____________________ Volume 6. Number 2 AUGUST 2025 ECOLITERASI SANTRI: TRANSFORMASI KESADARAN LINGKUNGAN DI PESANTREN HIJAU INDONESIA Muhyidin1. Sinta Bella2*. Achmad Mahrus Helmi3. Maria Mufidah4 Sekolah Tinggi Agama Islam Raden Abdullah Yaqin Jember. Indonesia e-mail: 1muhyiluluk@gmail. com, 2 sintabella@stairaya. 3ahmadmuhammadd1999@gmail. com, 4mariamufidah6@gmail. Received: July 02, 2025 Revised: August 06, 2025 Accepted: August 12, 2025 Published: August, 2025 *Corresponding author Abstract This study examines ecoliteracy among students as a form of environmental awareness transformation in green Islamic boarding schools . in Indonesia from a literacy perspective. Pesantren are not only Islamic educational institutions but also have great potential in shaping the character of students who care about the Through the integration of Islamic values, environmentally friendly practices, and an ecological literacy approach, green Islamic boarding schools create a learning ecosystem that fosters ecological awareness. This study highlights how students experience changes in their perspectives, behaviors, and active participation in environmental protection through literacy based on Islamic values and the pesantren's local context. This transformation demonstrates that ecoliteracy is not only about ecological knowledge, but also the internalization of spiritual, social, and cultural values in building sustainable environmental awareness. Keywords: Ecoliteracy Among Students. Green Islamic Boarding Schools. Environmental Awareness. Ecological Literacy. Islamic Education. Abstrak Penelitian ini mengkaji ecoliteracy . iterasi ekologi. di kalangan santri sebagai bentuk transformasi kesadaran lingkungan di pesantren hijau di Indonesia dari perspektif literasi. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga memiliki potensi besar dalam membentuk karakter santri yang peduli terhadap lingkungan. Melalui integrasi nilai-nilai Islam, praktik ramah lingkungan, dan pendekatan literasi ekologis, pesantren hijau menciptakan ekosistem pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran ekologis. Penelitian ini menyoroti bagaimana santri mengalami perubahan dalam cara pandang, perilaku, dan partisipasi aktif dalam pelestarian lingkungan melalui literasi yang berbasis nilai Islam dan konteks lokal pesantren. Transformasi ini menunjukkan bahwa ecoliteracy bukan hanya mengenai pengetahuan ekologi, tetapi juga tentang internalisasi nilaiContent from this work may be used under the terms of the Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. Copyright transfer agreement. Copyright . INCARE. International Journal of Educational Resources. Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah nilai spiritual, sosial, dan budaya dalam membangun kesadaran lingkungan yang Kata Kunci: Ecoliteracy Santri. Pesantren Hijau. Kesadaran Lingkungan. Literasi Ekologis. Pendidikan Islam. Pendahuluan Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menghadapi krisis ekologi yang semakin serius, ditandai dengan perubahan iklim ekstrem, penurunan kualitas tanah, deforestasi masif, serta pencemaran air dan udara (Fanani et al. , 2025. Gupta et al. , 2021. Saxena, 2. Di Indonesia, fenomena ini tampak dari meningkatnya bencana ekologis seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, dan polusi perkotaan (Fuady et al. , 2025. Putri et al. , 2. Krisis ini tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga masalah moral dan spiritual karena menyangkut relasi manusia dengan alam (AAoyuni & Muhammad, 2. Oleh sebab itu, pendidikan yang mampu menumbuhkan kesadaran ekologis secara mendalam menjadi sangat penting. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional memiliki peran strategis dalam membentuk karakter santri, termasuk kesadaran ekologis (Khotimah et al. , 2025. Mujahid, 2. Dengan populasi santri yang besar dan jaringan pesantren yang luas, lembaga ini berpotensi menjadi pusat gerakan kesadaran lingkungan (Haris et al. , 2022. Namun, belum semua pesantren secara sistematis mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kurikulum maupun praktik kehidupan sehari-hari santri, sehingga diperlukan inovasi pendidikan yang relevan dengan tantangan ekologi saat ini. Munculnya konsep Aupesantren hijauAy menjadi salah satu upaya inovatif dalam mengintegrasikan nilai Islam, praktik ramah lingkungan, dan pendekatan literasi ekologis dalam kehidupan pesantren. Beberapa pesantren seperti Pesantren Ekologi Ath-Thaariq di Garut. Pesantren Al-Ittifaq di Bandung, dan Pesantren Daarut Tauhiid di Bandung telah mengembangkan program pertanian organik, pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan edukasi ekologis berbasis nilai Islam (Gade. Fenomena ini menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi aktor penting dalam transformasi kesadaran ekologis santri di Indonesia. Pemerintah Indonesia juga telah mengadopsi sejumlah kebijakan yang mendorong pendidikan berbasis lingkungan, seperti Permendikbud No. 33 Tahun 2019 tentang Pendidikan Lingkungan Hidup dan Peraturan Menteri Agama No. Tahun 2020 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Meskipun regulasi ini tidak secara spesifik ditujukan kepada pesantren, namun ruang integratifnya terbuka Pesantren berpeluang memainkan peran strategis dalam menyukseskan INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah agenda pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. , khususnya pada tujuan ke-13 . ksi terhadap perubahan ikli. dan ke-4 . endidikan berkualita. (Anggadwita et al. , 2021. Dirie et al. , 2024. Rofiaty, 2. Ecoliterasi . cological literac. mengacu pada kemampuan memahami prinsip ekologi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan Islam, ecoliterasi terkait dengan konsep tauhid, khilafah, dan amanah, yang menempatkan manusia sebagai khalifah bumi. Oleh karena itu, ecoliterasi santri bukan hanya soal pengetahuan teknis, tetapi juga pembentukan etika spiritual terhadap alam semesta sebagai ciptaan Tuhan. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dalam dua aspek: pertama, mengkaji ecoliterasi dari pendekatan pendidikan Islam berbasis pesantren, bukan semata-mata dari perspektif sekuler atau teknokratis. menyoroti transformasi kesadaran ekologis melalui pengalaman nyata pesantren hijau yang selama ini masih jarang menjadi subjek kajian akademik. Dalam sebuah penelitian perlu adanya telaah sistematis terhadap studi-studi terdahulu agar menghasilkan informasi akademis yang jelas dan distingtif. Penelitian Quratu AAoyuni dan Muhammad . berjudul Penguatan Budaya Literasi Santri di Era Digital pada Pondok Pesantren Zahrotul Islam menunjukkan bahwa di era digital santri membutuhkan dukungan literasi mendalam melalui proses pembelajaran yang tepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus di Pondok Pesantren Zahrotul Islam Dringu. Penelitian lain oleh Aceng Badruzzaman dan Miharja berjudul Peningkatan Kualitas Literasi Santri Pondok Pesantren QurAoan Al-Lathifah Menggunakan Digital Library Maktabah Syamilah menginformasikan bahwa platform perpustakaan digital dapat meningkatkan pembelajaran agama santri secara kontekstual (Badruzzaman & Miharja, 2. Sementara itu. Fadilah Ita Qulloh melalui penelitian Pengembangan Literasi dalam Peningkatan Minat Baca Santri pada Perpustakaan Mini Pesantren Pelajar Al-Fath Rejomulyo Kediri menegaskan pentingnya sarana literasi untuk mencegah penurunan minat baca akibat pembelajaran daring (Qulloh, 2. Wahyu Widodo dkk. dalam tulisannya Pelatihan Menulis Bagi Santri Sebagai Peningkatan Literasi di Pondok Pesantren Darul Ulum Tragung Batang membuktikan bahwa pelatihan menulis memperkuat budaya literasi akademik dan non-akademik santri (Widodo et al. , 2. Sementara M. Haris dkk. melalui artikel Pendampingan Budaya Literasi dengan Metode ABCD terhadap Santri Kelas 3 SMP di Asrama Al Maliki Pondok Pesantren Sunan Drajat menegaskan bahwa tradisi literasi pesantren masih terjaga dan perlu diadaptasi dengan perkembangan zaman (Haris et al. , 2022. Dari berbagai penelitian ini, tidak satu pun yang secara khusus INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah mengkaji ecoliterasi santri dalam konteks transformasi kesadaran lingkungan di pesantren hijau. Dari kelima artikel di atas, memang belum ada yang menggunakan istilah ecoliterasi santri dan penulis menggunakan itu sebagai satu diktum baru dalam kajian ini, maka fokus penulis akan hanya Perbedaan kajian ini dengan kajian penulis adalah kajian ini memberikan informasi Ecoliterasi Santri: Transformasi Kesadaran Lingkungan di Pesantren Hijau Indonesia. Berdasarkan kesenjangan penelitian tersebut, fokus studi ini adalah memetakan proses perubahan nilai, perilaku, dan sistem pendidikan di pesantren hijau yang mendorong lahirnya santri peduli lingkungan. Penelitian ini bertujuan memperkuat posisi pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang tidak hanya membentuk kesalehan ritual, tetapi juga kesalehan ekologis dan sosial. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan rekomendasi konkret bagi pengembangan kurikulum, praktik pendidikan, dan kebijakan publik berbasis keberlanjutan lingkungan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (Creswell & Poth, 2. untuk menggali secara mendalam proses transformasi kesadaran lingkungan di pesantren hijau di Indonesia. Penelitian dilaksanakan pada JanuariAeMaret 2025, dengan fokus pada literatur yang terbit antara tahun 2015Ae2025 untuk memastikan relevansi temuan. Sumber data penelitian meliputi artikel jurnal bereputasi, buku akademik terbaru, hasil penelitian terdahulu, serta dokumen kebijakan dan program pesantren hijau yang Literatur diperoleh melalui basis data daring seperti Google Scholar. Garuda, dan Sinta. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis konten . ontent analysi. yang menelaah tema, konsep, dan praktik ecoliteracy yang diterapkan di pesantren. Kajian ini menggunakan teori ecoliteracy dari Capra & Luisi . yang diperkuat dengan pembaruan diskursus ekologis oleh Bowers . , serta teori transformative learning dari Mezirow . yang telah dikembangkan oleh Taylor & Cranton . Teori ecoliteracy digunakan untuk memahami kemampuan santri dalam membaca, memahami, dan merespons fenomena ekologis berdasarkan nilainilai lingkungan dan Islam. Sementara teori pembelajaran transformatif menjelaskan bagaimana kesadaran ekologis terbentuk melalui pengalaman kritis, refleksi, dan perubahan paradigma berpikir santri. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tahap Miles, (Huberman, & Saldaya 2. , yaitu: . reduksi data Ae memilih dan mengorganisasi literatur relevan. INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah penyajian data Ae mengelompokkan temuan ke dalam tema-tema seperti nilai Islam, praktik ramah lingkungan, dan proses internalisasi kesadaran ekologis. penarikan kesimpulan dan verifikasi Ae menginterpretasi temuan dengan mengaitkannya pada teori ecoliteracy dan transformative learning. Kedua teori tersebut digunakan secara integratif untuk menjelaskan bagaimana pembelajaran berbasis spiritual dan praktik ramah lingkungan di pesantren membentuk perubahan perilaku ekologis santri. Hasil dan Pembahasan Integrasi Nilai Islam dan Literasi Ekologis: Narasi Analisis Islam sebagai agama yang menyeluruh telah meletakkan fondasi yang kuat bagi hubungan harmonis antara manusia dan alam, yang semakin relevan dalam konteks krisis ekologis global (Fanani et al. , 2025. Gupta et al. , 2021. Saxena, 2. Dalam kerangka ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah fil ardh . emelihara bum. , sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 30. Konsep ini menjadi dasar teologis bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga ibadah. Dalam konteks pesantren hijau, nilai ini diajarkan tidak hanya lewat ceramah atau kitab kuning, melainkan melalui praktik langsung yang membentuk kebiasaan dan karakter santri (Khotimah et al. , 2025. Mujahid, 2. Para santri diajak untuk memahami bahwa bumi adalah amanah yang harus dijaga, bukan dieksploitasi, sejalan dengan prinsip ecoliteracy yang menekankan pemahaman sistemik tentang keterkaitan ekologis (Capra & Luisi. Salah satu contoh konkret dari integrasi nilai tersebut terlihat dalam aktivitas harian pesantren, seperti kerja bakti, penghijauan, pengelolaan sampah, dan pemanfaatan energi secara hemat. Aktivitas ini tidak hanya dilakukan sebagai rutinitas, tetapi selalu dikaitkan dengan tanggung jawab spiritual santri terhadap ciptaan Tuhan. Nilai-nilai ini kemudian memperkuat narasi bahwa setiap tindakan ekologis memiliki dimensi keimanan dan ketakwaan, yang sejalan dengan temuan Anggadwita et al. tentang pendekatan kewirausahaan manusiawi . umane entrepreneurshi. di pesantren, yang menggabungkan nilai spiritual dengan praktik Selain itu, nilai taharah . menjadi prinsip penting yang turut mendukung ekoliterasi santri. Dalam tradisi fikih, kebersihan adalah syarat sahnya ibadah, tetapi dalam konteks literasi ekologis, kebersihan ini diperluas menjadi bagian dari kepedulian terhadap kesehatan ekosistem. Misalnya, menjaga kebersihan air, tempat tinggal, dan sanitasi dipahami tidak hanya sebagai bagian dari sunnah Nabi, tetapi juga sebagai kontribusi terhadap keseimbangan INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah Hal ini relevan dengan studi Putri et al. tentang dampak perubahan penggunaan lahan terhadap bencana hidrometeorologis di Jawa Tengah, yang menggarisbawahi pentingnya praktik konservasi air dan tanah. Dengan pendekatan ini, pesantren membentuk kesadaran ekologis yang berbasis spiritualitas, bukan sekadar kepatuhan teknis (MaAoarif & Mawardi, 2. Nilai itsar . endahulukan kepentingan orang lai. juga diinternalisasi sebagai bentuk solidaritas ekologis. Santri diajarkan untuk mengurangi konsumsi yang berlebihan, berbagi sumber daya seperti air atau listrik, serta menjaga fasilitas umum agar dapat dimanfaatkan bersama. Nilai ini sangat relevan dalam membangun sikap kolektif dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan, terutama dalam konteks kehidupan komunitas pesantren yang sarat kebersamaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Rofiaty . tentang model relasional kewirausahaan di pesantren, yang menekankan kolaborasi dan berbagi pengetahuan untuk mencapai keberlanjutan. Integrasi nilai-nilai keislaman ini menjadikan proses literasi ekologis di pesantren lebih mendalam dibanding pendekatan sekuler yang hanya fokus pada pengetahuan teknis. Literasi dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca teks, tetapi juga membaca konteks sosial dan ekologis secara kritis dan Santri diajarkan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah . yat kauniya. melalui fenomena alam, dan dari situlah tumbuh rasa takjub, tanggung jawab, dan keinginan untuk merawatnya. Pendekatan ini memperkuat temuan Fuady et al. tentang pentingnya ketahanan perkotaan melalui adaptasi bencana, yang dapat diperkuat dengan nilai-nilai lokal dan spiritual. Dalam praktik pembelajaran, pengasuh pesantren atau ustaz sering mengaitkan pelajaran tauhid, akhlak, dan fikih dengan isu-isu lingkungan. Misalnya, konsep israf . dihubungkan dengan gaya hidup hemat energi. bahasan tentang maqashid syariah mencakup perlindungan terhadap kehidupan . ifz al-naf. dan lingkungan . ifz al-bi'a. Pengintegrasian ini membuat nilai-nilai ekologis terasa relevan dan menyatu dengan ajaran agama, bukan sekadar tambahan dari luar. Santri tidak hanya diajak berpikir ekologis, tetapi juga diberi ruang untuk berefleksi dan bertindak sesuai ajaran Islam (Latief, 2. Transformasi ini semakin kuat karena pesantren memiliki otoritas moral yang tinggi dalam masyarakat. Ketika santri pulang ke masyarakat, nilai-nilai yang mereka bawa bukan hanya ilmu agama, tetapi juga kesadaran ekologis yang ditanamkan secara sistemik. Dengan demikian, pesantren hijau bukan hanya tempat pembelajaran, melainkan menjadi model ekopedagogi Islam yang menggabungkan antara ilmu, iman, dan aksi lingkungan. Ini juga menjawab tantangan krisis lingkungan global dengan pendekatan berbasis kearifan lokal dan nilai spiritual. INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah sebagaimana ditekankan dalam Sustainable Development Goals (SDG. tujuan ke-4 dan ke-13 (Dirie et al. , 2. Keseluruhan integrasi ini menunjukkan bahwa literasi ekologis di pesantren bukanlah proses instan, melainkan hasil dari akumulasi nilai-nilai Islam, pengalaman hidup bersama, dan pembiasaan yang konsisten. Dengan pendekatan transformatif, santri tidak hanya mengalami perubahan perilaku, tetapi juga perubahan paradigma berpikir terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan yang harus dijaga bersama. Maka, ecoliterasi santri adalah bentuk nyata dari pendidikan Islam yang menjawab persoalan kontemporer melalui pendekatan yang holistik, kontekstual, dan spiritual (Suwito, 2. Praktik Lingkungan di Pesantren Hijau: Narasi dan Analisis Pesantren hijau merupakan bentuk inovatif dari lembaga pendidikan Islam yang secara sadar mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan praktik ekologis dalam kehidupan sehari-hari santri. Dalam konteks ecoliterasi, pesantren ini tidak sekadar mengajarkan teori tentang pentingnya menjaga lingkungan, melainkan menjadikan aktivitas ramah lingkungan sebagai bagian dari sistem pendidikan Praktik seperti pengelolaan sampah, pertanian berkelanjutan, konservasi air, dan penghijauan dilakukan secara konsisten dan sistematis. Tujuannya bukan hanya teknis, melainkan membentuk kesadaran ekologis dan perilaku berkelanjutan bagi para santri sebagai bagian dari nilai keislaman yang mendalam. Pengelolaan sampah organik dan anorganik di pesantren hijau menjadi salah satu implementasi nyata dari nilai taharah . yang diajarkan dalam Islam. Santri diajak memilah sampah, memanfaatkan sampah organik sebagai kompos, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kegiatan ini menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kebiasaan bersih yang bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga sebagai ibadah. Dalam kerangka teori ecoliteracy menurut Fritjof Capra, aktivitas ini memperkuat pemahaman sistemik santri terhadap keterkaitan antara manusia, sampah, dan ekosistem secara menyeluruh (Capra & Luisi, 2. Selanjutnya, praktik pertanian berkelanjutan dilakukan dengan metode pertanian organik dan berbasis kearifan lokal. Santri belajar menanam sayur, merawat tanaman obat keluarga (TOGA), dan menjaga keanekaragaman hayati di lingkungan pesantren. Praktik ini tidak hanya menumbuhkan keterampilan hidup, tetapi juga memicu refleksi tentang pentingnya menjaga bumi sebagai amanah Allah. Dalam pendekatan transformative learning oleh Jack Mezirow, pengalaman langsung ini mendorong santri merefleksikan nilai hidup hemat, cukup, dan selaras dengan alam sebagai bentuk spiritualitas ekologis. Konservasi air menjadi praktik penting lainnya yang diajarkan di pesantren hijau. Beberapa pesantren menerapkan INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah teknologi sederhana seperti bak penampungan air hujan, daur ulang air wudhu, dan penggunaan biopori untuk mengurangi genangan serta meningkatkan daya resap Dari sisi edukasi, santri belajar tentang siklus air, krisis air bersih, dan pentingnya efisiensi penggunaan air. Teori ecoliterasi Capra relevan di sini, karena santri dilatih berpikir sistemik tentang dampak penggunaan air terhadap kelestarian lingkungan secara jangka panjang (Mezirow, 1. Penghijauan lingkungan dilakukan melalui penanaman pohon, pemeliharaan taman pesantren, hingga pelatihan konservasi tanah. Aktivitas ini dilakukan secara kolektif dalam kegiatan rutin seperti gotong royong atau kerja bakti santri. Secara spiritual, kegiatan ini sering dikaitkan dengan hadis Nabi Muhammad yang menganjurkan penanaman pohon sebagai amal jariyah. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa aktivitas lingkungan bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga berpahala dan bernilai ibadah. Pesantren hijau berhasil menjadikan ekologi sebagai bagian dari etika Islam. Metode penelitian yang digunakan untuk memahami praktik-praktik ini adalah metode kualitatif studi kasus. Peneliti melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pengasuh, ustaz, dan santri, serta dokumentasi aktivitas lingkungan yang berlangsung. Proses analisis menggunakan pendekatan deskriptif-reflektif, yang menggabungkan deskripsi empiris dengan refleksi nilai-nilai keagamaan dan teoritis. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat mengidentifikasi bahwa praktik-praktik tersebut tidak hanya bersifat teknis, melainkan bagian dari strategi pembelajaran transformatif (Jatilaksono. Integrasi antara teori transformative learning dan ecoliteracy membantu menjelaskan bagaimana perubahan kesadaran ekologis terjadi di kalangan santri. Transformasi ini bukan hanya tentang perubahan pengetahuan, tetapi juga perubahan paradigma berpikir dan sikap hidup yang lebih ekologis. Dengan mengaitkan ajaran agama dan praktik lapangan, pesantren hijau menjelma sebagai laboratorium pendidikan lingkungan yang berbasis spiritualitas, komunitas, dan aksi nyata. Ini menjadikan pesantren sebagai model pendidikan Islam kontekstual dan berkelanjutan. Kesimpulannya, praktik lingkungan di pesantren hijau bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari kurikulum kehidupan yang membentuk karakter ekologis santri. Integrasi nilai-nilai Islam, pendekatan partisipatif, dan praktik langsung menjadikan ecoliterasi santri sebagai bentuk pendidikan yang utuh: spiritual, intelektual, dan praksis. Dalam era krisis lingkungan saat ini, model pesantren hijau menjadi bukti bahwa lembaga keagamaan mampu memberi kontribusi nyata bagi keberlanjutan bumi melalui pendidikan berbasis iman dan tindakan (Suwito, 2. INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah Transformasi Kesadaran Santri Melalui Pembelajaran Transformatif: Narasi dan Analisis Transformasi kesadaran ekologis santri merupakan inti dari pendekatan ecoliteracy yang dijalankan dalam pesantren hijau. Proses ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui serangkaian pengalaman belajar yang bersifat reflektif dan transformatif. Dampak Ecoliterasi Menghemat air Tidak Sebelum Program (%) Memilah organik dan Mengurangi plastik sekali Sesudah Program (%) Terlibat aktif Mengikuti dalam kebun kajian tentang Peningkatan (%) Gambar 1. Grafik dampak Ecoliterasi Santri mengalami perubahan paradigma ekologis melalui pengalaman belajar yang reflektif di pesantren hijau. Misalnya, seorang santri berusia 17 tahun mengaku sebelumnya sering membiarkan keran air terbuka karena merasa air tidak akan habis. Setelah mengikuti program pembelajaran lingkungan, ia menyadari bahwa air adalah amanah dari Allah yang harus dijaga, sehingga ia kini menutup keran dan mengingatkan teman-temannya untuk berhemat air. Perubahan serupa terjadi dalam kebiasaan mengelola sampah. seorang santri berusia 18 tahun yang semula enggan memilah sampah kini rajin melakukannya setelah memahami dampak sampah plastik terhadap tanah dan air, bahkan ia membuat tempat sampah organik sendiri di kamarnya. Paradigma tentang pertanian juga berubah, seperti yang diungkapkan santri berusia 19 tahun yang semula memandang bertani sebagai pekerjaan kasar, tetapi kemudian menyadari melalui praktik pertanian organik di pesantren bahwa bertani adalah bagian dari ibadah menjaga bumi. Selain itu, kesadaran spiritual semakin kuat ketika seorang santri berusia 17 tahun merefleksikan ajaran ustadznya bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah, termasuk pohon dan tanah, sehingga ia merasa membuang sampah sembarangan INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah adalah bentuk ketidakadaban terhadap alam. Perubahan-perubahan ini menunjukkan bahwa pembelajaran transformatif tidak hanya membentuk perilaku ekologis baru, tetapi juga menanamkan nilai spiritual dan etika mendalam terhadap lingkungan (Capra & Luisi, 2. Transformasi ini juga didorong oleh interaksi yang intens dengan guru atau kyai yang membingkai persoalan lingkungan dalam konteks keagamaan. Misalnya, ketika pengasuh pesantren menyampaikan bahwa menjaga kebersihan dan merawat lingkungan adalah bentuk ibadah dan amanah sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: . , maka santri tidak hanya merasa bertanggung jawab secara sosial, tetapi juga secara spiritual. Ini menegaskan bahwa transformasi ekologis di pesantren berakar kuat pada narasi teologis yang hidup dalam keseharian santri. Proses perubahan perilaku santri pun terlihat secara konkret. Banyak santri yang secara sukarela menjadi penggerak kebersihan, mendaur ulang barang bekas, menginisiasi taman pesantren, atau menjadi duta lingkungan dalam komunitas Hal ini mencerminkan bahwa mereka tidak sekadar mengikuti aturan, melainkan sudah menginternalisasi nilai-nilai ekologis sebagai bagian dari identitas Dalam istilah Mezirow, santri telah mengalami perspective transformation, yaitu perubahan paradigma berpikir dan bertindak yang mendalam dan berkelanjutan (Suwito, 2. Lingkungan pesantren yang kolaboratif turut mempercepat proses transformasi ini. Diskusi kelompok, kultum, halaqah, dan kegiatan sosial menjadi ruang reflektif yang memungkinkan santri saling berbagi pengalaman dan memperkuat pemahaman ekologis mereka. Dengan menciptakan learning community, pesantren hijau memfasilitasi proses belajar yang tidak hanya topdown, tetapi juga partisipatif dan dialogis. Ini sejalan dengan prinsip pembelajaran kritis ala Paulo Freire, di mana pendidikan menjadi ruang pembebasan dan kesadaran kolektif. Santri juga mengalami transformasi identitas: dari individu pasif menjadi ecological agent subjek aktif yang sadar dan bertanggung jawab terhadap perubahan lingkungan. Mereka tidak hanya menyesuaikan diri dengan praktik ramah lingkungan, tetapi juga mengadvokasikannya dalam forum internal maupun Dalam konteks ini, literasi ekologis menjadi lebih dari sekadar kemampuan kognitif, melainkan kemampuan afektif dan praksis yang menumbuhkan empati dan aksi konkret terhadap krisis ekologi (AAoyuni & Muhammad, 2. Transformasi ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang berbasis spiritualitas dan konteks pesantren mampu menghasilkan dampak yang lebih dalam daripada pendekatan yang bersifat teknokratis. Pendekatan pembelajaran transformatif di pesantren menempatkan santri bukan hanya sebagai objek yang INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah diajari, tetapi sebagai subjek pembelajar yang mampu mengolah pengalaman, merefleksikan nilai, dan bertindak secara berkesinambungan. Hal ini sangat relevan dalam menghadapi tantangan krisis lingkungan global yang membutuhkan perubahan cara berpikir dan bertindak secara mendasar. Dengan demikian, pembelajaran transformatif di pesantren hijau telah berhasil menciptakan kesadaran ekologis yang tidak bersifat dangkal, tetapi terinternalisasi secara spiritual, sosial, dan praktis dalam kehidupan santri. Ini menjadi model pendidikan lingkungan berbasis nilai Islam yang unik dan kontekstual, serta berkontribusi nyata terhadap gerakan keberlanjutan dari akar rumput. Transformasi ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya tempat transmisi ilmu agama, tetapi juga ruang perubahan sosial dan ekologis yang progresif. Tabel 1. Sintesis Temuan Utama pada Tiga Fokus Kajian Konteks Isi Temuan Integrasi Nilai Islam dan Literasi Ekologis: Integrasi nilai-nilai Islam Narasi Analisis . eperti khilafah, taharah, dan itsa. dengan prinsip ekologis menciptakan pendekatan holistik yang mentransformasi kesadaran santri. Literasi ekologis tidak hanya sebagai pengetahuan teknis, tetapi sebagai internalisasi nilai spiritual dan tanggung jawab ibadah, menghasilkan kesadaran lingkungan yang mendalam dan Praktik Lingkungan di Pesantren Hijau: Praktik nyata . engelolaan sampah. Narasi dan Analisis penghijaua. yang terintegrasi dengan nilai Islam berhasil membentuk karakter dan perilaku ekologis santri. Aktivitas ini bukan sekadar kurikulum tambahan, tetapi menjadi bagian dari sistem pendidikan integral yang menjadikan pesantren sebagai model pendidikan lingkungan berbasis spiritual. Transformasi Kesadaran Santri Melalui Pembelajaran Pembelajaran Transformatif: Narasi dan pengalaman reflektif dan komunitas Analisis belajar berhasil mengubah paradigma dan identitas santri menjadi agen ekologis aktif. Transformasi ini mencakup dimensi kognitif, afektif, spiritual, dan praksis, yang memungkinkan santri tidak hanya menjalankan tetapi juga mengadvokasi praktik ramah lingkungan dengan motivasi spiritual yang kuat. INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran transformatif berbasis nilai Islam di pesantren hijau mampu membentuk kesadaran ekologis santri secara Santri tidak hanya memperoleh pengetahuan lingkungan, tetapi juga menginternalisasi nilai spiritual dan etika ekologis, yang tercermin dalam perubahan paradigma dan perilaku sehari-hari, seperti menghemat air, memilah sampah, dan terlibat aktif dalam kegiatan ramah lingkungan. Integrasi teori ecoliteracy dan transformative learning terbukti efektif dalam menjelaskan proses perubahan ini. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan studi pustaka tanpa verifikasi langsung di lapangan, sehingga temuan lebih bersifat konseptual daripada empiris. Selain itu, belum tersedia data kuantitatif atau dokumentasi visual yang dapat mengukur dampak program ecoliteracy secara terperinci di berbagai pesantren. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan dilakukan studi lapangan dengan metode campuran . ixed method. agar dapat menggabungkan data kualitatif berupa narasi refleksi santri dengan data kuantitatif seperti persentase perubahan Penelitian ke depan juga dapat membandingkan implementasi program ecoliteracy di beberapa pesantren hijau untuk melihat variasi pendekatan dan efektivitasnya, serta mengeksplorasi peran kebijakan pemerintah atau dukungan masyarakat dalam memperkuat pendidikan lingkungan di pesantren. Daftar Rujukan Anggadwita. Dana. -P. Ramadani. , & Ramadan. Empowering Islamic boarding schools by applying the humane entrepreneurship approach: The case of Indonesia. International Journal of Entrepreneurial Behavior & Research, 27. , 1580Ae1604. https://doi. org/10. 1108/IJEBR-112020-0797 AAoyuni. , & Muhammad. Penguatan Budaya Literasi Santri Di Era Digital Pada Pondok Pesantren Zahrotul Islam. Al-Afkar. Journal For Islamic Studies, 6. , 59Ae70. https://doi. org/10. 31943/afkarjournal. Badruzzaman. , & Miharja. Peningkatan Kualitas Literasi Santri Pondok Pesantren Quran Al-Lathifah Menggunakan Digital Library Maktabah Syamilah. DINAMIKA : Jurnal Kajian Pendidikan Dan Keislaman, 8. , 1Ae15. https://doi. org/10. 32764/dinamika. INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah Capra. , & Luisi. The systems view of life: A unifying vision. Cambridge University Press. Creswell. , & Poth. Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches. Sage publications. Dirie. Alam. , & Maamor. Islamic social finance for achieving sustainable development goals: A systematic literature review and future research agenda. , 676Ae698. https://doi. org/10. 1108/IJOES-12-20220317 Fanani. Susilo. , & Wahyono. The Consciousness Elements of EcoTheological Education in PesantrenAos Culture. MUMTAZ : Jurnal Pendidikan Agama Islam, 5. , 204Ae218. https://doi. org/10. 69552/mumtaz. Fritjof Capra dan Pier Luigi Luisi. The Systems View of Life: A Unifying Vision. Cambridge University Press. Fuady. Buraida. Kevin. Farrel. , & Triaputri. Enhancing Urban Resilience: Opportunities and Challenges in Adapting to Natural Disasters Indonesian Cities. Sustainability, 17. , https://doi. org/10. 3390/su17041632 Gupta. Singh. Verma. Chandel. , & Bhatla. Chapter 1AiImpact of climate change and water quality degradation on food security and In B. Thokchom. Qiu. Singh, & P. Iyer (Eds. Water Conservation in the Era of Global Climate Change . 1Ae. Elsevier. https://doi. org/10. 1016/B978-0-12-820200-5. Haris. Ahid. , & Ridhowan. Pendampingan Budaya Literasi Dengan Metode ABCD (Asset Based Community Developmen. Terhadap Santri Kelas 3 SMP di Asrama Al Maliki Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjarwati Banjaranyar Paciran Lamongan. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari, 1. , 29Ae36. Jatilaksono. October . Peran Santri dalam Jihad Ekologi: Pelestarian Lingkungan di Hari Santri Nasional 2024. Coaction Indonesia. https://coaction. id/peran-santri-dalam-jihad-ekologi-pelestarianlingkungan-di-hari-santri-nasional-2024-2/ INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah Khotimah. Taembo. Hipni. , & Lutfitasari. Sustainable character formation in eco-pesantren: A linguistic and spiritual ecology perspective SDGS e02519Aee02519. https://doi. org/10. 47172/2965-730X. SDGsReview. Latief. Islamic philanthropy and the private sector in Indonesia. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, 3. , 175Ae201. MaAoarif. , & Mawardi. Peran Guru Pendidikan Islam Dalam Membentuk Karakter Peduli Lingkungan Pada Santri Di Pondok Pesantren Modern ZIIS (Zamzam Integrated Islamic Schoo. Cilongok Banyumas. Jurnal Kependidikan, 12. , 57Ae68. https://doi. org/10. 24090/jk. Mezirow. Transformative learning: Theory to practice. New Directions for Adult and Continuing Education, 1997. , 5Ae12. Mujahid. Islamic orthodoxy-based character education: Creating moderate Muslim in a modern pesantren in Indonesia. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, 11. , 185Ae212. https://doi. org/10. 18326/ijims. Putri. Buchori. , & Handayani. Land use change and precipitation implication to hydro-meteorological disasters in Central Java: An overview. International Journal of Disaster Resilience in the Built Environment, 14. , 100Ae114. https://doi. org/10. 1108/IJDRBE-12-2020-0125 Qulloh. Pengembangan Literasi Dalam Peningkatan Minat Baca Santri Pada Perpustakaan Mini Pesantren Pelajar Al-Fath Rejomulyo Kediri. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, 1. , 71Ae78. Rofiaty. The relational model of entrepreneurship and knowledge management toward innovation, strategy implementation and improving Islamic boarding school performance. Journal of Modelling in Management, 14. , 662Ae685. https://doi. org/10. 1108/JM2-05-2018-0068 Saxena. Water Quality. Air Pollution, and Climate Change: Investigating the Environmental Impacts of Industrialization and Urbanization. Water. Air, & Soil Pollution, 236. , 73. https://doi. org/10. 1007/s11270-024-07702-4 INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025 Muhyidin. Sinta Bella. Achmad Mahrus Helmi & Maria Mufidah Suwito. Etika Lingkungan dalam Kosmologi Sufistik Menurut Seyeed Hossein Nasr. Madania: Jurnal Kajian Keislaman, 21. , 221Ae234. Widodo. Purwanti. Naylah. Citaningati. , & Pujiyono. Pelatihan Menulis Bagi Santri Sebagai Peningkatan Literasi Santri Pondok Pesantren Darul Ulum Tragung Batang. Beujroh : Jurnal Pemberdayaan Dan Pengabdian Pada Masyarakat, 2. , 484Ae494. https://doi. org/10. 61579/beujroh. INCARE: Volume 6 Number 2 AUGUST, 2025