Jurnal Sains dan Kesehatan . Vol. No. 1 Mei . 1-7 ) e-ISSN 2961Oe8150 Implementasi Klasifikasi Tipe Dasar Telekesehatan pada Rumah Sakit SyiAoar Aprilla Tanazza 1*. Ni Putu Desy Purnama Sari 2. Bayu Prastowo3 1,2,3 Department of Physiotherapy. Universitas Muhammadiyah Malang. Indonesia ARTICLE INFORMATION A B S T R A C T Received: 6 September 2023 Revised: 18 Mei 2024 Accepted: 30 Mei 2024 DOI: 10. 57151/jsika. Pelayanan fasilitas kesehatan jarak jauh di Indonesia diatur dalam kebijakan pemerintah dan asosiasi kesehatan. Pelayanan tersebut diartikan sebagai telemedisin guna memfasilitasi sistem informasi, komunikasi dan klinis bagi kesehatan individu ataupun kelompok. Penerapan sistem telekesehatan tertuang di dalam peraturan menteri kesehatan nomor 20 tahun 2019. Kesiapan kebijakan tersebut memberikan nilai positif dilingkungan rumah sakit untuk memaksimalkan dalam memberikan pelayanan. Namun, apakah dukungan pemerintah tersebut berkaitan dengan implementasi sistem telekesehatan dilingkungan rumah sakit. Penelitian ini tidak menganalisis sistem telekesehatan secara kompleks melainkan dasar telekesehatan mengikuti standar protokol Indian Medical Council. Dasar standar protokol telekesehatan berupa karateristik tekstual dikonversikan menjadi nilai angka dengan memodifikasi skala Penilaian berdasarkan observasi kesesuaian standar dengan media telekesehatan yang digunakan di setiap rumah sakit. Rumah sakit yang menjadi sampel penelitian yaitu yang terdaftar dalam data set komisi akreditasi rumah sakit. Nilai kesesuaian tersebut dianalisis menggunakan partial least square. Pengolahan data menunjukkan bahwa nilai average variance extracted, reabilitas komposit dan cronbachAos alpha berada direntang 0. 8 hingga 1. nilai korelasi antar indikator Ou0. 06 serta nilai R2 sebesar 1. Nilainilai tersebut menyatakan bahwa karakteristik dasar telekesehatan yang digunakan sebagai indikator memiliki validitas diskriminan, realinitas dan reabilitas yang tinggi dalam penyusunan hipotesis. Indikator tersebut memiliki keterkaitan yang positif terhadap konstruknya dan membentuk model struktural yang kuat. KEYWORDS Telekesehatan. e-kesehatan. pattial least skala likert Telehealth. e-health. partial least likert scale CORRESPONDING AUTHOR Nama : SyiAoar Aprilla Tanazza Address: Malang. Indonesia E-mail : syiarat104@gmail. Remote health facility services in Indonesia are regulated by government and health association policies. The service is defined as telemedicine to facilitate information, communication and clinical systems for individual or group health. The implementation of the telehealth system is contained in the Minister of Health Regulation number 20 of 2019. The readiness of this policy provides a positive value in the hospital environment to maximize service delivery. However, is this government support related to the implementation of the telehealth system in the hospital environment? This study does not analyze the telehealth system in a complex manner, but the basis of telehealth following standard protocols of the Indian Medical Council. The standard basis for telehealth protocols in the form of textual characteristics is converted into numerical values by modifying the Likert scale. The assessment is based on observing the conformity of the standards with the telehealth media used in each hospital. The hospitals that are the research sample are those listed in the hospital accreditation commission data set. The suitability value is analyzed using a partial least square. Data processing shows that the average variance extracted, composite reliability and Cronbach's alpha values are in the range of 0. 8 to 1. 0, the correlation value between indicators is Ou0. 06 and the R2 value is 1. These values indicate that the basic characteristics of telehealth used as indicators have discriminant validity, high reliability and reliability in the formulation of hypotheses. These indicators have a positive relationship to the construct and form a strong structural model. PENDAHULUAN Pemikiran konsep pelayanan kesehatan face to face menjadi healing at a distance telah dikemukakan pada tahun 1970-an (ACI, 2. Konsep healing at a distance merupakan awal perkembangan sistem pelayanan berjarak atau tele. Perkembangan konsep tersebut menciptakan istilah e-kesehatan, telekesehatan dan telemedisin yang memiliki pengertian berbeda-beda (Kuntardjo, 2. Open acces: https://ejournal. id/index. php/jsika Jurnal Sains dan Kesehatan . Vol. No. 1 Mei . 1-7 ) e-ISSN 2961Oe8150 Penerapan konsep pelayanan kesehatan berbasis tele dipengaruhi perkembangan revolusi industri, kebijakan organisasi kesehatan dunia, geografis dan fenomena penyakit dunia (Prawiroharjo et al. Sedangkan saat ini di Indonesia dipengaruhi oleh kebijakan menteri kesehatan yang tertuang dalam PMKRI No. 20 Tahun 2019. Kebijakan tersebut mengatur tentang penyelenggaraan pelayanan telemedisin antar fasilitas pelayanan kesehatan (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2. Menurut organisasi kesehatan dunia telekesehatan berorientasi pada integrasi sistem penunjang kesehatan masyarakat. Integrasi tersebut meliputi sistem layanan kesehatan, promosi kesehatan, penerapan sistem teknologi informasi dan komunikasi. Berbeda dengan konsep telemedisin yang berorientasi pada layanan kuratif dan rehabilitatif pada masyarakat. Sedangkan konsep ekesehatan berorientasi pada penerapan sistem teknologi informasi dan komunikasi baik dilayanan kesehatan berjarak ataupun tatap muka (Kuntardjo, 2. Namun, kebijakan di Indonesia mengeneralisir ketiga konsep tersebut menjadi telemedisin. Pelakasanaan konsep telekesehatan atau Indonesia real time . dan storeandAafordward . Berdasarkan kebijakan di Indonesia sistem pelayanan tele terbagi menjadi lima kategori. (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2. Sedangkan penelitian ini membaginya menjadi empat kategori dasar yaitu sistem komunikasi, sistem informasi, sistem konsultasi, dan sistem interaktif (ACI, 2015. Indian Medical Council, 2. Implementasi konsep telekesehatan dasar merupakan kebutuhan primer di lingkungan rumah Mengingat peningkatan proyeksi penduduk dari tahun ke tahun semakin meningkat. Peningkatan tersebut berbanding lurus dengan banyaknya keluhan kesehatan di masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan bahwa populasi penduduk di Kota Batu mencapai 213. 046 jiwa. Persentasi sebaran polulasi tersebut 55% berada di wilayah Kecamatan Batu dan 45% berada di wilayah Kota Batu yang secara keseluruhan didominasi oleh penduduk laki-laki (BPS, 2. Penduduk tersebut mendapatkan fasilitas kesehatan sebanyak 4 rumah sakit (BPPSDMK, 2021. KARS, 2. Fasilitas kesehatan Kota Batu yang terangkum dalam rencana kerja dinas kesehatan menyatakan bahwa dalam periode 2018 sampai 2023 mendukung pencapaian sustainable development goals (SDG. Pencapaian tersebut berfokus pada peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan melalui pendekatan promotif dan preventif tanpa mengesampingkan layanan kuratif dan rehabilitatif (DinKes, 2. Pertanyaan selanjutnya yaitu apakah sistem telekesehatan telah diimplementasikan secara optimal. Pertanyaan tersebut seharusnya terjawab dengan gamblang, karena Indonesia merupakan anggota regional Asia Pacific Association for Medical Informatics (APAMI) (Kuntardjo, 2. sub-organisasi dari International Medical Informatics Association (IMIA) (IMIA, 2. Oleh karena itu, hal tersebut selaras dengan tujuan penelitian ini terkait implementasi sistem telekesehatan dasar dilingkungan rumah sakit yang secara spesifik belum pernah dilakukan pada penelitian sebelumnya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan statistik deskriptif untuk mendeskripsikan hasil interpretasi analisis data skunder. Sedangkan analisis data tersebut bertujuan untuk memaparkan keterkaitan antara beberapa variabel secara objektif. Karakteristik subjek penelitian berdasarkan data skunder Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS, 2. dan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK, 2. Penelitian tersebut dilakukan pada rentang tahun 2020 hingga April 2022. Skala pengukuran data skunder memodifikasi skala likert. Skala tersebut merupakan metode pengukuran yang dapat digunakan untuk menginterpretasikan skala karakteristik menjadi angka (Androga et al. , 2. Karakteristik penilaian mengacu pada klasifikasi dasar telekesehatan yang meliputi sistem komunikasi, sistem pelayanan informasi, sistem konsultasi, dan sistem interaktif antar petugas kesehatan dengan pasien ataupun sebaliknya (Indian Medical Council, 2. Interpretasi angka karakteristik tersebut dianalisis menggunakan partial least square (PLS) melalui perangkat lunak SmartPLS 3 (Hamid et al. , 2. Perangkat lunak tersebut bertujuan untuk melakukan fungsi perhitungan pada variabel latent dan prediksi melalui analisis outer model dan inner model (Garson, 2. HASIL & PEMBAHASAN Penelurusan Data Sekunder Data skunder dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS, 2. dan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan menggunakan kata kunci pencarian kabupaten atau kota Batu dan provinsi Jawa Timur pada daftar rumah sakit terakreditasi atau rumah sakit belum Secara keseluruhan diperoleh data pencarian sebanyak 5 Rumah Sakit yang ditunjukkan Jurnal Sains dan Kesehatan . Vol. No. 1 Mei . 1-7 ) e-ISSN 2961Oe8150 Terdapat dua rumah sakit dengan status tingkat paripurna, satu dengan status tingkat utama dan dua dengan status tingkat perdana. Secara detail yaitu RS A dan B memiliki status tingkat paripurna. RS C memiliki status tingkat utama. RS D dan E memiliki status tingkat perdana. Daftar nama rumah sakit yang diperoleh dari data skunder tidak dipublikasikan karena mengikuti etika anonimitas (BPPSDMK, 2021. KARS, 2. Gambar 1. Daftar Rumah Sakit Kabupaten dan Kota Batu Penilaian Data Sekunder Klasifikasi dasar sistem telekesehatan merupakan parameter utama dalam skala pengukuran penelitian (Androga et al. , 2. Klasifikasi dasar berdasarkan rangkuman standar protokol yang telah dipublikasikan (Indian Medical Council, 2. Skala pengukuran meliputi penilaian dari angka 1 sampai 5. Setiap nilai angka tersebut mewakili ketersediaan dan aksesibilitas sistem telekesehatan di rumah sakit. Penilaian diperoleh melalui observasi secara langsung oleh peneliti melalui ketersediaan dan aksesbilitas perangkat lunak atau website oleh seluruh pengguna atau masyarakat umum (ACI. ACRRM, 2. Skema penilaian pada tabel 1 menunjukkan kriteria sistem telekesehatan dan klasifikasi dasar telekesehatan (Indian Medical Council, 2. Sistem Telekesehatan Sistem Komunikasi Sistem Informasi Sistem Konsultasi Sistem Interaktif Tabel 1. Klasifikasi Dasar Sistem Telekesehatan Klasifikasi Dasar Telekesehatan Video meliputi fasilitas telemedis/kesehatan, aplikasi, video chat, skype/face time. Audio meliputi telepon, aplikasi panggilan lainnya. Teks meliputi aplikasi perangkat gawai, website, platform chat (WhatsApp. Facebook Messenge. , asinkron . -mail, fa. Video/audio/teks media informasi yang relevan tentang diagnosis, pengobatan dan kesehatan pendidikan serta konseling. Asinkronisasi media informasi yang relevan untuk keluhan pasien, data tambahan, laporan laboratorium atau pemeriksaan radiologi yang dapat diakses sesuai Pasien dapat berkonsultasi dengan tim medis/kesehatan tentang diagnosis dan pengobatannya kondisi atau untuk pendidikan kesehatan serta penyuluhan. Pasien dapat menggunakan layanan untuk konsultasi rawat jalan. Layanan telekesehatan dapat menghubungkan pasien ke tim medis/kesehatan. Layanan telekesehatan dapat menghubungkan tim administrasi ke tim medis/kesehatan. Tim medis/kesehatan dapat menggunakan layanan telekesehatan untuk berdiskusi masalah perawatan pasien. Tim administrasi dapat memfasilitasi sesi konsultasi untuk pasien dengan tim medis/kesehatan untuk melakukan anamnesis dan menjelaskan saran terkait kondisi yang dialami pasien. Kode SK1A SK1B SK1C SI1A SI1B SK2A SK2B SI2A SI2B SI2C SI2D Secara keseluruhan hasil penilaian pada setiap rumah sakit ditunjukkan oleh gambar 2. Poin konversi kriteria telekesehatan dasar menjadi nilai angka menunjukkan apakah setiap rumah sakit dikota Batu telah mengimplementasikan telekesehatan. Nilai hasil konversi dari skala penilaian tersebut tersimpan dalam format data berbasis Comma Separated Values (CSV). File CSV digunakan sebagai file input pada pengolahan data di SmartPLS 3. Format tersebut dapat diakses menggunakan penyunting teks microsoft excel (Hamid et al. , 2. Hasil penilaian pada kedua rumah sakit dengan Jurnal Sains dan Kesehatan . Vol. No. 1 Mei . 1-7 ) e-ISSN 2961Oe8150 tingkat paripurna memiliki poin tertinggi pada penerapan telekesehatan dasar. Sedangkan pada rumah sakit tingkat utama memiliki poin terendah dalam penerapan telekesehatan dasar apabila dibandingkan dengan kedua rumah sakit tingkat perdana. Sistem ketersediaan dan aksesbilitas website masingmasing dilakukan pembaharuan secara berkala pada rentang tahun 2020 sampai 2022. Namun, pada rumah sakit dengan kode RS C tidak ditemukan pembaharuan berkala hingga penelitian ini dilakukan (KARS, 2. Gambar 2. Hasil Skala Penilaian Rumah Sakit Sistem karakteristik telekesehatan dasar yang terdiri dari sistem komunikasi, informasi, konsultasi dan interaktif tidak diterapkan secara keseluruhan dan optimal oleh rumah sakit. Skala penilaian menunjukkan bahwa secara umum rumah sakit telah menerapkan sistem informasi dan komunikasi secara optimal apabila dibandingkan dengan sistem konsultasi dan interaktif. Media sistem informasi dan komunikasi yang digunakan secara umum yaitu menggunakan website, telepon, dan platform chat. Penggunaan media aplikasi dengan sistem operasi gawai berbasis android atau iOS masih belum diimplementasikan secara optimal. Namun, ditemukan adanya penerapan sistem konsultasi secara interaktif untuk memfasilitasi penyintas corona virus-19 pada rumah sakit yang menjadi rujukan (Indian Medical Council, 2. Analisis Data Sekunder Pengujian statistik menggunakan metode PLS yang merupakan analisis pengujian alternatif berbasis varian structural equation modeling (Garson, 2. Metode tersebut untuk menganalisis model pengukuran atau outer model dan model struktural atau inner model. Pengujian dilakukan dengan perhitungan prediksi persamaan struktural pada setiap varian menggunakan perangkat lunak SmartPLS 3. Perhitungan prediksi melalui pendekatan model konstruk formatif untuk menjelaskan asumsi indikator terhadap karakteristik domain konstruknya (Hamid et al. , 2. Pengujian menggunakan model stuktural konstruk formatif ditunjukkan oleh gambar 3. Analisis pengujian model pengukuran atau outer model digunakan untuk mengetahui spesifikasi keterkaitan antara setiap nilai indikator sistem karakteristik telekesehatan dasar dengan nilai konstruk implementasi telekesehatan. Nilai yang ditunjukkan pada setiap indikator digambar 3 merupakan nilai validitas konvergen. Indikator tersebut dinyatakan reliabel apabila memiliki nilai korelasi Ou0. 07 untuk penelitian konfirmatori. Sedangkan pada penelitian eksploratif nilai reliabel terdapat pada outer loading direntang nilai 0. 06 sampai 0. Berdasarkan outer loading tersebut menunjukkan adanya indikator yang berada dibawah nilai standar toleransi. Hasil luaran outer loading pertama menunjukkan terdapat adanya nilai yang berada dibawah standar outer loading. Nilai tersebut berada pada indikator sistem komunikasi (SK1A) dan sistem interaktif (SI2A. SI2B), sehingga masing-masing dinyatakan tidak signifikan. Nilai yang dinyatakan tidak signifikan dihapus dan dilakukan perhitungan ulang pada indikator valid, sehingga diperoleh hasil outer loading kedua (Garson, 2016. Hamid et al. Jurnal Sains dan Kesehatan . Vol. No. 1 Mei . 1-7 ) e-ISSN 2961Oe8150 Gambar 3. Model Struktural Analisis pengujian validitas diskriminan digunakan untuk mengetahui apakah nilai konstruk implementasi telekesehatan berkaitan dengan setiap nilai indikator sistem karakteristik telekesehatan Hal tersebut berkebalikan dengan prinsip validitas konvergen. Pengujian validitas dinyatakan reliabel apabila nilai average variance extracted (AVE) berada Ou0. Masing-masing variabel pada penelitian menunjukkan nilai AVE, reabilitas komposit dan cronbachAos alpha berada direntang 0. Sehingga masing-masing variabel menunjukkan tingkat realinitas dan reabilitas yang tinggi (Garson, 2016. Hamid et al. , 2. Analisis pengujian model struktural atau inner model bertujuan untuk mengkonfirmasi apakah struktural penelitian yang dilakukan memiliki model kuat, moderat atau lemah. Konfirmasi model struktural menggunakan indikator koefisien determinasi atau R-Square (R. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai R2 sebesar 1. 0 (Hamid et al. , 2. Nilai tersebut mengindikasikan kuatnya model struktural atau terdapat pengaruh antara variabel sistem klasifikasi dasar telekesehatan terhadap implementasinya di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruk formatif (Hamid et al. , 2. Hal tersebut dikarenakan indikator pada penelitian berperan untuk mendefinisikan implementasi karakteristik Sedangkan penggunaan metode PLS dikarenakan mampu menganalisis data set skunder yang kecil pada beberapa model hipotesis reflektif ataupun formatif. Selain hal tersebut metode PLS mampu melakukan pengujian persamaan data set tanpa menyaratkan data terdistribusi dengan normal. Namun, penelitian menggunakan metode PLS memiliki beberapa keterbatasan yaitu nilai signifikansi yang dihasilkan tidak dapat difalsifikasikan serta tidak mampu membaca data set yang homogen. Sehingga untuk mengkonversi karakteristik menjadi nilai angka dibutuhkan perluasan atau memodifikasi variasi angka pada skala pengukuran yang digunakan (Garson, 2. Sistem komunikasi, informasi, konsultasi dan interaktif merupakan bentuk dasar dari perkembangan telekesehatan, telemedisin dan e-kesehatan (Indian Medical Council, 2. Sistem tersebut diadopsi oleh Indonesia menjadi pelayanan teleradiologi, teleelektrokardiografi, teleultrasonografi, telekonsultasi klinis dan pelayanan lain berbasis tele (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2. Peran pemerintah dalam menunjang kemajuan telekesehatan dibuktikan oleh beberapa kebijakan dan program penunjang. Kendala utama dalam layanan sistem tele telah dioptimalisasi dengan adanya fasilitas satelit komunikasi kesehatan. Kemudian tersedianya sistem komunikasi low-speed dan wireless acces protocol (WAP) (Kuntardjo, 2. Perubahan keadaan memberikan dampak dalam trasformasi sistem layanan kesehatan. Keadaan dunia tidak terkecuali Indonesia yang terdampak pandemi menjadi pemicu untuk merubah beberapa sistem konvensional walaupun telah tersistem selama bertahun-tahun. Perubahan tersebut meliputi sistem layanan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan sistem pendidikan kesehatan ataupun kedokteran yang berbasis bed side teaching (Prawiroharjo et al. , 2. Jurnal Sains dan Kesehatan . Vol. No. 1 Mei . 1-7 ) e-ISSN 2961Oe8150 Penelitian memperliatkan bahwa tingkat rating akreditasi rumah sakit tidak menjamin diterapkanya sistem telekesehatan dengan optimal. Penerapan tersebut bukan dikarenakan ketidakmampuan sumber daya manusia. Kesiapan sumber daya manusia dapat dilakukan melalui program pendampingan, seminar dan workshop secara terstruktur. Penghambat implementasi sistem telekesehatan di Indonesia yaitu tingginya biaya konversi sistem teknologi dan informasi dari konvensional menjadi modern juga menjadi kendala lainnya. Namun, permasalahan tersebut menjadi prioritas negara melalui terbukanya program kerjasama investasi skala nasional hingga global. Pada saat ini yang menjadi penghambat dasarnya adalah masih banyaknya kebutuhan kesehatan dasar dimasyarakat yang belum terselesaikan atau terpenuhi (Abigael & Ernawaty, 2. Penelitian lainya menyatakan secara detail bahwa kendala implementasi telekesehatan meliputi dukungan peraturan asosiasi/negara, keuangan, infrasturktur dan pemerataan teknologi (Riyanto, 2. , sumber daya manusia pada lingkup masyarakat serta tenaga kesehatan (Androga et al. , 2. PENUTUP Karakteristik dasar telekesehatan yang digunakan sebagai variabel atau indikator memiliki validitas diskriminan, realinitas dan reabilitas yang tinggi dalam penyusunan hipotesis. Selain hal tersebut, variabel atau indikator pada penelitian memiliki keterkaitan yang positif terhadap konstruknya dan membentuk model struktural yang kuat. Namun, karakteristik dasar telekesehatan belum diimplementasikan secara keseluruhan dan optimal oleh rumah sakit. Indikator yang menjadi dominasi implementasi yaitu sistem komunikasi (SK. Hal tersebut dikonfirmasi melalui tingginya nilai reabilitas dan validitas dibandingkan sengan indikator lainnya. Peneliti tidak memiliki konflik kepentingan terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan berbasis tele di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA