UN | PENMAS Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri Volume 5. Number 2 . , pp. 91-102 e-ISSN 2810-000X PENMAS https://jurnal. id/index. php/un-penmas Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Kearifan Lokal di Petung Park Benny Lianto, 2*Andhy Setyawan, 3Joko Mijiarto, 4Ahmad Miftah Fajrin, 5Endah Asmawati, 6Mikhael Ming Khosasih, 7Naif Santoso 1,2*,4,5,6,7Universitas Surabaya. Surabaya. Indonesia 3Universitas Pembangunan Nasional AoVeteranAo Jawa Timur. Surabaya. Indonesia e-mail: b_lianto@staff. id1, andhy@staff. par@upnjatim. id3, ahmadmiftah@staff. endah@staff. id5, mikhaelming@staff. id6, naifsantoso@gmail. *Coresponding Author Submit: 23 September 2025. revisi: 2 November 2025, diterima: 30 November 2025 ABSTRAK Program pengabdian ini bertujuan mengoptimalkan potensi hutan bambu di Desa Belik sebagai pengungkit ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian ekologis dan sosial budaya. Metode yang digunakan adalah fasilitasi dan partisipasi melalui tahapan: forum diskusi dengan pemerintah desa. BUMDes, dan karang taruna untuk menyepakati isu prioritas serta rencana aksi. pelatihan yang diperkaya studi banding ke Wisata Hutan Bambu Bulaksalak . embibitan dan pengawetan bamb. , dan Desa Wisata Mutuk -Pusat Kerajinan Bambu . antai nilai produ. serta pendampingan teknis pembuatan olahan rebung, pengawetan/pengeringan bambu, dan penyusunan pengelolaan hutan Pengumpulan data dilakukan melalui observasi. FGD, wawancara,dan dokumentasi. Hasil menunjukkan tersusunnya rencana aksi bersama, penguatan peran kelembagaan desa. BUMDes, karang taruna, serta lahirnya prototipe produk HHBK . lahan rebung dan kerajinan bamb. Pasar Pring Sewu dan aturan pengelolaan hutan bambu. Solusi yang ditawarkan memadukan konservasi, ekonomi kreatif berbasis bambu, dan kearifan lokal sehingga mendukung keberlanjutan wisata hutan bambu dan kesejahteraan masyarakat. Kata kunci: Hutan bambu. Kearifan local. Fasilitasi. Partisipasi. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) ABSTRACT The community service program aims to optimize the potential of the bamboo forest in Belik Village as a driver of the local economy while safeguarding ecological and sociocultural sustainability. The approach combines facilitation and participation through the following stages: . discussion forums with the village government, the Village-Owned Enterprise (BUMDe. , and the youth organization . arang tarun. to agree on priority issues and an action plan. trainings enriched by comparative visits to Bulaksalak Bamboo Forest Tourism . amboo nursery and preservatio. Mutuk Tourism VillageAi Bamboo Craft Center . roduct value chai. technical assistance on processing bamboo shoots, bamboo preservation/drying, and the preparation of bamboo forest management guidelines. The Data were collected through observations, focus group discussions (FGD. , interviews, and documentation. The results show the formulation of a joint action plan, strengthened roles of village and BUMDes, and youth institutions, and the development of prototype NWFP products . rocessed bamboo shoots and bamboo craft. along with bamboo forest management rules. The proposed solution integrates 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Kearifan Lokal di Petung Park . Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. conservation, bamboo-based creative economy initiatives, and local wisdom, thereby supporting the sustainability of bamboo-forest tourism and community well-being. Keywords: Bamboo forests. Local wisdom. Facilitation. Participation. Non-Wood Forest Products (NWFP) Copyright A 2025 The Author. This is an open access article under the CC BY-SA license. PENDAHULUAN Hutan bambu merupakan salah satu ekosistem penting yang memiliki fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat pedesaan. Menurut Indriyanto . serta Raka dan Budiasa . , bambu memiliki kemampuan mengikat tanah serta mengatur tata air, sehingga keberadaannya berperan dalam mencegah erosi maupun menjaga ketersediaan sumber mata air. Selain itu, bambu juga dikenal sebagai salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang memiliki banyak manfaat lain seperti bahan baku pembuatan kebutuhan rumah tangga maupun kerajinan, sehingga hal ini dapat mendukung perekonomian masyarakat secara berkelanjutan (Arhamsyah, 2009. Sisilia et al. , 2023. & Hani et al. , 2. Desa Belik. Kecamatan Trawas. Kabupaten Mojokerto memiliki kawasan hutan bambu seluas A3,5 hektare yang terletak di Dusun Jibru. Hutan bambu ini didominasi oleh jenis bambu Petung (Dendrocalamus aspe. yang telah berusia ratusan tahun, bahkan disebut sebagai salah satu hutan bambu tertua di Jawa Timur. Kawasan ini tidak hanya menjadi sumber utama mata air bagi kebutuhan rumah tangga masyarakat sekitar dan irigasi pertanian, tetapi juga telah berkembang menjadi destinasi wisata alam yang dikenal dengan nama Petung Park. Nama Petung Park ini lahir dari musyawarah desa dan diresmikan oleh Bupati Mojokerto, menjadikannya identitas wisata berbasis hutan bambu di Desa Belik. Sejak tahun 2021, kawasan ini dilengkapi dengan pujasera dan gazebo-gazebo unik yang dialiri air dari sumber mata air alami, sehingga memberikan pengalaman wisata kuliner yang berpadu dengan suasana segar dan asri. Keindahan panorama hutan bambu, sawah, serta latar Gunung Penanggungan menjadi daya tarik tersendiri, ditambah gemericik air yang menciptakan nuansa relaksasi. Konsep wisata ini menjadikan Petung Park bukan hanya sebagai ruang konservasi, tetapi juga sebagai destinasi healing yang ramah bagi wisatawan. Keberadaan hutan bambu sebagai salah satu daya tarik di desa wisata Belik harus dijaga kelestariannya, oleh karena itu masyarakat sekitar membuat aturan adat melarang pengambilan bambu maupun rebung tanpa izin, dengan sanksi denda Sistem ini efektif untuk menjaga kelestarian sumber daya sekaligus memperkuat norma kolektif masyarakat. Lebih jauh, praktik budaya juga diwujudkan melalui ritual tahunan Dawuhan yang dilakukan setiap bulan Februari sebagai ungkapan rasa syukur atas ketersediaan air dan penguat solidaritas sosial. Dengan demikian, upaya konservasi di Desa Belik tidak hanya bertumpu pada aspek ekologis, tetapi juga menyatu dengan nilai sosial dan spiritual masyarakat. 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Nilai Lokal di Petung Park. Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. Pengembangan potensi wisata hutan bambu di Desa Belik juga tidak terlepas dari peran Karang Taruna. Melalui program pemberdayaan. Karang Taruna terlibat aktif dalam pengembangan wisata berbasis potensi lokal dan kearifan budaya, seperti pencak silat dan bantengan. Program pelatihan dan pendampingan telah meningkatkan kapasitas masyarakat, membentuk Pokdarwis, serta menambah atraksi wisata baru yang berdampak pada peningkatan jumlah pengunjung dan pendapatan desa (Lianto et , 2. Selain itu, pemanfaatan media sosial juga dilakukan oleh karang taruna dan meningkatkan hasi kunjungan sebesar 470% (Setyawan et al. , 2. Namun sayangnya, potensi wisata bambu Petung di wilayah Desa Belik yang melimpah ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber ekonomi desa yang berkelanjutan. Bambu memiliki nilai guna tinggi, mulai dari bahan membuat bangunan tradisional, kerajinan, hingga produk modern seperti laminasi dan etanol. Melalui program pelatihan dan pendampingan, masyarakat Desa Belik mulai diarahkan untuk mengolah bambu menjadi produk bernilai tambah, seperti tusuk sate, keranjang, hingga olahan kuliner berbasis rebung, serta pengembangan potensi hutan bambu melalui kegiatan wisata edukasi dan Pasar Pring Sewu. Dengan demikian, pengembangan potensi bambu di Desa Belik menjadi sangat penting tidak hanya untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi desa serta memperkuat identitas budaya lokal. Tujuan program program pengabdian kepada masyarakat (PKM) diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan hutan bambu secara terintegrasi dan berkelanjutan, berlandaskan pada kearifan lokal, prinsip keberlanjutan, serta inovasi dalam pengelolaan wisata dan ekonomi kreatif. METODE Pada pelaksanaan pengabdian ini digunakan metode fasilitasi dan partisipasi. Metode fasilitasi dilakukan melalui tahapan: . Forum diskusi tim dengan pemerintah desa. BUMDes, dan karang taruna untuk menyepakati isu prioritas . elestarian hutan bambu, aturan pemanfaatan bambu/rebung berizin, dan penguatan wisata berbasis . Pelatihan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan praktis, yang diperkaya studi banding ke: . Wisata Hutan Bambu Bulaksalak . embibitan dan pengawetan bamb. , dan . Desa Wisata MutukAiPusat Kerajinan Bambu . antai nilai produk bamb. Pemetaan potensi, tim mendampingi karang taruna memetakan potensi desa . umber daya alam khususnya hutan bambu dan sumber air, potensi budaya/ritual, serta peluang usaha HHBK). Pendampingan teknis lanjutan, meliputi pembuatan/pengolahan rebung, pengawetan dan pengeringan bambu, pembuatan Pasar Pring Sewu dan penyusunan pengelolaan hutan bambu Seluruh kegiatan seperti forum, pelatihan, studi banding, dan pendampingan dilakukan melalui komunikasi secara langsung . atap muk. maupun melalui alat komunikasi yang disepakati. Dengan menerapkan metode fasilitasi dan partisipasi ini, pendampingan karang taruna dan pemangku kepentingan desa diharapkan berjalan lebih efektif, meningkatkan kapasitas anggota, memperkuat kelembagaan desa. BUMDes, dan karang taruna, serta mendorong pengembangan komunitas dan wisata hutan bambu secara berkelanjutan. 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Kearifan Lokal di Petung Park . Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. HASIL DAN PEMBAHASAN Bambu merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai banyak manfaat. Bambu tidak hanya memiliki fungsi ekologis tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber perekonomian Masyarakat yang berkelanjutan. Bambu memiliki fungsi ekologis seperti mampu mengikat tanah dan air sehingga mencegah terjadinya longsor, mengatur tatanan hidrologi air (Indriyanto, 2008. Raka dan Budiasa. Widyana, 2. Sementara itu, secara ekonomi bambu telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan. Bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku peralatan rumah tangga untuk berbagai keperluan sehari- hari seperti pot, tempat sampah, dan gantungan kunci. Bambu banyak dimanfaatkan untuk kerajinan karena memiliki beberapa kelebihan di antaranya batang bambu relatif kuat, keras, lurus, dan rata. mudah dibelah, dibentuk, dikerjakan, dan diangkut. Selain itu, bambu banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan sehingga dari segi ekonomi relatif lebih murah dibandingkan dengan bahan baku lainnya (Arhamsyah, 2. Desa Belik memiliki potensi hutan bambu yang cukup luas yaitu A3,5 ha dengan jenis bambu utamanya adalah Bambu Petung (Gambar . Bambu petung dapat dimanfaatkan untuk Laminasi, dinding, tangga bangunan, saluran air, penampung aren yang disadap, dinding rumah yang dianyam, dan berbagai jenis barang kerajinan, dan Keberadaan hutan Bambu di Desa Belik dimanfaatkan menjadi sumber utama mata air untuk kebutuhan rumah tangga maupun irigasi pertanian. Selain itu, hutan bambu yang ada di Desa Belik juga dimanfaatkan sebagai salah satu daya Tarik wisata. Tentunya hal tersebut belum optimal mengingat bambu memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber ekonomi lainnya bagi perekonomian desa. Gambar 1 Potensi Bambu Petung di Desa Belik 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Nilai Lokal di Petung Park. Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. Salah satu Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan bambu menjadi berbagai macam kerajinan seperti menjadi tusuk sate dan juga keranjang Untuk itu. Tim Universitas Surabaya melakukan pelatihan kepada Masyarakat Desa Belik serta membantu penyediaan alat untuk dapat meningkatkan dan mengoptimalkan potensi bambu yang ada di Desa Belik (Gambar . Pelatihan penggunaan alat dilakukan pada Senin, 15 September 2025 dengan peserta yakni tokoh pemuda karang taruna Sebanyak 9 orang, ibu-ibu PKK sejumlah 15 orang. Pelatihan ini bertujuan untuk melatih Masyarakat desa dalam penggunaan alat yang dapat digunakan untuk mengolah bambu menjadi tusuk sate. Kapasitas produksi tusuk sate yang dapat dihasilkan oleh masyarakat adalah 1 batang bambu ukurannya sekitar 15-20 meter, setelah diolah bambu tersebut dapat menghasilkan A9 kg tusuk sate dengan harga tusuk sate perkilo 20. Proses pengolahan bambu menjadi tusuk sate memberikan peningkatan nilai tambah ekonomi bambu dari Rp. arga bambu per batan. menjadi Rp. Gambar 2 Pelatihan Penggunaan Alat Produksi Tusuk Sate Pelatihan ini juga dihadiri langsung oleh Kepala Desa Belik. Selain tusuk sate, bambu yang dipanen juga diolah menjadi kerangjang sampah serta meja yang digunakan sebagai Lokasi berdagang pada Pasar Pring Sewu yang merupakan salah satu atraksi baru di Desa ini (Gambar . Pasar Pring Sewu merupakan atraksi yang memanfaatkan hutan bambu sebagai Lokasi berjualan dengan menampilkan pasar tempo dulu Dimana uang yang digunakan Adalah uang gaban dan penjual menggunakan pakaian tradisional. 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Kearifan Lokal di Petung Park . Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. Gambar 4 Hasil Olahan Bambu oleh Masyarakat Tim Universitas Surabaya selain memberikan pelatihan penggunaan alat pengolah bambu juga melakukan pelatihan pengolahan kuliner berbasis rebung bambu (Gambar Pelatihan ini diikuti oleh Ibu-Ibu PKK dengan menhadirkan narasumber yang memiliki pengalaman dalam pengolahan berbahan dasar rebung. Pemanfaatan bambu di Desa Belik diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan perekonomian desa, tetapi juga diharapkan bermanfaat bagi interaksi sosial di Masyarakat. Kerajinan tangan berbasis bahan alami tidak hanya memberi dampak positif terhadap ekonomi rumah tangga, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dalam komunitas (Dahri et al, 2. Syahrir & Darwanto . menjelaskan bahwa kegiatan kolektif seperti pembuatan kerajinan dapat mempererat hubungan antar individu dalam masyarakat. Selain memberikan pelatihan. Tim Universitas Ubaya juga mengajak masyarakat di Desa Belik melakukan studi banding pada tanggal 4 Agustus 2025 ke Desa Wisata Ngalanggeran dan Hutan Bambu Bulak Salak. Desa wisata ini dipilih menjadi lokasi studi banding karena merupakan salah satu desa wisata terbaik di Indonesia. Desa Wisata Nglanggeran pernah mendapat penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award, 2017ASEAN Sustainable Tourism Award pada 2018 dan Best Tourism Village oleh United Nation World Tourism Organization (UNWTO) pada 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Nilai Lokal di Petung Park. Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. Gambar 5 Pelatihan Olahan Kuliner Berbahan Dasar Rebung Masyarakat Desa Belik dapat mendapatkan pelajaran berharga bahwa dalam pengembangan desa wisata perlu adanya konsistensi serta pantang menyerah dalam mengembangkan sebuah destinasi wisata dan melakukan perbaikan secara terus menerus kemudian. Masyarakat juga mendapatkan contoh pengembagan wisata terintegrasi di hutan bambu bulak salak yakni wisata edukasi lingkungan dan wisata pasar sor pring bulak salak. Dari studi banding tersebut. Masyarakat di Desa Belik kemudian mereplikasi dan mengimplementasikannya dengan membuka pasar tradisional pasar preng sewu serta wisata edukasi lingkungan hutan bambu, peternakan kambing . usu kambing etaw. dan bajak sawah. Gambar 7 dan Gambar 8 merupakan contoh implementasi masyarakat terhadap studi banding. Gambar 7 berfokus pada adanya paket wisata sebagaimana dipelajari di desa Nglanggeran, sementara Gambar 8 menunjukkan aktivitas konservasi bambu yang dipelajari dari Hutan Bambu Bulak Salak. Pemanfaatan bambu untuk peningkatan ekonomi masyarakat secara tidak langsung menjadi salah satu upaya konservasi untuk menjaga kelestarian bambu yang ada di Desa belik. Menurut Hani et al. , 2018. Jannah et al . bambu yang memiliki regenerasi yang baik adalah yang pertumbuhan bambu muda dan tua setiap rumpun Widyaningtyas . , menyatakan apabila anakan dan individu terdapat dalam jumlah besar, menunjukkan populasi bambu berada dalam keadaan stabil dan akan mengalami peningkatan. Lebih lanjut Hani et al. menyatakan komposisi yang cukup ideal antara bambu muda dan tua adalah 53% : 47%. Rumpun bambu yang 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Kearifan Lokal di Petung Park . Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. tidak dipanen akan menyebabkan rumpun terlalu rapat dan tidak ada ruang untuk tumbuhnya tunas baru. Untuk itu perlu dilakukan pemanenan bambu secara Lestari yang bertujuan: . Meningkatkan keseimbangan antara ekonomi sosial dan ekologi sosial, . Meningkatkan produktivitas bambu, . Memperbanyak rebung, . Memaksimalkan jumlah rebung yang tumbuh menjadi bambu dewasa, . Meningkatkan kualitas batang bambu dan . Menjaga kesehatan jangka panjang bambu. Agar kelestrian tersebut terjaga maka setiap tahun ada bambu yang ditebang dan ditinggalkan sebagai permudaannya. Menurut (Bahruni et al. , 2. , kriteria kelestarian sumber daya alam seperti bambu dapat dipenuhi jika intensitas penebangan dilakukan sebesar lima puluh persen dari potensi yang ada. Gambar 6 Dokumentasi Kegiatan Studi Banding ke Desa Wisata Nglanggeran 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Nilai Lokal di Petung Park. Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. Gambar 7 Implementasi Paket Wisata Hasil Studi Banding Untuk menjaga kelestarian Hutan Bambu yang ada di Desa Belik dan memastikan pemanfaatan secara Lestari telah dibentuk Pengurus Hutan Bambu melalui Keputusan Kepala Desa Belik Nomor 14 Tahun 2024 tentang Pengangkatan Pengurus Hutan Bambu Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto. Tugas dari Pengurus Hutan Bambu tersebut Adalah Mengawal dan mengatur Pemotongan Hutan Bambu agar kelestarian Sumber Mata Air tetap terjaga. Menjadikan Lembaga Pengurus Hutan Bambu dalam mengelola Pohon Bambu dengan menciptakan system tata kelola Pohon Bambu yang profesional untuk mengutamakan Kebutuhan masyarakat desa. Pengurus Hutan Bambu sebagai mitra desa yang mampu melakukan manajemen Hutan Bambu yang baik. 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Kearifan Lokal di Petung Park . Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. Gambar 8 Upaya Konservasi Bambu oleh Pengurus Hutan Bambu Selaian dilakukan pembentukan tim pengelola hutan bambu, hutan bambu di Desa Belik juga dipelihara melalui mekanisme hukum adat yang bersifat nonformal, namun efektif dalam mengatur perilaku masyarakat. Masyarakat dan pemerintah desa akan melakukan musdus minimal setahun sekali, untuk membahas permasalahan ataupun usulan dan ide yang baru terkait dengan oemanfaatan hutan bambu. Aturan adat melarang pengambilan rebung . unas bamb. maupun bambu tanpa izin, dengan sanksi berupa denda sebesar Rp700. 000 untuk pelanggaran pengambilan rebung dan Rp500. 000 untuk pengambilan bambu. Sistem sanksi ini berfungsi sebagai instrumen sosial yang mendukung upaya pelestarian hutan sekaligus menjamin keberlanjutan sumber mata air. Selain regulasi adat, praktik budaya masyarakat juga tercermin melalui ritual tahunan yang dikenal dengan sebutan Dawuhan (Gambar . Ritual ini dilaksanakan setiap bulan Februari pada hari Jumat Pon di pendopo punden setempat sebagai bentuk ungkapan syukur atas ketersediaan air serta penguatan nilai-nilai kolektif dalam menjaga kelestarian hutan bambu. Dengan demikian, praktik adat dan ritual budaya berperan penting dalam menjaga keberlanjutan ekologi sekaligus memperkuat kohesi sosial Masyarakat. Gambar 9 Ritual Adat Pelestarian Bambu di Desa Belik 29138/un-penmas. Lianto. B et al. Penerapan Prinsip Keberlanjutan di Hutan Bambu: Strategi Nilai Tambah dan Pelestarian Nilai Lokal di Petung Park. Jurnal Pengabdian Masyarakat untuk Negeri (UN PENMAS). Vol. No. SIMPULAN Desa Belik memiliki potensi hutan bambu yang cukup luas. Untuk itu, potensi itu perlu dioptimalkan dengan melakukan berbagai Upaya pemanfaatan bambu maupun lahan dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian. Upaya yang dilakukan untuk optimalisasi hutan bambu tersebut Adalah dengan melakukan pelatihan pengolahan bambu menjadi kerajinan, kuliner bebahan dasar rebung dan pengembangan hutan bambu menjadi Lokasi pasar tradisional. Untuk menjaga pemanfaatan tersebut tetap Lestari telah ditetapkan badan pengelola hutan bambu, penegakan aturan adat dan juga upacara adat. Dengan kedua pendekatan ekonomi dan ekologi tersebut, diharapkan hutan bambu di Desa Belik dapat memberikan nilai ekonomi dan ekologis secara bersama menuju Masyarakat yang Sejahtera. UCAPAN TERIMA KASIH