila disampaikan pada tengah malam. Jadi, yang mempengaruhi manusia 230 | P a g e Hasanah. eScience Humanity Journal4 . May 2024 bukan saja di mana mereka berada tetapi juga bilamana mereka berada. Suasana Perilaku (Behaviour Setting. yaitu, pada setiap suasana terdapat pola-pola hubungan yang mengatur perilaku orang-orang di dalamnya. Teknologi yaitu revolusi teknologi sering disusul dengan revolusi dalam perilaku sosial. Dalam ilmu komunikasi. Faktor-faktor Sosial yaitu sistem peranan yang ditetapkan dalam suatu masyarakat, struktur kelompok dan organisasi, karakteristik populasi, adalah factor- faktor sosial yang menata perilaku . Lingkungan psikososial yaitu, persepsi tentang sejauh mana lingkungan memuaskan atau mengecewakan kita, akan mempengaruhi perilak kita dalam lingkungan . Stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku yaitu situasi yang permisif memungkinkan orang melakukan banyak hal tanpa harus merasa malu. Sebaliknya, situasi restriktif menghabat orang untuk berperilaku sekehendak hatinya. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi mencari hiburan dapat menjadi dalih untuk menikmati media massa, dan motivasi tersebut mempengaruhi bagaimana pesan disampaikan dan diterima. Faktor situasional, seperti ekologi, temporal, suasana perilaku, teknologi, ocial ocial, lingkungan psikososial, dan stimuli, juga turut memengaruhi perilaku Stimuli pornografi melalui media ocial, baik disengaja maupun tidak, dapat mempengaruhi minat untuk mengkonsumsi tayangan pornografi dan melakukan praktik Pengguna TikTok menunjukkan berbagai gaya komunikasi yang mencerminkan pandangan dan emosi mereka terhadap kasus pelecehan seksual. Gaya komunikasi ini mencakup pendekatan emosional, edukatif, humoris, hingga konfrontatif. TikTok memungkinkan penggunaan berbagai elemen multimedia seperti teks, musik, efek suara, dan visual yang membantu memperkuat pesan. Pengguna sering memanfaatkan musik yang relevan, meme, dan tren video untuk menyampaikan pesan mereka dengan cara yang menarik dan mudah diingat. Ekspresi visual, seperti penggunaan gestur dan mimik wajah, memainkan peran penting dalam menyampaikan emosi dan intensitas pesan. Tanggapan terhadap pelaku dan korban sangat bervariasi. Beberapa pengguna menekankan pentingnya mendukung korban tanpa syarat, sementara yang lain menggarisbawahi pentingnya bukti dan proses hukum yang adil. Hasil kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi mencari hiburan dapat menjadi dalih untuk menikmati media massa, dan motivasi tersebut mempengaruhi bagaimana pesan disampaikan dan diterima. Faktor situasional, seperti ekologi, temporal, suasana perilaku, teknologi, social, lingkungan psikososial, dan stimuli, juga turut memengaruhi perilaku manusia. Stimuli pornografi melalui media social, baik disengaja maupun tidak, dapat mempengaruhi minat untuk mengkonsumsi tayangan pornografi dan melakukan praktik seksual. Teori perilaku manusia atau behavioristik menjelaskan bahwa tingkah laku manusia dipelajari melalui rangsangan dan respons, dengan asumsi bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan dan dapat diprediksi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai ocial-faktor ini dapat memberikan wawasan dalam konteks dampak media ocial terhadap perilaku dan pandangan seksual. REFERENSI