e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 KERAGAMAN CENDAWAN ENDOFIT ASAL RIZOSFER TANAMAN KAKAO BERBEDA KETINGGIAN DI KABUPATEN SIGI SULAWESI TENGAH DIVERSITY OF ENDOPHYTE FUNGI ORIGINATED FROM RHIZOSPHERE OF COCOA PLANTS AT DIFFERENT HEIGHTS IN SIGI DISTRICT. CENTRAL SULAWESI Ratnawati1*. Arfan2. Kasman Jaya1. Annisa2. Rita2 Program Studi Magister Ilmu Pertanian. Program Pascasarjana Universitas Alkhairaat Palu Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat Palu Jalan Diponegoro No. 39 Palu. Sulawesi Tengah Indonesia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan mengidentifikasi keragaman cendawan endofit asal rizosfer tanaman kakao berdasarkan ketinggian tempat berbeda yakni 110 dpl dan 585 dpl di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Cendawan endofit di peroleh dari lahan tanaman kakao ketinggian tempat 110 dpl dan 585 dpl pada bagian rizosfer kedalaman 1-10 cm, dengan menggunakan diagonal sampling, sehingga ditemukan 10 titik pengambilan sampel pada masing-masing ketinggian. Isolat cendawan yang telah dipilih yang berpotensi kemudian diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil seleksi dan identifikasi isolat diperoleh 8 isolat cendawan endofit asal rizosfer tanaman kakao ketinggian 585 dpl dan untuk ketinggian 110 dpl 4 isolat cendawan endofit. 3 isolat ditemukan yang sama baik di ketinggian 585 dpl maupun 110 dpl yakni Trichoderma. Asperigillus mf 1 dan Asperigillus mf 2 dan 5 isolat berbeda yang ditemukan pada ketinggian 585 dpl yakni Gliocladium mf 1. Gliocladium mf 2. Penicillium, dan Trichoderma mf 2 dan satu isolat Unidentified, dan pada ketinggian 110dpl ditemukan satu isolat Unidentified. Kata kunci: Cendawan Endofit Aspergilus. Trichoderma. Penicillium. Gliocladium ABSTRACT This study aims to select and identify the diversity of endophytic fungi originating from the rhizosphere of cocoa plants at different altitudes in Sigi Regency. Central Sulawesi Province. Endophytic fungi were obtained from cocoa land at altitudes of 110 above sea level and 585 above sea level in the rhizosphere at a depth of 1-10 cm, using diagonal sampling, so that 10 sampling points were found at each altitude. The selected potential fungal isolates were then identified macroscopically and microscopically. The results of the selection and identification of isolates obtained 8 isolates of endophytic fungi originating from the rhizosphere of cocoa plants at an altitude of 585 above sea level and for an altitude of 110 above sea level 4 isolates of endophytic fungi. 3 isolates were found to be the same both at an altitude of 585 asl and 110 asl, namely Trichoderma. Asperigillus mf 1 and Asperigillus mf 2 and 5 different isolates were found at an altitude of 585 asl, namely Gliocladium mf 1. Gliocladium mf 2. Penicillium, and Trichoderma mf 2 and one Unidentified isolate, and at an altitude of 110 asl, one Unidentified isolate was found. Keywords: Endophytic fungi Asperigillus. Trichoderma. Penicillium. Gliocladium Asman 2. Sulawesi Tengah sebagai salah satu sentra tanaman kakao di Indonesia, dengan 100 hektare . pada tahun 2022, setara dengan 19,14% dari luas perkebunan kakao secara nasional yang sebesar 1,44 juta ha. (BPS,2. Upaya peningkatan kualitas dan keberlanjutan tanaman kakao, dipengaruhi oleh faktor lingkungan, hara dan mikroorganisme (Wood and Pendahuluan Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang banyak dibudidayakan di daerah tropika, memiliki nilai ekonomis tinggi dalam perekonomian Indonesia (Bulandari, 2016. -----------------------------------------------------------------*) Penulis Korespondensi. E-mail : ratnawatinina1968@gmail. Telp: 62-81341053516 e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Lass,2. Salah satu mikroorganisme yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman kakao adalah cendawan endofit (Tondok dkk. ,2012. Meniwati dkk. , 2. Cendawan endofit dapat hidup di dalam jaringan tumbuhan seperti. bunga, ranting ataupun akar tanaman yang mampu hidup dengan membentuk koloni dalam jaringan tanaman tanpa membahayakan inangnya (Schulz dan Boyle, 2. hubungan antara tanaman dan cendawan endofit umumnya dikenal sebagai simbiosis mutualistik (Faeth, 2002. Nur Amin, et al, 2. Pertumbuhan tanaman kakao di Sulawesi Tengah dapat ditemukan di topografi berbeda. Tumbuh baik di dataran tinggi, sedang dan rendah. Namun, belum banyak dilakukan penelitian tentang cendawan endofit pada tanaman kakao berbeda ketinggian tempat tersebut. Menurut Yuliani et al. , . , bahwa terdapat korelasi antara faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, iklim, tanah dengan Perbedaan ketinggian dimungkinkan pula terdapat perbedaan keragaman cendawan endofit, khususnya asal Rizosfer adalah salah satu daerah yang ideal bagi tumbuhan dan berkembangnya mikroba tanah, termasuk di dalamnya agensia hayati. Menurut Hasanudin . dan Liza et al. , . bahwa secara keseluruhan habitat hidup mikroorganisme berguna terdapat di dalam tanah sekitar akar tumbuhan . Peran penting rizosfer ini sangat ditentukan oleh keberadaan akar tanaman, makin banyak dan padat akar suatu tanaman didalam tanah, makin kaya kandungan bahan organik pada rizosfer, makin padat pula populasi mikroba tanahnya. Mikroorganisme banyak ditemukan banyak mikroba tanah pada daerah rizosfer (Ratnawati et , 2. , dan tanaman memperoleh manfaat besar dengan hadirnya mikroba tersebut (Lugtenberg et al. , 1. Selanjutnya dikemukan bahwa cendawan endofit dapat dimanfaatkan sebagai upaya pengedalian penyakit tanaman yang ramah lingkungan, sebagai upaya dalam mengurangi penggunaan pestisida sintetik (Ratnawati et al. , 2019: Sudewi et al. , 2. Lebih lanjut Sopialena, dkk. menyimpulkan bahwa cendawan endofit mampu menjadi agensia hayati pengendali hama dan penyakit. Elfina et , . menyebut bahwa pemanfaatan mikroorganisme yang bersifat antagonis dari endofit tanaman merupakan solusi yang baik sebagai agens pengendali hayati karena mikroorganisme antagonis tersebut tidak memerlukan penyesuaian yang lama terhadap lingkungan barunya. Dengan dilaksanakan penelitian tentang keragaman cendawan endofit asal rizosfer pada berbagai ketinggian tempat ditemukan cendawan endofit yang diharapkan dapat berpotensi digunakan sebagai pengendalian hayati untuk mengatasi serangan Organisme pengganggu tanaman khususnya penyakit busuk buah kakao. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyeleksi dan mengidentifikasi keragaman cendawan endofit asal rizosfer pada tanaman kakao yang ditemukan di ketinggian tempat yang berbeda yakni 110 dpl dan 585 dpl yang berpotensi digunakan untuk mengatasi serangan penyakit busuk buah kakao. Metode Penelitian Pelaksanaan penelitian diawali dengan pengambilan sampel berupa tanah bagian rizosfer tanaman kakao di peroleh dari perkebunan kakao petani pada dua lokasi yang berbeda berdasarkan ketinggian tempat. Lokasi pertama di Desa Sidondo dengan ketinggian tempat 110 dpl dan lokasi kedua, di Desa palolo dengan ketinggian tempat 585 dpl sedangkan identifikasi cendawan endofitnya asal rizosfer dilaksanakan di Laboratorium Universitas Alkhairaat Palu. Penelitian ini berlangsung dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2024. Isolasi Cendawan Endofit Pengambilan sampel berupa tanah bagian Rizosfer pada lahan kakao milik petani pada ketinggian 110 dpl dan 585 dpl dilakukan dengan penentuan pengambilan titik sampel secara diagonal dengan 10 titik pengambilan sampel tanah bagian rizosfer. Setiap titik pengambilan sampel, tanah yang diambil sebanyak 10 g, kemudian sampel dicampur secara komposit, dan dilanjutkan dengan pengenceran sampai 10-6, setelah itu ditumbuhkan pada media Potato Dekstrose Agar (PDA) pada masing-masing sampel yang telah diencerkan dengan metode tanam sebar dan dilakukan di dalam ruang laminar air flow secara aseptik, setelah selesai diinkubasi pada suhu ruang. Koloni yang tumbuh dengan ciri cendawan yang berbeda dimurnikan kembali sampai didapatkan biakan murni untuk dijadikan kultur stok uji selanjutnya. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 beberapa isolat yang secara makroskopis sama. Jumlah isolat yang diperoleh di ketinggian 585 dpl lebih banyak dibandingkan ketinggian 110 dpl. Selanjutnya karakteristik pertumbuhan koloni tunggal pada umur 7 hari setelah inokulasi . pada setiap isolat di kedua tempat ketinggian dapat dilihat dari Tabel 1. Hasil dan Pembahasan Hasil seleksi isolasi mikroba yang diperoleh dari lahan tanaman kakao ketinggian 585 dpl didapat sebanyak 8 isolat yang sudah Sedangkan hasil isolasi isolat yang dilakukan di lahan tanaman kakao ketinggian 110 dpl didapat sebanyak 4 isolat, karena terdapat Tabel 1. Karakteristik Cendawan Endofit Pada Ketinggian Yang Berbeda Ketinggian 585 Dpl Warna Koloni Kode Isolat Tampak Atas (A) Tampak Bawah (B) Hijau Ketinggian 110Dpl Bentuk Warna Koloni Kode Isolat Bentuk Tampak Atas (A) Tampak Bawah (B) Bulat RAN Tidak Beraturan Putih Kehijauan Putih Lingkaran Kehijauan Bulat Putih keabuabuan, ada batas antar Kuning Melingkar tak berateran Spora hijau. Tekstur Halus Spora Abu. Miselium Putih Hijau Kekuningan Bulat RAN Tidak Beraturan Hitam. Miselium Putih. Spora, hijau Putih Kekuningan Bulat Tersebar RAN Miselium Putih. Spora Hijau Hijau Bulat RAN Putih, rapat pada Hitam Putih Kekuningan Bulat Spora Hitam. Tekstur Kasar Spora Abu. Miselium Putih Miselium Putih Bulat Tidak Beraturan Bulat Miselium Putih Putih Kehitama Putih Kekuningan Putih Bulat Tidak Beraturan Bulat Putih keabu- Bulat e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Hasil pengamatan karakteristik morfologi 8 isolat cendawan endofit asal rizosfer tanaman Kakao pada ketinggian 585 dpl dan 4 isolat ketinggian 110 dpl disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Karakteristik Morfologi Cendawan Endofit Asal Rizofer Tanaman Kakao Pada Ketinggian Berbed No Kode Isolat Makroskopis Mikroskopis Ketinggian 585 dpl (Penicilliu. (Gliocladium mf . (Trichoderma mf . (Trichoderma mf . (Aspergillus e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 (Gliocladium mf . (Aspergillus mf (Unidentifie. Ketinggian 110 dpl RAN 16 (Trichoderm. RAN 7 (Aspergillus mf RAN 3 (Unidentifie. RAN 12 (Aspergillus e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 1 memperlihatkan 8 isolat cendawan endofit pada ketinggian 585 dpl bahwa pada setiap isolat berdasarkan morfologi perkembangan warna dan Hal sama juga terlihat perbedaan 4 isolat cendawan endofit yang diperoleh pada ketinggian 110 dpl. Jumlah isolat cendawan endofit yang teridentifikasi lebih banyak di ketinggian 585 dpl dibandingkan ketinggian 110 dpl, hal ini diduga karena pertumbuhan tanaman mendukung serta pengendalian Organisme Penganggu Tanaman (OPT) yang tepat. Pengamatan di lapangan, tanaman kakao yang di ketinggiaan 110 dpl . dilakukan dengan pengendalian OPT intensif, hal berbeda dilakukan petani di ketinggian 585 dpl dilakukan secara Menurut Wijaya, dkk. , bahwa penggunaan bahan kimia yang umum digunakan petani dapat mempengaruhi keanekaragaman mikroorganisme baik di udara, di tanah maupun yang hidup pada tanaman. Hasil eksplorasi Ratnawati et al. , . , pada lahan pertanaman bawang merah lokal Palu dengan intensitas penggunaan pestisida berbeda, ditemukan jumlah dan jenis cendawan endofit berbeda. Hasil pengamatan makroskopis dan mikroskopis terhadap isolat sesuai dengan buku identifikasi Barnett dan Huntter . dan karakter yang dimiliki (Tabel 1 dan Tabel . pada ketinggian 585 dpl dan 110 dpl teridentifikasi isolat A. 10 dan RAN 16 berwarna hijau, bersepta konidiafor bercabang dan oval, sehingga teridentifikasi sebagai Penecillium. Isolat A. O 3, dan A. O 1, koloninya berwarna hijau dan bentuknya bulat sementara secara mikroskopis bentuk konidiofor tegak tersusun secara vertikal, fialid pendek dan tebal adalah Trichoderma. Isolat O 9, dan A. O 12 serta RAN 7 dan RAN 12, sesuai karakter, memiliki konidiofor yang tegak tidak bersepta, tidak bercabang, dan ujung konidiofor membengkak membentuk vasikel teridentifikasi sebagai Aspergillus. yang secara makroskopis dan mikroskopis cendawan Asperigillus mudah dikenali dan dibedakan dari cendawan marga lain. Isolat A. O 12, dan A. O 5. pertumbuhan koloninya baik hanya berbeda warna dari permukaan atas dan permukaan bawah. Untuk isolat A. O 12 adalah permukaan atas koloninya berwarna spora abu, dan miselium putih untuk bagian bawah itu berwarna hijau kekuningan, isolat A. O 5 adalah permukaan atas koloni berwarna spora abu, miselium putih bagian bawah koloni berwarna putih kehitaman, sedangkan secara mikroskopis ke 2 memperlihatkan spora dari masing-masing isolat terhambur dan memiliki miselium dari masingmasing isolat yang berbeda tersebut, sehingga teridentifikasi sebagai Gliocladium. Penecillium adalah cendawan endofit dari divisi Ascomycota yang memiliki potensi baik bagi tanaman, menghasilkan metabolit sekunder dan berpotensi sebagai antimikroba dan bersifat enzimatik sehingga dapat mendegradasi patogen dan melindungi tanaman (Sinaga, 2003. Semangun,2006. Ratnawati Keberadaan teridentifikasi asal rizosfer tanaman kakao diketinggian 585 dpl, tidak ditemukan diketinggian 110 dpl. Eksplorasi Ratnawati dan Kasman jaya . ,menyimpulkan bahwa cendawan endofit Penecillium banyak ditemukan pada pertanaman organik. Trichoderma adalah salah satu cendawan endofit yang dapat hidup pada semua bagian jaringan tanaman baik dibawah tanah maupun di atas tanah yaitu akar, batang dan daun (Rosmana et al. , 2. Rubini et al. , . Mejia et al. dan Hanada et al. , . melaporkan bahwa Trichoderma berpotensi sebagai agens pengendalian hayati beberapa penyakit tanaman Selanjutnya menurut Purwantisari dan Hastuti . , bahwa Trichoderma merupakan cendawan asli tanah yang bersifat menguntungkan karena sifat antagonisnya yang tinggi terhadap Asperigillus adalah cendawan endofit dari divisi Ascomycota yang juga memiliki potensi baik bagi tanaman dan menghasilkan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antimikroba dan bersifat enzimatik sehingga dapat mendegradasi patogen dan melindungi tanaman (Sinaga, 2003. Semangun,2. Menurut IIyas, . dan Suryani dkk. , . secara mikroskopis cendawan Asperigillus mudah dikenali dan dibedakan dari cendawan marga lain, yaitu memiliki konidiofor yang tegak, tidak bersepta, tidak bercabang, dan ujung konidiofor membengkak membentuk vesikel. Cendawan endofit yang terindenfikasi pada ketinggian 585 asal rizosfer pada tanaman kakao dan tidak ditemukan pada ketinggian 110dpl adalah Gliocladium. Risthayeni et al. , . melaporkan e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 15 . Juni 2025 bahwa Gliocladium, memiliki daya hambat yang cukup tinggi terhadap cendawan patogen akibat senyawa yang dihasilkan berupah toksin dan anti Hal yang sama dilaporkan oleh Rubini et , . Mejia et al. , . dan Hanada et al. bahwa Gliocladium memiliki potensi sebagai agens biokontrol beberapa penyakit tanaman kakao. Hasil pengamatan dua isolat yakni satu isolat pada ketinggian 585 dpl dan satu isolat pada ketinggian tanaman kakao 110 dpl hanya miselia tanpa alat reproduksi sehingga secara mikroskopis merupakan miselia steril sehingga tidak dapat diidentifikasi lebih BPS. Statistik Kakao Indonesia Tahun Nomor Publikasi : 05100. 2308 dan ISSN/ISBN : 2714-8440 Barnett. , and Hunter. Illustrated Genera Og Imperfect Fungi. Fourth Edition. APS The American Phytopathological Society. St. Paul. Minnesota. Bulandari S, 2016. Pengaruh Produksi Kakao terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Kolaka Utara. Doctoral Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Elfina,Y. Ali. Wulandari. , & Ibrahim,R. Identifikasi morfologi lima isolat jamur endofit tanaman bawang merah dan kemampuannya menghambat Alternaria porri Ellis Cif. Jurnal Budidaya Pertanian, 18. ,74Ae80. https://doi. org/10. 30598/jbdp. Kesimpulan Berdasarkan hasil seleksi dan identifikasi diperoleh 8 isolat cendawan endofit asal rizosfer tanaman kakao pada ketinggian 585 dpl dan untuk ketinggian 110 dpl terdapat 4 isolat cendawan 3 isolat ditemukan sama baik di ketinggian 585 dpl maupun ketinggian 110 dpl yakni Trichoderma. Asperigillus mf1 dan Asperigillus mf2 dan 5 isolat berbeda yang ditemukan pada ketinggian 585 dpl yakni Gliocladium mf1. Gliocladium mf2. Penicillium, dan Trichoderma mf 2 dan satu isolat Unidentified. Ketinggian 110 juga ditemukan satu Unidentified. Cendawan Penicillium. Trichoderma. Asperigillus dan Gliocladium yang teridenfikasi berpontesi dikembangkan menjadi agens biokontrol penyakit busuk buah pada tanaman kakao. Faeth S. Are endophytic fungi defensive plant mutualists?. Oikos 98:25-36. Hanada. Pomella. Costa. Bezerra. Loguercio. Pereira. Endophytic fungal diversity in Theobroma cacao . and T. trees and their potential for growth promotion and biocontrol of blackpod disease. Fungal Biol. 114:901-910. Hasanuddin. Mikroorganisme Peningkatan dalam Peranan Sistem Pengendalian Penyakit Tumbuhan Secara Terpadu. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. USU Digital Library. Ucapan Terimakasih Ucapan terimakasih disampaikan kepada Direktorat Riset. Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat yang telah mendukung pembiayaan kegiatan penelitian ini lewat nomor kontrak:118/E5/PG. 00PL/2024. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Rektor. Direktur PPS. Ketua LPPM Universitas Alkhairaat Palu. Laboran yang telah membantu dalam fasilitasi kelancaran kegiatan penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan khususnya kepada mahasiswa yang telah membantu dalam penelitian. Ilyas. Isolasi dan identifikasi kapang pada Relung Rizosfer Tanaman di Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis. Nusa Tenggara Timur. Biodiversitas, 7. , http://doi. org/10. 13057/biodiv/d070304. Liza. Adrinal. Jumsu T. Keragaman Cendawan Rizosfer dan Potensinya Sebagai Agens Antagonis Fusarium oxysporum Penyebab Penyakit Layu Tanaman Krisan. Universitas Andalas. Jurnal Fitopatologi Indonesia. Vol 11. No. Hal: 68-72. Daftar Pustaka