Cara Mengutip (Gaya APA): Luthfi Dimar Larasati, dan Sri Marmoah. Implementasi Manajemen Kelas SosioEmosional pada Peserta Didik Kelas IV-V Community Learning Center (CLC) Prolific Malaysia. Didaktika Dwija Indria, 14 . , 591-597. : https://doi. org/10. 20961/ddi. Implementasi Manajemen Kelas Sosio-Emosional pada Peserta Didik Kelas IV-V Community Learning Center (CLC) Prolific Malaysia Luthfi Dimar Larasati1,dan Sri Marmoah2 PGSD. FKIP. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia PGSD. FKIP. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia Email penulis korespondensi: luthfidimarlarasati@student. Dikirim: 1 Januari 2026 Direvisi: 1 Maret 2026 Diterima: 1 April 2026 Kata Kunci: social-emotional. CLC. DOI: https://doi. org/10. 20961/ddi. Abstrak This study aims to describe the implementation of social-emotional classroom management of fourth and fifth-grade students at the Community Learning Center (CLC) Prolific, located in Sandakan. Malaysia. Employing a descriptive qualitative approach, data were obtained through classroom observations, teacher interviews, and document analysis, and analyzed using the Miles and Huberman interactive model with triangulation techniques to ensure data validity. The findings indicate that the implementation centers on four main aspects: emotional awareness, social relationships, self-resilience and decision making or life experiences, and communication development. Teachers integrated reflective dialogue, collaborative activities, personal storytelling, nonverbal communication training, and participatory conflict resolution as core strategies. These approaches fostered a classroom environment that supports open expression, empathy, and mutual respect, while also strengthening studentsAo confidence, listening skills, and ability to communicate assertively and critically. The teacherAos role as a model of positive communication was pivotal in shaping a supportive and inclusive classroom culture. The study concludes that socio-emotional consistently, contributes significantly to the development of interpersonal communication skills and can be recommended as a best practice for multicultural and nonformal educational settings. The findings of this study are expected to provide theoretical contributions in the development of socio-emotional-based classroom management as Jurnal Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. doi: : https://doi. org/10. 20961/ddi. A Penulis. Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons - Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi well as practical applications for teachers and educational institutions in creating a learning climate that supports students' social and emotional well-being. PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Manajemen kelas sosio-emosional merupakan pendekatan strategis yang menempatkan kesejahteraan emosional dan hubungan sosial peserta didik sebagai inti dari proses pembelajaran. Pendekatan ini bertujuan menciptakan lingkungan kelas yang aman, suportif, dan responsif terhadap kebutuhan emosional siswa, yang pada gilirannya mendorong keterlibatan aktif, kenyamanan psikologis, dan kohesi sosial dalam proses belajar-mengajar (Greenberg, 2. Dalam konteks pembelajaran abad ke-21, dimensi sosio-emosional semakin dianggap penting sebagai fondasi pengembangan karakter dan pembentukan budaya kelas yang sehat (Schonert-Reichl, 2. Community Learning Center (CLC) Prolific di Sandakan. Malaysia, merupakan salah satu lembaga pendidikan alternatif yang melayani anak-anak dari keluarga pekerja migran. CLC didirikan di wilayah kerja para TKI Malaysia sebagai solusi untuk memberikan pendidikan dasar dan menengah secara informal (Harahap et al. Peserta didik di CLC Prolific memiliki latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang sangat beragam, bahkan tidak sedikit yang menghadapi kondisi psikososial yang kompleks. Masalah Penelitian Penelitian sebelumnya mengenai manajemen kelas umumnya berfokus pada aspek prestasi belajar (Anggraini et al. , 2. , sedangkan kajian mendalam terkait implementasi manajemen kelas berbasis sosio-emosional khususnya pada CLC yang menampung anak-anak migran masih sangat terbatas. Implementasi manajemen kelas sosio-emosional di lembaga seperti CLC menjadi sangat relevan karena mampu menjawab kebutuhan dasar peserta didik seperti rasa aman, penerimaan, dan penghargaan diri. Strategi ini membangun interaksi yang sehat, mengembangkan empati, serta mengurangi perilaku agresif maupun penarikan diri (Araya et al. , 2. Keadaan Terkini Penelitian Pelaksanaan manajemen kelas sosio-emosional melibatkan berbagai strategi seperti dialog reflektif, kegiatan berbasis pengalaman personal, serta penguatan hubungan guru dan siswa melalui pendekatan humanistik dan suportif (Khoiri et al. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik mengenali emosi, memahami perspektif orang lain, serta membangun keterampilan sosial yang Penelitian Septiand et al. menunjukkan bahwa penguatan kompetensi guru di CLC menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi program sosioemosional. Kebaruan,Kesenjangan Penelitian & Tujuan Penelitian yang secara spesifik mengkaji praktik implementasi manajemen kelas sosio-emosional dalam konteks pendidikan nonformal seperti CLC masih Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi sangat terbatas (Septiand et al. , 2. Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji implementasi manajemen kelas sosio-emosional pada peserta didik kelas IV dan V di CLC Prolific Malaysia. Tujuan utama adalah mendeskripsikan praktik pelaksanaan guru serta menelaah bagaimana strategi tersebut diterapkan secara konkret di kelas. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan praktik pedagogis yang lebih inklusif dan berpihak pada kebutuhan sosio-emosional peserta didik dalam konteks pendidikan alternatif. METODE Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah guru kelas serta peserta didik IV-V di CLC Prolific tahun ajaran 2024/2025 yang berjumlah 44 peserta didik dengan durasi penelitian selama enam bulan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap interaksi kelas, wawancara dengan guru, serta studi dokumen berupa rencana mengajar. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi teknik dan sumber (Pemba et al. , 2. Selain tahapan analisis Miles & Huberman, penelitian ini juga dilakukan dengan prosedur sistematis yang meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, hingga pelaporan. Pada tahap persiapan, peneliti menyusun instrumen observasi, pedoman wawancara, dan lembar analisis dokumen. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan, peneliti terjun langsung ke kelas untuk mengamati aktivitas belajar-mengajar, melakukan wawancara mendalam dengan guru, serta mengumpulkan dokumen pembelajaran. Tahap analisis dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data melalui reduksi, penyajian, dan verifikasi temuan. Terakhir, peneliti menyusun laporan penelitian yang berisi interpretasi hasil sesuai fokus kajian. HASIL Tabel 1 Hasil Pelaksanaan Manajemen Kelas dengan Pendekatan SosioEmosional di CLC Prolific Aspek Utama Emosi Perasaan Indikator Pelaksanaan Hubungan Sosial Kegiatan diskusi kelompok, simulasi Komunikasi Ekspresi dan Pengenalan emosi harian, refleksi, ekspresi perasaan Ketahanan Diri Resolusi konflik, berbagi & Pengambilan pengalaman hidup, refleksi Keputusan Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Temuan/Hasil Peserta secara terbuka, terbentuk kesadaran diri Terjadi peningkatan empati, kerja sama, dan sikap saling menghargai antar siswa Peserta secara lebih bijak Meningkatnya keterampilan Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi komunikasi komunikasi, empatik, evaluasi harian diri, kemampuan mendengar aktif, dan berpikir reflektif Berdasarkan tabel tersebut, pelaksanaan manajemen kelas dengan pendekatan sosio-emosional di CLC Prolific menunjukkan hasil yang positif pada berbagai aspek perkembangan peserta didik. Setiap aspek saling berkaitan dalam membentuk keterampilan sosial, emosional, dan komunikasi yang lebih baik. Peserta didik tidak hanya berkembang dalam kemampuan akademik, tetapi juga dalam kesadaran diri, empati, serta kemampuan berpikir reflektif dan kritis. Secara keseluruhan, pendekatan ini terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang suportif dan mendorong perkembangan holistik siswa. PEMBAHASAN Terdapat empat aspek utama dalam pelaksanaan manajemen kelas pendekatan sosio-emosional pada peserta didik di CLC Prolific, antara lain: . emosi dan perasaan. hubungan sosial. ketahanan diri dan pengambilan keputusan atau pengalaman hidup. Pemahaman emosi sebagai dasar pelaksanaan, pelaksanaan manajemen kelas sosio-emosional di CLC Prolific dimulai dengan pengenalan dan pemahaman kondisi emosional peserta didik setiap pagi. Guru memberikan waktu khusus untuk mendengarkan cerita singkat siswa, menanyakan kondisi emosional mereka, dan melakukan refleksi Pendekatan ini membantu peserta didik mengenali emosi pribadi serta mengembangkan kesadaran diri (Ginott, 1. Pada ekspresi emosional terbuka dalam praktik harian, setiap kegiatan pembelajaran memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengutarakan pendapat, menyampaikan perasaan, atau memberi respons terhadap situasi pembelajaran. Guru tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga memberi umpan balik terhadap ekspresi afektif peserta didik. Hal ini mendukung terbentuknya komunikasi yang jujur, terbuka, dan saling percaya antar siswa dan guru (Jennings et al. , 2. Pada penguatan interaksi melalui kegiatan kolaboratif, guru menerapkan pembelajaran kooperatif seperti diskusi kelompok, presentasi kelompok, dan simulasi peran. Dalam kegiatan ini, peserta didik diberi tanggung jawab komunikasi, baik dalam menyampaikan ide maupun mendengarkan pendapat teman. Pengalaman komunikasi dalam konteks kerja tim mendorong tumbuhnya empati, sikap menghargai, dan negosiasi sosial (Jones & Kahn, 2. Resolusi konflik sebagai bagian dari pembelajaran, guru mengelola konflik sosial yang terjadi dalam kelas dengan prinsip mediasi partisipatif. Ketika terjadi perselisihan, guru memfasilitasi diskusi untuk memahami penyebab konflik dan mencari solusi bersama. Strategi ini sejalan dengan pendekatan restoratif yang disarankan Jennings et al . , yaitu menumbuhkan tanggung jawab sosial siswa melalui komunikasi damai. Integrasi Narasi pengalaman hidup dalam komunikasi peserta didik diajak untuk berbagi pengalaman pribadi, baik dalam pembelajaran tematik maupun dalam sesi reflektif. Guru mengaitkan pengalaman tersebut dengan topik pembelajaran untuk menciptakan komunikasi yang bermakna. Hammond menyebut strategi ini sebagai pendekatan culturally responsive, yang mampu Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi meningkatkan relevansi dan kedalaman komunikasi siswa (Hammond et al. , 2. Pada pelibatan emosi dalam materi akademik, materi pelajaran tidak disampaikan secara netral, melainkan melibatkan perasaan siswa. Misalnya, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa diminta menulis cerita pengalaman dengan fokus pada perasaan yang dirasakan. Praktik ini memperkuat ekspresi verbal, sensitivitas bahasa, serta mendorong komunikasi personal yang lebih kaya (Gay, 2. Pada dukungan visual dan nonverbal dalam interaksi kelas, selain komunikasi lisan, guru melatih peserta didik untuk memahami bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan intonasi suara sebagai bagian dari komunikasi. Poster emosi, skenario nonverbal, dan latihan membaca ekspresi digunakan untuk memperkuat keterampilan nonverbal yang mendukung interaksi sosial (Zinsser et al. , 2. Pada peran guru sebagai model komunikasi positif, guru secara konsisten menunjukkan perilaku komunikasi yang sopan, empatik, dan terbuka. Guru juga memberikan contoh bagaimana menghadapi kritik, meminta maaf, dan menyampaikan perasaan dengan cara yang konstruktif. Schonert-Reichl menyatakan bahwa guru yang menjadi role model komunikasi positif memiliki pengaruh besar dalam pembentukan komunikasi siswa (Schonert-Reichl, 2. Dalam evaluasi harian dan refleksi interaksi sosial, pada akhir pembelajaran, guru bersama siswa melakukan evaluasi harian terkait suasana emosional dan kualitas komunikasi kelas. Evaluasi ini berfungsi untuk memperbaiki komunikasi di hari berikutnya (Fatimah et al. , 2. Pada dampak pelaksanaan terhadap keterampilan komunikasi, pelaksanaan yang konsisten menunjukkan peningkatan dalam kepercayaan diri peserta didik saat berbicara, kemampuan menyampaikan pendapat dengan jelas, mendengarkan secara aktif, dan menyampaikan empati dalam diskusi. Pendekatan sosio-emosional berdampak langsung terhadap kualitas komunikasi interpersonal anak-anak sekolah dasar (Cipriano et al. , 2. Salah satu dampak yang menonjol dari pelaksanaan manajemen kelas sosioemosional di CLC Prolific adalah munculnya pola komunikasi reflektif dan kritis di kalangan peserta didik. Dalam sesi diskusi, peserta didik tidak hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga mulai menilai secara kritis pengalaman mereka, memahami konsekuensi emosional dari tindakan tertentu, dan menyusun argumen secara Guru melatih peserta didik untuk menggunakan kalimat-kalimat asertif, mempertimbangkan perspektif orang lain, dan menggunakan empati sebagai dasar Proses ini mengindikasikan adanya perkembangan pada kemampuan metakognitif dan pengambilan keputusan dengan komunikasi. Sejalan dengan hal itu, komunikasi reflektif yang dibangun dalam lingkungan sosial yang aman mampu memperkuat kecakapan berpikir tingkat tinggi dan keterhubungan sosial antar peserta didik (Azzahro et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky, yang menekankan bahwa perkembangan kognitif dan keterampilan komunikasi anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial (Ikhtiana, 2. Strategi manajemen kelas sosio-emosional di CLC Prolific, seperti diskusi kelompok, refleksi pengalaman pribadi, dan komunikasi empatik, merupakan bentuk scaffolding yang memfasilitasi perkembangan bahasa dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Selain itu, teori humanistik Rogers juga relevan. Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi karena guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan iklim belajar aman, suportif, dan menghargai keberagaman peserta didik. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi manajemen kelas berbasis sosio-emosional di CLC Prolific Malaysia mencakup pengelolaan emosi, penguatan hubungan sosial, pengaitan ketahanan diri dan pengambilan keputusan atau pengalaman hidup siswa, dan strategi komunikasi yang tepat. Pendekatan ini berdampak positif terhadap peningkatan keterampilan komunikasi peserta didik kelas IVAeV, terutama dalam aspek keberanian berbicara, empati, dan kerja sama dalam diskusi. Pelaksanaan manajemen kelas sosio-emosional di CLC Prolific dilakukan secara terstruktur melalui strategi refleksi emosional, kegiatan kolaboratif, dan pendekatan inklusif. Guru memainkan peran sentral dalam membentuk pola interaksi yang sehat dan suportif. Dampak pelaksanaan tersebut terlihat pada keberanian menyampaikan ide, empati, maupun kemampuan mendengarkan aktif. Implikasi teoritis temuan ini memperkuat konsep bahwa manajemen kelas sosio-emosional sejalan dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky dan teori humanistik Rogers, yang menekankan pentingnya interaksi sosial dan iklim belajar yang suportif untuk pengembangan keterampilan Implikasi praktis penelitian ini dapat menjadi acuan bagi guru dalam merancang manajemen kelas yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa. Selain itu, lembaga pendidikan dapat mengintegrasikan pendekatan sosio-emosional dalam kebijakan dan program pelatihan guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA