Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 2, 25-31 E-ISSN: 3032-7202 MOTIVASI BELAJAR SISWA SMA DAN SEDERAJAT: PERAN PENETAPAN TUJUAN DALAM PENDIDIKAN Anjeli Febriyanti1. Monika2 Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: anjeli. 705210053@stu. Program Studi Psikologi Jenjang Magister. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: monika@fpsi. Masuk: 01-12-2024. Revisi: 20-01-2025. Diterima untuk diterbitkan: 01-05-2025 ABSTRAK Saat ini, peminat perguruan tinggi tidak hanya siswa SMA saja tetapi juga siswa SMK dan MA. Hal tersebut dibuktikan dengan meningkatnya peserta seleksi masuk perguruan tinggi pada tahun 2024 yang juga mulai didominasi oleh selain siswa SMA. Fenomena ini tidak lepas dari maraknya lembaga bimbingan belajar di Indonesia. Berdasarkan wawancara interpersonal dengan narasumber, diketahui bahwa dengan mengikuti bimbingan belajar, siswa jauh lebih termotivasi untuk mencapai keinginannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penetapan tujuan terhadap motivasi belajar. Penetapan tujuan merupakan suatu proses bagi individu untuk mengarahkan perhatian kepada hal yang ingin dicapai (Locke, 1. Sementara motivasi belajar menurut Sardiman . merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri yang mendorong untuk belajar serta memastikan proses belajar terjadi hingga tujuan tercapai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif regresi. Pemilihan responden dilakukan menggunakan purposive sampling. Subjek penelitian ini merupakan 203 siswa SMA dan sederajat yang mengikuti bimbingan belajar. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Goal-Setting Formative Questionnaire dan Academic Motivation Scale-28 High School Version (AMS-. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penetapan tujuan terbukti berpengaruh terhadap motivasi belajar sebesar 28. 1% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian ini dapat digunakan oleh lembaga pendidikan maupun lembaga bimbingan belajar untuk menyiapkan strategi baru untuk menumbuhkan motivasi belajar pada siswa. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah untuk meneliti dengan jumlah sampel lebih besar dan menggunakan metode yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam mengenai penetapan tujuan dan motivasi belajar. Kata Kunci: penetapan tujuan, motivasi belajar, bimbingan belajar, siswa sma dan sederajat. ABSTRACT Currently, interest in higher education is not only from high school (SMA) students but also vocational (SMK) and Islamic high school (MA) students. This is evident in the rising number of participants in the 2024 university entrance selection, which now includes more students from non-SMA backgrounds. This trend is closely linked to the growing number of tutoring institutions in Indonesia. Based on interviews with informants, it is found that attending tutoring sessions significantly enhances students' motivation to achieve their goals. This study aims to explore the effect of goal setting on learning motivation. According to Locke . , goal setting is a process where individuals direct their attention to desired outcomes. Learning motivation, as defined by Sardiman . , is an internal drive that pushes individuals to engage in learning and ensures the learning process continues until goals are achieved. This study uses a quantitative regression method, with respondents selected through purposive sampling. The subjects of this research were 203 high school and equivalent students attending tutoring sessions. The instruments used include the Goal-Setting Formative Questionnaire and the Academic Motivation Scale-28 High School Version (AMS-. The results show that goal setting influences learning motivation by 28. 1%, with other variables accounting for the The findings suggest that educational institutions and tutoring centers can use this information to develop Motivasi Belajar Siswa SMA dan Sederajat: Pengaruh Penetapan Tujuan dalam Pendidikan Febriyanti & Monika strategies to enhance students' learning motivation. Future research should consider a larger sample and different methodologies for a deeper understanding of goal setting and motivation. Keywords: goal setting, learning motivation, tutoring, high school student and equivalent. Persaingan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi negeri yang sangat kompetitif (Supangat & Giovanni, 2. tidak hanya terjadi pada siswa SMA (Sekolah Menengah Ata. saja, tetapi juga pada siswa SMK (Sekolah Menengah Kejurua. dan MA (Madrasah Aliya. Dikutip dari Kompas. com, sebanyak 126. lulusan SMK dan 99. 871 lulusan MA mendaftar UTBK SNBT (Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Te. pada tahun 2024, dengan sebagian besar peserta memilih di perguruan tinggi negeri vokasi dan perguruan tinggi negeri. Data ini menunjukkan tingginya minat lulusan SMK dan MA untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Hal ini berdampak pada tingginya peminat lembaga bimbingan belajar yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 2019, terdapat kurang lebih 965 lembaga bimbingan belajar yang terletak di pulau Jawa seperti DKI Jakarta. Banten. Jawa Barat. Jawa Tengah, dan Jawa Timur (Zaenudin, 2. Seiring dengan teknologi yang terus berkembang, bimbingan belajar online juga turut meramaikan pasar dan tengah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Aplikasi bimbingan belajar online seperti misalnya Ruangguru. Zenius. Pahamify, dan Quipper terus bermunculan dan diminati karena fleksibilitas waktu dan tempat (Bahar et al. Kesuksesan bimbingan belajar tak lepas dari para siswa yang tertarik dan membutuhkan jasa untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya untuk lolos di perguruan tinggi yang diminati. Seperti F, seorang siswa kelas 12 mengatakan bahwa alasannya mengikuti bimbingan belajar konvensional adalah untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri. F menilai bahwa penjelasan materi yang diberikan melalui tatap muka membuatnya mudah mengerti. Setelah mengikuti bimbingan belajar. F semakin tahu materi apa saja yang harus dipelajari dan semakin termotivasi belajar untuk masuk ke perguruan tinggi negeri (F. Komunikasi Pribadi. September 10, 2. Penuturan F secara tersirat menyatakan bahwa penetapan tujuan dalam konteks F adalah untuk lolos ujian masuk perguruan tinggi, semakin membuat mereka merasa bersemangat dan termotivasi untuk terus belajar dan berlatih soal-soal dan membuat tujuan tersebut menjadi kenyataan. Dengan menetapkan jadwal belajar. F jadi lebih fokus untuk mencapai tujuan dan tidak menghiraukan hal-hal lain di luar pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa dengan menetapkan tujuan yang jelas, fokus siswa tidak akan terbagi dan semakin memberikan motivasi untuk terus belajar hingga mencapai tujuan. Penelitian penetapan tujuan yang dilakukan oleh Locke dan Latham . alam Ogbeiwi, 2. menyebutkan bahwa penetapan tujuan sangat efektif dalam meningkatkan motivasi karena membantu memberikan arahan yang jelas dan memfokuskan perhatian pada tugas yang relevan. Penelitian lain oleh Locke et al. alam Cooper & Xu, 2. berpendapat bahwa individu yang memiliki tujuan akan bekerja lebih keras daripada individu yang tidak memiliki tujuan. Penetapan tujuan mengarahkan siswa untuk fokus mencapai tujuan belajar dan mengabaikan gangguan (Tarmilia et al. , 2. Dengan demikian, siswa yang menetapkan tujuan dalam pembelajarannya cenderung akan lebih fokus dan berkomitmen dalam pembelajaran dan memiliki motivasi yang tinggi dalam mencapai tujuan tersebut. Locke et al. alam Cooper & Xu, 2. berpendapat bahwa konsep penetapan tujuan dapat dijadikan sebagai mekanisme pemberian motivasi. McDonald . alam Miftahussaadah & Subiyantoro, 2. mengungkapkan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Selain itu. Monika dan Adman . alam Suharnadi et al. , 2. berpendapat bahwa motivasi belajar adalah dorongan individu untuk melakukan aktivitas belajar, yang bersumber baik dari dalam diri maupun dari luar dalam meningkatkan semangat belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi cenderung memiliki prestasi phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 2, 25-31 E-ISSN: 3032-7202 akademik yang tinggi (Lutfiwati, 2. Tanpa adanya motivasi yang kuat, siswa akan merasa kesulitan untuk mempertahankan fokus (Azhar & Wahyudi, 2. Selain itu, siswa dengan motivasi belajar yang rendah cenderung untuk mendapatkan perolehan nilai yang rendah pula (Budiyani, 2. Dengan demikian, sangat penting untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Menurut Reiss . alam Nurizqi et al. , 2. , motivasi terbagi menjadi dua, yaitu intrinsik, dorongan motivasi yang berasal dari dalam diri, dan ekstrinsik, dorongan motivasi yang berasal dari luar diri. Salah satu upaya untuk memberkian motivasi secara intrinsik kepada siswa sudah diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencara dalam mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya. Suasana pembelajaran memang sangat menentukan pertumbuhan motivasi dan mood siswa dalam belajar. Hal tersebut didukung oleh penelitian dari Young . alam Darmawan et al. , 2. bahwa suasana lingkungan sekolah yang nyaman dan suasana kelas yang kondusif, berpengaruh pada motivasi belajar siswa. Penelitian sebelumnya yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Martapura pada 120 siswa kelas XI menunjukan bahwa ada hubungan yang positif dan searah antara penetapan tujuan dengan motivasi berprestasi (Sitanggang et al. , 2. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan pada 31 atlet floorball UNESA membuktikan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara goal-setting terhadap motivasi berprestasi atlet floorball UNESA. Berdasarkan paparan tersebut, sudah banyak penelitian yang menunjukkan hubungan positif antara penetapan tujuan dengan motivasi belajar dan belum ada yang menunjukkan tidak ada hubungan antara kedua variabel tersebut. Selanjutnya, peneliti ingin mengetahui lebih lanjut apakah variabel penetapan tujuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel motivasi belajar, maka peneliti lebih lanjut ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pengaruh penetapan tujuan terhadap motivasi belajar. Oleh karena itu, peneliti berhipotesis bahwa terhdapat pengaruh penetapan tujuan terhadap motivasi belajar siswa dan sederajat yang mengikuti bimbingan belajar. Hasil akhir penelitian ini diharapkan mampu untuk membantu memahami mengenai penetapan tujuan dan motivasi belajar, serta dapat menjadi acuan dalam penelitian selanjutnya. METODE Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kuantitatif regresi. Jenis pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampling non-probabilitas, yaitu purposive sampling. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan cara menyebarkan tautan kuesioner google form kepada siswa SMA dan sederajat yang mengikuti bimbingan belajar. Selain itu, peneliti meminta bantuan kepada siswa yang sudah mengisi kuesioner tersebut dapat menyebarkan kepada teman-teman siswa yang memiliki memenuhi karakteristik partisipan penelitian. Partisipan Partisipan dalam penelitian ini adalah murid yang saat ini sedang menempuh pendidikan kelas 10, 11, dan 12 di jenjang sekolah menengah atas dan sederajat, baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti bimbingan belajar ,dan tidak terbatas agama, suku, dan ras. Partisipan dalam penelitian ini memiliki jumlah keseluruhan 224 siswa sekolah menengah atas dan sederajat yang mengikuti bimbingan belajar. Setelah semua data terkumpul, hanya 203 data yang memenuhi kriteria yang diinginkan. Gambaran partisipan dalam penelitian ini jika ditinjau dari jenis kelamin menunjukkan bahwa terdapat 50 partisipan . yang berjenis kelamin laki-laki dan 153 partisipan . 3%) yang berjenis kelamin perempuan. Selanjutnya rata-rata usia partisipan adalah 17 tahun. Motivasi Belajar Siswa SMA dan Sederajat: Pengaruh Penetapan Tujuan dalam Pendidikan Febriyanti & Monika HASIL Pengolahan data pada penelitian ini dimulai dengan menguji normalitas data menggunakan KolmogorovSmirnov. Hasil yang didapatkan adalah data terdistribusi dengan normal dengan nilai signifikansi 0. Hasil data secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1 Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Asymp. Sig. Selanjutnya, dilakukan uji linearitas untuk mengetahui terdapat hubungan yang linear antar variabel. Hasil dari uji linearitas menunjukkan bahwa terdapat hubungan linear antara variabel penetapan tujuan dan motivasi belajar sebesar p = 0. 000 < 0. Hasil secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini. Tabel 2 Uji Linearitas Variabel Penetapan Tujuan dan Motivasi Belajar Variabel Penetapan Tujuan Motivasi Belajar Pada penelitian ini, dilakukan juga uji korelasi untuk melihat hubungan antara variabel penetapan tujuan dan motivasi belajar menggunakan korelasi Pearson. Hasil menunjukkan bahwa nilai signifikansi kedua variabel adalah 0. 000 > 0. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara variabel penetapan tujuan dan motivasi belajar. Hasil data keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini. Tabel 3 Uji Korelasi Variabel Penetapan Tujuan dan Motivasi Belajar Variabel Penetapan Tujuan Motivasi Belajar Penelitian ini melakukan uji hipotesis berupa uji regresi linear sederhana terhadap variabel penetapan tujuan dan motivasi belajar. Berdasarkan hasil uji korelasi, didapatkan nilai korelasi (R) sebesar 0. 530 dan besar pengaruh . oefisien determinas. penetapan tujuan terhadap motivasi belajar, yaitu (R. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa variabel penetapan tujuan mempunyai pengaruh sebesar 28. terhadap variabel motivasi belajar dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Didapatkan juga nilai t 857, nilai sebesar 0. 530, dan hasil tingkat signifikansi sebesar p = 0. 000 < 0. Berdasarkan hasil data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penetapan tujuan berpengaruh terhadap motivasi belajar. Hasil data secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini. phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 2, 25-31 E-ISSN: 3032-7202 Tabel 4 Uji Regresi Sederhana Variabel Penetapan Tujuan dan Motivasi Belajar Variabel Penetapan Tujuan Motivasi Belajar Peneliti kemudian melakukan uji regresi antara dimensi penetapan tujuan terhadap variabel motivasi Terdapat tiga dimensi pada variabel penetapan tujuan, yaitu meaningful, personal improvement, dan data based. Peneliti melakukan uji regresi pada setiap dimensi penetapan tujuan terhadap variabel motivasi belajar. Pada dimensi meaningful, diketahui nilai korelasi (R) sebesar 0. 643 dan besar pengaruh . oefisien determinas. dimensi meaningful terhadap motivasi belajar, yaitu (R. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa dimensi meaningful mempunyai pengaruh sebesar 41. Selanjutnya, peneliti juga melakukan uji regresi pada dimensi kedua, yaitu personal improvement. Dimensi ini memiliki nilai korelasi (R) sebesar 0. 400 dan besar pengaruh . oefisien determinas. dimensi personal improvement terhadap motivasi belajar, yaitu (R. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa dimensi personal improvement mempunyai pengaruh sebesar 16%. Terakhir, dimensi data based memiliki nilai korelasi (R) sebesar 0. 335 dan besar pengaruh . oefisien determinas. , yaitu (R. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa dimensi data based mempunyai pengaruh sebesar 11. Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa dimensi pada variabel penetapan tujuan yang paling besar pengaruhnya terhadap variabel motivasi belajar adalah dimensi meaningful dengan pengaruh sebesar 41. 4% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Hasil data secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini. Tabel 5 Uji Regresi Sederhada Dimensi Variabel Penetapan Tujuan terhadap Variabel Motivasi Belajar Dimensi Meaningful Personal Improvement Data based DISKUSI Penelitian ini mendapatkan hasil uji regresi variabel penetapan tujuan terhadap variabel motivasi belajar untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil dari uji tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel penetapan tujuan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel motivasi belajar. Besar kekuatan pengaruhnya berada di angka 28. 1% dan selebihnya dipengaruhi oleh variabel lain. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini dapat dibuktikan. Selanjutnya, dilihat dari uji regresi dimensi variabel penetapan tujuan terhadap motivasi belajar pun diketahui memiliki pengaruh yang signifikan. Dimensi yang memiliki pengaruh paling besar terhadap motivasi belajar, yaitu dimensi meaningful. Pada dimensi ini, individu menetapkan tujuan yang menurutnya sangat berarti dan terlepas dari pemenuhan kewajiban. Motivasi Belajar Siswa SMA dan Sederajat: Pengaruh Penetapan Tujuan dalam Pendidikan Febriyanti & Monika Menurut self-determination theory yang dikembangkan oleh Ryan dan Deci . , dapat disimpulkan bahwa dimensi meaningful berpengaruh terhadap motivasi belajar. Ketika individu menetapkan tujuan yang mereka anggap bermakna, maka hal tersebut akan menumbuhkan rasa kemandirian dan kompetensi mereka dan akan menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri. Hal ini disebabkan karena individu akan merasa lebih terlibat dan berusaha lebih keras dalam mencapai tujuannya karena tujuan tersebut relevan dengan Penelitian lain oleh Pintrich . alam Nurfalah & Rahayu 2. juga menyebutkan bahwa dalam menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri individu, diperlukan sebuah tujuan yang relevan dan berarti baginya akan dengan mudah meningkatkan motivasi belajar. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa variabel penetapan tujuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel motivasi belajar. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa individu yang menetapkan tujuan cenderung memiliki motivasi yang lebih kuat untuk mencapai hasil. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penetapan tujuan yang jelas berperan penting dalam meningkatkan motivasi REFERENSI