Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Pengembangan Keterampilan Sosial Anak Melalui Pembelajaran Bermain Peran di RA Uswathun Hasanah Nenden Komala Dewi1. Eva Fauziah2 1 RA Uswathun Hasanah 2 RA Ummy Mubarok Correspondence: dennaynenden@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Social Skills. Role-Playing. Early Childhood Education. RA Uswathun Hasanah. Social Development. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance the social skills of early childhood students at RA Uswathun Hasanah through role-playing The study was conducted to address challenges in the development of social behaviors such as communication, cooperation, and empathy among young learners. The research adopts a qualitative approach, using observation, interviews, and documentation as data collection The role-playing method was implemented in two cycles, with each cycle consisting of planning, action, observation, and reflection. The results indicate a significant improvement in the social skills of the children, with increased interaction and cooperative behavior during play activities. The role-playing approach allowed students to practice real-life situations in a controlled, supportive environment, fostering better communication and problem-solving abilities. These findings suggest that role-playing is an effective method for promoting social development in early childhood This study provides valuable insights for educators in RA Uswathun Hasanah and other similar institutions to apply interactive, playbased methods for enhancing social and emotional skills in young learners. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan keterampilan dasar anak. Pada tingkat RA (Raudhatul Athfa. seperti RA Uswathun Hasanah, anak-anak mulai belajar keterampilan sosial yang akan mempengaruhi perkembangan mereka di masa depan. Namun, meskipun sudah banyak upaya dilakukan untuk mengembangkan keterampilan ini, masih ada tantangan besar dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan sosial yang optimal. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa interaksi sosial yang terbatas dapat menghambat perkembangan sosial anak-anak (Sari. Pada usia dini, kemampuan untuk berinteraksi dengan teman sebaya sangat penting. Anakanak yang kurang berinteraksi dengan teman sebaya dapat mengalami kesulitan dalam mengembangkan keterampilan sosial seperti berbagi, bergiliran, atau bekerja sama. Di RA Uswathun Hasanah, banyak anak yang masih menunjukkan kesulitan dalam berbagi mainan, bergiliran, atau bekerja sama dalam kelompok kecil. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih efektif dalam mengembangkan keterampilan sosial mereka. Menurut penelitian oleh Junaidi . , kemampuan berbagi dan bekerja sama menjadi indikator penting dalam perkembangan sosial anak. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan sosial anak-anak adalah melalui permainan peran. Permainan peran memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mencoba berinteraksi dalam berbagai situasi sosial, belajar berempati, dan mengenali peran masing-masing dalam kelompok. Penelitian oleh Yuliana . menyebutkan bahwa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 permainan peran membantu anak-anak untuk memahami peran sosial dan meningkatkan kemampuan komunikasi mereka. Namun, penerapan metode ini masih kurang dimaksimalkan di banyak lembaga PAUD. Siswa di RA Uswathun Hasanah menunjukkan perkembangan yang bervariasi dalam keterampilan sosial mereka. Beberapa anak cenderung lebih aktif dan dapat bekerja sama dengan teman-temannya, sementara yang lain menunjukkan perilaku menarik diri atau bahkan sulit berinteraksi dengan teman sebaya. Hal ini sering kali disebabkan oleh kurangnya kesempatan untuk berlatih keterampilan sosial dalam situasi yang tidak terstruktur. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih kreatif dan terstruktur untuk meningkatkan keterampilan sosial anak. Dalam penelitian yang dilakukan di Yogyakarta, ditemukan bahwa anak yang sering terlibat dalam permainan peran memiliki keterampilan sosial yang lebih baik (Ramdani. Pentingnya permainan peran sebagai salah satu metode pembelajaran di PAUD telah banyak diteliti, namun di RA Uswathun Hasanah, masih sedikit penelitian yang menggali bagaimana metode ini diterapkan dalam meningkatkan keterampilan sosial anak. Menurut pengamatan, permainan yang dilakukan di kelas RA cenderung berbentuk permainan bebas yang kurang memberikan kesempatan untuk anak-anak berlatih keterampilan sosial secara spesifik. Hal ini perlu menjadi perhatian serius, karena pembelajaran yang mengedepankan interaksi sosial sangat bermanfaat untuk perkembangan emosi dan sosial anak-anak di usia dini (Fadilah. Penelitian oleh Azizah . menunjukkan bahwa salah satu cara efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial adalah dengan memberikan anak-anak kesempatan untuk berperan dalam situasi sosial melalui permainan yang dirancang dengan tujuan tertentu. Misalnya, anak-anak dapat memainkan peran sebagai guru, siswa, dokter, atau orang tua dalam situasi yang mereka buat sendiri. Dalam permainan ini, anak belajar tentang empati, bergiliran, dan cara mengatasi konflik dengan cara yang positif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Munir . , yang menemukan bahwa melalui permainan peran, anak-anak tidak hanya belajar berkomunikasi dengan teman sebaya, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri mereka. Selain itu, banyak pendidik di RA Uswathun Hasanah yang belum sepenuhnya memahami manfaat permainan peran dalam pengembangan sosial anak. Beberapa guru masih menganggap bahwa kegiatan bermain adalah sekadar waktu untuk bersenang-senang tanpa tujuan pembelajaran yang jelas. Padahal, menurut Suryani . , permainan yang dirancang dengan baik dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial, emosional, dan bahkan kognitif anak-anak. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan lebih lanjut bagi guruguru RA untuk memahami dan mengimplementasikan permainan peran dengan lebih baik dalam pembelajaran. Selain faktor internal seperti keterampilan guru, lingkungan juga mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial anak. Di beberapa kasus, anak-anak yang berasal dari keluarga dengan kondisi sosial yang kurang mendukung atau terbatas, mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Menurut Rahman . , anak-anak yang terbiasa dengan pola komunikasi terbatas di rumah atau tidak mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman sebaya akan lebih lambat dalam mengembangkan keterampilan sosial. Oleh karena itu, peran pendidikan formal seperti RA sangat penting untuk memberikan kesempatan yang setara bagi semua anak dalam mengembangkan keterampilan sosial mereka. Tantangan lainnya adalah kurangnya penekanan pada pengembangan keterampilan sosial di dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. Walaupun ada banyak program yang menekankan pada perkembangan kognitif dan motorik, pengembangan sosial seringkali kurang mendapatkan perhatian yang cukup. Penelitian yang dilakukan oleh Amalia . menunjukkan bahwa meskipun kurikulum PAUD sudah mengintegrasikan pengajaran moral Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dan sosial, masih ada banyak anak yang tidak mendapat kesempatan untuk berlatih keterampilan sosial secara intensif di sekolah. Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi terhadap implementasi kurikulum agar lebih menekankan pada pembelajaran yang mendukung perkembangan sosial. Dalam konteks pengajaran di RA Uswathun Hasanah, penggunaan permainan peran diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa. Berdasarkan temuan penelitian oleh Hidayati . , metode ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial, terutama dalam hal komunikasi, kerja sama, dan penyelesaian masalah. Permainan peran memberikan anak kesempatan untuk berlatih dan mengalami langsung berbagai peran dalam kehidupan sosial, yang akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan orang lain secara positif. Secara keseluruhan, pengembangan keterampilan sosial pada anak usia dini, khususnya di RA Uswathun Hasanah, masih menghadapi berbagai tantangan. Permainan peran sebagai metode yang berfokus pada pengalaman langsung anak-anak dalam berinteraksi sosial dapat menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. Penerapan metode ini diharapkan dapat membantu anak-anak belajar berkomunikasi dengan lebih baik, memahami peran sosial mereka, serta mengembangkan rasa empati terhadap orang lain. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi dampak penggunaan permainan peran dalam meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini (Suryani, 2. Penggunaan permainan peran sebagai metode pembelajaran di RA Uswathun Hasanah juga diharapkan dapat memberi dampak positif pada hubungan antara guru dan siswa. Penelitian oleh Kartika . menunjukkan bahwa interaksi yang intens antara guru dan siswa selama kegiatan permainan peran dapat meningkatkan kepercayaan dan rasa aman di dalam kelas. Dengan rasa aman dan nyaman, anak-anak akan lebih terbuka untuk berlatih keterampilan sosial mereka. Oleh karena itu, penerapan metode ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan sosial anak secara menyeluruh. Dengan demikian, penting bagi RA Uswathun Hasanah untuk mengembangkan program yang lebih terstruktur dalam memfasilitasi perkembangan keterampilan sosial melalui permainan Pembelajaran yang dirancang untuk mendorong interaksi sosial anak, khususnya dalam konteks bermain, akan memberikan dampak yang sangat positif dalam membentuk karakter anak usia dini yang mampu beradaptasi dan berinteraksi secara efektif di lingkungan sosialnya (Munir, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini di RA Uswathun Hasanah melalui penerapan metode permainan peran. PTK dipilih karena memungkinkan peneliti untuk melakukan perbaikan langsung terhadap praktik pembelajaran melalui siklus yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pendekatan kualitatif dipilih karena fokus penelitian ini adalah untuk menggali pemahaman mendalam mengenai pengaruh metode permainan peran terhadap perkembangan keterampilan sosial anak, yang tidak dapat diukur secara kuantitatif semata. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan selama penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah anak-anak usia dini di RA Uswathun Hasanah, dengan jumlah peserta yang terdiri dari 25 siswa. Pemilihan subjek didasarkan pada pengamatan awal yang menunjukkan adanya kesulitan dalam keterampilan sosial anak-anak, seperti kurangnya kemampuan untuk bekerja sama, berbagi, dan berinteraksi dengan teman sebaya. Peneliti juga melibatkan guru sebagai subjek yang berperan dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan metode permainan peran. Teknik pengambilan data Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 utama adalah observasi langsung terhadap aktivitas anak selama permainan peran, serta wawancara dengan guru untuk memperoleh informasi tambahan mengenai perkembangan keterampilan sosial anak. Data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara akan dianalisis menggunakan analisis kualitatif deskriptif. Data yang terkumpul akan dikategorikan berdasarkan tema yang relevan dengan tujuan penelitian, seperti komunikasi, kerja sama, berbagi, dan pemecahan masalah. Selanjutnya, peneliti akan mengevaluasi perubahan dalam keterampilan sosial anak setelah penerapan metode permainan peran di setiap siklus. Data yang diperoleh dari siklus pertama akan dibandingkan dengan siklus kedua untuk melihat apakah ada peningkatan dalam keterampilan sosial yang diamati. Analisis ini juga akan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan, seperti motivasi siswa, keterlibatan orang tua, dan respons terhadap metode yang diterapkan. Prosedur penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, yang masing-masing meliputi empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti bersama guru merancang kegiatan permainan peran yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial anak-anak, seperti berbagi, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan baik. Selama pelaksanaan, kegiatan permainan peran diterapkan di kelas, dengan siswa memainkan peran dalam situasi sosial yang telah disiapkan. Pada tahap observasi, peneliti melakukan pengamatan terhadap interaksi sosial anak selama permainan peran dan mencatat perkembangan keterampilan sosial yang terlihat. Tahap refleksi dilakukan setelah setiap siklus untuk mengevaluasi hasil pembelajaran dan membuat perbaikan pada siklus berikutnya berdasarkan temuan yang diperoleh. Setelah kedua siklus selesai, peneliti melakukan analisis menyeluruh terhadap data yang terkumpul untuk menyimpulkan dampak penggunaan metode permainan peran terhadap keterampilan sosial anak. Peneliti juga akan memberikan rekomendasi terkait penerapan metode permainan peran di RA Uswathun Hasanah atau lembaga pendidikan anak usia dini lainnya yang mungkin menghadapi tantangan serupa dalam pengembangan keterampilan sosial Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan perkembangan sosial anak-anak usia dini, khususnya di RA Uswathun Hasanah. RESULTS AND DISCUSSION Dalam penelitian ini, penerapan metode permainan peran di RA Uswathun Hasanah menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterampilan sosial anak-anak. Pada awal penelitian, banyak anak yang menunjukkan kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya, seperti enggan berbagi mainan atau tidak mampu bekerja sama dalam kelompok. Namun, setelah penerapan metode permainan peran, siswa mulai lebih aktif dalam berkomunikasi dan berkolaborasi dengan teman-temannya. Hal ini menunjukkan bahwa permainan peran efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial, terutama dalam hal berbagi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik secara positif (Yuliana, 2. Salah satu temuan utama adalah peningkatan keterampilan komunikasi anak. Sebelum penggunaan metode ini, anak-anak cenderung lebih tertutup dan pasif dalam berbicara dengan teman sebaya mereka. Namun, setelah dilakukan permainan peran, anak-anak mulai lebih percaya diri dalam berbicara dan menyampaikan pendapat mereka. Proses ini terbukti memberikan dampak positif pada kemampuan mereka untuk mengungkapkan ide dan pendapat dalam suasana yang aman dan mendukung (Sari, 2. Selain keterampilan komunikasi, permainan peran juga meningkatkan kemampuan anak dalam bekerja sama. Banyak anak yang sebelumnya enggan bekerja sama dengan teman sebaya mulai menunjukkan perubahan sikap. Melalui permainan peran, anak-anak dilatih untuk berbagi peran, mendengarkan pendapat teman, dan bekerja dalam tim untuk menyelesaikan tugas yang Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Hal ini sejalan dengan temuan oleh Munir . , yang mengungkapkan bahwa permainan peran dapat meningkatkan keterampilan sosial melalui pengalaman langsung dalam situasi yang melibatkan orang lain. Penggunaan permainan peran dalam kegiatan pembelajaran juga meningkatkan empati anakanak. Siswa yang terlibat dalam permainan peran dapat melihat situasi dari perspektif orang lain, yang membantu mereka memahami perasaan teman-teman mereka. Misalnya, anak yang berperan sebagai orang tua atau guru mulai memahami tantangan yang dihadapi oleh peran tersebut, sementara anak yang berperan sebagai siswa belajar untuk lebih menghargai otoritas. Temuan ini sesuai dengan penelitian oleh Ramdani . , yang menunjukkan bahwa permainan peran efektif dalam membangun empati pada anak usia dini. Namun, meskipun banyak dampak positif yang ditemukan, penelitian ini juga menunjukkan beberapa tantangan dalam penerapan metode permainan peran. Salah satu masalah utama adalah dominasi beberapa anak dalam diskusi kelompok, yang sering kali membuat anak-anak lainnya kurang berpartisipasi. Beberapa anak yang lebih pendiam atau kurang percaya diri tidak selalu mendapatkan kesempatan untuk berperan aktif dalam permainan peran. Hal ini perlu diperhatikan oleh guru untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama dalam berpartisipasi (Junaidi, 2. Di sisi lain, pengelolaan waktu dalam setiap sesi permainan peran juga menjadi tantangan. Beberapa kelompok membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan permainan peran, sementara yang lainnya sudah selesai lebih cepat. Guru perlu memastikan bahwa waktu yang diberikan cukup bagi setiap kelompok untuk merampungkan tugas mereka dan untuk melakukan refleksi setelah permainan. Penelitian oleh Fadilah . menunjukkan bahwa pengelolaan waktu yang efektif dalam pembelajaran berbasis permainan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan keterlibatan siswa. Peningkatan yang signifikan terlihat pada perkembangan keterampilan sosial anak yang lebih cenderung kepada kerja sama dalam tim. Sebelumnya, sebagian besar anak sulit untuk bekerja sama dengan teman-temannya dalam satu kelompok kecil. Namun, setelah diterapkan permainan peran, mereka mulai berlatih bekerja sama dalam berbagai situasi yang mereka ciptakan sendiri. Hal ini memberikan mereka pengalaman langsung tentang pentingnya menghargai pendapat dan kontribusi orang lain. Hasil ini juga mendukung penelitian oleh Yuliana . yang menyebutkan bahwa melalui permainan peran, keterampilan sosial anakanak dapat berkembang lebih cepat. Permainan peran juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih sehat. Dalam beberapa permainan, anak-anak sering kali harus menghadapi situasi yang membutuhkan mereka untuk membuat keputusan bersama atau menyelesaikan masalah dalam kelompok. Melalui interaksi ini, anak-anak belajar untuk berdiskusi, mencari solusi bersama, dan menghargai keputusan kelompok. Hal ini sejalan dengan temuan oleh Suryani . , yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis peran dapat mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah dan kerja sama. Selama proses penelitian, anak-anak juga menunjukkan peningkatan dalam keterampilan pemecahan masalah sosial. Sebagai contoh, anak-anak yang sebelumnya mengalami kesulitan dalam berbagi mainan atau giliran, mulai mampu berkompromi dengan teman sebaya mereka setelah terlibat dalam permainan peran yang melibatkan pembagian tugas. Penelitian oleh Kartika . menunjukkan bahwa permainan yang menantang anak-anak untuk memecahkan masalah bersama dapat mengembangkan keterampilan komunikasi dan empati mereka secara lebih mendalam. Berdasarkan hasil observasi, permainan peran juga membantu anak-anak dalam memahami struktur sosial dan peran mereka di dalam kelompok. Anak-anak belajar bahwa setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab tertentu dalam suatu kegiatan, yang perlu dihormati dan dijalankan dengan baik. Penerapan metode ini membantu mereka memahami cara berinteraksi Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dengan orang lain dalam konteks yang lebih luas. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayati . mengungkapkan bahwa melalui permainan peran, anak-anak dapat lebih memahami struktur sosial dalam masyarakat mereka. Keterlibatan orang tua juga menjadi faktor penting dalam pengembangan keterampilan sosial anak melalui permainan peran. Orang tua yang mendukung kegiatan permainan di rumah atau mengamati aktivitas anak-anak selama di sekolah memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan keterampilan sosial mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran sosial tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah. Temuan ini mendukung penelitian oleh Rahman . , yang menunjukkan bahwa peran orang tua sangat penting dalam mendukung perkembangan sosial anak melalui kegiatan bermain. Meskipun banyak temuan positif yang diperoleh, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa hambatan terkait dengan penerapan permainan peran di kelas. Salah satu hambatan terbesar adalah kurangnya fasilitas atau media yang mendukung untuk pelaksanaan permainan peran secara optimal. Beberapa anak masih merasa kesulitan berperan dalam situasi yang membutuhkan peralatan atau bahan tertentu. Oleh karena itu, perlu ada persiapan yang lebih matang dalam hal alat peraga dan materi pembelajaran agar kegiatan permainan peran dapat berjalan dengan lancar (Ramdani, 2. Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa permainan peran memberikan manfaat yang signifikan dalam meningkatkan keterampilan sosial anak-anak di RA Uswathun Hasanah. Namun, agar metode ini lebih efektif, dibutuhkan pengelolaan yang baik dalam hal waktu, partisipasi siswa, serta penggunaan alat peraga yang mendukung. Berdasarkan temuan ini, disarankan untuk terus mengembangkan metode permainan peran sebagai alat untuk mengasah keterampilan sosial anak di masa depan (Sari, 2. CONCLUSION Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode permainan peran di RA Uswathun Hasanah secara signifikan meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini. Melalui permainan peran, anak-anak diberikan kesempatan untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan berempati dalam konteks yang menyenangkan dan mendukung. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa anak-anak yang terlibat dalam permainan peran menunjukkan peningkatan dalam keterampilan komunikasi, kerja sama, dan penyelesaian konflik. Mereka juga lebih mampu berbagi, bergiliran, dan mengungkapkan pendapat dengan percaya diri. Permainan peran terbukti efektif dalam membantu anak-anak memahami peran sosial mereka serta cara berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai situasi. Selain itu, permainan ini membantu mereka mengembangkan empati dengan menempatkan diri mereka dalam peran orang lain, yang memungkinkan mereka untuk merasakan perspektif orang lain. Meskipun demikian, beberapa tantangan dalam penerapan metode ini, seperti dominasi beberapa anak dalam diskusi kelompok dan pengelolaan waktu yang perlu diperbaiki, masih perlu diperhatikan oleh guru. Selain itu, peran orang tua juga sangat penting dalam mendukung perkembangan keterampilan sosial anak melalui permainan peran. Keterlibatan orang tua dalam aktivitas ini memperkaya pengalaman sosial anak dan memperkuat pembelajaran yang terjadi di sekolah. Oleh karena itu, diperlukan dukungan yang lebih intensif dari pihak sekolah dan orang tua untuk memaksimalkan dampak positif dari permainan peran dalam perkembangan sosial anak. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa metode permainan peran merupakan pendekatan yang efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini, terutama dalam aspek komunikasi, kerja sama, dan empati. Pengelolaan yang lebih baik dan penyediaan fasilitas yang mendukung diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penggunaan metode ini di masa depan. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 REFERENCES