Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir Al-Ittihad: Jurnal Hukum Islam Pemikiran https://e-journal. id/index. php/ittihad e-ISSN 2721-6829, p-ISSN 2442-6938 DOI: 10. Grade: Sinta 5 Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam. Volume 12. No. 1, . : June, p. REKONSTRUKSI BATIN MANUSIA SEBAGAI PUSAT RESISTENSI: GAGASAN ETIKA DIGITAL PERSPEKTIF PEMIKIRAN BEDIUZAMAN SAID NURSI Abdullah Khusairi1. Muh. Khamdan2. Meysanda Nurhayati3. Tahir5 Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Sumatera Barat. Indonesia Balai Pelatihan Hukum. Kanwil Menkumham. Semarang. Indonesia Universitas Negeri Padang. Sumatera Barat. Indonesia Universitas Islam. Jakarta. Indonesia Email Corresponding Author: abdullahkhusairi@uinib. Article Submite Acepted Publish History Tggl/Bulan/Tahun Tggl/Bulan/Tahun Tggl/Bulan/Tahun 04/06/2026 12/06/2026 23/06/2026 Abstract English This article examines digital ethics in the context of algorithmic society through the perspective of Bediuzzaman Said Nursi. In the contemporary digital era, social media platforms have transformed into algorithmdriven spaces that shape human attention, behavior, and moral perception. This situation is worrying, including the disruption of moral awareness, the spread of misinformation, malinformation, and disinformation, and the weakening of spiritual awareness in online interactions. Although studies on digital ethics have been dominated by Western theoretical frameworks such as communicative action theory and surveillance capitalism, attention to Islamic spiritual epistemology remains very limited. Using a qualitative literature research approach combined with Critical Discourse Analysis, this study analyzes key concepts in Nursi's thought, namely ghaflah . piritual negligenc. , tafakkur . , and iman tahqiqi . erified fait. , in relation to algorithmic culture. The results show that algorithmic systems amplify distractions consistent with the concept of ghaflah, while simultaneously weakening the capacity for moral reflection. Conversely, tafakkur and tahqiqi faith serve as epistemic and spiritual mechanisms that enable moral resistance to the algorithm-driven attention economy. This study concludes that digital ethics needs to go beyond technical and communicative frameworks to incorporate spiritual awareness as a fundamental dimension of human consciousness. The integration of Nursi's spiritual epistemology into digital ethics offers a new perspective for understanding the moral implications of algorithmic governance in contemporary society. Key Word: Said Nursi. Digital ethic, algorithmic society. Ghaflah. Tafakkur. Iman tahqiqi aO EAA. AIOE NN EICE EEC ECIO AO OC EII EOIO II IIO O EII O EIOOA A II O EO IN uEIIAUA OE IIA EOAE EIO uEO A EIN EOIOAUAECIO EIAA A OI EIEOIAUA EI OIOO EON II AO EOO EECOAUAON EO IO EECECA. AOEOEN OuEN EECOA A EIO EAEAUAOI NOII E EIO EOA. A OA EOO EOO AO EAE ueOIOAUAEIEE OEIEOA A uE I ENII EIA EOO uEEIO E OEAUA EO E EIEC EEC ECIOAUAEOAEO OIEO EICA A EE NN E IANOI O AO AEAUA ICIU EOE E EICOAUAOI IIN E EO EIOOA. AIOU EEOA AOaN EI I EII EOIO a cIA. A AO OC ECA EOIOAUA OuEOII ECOCOAUA OEAEAUA ONO EAEAUAEIOOA Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. AOA a acA Oa cEE EcaCAUAAO EICEA. A OII aA AO EOC IAN EC EO EIE EECOAUAOIE EO EIOAC I IANOI EAEA AOEA NN E uEO IA. AO EO IAOU oU aO EICOI EECO ECA EIN ECI EO EOIOA a acAOE ca aCA AOOaCcIA. AO II EOO uEIIOA AEA AEOOA AEOOA AEIEA AOEOAEOA AECIOA AEA AOA AuEOA AECIOA AEECA AIIO OU EANI E EECO EEOEI EOIO AOA AECIOA AEECA AAOA AEIOOA AIA AEOOA AEIAA AIOA AI aA AEII EIAA. A uOII COCOAUA AEOAUA AEAUA EII EOIOAUA EEC ECIOAUA O EIOOA:AeI EIAOA Abstrak Indonesia Artikel ini mengkaji etika digital dalam konteks masyarakat algoritmik melalui perspektif Bediuzzaman Said Nursi. Pada era digital kontemporer, platform media sosial telah bertransformasi menjadi ruang yang digerakkan oleh algoritma yang membentuk perhatian, perilaku, dan persepsi moral manusia. Kondisi ini mengkhawatirkan terjadinya kesadaran moral, penyebaran misinformasi, malinformasi dan disinformasi serta melemahnya kesadaran spiritual dalam interaksi daring. Meskipun studi-studi tentang etika digital selama ini didominasi oleh kerangka teori Barat seperti teori tindakan komunikatif dan kapitalisme pengawasan, perhatian terhadap epistemologi spiritual Islam masih sangat terbatas. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan kualitatif yang dipadukan dengan Analisis Wacana Kritis, penelitian ini menganalisis konsep-konsep kunci dalam pemikiran Nursi, yaitu ghaflah . elalaian spiritua. , tafakkur . , dan iman tahqiqi . man yang terverifikas. , dalam kaitannya dengan budaya algoritmik. Hasil penelitian menunjukkan, sistem algoritmik memperkuat kondisi distraksi yang sejalan dengan konsep ghaflah, sekaligus melemahkan kemampuan refleksi moral. Sebaliknya, tafakkur dan iman tahqiqi berfungsi sebagai mekanisme epistemik dan spiritual yang memungkinkan terbentuknya resistensi moral terhadap ekonomi perhatian yang digerakkan oleh algoritma. Penelitian ini menyimpulkan, etika digital perlu melampaui kerangka teknis dan komunikatif dengan memasukkan kesadaran spiritual sebagai dimensi fundamental kesadaran manusia. Integrasi epistemologi spiritual Nursi dalam etika digital menawarkan perspektif baru untuk memahami implikasi moral dari tata kelola algoritmik dalam masyarakat kontemporer. Kata kunci: Said Nursi. Etika digital. Algorithmic society. Ghaflah. Tafakkur. Iman tahqiqi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Publisher: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Al-Ittihad Bima PENDAHULUAN Transformasi digital telah mengubah cara manusia membangun relasi sosial, memproduksi pengetahuan, dan membentuk kesadaran moral. 1 Platform media sosial sebagai ruang komunikasi telah berkembang menjadi arena produksi makna yang sangat dipengaruhi oleh logika algoritma. 2 Fenomena ini sejalan dengan analisis Manuel Castells . tentang network society yang menunjukkan bahwa kekuasaan kini 1 Vincent C Myller. AuThe History of Digital Ethics,Ay ArXiv Preprint ArXiv:2508. 16616, 2025. Lihat juga. Allan Luke. AuDigital Ethics Now,Ay Language and Literacy 20, no. : 185Ae98. 2 Anna Gausen. Ce Guo, and Wayne Luk. AuAn Approach to Sociotechnical Transparency of Social Media Algorithms Using Agent-Based Modelling,Ay AI and Ethics 5, no. : 1827Ae45. Lihat juga. Tim OAoReilly. Ilan Strauss, and Mariana Mazzucato. AuAlgorithmic Attention Rents: A Theory of Digital Platform Market Power,Ay Data & Policy 6 . : e6. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir bekerja melalui jaringan informasi yang terstruktur secara digital. 3 Kontroversi muncul ketika algoritma menentukan visibilitas informasi lebih dominan dibandingkan pertimbangan etis manusia. Perubahan ini semakin menguat dalam kerangka attention economy yang menjadikan perhatian sebagai komoditas utama. 4 Tren global menunjukkan meningkatnya disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi opini yang dipicu oleh sistem distribusi konten berbasis algoritma. 5 Hal ini juga terjadi di Indonesia, hoax menyebar di ruang digital karena rendahnya literasi digital. Menurut data dari Komdigi, 1. 923 konten hoaks sepanjang 2024 dan cenderung naik setiap 6 Kondisi ini, menurut Shoshana Zuboff menyebut kondisi ini sebagai bentuk surveillance capitalism, di mana perilaku manusia dimonetisasi melalui ekstraksi data. Situasi ini menghadirkan krisis etika digital yang serius, di mana kesadaran moral pengguna melemah di tengah dominasi sistem teknologis yang semakin otonom. Kajian etika digital selama ini berkembang melalui pendekatan filsafat komunikasi modern, terutama dalam tradisi teori tindakan komunikatif Jyrgen Habermas yang menekankan rasionalitas dialogis sebagai basis etika publik. 8 Selain itu, studi kritis teknologi juga dipengaruhi oleh analisis kekuasaan Michel Foucault9 serta kajian komunikasi digital kontemporer. 10 Pendekatan tersebut cenderung bersifat sekuler dan kurang mengakomodasi dimensi spiritualitas religius sebagai fondasi etika Sementara itu, kajian tentang Bediuzzaman Said Nursi dan Risale-i Nur dalam literatur akademik telah membahas konsep iman, tafakkur, dan kesadaran eksistensial dalam Islam modern, tetapi masih terbatas pada ranah teologis, sufistik, pendidikan Islam dan psikologi Islam. 11 Belum ada penelitian yang secara serius menghubungkan 3 Manuel Castells. Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age (John Wiley & Sons, 4 Thomas H Davenport and John C Beck. AuThe Attention Economy,Ay Ubiquity 2001, no. May . : 1-es. 5 Abdurahman Maarouf. Nicolas Pryllochs, and Stefan Feuerriegel. AuThe Virality of Hate Speech on Social Media,Ay Proceedings of the ACM on Human-Computer Interaction 8, no. CSCW1 . : 1Ae22. 6 Siaran Pers. AuKomdigi Identifikasi 1. 923 Konten Hoaks Sepanjang Tahun 2024,Ay komdigi. https://w. id/berita/siaran-pers/detail/komdigi-identifikasi-1923-konten-hoakssepanjang-tahun-2024. 7 Shoshana Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism,Ay in Social Theory Re-Wired (Routledge, 2. , 203Ae13. 8 Jurgen Habermas. AuThe Theory of Communicative ActionAy (Beacon Press, 1. 9 Michel Foucault et al. Michel Foucault (Orange Press, 2. Lihat juga. Sylvain Lafleur. AuFoucault. La Communication et Les Dispositifs,Ay Communication. Information Mydias Thyories Pratiques 33, no. 10 Silvia Capodivacca and Gabriele Giacomini. AuDiscipline and Power in the Digital Age: Critical Reflections from FoucaultAos Thought,Ay Foucault Studies 36, no. : 227Ae51. Lihat juga. Foucault, la communication et les dispositifs 11 Nabila Huringiin et al. AuSpiritual Governance and Ethical Politics: Reconstructing Islamic Political Thought in the Works of Bediuzzaman Said Nursi,Ay Journal of Islamic Thought and Civilization 16, no. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. pemikiran Nursi dengan ekosistem algoritmik dan budaya digital kontemporer. Oleh karena itu, novelty penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan etika digital modern dengan spiritualitas Islam Nursi melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis van Dijk,12 sehingga menghasilkan perspektif baru dalam Studi Islam (SI) dan teknologi informasi komunikasi (TIK). Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi pemikiran Bediuzzaman Said Nursi sebagai kerangka etika digital berbasis spiritualitas dalam konteks masyarakat Secara umum, penelitian ini berupaya melengkapi keterbatasan studi etika digital yang cenderung bersifat rasional-sekuler dengan menghadirkan perspektif Islam yang berbasis kesadaran moral dan spiritual. Secara khusus, artikel ini menganalisis konstruksi moral dalam pemikiran Nursi, mengkaji konsep ghaflah, tafakkur, dan iman tahqiqi sebagaimana dijelaskan dalam Risale-i Nur, serta menjelaskan konsep tersebut dapat digunakan untuk membaca ulang dominasi algoritma dalam membentuk perilaku dan kesadaran manusia modern. Pembahasan ini berargumen, krisis etika digital bersumber dari dominasi algoritma dan melemahnya kesadaran reflektif pengguna. Semakin rendah kapasitas refleksi individu, semakin besar kerentanannya terhadap logika perhatian, viralitas, dan manipulasi informasi yang menjadi karakter utama platform digital. Sebaliknya, kesadaran spiritual dapat berfungsi sebagai fondasi resistensi moral terhadap budaya digital yang serba instan. Dengan demikian, etika digital berkaitan erat dengan kualitas kesadaran manusia dalam menghadapi masyarakat algoritmik (Zuboff, 2019. Campbell & Cheong, 2022. Evolvi, 2. KAJIAN TEORI Masyarakat Algoritma dan Tata Kelola Platform Perkembangan teknologi digital telah melahirkan suatu tatanan sosial yang semakin bergantung pada sistem algoritmik dalam mengorganisasi, mengklasifikasi, dan mengarahkan berbagai aktivitas manusia. Dalam masyarakat algoritmik, algoritma berfungsi bukan hanya sebagai perangkat teknis, melainkan sebagai mekanisme tata kelola yang memengaruhi proses pengambilan keputusan, distribusi informasi, . : 320Ae41. Lihat juga. Dhita Ayomi Purwaningtyas. Imam Khomaeni Hayatullah, and Nindhya Ayomi Delahara. AuBadiuzzaman Said NursiAos Theology of Resistance: A Postcolonial Reading of Risale-i Nur,Ay Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam 9, no. : 209Ae34. 12 Teun A. Van Dijk. Discourse and Context. A Sociocognitive Approach (Barcelona: Cambridge University Press, 2. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir pembentukan opini publik, hingga relasi kekuasaan dalam ruang digital. 13 Sistem algoritmik bekerja melalui proses pengumpulan data, prediksi perilaku, dan 14 Fenomena tersebut berkembang melalui proses platformization, yaitu transformasi berbagai sektor kehidupan ke dalam ekosistem platform digital yang Platform digital kini berfungsi sebagai infrastruktur sosial yang menghubungkan interaksi ekonomi, politik, budaya, dan komunikasi masyarakat 15 Dalam proses ini, kekuasaan platform semakin menguat melalui mekanisme pengelolaan data, moderasi konten, dan pengaturan arus informasi yang menciptakan bentuk baru tata kelola digital. Transformasi masyarakat digital melahirkan konsep algorithmic governance, yakni praktik pengelolaan, pengawasan, dan pengambilan keputusan sosial melalui sistem algoritmik berbasis big data dan kecerdasan buatan yang semakin terintegrasi dalam kehidupan publik. 17 Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), kebijakan digital mencakup tujuh dimensi utamaAiAccess. Use. Innovation. Jobs. Society. Trust, dan Market OpennessAiyang secara terpadu bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan melalui transformasi digital yang inklusif dan aman. 18 Dalam model ini, algoritma berfungsi sebagai instrumen teknis, juga menentukan visibilitas informasi, mengatur distribusi perhatian, dan membentuk pola interaksi sosial dalam ruang digital yang sangat terpersonalisasi. 19 Mekanisme tersebut bekerja melalui logika attention economy, ketika perhatian manusia menjadi komoditas utama dalam ekosistem informasi yang mengalami kelebihan produksi 13 Nardine Alnemr. AuDemocratic Self-Government and the Algocratic Shortcut: The Democratic Harms in Algorithmic Governance of Society,Ay Contemporary Political Theory 23 . : 205Ae27. Lihat juga. Umang Bhatt and Holli Sargeant. AuWhen Should Algorithms Resign? A Proposal for AI Governance,Ay Computer 57, no. : 99Ae103. 14 Magesh Kumar K and K Dinakaran. AuLeveraging AI for Digital User Behaviour Prediction and Recommendation System : A Comprehensive Study,Ay 2024, 3730Ae48. 15 Josy Van Dijck. Thomas Poell, and Martijn De Waal. The Platform Society: Public Values in a Connective World (Oxford university press, 2. 16 Katharina Kausche and Moritz Weiss. AuPlatform Power and Regulatory Capture in Digital Governance,Ay Business and Politics 27, no. : 284Ae308. 17 Karen Yeung. AuAlgorithmic Regulation: A Critical Interrogation,Ay Regulation & Governance 12, no. : 505Ae23. Lihat juga. Corinne Cath et al. AuArtificial Intelligence and the AoGood SocietyAo: The US. EU, and UK Approach,Ay Science and Engineering Ethics 24, no. : 505Ae28. 18 OECD. Digital Economy Outlook 2024 (Volume . , vol. 2, 2024. 19 Taina Bucher. If. Then: Algorithmic Power and Politics (Oxford University Press, 2. Lihat juga. Tarleton Gillespie. AuGenerative AI and the Politics of Visibility,Ay Big Data & Society 11, no. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. 20 Guna mempertahankan keterlibatan pengguna, platform mengandalkan notifikasi real-time, personalisasi algoritmik, infinite scrolling, dan sistem rekomendasi berbasis prediksi perilaku yang mendorong konsumsi konten berulang. 21 Kondisi ini berkelindan dengan surveillance capitalism, yaitu model ekonomi yang bergantung pada ekstraksi dan komersialisasi data perilaku pengguna dalam skala besar. 22 Dalam proses ini, pengalaman manusia direduksi menjadi data prediktif yang digunakan untuk kepentingan ekonomi dan kontrol sosial. 23 Akibatnya, pengguna berubah, konsumen informasi menjadi objek pengawasan yang terus dipetakan oleh infrastruktur platform 24 Singkatnya, tata kelola algoritmik memengaruhi otonomi individu, memperkuat polarisasi, dan melemahkan kapasitas reflektif publik. Digital Ethics dalam Era Algoritma Perkembangan teknologi digital yang ditopang kecerdasan buatan dan sistem algoritmik telah mendorong etika digital sebagai bidang kajian penting dalam masyarakat kontemporer. 26 Etika digital membahas persoalan moral relasi manusia, data, algoritma, dan kekuasaan platform. 27 Isu privasi semakin menguat akibat ekstraksi data skala besar oleh perusahaan teknologi global, di mana data berubah menjadi komoditas dalam ekonomi pengawasan. 28 Tuntutan transparansi algoritma berkembang sebagai prinsip etis dalam tata kelola sistem digital,29 yang kini dipahami sebagai praktik sosio-teknis yang terkait dengan distribusi kekuasaan, pengambilan keputusan otomatis, dan pengaruh platform terhadap kehidupan sosial. 30 Kajian AI ethics Philip M Napoli. Social Media and the Public Interest: Media Regulation in the Disinformation Age (Columbia university press, 2. 21 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism. Ay Lihat juga. Cong Liu and Rui Qiao. AuUser Friction in Infinite Scrolling Algorithmic Feeds: Examining the Impact of App Use and Algorithm Dependence on News Knowledge,Ay Emerging Media, 2026, 27523543261452616. 22 Ulises A Mejias and Nick Couldry. AuDatafication,Ay Internet Policy Review 8, no. 23 David Lyon. The Culture of Surveillance: Watching as a Way of Life (John Wiley & Sons, 2. 24 Van Dijck. Poell, and De Waal. The Platform Society: Public Values in a Connective World. 25 Luciano Floridi et al. AuAI4PeopleAiAn Ethical Framework for a Good AI Society: Opportunities. Risks. Principles, and Recommendations,Ay Minds and Machines 28, no. : 689Ae707. 26 Luciano Floridi. The Ethics of Information (Oxford University Press (UK), 2. 27 Rafael Capurro. AuTowards an Ontological Foundation of Information Ethics,Ay Ethics and Information Technology 8, no. : 175Ae86. Lihat juga. Luciano Floridi and Josh Cowls. AuA Unified Framework of Five Principles for AI in Society,Ay Machine Learning and the City: Applications in Architecture and Urban Design, 2022, 535Ae45. 28 Nick Couldry and Ulises Ali Mejias. AuThe Decolonial Turn in Data and Technology Research: What Is at Stake and Where Is It Heading?,Ay Information. Communication & Society 26, no. : 786Ae802. 29 Nicholas Diakopoulos. AuAccountability in Algorithmic Decision Making,Ay Communications of the ACM 59, no. : 56Ae62. 30 Mark Coeckelbergh. AuArtificial Intelligence, the Common Good, and the Democratic Deficit in AI Governance,Ay AI and Ethics 5, no. : 1491Ae97. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir menekankan prinsip keadilan, akuntabilitas, transparansi, dan perlindungan hak-hak pengguna dalam pengembangan serta implementasi sistem kecerdasan buatan 31 Prinsipprinsip tersebut diperkuat oleh berbagai standar global,32 serta penelitian mutakhir yang menunjukkan bahwa AI generatif menghadirkan tantangan etis baru berupa risiko pelanggaran privasi, manipulasi perilaku pengguna, bias algoritmik, penyebaran informasi sintetis, dan ancaman terhadap otonomi manusia dalam ruang digital. Kajian terhadap AI ethics menekankan keadilan . , akuntabilitas . , transparansi . , privasi, dan perlindungan hak-hak pengguna sebagai prinsip fundamental dalam pengembangan serta implementasi sistem kecerdasan buatan. 34 Berbagai pedoman etika AI global membawa prinsip-prinsip tersebut menjadi fondasi normatif yang mengarahkan desain, pengelolaan, dan penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan agar selaras dengan kepentingan manusia dan nilai-nilai sosial. Prinsip-prinsip ini kemudian diperkuat melalui berbagai kerangka tata kelola internasional yang menekankan pendekatan human-centered AI, penghormatan terhadap hak asasi manusia, transparansi algoritmik, tata kelola data yang bertanggung jawab, serta mekanisme pengawasan dan pertanggungjawaban dalam pengembangan teknologi digital, seperti dari UNESCO35 dan OECD. 36 Singkat kata, etika AI berfungsi sebagai landasan normatif untuk memastikan bahwa inovasi teknologi tetap mendukung keadilan sosial, kesejahteraan publik, dan keberlanjutan kehidupan demokratis. Malinformasi. Misinformasi. Disinformasi, dan Krisis Kesadaran Digital Transformasi digital yang semula menjanjikan demokratisasi informasi justru melahirkan paradoks baru berupa krisis kualitas pengetahuan publik. Platform digital mempercepat distribusi informasi lintas batas dan memperluas akses masyarakat terhadap berbagai sumber pengetahuan, namun pada saat yang sama menciptakan lingkungan komunikasi yang rentan terhadap manipulasi, distorsi, dan banjir informasi 31 Anna Jobin. Marcello Ienca, and Effy Vayena. AuThe Global Landscape of AI Ethics Guidelines,Ay Nature Machine Intelligence 1, no. : 389Ae99. 32 UNESCO. AuThe Ethics of Artificial IntelligenceAy . 33 Yiming Li et al. AuRethinking Data Protection in the (Generativ. Artificial Intelligence Era,Ay ArXiv Preprint ArXiv:2507. 03034, 2025. 34 Jobin. Ienca, and Vayena. AuThe Global Landscape of AI Ethics Guidelines. Ay 35 UNESCO, the Ethics of Artificial Intelligence. 36 OECD. Digital Economy Outlook 2024 (Volume . Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. berkredibilitas rendah. 37 Fenomena ini dikenal sebagai information disorder, yaitu kondisi ketika ruang digital dipenuhi oleh misinformation, disinformation, dan malinformation yang mengaburkan batas antara fakta, opini, dan propaganda. Perkembangan selanjutnya terjadi semakin kompleks karena algoritma platform cenderung memprioritaskan keterlibatan emosional dibanding akurasi informasi sehingga mempercepat penyebaran konten sensasional dan polarisatif. 39 Kehadiran kecerdasan buatan generatif memperbesar risiko tersebut melalui produksi konten sintetis, deepfake, dan narasi manipulatif dalam skala masif, sehingga krisis digital saat ini berkembang menjadi krisis epistemologis yang mengancam integritas pengetahuan, kepercayaan publik, dan kualitas deliberasi demokratis. Ekosistem informasi digital semakin dibentuk oleh personalisasi algoritmik yang menentukan informasi yang diterima pengguna di berbagai platform. Sistem rekomendasi berbasis kecerdasan buatan menyajikan konten sesuai preferensi dan riwayat interaksi pengguna, sehingga memperkuat homogenitas informasi serta mengurangi keterpaparan terhadap pandangan yang beragam. 41 Kondisi ini terciptanya fenomena echo chamber dan filter bubble yang mendorong individu berinteraksi dalam lingkungan yang didominasi pandangan serupa, sementara perspektif alternatif semakin 42 Dampaknya, polarisasi sosial dan fragmentasi ruang publik semakin Situasi ini turut mempercepat berkembangnya budaya post-truth, ketika emosi, identitas kelompok, dan keyakinan subjektif lebih berpengaruh daripada fakta empiris dalam membentuk opini publik. 43 Dampaknya, penyebaran misinformasi meningkat dan kapasitas reflektif masyarakat melemah, sehingga memunculkan krisis 37 Manuel Castells. AuThe New Public Sphere: Global Civil Society. Communication Networks, and Global Governance,Ay The ANNalS of the American Academy of Political and Social Science 616, no. : 78Ae93. 38 UNESCO, the Ethics of Artificial Intelligence. 39 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism. Ay Lihat juga. OECD. Digital Economy Outlook 2024 (Volume . 40 Alexandre Lypez-Borrull and Carlos Lopezosa. AuMapping the Impact of Generative AI on Disinformation: Insights from a Scoping Review,Ay Publications 13, no. : 33. 41 Ermelinda Rodilosso. AuFilter Bubbles and the Unfeeling: How AI for Social Media Can Foster Extremism and Polarization,Ay Philosophy & Technology 37, no. : 71. Lihat juga. Han Woo Park and Sejung Park. AuThe Filter Bubble Generated by Artificial Intelligence Algorithms and the Network Dynamics of Collective Polarization on YouTube: The Case of South Korea,Ay Asian Journal of Communication 34, no. : 195Ae212. 42 David Hartmann et al. AuA Systematic Review of Echo Chamber Research: Comparative Analysis of Conceptualizations. Operationalizations, and Varying Outcomes,Ay Journal of Computational Social Science 8, 2 . : 52. Lihat juga. Yichang Gao. Fengming Liu, and Lei Gao. AuEcho Chamber Effects on Short Video Platforms,Ay Scientific Reports 13, no. : 6282. 43 Paige Benton and Michael W Schmidt. AuThe Harm of Social Media to Public Reason,Ay Topoi 43, 5 . : 1433Ae49. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir epistemik yang memengaruhi kualitas deliberasi publik dan pengambilan keputusan sosial di era digital. Ketiga kajian di atas dapat dipahami, transformasi digital telah membentuk tatanan sosial baru yang berpusat pada platform dan algoritma sebagai pengelola utama arus informasi. Dalam tatanan ini, ekonomi perhatian mendorong kompetisi untuk merebut fokus pengguna sehingga kecepatan, viralitas, dan keterlibatan sering lebih diutamakan daripada akurasi dan kedalaman makna. Konsekuensinya, ruang digital menjadi rentan terhadap manipulasi informasi, polarisasi, dan penurunan kualitas diskursus publik. Situasi ini menegaskan, hadirnya persoalan etis di ruang digital beranjak dari persoalan teknologi, yang berkaitan dengan kemampuan manusia mengelola informasi, membangun refleksi kritis, dan mempertahankan kesadaran moral di tengah dominasi logika algoritmik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan . ibrary researc. untuk mengkaji etika digital dalam masyarakat algoritmik melalui analisis berbagai sumber tekstual. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan pemahaman mendalam terhadap makna, gagasan, dan konstruksi konseptual yang berkembang dalam literatur serta interpretasi fenomena sosial secara 45 Data penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari Risale-i Nur Collection,46 terutama The Words,47 The Letters,48 The Flashes,49 dan The Rays,50 yang digunakan untuk mengidentifikasi konsep kesadaran, refleksi, dan pembentukan pengetahuan. Data sekunder diperoleh dari artikel jurnal, buku akademik, laporan lembaga internasional, dan penelitian terdahulu yang membahas etika digital, tata kelola algoritmik, kecerdasan buatan, ekonomi perhatian, kapitalisme pengawasan, serta misinformasi dan disinformasi di ruang digital. Kajian ini juga memanfaatkan berbagai dokumen kebijakan dan penelitian mutakhir mengenai 44 Floridi. The Ethics of Information. 45 John W Creswell and J David Creswell. Research Design: Qualitative. Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Sage publications, 2. 46 Said Nursi. The Words (Tughra Books, 2. 47 Said Nursi. From the Risale-i Nur Collection: The Words, vol. com, 1. 48 Said Nursi. Letters, 1928-1932, vol. com, 1. 49 Said Nursi. The Flashes Collection, vol. com, 1. 50 Muhammad Bilal Sethi. Gulzar Ahmad Jalal, and Sami ul Haq. AuSaid Nursi: A Brief Overview of Vision and Reformative Thoughts,Ay Journal of Islamic and Religious Studies 7, no. : 81Ae90. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. tata kelola AI, etika data, privasi, transparansi, dan akuntabilitas algoritmik yang berkembang pada tingkat global. Analisis data dilakukan dengan memadukan pendekatan analisis konseptual Critical Discourse Analysis model Fairclough. 52 Analisis konseptual digunakan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menjelaskan konsep-konsep utama yang ditemukan dalam sumber data primer maupun sekunder sehingga dapat dibangun hubungan teoritis antara isu etika digital dan dimensi kesadaran manusia. 53 Sementara itu. Analisis Wacana Kritis digunakan untuk memahami bagaimana teks menghasilkan konstruksi makna tertentu terkait pengetahuan, kesadaran, moralitas, dan relasi kuasa dalam masyarakat. 54 Analisis dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama, mengidentifikasi karakteristik utama masyarakat algoritmik dan problem etika digital berdasarkan literatur kontemporer. Kedua, melakukan pembacaan mendalam terhadap sumber data primer untuk menemukan konsep-konsep yang relevan dengan problem tersebut. Ketiga, melakukan sintesis dan reinterpretasi konseptual guna membangun kerangka etika digital yang mampu menjelaskan tantangan moral dalam lingkungan yang dikendalikan oleh algoritma. Proses analisis dilakukan secara iteratif melalui pembacaan berulang, pengkodean tematik, kategorisasi konsep, dan pengembangan argumentasi teoritis sampai diperoleh pola hubungan yang koheren antara fenomena digital kontemporer dan kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini. Validitas membandingkan berbagai literatur dari bidang etika digital, tata kelola algoritmik, filsafat teknologi, dan studi Islam kontemporer. 56 Teknik ini digunakan untuk meningkatkan kredibilitas interpretasi serta memastikan analisis dibangun melalui sintesis kritis lintas disiplin. Melalui prosedur ini, penelitian menghasilkan konstruksi 51 OECD. Digital Economy Outlook 2024 (Volume . UNESCO, the Ethics of Artificial Intelligence. 52 Norman Fairclough. AuDiscourse in Processes of Social Change:AoTransitionAoin Central and Eastern Europe,Ay BAS British and American Studies, no. : 9Ae34. 53 Robert Hanna and Emre Kazim. AuPhilosophical Foundations for Digital Ethics and AI Ethics: A Dignitarian Approach,Ay AI and Ethics 1, no. : 405Ae23. 54 Ruth Wodak. AuCritical Discourse Analysis. Discourse-Historical Approach,Ay The International Encyclopedia of Language and Social Interaction 3 . : 1Ae14. 55 Huberman and Miles. AuTeknik Pengumpulan Dan Analisis Data Kualitatif,Ay Jurnal Studi Komunikasi Dan Media 02, no. : 1Ae11. Lihat juga. Andreas Spahn. AuDigital Objects. Digital Subjects and Digital Societies: Deontology in the Age of Digitalization,Ay Information 11, no. : 228. Bandingkan dengan. Tricia A Griffin. Brian Patrick Green, and Jos V M Welie. AuThe Ethical Agency of AI Developers,Ay AI and Ethics 4, 2 . : 179Ae88. 56 Uwe Flick. AuAn Introduction to Qualitative Research,Ay 2022. lihat juga. Norman K Denzin. The Research Act: A Theoretical Introduction to Sociological Methods (Routledge, 2. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir teoretis yang menjelaskan relasi antara tata kelola algoritmik, krisis kesadaran digital, dan kebutuhan etika yang lebih holistik dalam masyarakat digital. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bediyzzaman Said Nursi . 7Ae1. merupakan ulama dan pemikir Muslim terkemuka abad ke-20 yang dikenal melalui karya monumentalnya. Risale-i Nur Collection. Dalam konteks modernisasi dan sekularisasi Turki. Nursi mengembangkan pemikiran yang berupaya mempertemukan wahyu, akal, dan sains sebagai landasan penguatan iman dan kesadaran manusia. 57 Melalui karya-karya seperti The Words (Syzle. The Letters (Mektuba. The Flashes (Lem'ala. , dan The Rays . Nursi pengetahuan, dan kesadaran spiritual dalam menghadapi tantangan zaman. 58 Penelitian ini menelaah pemikiran Said Nursi untuk mengidentifikasi konsep-konsep yang relevan dalam memahami tantangan etika dan kesadaran59 pada era digital. Hasil analisis menunjukkan tiga konsep utama yang saling berkaitan, yaitu ghaflah sebagai kondisi kelalaian yang menjauhkan manusia dari kesadaran makna, tafakkur sebagai praktik refleksi yang membangkitkan kesadaran, dan iman tahqiqi sebagai keimanan yang lahir melalui pemahaman kritis dan pengalaman reflektif. Berdasarkan temuan tersebut, pembahasan disusun ke dalam tiga tema utama: . Ghaflah dan Budaya Distraksi Algoritmik. Tafakkur sebagai Praktik Resistensi Digital. Iman Tahqiqi dan Literasi Digital Spiritual. Ghaflah dan Budaya Distraksi Algoritmik Bediyzzaman Said Nursi mengemukakan konsep ghaflah sebagai kondisi kelalaian spiritual yang menyebabkan manusia kehilangan kesadaran terhadap hakikat diri, kehidupan, dan kehadiran Tuhan dalam realitas sehari-hari. Berdasarkan hasil analisis data terhadap karya-karya utama dalam Risale-i Nur, ditemukan sejumlah tema yang menjelaskan karakteristik ghaflah serta relevansinya dengan fenomena budaya distraksi algoritmik pada era digital. Visualisasi hasil analisis data tersebut disajikan pada tabel berikut. 57 ykran Vahide. Bediuzzaman Said Nursi: Author of the Risale-i Nur (The Other Press, 2. 58 Hakan yNoruh. Modern Interpretation of the QurAoan: The Contribution of Bediuzzaman Said Nursi (Springer. Lihat juga. Sethi. Jalal, and ul Haq. AuSaid Nursi: A Brief Overview of Vision and Reformative Thoughts. Ay 59 Ibrahim Ozdemir and Ian Markham. Globalization. Ethics and Islam: The Case of Bediuzzaman Said Nursi (Routledge, 2. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. Tabel 01 Ghaflah dan Budaya Distraksi Algoritmik Konsep Penjelasan Said Nursi Manifestasi Budaya Digital Ghaflah . elalaian Kondisi ketika manusia tenggelam dalam dunia material sehingga kehilangan kesadaran terhadap Allah dan tujuan hidup. Dunia dipandang sebagai tujuan akhir, bukan sarana menuju makna yang lebih Ketergantungan pada media sosial, scrolling tanpa tujuan, konsumsi konten berlebihan. Pikiran yang terus berpindah dan gagal melakukan kontemplasi mendalam. Notifikasi tanpa henti, multitasking digital, banjir Konsumsi konten cepat yang mengurangi refleksi dan kedalaman berpikir. Algoritma yang mendorong konsumsi konten berdasarkan impuls dan emosi. Hubb al-Dunya . ecintaan berlebihan terhadap Tasyattut al-Fikr . erpecahnya Lalai terhadap Dominasi hawa Hilangnya kemampuan merenung dan membaca tanda-tanda ketuhanan. Keinginan sesaat mengendalikan tindakan manusia. Pengejaran popularitas digital, likes, followers, dan validasi Pemikiran Said Nursi dapat ditempatkan sebagai kerangka epistemologis yang kuat untuk membaca transformasi kesadaran manusia dalam masyarakat digital Dalam Risale-i Nur, khususnya The Words . 8, hlm. 24Ae. Nursi menjelaskan ghaflah sebagai kondisi eksistensial ketika manusia kehilangan kesadaran terhadap dimensi transendental akibat dominasi dunia material yang berlebihan. Ghaflah berarti lupa suatu keadaan kesadaran yang tertutup oleh realitas semu yang tampak nyata, sehingga manusia gagal melihat makna terdalam dari keberadaan. 60 Dunia dipahami sebagai tanda . yang mengarah kepada Tuhan, melainkan sebagai tujuan itu sendiri. Penjelasan ini diperkuat oleh konsep hubb al-dunya dalam The Letters . 7, hlm. 17Ae. , di mana kecintaan terhadap dunia berubah menjadi orientasi hidup yang absolut dan menggantikan posisi nilai-nilai ilahiah sebagai pusat makna. Ketika dunia menjadi pusat orientasi, maka struktur kesadaran manusia mengalami pergeseran dari kontemplatif menjadi konsumtif. 61 Pergeseran ini semakin diperparah oleh tasyattut al-fikr sebagaimana dijelaskan dalam The Flashes . 7, hlm. 132Ae. , yaitu kondisi fragmentasi perhatian yang membuat pikiran tidak mampu bertahan dalam satu fokus reflektif yang mendalam. Dalam kerangka Nursi, tafakkur merupakan instrumen utama untuk mencapai kesadaran spiritual, karena melalui tafakkur manusia mampu membaca 60 Said Nursi. AuThe Words. Trans,Ay Sukran Vahide. Istanbul: Sozler Nesriyat, 2002. 61 Said Nursi. AuLetters. Trans,Ay Sukran Vahide. Istanbul: Sozler Nesriyat, 2001. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir tanda-tanda ketuhanan dalam realitas empiris. 62 Namun, ketika perhatian terus terpecah, kemampuan ini melemah, bahkan hilang. 63 Dominasi hawa nafsu yang dijelaskan dalam The Letters . 7, hlm. 65Ae. semakin memperjelas mengapa manusia cenderung mengikuti dorongan instan daripada melakukan refleksi mendalam. 64 Jika ditarik ke dalam konteks budaya digital, keseluruhan konsep ini membentuk sistem analitik yang relevan untuk menjelaskan bagaimana teknologi tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga membentuk ulang struktur kesadaran manusia. Platform digital dengan desain berbasis kecepatan, stimulasi visual, dan interaksi instan menciptakan kondisi di mana manusia terus terpapar rangsangan tanpa jeda reflektif. Dengan demikian, ghaflah tidak lagi sekadar fenomena individual, tetapi menjadi kondisi struktural yang dimediasi Pemikiran Nursi dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai refleksi teologis, tetapi juga sebagai kerangka kritis untuk membaca modernitas digital yang cenderung mengaburkan dimensi spiritual kehidupan manusia. Fenomena tersebut memperoleh penguatan yang signifikan ketika dibaca melalui teori-teori kontemporer dalam kajian masyarakat digital, terutama konsep platform society dari Josy van Dijck65 dan surveillance capitalism dari Shoshana Zuboff. 66 Menurut van Dijck, masyarakat saat ini hidup dalam ekosistem platform yang tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga struktur yang mengatur arus informasi melalui algoritma, kurasi otomatis, dan desain interaksi yang terstandardisasi. Dalam sistem ini, perhatian pengguna menjadi komoditas utama yang diproduksi, dipertukarkan, dan dimonetisasi. 67 Kondisi ini melahirkan apa yang disebut sebagai ekonomi perhatian, di mana nilai ekonomi suatu platform ditentukan oleh seberapa lama dan intens pengguna berinteraksi dengan konten. Zuboff kemudian memperluas analisis ini dengan menunjukkan bahwa data perilaku pengguna dikumpulkan secara masif untuk memprediksi dan bahkan memodifikasi tindakan manusia. Dalam konteks ini, algoritma tidak lagi netral, melainkan berfungsi sebagai instrumen kekuasaan yang 62 Said Nursi. AuThe Flashes Collection (. Vahide. Trans. )Ay (Syzler, 1. 63 Nursi. Baca juga. Muhammad Thoriqul Islam. Raisya Miftakhul Rahma, and Nawa Marjany. AuEsoteric Aspects of Said NursiAos Interpretation of Tawhid: Influence and Thought,Ay QOF 8, no. 15Ae34. 64 Nursi. AuLetters. Trans. Lihat juga. Huringiin et al. AuSpiritual Governance and Ethical Politics: Reconstructing Islamic Political Thought in the Works of Bediuzzaman Said Nursi. Ay 65 Josy Van Dijck. AuDatafication . Dataism and Dataveillance : Big Data between Scientific Paradigm and Ideology,Ay Surveillance & Society 12, no. : 197Ae208. 66 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism. Ay 67 Van Dijck. Poell, and De Waal. The Platform Society: Public Values in a Connective World. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. mampu mengarahkan preferensi, emosi, dan keputusan pengguna. 68 Ketika perspektif ini dikaitkan dengan konsep Nursi, terlihat adanya paralel yang sangat kuat dengan tasyattut al-fikr, di mana perhatian manusia terus-menerus dipindahkan tanpa kesempatan untuk berhenti dan melakukan refleksi. 69 Notifikasi yang berulang, fitur infinite scroll, serta rekomendasi berbasis personalisasi menciptakan kondisi distraksi yang bersifat sistemik. Distraksi ini sebagai gangguan yang menjadi norma dalam kehidupan digital. 70 Ghaflah mengalami transformasi menjadi fenomena yang diproduksi oleh sistem teknologi, bukan semata oleh kecenderungan internal manusia. Selain itu, fenomena pencarian validasi sosial melalui likes, komentar, dan jumlah pengikut menunjukkan manifestasi baru dari hubb al-dunya, di mana nilai diri seseorang diukur melalui metrik kuantitatif yang bersifat eksternal sebagaimana dijelaskan Jean Twenge72 dan Adam Alter. 73 Dominasi hawa nafsu menjadi persoalan individu dan terintegrasi dalam logika algoritmik yang memprioritaskan konten berbasis emosi, sensasi, dan keterlibatan instan. 74 Dengan demikian, teori masyarakat digital kontemporer memberikan legitimasi empiris terhadap apa yang telah lama diidentifikasi Nursi sebagai kondisi kelalaian spiritual. 75 Integrasi antara perspektif klasik dan teori modern ini menunjukkan bahwa krisis perhatian dalam masyarakat digital merupakan transformasi dari problem eksistensial yang sama, hanya saja kini diperkuat dan dipercepat oleh teknologi. Sintesis analitik penelitian ini menunjukkan keterkaitan yang erat antara dimensi teoretis, metodologis, dan temuan empiris dalam menjelaskan fenomena distraksi digital sebagai krisis spiritual. Secara teoretis, pemikiran Said Nursi dengan teori masyarakat digital tampak relevan dalam satu kesatuan konseptual. Berdasarkan Critical Discourse Analysis (CDA) model sosio-kognitif Teun A. van Dijk, hubungan 68 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism. Ay 69 Sadettin Orhan. AuTwo Different Ways of Nonviolent Resistance: A Comparison of Mahatma GandhiAos Satyagraha and Said NursiAos Positive Action Method,Ay Political Theology, 2026, 1Ae20. 70 Hasan Khalawi. Hamid Fahmy Zarkasyi, and Mudjia Rahardjo. AuSigns of Nature in Bediuzzaman Said Nursi: A Significant Contribution to Islamic Semiotics,Ay Litera 23, no. : 37Ae49. 71 Nursi. The Words. Shoshana Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism: The Fight for A,Ay A Human Future at the New Frontier of Power, 2019. 72 Jean M Twenge. AuThe Evidence for Generation Me and against Generation We,Ay Emerging Adulthood 1, no. : 11Ae16. 73 Adam Alter. Irresistible: Why We CanAot Stop Checking. Scrolling. Clicking and Watching (Random House, 74 Eli Pariser. The Filter Bubble: How the New Personalized Web Is Changing What We Read and How We Think (Penguin, 2. 75 Said Nursi. AuRisale-i Nur Kylliyati,Ay Istanbul: Yeni Asya Yayinlari, 1999. 76 Nicholas Carr. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (WW Norton & Company. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir antara struktur wacana digital dan konstruksi kesadaran manusia dengan praktik-praktik digital seperti scrolling tanpa henti, konsumsi konten cepat, serta interaksi berbasis notifikasi sebagai bentuk wacana yang membentuk pola kognitif dan afektif pengguna. Praktik-praktik tersebut kemudian dibandingkan dengan konsep-konsep dalam Risale-i Nur untuk menemukan kesesuaian struktural. Hasil analisis menunjukkan bahwa fragmentasi perhatian yang dihasilkan oleh algoritma sejalan dengan konsep tasyattut al-fikr, sementara orientasi pada validasi digital mencerminkan manifestasi hubb al-dunya dalam konteks baru. 78 Selain itu, hilangnya kemampuan tafakkur akibat konsumsi konten cepat menunjukkan bahwa krisis perhatian berdampak pada aspek kognitif dan dimensi spiritual manusia. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa distraksi digital dipahami semata sebagai persoalan teknologi atau psikologi sekaligus harus dilihat sebagai krisis eksistensial yang melibatkan hilangnya orientasi makna dalam kehidupan manusia. Singkatnya, konsep ghaflah berfungsi sebagai kerangka interpretatif yang mampu menjelaskan gejala dan akar permasalahan secara mendalam. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan dengan pendekatan teknis seperti regulasi atau literasi digital serta mesti ditambahkan dengan pendekatan holistik yang mencakup dimensi spiritual, yaitu melalui penguatan tafakkur, muraqabah, dan kesadaran tauhid. Dengan demikian, pemikiran Nursi masih relevan sebagai warisan intelektual juga sebagai instrumen kritis untuk memahami sekaligus mengatasi krisis perhatian dalam masyarakat digital modern. Tafakkur sebagai Praktik Resistensi Digital Pemikiran Said Nursi tentang tafakkur berfungsi sebagai praktik spiritual sekaligus mekanisme resistensi kognitif dalam menghadapi dominasi wacana dan logika Untuk memperjelas relasi konseptual tersebut, tabel berikut merangkum keterkaitan antara konsep tafakkur, penjelasan Nursi, serta relevansinya dalam konteks masyarakat digital kontemporer. 77 Teun A Van Dijk. Society and Discourse: How Social Contexts Influence Text and Talk (Cambridge University Press, 2. Lihat juga dalam AuDiscourse Studies and Hermeneutics,Ay Discourse Studies 13, no. : 609Ae21, https://doi. org/10. 1177/1461445611412762. 78 Nursi. AuRisale-i Nur Kylliyati. AyLihat juga. Ahmad Nabil. Tasnim Abdul Rahman Amir. AuTelaah Ringkas Kitab Risalah Al-Nur Oleh Said NursiAy 1, no. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. Tabel 02 Tafakkur sebagai Praktik Resistensi Digital Konsep Penjelasan Said Nursi Relevansi dalam Ruang Digital Tafakkur . erenungan reflekti. Aktivitas intelektual dan spiritual untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah pada alam dan kehidupan. Melihat sesuatu sebagai penunjuk kepada Sang Pencipta, bukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Perenungan yang menghasilkan kesadaran eksistensial dan Mengamati realitas secara sadar dan penuh perhatian. Mendorong konsumsi informasi yang kritis dan reflektif, bukan impulsif. Menggunakan teknologi sebagai sarana, bukan pusat Menjadi antitesis budaya scrolling dan konsumsi konten Mengembangkan perhatian yang fokus di tengah banjir Menghubungkan seluruh aktivitas kehidupan dengan orientasi ketuhanan. Menjadi landasan etika penggunaan media digital. Nazar-i Mana-i Harfi Tembel-y Tefekkyr . ontemplasi Murakabah al-Kawn Kesadaran Tauhid Teun A. van Dijk menegaskan, kognisi sosial membentuk cara individu memahami realitas melalui struktur pengetahuan yang hidup dalam pikiran. Sementara. Said Nursi secara eksplisit membahas tafakkur dalam The Words, khususnya pada pembahasan tentang alam sebagai kitab maknawi yang harus dibaca secara reflektif. Menurutnya, manusia harus menafsirkan fenomena alam sebagai tandatanda yang menunjuk kepada Tuhan. Konsep nazar-i mana-i harfi sebagai metode membaca realitas yang berorientasi pada makna transendental. 80 Pembahasan serupa juga muncul dalam The Flashes, ketika Nursi menekankan pentingnya perenungan mendalam terhadap ciptaan sebagai jalan menuju kesadaran ketuhanan. 81 Tafakkur dalam karya-karya ini aktivitas berpikir proses kognitif-spiritual yang aktif dan terarah. Hal ini sejalan dengan perspektif van Dijk, tafakkur bekerja sebagai mekanisme internal yang membentuk kesadaran kritis terhadap realitas yang dikonstruksi secara sosial. Nursi secara konsisten mengkritik manusia yang hanya melihat permukaan realitas tanpa usaha memahami makna di baliknya. Ia menunjukkan kehilangan tafakkur akan menyeret manusia pada pola hidup mekanistik dan pemaknaan dangkal. Oleh karena itu, 79 Teun A. Van Dijk. AuOn Macrostructures. Mental Models, and Other Inventions: A Brief Personal History of the Kintsch,Ay in Discourse Comprehension (London: Routledge, 2. , 382Ae409, https://doi. org/10. 4324/9780203052921-24. 80 Van Dijk. Lihat juga. Van Dijk. Society and Discourse: How Social Contexts Influence Text and Talk. 81 Nursi. AuThe Flashes Collection (. Vahide. Trans. Ay 82 Van Dijk. Discourse and Context. A Sociocognitive Approach. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir tafakkur berfungsi sebagai fondasi kesadaran yang memungkinkan individu membaca realitas secara utuh dan tidak terjebak dalam konstruksi makna yang terbatas. Van Dijk menegaskan, wacana selalu terkait dengan relasi kekuasaan yang mengatur produksi, distribusi, dan legitimasi makna. Dalam kerangka ini, pemikiran Nursi, dapat dibaca sebagai proyek emansipasi kognitif yang melampaui dimensi teologis menuju kritik epistemologis. 84 Misalnya. The Letters (Mektuba. Nursi menempatkan tafakkur sebagai aktivitas reflektif yang mengaktifkan akal untuk membaca tanda-tanda realitas secara mendalam, sehingga manusia tidak terjebak dalam persepsi dangkal yang dibentuk oleh kebiasaan maupun dominasi wacana. 85 Ia menegaskan, nilai kemanusiaan terletak pada rasionalitas instrumental sekaligus kemampuan mengaitkan fenomena empiris dengan makna transenden. 86 Gagasan ini diperkuat dalam The Rays . , di mana Nursi mengkritik reduksionisme materialistik yang memutus hubungan antara realitas fisik dan dimensi metafisik. Menurutnya, realitas bersifat simbolik dan menuntut pembacaan reflektif. Nursi dalam kerangka semiotika Islam, dengan tafakkur sebagai metode utama untuk memahami alam sebagai sistem tanda yang koheren. Praktik seperti tafakkur yang mendalam dan intens atau kontemplasi yang diperlambat . embel-y tefekky. dan pengawasan atau pengamatan reflektif terhadap alam semesta . urAqabah al-kaw. membuktikan tafakkur adalah disiplin kesadaran yang menuntut perlambatan kognitif, perhatian penuh, dan keterlibatan eksistensial terhadap realitas. Menurut van Dijk, praktik ini berfungsi sebagai resistensi terhadap hegemoni wacana yang menyederhanakan makna menjadi objek konsumsi. 89 Dalam masyarakat digital kontemporer, relevansi tafakkur semakin menguat ketika berhadapan dengan logika algoritmik dan ekonomi perhatian. Josy van Dijck menyatakan, platform digital bertindak sebagai infrastruktur yang mengatur visibilitas dan perhatian 83 Nursi. The Words. Lihat juga dalam. Islam. Rahma, and Marjany. AuEsoteric Aspects of Said NursiAos Interpretation of Tawhid: Influence and Thought. Ay 84 Islam. Rahma, and Marjany. AuEsoteric Aspects of Said NursiAos Interpretation of Tawhid: Influence and Thought. Ay 85 M Zakyi Ibrahim. AuSaid Nursi: Colin Turner and Hasan Horkuc. London and New York: IB Tauris, 2009. vi, 140 Pp. ISBN 978-1-84511-774-0. ,Ay Contemporary Islam 5, no. : 85Ae87. 86 Purwaningtyas. Hayatullah, and Delahara. AuBadiuzzaman Said NursiAos Theology of Resistance: A Postcolonial Reading of Risale-i Nur. Ay 87 Bediuzzaman Said Nursi Things. AuFrom the Risale-i Nur Collection THE WORDS On the Nature and Purposes of Man . Life and All Things,Ay n. 88 Khalawi. Zarkasyi, and Rahardjo. AuSigns of Nature in Bediuzzaman Said Nursi: A Significant Contribution to Islamic Semiotics. Ay 89 Teun A Van Dijk. Discourse and Power (Bloomsbury Publishing, 2. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. pengguna,90 sedangkan Shoshana Zuboff . menjelaskan kapitalisme pengawasan mengeksploitasi data perilaku untuk memprediksi dan memengaruhi tindakan 91 Nicholas Carr dan Jonathan Crary juga menegaskan, percepatan arus informasi berkontribusi pada melemahnya kapasitas refleksi mendalam. 92 Dalam konteks ini, tafakkur yang dirumuskan Nursi dalam The Words (Syzle. dan The Flashes (LemAoala. menghadirkan pendekatan alternatif yang menekankan perlambatan kesadaran, pengelolaan perhatian secara aktif, dan evaluasi kritis terhadap informasi. Dalam The Words. Nursi mengarahkan pembaca untuk memahami realitas sebagai teks bermakna yang memerlukan pembacaan berlapis, sedangkan dalam The Flashes ia menegaskan bahaya kesadaran yang terfragmentasi oleh distraksi. 94 Menurut Aydin, tafakkur dapat dipahami sebagai bentuk attentional discipline yang menjaga integritas kognitif individu di tengah tekanan digital. 95 Singkatnya, tafakkur berfungsi sebagai literasi perhatian yang strategis, melatih individu mengendalikan fokus, menunda respons impulsif, dan membangun makna secara reflektif. Inilah yang membuat individu terbebas dari objek algoritma menjadi individu yang otonom dalam memproduksi pengetahuan dan menjaga integritas kesadaran di tengah ekosistem digital yang kompetitif dan manipulatif. Iman Tahqiqi dan Literasi Digital Spiritual Konsep iman tahqiqi dalam pemikiran Said Nursi menekankan keyakinan yang lahir dari pembuktian reflektif lebih dari penerimaan tradisional,96 sehingga relevan sebagai dasar literasi digital spiritual di era algoritmik. 97 Tabel berikut memperjelas hubungan tersebut, antara iman tahqiqi kerangka epistemologis Nursi dan implikasinya dalam membangun kesadaran kritis serta etika penggunaan teknologi digital. 90 Van Dijck. Poell, and De Waal. The Platform Society: Public Values in a Connective World. 91 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism. Ay 92 Jonathan Crary, 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep (Verso Books, 2. 93 Nursi. The Words. 94 Nursi. AuThe Flashes Collection (. Vahide. Trans. Ay Moh Isom Mudin. Nur Hadi Ihsan, and Nabila Huringiin. AuFortifying the Deep Ecology Platform: NursiAos Tafakkur mAn as a Metaphysical Completion to NaessAos Deep Questioning,Ay Australian Journal of Islamic Studies 11, no. : e101Aee101. 96 Things. AuFrom the Risale-i Nur Collection THE WORDS On the Nature and Purposes of Man . Life and All Things. Ay 97 Ayya Berna Gyrmez. AuAlgoritmik Yynetimsellik : Dijital Algorithmic Governmentality : The yNada ktidar Rasyonalitesi Rationality of Power in the Digital Age,Ay 2026, 0Ae2. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir Tabel 03 Iman Tahqiqi dan Literasi Digital Spiritual Konsep Penjelasan Said Nursi Relevansi terhadap Literasi Digital Spiritual Iman Tahqiqi . man Keimanan yang dibangun melalui penyelidikan, argumentasi, refleksi, dan keyakinan sadar. Keimanan yang diterima tanpa pemahaman mendalam dan mudah goyah oleh pengaruh luar. Upaya intelektual untuk menemukan kebenaran melalui akal dan wahyu. Mendorong verifikasi informasi dan berpikir kritis dalam ruang digital. Rentan terhadap hoaks, disinformasi, dan manipulasi Menjadi dasar sikap kritis terhadap informasi digital. Integrasi Akal dan Hati Pengetahuan dan spiritualitas berjalan secara bersamaan. Literasi digital tidak hanya teknis, tetapi juga etis dan Kesadaran terhadap Hakikat Kemampuan membedakan antara yang hakiki dan yang semu. Membantu pengguna memilah realitas dari simulasi digital dan manipulasi media. Iman Taqlidi . man Tahqiq . embuktian dan pencarian Konsep epistemologisnya Nursi. 98 Sang keajaiban zaman ini menegaskan, keimanan sejati harus dibangun melalui pembacaan tanda-tanda ketuhanan dalam alam semesta sebagai bentuk pembuktian rasional. 99 Argumen yang dikembangkan tentang tentang pentingnya refleksi intelektual . sebagai jalan menuju keyakinan yang 100 Pada The Letters (Mektuba. , khususnya Twenty-Sixth Letter. Nursi secara eksplisit membedakan antara iman taqlidi dan iman tahqiqi, dengan menegaskan bahwa iman yang hanya bersandar pada tradisi akan mudah goyah di hadapan keraguan 101 Sementara itu, dalam The Flashes (LemAoala. Seventeenth Flash menekankan integrasi antara akal (Aoaq. dan hati . sebagai dua instrumen utama dalam mencapai kebenaran. 102 Dalam The Rays . , khususnya Seventh Ray. Nursi kembali menegaskan, tantangan zaman modern menuntut keimanan yang berbasis 98 Nursi. The Words. 99 Islam. Rahma, and Marjany. AuEsoteric Aspects of Said NursiAos Interpretation of Tawhid: Influence and Thought. Ay 100 Nursi. AuRisale-i Nur Kylliyati. Ay 101 Nursi. Letters, 1928-1932. 102 Nursi. The Flashes Collection. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. 103 Artinya, iman tahqiqi dalam keseluruhan risalah Nursi tampil sebagai sintesis antara rasionalitas, refleksi spiritual, dan pembacaan kosmik terhadap realitas. Berkaitan dengan konteks masyarakat digital kontemporer, konsep iman tahqiqi tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat sebagai fondasi literasi digital spiritual. Lingkungan digital ditandai oleh arus informasi yang masif, percepatan distribusi pengetahuan, serta dominasi algoritma yang cenderung mengedepankan visibilitas dibandingkan validitas. 104 Kondisi ini melahirkan fenomena hoaks, disinformasi, dan manipulasi realitas yang menuntut kapasitas verifikasi yang tinggi. 105 Dalam kerangka information disorder, ruang digital dipenuhi oleh misinformation, disinformation, dan malinformation yang mengaburkan batas antara fakta dan konstruksi opini, sebagaimana dijelaskan dalam kajian tentang krisis epistemik digital oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)106 serta diperkuat dalam analisis post-truth Prinsip tahqiq dalam pemikiran Bediuzzaman Said Nursi menuntut individu untuk menerima informasi melalui proses verifikasi rasional dan refleksi mendalam, bukan sekadar konsumsi pasif. Dalam konteks masyarakat algoritmik, di mana sistem rekomendasi dan personalisasi konten membentuk pengalaman pengguna secara berkelanjutan, mekanisme ini menjadi krusial untuk menjaga otonomi kognitif. Pada kerangka inilah, literasi digital dipahami sebagai keterampilan teknis, yang mesti mencakup dimensi epistemologis dan etis sebagaimana ditegaskan dalam kerangka digital policy OECD yang meliputi dimensi trust, society, dan use. Individu dituntut untuk mengaktifkan akal kritis dalam mengevaluasi kredibilitas sumber informasi sekaligus menghidupkan kesadaran moral dalam mempertimbangkan dampak penyebaran informasi di ruang publik digital. Hal ini semakin penting dalam ekosistem attention economy yang, menurut Jonathan Crary, secara sistematis memecah perhatian manusia melalui arus informasi tanpa henti, serta dalam konteks erosi kapasitas reflektif yang dikritik. Singkatnya, iman tahqiqi berfungsi sebagai mekanisme internal yang menjaga integritas kognitif individu di tengah tekanan informasi digital. Dalam lanskap 103 Said Nursi. The Rays Collection, vol. com, 1. 104 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism: The Fight for A. Ay Lihat juga. Crary, 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep. 105 Abdullah Khusairi. AuDigital Literacy: Strengthening Gen ZAos Character Based on Moderate Islam,Ay Islam Realitas 11, no. 106 OECD. Digital Economy Outlook 2024 (Volume . 107 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism. Ay 108 Crary, 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir algorithmic governance dan platformization, di mana visibilitas informasi ditentukan oleh logika algoritmik dan bukan validitas epistemik, model ini memungkinkan pengguna media untuk tetap otonom, mampu membedakan antara kebenaran dan ilusi, serta menjadikan aktivitas digital sebagai sarana penguatan intelektual dan spiritual secara simultan. Dengan demikian, tafakkur dalam perspektif Nursi dapat diposisikan sebagai bentuk epistemic resistance terhadap krisis kesadaran digital yang ditandai oleh fragmentasi pengetahuan, polarisasi, dan melemahnya kapasitas reflektif publik. Iman tahqiqi dalam pemikiran Said Nursi juga dapat dipahami sebagai prinsip pembentukan kesadaran diri yang relevan dalam menghadapi dominasi masyarakat Dalam lanskap digital kontemporer, sebagaimana dijelaskan Zuboff, logika surveillance capitalism bekerja melalui ekstraksi data perilaku untuk memprediksi dan mengarahkan tindakan pengguna, sehingga individu berisiko kehilangan otonomi 109 Sementara itu. Josy van Dijck. Thomas Poell, dan Martijn de Waal menunjukkan, platform digital telah menjadi infrastruktur sosial yang mengatur visibilitas informasi melalui mekanisme algoritmik yang tidak netral. 110 Dalam kerangka ini, iman tahqiqi, menuntut proses verifikasi, pembuktian, dan refleksi yang mengaktifkan akal dan hati secara simultan. Prinsip ini berkelindan dengan gagasan Manuel Castells tentang network society yang menempatkan informasi sebagai sumber kekuasaan utama, sehingga kemampuan untuk memverifikasi kebenaran menjadi 111 Iman tahqiqi membentuk paradigma kesadaran individu yang tidak menerima informasi secara pasif, tetapi secara aktif menguji, menimbang, dan memaknai realitas digital di tengah arus distraksi yang terus diproduksi oleh sistem algoritmik. Lebih jauh, dalam konteks attention economy, sebagaimana diuraikan oleh Thomas H. Davenport dan John C. Beck serta diperdalam oleh Jonathan Crary, perhatian manusia telah berubah menjadi komoditas utama yang diperebutkan oleh platform digital melalui desain adiktif seperti notifikasi real-time dan infinite 112 Eli Pariser melalui konsep filter bubble dan gagasan echo chamber menunjukkan bahwa personalisasi algoritmik mempersempit horizon pengetahuan dan 109 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism: The Fight for A. Ay 110 Van Dijck. AuDatafication . Dataism and Dataveillance : Big Data between Scientific Paradigm and Ideology. Ay 111 Zuboff. AuThe Age of Surveillance Capitalism: The Fight for A. Ay 112 Davenport and Beck. AuThe Attention Economy. Ay Lihat juga. Crary, 24/7: Late Capitalism and the Ends of Sleep. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. memperkuat polarisasi. Dalam situasi ini, fenomena information disorder114 memperparah krisis epistemik melalui misinformasi, disinformasi, dan malinformasi yang beredar masif. Oleh karena itu, iman tahqiqi dapat dibaca sebagai bentuk resistensi epistemik terhadap distraksi digital, karena menuntut kehati-hatian dalam menerima informasi serta tanggung jawab moral dalam menyebarkannya. Integrasi antara akal dan hati yang ditekankan Nursi memberikan dimensi etis yang sejalan dengan prinsip AI ethics115 yang menekankan keadilan, transparansi, dan akuntabilitas. Dengan demikian, iman tahqiqi membentuk kemampuan kognitif sekaligus juga membangun paradigma kesadaran yang memungkinkan individu mempertahankan otonomi, memperkuat refleksi kritis, dan menavigasi distraksi digital secara bermakna di tengah hegemoni Temuan ini menunjukkan, integrasi konsep iman tahqiqi dan tafakkur dengan teori masyarakat informasi menegaskan adanya korespondensi epistemologis antara verifikasi rasional dalam tradisi Islam dan evaluasi kritis dalam literasi digital modern. Korespondensi ini memperlihatkan bahwa prinsip-prinsip refleksi, pembuktian, dan kesadaran kognitif dalam pemikiran Nursi memiliki relevansi langsung dalam menghadapi krisis informasi di era algoritmik. Berdasarkan hal tersebut, kajian ini menghasilkan gagasan etika digital perspektif Said Nursi yang menempatkan refleksi, verifikasi, dan kesadaran moral sebagai fondasi utama dalam membangun integritas kognitif dan tanggung jawab etis individu di tengah kompleksitas ekosistem digital Tabel 04 Gagasan Etik Digital Perspektif Said Nursi Dimensi Epistemologis Konsep Nursi Fondasi Keyakinan Iman Tahqiqi Proses Kognitif Tafakkur Think. Deskripsi Konseptual Keyakinan berbasis verifikasi rasional dan eksistensial, bukan sekadar taklid Refleksi intelektual mendalam terhadap realitas sebagai tanda . Padanan Teori Modern Epistemic Reflective deep thinking Implikasi Ekosistem Digital Melawan hoaks, dan Mengurangi distraksi digital dan impulsivitas Output Etis Keyakinan dan tahan Kesadaran kritis dan 113 Pariser. The Filter Bubble: How the New Personalized Web Is Changing What We Read and How We 114 Claire Wardle and Hossein Derakhshan. Information Disorder: Toward an Interdisciplinary Framework for Research and Policymaking, vol. 27 (Council of Europe Strasbourg, 2. 115 Floridi. The Ethics of Information. Lihat juga. UNESCO, the Ethics of Artificial Intelligence. Etika Digital dalam Perspektif Beddiuzzaman . Abdullah Khusairi. Muh. Khamdan. Meysanda Nurhayati. Tahir Kontrol Kesadaran AntiGhaflah Penolakan terhadap kelalaian dan kesadaran Attention Validasi Pengetahuan Tahqiq . Kebenaran harus diuji melalui akal dan bukti Kesadaran Moral Taqwa Relasi Realitas Alam AuayatAy Integrasi pengetahuan dengan tanggung jawab moral Dunia dipahami sebagai sistem tanda Information literacy, factchecking Digital ethics. Semiotics. Kritik Kekuasaan Kesadaran Penolakan terhadap Algorithmic Menahan efek adiktif media sosial dan Evaluasi konten digital secara Etika dalam konsumsi konten Melawan reduksi realitas menjadi sekadar data Kritik terhadap filter bubble & echo chamber Disiplin . ttentional Integritas Tanggung Kesadaran . eaning Otonomi Tabel di atas menunjukkan, etika digital dalam perspektif Said Nursi melengkapi regulasi perilaku, tetapi bergerak lebih dalam sebagai transformasi kesadaran. Jika teori kontemporer seperti Shoshana Zuboff menyoroti dominasi kekuasaan algoritmik dan Josy van Dijck menjelaskan struktur platform sebagai arsitektur sosial, maka Nursi menawarkan dimensi yang belum disentuh secara mendalam, rekonstruksi batin manusia sebagai pusat resistensi. PENUTUP Pemikiran Bediuzzaman Said Nursi menawarkan landasan etik yang relevan dalam merespons perkembangan teknologi digital melalui integrasi spiritualitas Islam dan refleksi rasional. Konsep ghaflah, tafakkur, dan iman tahqiqi mampu menjelaskan krisis kesadaran dalam masyarakat digital yang dipicu oleh distraksi algoritmik, ekonomi perhatian, dan banjir informasi. Dalam kerangka ini, ghaflah mencerminkan kondisi kelalaian eksistensial, sementara tafakkur berfungsi sebagai praktik reflektif untuk menjaga kedalaman berpikir. Iman tahqiqi memperkuat literasi digital spiritual berbasis verifikasi dan rasionalitas. Dengan demikian, etika digital Islam dalam perspektif Nursi bertumpu pada integrasi tauhid, kesadaran reflektif, dan tanggung jawab moral dalam penggunaan teknologi. Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian etika digital Islam dengan menawarkan pendekatan konseptual yang melampaui dimensi normatif menuju analisis kesadaran manusia dalam relasinya dengan teknologi. Pemikiran Said Nursi diposisikan sebagai kerangka analitis yang dialogis dengan teori kontemporer seperti Platform Society. Surveillance Capitalism, dan Attention Economy. Konsep ghaflah, tafakkur. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI: https://doi. org/10. 61817/ittihad. Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Volume 12. No. 1, . : June, p. DOI:https://doi. org/10. 61817/ittihad. dan iman tahqiqi tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga operasional dalam membaca dinamika masyarakat algoritmik. Temuan ini memperluas horizon studi Islam digital serta membuka ruang integrasi antara khazanah intelektual Islam dan teori media modern dalam merumuskan etika digital yang lebih kontekstual, reflektif, dan berorientasi pada pembentukan kesadaran. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada pendekatan tekstual terhadap Risale-i Nur sehingga belum menjangkau dimensi empiris praktik pengguna media digital. Selain itu, efektivitas konsep tafakkur dan iman tahqiqi dalam membentuk perilaku digital belum terukur secara langsung. Penelitian lanjutan perlu mengembangkan pendekatan etnografi digital, survei, atau studi kasus untuk menguji implementasi etika ini dalam kehidupan nyata. Kajian komparatif dengan teori etika teknologi modern juga penting untuk memperkuat aspek operasional. Dengan demikian, penelitian ini menjadi pijakan awal bagi pengembangan paradigma etika digital Islam yang berbasis kesadaran spiritual dan responsif terhadap tantangan masyarakat digital masa depan. DAFTAR PUSTAKA