SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 11 No. 1, 2023 P26-34 E-ISSN 2798-8678 Bentuk Pelabelan Nasdrun Pada Pernyataan Politisi PAN dan Nasdem Dalam Artikel Detiknews. Com (Analisis Wacana Konstruktivism. Ian WahyuniA. Alam Fahdil FatoniA. Lisa SetiawatiA Program Studi Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Mulawarman Jln. Ki Hajar Dewantara No. Samarinda, 75243. Indonesia ianwahyuni@fib. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelabelan Nasdrun disampaikan oleh politisi PAN dan Nasdem dalam artikel detikNews. Metode yang digunakan adalah metode kualitatifdeskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi partisipatif pasif dan simak catat, serta menggunakan teknik analisis data agih dan padan untuk mengungkap makna dalam teks. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana konstruktivisme dari Muhammad A. Hikam yang berusaha mengungkap maksud-maksud tersembunyi dari subjek penyampai pesan. Hasil analisis data dan interpretasi data mendeskripisikan bentuk pelabelan Nasdrun dalam artikel detikNews. terdiri dari dua jenis ungkapan, yaitu disfemisme dan eufemisme yang merepresentasikan maksud tersembunyi dari kedua subjek, yakni waketum PAN Viva Yoga Mauladi dan waketum Nasdem Ahmad Ali. Penelitian ini diharapkan dapat memunculkan penelitian serupa yang membahas tentang pelabelan/ labelisasi sebab kajian di bidang ini belum banyak dilakukan. Kata kunci: pelabelan. Nasdrun, analisis wacana konstruktivisme, media daring This study aims to find out how the form of labeling Nasdrun was conveyed by PAN and Nasdem politicians in the detikNews. com article. The method used is a qualitative-descriptive method with passive participatory observation data collection techniques and note-taking, as well as using distribute evently and matching data analysis techniques to reveal the meaning in the text. The theory used in this research is constructivism discourse analysis from Muhammad A. Hikam which seeks to reveal the hidden intentions of the subject of the messenger. The results of data analysis and data interpretation reveal that the form of labeling Nasdrun in the detikNews. com article consists of two types of expressions, namely dysphemism and euphemism which represent the hidden intentions of the two subjects, namely the vice chairman of PAN Viva Yoga Mauladi and vice chairman of Nasdem Ahmad Ali. It is hoped that this research can lead to similar studies that discuss labeling because there have not been many studies in this field. Keywords: labeling. Nasdrun, constructivism discourse analysis, online media Ian Wahyuni (BentukA) Volume 11 No. 1, 2023 PENDAHULUAN Semenjak pemilihan umum kepala daerah di tahun 2017, perpolitikan Indonesia tidak pernah lepas dari politik identitas. Seperti yang terlihat pada tahuntahun sebelumnya, dapat dilihat bahwa gebrakan politik identitas memberikan pengaruh yang luar biasa. Di tahun 2017, pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta yang dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2017 dan 19 April 2017 diwarnai dengan praktik politik identitas. Pihak Anies-Sandi dalam kampanyenya mampu memainkan rol dengan melakukan penggiringan ke isu SARA. Diketahui bahwa lawan politik Anies-Sandi ialah Ahok yang merupakan keturunan etnis Tionghoa. Pihak AniesSandi berafiliasi dengan kelompok-kelompok ataupun ormas Islam guna menumbangkan kiprah Ahok di mata masyarakat Jakarta dengan cara politik Peristiwa ini pun tentu mendapat reaksi dan respons yang beragam, namun yang paling kentara ialah munculnya pelabelan kadrun pada individu ataupun kelompok-kelompok tertentu yang mendukung Anies-Sandi. Istilah kadrun merupakan akronim dari kadal gurun yang identik dengan sifat kearab-araban. Diksi kadrun dikaitkan dengan paham radikal (Zuhairi & Bustomi, 2021: . Pelabelan ini ditujukan kepada seseorang yang berafiliasi dengan kelompok Islam garis keras yang mengancam kedaulatan NKRI. Pelabelan cebong dan kampret secara konteks lebih dahulu muncul daripada Pelabelan tersebut dimunculkan sebagai pesan komunikasi politik dalam usaha menyudutkan kelompok lawan politik. Menurut Tazri . 9: . cebong merupakan Auanak kodokAy yang diasosiasikan sebagai pendukung Jokowi, sebab Jokowi suka memelihara pendukungnya di istana negara layaknya memelihara anak kodok di dalam kolam. Sedangkan kampret merupakan Auanak kelelawarAy yang suka tidur terbalik dan diasosiasikan sebagai golongan oposisi pendukung Prabowo. Selanjutnya, istilah kadrun merupakan akronim dari Aukadal gurunAy. Diksi kadrun dikaitkan dengan paham radikal yang mana ingin mendirikan negara khilafah dan mengancam kedaulatan NKRI. Pelabelan cebong, kampret, dan kadrun sama-sama menyebabkan kontestasi politik dan mengakibatkan polarisasi politik di masyarakat Indonesia. Pelabelan merupakan bentuk pemarginalan yang dilayangkan satu pihak terhadap pihak lain. Menurut Lemert dalam Erianjoni . 5: . labeling adalah penyimpangan yang disebabkan oleh pemberian cap/label dari masyarakat kepada seseorang yang kemudian cenderung akan melanjutkan penyimpangan tersebut. Selanjutnya. Badara . 2: . menyatakan bahwa pelabelan atau labelisasi merupakan penggunaan bahasa yang ofensif kepada individu, kelompok, atau kegiatan agar citranya menjadi buruk. Oleh karena itu, labelisasi dimaknai sebagai pemberian identitas kepada individu ataupun kelompok berdasarkan ciri-ciri yang dianggap minoritas oleh suatu kelompok masyarakat. Pelabelan Nasdrun diduga bentuk respon kolektif terhadap Partai Nasdem dan Anies yang akan bersatu di tahun Sepak terjang politik Anies Baswedan yang sering berafiliasi dengan kelompokkelompok Islam radikal menyebabkan simpatisan Anies turut serta dilabelisasi Karena Partai Nasdem mengusung Anies sebagai bakal calon presiden di tahun 2024 nanti, maka Partai Nasdem dianggap berafiliasi dengan kadrun sehingga muncul istilah Nasdrun yang merupakan akronim dari AuNasdem KadrunAy. Menyambung konteks di atas, ada artikel yang ditulis oleh Firda Cynthia Anggrainy dengan judul PAN Pengap dengan Istilah Nasdrun Usai Pencapresan Anies: Racun! dan dirilis pada tanggal 10 Oktober 2022. Menurut Wikipedia, com adalah sebuah portal web yang berisi berita dan artikel daring di Indonesia. Ian Wahyuni (BentukA) Volume 11 No. 1, 2023 Berbeda dari situs-situs berita berbahasa Indonesia lainnya, detik. com hanya memiliki edisi daring dan menggantungkan pendapatan dari bidang iklan. Sejak tanggal 3 Agustus 2011, detik. com menjadi bagian dari PT Trans Corporation, salah satu anak perusahaan CT Corp. Objek penelitian ini dipilih berdasarkan adanya pernyataan langsung oleh dua subjekAewaketum PAN Viva Yoga Mauladi dan waketum Nasdem Ahmad AliAesehingga memudahkan proses penelitian dalam menganalisis wacana-wacana yang ingin disampaikan oleh kedua subjek tersebut kepada masyarakat . elalui bentuk pelabelan dan penyebaran media mass. Secara konteks sosial, objek ini dipilih karena mendekati pilpres 2024 dan bangkitnya kembali isu politik identitas yang disebabkan salah satu calon yang nantinya akan maju di tahun Fenomena ini sangat menarik sebab mulai naik atau muncul kembali pelabelan/ istilah seperti kadrun, cebong, kampret, dan sebagainya yang telah dahulu muncul di kancah perpolitikan Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis wacana untuk melihat bentuk pelabelan Nasdrun diungkapkan oleh kedua subjek yang berbeda partai politik. Menurut Muhammad A. Hikam dalam Eriyanto . 1:4Ae. terdapat tiga paradigma analisis wacana dalam melihat bahasa. Pandangan Positivisme-Empiris Pandangan ini mementingkan penggunaan bahasa yang benar secara kaidah sintaksis dan semantik. Penganut aliran ini melihat bahasa sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Manusia dapat mengekspresikan pengalamanpengalaman yang dilihatnya melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala sejauh ia dinyatakan dengan pernyataan-pernyataan yang logis, sintaksis, dan berhubungan dengan pengalaman empiris. Dari keterangan ini dapat diketahui bahwa nilai yang mendasari pernyataan . tidak dihiraukan. Pandangan Konstruktivisme Pandangan ini menolak pandangan positivisme-empirisme sebab bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai media untuk memahami realitas objek dan melihat subjek sebagai penyampai pernyataan, melainkan bahasa sebagai media untuk membantu subjek menjalankan maksud-maksud tertentu. Oleh karenanya, paradigma ini berupaya untuk membongkar maksud tersembunyi dari sang subjek. Pandangan Kritis Pandangan ini lahir akibat konstruktivisme yang belum menyelidiki faktorfaktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana. Pandangan kritis menekankan pada kontelasi kekuatan yang terjadi dalam proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa dianggap berperan dalam membentuk subjek-subjek, tema-tema wacana, maupun strategi-strategi guna mendominasi pihak-pihak Oleh sebab itu, analisis wacana kritis digunakan untuk membongkar maksud-maksud tertentu. Di dalam kontestasi politik, ungkapan kasar . dan ungkapan halus . sering dilontarkan para politisi untuk merespons suatu fenomena politik yang dianggap pro atau kontra oleh masyarakat. Menurut Laili . 7: . disfemisme adalah penggunaan kata-kata atau frasa-frasa dan ungkapan kasar yang membuat pendengar merasa terganggu, risih dan tersakiti. Usaha disfemisme ini dilakukan orang dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan (Chaer, 2013: . Selanjutnya, menurut Wijana dan Rohmadi . dalam Laili . 7: . , referensi makian dalam bahasa Indonesia dapat diperoleh dari keadaan fisik. Ian Wahyuni (BentukA) Volume 11 No. 1, 2023 binatang, benda, bagian tubuh, kekerabatan, makhluk halus, aktivitas, profesi dan Sedangkan bentuk makian dalam bahasa Indonesia terdiri atas kata, frasa, dan klausa. Eufemisme sebagai penghalusan bahasa sangat mendominasi dalam dialog-dialog politik dan berita di media massa. Menurut pengertiannya, eufemisme adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang atau ungkapan halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan (Keraf, 2010: . Sejalan dengan pendapat Wijaya dan Rohmadi . dalam Hermaliza . 0: . bahwa eufemisme juga digunakan sebagai alat untuk merahasiakan sesuatu. Penelitian ini menggunakan analisis wacana konstruktivisme dari teori Hikam dalam Eriyanto . 1: . sebab bersinggungan dengan masalah yang dirumuskan, yakni bagaimana bentuk pelabelan Nasdrun disampaikan oleh politisi PAN dan Nasdem dalam artikel detikNews. com bertajuk PAN Pengap dengan Istilah Nasdrun Usai Pencapresan Anies: Racun! Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pelabelan Nasdrun disampaikan oleh politisi PAN dan Nasdem dalam artikel detikNews. com tersebut. Penelitian ini berguna untuk mengamati bentuk pelabelan yang mengakar di masyarakat Indonesia, baik di bidang politik, sosial, dan budaya. Penelitian ini diharapkan dapat memunculkan penelitian-penelitian serupa yang membahas tentang pelabelan/ labelisasi sebab kajian di bidang ini belum banyak METODE Jenis penelitian yang digunakan ialah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Sugiyono . 2: . menjelaskan bahwa penelitian kualitatif bersifat deskriptif, data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar. Data yang digunakan berupa kata, frasa, dan klausa. Sumber data penelitian ini diambil dari artikel detikNews. com yang bertajuk PAN Pengap dengan Istilah Nasdrun Usai Pencapresan Anies: Racun! Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah metode observasi parsitipasi pasif dan simak catat. Peneliti dalam metode observasi partisipasi pasif hanya mengamati data/kegiatan dan metode tersebut perlu dilanjutkan dengan teknik lanjutan simak catat guna mengumpulkan data yang relevan dengan topik yang akan dibahas. Selanjutnya, pada tahap analisis data, penelitian ini menggunakan metode agih dan padan untuk mengungkap makna dalam Menurut Sudaryanto . alat penentu dalam metode agih berupa unsur dari bahasa objek yang diteliti, seperti kata, fungsi sintaksis, klausa, silabel, titinada. Sedangkan, metode padan ekstralingual digunakan untuk meneliti bahasa yang memiliki hubungan dengan hal-hal di luar bahasa, dalam hal ini pelabelan yang merujuk partai politik (Sudaryanto, 2015: . ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis merujuk kepada sejumlah teori yang sudah ditentukan. Penelitian ini menemukan adanya dua bentuk pelabelan Nasdrun, yaitu disfemisme dan eufemisme. Disfemisme dalam Bentuk Pelabelan Nasdrun Berikut ini merupakan hasil analisis bentuk pelabelan yang mengandung disfemisme terhadap Nasdrun. Ian Wahyuni (BentukA) Volume 11 No. 1, 2023 Tabel 1. Data disfemisme dalam Pelabelan Nasdrun No. Bentuk Pelabelan Nasdrun oleh Waketum PAN Viva Yoga Mauladi Pernyataan Klasifikasi Kata. Frasa. Perubahan Makna dan Klausa AuIstilah-istilah cebong. Frasa Disfemisme kampret, kadrun, . Frasa verbal: Nasdrun, dan apa lagi tidak mencerdaskan nantinya, menyebabkan polusi dan udara politik Klausa menjadi pengap, tidak . Klausa Verba: sehat, dan tidak Nasdrun . mencerdaskan kehidupan bangsa,Ay kata Wakil Ketua udara politik menjadi Umum (Waketu. PAN Viva Yoga Mauladi saat . Klausa terikat: Senin . /10/2. kehidupan bangsa Viva menyebut istilah Kata Disfemisme Nasdrun bisa mengotori . Nomina: otak masyarakat. AuIstilah racun, otak tersebut adalah bentuk . Verba: framing media yang destruktif dan menjadi racun yang mengotori otak dan pemikiran masyarakat Indonesia,Ay AuMemilih itu hak asasi. Frasa Disfemisme Dasar pilihan karena . Frasa nominal: kesamaan asali primordial itu . berdasarkan suku, agama, ras, etnis, atau budaya adalah hak politik warga yang dijamin oleh konstitusi. Tetapi jangan memasukkan perbedaan primordial itu untuk alat politik dalam rangka menjelekkan, memfitnah, hate speech dari figur tertentu untuk tujuan meningkatkan elektoral. PAN menentang dan menolak gaya dan cara politik identitas seperti ini,Ay katanya. Pada data 1, dapat simpulkan bahwa istilah Nasdrun merupakan bentuk pelabelan yang sama dengan cebong, kampret, dan kadrun karena sama-sama menyebabkan kontestasi politik dan mengakibatkan polarisasi politik di masyarakat Indonesia. Keresahan Viva Yoga Mauladi dengan istilah-istilah ini diungkapkannya dengan kasar . ditandai dari kata, frasa, dan klausa yang mengandung ejekan atau tidak hormat kepada sesuatu hal yang dituju, seperti dalam kalimat Ian Wahyuni (BentukA) Volume 11 No. 1, 2023 AuNasdrun . menyebabkan polusi dan udara politik menjadi pengap, tidak sehat, dan tidak mencerdaskan kehidupan bangsaAy. Ditemukan adanya klausa AuNasdrun . menyebabkan polusiAy. Auudara politik menjadi pengap, dan Autidak mencerdaskan kehidupan bangsaAy. Ketiga klausa tersebut merepresentasikan ketidakhormatan Viva terhadap Nasdrun. Pada data 2, dapat dilihat bahwa terdapat tuduhan dan praktik penggunaan organ manusia sebagai bentuk ungkapan kasar kepada Nasdrun. Pertama, pada klausa AuIstilah tersebut adalah bentuk framing media yang destruktifAy, terdapat tuduhan bahwasanya media melakukan framing atau AopembingkaianAo terhadap Nasdrun. Pembingkaian tersebut digunakan media untuk menggiring opini mengenai isu politik identitas dan dapat berdampak destruktif jika masyarakat Indonesia terpecah menjadi beberapa golongan karena adanya perbedaan pandangan politik. Kedua, pada kalimat AuIstilah tersebut . menjadi racun yang mengotori otak dan pemikiran masyarakat Indonesia,Ay, terdapat penggunaan kata racun dan organ manusia otak dalam frasa Aumengotori otakAy. Kata otak merupakan kata yang tabu digunakan sebab otak diasosiasikan dengan akal manusia yang istimewa, berkaitan dengan harga diri. Oleh sebab itu, penggunaan kata dan frasa tersebut sangat sensitif dan dapat menyakiti pihak tertentu. Viva melontarkan pernyataan tersebut karena kejengkelannya terhadap oknum penyebar istilah Nasdrun. Hal ini dikarenakan oknum-oknum tersebut dapat mengakibatkan perpecahan antarsesama suku, kelompok, golongan, dan agama. Pada data 3, terdapat klausa AuTetapi jangan memasukkan perbedaan primordial itu untuk alat politikAy yang merepresentasikan adanya julukan kepada Nasdrun dengan frasa nominal primordial itu. Primordial diketahui memiliki pengertian pandangan terhadap ras, suku, agama, dan sebagainya yang melekat dalam diri individu. Julukan itu diberikan sebab Nasdrun memiliki pandangan menggunakan cara politik identitas untuk menjatuhkan dan memfitnah lawannya. Hal ini tentu tidak sesuai dengan pandangan masyarakat Indonesia yang Oleh sebab itu, adanya pronomina demonstrativa itu turut menyebabkan kata primordial menjadi ungkapan kasar. Eufemisme dalam Bentuk Pelabelan Nasdrun Berikut ini merupakan hasil analisis bentuk pelabelan yang mengandung eufemisme terhadap Nasdrun. Tabel 2. Data eufemisme dalam Pelabelan Nasdrun No. Bentuk Pelabelan Nasdrun Waketum Nasdem Ahmad Ali Pernyataan Klasifikasi Kata. Frasa. Perubahan Makna dan Klausa Ungkapan AuPartai baru, baru Kata Eufemisme mendaftar kali. NasDem . Verba: kan namanya Nasional Demokrat, kok Nasdrun Klausa: Nggak kenal saya. Itu . Klausa verbal intransitif: partai baru itu. (Soal nggak kenal saya Nasdrun dikaitkan dengan logo NasDe. Ya itu mungkin dianggap NasDem mau berkoalisi dengan Nasdrun,Ay kata Ali saat dihubungi. Minggu . /10/2. Ian Wahyuni (BentukA) AuKalau kemudian kita mencalonkan Anies terus dipersonifikasi kita sebagai kadrun kek, cebong kek, kampret kek, itu yang dasarnya orang tidak senang ya tidak senang aja kan. Jadi bagi saya sebagai wakil ketua umum partai menganggap bahwa yang mereka sebut Nasdrun itu bukan NasDem karena nama partai kami NasDem bukan Nasdrun. Yang pasti NasDem tidak pernah berencana koalisi dengan Nasdrun,Ay AuBukan serangan, luculucuan aja itu. Ngapain saya memusingkan hal itu. Kalau kita memusingkan itu kita menari di atas panggung orang itu,Ay kata Volume 11 No. 1, 2023 Kata . Verba: Eufemisme Frasa . Frasa verbal: menari di atas panggung Pada data 1, dapat dilihat bahwa Waketum Nasdem Ahmad Ali berusaha menyembunyikan identitas Nasdrun dengan menggunakan ungkapan yang lebih halus . dan sopan. Subjek melakukan penyangkalan secara halus terhadap Nasdrun, sebab menurutnya yang ada hanyalah identitas Nasdem, yakni Partai Nasional Demokrat. Lebih lanjut pada kalimat AuNggak kenal saya. Itu partai baru Ay, memperjelas bahwa ada hal yang ingin disembunyikan, yakni eksistensi Nasdrun. Klausa AuNggak kenal sayaAy menunjukkan bahwa Ali sama sekali tidak mengetahui adanya eksistensi Nasdrun. Ali bahkan memberikan keterangan tambahan dalam klausa AuItu partai baru ituAy yang menyatakan Nasdrun adalah partai Selanjutnya, verba berkoalisi pada kalimat AuYa itu mungkin dianggap NasDem mau berkoalisi dengan Nasdrun,Ay memberikan efek makna yang lebih sopan daripada verba berafiliasi ataupun bersekutu. Pada data 2, ditemukan bahwa ada bentuk penghalusan makna Nasdrun dengan ditandai verba dipersonifikasi yang ditemukan pada kalimat AuKalau kemudian kita mencalonkan Anies terus dipersonifikasi kita sebagai kadrun kek, cebong kek, kampret kek, itu yang dasarnya orang tidak senang ya tidak senang aja kan. Ay. Penggunaan verba dipersonifikasi pada kalimat itu menjelaskan bahwa jika Nasdem mengusung Anies sebagai calon presiden tahun 2024, maka akan dilabeli sebagai kadrun, cebong, atau kampret. Oleh sebab itu, ada pengalihan makna yang dilakukan oleh subjek dengan menghindari verba dilabeli dan memilih verba dipersonifikasi agar tidak menyinggung suatu kelompok tertentu. Selanjutnya, ditemukan kembali praktik penyangkalan oleh Ali bahwa Nasdem itu bukan Nasdrun. Hal ini digunakan untuk menyembunyikan identitas Nasdrun. Pada kalimat AuJadi bagi saya sebagai wakil ketua umum partai menganggap bahwa yang mereka sebut Nasdrun itu bukan NasDem karena nama partai kami NasDem bukan Nasdrun. Ay, terdapat verba menganggap sebagai tanda ungkapan yang lebih halus dibandingkan penggunaan Ian Wahyuni (BentukA) Volume 11 No. 1, 2023 verba lain, seperti menduga, menuding, dan mencurigai. Walaupun setelah verba menganggap terdapat penyangkalan, yakni dalam frasa nominal AuNasdrun itu bukan NasdemAy dan AuNasdem bukan NasdrunAy, namun penyangkalan tersebut tidak merepresentasikan ungkapan kasar melainkan untuk memperjelas maksud dari subjek bahwa Nasdrun bukanlah bagian dari Nasdem. Pada data 3, terdapat frasa Aumenari di atas panggung orangAy yang berbentuk ungkapan figuratif. Ungkapan itu bermakna ikut serta dalam kepentingan orang lain untuk mendapat eksistensi diri. Pada kalimat AuNgapain saya memusingkan hal itu. Kalau kita memusingkan itu kita menari di atas panggung orang ituAy terlihat jelas bahwa maksud dari frasa Aumenari di atas panggung orangAy yang diungkapkan Ahmad Ali untuk menegaskan dirinya tidak ingin mencampuri urusan orang atau kelompok lain yang berusaha menggiring opini tentang Nasdrun. Ahmad Ali pun mengimbau kepada masyarakat agar tidak peduli dengan munculnya istilah Nasdrun. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data terkait pelabelan Nasdrun dalam artikel detikNews. com, dapat disimpulkan bahwa dalam bentuk pelabelan Nasdrun ditemukan dua jenis ungkapan, yaitu disfemisme dan eufemisme. Kedua subjek, yakni waketum PAN Viva Yoga Mauladi dan waketum Nasdem Ahmad Ali memiliki bentuk pengungkapan yang berbeda dalam pernyataannya terhadap pelabelan Nasdrun. Hal ini dikarenakan kedua subjek tersebut berasal dari dua partai yang berbeda. Dari hasil analisis data, waketum PAN Viva Yoga Mauladi cenderung memberikan ungkapan disfemisme terhadap Nasdrun, sedangkan waketum Nasdem Ahmad Ali memiliki kecenderungan mengungkapkan eufemisme saat menyatakan pelabelan Nasdrun. Selanjutnya, pada penelitian ini, ditemukan disfemisme yang mengandung unsur: . ejekan atau tidak hormat. istilah tabu atau organ manusia. Dari ungkapan-ungkapan disfemisme yang dinyatakan waketum PAN Viva Yoga Mauladi, didapatkan wacana bahwasanya Nasdrun: . menyebabkan kontestasi politik. mengakibatkan polarisasi politik . erpecahnya masyarakat Indonesia menjadi kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan pandangan politi. mengakibatkan perpecahan antarsesama suku, kelompok, golongan, dan agama. Melanjutkan hasil penjabaran analisis data, ditemukan juga eufemisme yang mengandung unsur: . penyangkalan secara halus dengan penggunaan verba yang berterima dengan asas kesopanan, seperti pemilihan verba berkoalisi daripada bersekutu dan pemilihan verba dipersonifikasi daripada dilabeli. Dari ungkapanungkapan yang dinyatakan waketum Nasdem Ahmad Ali, didapatkan wacana: . penyembunyian identitas dan eksistensi Nasdrun. praktik penyangkalan Nasdem itu bukan Nasdrun dan Nasdrun bukan bagian dari Nasdem. penghimbauan kepada masyarakat agar tidak peduli dengan munculnya Nasdrun. DAFTAR RUJUKAN Anggrainy. Oktober 2. PAN Pengap dengan Istilah Nasdrun Usai Pencapresan Anies: Racun! Diakses dari news. https://news. com/pemilu/d-6339207/pan-pengap-dengan-istilah-nasdrunusai-pencapresan-anies-racun Badara. Analisis Wacana: Teori. Metode, dan Penerapannya pada Analisis Wacana. Jakarta: Penerbit Kencana. Chaer. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. Erianjoni. Pelabelan Orang Minangkabau pada Pelaku Penyimpangan Sosial: Studi Kasus pada Dua Nagari di Sumatera Barat. Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Humaniora, 14. , 31-39. Ian Wahyuni (BentukA) Volume 11 No. 1, 2023 Eriyanto. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS. Hermaliza, & S. Politisasi Bahasa Melalui Eufemisme dalam Program Berita di Televisi. Geram (Gerakan Aktif Menuli. , 8. , 37-47. Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Laili. Disfemisme dalam Perspektif Semantik. Sosiolinguistik, dan Analisis Wacana. Lingua, 12. , 110-118. Sudaryanto. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta. Tazri. Cebong dan Kampret dalam Perspektif Komunikasi Politik Indonesia. Perspektif Komunikasi: Jurnal Ilmu Komunikasi Politik dan Komunikasi Bisnis, 3. , 1-7. Wikipedia. com - Wikipedia Bahasa Indonesia. Ensiklopedia Bebas. Dipetik dari id. org: https://id. org/wiki/Detik. Zuhairi, & Bustomi. Aktualisasi Nilai-Nilai Moderasi dalam Pandangan Islam. Tapis: Jurnal Penelitian Ilmiah, 5. , 158-165.