Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Identifikasi Faktor Kerusakan Naskah Kuno Di Situs Gandoang Desa Wanasigra Kabupaten Ciamis Dewi Fitriyanti. Ute Lies Khadijah. Elnovani Lusiana Universitas Padjadjaran dewi19007@mail. ABSTRACT Ancient manuscripts are objects of cultural heritage that need to be preserved. Preservation efforts have been made to protect the heritage of the ancestors. The cause of damage to ancient manuscripts today is due to the age of manuscripts that have lasted for hundreds of years. That is one of the causes of ancient manuscripts being damaged compared to other cultural artifacts. This article aims to identify the cause of damage to the ancient manuscripts at the Gandoang Wanasigra Site. This research method uses a qualitative approach with descriptive research. The results of this study suggest that there are several damaging factors in ancient manuscripts, including. storage and climatic factors, . light factors, . chemical factors, . biota factors, . and disaster In conclusion, ancient manuscripts require good care and according to preservation standards in order to last longer. Keywords: Ancient Manuscripts. Preservation. Preservation. Cultural Heritage ABSTRAK Naskah kuno merupakan benda cagar budaya yang perlu untuk dilestarikan. Upaya pelestarian telah dilakukan untuk menjaga warisan dari para leluhur. Penyebab kerusakan pada naskah kuno saat ini dikarenakan oleh usia naskah yang telah berlatahan selama ratusan tahuan. Itulah slah satu penyebab naskah kuno menjadi rentan rusak dibandingkan dengan benda caar budaya Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyeba kerusakan pada naskah kuno yang ada di Situs Gandoang Wanasigra. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor perusak pada nskah kuno, antara lain. tempat penyimpanan dan faktor iklim, . faktor cahaya, . faktor kimia, . faktor biota, . dan faktor bencana. Kesimpulannya naskah kuno memerlukan perawatan yang baik dan sesuai standar pelestarian agar dapat bertahan lebih lama. Kata Kunci: Naskah Kuno. Pelestarian. Preservasi. Warisan Budaya Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 PENDAHULUAN Naskah kuno merupakan salah satu bentuk dari peninggalan sejarah yang sangat penting karena berisi mengenai informasi mengenai budaya pada masa lampau. Naskah kuno merupakan salah satu dokumen yang wajib untuk dilakukan pelestarian karena isi dari naskah kuno merupakan hasil dari intelektual manusia yang wajib untuk diabadikan sebagai pengingat di masa Naskah kuno termasuk kedalam salah satu benda cagar budaya yang tercantum dalam UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 sebagai pengganti dari UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992. Undang-undang ini menjelasskan bahwa cagar budaya adalah warisan budaya yang sifatnya kebendaan yang perlu dilesatarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan, sjarah, agama, pendidikan dan kebudayaan melalui pross penetapan(Au 11 Tahun 2010,Ay 2. Pelestarian terhadap naskah kuno wajib untuk dilakukan mengingat naskah kuno merupakan kekayaan berharga, warisan budaya yang dimiliki oleh suatu negara. Sebagai warga negara yang memahami akan pentingnya pelestarian naskah kuno, maka kita berperan penting dalam menjaga warisan budaya manusia terdahulu yang kemudian menjadi bentuk peninggalan untuk masa yang akan datang. Pelestarian ini dilakukan untuk menjaga naskah kuno agar tetap ada sampai nanti, jika dilihat dari berbagai aspek, maka nahkah kuno merupakan naskah atau dokumen yang sudah tua dan mudah rusak karena termakan usia. Oleh karena itu akan sulit untuk bertahan lama jika tidak dirawat dan dilestarikan. Preservasi atau pelestarian pada naskah kuno hakikatnya merupakan sebuah upaya pencegahan kerusakan dan pemeliharaan untuk naskah kuno. Menurut Yunus . hakekat dari preservasi naskah kuno adalah sebuah upaya untuk mempertahankan sumber informasi atau pelestarian naskah kuno berarti berbagai action atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang, organisasi, pemerintah maupun masyarakat dalam memelihara, mencegah, dan juga unruk mengawetkan naskah kuno (Winoto, 2. Penyebaran naskah kuno yang ada di Indonesia terdapat di beberapa Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 daerah, salah satunya adalah di Kabupaten Ciamis. Naskah kuno ini tersebar di berbagai daerah, termasuk didalamnya adalah di daerah Situs Gandoang Desa Wanasigra. Agar nilai yang tersimpan dalam naskah-nakah kuno ini dapat dipahami oleh sebanyak mungkin orang, manuskrip ini seyogyanya dapat disimpan di suatu tempat yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat walaupun bukan dalam bentuk asli sehingga bentuk pengetahuan yang disimpan masih bisa digunakan oleh masyarakat terutama masyarakat yang berkaitan dengan budaya dan pengetahuan lokal. Sehingga manuskrip berharga ini dapat diakses oleh sebanyak mungkin oleh warga Indonesia. Masyarakat memang masih banyak yang menganggap bahwa naskah kuno merupakan sebuah benda keramat, maka banyak naskah kuno yang Naskah kuno masih disimpan tanpa dirawat dengan baik sehingga beberapa naskah kuno rapuh, menempel satu sama lain sehingga sulit dibuka dan naskah kuno sudah tidak utuh lagi (Siti Khadijah et al. , 2. Oleh karena itu akan sulit untuk melakukan analisis terhadap tingkat kerusakan naskah kuno. Naskah kuno Daluang adalah salah satu naskah kuno yang terdapat di Situs Gandoang Kabupaten Ciamis yang saat ini masih ada. Naskah kuno ini dianggap sebagai benda peninggalan zaman terdahulu yang ditulis oleh leluhur mereka dan disimpan di salah satu penjaga situs. Naskah ini sebenarnya telah menarik perhatian para peneliti yang menginginkan informasi terkait kandungan naskah tersebut, akan tetapi dalam pengelolaan untuk pelestariannya masih kurang. Dilihat dari beberapa halaman yang terdapat pada naskah kuno bolong dan warna pada kertas menjadi coklat. Sehingga tulisan dalam naskah sudah tidak lengkap lagi. Hal ini disebabkan oleh penyimpan naskah yang masih kurang memahami dan kurang memperoleh informasi mengenai penanganan yang baik pada naskah kuno Komponen naskah kuno yang terdiri dari kertas, tinta, dan bahan-bahan untuk melakukan penjilidan biasanya menggunakan kertas daluang dan bahan alami lainnya. Akan tetapi pada Naskah Daluang Wanasigra ini telah Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 dilakukan penjilidan ulang yang terdiri dari bahan seperti kertas karton, benang, paku, tekstil, perekat yang pada dasarnya mengandung asam (Fatmawati, 2. Naskah kuno selayaknya berisi mengenai pengalaman pribadi dari penulisnya yang hampir sama dengan sebuah karya sastra yang pengaruhnya berasal dari perkembangan sastra pada zaman tersebut (Sahidi. Akan tetapi naskah kuno yang berada di Situs Gandoang berisi shalawat dan mantra untuk keselamatan. Oleh karena itu, pentingnya menjaga kelestarian naskah kuno tersebut mengingat isi yang ada di dalam naskah kuno adalah pelajaran dalam jangka panjang. Naskah Akan tetapi pada kenyataannya di Situs Gandoang Wanasigra, penyimpan naskah banyak yang masih kurang untuk memperoleh informasi mengenai cara merawat dan memperlakukan naskah kuno dengan benar dan Pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, naskah kuno yang ada di Situs Gandoang Wanasigra ini akan mengalami beberapa kerusakan. Penelitian serupa mengenai identifikasi kerusakan pada naskah kuno telah dilakukan oleh Ute Lies Khadijah dkk dengan judul AuIdentifikasi Faktor Perusak Pada Naskah Kuno di Situs Kabuyutan Ciburuy GarutAy. Dalam kajiannya. Ute mengatakan jika salah satu penyebab kerusakan pada naskah kuno disebabkan oleh pengetahuan masyarakat yang masih dalam tingkatan kurang baik dan menganggap bahwa naskah kuno merupakan benda keramat sehingga masyarakat sekitar masih belum terbuka mengenai naskah kuno yang dimilikinya (Khadijah et al. , 2. Penelitian mengenai identifikasi pada naskah kuno tidak hanya dilakukan oleh bidang keilmuan perpustakaan, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Ilham Falahudin Mahasiswa prodi Biologi dari UIN Raden Fatah Palembang berjudul AuIdentifikasi Serangga Dan Faktor Abiotik Perusak Naskah Kuno Sebagai Upaya Pelestarian Budaya PalembangAy. Hasil dari penelitian ini adalah jenis dan bentuk kerusakan pada naskah kuno Palembang ada dua terbentuknya lubang pada naskah dengan cara menggerek oleh kumbang. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 tinta yang digunakan lapuk karena zat kimia, rusak dimakan oleh rayap, terdapat bercak hitam karena kotoran kecoa, dan bercak putih dan keabuabuan karena jamur yang tumbuh pada kertas naskah tersebut. Sebesar 80% presentase kerusakan pada naskah kuno jika dilihat secara kuantitatif naskah rusak yang disebabkan oleh serangga dan biota jamur. Faktor-faktor yang ditemukan penyebab kerusakan pada naskah kuno di Palembang antara pemilik naskah kuno secara lembaga dan pribadi berbeda. Secara umum faktor yang menyebabkan kerusakan pada naskah faktor fisik yaitu suhu ruangan, kelembaban, cahaya, tempat penyimpanan, sedangkan faktor kimia yaitu pH kertas, tinta yang kuat dan sifat acis menyebabkan kertas seperti terbakar, air (Falahudin, 2. Kondisi naskah kuno di Situs Gandoang telah mengalami beberapa kerusakan yang disebabkan oleh banyak hal. Pentingnya penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang mengakibatkan kerusakan naskah kuno di Situs Gandoang Wanasigra. Kerusakan pada naskah kuno bisa disebabkan oleh apa saja. Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu untuk menjadi acuan dan referensi terhdap faktor-faktor penyebab kerusakan pada naskah kuno di Situs Gandoang Wanasigra. METODE Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelitian deskriptif. Menurut Sugiyono . , penelitian deskriptif adalah instrumen kunci yang ditempatkan dalam penelitian adalah peneliti itu Peneliti mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan faktor perusak pada naskah kuno di Situs Gandoan. Peneliti juga melakukan pengkajian dan mengamati berbagai hal yang berkaitan dengan naskah kuno yang terdapat di Situs Gandoang. Objek pada penelitian ini naskah kuno yang ada di Situs Gandoang Wanasigra dengan subjek penelitian atau informan yang menjadi acuan peneliti adalah pemegang naskah kuno/kuncen Situs Gandoang Wanasigra. Pemilihan informan pada penelitian ini didasarkan menggunakan purposive sampling yaitu menentukan informan sesuai dengan kriteria penelitian. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan melakukan observasi, wawancara dan melakukan studi literatur. Peneliti melakukan observasi untuk melihat berbagai gejala, proses kerja, dan keadaan perawatan pada naskah kuno sehingga mengalami kerusakan. Observasi dilakukan dengan berkunjung ke Situs Gandoang Wanasigra. Selanjutnya peneliti melakukan wawancara yang dilaksanakan secara semi terstrukstur pada setiap kesempatan untuk bertemu denga pemegang naskah kuno tersebut. Wawancara berupa pertanyaan yang berkaitan dengan cara perawatan nasskah kuno, dan akibat dari rusaknya pada naskah kuno. Pertanyaan wawancara dilakukan secara spontan untuk memberikan kesan secara santai pada informan. Selain itu, peneliti melakukan kegiatan studi literatur untuk menambah wawasan dan kelengkapan pada penelitian ini, memperkaya teori, pengetahuan dan juga menambah literatur ilmiah yang berkaitan dengan topik Adapun teknik analisis data pada penelitian ini adalah dengan melalui triangulasi sumber data, yaitu melakukan peneliti konfirmasi data yang sudah didapatkan dari hasil wawancara, observasi, dan dokumen pendukung yang berkaitan dengan naskah kuno yang ada di Situs Gandoang Wanasigra. Seperti yang dikemukakan oleh sugiyono bahwa triangulasi sumber data adalah menguji kembali kebenaran informasi tertentu dengan berbagai sumber data, contohnya dokumen, hasil wawancara, dan hasil observasi (Sugiyono, 2. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Situs Gandoang Wanasigra Situs Gandoang merupakan komplek makam kuno yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Situs ini berupa kawasan hutan yang di dalamnya terdapat makam leluhur mereka yakni Syekh Padamatan. Lokasinya berada di Dusun Cipeucang Desa Wanasigra Kecamatan Sindangkasih Kabupaten Ciamis. Jawa Barat. Situs Gandoang ini terletak jauh dari pemukiman masyarakat dengan adanya sebuah jalan kecil untuk menuju ke situs ini. Ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan saat mengunjungi kawasan ini, diantaranya dilarang memakai sandal saat memasuki kawasan situs Gandoang, menebang pepohonan ataupun berburu hewan di kawasan situs Gandoang, berkata tidak sopan, mengotori area situs Gandoang dan larangan merusak atau memindahkan benda-benda yang ada di situs Gandoang (Azizzah, 2. Beberapa peninggalan arkeologis yang ada di Situs Gandoang ini yang pertama adalah Naskah Tambaga Wanasigra. Yaitu sebuah naskah berupa piagam dengan berbahan lempengan logam tembaga berwarna kuning berbentuk persegi panjang. Sedangkan naskah yang kedua adalah Naskah Kabuyutan Gandoang, yaitu naskah kuno yang terbuat dari kertas daluwang yang sudah berwarna coklat kehitaman. Selain naskah, di Situs Gandoang juga terdapat tombak, keris dan makam . akam Syeh Padamatang, makam Mas Jasidin, makam Eyang Bodas, makam santri kesayangan Syeh Padamatan. Gambar 1. Naskah Tembaga Wanasigra Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 Pertama. Naskah Tembaga Wanasigra. Naskah Tembaga Wanasigra yaitu sebuah naskah yang ditemukan di Wanasigra berupa piagam dengan berbahan logam lempengan tembaga yang berwarna kuning berbentuk persegi berukuran naskah 28 cm x 5 cm x 0,2 cm. Ruang tulisan 26 x 3,5 Menggunakan bahasa Jawa Kuno ditulis dalam aksara cacarakan bentuk karangan prosa terdapat tulisan hurufnya ditulis bolak balik dengan cara digurat dengan memakai jara. Kondisi keadaan naskah fisik sudah tidak utuh lagi, logam tersebut telah terbagi dua karena patah. Akan tetapi tembaga ini sudah dilakukan konservasi dan sekarang tersimpan di Museum Sri Baduga Bandung. Naskah teks replikanya masih tersimpan di Desa Wanasigra yang ditujukan sebagai pengingat sejarah yang telah ada dan menjaga peninggalan warisan budaya masa lalu dari leluhur. Kondisi replika naskah tembaga ini dibuat sama persis dengan aslinya, oleh sebab itu perlu dilestarikan supaya tetap ada dan tidak rusak. Kondisi reflika yang ada di Wanasigra ini mengalami kerusakan karena tidak adanya tingkat pemahaman yang baik dari pemegang naskah dan bahan yang digunakan pada replika ini cenderung mudah rusah dan tidak bertahan lama. Sehingga memerlukan perawatan khusus untuk menjaga pelestarian naskah ini agar dapat digunakan dengan baik. Gambar 2. Naskah Daluang Wanasigra Kedua. Naskah Daluang Wanasigra. Naskah ini terbuat dari Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 daluang yang sudah berwarna coklat kehitaman. Kondisi kertasnya sudah rusak, beberapa halaman baik dibagian depan, tengah, maupun akhir terlihat banyak berlubang karena termakan ngengat. Ada beberapa halaman yang robek, tulisan agak samar dan ngeblur. Jika dilihat dari ketebalan tinta dan bentuk karakter aksara yang digunakan dalam penulisan teks. Naskah Daluang Wanasigra ini sepertinya tidak ditulis oleh satu orang. Bahasa yang digunakan dalam teks Naskah Daluang Wanasigra adalah Bahasa Jawa, dan aksara yang digunakan adalah Aksara Jawa . Naskah Daluang Wanasigra yang berisi 36 halaman itu tidak hanya memuat mengenai sejarah, akan tetapi berisi shalawat kepada Nabi beserta runtutan silsilah Nabi dan berisi jimat atau bacaan untuk keselamatan. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa pentingnya kesadaran masyarakat serta pemerintah dalam menangani pelestarian naskah kuno yang menjadi warisan Naskah kuno yang tersimpan di Situs Gandoang Wanasigra mengalami kerusakan akibat termakan usia dan belum adanya tindakan perawatan yang Tingkat kerusakanya pun berbeda-beda jika dilihat dari media yang digunakan pada naskah. Kerusakan pada naskah disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pegaruh dari fisika, kimia, biologi, biota lingkungan dan penanganan yang salah oleh manusia (Fatmawati, 2. Jika tidak kandungan dan isi dari naskah tersebut tidak akan diketahui dan akan hancur di masa mendatang. Tabel 1. Kondisi Naskah Kuno di Situs Gandoang Naskah Kondisi Naskah NaskahTembaga Wanasigra Naskah Wanasigra Daluang Kondisi pemudaran pada tulisannya sehingga sudah tidak mirip dengan naskah aslinya. Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan pada pembuatan replika tidak bagus. Kondisi naskah daluang sudah rusak, kertasnya sudah berwarna coklat kehitaman, beberapa halaman dibagian depan, tenagah dan Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 akhir banyak berlubang, ada halaman yang robek dan tulisannya sudah agak samar dan Naskah kuno di Situs Gandoang Desa Wanasigra dikelola dan dirawat oleh keturunan para pemegang naskah terdahulu guna melestarikan bentuk fisik aslinya. Pelestarian yang dilakukan oleh pemegang naskah sejauh ini adalah dengan cara diasapkan diatas kemenyan setiap satu tahun sekali dalam upacara adat masyarakat setempat yang biasa disebut dengan upacara adat Merlawu dan disimpan pada kotak tradisional. Upaya ini ditujukan untuk mencegah adanya serangga dan hewan yang ada di dalam naskah. Disamping Naskah Tembaga Wanasigra yang sudah dimuseumkan. Naskah Daluang Wanasigra ini telah dilakukan tindakan laminasi dan penjilidan pada tahun 1995 dan tahun 1996 telah dilakukan alih bahasa oleh sebuah komunitas Selain itu, pemegang naskah melakukan pembatasan akses terhadap naskah kuno untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Identifikasi Faktor Kerusakan Pada Naskah Kuno di Situs Gandoang Wanasigra Pada dasarnya kerusakan pada naskah kuno yang utama adalah karena termakan oleh usia. Selain itu tempat penyimpanan dan bagaimana naskah itu disimpan mempengaruhi kerusakan pada naskah. Kerusakan pada naskah dapat disebabkan oleh macam-macam faktor perusak, diantaranya adalah faktor tempat penyimpanan dan iklim, faktor cahaya, faktor biota, faktor kimia, dan faktor bencana. Tempat penyimpanan dan faktor iklim Tempat penyimpanan pada naskah kuno mempengaruhi pada tingkat kerusakan naskah (Khadijah et al. , 2. Sebab, tempat menjadi sarana pelindung yang paling dibutuhkan oleh naskah kuno. Tempat penyimpanan juga harus sesuai dengan kebutuhan naskah kuno, baik dari segi ruangnya dan bahan yang digunakan. Tempat penyimpanan naskah kuno di Situs Gandoang berada di rumah pemegang naskah. Naskah disimpan pada peti segi Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 panjang kecil dan hanya muat untuk menyimpan kedua naskah tersebut. Tidak ada sekat dan penghalang untuk meminimalisir kerusakan pada kedua naskah tersebut. Gambar 3. Tempat Penyimpanan Naskah Iklim lingkungan tempat penyimpanan naskah kuno juga harus diperhatikan,hal itu dikarenakan iklim merupakan penyebab yang sangat berpengaruh pada kerusakan naskah kuno jika iklim tersebut tidak seimbang. Tempat penyimpanan naskah yang berada di rumah pemegang naskah yang terdapat tidak jauh dari Situs Gandoang. Pembagian tipe iklim menurut Schmidt Ferguson berdasarkan pengamatan curah hujan selama sepuluh tahun terakhir, sebagian besar kecamatan di Kabupaten Ciamis umumnya beriklim tipe C . gak basa. Keadaan suhu udara berkisar antara 200 C sampai dengan 300 C dengan rata-rata curah hujan sebesar 2. 022 mm/tahun, dengan rata-rata hari hujan 125 hari. Menurut Pulus dalam (Aghisni et al. bahawa pengendalian lingkungan sangat berpengaruh terhadap kerusakan pada naskah, perubahan suhu yang tidak optimal dapat menyebabkan kerusakan pada naskah lebih cepat. Faktor cahaya Cahaya matahari langsung harus dihindarkan dari bentuk fisik naskah kuno untuk menghindari kerusakan. Naskah kuno di Situs Gandoang yang disimpan di rumah pemegang naskah dan disimpan di dalam kamar tidak mendapatkan paparan sinar mataharoi yang cukup dan menjadikan ruangan menjadi lembab, akan tetapi dengan adanya penerangan yang bersumber dari Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 lampu bisa menjaga naskah tetap hangat. Namun penerangan ini tidak dikhususkan untuk naskah kuno akan tetapi untuk satu ruangan dan hanya dinyalakan pada malam hari saja. Faktor biota Didalam naskah kuno terdapat ratusan jenis biota khususnya serangga hidup dengan sumber makanan biota karena makanan utamanya adalah zatzat yang ada di dalam kertas. Serangga dan jamur termasuk kedalam jenis biota yang menjadi faktor kerusakan pada naskah kuno. Kondisi geografis Situs Gandoang yang lembab serta struktur penyimpanan naskah. Fakor biota menjadi salah satu faktor kerusakan naskah kuno. Tempat penyimpanan yang tidak memadai dan terbuat dari anyaman sangat rentan terkena oleh jamur dan serangga. Faktor kimia Naskah kuno di Situs Gandoang disimpan dalam peti beserta bendabenda peninggalan lainnya yang unsurnya berbeda. Salah satu penyebab kerusakan naskah kuno di Situs Gandoang bisa terjadi karena beberapa faktor kimia, meliputi penyimpanan yang disatukan dengan unsur besi, hasil pembakaran kemenyan dan sentuhan secara langsung pada naskah. Faktor bencana Penyebab umum yang dapat merusak naskah adalah karena faktor bencana, baik bencana alam atau bencana yang disebabkan karena kelalaian oleh manusia. Naskah kuno yang disimpan di rumah pemegang naskah dapat mengalami kerusakan apabila terjadinya kebakaran, banjir dan tidak adanya kehati-hatian dalam memelihara naskah. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 PENUTUP Simpulan Adanya naskah kuno yang terdapat di Situs Gandoang Wanasigra masih memerlukan tindakan pelestarian yang sangat intensif untuk menyelamatkan bentuk fisik dari naskah tersebut. Kurangnya pengetahuan masyarakat dalam pemeliharaan naskah kuno menjadi salah satu penyebab kerusakannya disamping masyarakat yang masih menganggap naskah kuno sebagai benda keramat dan tidak boleh diubah oleh siapapun kecuali para pemegang naskah. Penyebab kerusakan naskah kuno ini diantaranya disebabkan oleh faktor iklim, tempat penyimpanannya, faktor biota, faktor cahaya, dan faktor Kegiatan untuk bersama-sama membangun pengetahuan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk tetap menjaga kelestarian naskah kuno. Transferr pengetahuan ini biasanya dilakukan pada kegiatan yang melibatkan banyak masyarakat. Salah satunya adalah pada upacara merlawu. Berkaitan dengan peran dari setiap elemen masyarakat dan pemerintah dalam upaya pelestarian naskah kuno ini masih belum optimal dan maksimal, hal ini dilihat dari banyaknya kerusakan yang ada pada naskah kuno dan kurangnya pengetahuan yang diketahui oleh masyarakat. Saran Saran yang dapat penulis berikan untuk pihak terkait adalah sebaikmya naskah kuno yang ada diperhatikan lagi tempat penyimpanannya. Mengingat banyaknya orang yang tertarik pada naskah kuno mungkin akan menjadi perhatian lebihdari pihak pemerintah dalam pelestarian naskah kuno Selain itu diharapkan masyarakat mampu untuk memperlajari pengetahuan yang baik mengenai pelestarian ini. Iqra: Jurnal Perpustakaan Dan Informasi Volume 17 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: 1979-7737 E-ISSN: 2442-8175 DAFTAR PUSTAKA