Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 23 No. 1 (Januari 2. Halaman: 13 Ae 22 Terakreditasi Peringkat 4 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 158/E/KPT/2021 Pengembangan Sistem Informasi Geografi Untuk Pemantauan Jaringan Irigasi Menggunakan LeafletJS Sumarsono 1. Choerun Asnawi 2. Evy Kusumaningrum 1. Dedy Hariyadi 2,* Fakultas Teknik Lingkungan. Institut Teknologi Yogyarakata. email: sumarsono@ity. evy@ity. Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi. Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. email: c. asnawi@gmail. com, dedy@unjaya. * Korespondensi: e-mail: dedy@unjaya. Submitted: 05/09/2022. Revised: 04/12/2022. Accepted: 13/12/2022. Published: 23/01/2023 Abstract The distribution or flow of water in irrigation networks that are not good can have an impact on air demand on agricultural land. This is due to the air volume that is not optimal due to damage to the irrigation network. Each irrigation network has a level of disturbance which is measured by the level of damage to the irrigation network based on the channel and building arrangement. Efforts to anticipate the level of damage to the wider irrigation network that can harm farmers, it is necessary to have a system that makes it easier for air interpreters to provide reports. Based on the report, the water interpreter will be followed up and processed by the team regarding more handling. In the ease of reporting, water interpreters need a location-based reporting Therefore, the right approach in reporting damage to irrigation networks is using a geographic information system. With the development of internet communication, geographic information systems have been developed that can be implemented on smartphones with the Android operating system. Keywords: Android. Geographic Information Systems. Irrigation. LeafletJS. Water Interpreter Abstrak Distribusi atau aliran air pada jaringan irigasi yang tidak baik dapat berdampak pada kebutuhan air pada lahan pertanian. Hal ini disebabkan volume air yang tidak maksimal karena ada kerusakan pada jaringan irigasi. Setiap kerusakan jaringan irigasi memiliki tingkat gangguan yang diukur dari tingkat kerusakan dari jaringan irigasi berdasarkan saluran dan bangunan Upaya untuk mengantisipasi tingkat kerusakan jaringan irigasi yang lebih meluas yang dapat merugikan petani maka perlu suatu sistem yang memudahkan tanaga juru air dalam memberikan laporan. Berdasarkan laporan tenaga juru air akan ditindaklanjuti dan diolah oleh tim terkait supaya penanganannya lebih. Dalam mempermudah laporan tenaga juru air perlu sistem perlaporan berbasis lokasi. Oleh sebab itu pendekatan yang tepat dalam memberikan laporan kerusakan jaringan irigasi menggunakan sistem informasi geografi. Dengan meningkatnya perkembangan komunikasi internet, sistem informasi geografi yang dikembangan dapat diimplementasi pada ponsel cerdas bersistem operasi Android. Kata kunci: Android. Sistem Informasi Geografis. Jaringan Irigasi. LeafletJS. Juru Air Pendahuluan Menurut Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2001 tentang Irigrasi bahwa saluran irigrasi merupakan upaya penyediaan dan pengelolaan kebutuhan air untuk lahan pertanian. Jaringan irigrasi terbagi menjadi dua yaitu. Jaringan Utama dan Jaringan Tersier. Rusaknya Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Sumarsono. Choerun Asnawi. Evy Kusumaningrum. Dedy Hariyadi jaringan irigasi karena ada saluran yang retak atau hancur dapat menyebabkan volume air tidak maksimal saat dialirkan. Untuk menghindari kerusakan pada jaringan irigasi perlu dilakukan pemeliharaan berkala sebagai upaya preventif. Upaya ini merupakan langkah untuk menjaga volume air terjaga saat dialirkan ke lahan persawahan (Apriyanto, 2. Dalam melakukan pemeliharaan perlu dilakukan penilaian fungsi dan kondisi aset irigrasi. Penilaian yang dilakukan berdasarkan tingkat penilaian kondisi dari Overseas Development Administration. Adapun penilaian ditinjau berdasarkan 2 komponen, yaitu berdasarkan saluran dan berdasarkan bangunan pengatur. Berdasarkan saluran penilaian terbagi menjadi 4 kondisi, yaitu baik, rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat. Sedangkan berdasarkan bangunan pengatur terbagi menjadi 3 kondisi, yaitu baik, rusak ringan, dan rusak berat (Kurniawati, 2. Peneliti dari Universitas Trisakti melakukan penelitian pada tahun di Kabupaten Serang terkait Nilai Indeks Kinerja Sistem Daerah Irigasi. Berdasarkan inspeksi oleh Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang bidang Irigarsi pada tahun 2019 ditemukan 258 daerah Irigasi dengan kondisi Baik 14%. Rusak Ringan 36%. Rusak Sedang 36%, dan Rusak Berat 14%. Hal tersebut dipengaruhi oleh rendahnya peran masyarakat, rendahnya pelayanan air irigrasi, rendahnya kondisi fisik jaringan irigrasi, dan rendahnya gotong royong dalam pengelolaan jaringan irigrasi (Abdian & Anwar, 2. Untuk menjaga kualitas volume air secara maksimal perlu adanya giat operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Peneliti dari Universitas Bale Bandung merekomendasikan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) terkait irigrasi melakukan pemantauan secara intensif jaringan irigrasi (Gustindari et al. , 2. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukan bahwa perkembangan internet di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2019 penetrasi internet di Indonesia mencapai 7% dari jumlah penduduk Indonesia (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Dengan berkembangan teknologi internet tersebut pemantauan jaringan irigrasi dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Peneliti dari Universitas Brawijaya mengimplementasikan perangkat lunak seperti CodeIgniter. LeafletJS, dan peta daring untuk mengembangkan sistem informasi geografis pada penanganan dampak dari fenomena alam di Malang (Alhakim et al. , 2. Sedangkan peneliti dari Universitas Andalas juga memanfaatkan sumber daya perangkat lunak yang bersifat seperti PostGIS. Google Maps. PHP. Javascript, dan Postgresql untuk mengembangakn sistem informasi geografi berbasis web untuk pemetaan distribusi pelanggan PLN di Sawahlunto (Akbar et al. , 2. Walaupun pada peneltian tersebut telah memanfaatkan sistem informasi geografis berbasis web tetapi menyediakan fitur antarmuka untuk perangkata bergerak seperti ponsel cerdas atau tablet. Maka pada artikel ini diusulkan pemantauan jaringan irigrasi menggunakan pendekatan teknologi informasi dan komunikasi dalam hal ini adalah Sistem Informasi Geografi yang kompatibel dengan berbagai teknologi baik desktop maupun mobile. Tujuan dari pengembangan sistem informasi geografi untuk mempermudah operator atau juru tenaga air pada Unit Pelaksana Teknis Dinas dalam melakukan pemantauan dan pelaporan jaringan irigrasi secara langsung. Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 13 -22 (Januari 2. Pengembangan Sistem Informasi A Metode Penelitian Untuk mendukung dan mencapai kedaulatan pangan nasional, peneliti dari Universitas Brawijaya mengusulkan pengujian jaringan irigrasi berbasis statistika berdasarkan Kriteria dan Bobot Penilaian Kinerja Jaringan Irigasi (Devara et al. , 2. Selain itu juga menggunakan perangkat lunak khusus untuk mengukur nilai indeks kinerja daerah irigasi yaitu PDSDA PAI (Pranoto et al. , 2. Tidak hanya berbasis statistika dan aplikasi PDSDA PAI dalam pengelolaan juga berbasis teknologi informasi untuk mempermudah dalam mengetahui kondisi dan penanganan seluruh aset. Perangkat lunak untuk mendukung penelitian tersebut digunakan Google Earth dan Arc-GIS. Kedua perangkat lunak tersebut dapat dikategorikan sebagai perangkat lunak untuk mendukung sistem informasi geografi (Nugraha et al. , 2. Namun, pemanfaatan Arc-GIS memerlukan biaya besar maka penelitian dari Universitas Brawijaya merekomendasikan sebuah sistem informasi geografi yang dapat membantu proses rekayasa teknik seperti penanganan dampak fenomena alam dengan memanfaatkan sumber daya perangkat lunak yang bersifat bebas seperti CodeIgniter. LeafletJS, dan peta daring (Alhakim et al. , 2. Sedangkan peneliti dari Universitas Andalas juga memanfaatkan sumber daya perangkat lunak yang berlisensi bebas dan terbuka seperti PostGIS. Google Maps. PHP. Javascript, dan Postgresql untuk mengembangakn sistem informasi geografi berbasis web untuk pemetaan distribusi pelanggan PLN di Sawahlunto (Akbar et al. , 2. Pemanfaatan perangkat lunak berbasis lisensi kode terbuka dapat meringankan dari sisi biaya dan memberikan kebebasan para pengembang aplikasi dalam pengembangan sistem informasi geografis tanpa batasan lisensi. Peneliti Wuhan University Hubei University Education Wuhan mengembangkan dan mengolah data geopasial berbasis web service untuk memetakan potensi banjir (Fang et al. , 2. Sedangkan menurut peneliti dari Institut Teknologi dan Sains Nahdatul Ulama (ITSNU) Pekalongan menyatakan bahwa sistem informasi geografi dapat memudahkan orang lain dalam memahami suatu informasi dalam bentuk peta. Untuk mengembangkan sistem informasi geografi berbasis daring dapat menggunakan perangkat lunak yang memiliki lisensi bebas dan terbuka. Tujuan memanfaatkan perangkat lunak yang memiliki lisensi bebas dan terbuka adalah memudahkan pengembangan karena bersifat dinamis dan fleksibel. Pustaka yang digunakan untuk mendukung pengembangan sistem informasi geografi berbasis daring dapat menggunakan LeafletJS yang telah mendukung pemetaan yang interaktif dan berbasis mobile (Abdillah et al. , 2. Sistem arsitektur pengembangan aplikasi berbasis sistem informasi geografi yang diusulkan pada artikel ini dapat dilihat pada Gambar 1. Hal ini berdasarkan kondisi kerusakan jaringan irigasi yang tidak terpantau dengan baik akan memberikan dampak yang merugikan terhadap lahan pertanian. Maka dari itu perlu suatu sistem untuk memantau dan mengolah pelaporan terkait kerusakan jaringan irigasi supaya memudahkan semua pihak dalam mengatasi kerusakan jaringan irigasi. Menggunakan pendekatan sistem informasi geografi diharapkan dapat mengatasi permasalahan dalam pemantauan dan pelaporan terkait Copyright A 2022 Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 13 Ae 22 (Januari 2. Sumarsono. Choerun Asnawi. Evy Kusumaningrum. Dedy Hariyadi kerusakan pada jaringan irigasi. Tenaga juru air akan melakukan pemantau secara berkala pada aset irigasi dalam hal ini jaringan irigasi menggunakan ponsel cerdas bersistem operasi Android. Pada umumnya ponsel cerdas telah dilengkapi dengan Global Positioning System (GPS) (Drake et al. , 2. Dengan dilengkapi GPS pada ponsel cerdas yang terhubung ke internet maka dapat memberikan laporan kerusakan jaringan irigasi yang telah dilengkapi Sumber: Hasil Penelitian . Gambar 1. Sistem Aristektur Berdasarkan tagging koordinat oleh Juru Air yang tercatat pada ponsel cerdas memudahkan dalam pelaporan aset jaringan irigrasi. Jika ada kondisi aset yang terjadi kerusakan maka dapat dilaporkan kerusakan terhadap aset jaringan irigrasi. Hal ini dilakukan sinkronisasi dengan layanan peta daring seperti Google Maps. Pemrosesan pada sistem informasi geografis jaringan irigasi akan mudah terpantau melalui dashboard baik antarmuka pada lingkungan desktop, ponsel, dan tablet. Hasil dan Pembahasan Tenaga juru air yang melakukan observasi bertujuan untuk melakukan pemantauan aset irigrasi berupa jaringan irigasi dan bangunan pengatur. Selain melakukan pemantauan, tenaga juru air juga melakukan identifikasi terkait kondisi aset irigasi dengan melakukan pencatatan kondisi disertai koordinat. Pada artikel ini, pencatatan kondisi dan koordinat memanfaatkan aplikasi yang tersedia pada ponsel cerdas Android dengan melakukan tagging lokasi untuk mendapatkan koordinat. Survey ini merupakan kegiatan yang dilakukan pada Daerah Irigrasi Ngembong. Banguntapan. Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah Irigrasi Ngembong dibawah koordinasi Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengamatan Pengairan Opak Oyo. Survey dilakukan dari Mata Air Ngembong sampai dengan Bagunan Sadap. Berdasarkan survey tersebut terdapat beberapa bangunan diantaranya: bangunan ukur, plat layanan, sadap/corongan, gorong-gorong. Hasil survey berupa informasi yang berisi tentang nama bangunan, unit pelaksana teknis, nama daerah irigrasi, posisi saluran, kondisi, dan koordinat dicatat pada spreadsheet oleh tenaga juru air seperti contoh pada Tabel 1. Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 13 -22 (Januari 2. Pengembangan Sistem Informasi A Tabel 1. Survei Tenaga Juru Air Nama Bangunan Unit Pelaksana Teknis Nama Daerah Irigrasi Posisi Saluran Kondisi Koordinat X Koordinat Y Mata Air Ngembong Opak Oyo Ngembong Primer Baik Bangunan Ukur Opak Oyo Ngembong Primer Baik Plat Layanan Opak Oyo Ngembong Primer Baik Plat Layanan Opak Oyo Ngembong Primer Baik Plat Layanan Opak Oyo Ngembong Primer Baik Sadap/Corongan Opak Oyo Ngembong Primer Baik Plat Layanan Opak Oyo Ngembong Primer Baik Plat Layanan Opak Oyo Ngembong Primer Baik Gorong-Gorong Opak Oyo Ngembong Primer Baik Sadap/Corongan Opak Oyo Ngembong Primer Baik Sumber: Hasil Pengolahan Data . Hasil pantauan dan pencatatan tenaga juru oleh air seperti Tabel 1 dilakukan pengolahan lebih lanjut menggunakan aplikasi QGIS. Pengolahan menggunakan aplikasi QGIS bertujuan untuk mendapatkan berkas digitalisasi peta menggunakan tipe berkas geoJSON. Berkas berbasis spreadsheet dikonversi melalui QGIS untuk dikonversi menjadi geoJSON dengan tipe Coordinate Reference System EPSG:4326 dan WGS 84, sebuah berkas yang selaras dengan sistem koordinat lintang dan bujur yang digunakan pada teknologi GPS (Jaiswal et al. , 2. , seperti pada Gambar 2. Sumber: Hasil Penelitian . Gambar 2. Export Spreadsheet ke geoJSON Berkas geoJSON yang telah dikonversi pada QGIS dikirimkan ke server pengolah untuk penyajian data dan visualisasi berupa pemetaan. Pemrosesan data menghasilkan penyajian data berupa peta yang memanfaatkan pustaka LeafletJS. Adapun kode untuk melakukan pemanggilan data . ata loa. berupa geoJSON pada LeafletJS seperti kode dibawah ini. Copyright A 2022 Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 13 Ae 22 (Januari 2. Sumarsono. Choerun Asnawi. Evy Kusumaningrum. Dedy Hariyadi createPane("pane_HM"). getPane("pane_HM"). zIndex = 302. var HM = L. geoJson. ull, pane: "pane_HM", style: function . { fillOpacity: 0, color: "yellow", weight: 2, opacity: 1, interactive: true onEachFeature: function . eature, laye. { var content = '' layer. toString(). bindTooltip. ontent, { direction: 'bottom', permanent: true, className: 'HM' }). setIcon. ointIconHM). }). getJSON("data/irigasi/DI_Ngembong. geojson", function . { HM. addLayer(HM). }). Sedangkan untuk menampilkan data-data pemetaan pada LeafletJS dengan menambahkan varibel tipe-tipe peta. Pada artikel ini penyajian peta dibagi menjadi 2 tipe, yaitu satellite dan street. Layanan peta atau basemap yang digunakan dalam artikel ini adalah pemetaan dari Google. Adapun tipe satellite pada pemetaan Daerah Irigrasi Ngembong pada Gambar 3. a, sedangkan tipe street seperti pada Gambar 3. Adapun kode untuk mendefinisikan kedua tipe tersebut, seperti kode dibawah ini. var G_Satellite = tileLayer('https://. com/vt/lyrs=s&x=. &y=. &z=. ' , { maxZoom: 20, subdomains: ["mt0", "mt1", "mt2", "mt3"] Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 13 -22 (Januari 2. Pengembangan Sistem Informasi A }). addTo. var G_Street = tileLayer('https://. com/vt/lyrs=m&x=. &y=. &z=. ' , { maxZoom: 20, subdomains: ['mt0', 'mt1', 'mt2', 'mt3'] }). Menggunakan LeafletJS dalam pengolahan dan penyajian data peta jaringan irigasi telah mendukung antarmuka yang responsive baik peramban web pada desktop maupun mobile. Antarmuka yang responsive selanjutnya dimanfaatkan pada perangkat mobile menggunakan teknologi webview (Fayzullaev et al. , 2. Sehingga pengguna dapat mengakses informasi pemetaan irigasi menjadi lebih mudah dan dapat mengakses rute menuju jaringan irigasi menggunakan fitur navigasi pada ponsel. Sumber: Hasil Penelitian . Gambar 4 menunjukan antarmuka berbasis webview yang dikemas menjadi aplikasi pada perangkat Android. Sumber: Hasil Penelitian . Gambar 3 Tipe Basemap Copyright A 2022 Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 13 Ae 22 (Januari 2. Sumarsono. Choerun Asnawi. Evy Kusumaningrum. Dedy Hariyadi Sumber: Hasil Penelitian . Gambar 4. Antarmuka Aplikasi pada Android Kesimpulan Penyajian dan pengolahan data pemetaan pada jaringan irigasi dapat menggunakan LeafletJS dengan kelebihan diantaranya mendukung antarmuka responsive baik pada peramban web yang beroperasi pada desktop maupun mobile. Terutama dengan antarmuka yang responsive pada peramban web ponsel cerdas dapat terintegrasi dalam bentuk aplikasi yang beroperasi secara native pada ponsel cerdas Android. Mengemas antarmuka webview menjadi sebuah aplikasi untuk ponsel cerdas Android memiliki keunggulan integrasi dengan sistem navigasi sehingga dapat menunjukan rute perjalanan menuju jaringan irigasi. Kelemahan pada penelitian ini yang belum dapay dilakukan diantaranya Sistem Informasi Geografi yang dikembangkan belum terintegrasi dengan sistem survei berupa pengunggah informasi tipe kerusakan, tagging lokasi, dan foto pendukung. Maka dari kelemahan penelitian tersebut dapat dilanjutkan pada penelitian selanjutnya dengan melakukan integrasi dari kelemahan-kelemahan tersebut. Jurnal Karya Ilmiah 23 . : 13 -22 (Januari 2. Pengembangan Sistem Informasi A Daftar Pustaka