Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. April 2013 PENGARUH PEMBERIAN NATA DE NANNO DAN Nannochloropsis oculata TERHADAP POPULASI Brachionus plicatilis EFFECT OF GIVING NATA DE NANNO AND Nannochloropsis oculata ON POPULATION OF Brachionus plicatilis Indah Permata Sari. Laksmi Sulmartiwi dan Boedi Setya Rahardja Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo - Surabaya, 60115 Telp. Abstract This study aims to determine the effect of Nata De Nanno and Nannochloropsis oculata for Brachionus plicatilis population. The research method used was experimental with a Completely Randomized Design (CRD) with six treatments and four replications. The treatments used were: (A) Nata de Nanno 5x109 cells/L N. oculata, (B) Nata de Nanno 4x109 cells/L N. oculata, (C) Nata de Nanno 3x109 cells/L N. oculata, (D) N. oculata 5x109 cells/L, (E) N. oculata 4x109 cells/L and (F) N. 3x109 cells/L. Analysis of data using variant analysis (ANOVA) and to determine the differences between treatments performed tests Distance Regression Duncan. The results showed that administration of Nata De Nanno and Nannochloropsis oculata for Brachionus plicatilis populations exert a significantly different . <0,. in each treatment delivery Nata De Nanno and Nannochloropsis oculata with the highest peak population of young B. plicatilis achieved on the fifth day of treatment D (N. with a concentration of 5x109 cells/L produce a population young B. plicatilis as much as 98,5 individuals/ml. The lowest peak population of young B. plicatilis on the fifth in treatment C (Nata de Nann. with a concentration of 3x109 cells/L N. oculata 76,75 produce a population of young B. plicatilis 76,75 individuals/ml. Water quality parameters during the study was the temperature ranges between 27-31AC, a salinity of 31 ppt, pH value 7. DO (Dissolved oxyge. ranged between 5-8 mg/L, and ammonia levels ranged from 0-0. 25 mg/L. Keywords : Brachionus plicatilis. Nata De Nanno. Nannochloropsis oculata Pendahuluan Permasalahan akan kebutuhan pakan akan muncul pada saat organisme berada dalam lingkungan budidaya, karena pakan merupakan salah satu faktor pembatas bagi organisme yang Pakan alami merupakan faktor penentu keberhasilan pemeliharaan larva pada unit pembenihan ikan perairan laut. Chumaidi dan Priyadi . menyatakan, pakan alami dalam pemenuhan kebutuhan pakan larva ikan belum dapat digantikan seluruhnya oleh pakan buatan, karena pakan alami lebih disukai oleh larva daripada pakan buatan. Stadia larva ikan pada budidaya perairan laut membutuhkan pakan alami yang terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Muslim dkk. menyatakan, salah satu jenis zooplankton yang merupakan makanan yang tepat bagi stadia larva ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochi. adalah Brachionus plicatilis karena memenuhi syarat sebagai pakan alami yaitu memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, mudah dicerna, tidak beracun, mudah dikultur secara massal dan mengandung nutrisi tinggi (Brown et al. , 1997. Fulks and Main, 1. serta membutuhkan biaya yang rendah (Hawkins dan Nakamura, plicatilis membutuhkan pakan Coutteau menyatakan, fitoplankton merupakan dasar dari suatu mata rantai dalam ekosistem perairan yang dapat dimanfaatkan langsung untuk pakan Salah satu jenis fitoplankton yang digunakan dalam kegiatan budidaya perairan laut adalah Nannochloropsis oculata karena sebagai sumber makanan bernutrisi yang dibutuhkan untuk memproduksi zooplankton (Lavens and Sorgeloos, 1. mempunyai kandungan nutrisi seperti protein sebesar 38,65 persen, lemak 0,49 persen, karbohidrat 0,048 persen, dan air 60,81 persen yang penting untuk populasi pertumbuhan zooplankton (Balai Budidaya Laut Lampung. Ketersediaan N. oculata harus dalam jumlah yang cukup, tepat waktu dan berkesinambungan, namun N. oculata hidup bergantung pada musim. Hal ini menyulitkan para pembudidaya untuk memiliki stok murni Pengaruh Pemberian Nata De Nanno. oculata secara terus menerus. Ismi . menyatakan, pada musim dan kondisi tertentu kultur massal N. oculata tidak dapat tumbuh dengan baik. Perkembangan N. oculata pada musim penghujan dapat terganggu bahkan sulit tumbuh karena sangat bergantung cahaya Hal ini mendukung pembuatan Nata de Nanno yang merupakan natan . kepadatan tinggi yang diendapkan dengan menggunakan bahan kimia NaOH teknis. Nata de Nanno dapat memudahkan pembudidaya karena dapat digunakan sebagai alternatif stok untuk siklus produksi massal fitoplankton N. berikutnya dan untuk mendukung pertumbuhan populasi B. plicatilis (Balai Budidaya Laut Lampung, 2. Pembuatan Nata de Nanno dengan menggunakan bahan kimia NaOH teknis ini pertumbuhan populasi B. plicatilis sehingga perlu adanya penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Nata de Nanno dan N. oculata terhadap populasi B. Metodologi Alat-alat yang digunakan meliputi botol air mineral 1 L 24 buah, mikroskop. Sedgewich Rafter, haemocytometer, handtally counter, cover glass, tissue, pipet, pH paper, termometer, refraktometer. DO test kit, amoniak test kit aerator, dan lampu. Bahan-bahan yang digunakan meliputi oculata. plicatilis, air laut salinitas 32-34 ppt. NaOH teknis, asam sitrat 5%, alkohol, kaporit dan Na Thiosulfat. Data penelitian hasil pengamatan populasi anakan B. plicatilis dianalisa menggunakan analisis ragam (ANAVA) untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara perlakuan yang diberikan. Bila ada pengaruh perlakuan dilanjutkan uji Jarak Berganda Duncan dengan tingkat kepercayaan 95% dan selang kesalahan 5% mengetahui perbedaan antar perlakuan (Kusriningrum, 2. Prosedur Penelitian Peralatan kultur yang akan digunakan dicuci dengan detergen, bilas air tawar dan Peralatan gelas tahan panas ditutup kapas, kasa, dibungkus aluminium foil dan disterilisasi dengan autoclave suhu 121oC selama 30 menit. Peralatan selain gelas disterilkan dengan larutan kaporit 20 ppm selama 24 jam, bilas air tawar. Peralatan yang tidak memungkinkan disterilisasi dengan autoclave dan klorin dapat menggunakan alkohol 70%. Sterilisasi media kultur air laut disaring dengan filter bag dan larutan kaporit 20 ppm selama 24 jam. Pengecekan dilakukan sebelum kultur dengan Natrium Thiosulfat 10 ppm dan aerasi kuat, tujuannya adalah supaya tidak ada kaporit tersisa dalam media (Cahyaningsih dkk. , 2. Pembuatan Nata de Nanno dilakukan saat kepadatan N. oculata sebanyak 15 x 106 ind/ml. oculata yang telah dikultur massal dan siap dipanen kemudian diendapan dalam bak fiber 0,5 ton. Media kultur ditambahkan larutan flokulan NaOH teknis atau disebut soda api 100 ppm. Aerasi kuat selama 1 jam supaya soda api tercampur merata. Setelah 1 jam, aerasi dimatikan dan ditunggu selama 10-15 jam, akan terjadi proses pengendapan sempurna ditandai dengan adanya larutan hijau mengendap di dasar dan larutan bening berada di atas. Larutan bening dibuang maka akan diperoleh endapan alga N. oculata kepadatan tinggi disebut Nata de Nanno (Cahyaningsih dkk. , 2. Nata de Nanno disimpan dalam lemari pendingin . dengan suhu 7-9CC (Aliabbas, 2. Penebaran awal B. plicatilis dengan kepadatan 10 ind/ml sehingga dalam media air laut 1 L terdapat B. plicatilis sebanyak 10. Selanjutnya memasukkan B. plicatilis ke dalam media berupa botol air mineral volume 1 L, kemudian media diberi aerasi (Sutomo dkk. Nata de Nanno yang siap digunakan terlebih dahulu dilakukan pengenceran dengan penambahan air laut. Menetralkan pH dan melepaskan ikatan antar sel N. oculata pada Nata de Nanno diperlukan asam sitrat 5%. Perbandingan pemberian asam sitrat dengan NaOH teknis adalah 1:5, dosis optimal NaOH teknis 100 ppm, sedangkan asam sitrat 20 ppm yang ditambahkan sedikit demi sedikit dengan pengadukan (Balai Budidaya Laut Lampung. Nata de Nanno yang telah encer disaring kemudian dimasukkan ke dalam media air laut steril dan diaerasi, selanjutnya diberikan langsung pada B. Sebelum pemberian pakan, sebaiknya dilakukan pengeluaran media melalui sistem inlet dan outlet untuk mempertahankan jumlah air media kultur (Redjeki, 1. Lingkungan kultur mempengaruhi populasi, mendukung pertumbuhan dan perkembangan B. plicatilis, oleh karena itu Lingkungan kultur B. plicatilis yang diharapkan dalam penelitian adalah suhu antara 26-31CC, salinitas 27-33 ppt, pH 7,5-8,3 dan DO (Dissolved oxyge. atau konsentrasi oksigen terlarut 4-6,5 ppm (Cahyaningsih dkk. , 2. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. April 2013 Media pemeliharaan penelitian ini adalah air laut. Nata de Nanno dimasukkan ke dalam botol air mineral setelah bibit B. plicatilis dimasukkan dengan keadaan diberi aerasi. Perhitungan populasi B. diawali pengambilan sampel 1 ml, kemudian dilakukan penghitungan populasi dengan Sedgwick rafter. Sebelum pemakaian Sedgwick rafter dan Handtally Counter dibersihkan dan dikeringkan menggunakan tissue, kemudian sampel diteteskan menggunakan pipet tetes sampai penuh kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x. Hasil dan Pembahasan Hasil pengamatan penelitian pengaruh pemberian Nata de Nanno dan N. terhadap populasi B. plicatilis berupa data ratarata populasi B. Data tersebut diperoleh dari pengamatan populasi B. secara mikroskopik selama enam hari kultur (Lampiran 6. Data rata-rata populasi B. plicatilis dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1. bahwa hasil analisis varian (ANOVA) pada tiap perlakuan memiliki pengaruh yang berbeda nyata . <0,. terhadap pertumbuhan populasi plicatilis dengan pemberian Nata de Nanno dan N. Karena terdapat perbedaan pada tiap perlakuan maka dilakukan uji jarak berganda Duncan dengan derajat kepercayaan 0,05 untuk mengetahui perbedaan diantara semua perlakuan. Data pertumbuhan populasi B. plicatilis dengan dapat dilihat pada Tabel 1. sedangkan grafik pertumbuhan populasi B. plicatilis dapat dilihat pada Gambar 9. Berdasarkan hasil uji jarak berganda Duncan pada hari pertama populasi tertinggi diperoleh semua perlakuan, yaitu perlakuan D . individu/m. E . ,5 individu/m. B . ,25 individu/m. A . ,25 individu/m. F . individu/m. , dan C . ,5 individu/m. yang artinya tidak berbeda nyata (P>0,. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari kedua populasi tertinggi diperoleh perlakuan D . ,25 individu/m. yang berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A . individu/m. B . individu/m. C . ,5 individu/m. E . individu/m. , dan F . ,75 individu/m. Perlakuan A. E, dan F berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan B. C, dan D. Populasi terendah diperoleh perlakuan C yang berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari ketiga populasi tertinggi diperoleh perlakuan D . individu/m. yang berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A . ,75 individu/m. B . ,25 individu/m. C . ,25 individu/m. E . ,75 individu/m. , dan F . ,25 individu/m. Perlakuan A berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan B. E, dan F. Populasi terendah diperoleh perlakuan B dan C yang berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A. E dan F. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari keempat populasi tertinggi diperoleh perlakuan D . ,25 individu/m. yang berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A . individu/m. B . ,5 individu/m. C . ,5 individu/m. E . ,75 individu/m. dan F . individu/m. Perlakuan E tidak berbeda nyata (P>0,. dengan perlakuan F, namun berbeda Tabel 1. Data Rata-rata Populasi Anakan Brachionus plicatilis dengan Pemberian Nata de Nanno dan Nannochloropsis oculata Hari Pertama Hingga Hari Keenam Rata - rata Populasi Anakan Brachionus plicatilis . ndividu/m. Perlakuan Hari ke 4,25 27,75 83,75 75,75b 4,25 24,25d 69,5d 79,25d 66,25c 22,25 76,75 64,25c 17,25a 79,25a 98,5a 86,25a 34,75 75,75 77,5b 13,75b 33,25b 93,25b 76,25b Keterangan: Superskrip berbeda dalam satu kolom menunjukkan perbedaan yang nyata . <0,. Perlakuan A : pemberian Nata de Nanno 5x109 sel/L N. Perlakuan B : pemberian Nata de Nanno 4x109 sel/L N. Perlakuan C : pemberian Nata de Nanno 3x109 sel/L N. Perlakuan D : pemberian N. oculata 5x109 sel/L Perlakuan E : pemberian N. oculata 4x109 sel/L Perlakuan F : pemberian N. oculata 3x109 sel/L Pengaruh Pemberian Nata De Nanno. Gambar 1. Grafik Pengaruh Pemberian Nata de Nanno dan N. oculata terhadap Populasi B. nyata (P<0,. dengan perlakuan A. C, dan Perlakuan C berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A. E dan F. Populasi terendah diperoleh perlakuan B dan C yang berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A. E, dan Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari kelima populasi tertinggi diperoleh perlakuan D . ,5 individu/m. yang berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A . ,75 individu/m. B . ,25 individu/m. C . ,75 individu/m. E . ,5 individu/m. , dan F . ,5 individu/m. Perlakuan E dan F berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A. C, dan D. Perlakuan A berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan B. E dan F. Populasi terendah diperoleh perlakuan B dan C yang berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A. E dan F. Hasil uji jarak berganda Duncan pada hari keenam populasi tertinggi diperoleh perlakuan D . ,25 individu/m. berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan A . ,75 individu/m. B . ,25 individu/m. C . ,25 individu/m. E . ,5 individu/m. , dan F . ,25 individu/m. Perlakuan A. E, dan F berbeda nyata (P<0,. dengan perlakuan B. C, dan D. Populasi terendah diperoleh perlakuan B dan C yang berbeda nyata (P<0,. dengan A. E, dan F. Berdasarkan Gambar 1. dapat diketahui puncak populasi B. plicatilis tertinggi dicapai pada hari ke lima pada perlakuan D dengan populasi sebanyak 98,5 individu/ml, sedangkan puncak populasi B. plicatilis terendah terdapat pada perlakuan C dengan populasi 76,75 individu/ml. Fase adaptasi terjadi pada hari pertama hingga hari ketiga yang ditunjukkan dengan jumlah populasi B. plicatilis yang relatif kecil pada semua perlakuan. Fase eksponensial terjadi pada hari keempat dan kelima karena pada semua perlakuan jumlah populasi B. plicatilis relatif besar. Fase deklinasi atau kematian karena adanya penurunan jumlah populasi B. plicatilis terjadi pada hari keenam. Data kualitas air menunjukkan bahwa nilai suhu lingkungan media kultur berkisar antara 27-31AC, salinitas media kultur 31 ppt, pH media kultur 7. DO (Dissolved oxyge. atau kadar oksigen terlarut pada awal, pertengahan dan akhir penilitian 5-8 mg/L dan kadar amoniak pada awal, pertengahan dan akhir penilitian 0-0,25 mg/L. plicatilis bersifat filter feeder yaitu menyaring makanannya berupa partikel-partikel dari media tempat hidupnya. membutuhkan pakan fitoplankton berupa N. Kendala penggunaan pakan N. tidak dapat diberikan berkesinambungan karena oculata hidup bergantung musim. Hal ini mendukung pembuatan Nata de Nanno yang merupakan natan . kepadatan tinggi yang diendapkan dengan bahan kimia NaOH teknis dan dapat disimpan selama satu minggu. Penggunaan Nata de Nanno dapat digunakan secara optimal tidak melebihi waktu penyimpanan selama satu Hal tersebut diduga adanya pengaruh bahan kimia yang digunakan pada saat pembuatan Nata de Nanno sehingga dapat disimpan (Sumiarsa, 2. Berdasarkan Gambar 1. dapat diketahui bahwa selama masa pemeliharaan enam hari puncak populasi B. plicatilis tertinggi dicapai hari ke lima pada perlakuan pemberian pakan N. oculata konsentrasi 5x109 sel/L dengan populasi sebanyak 98,5 individu/ml, sedangkan puncak populasi B. plicatilis terendah pada perlakuan pemberian pakan Nata de Nanno konsentrasi 3x109 sel/L dengan populasi 76,75 individu/ml. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. April 2013 Selama masa pemeliharaan dapat diketahui bahwa pada setiap hari puncak populasi tertinggi didominasi perlakuan pemberian pakan oculata konsentrasi 5x109 sel/L dengan populasi sebanyak 98,5 individu/ml, sedangkan puncak populasi B. plicatilis terendah didominasi perlakuan pemberian pakan Nata de Nanno konsentrasi 3x109 sel/L dengan populasi 76,75 individu/ml. Perlakuan pemberian pakan N. konsentrasi 5x109 sel/L menghasilkan populasi anakan B. plicatilis tertinggi pada hari kelima dengan populasi anakan 98,5 individu/ml. Perlakuan ini menggunakan pakan N. mendukung pertumbuhan secara optimal dan diberikan secara langsung kepada B. plicatilis memakan pakan bergerak lambat seperti N. oculata (Balai Budidaya Laut Lampung, perkembangan B. plicatilis dipengaruhi oleh ketersediaan pakan (Redjeki, 1. Populasi anakan B. plicatilis terendah pada perlakuan pemberian pakan Nata de Nanno dengan konsentrasi 3x109 sel/L menghasilkan populasi anakan 76,75 individu/ml pada hari ke Hal ini diduga pada perlakuan pemberian pakan Nata de Nanno ini belum mencukupi kebutuhan nutrisi dan belum optimal mendukung pertumbuhan B. Nata de Nanno sebanyak 250 ml memiliki kandungan nutrisi berupa protein 36,12 persen, lemak 0,03 persen, karbohidrat 0,255 persen, dan air 63,69 persen sedangkan kandungan nutrisi N. berupa protein sebesar 38,65 persen, lemak 0,49 persen, karbohidrat 0,048 persen, dan air 60,81 persen (Balai Budidaya Laut Lampung, 2. Hal tersebut di atas menjelaskan bahwa nilai nutrisi Nata de Nanno lebih rendah dibandingkan dengan N. Terbentuknya natan bentuk gel Nata de Nanno dari N. disebabkan reaksi dinding sel yang tersusun atas selulosa dengan NaOH teknis pada pH tinggi mencapai 10 (Anindiastuti et al. , 2. Selulosa merupakan bentuk polisakarida sebagai fotosintesis dari N. Struktur rantai selulosa terikat satu sama lain yang menyebabkan struktur selulosa linier. Gugus OH dapat mengikat air (H-OH) atau gugus O lain pada rantai selulosa. Kemampuan membentuk ikatan hidrogen ini banyak memegang peranan penting dalam pembuatan Suatu gel dapat dipengaruhi oleh komponen yang ditambahkan seperti pH dalam suasana Struktur gel sangat besar dipengaruhi oleh (Hermanson, 1. Nata de Nanno yang telah mengalami proses penyimpanan menghasilkan sel-sel N. oculata yang rusak, karena adanya kenaikan nilai pH media mengakibatkan penurunan jumlah sel sehat saat pembuatan Nata de Nanno dengan pH melebihi batas toleransi yaitu 10 (Muliono, 2. Kondisi normal N. oculata tumbuh optimal pada kisaran pH 7-8 (Cahyaningsih dkk. , 2. Hal ini diduga dapat mengurangi nilai nutrisi pakan sehingga tidak mampu menghasilkan sumber energi untuk proses reproduksi aseksual B. plicatilis sehingga tidak menghasilkan populasi anakan secara optimal (Suprayudi, 2. Bahan-bahan kimia pada pakan Nata de Nanno merupakan bahan anorganik NaOH teknis mengakibatkan pH basa pada media, sedangkan bahan organik asam sitrat mengakibatkan pH asam pada media. Penambahan asam sitrat pada proses pengenceran Nata de Nanno supaya pH media menjadi netral. Pengunaan asam sitrat baik dalam menjaga kestabilan pH, karena mengakibatkan penambahan ion H dalam media sehingga menetralkan pH media (Triyono, 2. Bahan-bahan kimia tersebut dalam penelitian ini tidak berbahaya dan tidak mencemari media hidup B. plicatilis karena selama pemeliharaan B. plicatilis menghasilkan anakan betina dengan jumlah populasi meningkat dan tidak ditemukan anakan jantan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Marcial et . yang menyatakan, anakan jantan B. plicatilis dapat digunakan sebagai indikator lingkungan tercemar. Fase pertumbuhan populasi B. dengan pemberian pakan Nata de Nanno dan oculata terbagi atas tiga fase yaitu : Fase adaptasi terjadi pada hari pertama hingga hari ketiga dengan jumlah populasi B. plicatilis yang relatif kecil pada semua perlakuan. Fase eksponensial pada hari keempat dan kelima karena pada semua perlakuan jumlah populasi plicatilis relatif besar. Fase deklinasi atau kematian karena adanya penurunan jumlah populasi B. plicatilis terjadi pada hari keenam. Fase dalam penelitian ini sesuai pendapat Hutagalung dkk. yang menyatakan, pertumbuhan B. plicatilis membentuk 3 fase yaitu: fase adaptasi, fase eksponensial, dan fase deklinasi atau kematian. Pertumbuhan B. plicatilis selain dipengaruhi oleh ketersediaan pakan juga dipengaruhi faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, pH. DO (Dissolved oxyge. atau konsentrasi oksigen terlarut, kadar amoniak, dan bahan kimia dalam media pemeliharaan. Suhu dalam penelitian ini 26-32AC sesuai pendapat Isnansetyo dan Kurniastuty . yang Pengaruh Pemberian Nata De Nanno. menyatakan, suhu optimum untuk pertumbuhan dan populasi B. plicatilis antara 22-35AC. Salinitas dalam penelitian ini adalah 32 ppt sesuai pendapat Isnansetyo dan Kurniastuty . yang menyatakan, salinitas optimum pada media pemeliharaan B. plicatilis adalah 10-35 ppt. Salinitas dapat membantu B. plicatilis mempertahankan tekanan osmotik supaya populasi dapat optimal (Martosudarmo. Nilai pH dalam penelitian ini adalah 7 sesuai pendapat Redjeki . yang menyatakan, untuk populasi B. plicatilis pH optimum berkisar antara 7-8. Kadar oksigen terlarut atau DO (Dissolved oxyge. adalah 5-7 sesuai pendapat Balai Budidaya Lampung . yang menyatakan, untuk pertumbuhan populasi B. plicatilis kadar DO (Dissolved oxyge. atau konsentrasi oksigen terlarut optimum berkisar antara 2-7 mg/L. Kadar konsentrasi amoniak dalam penelitian ini adalah 0-0,25 mg/L sesuai pendapat Yunus . yang menyatakan, untuk pertumbuhan populasi plicatilis kadar konsentrasi amoniak optimum tidak melebihi 0,1 mg/L. Data kualitas air di atas dapat disimpulkan bahwa nilai suhu, salinitas, pH. DO (Dissolved oxyge. atau konsentrasi oksigen terlarut, dan bahan kimia masih dalam kondisi yang baik untuk pertumbuhan populasi B. Kadar konsentrasi amoniak pada hari keenam dalam kondisi yang kurang optimal yaitu 0,25 mg/L, sedangkan batas optimum kadar amoniak untuk pertumbuhan B. tidak melebihi dari 0,1 mg/L (Yunus, 1. Hartanto dkk. menyatakan, amoniak dapat menyebabkan pertumbuhan B. menjadi lambat. Kesimpulan Pemberian Nata de Nanno dan oculata sebagai pakan dalam media kultur berpengaruh terhadap populasi anakan B. Perlakuan pemberian pakan berupa N. oculata 5x109 sel/L menghasilkan populasi anakan B. plicatilis tertinggi sebanyak 98,5 individu/ml. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan menggunakan pakan berupa oculata untuk kultur B. plicatilis supaya menghasilkan pertumbuhan populasi anakan B. plicatilis yang tinggi. Daftar Pustaka