JOURNAL OF EDUCATIONAL REVIEW AND RESEARCH Vol. 8 No. December 2025. Page: 112 Ae 122 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Penerapan Problem Based Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Tanggung Jawab Belajar Peserta Didik Kelas XI Eri Yanti Nopi Eling 1. Bistari Basyuni 2. Shilmy Purnama 3. Sulistyarini 4. Tri Utami 5 Universitas Tanjungpura. Pontianak. Indonesia 1,2,3,4,5 eriyantinopieling@gmail. com1, bistari. bs@gmail. com2, shilmypurnama@fkip. id 3, sulistyarini051@gmail. com 4, tri. utami@fkip. Keywords : Problem Based Learning. Keaktifan. Tanggung Jawab ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keaktifan dan tanggung jawab belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas XI A SMA Negeri 1 Menjalin. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas satu pertemuan. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 25 peserta didik. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang diisi oleh observer selama proses pembelajaran Adapun 7 indikator keaktifan belajar yang digunakan dalam penelitian ini yaitu . Peserta didik memperhatikan penjelasan guru saat pembelajaran, . Peserta didik mampu mengajukan pertanyaan, . Peserta didik merespon pertanyaan dari guru maupun teman sebaya, . berdiskusi dalam kelompok, . mencatat rangkuman materi pelajaran, . menyampaikan ide, dan . masing-masing mempresentasikan hasil kerja Adapun 3 indikator tanggung jawab belajar yaitu . Mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah dengan baik dan sesuai, . Menyelesaikan tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan, . Mengerjakan tugas kelompok secara bersama-sama. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan keaktifan belajar peserta didik, dari 20% pada kondisi awal menjadi 77% pada siklus I, dan meningkat menjadi 79% pada siklus II. Sementara itu, tanggung jawab belajar juga mengalami peningkatan dari 32% pada kondisi awal menjadi 82% siklus I, dan mencapai 95% pada siklus II. Temuan ini menunjukan bahwa Model PBL efektif dalam mendorong keaktifan dan sikap tanggung jawab belajar peserta didik dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Kesimpulannya, penerapan model Problem Based Learning memiliki potensi sebagai strategi pembelajaran yang mampu mendorong peningkatan kualitas. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan Secara umum, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia secara optimal, meningkatkan kualitas hidup, serta mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan di masa depan. Di Indonesia, penyelenggaraan pendidikan berlandaskan Pancasila dan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan tidak hanya menekankan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai moral, sosial, dan budaya sebagai bagian dari pembentukan warga negara yang berkarakter (Kemendikbud, 2. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, upaya peningkatan kualitas pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan, khususnya dalam proses pembelajaran di kelas. Salah satu permasalahan tersebut ditemukan di SMAN 1 Menjalin. Kecamatan Menjalin. Kabupaten Landak. Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan hasil pengamatan pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas XI A, diketahui bahwa tingkat keaktifan dan tanggung jawab belajar peserta didik masih tergolong rendah. Padahal, teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Piaget dan Vygotsky menegaskan bahwa keterlibatan aktif dan rasa tanggung jawab peserta didik dalam proses pembelajaran berperan penting dalam mendukung perkembangan kognitif dan sosial serta pencapaian tujuan pembelajaran (Nyatsikor, 2. Kondisi empiris di kelas menunjukkan adanya kesenjangan antara teori dan praktik pembelajaran yang berlangsung. Dalam konteks pembelajaran di kelas XI A SMAN 1 Menjalin, peserta didik cenderung kurang terlibat secara aktif selama proses belajar. Hal ini menunjukkan perlunya penerapan pendekatan pembelajaran yang mampu mendorong partisipasi aktif peserta didik. Keaktifan belajar merupakan keterlibatan peserta didik secara langsung dalam proses pembelajaran, baik melalui diskusi, kegiatan praktik, maupun interaksi sosial (Silberman, 2. Rahayu dan Vidya . menegaskan bahwa keaktifan belajar tidak sebatas menerima informasi, melainkan melibatkan proses berpikir, berdiskusi, dan bertindak secara sadar dalam kegiatan pembelajaran. Selain keaktifan, tanggung jawab belajar juga merupakan aspek penting dalam proses Tanggung jawab belajar muncul ketika peserta didik diberikan tugas, baik secara individu maupun kelompok, yang harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan dan waktu yang telah ditetapkan (Basyuni, 2018. Lickona, 2. Tanggung jawab ini berkaitan dengan kesadaran peserta didik dalam melaksanakan kewajiban belajar, menyelesaikan tugas tepat waktu, serta mematuhi aturan pembelajaran (Slameto, 2. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada Senin, 2 September 2024, tingkat keaktifan belajar peserta didik hanya mencapai sekitar 20%, di mana hanya sebagian kecil peserta didik yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan. Sementara itu, tingkat tanggung jawab belajar peserta didik tercatat sebesar 32%, dengan hanya 8 dari 25 peserta didik yang menunjukkan tanggung jawab yang baik terhadap tugas dan kewajiban belajar. Rendahnya keaktifan dan tanggung jawab belajar tersebut tidak terlepas dari penggunaan model pembelajaran yang kurang variatif. Proses pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah, sehingga peserta didik cenderung bersikap pasif dan kurang terlibat secara aktif. Model pembelajaran yang berpusat pada guru ini berpotensi menimbulkan kejenuhan dan menurunkan minat belajar peserta didik terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Sebagai alternatif solusi, penelitian ini mengusulkan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Model PBL menekankan pada pemecahan masalah nyata sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, serta keterlibatan aktif peserta didik dalam pembelajaran (Meilasari et al. , 2020. Muliana et al. , 2024. Gunter & Alpat, 2017. Amir, 2. PBL merupakan model pembelajaran yang menghadapkan peserta didik pada situasi kontekstual sehingga mereka dapat membangun pengetahuan secara mandiri melalui proses Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 112 Ae 122 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 penyelidikan, diskusi, dan kolaborasi dalam menyelesaikan permasalahan (Rachmawati & Rosy, 2024. Oktaviani & Suharsih, 2. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan efektivitas model PBL dalam meningkatkan kualitas Hidayatulloh et al. menemukan bahwa penerapan PBL mampu meningkatkan keaktifan belajar peserta didik secara signifikan, dari tahap pra-siklus hingga siklus II. Selain itu, penelitian Thamrin . juga menunjukkan bahwa PBL berpengaruh positif terhadap peningkatan tanggung jawab belajar peserta didik. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning memiliki potensi untuk meningkatkan keaktifan dan tanggung jawab belajar peserta didik. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada penerapan model Problem Based Learning dalam upaya meningkatkan keaktifan dan tanggung jawab belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas XI A di SMAN 1 Menjalin. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan jenis deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keaktifan dan tanggung jawab belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas XI A SMA Negeri 1 Menjalin. Menurut Jalaludin . PTK deskriptif adalah jenis penelitian yang memadukan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dalam proses pengumpulan dan analisis data. Model penelitian tindakan kelas (PTK) yang peneliti pilih adalah model Kemmis dan Taggart. Dalam buku yang ditulis oleh Suhirman . , dijelaskan bahwa terdapat empat langkah model penelitian tindakan kelas, meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di dalam kelas saat proses pembelajaran bersama guru kolabolator sebagai pengajar yaitu guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas XI A SMAN 1 menjalin dan peneliti sebagai observer. Dalam penelitian ini dilakukan sekurang-kurangnya 2 siklus atau hingga diperoleh peningkatan keaktifan peserta didik minimal 75% dan 80% untuk peningkatan tanggung jawab belajar diakhir siklus. Pengambilan data menggunakan 3 lembar observasi yaitu lembar observasi guru berdasarkan sintaks PBL, lembar observasi keaktifan belajar dan lembar observasi tanggung jawab. Kriteria penilaian lembar observasi yaitu angka 1 (Kuran. , 2 (Cuku. , 3 (Bai. , dan 4 (Sangat bai. yang dilihat berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Penelitian ini menggunakan Teknik analisis deskriptif kuantitatif untuk menghitung skor persentase observasi peserta didik terhadap keaktifan dan tanggung jawab belajar. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan refleksi pada pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan model Problem Based Learning (PBL) pada siklus I, tahap perencanaan yaitu penyusunan modul ajar dan bahan ajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran. Sebelum memulai siklus I, peneliti melakukan observasi terlebih dahulu terhadap keaktifan dan tanggung jawab peserta didik dalam mengikuti pembelajaran PP yang disampaikan oleh guru mata pelajaran. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui kondisi awal dan memahami tingkat keterlibatan peserta didik dalam kegiatan Setelah memperoleh gambaran tentang keadaan awal tersebut, peneliti kemudian melanjutkan dengan pelaksanaan siklus pertama. Pada tahap siklus I, kegiatan dilakukan dalam satu kali pertemuan dengan durasi total 80 menit. Setiap tahapan kegiatan pembelajaran, peneliti mempersiapkan berbagai perangkat pembelajaran yang meliputi bahan ajar, lembar observasi untuk menilai keaktifan dan tanggung jawab belajar peserta didik. serta lembar wawancara yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi terkait pengalaman serta pendapat peserta didik tentang proses pembelajaran. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 112 Ae 122 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Gambar 1. Rancangan Modul Ajar Siklus I Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada hari Selasa, 25 Februari 2025, dari pukul 07. WIB hingga 08. 20 WIB. Waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan siklus I ini mencakup keseluruhan durasi pembelajaran dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL). Subjek yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 25 peserta didik kelas XI A SMAN 1 Menjalin. Guru mengarahkan peserta didik untuk memfokuskan perhatian mereka pada masalah yang akan dibahas. Guru memberikan empat permasalahan yang harus dipecahkan oleh peserta didik sesuai dengan materi yang telah ditentukan. Kemudian, guru membagi peserta didik menjadi empat kelompok. Guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya untuk memberikan bantuan dan bimbingan. Selain itu, guru meminta peserta didik menyampaikan solusi yang mereka peroleh dengan informasi dasar serta sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Setelah tahap tersebut, peserta didik diminta untuk mengembangkan hasil diskusi mereka dan menyajikan temuan atau solusi yang telah mereka buat di depan kelas dengan rasa percaya diri. Pada tahap terakhir guru memberikan materi tambahan yang bertujuan untuk menguatkan pemahaman peserta didik serta memberikan evaluasi terkait topik yang telah dibahas. Gambar 2. Proses Pembelajaran Berdasarkan hasil observasi dan refleksi pada pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan model Problem Based Learning, ditemukan beberapa hal yang menjadi catatan penting untuk perbaikan maupun penguatan pada siklus berikutnya. Pertama, masih terdapat subindikator sintaks PBL yang Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 112 Ae 122 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 belum muncul secara optimal, yaitu pada tahap membimbing dan memotivasi peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. Hal ini disebabkan oleh kolaborator yang lupa melaksanakan bagian tersebut, serta masih adanya kebingungan dalam pelaksanaan tugas tersebut. Selain itu, guru belum maksimal dalam mendorong keterlibatan aktif seluruh anggota kelompok dalam proses Hal ini sesuai dengan temuan (Yulina Kartika Sari et al. , 2. yang menegaskan bahwa efektivitas PBL sangat bergantung pada peran guru dalam membimbing dan memfasilitasi siswa agar mampu secara aktif dan mandiri mencari informasi yang relevan untuk menyelesaikan masalah Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan koordinasi dan kejelasan peran dalam kolaborasi antarguru serta pemberian bimbingan yang lebih merata kepada peserta didik. Kedua, dalam proses pembentukan kelompok, beberapa peserta didik masih terlihat bingung. Selanjutnya, kebingungan peserta didik dalam pembentukan kelompok menandakan perlunya instruksi yang lebih jelas. Menurut Khuzairi et al. , . , penyusunan kelompok dan pembagian peran yang jelas merupakan faktor penting untuk mendorong kolaborasi efektif dalam PBL, sehingga peserta didik dapat memahami tanggung jawab masingmasing anggota kelompok dan meningkatkan keaktifan serta komitmen dalam belajar. Hal ini menandakan bahwa instruksi atau mekanisme pembagian kelompok perlu disederhanakan atau dijelaskan lebih jelas di awal pembelajaran agar dapat dipahami dengan mudah oleh seluruh peserta didik. Tabel 1. Data Pengamatan Lembar Observasi Keaktifan Belajar Siklus I Indikator Peserta didik memperhatikan penjelasan guru Peserta didik mau mengajukan pertanyaan Peserta didik mau merespon pertanyaan Peserta didik berdiskusi kelompok untuk pemecahan Peserta didik mencatat atau merangkum materi Peserta didik mau menyampaikan ide/gagasannya Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya Jumlah Hasil yang diamati Presentase Keempat, terkait tanggung jawab dalam belajar, masih ada satu kelompok yang belum menyelesaikan tugas dengan tepat waktu. Hal ini menjadi indikator bahwa pengelolaan waktu dalam kerja kelompok perlu diperhatikan lebih serius. Tabel 2. Data Pengamatan Lembar Observasi Tanggung Jawab Belajar Siklus I Indikator Peserta didik mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah (PR) dengan baik Peserta didik menyelesaikan tugas sesuai ketentuan waktu yang sudah ditetapkan Peserta didik mengerjakan tugas kelompok secara bersama2 sama dengan anggota kelompoknya Jumlah Hasil yang diamati Presentase Meski demikian, hasil yang dicapai pada siklus ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup Keaktifan belajar sebesar 77% dan tanggung jawab belajar peserta didik meningkat 82% secara nyata setelah diterapkannya model pembelajaran PBL. Hal ini terlihat dari keterlibatan peserta didik dalam kegiatan diskusi, kerja kelompok, serta dalam menyusun dan mempresentasikan hasil kerja mereka. Tahap terkahir melakukan evaluasi diakhir pembelajaran sebagai bahan perbaikan untuk Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 112 Ae 122 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 pelaksanaan pada siklus selanjutnya. Pada siklus II kembali melakukan perencanaan yaitu membuat modul ajar yang disesuaikan dengan materi pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Pada tahap selanjutnya, yakni siklus II, kegiatan dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Hari selasa, 11 Maret 2025 pukul 07. 00 WIB sampai pukul 20 WIB. Total waktu yang digunakan dalam siklus 2 ini adalah 2x40 menit. Siklus II ini mengunakan model pembelajaran PBL oleh guru kolabolator. Subyek peneliti adalah peserta didik kelas XI A SMA Negeri 1 Menjalin dengan jumlah 25 orang. Tahap Pelaksanaan tindakan siklus II yaitu peneliti membantu guru untuk menampilkan 1 buah video. Guru dan seluruh peserta didik menyaksikan video tersebut sambal menyimak. Setelah menonton video guru menyuruh peserta didik untuk berdikusi dengan memberikan pendapat, memecahkan masalah dan menceritakan pengalaman masing-masing dari peserta didik kepada teman kelompok dan bersama-sama mencari solusinya. Dalam proses diskusi tersebut guru berkeliling untuk membimbing proses belajar serta mengajak peserta didik untuk aktif. Selanjutnya, hasil diskusi disampaikan oleh perwakilan peserta didik di depan kelas guna mengefisiesi waktu. Kemudian perwakilan peserta didik diminta untuk menyimpulkan pembelajaran agar mengetahui tingkat pemahaman dan guru memberikan evaluasi dari hasil pembelajaran pada siklus II. Dibandingkan dengan siklus I, pelaksanaan tindakan pada siklus II menunjukkan hasil peningkatan yang signifikan. Hal ini terlihat dari sejumlah indikator keaktifan dan tanggung jawab belajar yang menunjukkan peningkatan baik dalam aspek proses pembelajaran maupun hasil belajar peserta didik. Pertama, beberapa subindikator sintaks model PBL yang sebelumnya belum terlaksana secara optimal mulai muncul dan dijalankan dengan lebih baik. Guru kolaborator menunjukkan peningkatan pemahaman dan pelaksanaan perannya, terutama dalam membimbing serta memotivasi peserta didik dalam proses pencarian dan pengumpulan informasi yang Kedua, terjadi peningkatan keaktifan peserta didik, terutama dalam merespons dan menjawab pertanyaan dari guru. Peserta didik terlihat lebih berani dan percaya diri dalam mengemukakan pendapat serta lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan diskusi kelompok maupun kelas. Tabel 3. Data Pengamatan Lembar Observasi Keaktifan Belajar Siklus II Indikator Peserta didik memperhatikan penjelasan guru Peserta didik mau mengajukan pertanyaan Peserta didik mau merespon pertanyaan Peserta didik berdiskusi kelompok untuk pemecahan Peserta didik mencatat atau merangkum materi Peserta didik mau menyampaikan ide/gagasannya Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya Jumlah Hasil yang diamati Presentase Ketiga, tanggung jawab belajar peserta didik juga mengalami peningkatan, yang ditandai dengan ketepatan waktu dalam mengumpulkan tugas kelompok. Jika pada siklus I masih ditemukan kelompok yang terlambat menyelesaikan tugas, maka pada siklus II hal tersebut sudah teratasi. Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 112 Ae 122 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 Tabel 4. Data Pengamatan Lembar Observasi Tanggung Jawab Belajar Siklus II Indikator Pesertadidikmengerjakantugas dan pekerjaanrumah (PR) Pesertadidikmenyelesaikantugassesuaiketentuanwaktu yang sudahditetapkan Pesertadidikmengerjakantugaskelompoksecarabersama4 Jumlah Hasil yang diamati Presentase Secara keseluruhan pada siklus II keaktifan belajar mengalami peningkatan sebesar 79% dan tanggung jawab belajar peserta didik sebesar 95% mengalami peningkatan yang signifikan. Mereka tidak hanya lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran, tetapi juga menunjukkan fokus dan keterlibatan yang lebih tinggi dalam proses menyelesaikan masalah, baik secara individu maupun kelompok. Model PBL yang diterapkan berhasil memotivasi peserta didik untuk belajar secara mandiri sekaligus kolaboratif. Berikut presentase peningkatan keaktifan belajar : Tabel 5. Peningkatan Keaktifan Belajar Antar Siklus Indikator Keaktifan Memperhatikan penjelasan guru Mengajukan Merespon Berdiskusi dalam Mencatat rangkuman materi Menyampaikan ide/gagasan Mempresentasikan hasil kerja Rata-rata Keaktifan Belajar Siklus I (%) Siklus II (%) Keterangan Perubahan Sedikit menurun, namun masih berada pada kategori sangat baik. Meningkat. peserta didik mulai lebih berani bertanya. Meningkat. menunjukkan partisipasi yang lebih aktif. Sedikit menurun, namun masih sangat baik. Penurunan kecil. peserta tetap cukup aktif dalam Mengalami penurunan. masih perlu ditingkatkan kepercayaan diri. Menunjukkan kestabilan dengan pencapaian kategori sangat baik. Meningkat 2%. menunjukkan adanya perkembangan Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rata-rata keaktifan belajar peserta didik meningkat dari 77% pada siklus I menjadi 79% pada siklus II. Peningkatan paling signifikan terjadi pada indikator mengajukan pertanyaan dan merespon pertanyaan, yang menunjukkan bahwa peserta didik mulai lebih aktif dan percaya diri dalam berinteraksi selama pembelajaran. Namun, terdapat penurunan pada indicator menyampaikan ide/gagasan, yang menunjukkan bahwa masih ada peserta didik yang merasa ragu atau kurang percaya diri saat menyampaikan pendapat di depan teman-temannya. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget, pembelajaran berjalan secara efektif terjadi ketika peserta didik secara aktif langsung membangun pengetahuan mereka sendiri melalui interaksi dengan lingkungan dan keterlibatan dalam pengalaman belajar. Dalam konteks ini, model PBL berperan penting terhadap pendekatan konstruktivis karena mendorong peserta didik untuk berperan aktif dalam menemukan Solusi atas permasalahan yang diberikan, sekaligus melatih kemampuan bertanya, berpikir kritis, dan berdiskusi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 112 Ae 122 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 yang dilakukan oleh Hidayatulloh . , yang menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan keaktifan dan Hasil Belajar. Secara keseluruhan, keaktifan belajar peserta didik mengalami peningkatan secara signifikan menunjukkan perkembangan yang positif. Tabel 6. Peningkatan Tanggung Jawab Belajar Antarsiklus Indikator Tanggung Jawab Siklus I Siklus II Keterangan Perubahan (%) (%) Mengerjakan tugas dan Peningkatan maksimal. pekerjaan rumah dengan baik menyelesaikan tugas dengan baik. dan sesuai Menyelesaikan tugas sesuai Peningkatan maksimal. jadwal yang telah ditentukan peseerta didik menyelesaikan tugas sesuai jawal yang telah ditentukan Mengerjakan tugas kelompok Peningkatan signifikan. secara bersama-sama dalam kelompok semakin baik. Rata-rata Tanggung Jawab Peningkatan sebesar 13%. Belajar menunjukkan perkembangan positif. Hasil observasi menunjukkan bahwa tanggung jawab belajar peserta didik meningkat secara signifikan dari siklus I ke siklus II, dengan rata-rata persentase meningkat dari 82% menjadi 95%. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik semakin konsisten dan serius dalam menyelesaikan tugas baik individu maupun kelompok. Peningkatan paling menonjol terlihat pada indikator menyelesaikan tugas tepat waktu dan secara kolaboratif dalam kelompok, dengan capaian 100% pada siklus II. Peningkatan ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial menurut Vygotsky . , yang menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika dilakukan melalui interaksi sosial dan kerja sama. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan Problem-Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan sikap tanggung jawab belajar peserta didik melalui keterlibatan aktif dalam pemecahan masalah nyata dan relevan pada kehidupan sehari-hari mereka serta berperan serta pada peningkatan kemampuan peserta didik dalam bekerja sama dan berkolaborasi dengan sesama siswa (Wahyuni & Fathurrohman, 2025. Yula & Sanoto, 2025. Nurjanah et al. , 2. Selain itu, pengembangan model PBL terbukti dapat memacu motivasi dan tanggung jawab belajar siswa dalam konteks pembelajaran Pancasila (Erpita, 2. dan Penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada siswa juga menunjukkan peningkatan sikap tanggung jawab di tingkat SD secara signifikan setelah penerapan PBL (Mungzilina et al. , 2. Oleh karena itu perlunya banyak penelitian dengan penerapan model PBL di jenjang SMA untuk meningkatkan tanggung jawab belajar peserta didik. Selain itu, hasil penelitian ini diperkuat oleh temuan peneliti teraktual yang menyatakan bahwa PBL efektif dalam meningkatkan, keterampilan berkolaborasi dan penyelesaian masalah yang dilakuka melalui kerja sama kelompok (Hmelo-Silver, 2015. Yew & Goh, 2. Dengan demikian, kegiatan kelompok dalam PBL memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkolaborasi, saling membantu, dan mengemban tanggung jawab bersama, sehingga kemampuan kognitif dan keterampilan sosial peserta didik dapat berkembang dengan optimal. Secara keseluruhan, tanggung jawab peserta didik mengalami peningkatan dan menunjukkan perkembangan yang positif. East West North Qtr Qtr Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus I dan siklus II, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dalam keaktifan belajar peserta didik kelas XI A di SMA Negeri 1 Menjalin, khususnya dalam mata pelajaran PP (Pendidikan Pancasil. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Piaget . yang menyatakan bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika peserta didik secara aktif membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan dan keterlibatan langsung dalam pengalaman Dalam konteks tersebut, model Problem-Based Learning (PBL) mendukung pendekatan konstruktivis karena menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang aktif dalam mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan, sehingga mampu mengembangkan kemampuan Journal of Educational Review and Research Vol. 8 No. December 2025: 112 Ae 122 e-ISSN: 2597-9760, p-ISSN: 2597-9752 bertanya, berpikir kritis, dan berdiskusi serta sikap tanggung jawab. Hasil penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan PBL dapat meningkatkan keaktifan belajar, kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab serta pemahaman konsep peserta didik karena proses pembelajaran berpusat pada pemecahan masalah kontekstual dan kolaborasi antar peserta didik. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan Pembahasan dari penelitian yang diuraikan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa . Model pembelajaran Problem Based Learning yang terdiri dari 5 Tahap yakni guru mengorientasikan peserta didik pada masalah, mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, guru membantu peserta didik dalam penyelidikan, kemudian peserta didik memprsesentasikan hasil diksusi di depan kelas, serta guru melakukan analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Kelima sintaks tersebut dimasukan ke dalam modul ajar yang digunakan guru kolabolator pada proses pembalajaran. Hasil penelitian ini menunjukan peningkatan keaktifan belajar yang terdiri dari 7 indikator yaitu memperhatikan penjelasan guru, mengajukan pertanyaan, merespon pertanyaan, berdiskusi dalam kelompok, mencatat rangkuman materi pelajaran, menyampaikan ide/gagasan, dan mempresentasikan hasil kerja kelompok sebesar 77% siklus I dan 79% siklus II setelah dilakukan tindakan proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning pada setiap siklus. Hasil peneliitian menunjukan peningkatan tanggung jawab belajar yang terdiri dari Mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah dengan baik dan sesuai, menyelesaikan tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan, serta m,engerjakan tugas kelompok secara bersama-sama. sebesar 82% siklus I dan 95 siklus II setelah dilakukan tindakan proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning pada setiap siklus. Dengan tercapainya indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sejak awal, maka pelaksanaan tindakan dianggap cukup dan penelitian ini dinyatakan selesai. Selanjutnya, berdasarkan kesimpulan penelitian ada beberapa saran yang ingin penulis sampaikan. Pertama, bagi guru kolaborator diharapkan memberikan pembiasaan terlebih dahulu terhadap model pembelajaran PBL sebelum pelaksanaan, misalnya dengan pelatihan singkat atau simulasi kelompok, agar peserta didik dapat lebih siap dan aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Kedua, untuk peneliti selanjutnya yang tertarik pada topik serupa, disarankan untuk memperluas cakupan penelitian, baik dari segi jumlah sampel, jenjang pendidikan, maupun lokasi penelitian, agar hasil yang diperoleh menjadi lebih general dan komprehensif. serta untuk melakukan observasi yang lebih teliti dan sistematis dalam setiap siklus tindakan. Penggunaan lembar observasi yang lebih terstruktur, indikator yang jelas, dengan melibatkan lebih dari satu observer dapat meningkatkan validitas dan objektivitas data yang diperoleh. Sehingga perkembangan keaktifan dan tanggung jawab belajar peserta didik dapat terpantau secara lebih akurat dan mendalam. Serta bagi kepala sekolah diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran inovatif seperti model Problem Based Learning (PBL) dengan menyediakan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Fasilitas seperti ruang kelas yang fleksibel, alat peraga, papan tulis digital, serta akses ke sumber belajar berbasis teknologi sangat membantu dalam menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan kolaboratif. REFERENCES