Misterius: Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual Volume 2. Nomor 2. Juni 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/misterius. Available Online at: https://journal. id/index. php/Misterius Studi Komunikasi Interpersonal dalam Film Penyalin Cahaya : Dinamika Trauma. Relasi Kuasa. Kepercayaan, dan Pengungkapan Kebenaran Amanda Yonnie Citagami1. Assyafa Rania Putri2*. Destya Maharani3. Reginna Quena4. Arsih Amalia Chandra Permata5. Wiyata6 Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia Korespondensi Penulis: assyafarania@student. Abstract : The study aims to analyze interpersonal communication in the film Photocopier, focusing on trauma, power relations, trust, and the process of truth revelation. The film reflects a social phenomenon of sexual violence and abuse of power in a university environment. And how the protagonist copes with conflict and social pressure through interpersonal communication. This research uses a qualitative phenomenological approach and content The findings show that interpersonal communication in the film potrays the individual struggle against power dynamics, the search of support, and the articulation of truth. This study is relevant as a reflection of communication dynamics within cultural and social insitituations. In addition, this study also reflects how a sense of safety, and trust are essential factors in the tourism industry, particualry in shaping the image of destinasions that are inclusive and welcoming to all individuals Keywords: Interpersonal Communication. Trauma. Power. Trust. Photocopier Film Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi interpersonal yang tergambar dalam film Penyalin Cahaya (Photocopie. , dengan fokus pada dinamika trauma, relasi kuasa, kepercayaan, dan progress pengungkapan kebenaran. Film ini mengangkat isu kekerasan seksual, penyalahgunaan kekukasan, serta perjuangan tokoh utama dalam mencari keadilan di tengah lingkungan sosial yang menekan. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan metode studi fenomenologis dan analisis isi. Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal dalam film ini merepresentasikan perjuangan individu dalam menghadapi relasi kuasa, pencarian dukungan, dan penyampaian kebenaran. Studi ini relevan sebagai cerminan dinamika komunikasi dalam konteks budaya dan institusi sosial. Selain itu, kajian ini juga merefleksikan bagaimana rasa aman dan kepercayaan menjadi faktor penting dalam dunia pariwisata, khususnya dalam membangunj citra destinasi yang inklusif dan ramah terhadap semua individu. Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal. Trauma. Kekuasaan. Kepercayaan. Film Penyalin Cahaya PENDAHULUAN Komunikasi interpersonal merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan bermakna. Dalam berbagai konteks kehidupan, termasuk pendidikan, keluarga, organisasi, hingga pariwisata. Komunikasi yang terbuka, empatik, dan jujur menjadi penentu kualitas interaksi antarindividu. Terutama dalam dunia pariwisata, komunikasi interpersonal memainkan peran vital dalam menciptakan pengalaman yang menyenangkan, memperkuat rasa aman, serta membangun kepercayaan antarwisatawan, pelaku industri, dan masyarakat lokal. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana komunikasi interpersonal bekerja dalam situasi sosial yang kompleks, termasuk ketika dihadapkan pada trauma, ketimpangan kuasa, atau ketidakadilan. Film Penyalin Cahaya (Photocopie. karya Wregas Bhanuteja yang dirilis pada tahun Film ini meraih pegakuan luas, termasuk 12 piala citra pada Festival Film Indonesia. Received Mei 06, 2025. Revised Mei 19, 2025. Accepted Juni 07, 2025. Published Juni 11, 2025 Studi Komunikasi Interpersonal dalam Film Penyalin Cahaya : Dinamika Trauma. Relasi Kuasa. Kepercayaan, dan Pengungkapan Kebenaran Menceritakan tentang seorang mahasiswi bernama Sur yang kehilangan beasiswanya setelah fotonya dalam kondisi mabuk tersebar di media sosial. Ia kemudian menyelidiki kejadian sebenarnya dan mengungkap bahwa dirinya menjadi korban kekerasan seksual. Dengan latar utama di sebuah universitas modern di Jakarta yang merepresentasikan kehidupan kampus masa kini. Lokasinya mencakup area seperti tempat fotokopi, gedung teater, asrama, dan lingkungan sekitar kampus. Ceritanya berlangsung di era saat ini, sekitar tahun 2020-an, dengan konteks sosial yang relevan, terutama soal kekuasaan, kekerasan seksual, dan dinamika organisasi mahasiswa. Film ini tidak hanya menggambarkan perjuangan individu dalam melawan sistem tidak adil, tetapi juga memperlihatkan bagaimana komunikasi interpersonal antara korban, teman, pelaku, dan otoritas dalam berperan membentuk narasi kebenaran dan Latar belakang cerita yang kuat dan isu sosial yang diangkat menjadikan Penyalin Cahaya sebagai objek kajian yang relevan dalam studi komunikasi. Meskipun berlatar di lingkungan akademik, narasi dan konflik dalam Penyalin Cahaya juga mereflesikan dinamika sosial yang relevan dalam konteks kepariwisataan. Destinasi wisata, sebagai ruang publik yang melibatkan banyak interaksi antarindividu, juga menghadapi tantangan serupa dalam menjamin rasa aman dan kepercayaan. Ketika komunikasi interpersonal terganggu oleh dominasi kekuasaan atau ketimpangan sosial, maka bukan hanya hubungan personal yang terdampak, tetapi juga reputasi destinasi wisata itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai seperti empati, kepercayaan, dan dukungan sosial dapat diperkuat melalui komunikasi interpersonal yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi interpersonal yang terjadi dalam film Penyalin Cahaya, khususnya dalam konteks dinamika trauma psikologis pada dewasa awal. Komunikasi interpersonal merupakan proses pertukaran pesan antara dua individu atau lebih yang berlangsung secara langsung dan berpengaruh kuat terhadap pembentukan serta pemeliharaan hubungan sosial (DeVito, 2. Studi ini penting mengingat kompleksitas trauma psikologis yang dialami oleh tokoh dewasa awal dalam film tersebut, yang mencerminkan fenomena nyata di masyarakat. Dalam konteks psikologi, trauma psikologis dapat memengaruhi mekanisme komunikasi individu, baik dari segi verbal maupun non-verbal (Paskalia Marlina Lumban Batu. Film Penyalin Cahaya karya Wregas Bhanuteja menjadi objek studi yang relevan karena menyajikan representasi realistis mengenai dampak trauma terhadap komunikasi interpersonal di antara para karakternya (Hidayatullah, 2. MISTERIUS - VOLUME 2. NOMOR 2. JUNI 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal. KAJIAN TEORITIS Definisi Komunikasi Interpersonal Menurut para ahli: Joseph A. DeVito . Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran pesan dan informasi antara 2 orang atau lebih, dan melibatkan penyampaian, penerimaan, dan pemahaman makna pesan Deddy Mulyana . Komunikasi antarpribadi . nterpersonal communicatio. adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal. Wayne Pace Komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi adalah proses komunikasi antara dua orang atau lebih secara tatap muka. Ini memungkinkan komunikator menyampaikan pesan secara langsung dan komunikan menanggapinya pada saat yang Dinamika Trauma. Relasi Kuasa. Kepercayaan. Pengungkapan Kebenaran Dinamika Trauma Secara etimologis, kata trauma berasal dari bahasa yunani dan diartikan sebagai luka. Pada pertengahan tahun 1600, istilah trauma muncul dalam literature kesehatan yang digunakan menerangkan luka pada tubuh. Selanjutnya istilah trauma digunakan dalam bidang pembedahan dan pengobatan. Relasi Kuasa "Kekuasaan bukan hanya represif, tetapi juga produktif, ia menyebar, mengalir dalam praktik sehari-hari, dan dilegitimasi melalui pengetahuan serta disiplin. " -Michel Foucault. Kepercayaan AuKepercayaan sering didefinisikan sebagai harapan pihak lain dalam melakukan hubungan sosial, di mana di dalamnya tercakup resiko yang berasosiasi dengan harapan itu. Ay -Lewicki dan Bunker. Pengungkapan Kebenaran "Pengungkapan kebenaran adalah proses penyelidikan dan pengumpulan bukti serta kesaksian untuk mengungkap fakta pelanggaran HAM berat, yang bertujuan Studi Komunikasi Interpersonal dalam Film Penyalin Cahaya : Dinamika Trauma. Relasi Kuasa. Kepercayaan, dan Pengungkapan Kebenaran mengungkapkan realitas kejadian dan tanggung jawab lembaga terkait tanpa mengadili individu secara langsung" -Asvi Warman Adam. Menurut DeVito . , komunikasi interpersonal berperan dalam membangun dan mempertahankan relasi sosial dengan memfasilitasi pertukaran informasi, emosi, dan makna. Dalam konteks trauma, komunikasi interpersonal memiliki karakteristik khusus di mana keterbukaan dan empati menjadi aspek penting dalam proses penyembuhan dan pemahaman (Kusumaningrum, 2. Trauma psikologis pada dewasa awal yang terjadi pasca-konflik memicu berbagai dinamika interpersonal yang kompleks, seperti kesulitan membangun kepercayaan dan persepsi keamanan (Paskalia Marlina Lumban Batu, 2010. Setyowati, 2. Hal ini sejalan dengan temuan Hearn . bahwa kekerasan dan trauma berdampak signifikan pada hubungan dan struktur sosial. Studi-studi terkait juga menunjukkan bahwa korban trauma seksual dan kekerasan mengalami dampak kesehatan mental serius yang berimplikasi pada kualitas komunikasi dan interaksi sosial mereka (Rosellini et al. , 2017. Carmody & Carrington, 2000. Verelst et al. Oleh karena itu, pemahaman komunikasi interpersonal dalam konteks trauma sangat penting untuk mendukung proses rehabilitasi sosial dan psikologis. METODE PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi interpersonal dalam film Penyalin Cahaya menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi fenomenologis. Fokus kajian meliputi pemahaman injury, relasi kuasa, kepercayaan, dan pengungkapan kebenaran, serta kaitannya dengan pembangunan destinasi wisata yang inklusif, aman, dan ramah terhadap semua individu. Pendekatan fenomenologis dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pengalaman dan makna komunikasi interpersonal yang tergambar dalam film Metode ini memungkinkan eksplorasi dinamika injury serta relasi kuasa yang dijelaskan oleh Hearn . dalam konteks organisasi kekerasan, serta aspek kepercayaan dan pengungkapan kebenaran yang penting dalam interaksi antar tokoh film. Selain itu, penelitian ini menggunakan analisis isi secara sistematis terhadap elemen naratif, discourse, dan visual yang ada dalam film. Analisis ini bertujuan mengidentifikasi tema-tema utama serta pola komunikasi yang berkaitan dengan isu kepariwisataan, khususnya aspek keamanan dan kepercayaan sebagai fondasi pembangunan pariwisata. Film Penyalin Cahaya dianalisis sebagai representasi dan pembentuk persepsi publik terhadap institusi sosial MISTERIUS - VOLUME 2. NOMOR 2. JUNI 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal. yang aman dan terpercaya, yang dapat diterapkan dalam konteks pengembangan pariwisata. Studi terdahulu menyatakan bahwa injury seksual dan kekerasan berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental dan kepercayaan interpersonal (Rosellini et al. , 2017. Carmody & Carrington, 2000. Verelst et al. , 2. , yang menjadi latar belakang relevansi analisis komunikasi dalam penelitian ini. Dengan menggabungkan studi fenomenologis dan analisis isi, penelitian ini bertujuan mengungkap dampak komunikasi interpersonal dalam film terhadap pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, berorientasi sosial budaya, dan membangun kepercayaan serta keamanan masyarakat sebagai masyarakat wisata. Temuan diharapkan memberikan kontribusi strategis pada pengelolaan destinasi wisata yang inklusif dan berdaya saing. HASIL DAN PEMBAHASAN Komunikasi Interpersonal adalah proses pertukaran pesan antara dua orang atau lebih yang saling memengaruhi satu sama lain. Proses ini mencakup komunikasi verbal . ata-kata yang diucapka. maupun nonverbal . erak tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, dan DeVito . menyebutkan bahwa komunikasi interpersonal efektif melibatkan empati, keterbukaan, dan kemampuan mendengarkan aktif. Dalam film Penyalin Cahaya, komunikasi interpersonal digunakan untuk menampilkan konflik batin, trauma, solidaritas, hingga upaya pembongkaran kebenaran oleh tokohtokohnya. Sur, yang menjadi korban penyebaran foto tidak senonoh setelah mengalami pelecehan seksual, berhadapan dengan lingkungan yang tidak mendapat ruang untuk membela Dalam komunikasi interpersonal menurut Joseph DeVito . , hubungan antarpersonal yang efektif ditandai dengan empati, keterbukaan, dan saling mendukung. Dalam film ini, tercemin melalui hubungan Sur dengan Amin dan beberapa teman yang percaya padanya. Mereka menciptakan komunikasi horizontal yang memungkinkan Sur untuk mengungkapkan rasa takut, kecewa, dan rencananya dalam mencari keadilan. Ini menjadi bentuk komunikasi yang sehat dan produktif. Dari kacamata industri pariwisata, komunikasi seperti ini dibutuhkan. Destinasi wisata bukan hanya soal pemandangan, tetapi juga interaksi sosial. Ketika komunikasi antara pelaku wisata dan wisatawan didasarkan pada saling percaya dan rasa aman, maka kualitas pengalaman wisata meningkat. Sebaliknya, komunikasi yang tidak transparan atau represif akan merusak citra destinasi. Dalam dunia nyata misalnya, wisatawan mengalami pelecehan atau pemerasan akan cepat menyebarkan pengalaman negatif melalui media sosial. Hal ini dapat menghancurkan reputasi suatu destinasi. Oleh karena itu, pelaku wisata perlu memiliki Studi Komunikasi Interpersonal dalam Film Penyalin Cahaya : Dinamika Trauma. Relasi Kuasa. Kepercayaan, dan Pengungkapan Kebenaran kapasitas komunikasi interpersonal yang kuat yaitu mampu mendengarkan keluhan wisatawan, merespons dengan empati, dan membangun komunikasi yang membina kepercayaan. Selain itu, prinsip komunikasi yang digambarkan dalam film juga menyiratkan bahwa institusi sosial harus membangun sistem pelaporan dan resolusi konflik yang ramah dan tidak menyudutkan korban yang tentunya dapat diaplikasikan dalam sistem pariwisata. Ini sama halnya dengan pentingnya sistem perlindungan dalam kampus atau lembaga sosial lain yang digambarkan gagal total dalam film. Penting juga untuk memahami bahwa komunikasi interpersonal tidak hanya terjadi antara individu, tetapi juga antara institusi . eperti dinas pariwisata atau pengelola objek wisat. dan komunikasi lokal. Komunikasi dua arah yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan destinasi bisa membentuk lingkungan yang aman dan iklusif, yang merupakan kunci dari keberlanjutan pariwisata. Komunikasi interpersonal merupakan proses pertukaran pesan antara dua orang atau lebih yang saling memengaruhi satu sama lain, mencakup komunikasi verbal seperti kata-kata yang diucapkan, serta komunikasi nonverbal seperti gerak tubuh, ekspresi wajah, dan intonasi suara (DeVito, 2. Komunikasi efektif dalam ranah interpersonal ditandai dengan empati, keterbukaan, dan kemampuan mendengar secara aktif. Dalam Penyalin Cahaya, menggambarkan konflik batin dan trauma psikologis tokoh-tokohnya, terutama Sur yang menjadi korban pelecehan seksual dan penyebaran foto tidak senonoh. Sur menghadapi lingkungan yang kurang memberikan ruang pembelaan diri, sehingga hubungan interpersonal yang sehat dengan Amin dan beberapa teman menjadi sangat krusial. Menurut DeVito . Sur mengekspresikan ketakutan, kekecewaan, dan rencananya dalam mencari keadilan, menunjukkan bagaimana empati dan keterbukaan berkontribusi pada komunikasi yang Dari perspektif industri pariwisata, komunikasi interpersonal yang efektif juga sangat Destinasi wisata bukan sekadar atraksi visual, melainkan juga interaksi sosial di Komunikasi yang didasari saling percaya dan rasa aman akan meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan. Sebaliknya, komunikasi represif atau tidak transparan berpotensi merusak citra destinasi, terutama karena ulasan negatif dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial. Oleh karena itu, kapasitas komunikasi interpersonal pelaku wisata harus mencakup kemampuan untuk mendengarkan keluhan wisatawan dengan empati dan membangun saling percaya. MISTERIUS - VOLUME 2. NOMOR 2. JUNI 2025 e-ISSN: 3032-1654. p-ISSN: 3032-2057. Hal. Selain itu, prinsip komunikasi yang digambarkan dalam film ini menyiratkan pentingnya institusi sosial dalam membangun sistem pelaporan dan resolusi konflik yang ramah dan tidak menyudutkan korban. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kegagalan institusional dalam perlindungan korban dapat memperburuk dampak psikologis trauma (Rosellini et al. , 2017. Verelst et al. , 2. Aplikasi prinsip ini dalam konteks pariwisata dapat menghasilkan lingkungan yang aman dan inklusif, kunci dalam pengembangan destinasi yang berkelanjutan. Komunikasi dua arah yang melibatkan partisipasi masyarakat dan institusi terkait menjadi sangat esensial dalam menciptakan kondisi tersebut. KESIMPULAN Komunikasi interpersonal di era digital menghadapi tantangan kompleks serta peluang yang besar. Perubahan lanskap komunikasi manusia akibat kemajuan teknologi informasi seperti internet dan media sosial menimbulkan irisan baru dalam dinamika hubungan sosial. Meski media digital memberi kemudahan komunikasi lintas budaya, keterlibatan emosional yang minim dan gangguan digital menjadi hambatan utama dalam interaksi interpersonal (Hassoun et al. , 2. Namun, terdapat potensi besar dalam memanfaatkan kreativitas berbahasa dan elemen nonverbal untuk menguatkan komunikasi. Pendekatan komunikasi yang menempatkan lebih banyak perhatian pada keterlibatan emosional, pengembangan keterampilan verbal, dan manajemen gangguan teknologi perlu diimplementasikan agar komunikasi interpersonal tetap Dalam konteks ini, pendidikan khusus dapat membantu meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal yang adaptif terhadap perkembangan digital. Selain itu, perubahan budaya organisasi yang mendukung keseimbangan teknologi dan aspek emosional perlu dicanangkan. Contohnya adalah penerapan waktu komunikasi bebas gangguan teknologi yang dapat memperkuat hubungan antarindividu (Casey, 2. Kesadaran digital terhadap batasan penggunaan media dan pentingnya nuansa emosional harus ditingkatkan agar interaksi tetap bermakna (Areia et al. , 2. Selanjutnya, kolaborasi antarbudaya melalui program pertukaran kultural dapat memperkaya pemahaman dan penghargaan akan keberagaman. Kesadaran digital di masyarakat harus dibangun untuk memahami dampak penggunaan teknologi terhadap komunikasi interpersonal dan pengelolaan emosional yang efektif, seperti penggunaan ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intonasi suara di komunikasi digital (BCaszczak, 2024. Zhang et al. Dengan demikian, komunikasi interpersonal dapat tetap relevan dan berdaya guna Studi Komunikasi Interpersonal dalam Film Penyalin Cahaya : Dinamika Trauma. Relasi Kuasa. Kepercayaan, dan Pengungkapan Kebenaran dalam menghadapi tantangan era digital melalui pendidikan, perubahan budaya, kolaborasi budaya, kesadaran digital, serta peningkatan keterlibatan emosional secara aktif. SARAN Berikut sejumlah saran dari studi yang ini yaitu: . Perlu pelatihan komunikasi interpersonal dalam konteks trauma dalam bidang pendidikan maupun industri kreatif, untuk memahami dinamika trauma dan dampaknya terhadap komunikasi interpersonal. Pelatihan yang fokus pada empati, sensitivitas terhadap korban trauma, serta kemampuan mengelola relasi kuasa dalam komunikasi akan membantu menciptakan interaksi yang suportif dan memperkuat kepercayaan antarindividu. Kedua, komunikasi dalam situasi relasi kuasa yang timpang perlu dikelola dengan pendekatan yang mengedepankan dialog terbuka dan penghormatan atas martabat individu. Institusi yang terkait, termasuk yang digambarkan dalam film, perlu mengembangkan mekanisme komunikasi yang transparan dan tidak memihak agar pengungkapan kebenaran dapat berlangsung optimal tanpa menimbulkan intimidasi atau Ketiga, saran selanjutnya adalah perlunya menata sistem komunikasi yang mempermudah korban trauma atau pihak lain untuk mengungkapkan kebenaran secara aman dan inklusif. Pendekatan ini penting agar proses pemulihan psikologis dapat didukung secara sosial dan institusional, serta mencegah retraumatisasi yang mungkin terjadi akibat penolakan atau stigma. Keempat, film seperti Penyalin Cahaya berpotensi dijadikan media edukasi untuk memperluas pemahaman masyarakat umum dan profesional terkait isu trauma, relasi kuasa, dan kepercayaan dalam komunikasi interpersonal. Disarankan untuk mendorong kolaborasi antara pembuat film, akademisi, dan praktisi komunikasi dalam mengembangkan materi pelajaran atau kampanye sosial yang berbasis pada representasi film. Kelima, penelitian Lanjutan Multidisipliner dan Kontekstual. Untuk memperdalam kajian tentang komunikasi interpersonal dalam situasi trauma dan relasi kuasa, direkomendasikan penelitian lanjutan yang menggabungkan kajian psikologi, komunikasi, kajian media, dan sosiologi. Penelitian ini dapat memfokuskan pada konteks lokal dan global sekaligus, guna menghasilkan strategi komunikasi yang efektif dan sensitif terhadap berbagai latar belakang budaya. DAFTAR PUSTAKA