Page . Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 2, 2025, pp. 122 Ae 129 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Pop-Up Book Dapat Meningkatkan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Anak Usia Sekolah di SD N Demak Ijo 1 Septina Putri Rahayu1a*. Atik BadiAoah1b. Eko Suryani1c. Agus Sarwo Prayogi1d Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Indonesia septinaputrirahayu@gmail. cahyo@yahoo. suryani68@poltekkesjogja. sarwo@poltekkesjogja. HIGHLIGHTS Pendidikan kesehatan gigi dan mulut ARTICLE INFO Article history Received date Jul 08th 2025 Revised date August 04th 2025 Accepted date Sept 23th 2025 Keywords: Health education Knowledge Oral health Pop up book ABSTRACT/ABSTRAK Oral health plays a vital role in overall health, particularly among children aged 6Ae12 years who are vulnerable to dental caries. This study aimed to examine the effect of health education using pop-up book media on oral health knowledge in fourth-grade students at SD N Demak Ijo 1. This quantitative study employed a quasi-experimental design involving 56 fourth-grade students at SD N Demak Ijo 1 in February 2025. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test and Mann-Whitney U Test. The results showed a significant increase in studentsAo oral health knowledge after the intervention . = 0. In conclusion, health education using pop-up book media has a positive effect on improving oral health knowledge among school-age children. Copyright A 2025 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Septina Putri Rahayu Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Jln. Tata Bumi No. Banyuraden. Gamping. Sleman. Email: septinaputrirahayu@gmail. PENDAHULUAN Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan (Sampouw, 2. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 menyebutkan bahwa 45,3% anak usia 6-12 tahun mengalami gigi rusak, berlubang atau nyeri, serta 14% mengalami masalah gusi bengkak dan atau keluar bisul . Salah satu peringkat tertinggi dengan masalah kesehatan gigi di daerah provinsi DIY yaitu di Kabupaten Sleman dengan 42,64% mengalami karies gigi dan mayoritas adalah anak usia sekolah dasar (Kemenkes, 2. Page . Anak usia 6-12 tahun merupakan kelompok usia yang rentan terkena masalah kesehatan gigi dan mulut terutama karies karena usia ini merupakan masa pergantian gigi sulung ke gigi permanen (Salma et al. , 2. Kebiasaan anak dalam mengonsumsi makanan manis yang tidak diimbangi dengan perilaku menyikat gigi dengan benar dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan gigi dan mulut (Fuadah et al. , 2. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak sekolah dasar adalah dengan pemberian pendidikan kesehatan (Pay et al. , 2. Pemberian pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut serta mencegah kerusakan gigi (Hollanda et al. , 2. Keberhasilan penyuluhan memerlukan media yang sesuai dengan usia anak disertai tampilan yang menarik. Salah satu media yang efektif adalah pop-up book, yaitu buku yang bergerak ketika halaman dibuka dan mengandung elemen 3 dimensi sehingga dapat menarik minat siswa saat proses pembelajaran (Suroiha et al. , 2. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih banyak menggunakan media konvensional seperti leaflet atau poster, studi ini menghadirkan pendekatan edukatif berbasis visual interaktif dengan pop-up book untuk mengukur dampaknya secara langsung terhadap pengetahuan anak mengenai kesehatan gigi dan mulut. Kebaruan . dalam studi ini terletak pada pemanfaatan media pop-up book sebagai sarana edukasi di lingkungan sekolah dasar yang belum banyak diterapkan secara sistematis, terutama di wilayah Kabupaten Sleman. Hasil studi pendahuluan bulan November 2024 berdasarkan rekap penjaringan anak sekolah kelas IV di SD N Demak Ijo oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas Gamping 2 tahun 2024, sebanyak 28,3% siswa laki-laki dan 30% siswa perempuan mengalami karies gigi, dengan 11,7% mengalami masalah di akar gigi, 3,6% mengalami gigi kotor, dan 3,6% mengalami gigi yang hilang. Masalah ini disebabkan oleh kurangnya pendidikan kesehatan gigi dan mulut di sekolah, dengan hanya dilakukan screning dari puskesmas. Berdasarkan fenomena yang ada, maka peneliti melakukan penelitian lebih lanjut tentang AuPengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Pop-Up Book Terhadap Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Anak Usia Sekolah di SD N Demak Ijo 1Ay. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media pop-up book terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah di SD N Demak Ijo 1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Pop-Up Book Terhadap Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Anak Usia Sekolah di SD N Demak Ijo 1. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain quasy experiment dan pendekatan pre-test post-test with control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD N Demak Ijo 1 berjumlah 56 siswa dengan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi yang dibagi menjadi 2 kelompok. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2025 di kelas IV SD N Demak Ijo 1 dengan durasi 55 menit untuk setiap kelompok dalam dua kali sesi intervensi. Intervensi diberikan oleh peneliti bersama satu orang enumerator yang sebelumnya telah melakukan apersepsi bersama peneliti. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, yaitu pre test yang dilanjutkan dengan pemberian intervensi media pop-up book pada kelompok eksperimen dan media leaflet pada kelompok Setelah intervensi, dilakukan post test menggunakan kuesioner pengetahuan yang sama. Page . Uji validitas telah dilakukan terhadap media pop-up book, leaflet, dan standar operasional prosedur (SOP) kepada dosen ahli melalui proses expert judgement dengan hasil didapatkan bahwa media dan SOP tersebut layak digunakan pada responden dalam penelitian ini. Peneliti tidak melakukan uji reliabilitas karena instrumen berupa kuesioner telah dilakukan uji reliabilitas oleh Aji . dengan Cronbach Alpha sebesar 0,905. Isi media berupa materi pengertian, akibat tidak menjaga kesehatan gigi dan mulut, pola makan, cara menyikat gigi dengan benar, dan pentingnya pemanfaatan pelayanan tenaga kesehatan. Pengolahan data terdiri dari editing, coding, entry, dan cleaning. Analisa data yang digunakan adalah uji normalitas data, uji Wilcoxon Signed Rank, dan uji Mann Whitney. Penelitian ini telah mendapatkan izin etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dengan Nomor: DP. 03/e-KEPK. 1/245/2025. HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Usia 9 tahun 10 tahun 11 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Eksperimen Kontrol Berdasarkan tabel 1 diketahui distribusi karakteristik responden kelompok eksperimen mayoritas berusia 10 tahun sebanyak 17 . 7%) responden dan mayoritas responden pada kelompok kontrol juga berusia 10 tahun sebanyak 19 . Distribusi frekuensi jenis kelamin mayoritas perempuan dengan jumlah 16 . 1%) responden pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Tabel 2. Tingkat Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Responden Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Baik Cukup Kurang Total Eksperimen Pre Test Post Test Kontrol Pre Test Post Test Berdasarkan tabel 2 diperoleh informasi bahwa mayoritas responden pada kelompok eksperimen sebelum diberikan intervensi memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 15 . 6%) responden. Setelah diberikan intervensi, tingkat pengetahuan meningkat pada kategori baik sebanyak 23 . 1%) responden. Pada kelompok kontrol, sebelum diberikan intervensi didominasi dengan tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 14 . 0%) responden. Setelah diberikan intervensi, tingkat pengetahuan mengalami peningkatan menjadi kategori baik sebanyak 14 . Page . Tabel 3. Uji Normalitas Kelompok Eksperimen Pre Test Post Test Kontrol Pre Test Post Test Statistic Sig. Berdasarkan tabel 3 diperoleh nilai signinificancy nilai p = 0. 000 menandakan pvalue < 0,05 pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi tidak normal. Tabel 4. Pengaruh Pendidikan Kesehatan menggunakan Media Pop-Up Book Terhadap Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Variabel Eksperimen Pre Test Post Test Kontrol Pre Test Post Test Mean Rank Sum of Ranks Sig. Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa hasil uji Wilcoxon nilai signinificancy pada kelompok eksperimen nilai p = 0. 000 < 0,05 sehingga menunjukkan ada pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media pop-up book terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut sebelum dan sesudah intervensi, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan nilai signinificancy nilai p = 0. 006 < 0,05 yang berarti juga ada pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media leaflet sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol. Tabel 5. Perbedaan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Variabel Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Kelompok Eksperimen Kontrol Mean Rank Sig. Berdasarkan tabel 5 hasil uji Mann Whitney didapatkan hasil p = 0. 047 < 0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan pada intervensi pendidikan kesehatan menggunakan media pop-up book dan leaflet terhadap tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan membandingkan interpretasi posttest. PEMBAHASAN Karakteristik Responden Jean Piaget, ahli kognitif menyatakan bahwa anak usia 9-11 tahun termasuk dalam perkembangan kognitif operasional konkret, dimana pada fase ini siswa sudah dapat menggunakan logika ketika belajar untuk dapat memahami sesuatu secara logis menggunakan bantuan benda konkret (Hayati, 2. Di usia tersebut, anak-anak mulai dapat membedakan perilaku yang mendukung dan yang dapat membahayakan kesehatan gigi mereka. Seiring bertambahnya usia, pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut cenderung meningkat, yang berdampak pada semakin baiknya kondisi kesehatan gigi secara keseluruhan (Nora et al. , 2. Page . Mayoritas jenis kelamin pada masing-masing kelompok yaitu perempuan. Hasil tersebut didukung dari penelitian Sidabutar . , bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap indeks kesehatan gigi dan mulut karena perempuan memiliki kecenderungan untuk lebih menjaga penampilannya dibandingkan laki-laki. Selain itu, anak laki-laki biasanya lebih aktif bermain sehingga sering kali kurang memperhatikan kebersihan Penelitian lain menunjukkan hasil bahwa perempuan cenderung memiliki sikap yang lebih positif dan konsisten tentang kesehatan gigi dan mulut. Oleh sebab itu, perempuan lebih jarang mengalami masalah gusi maupun kehilangan gigi akibat gigi berlubang daripada laki-laki. Perempuan lebih sering pergi ke dokter gigi untuk perawatan gigi (Sfeatcu et al. , 2. Tingkat Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Eksperimen Terdapat peningkatan pengetahuan responden sebelum dan setelah intervensi. Didukung dari penelitian Mardelita . bahwa sebelum penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut mayoritas responden berada pada kategori pengetahuan kurang sebanyak 18 . %) respoonden dan setelah penyuluhan terdapat peningkatan dengan mayoritas berada pada kategori pengetahuan baik yaitu 21 . %) responden. Intervensi dalam penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan pada tahap tahu dan memahami. Peningkatan pengetahuan dapat terjadi karena adanya penyaluran informasi melalui media edukasi dan dapat diterima dengan baik oleh responden. Sejalan dengan hasil penelitian Widyastuti . bahwa penggunaan media yang sesuai untuk promosi kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan sebagai upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia dini. Media pop-up book dianggap mempunyai daya tarik tersendiri bagi anak karena mampu menyajikan visualisasi dengan memiliki elemen tiga dimensi yang dapat bergerak dibagian tertentu dan muncul keluar ketika membuka setiap halamannya (Kulsum et al. , 2. Anak-anak akan merasa penasaran dan menantikan kejutan saat membuka setiap halaman buku (Winda et al. , 2. Hasil penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa pemberian edukasi tentang personal hygiene melalui media popup book dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tentang kebersihan diri pada siswa sekolah dasar (Mordayanti et al. , 2. Tingkat Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Sebelum dan Sesudah Intervensi pada Kelompok Kontrol Leaflet merupakan media cetak berupa selembar kertas berukuran A4 dengan ilustrasi dan teks di kedua sisi lembar kertas serta dapat dilipat menjadi tiga sehingga berukuran kecil dan praktis dibawa, dilengkapi dengan ilustrasi atau gambar-gambar menggunakan bahasa sederhana, singkat, dan mudah dipahami (Darsad, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi . didapatkan informasi bahwa media leaflet memiliki beberapa kelebihan diantaranya sederhana dan murah, informasi lebih jelas dan rinci, siswa dapat belajar mandiri atau dapat melihat isinya pada saat bersantai dan berdiskusi dengan guru. Kelebihan tersebut tentunya dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Hasil penelitian oleh Sihite . menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan siswa kelas i sekolah dasar tentang perilaku hidup bersih dan sehat setelah diberikan edukasi menggunakan media leaflet dengan selisih rerata adalah 0,63. Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa peningkatan pengetahuan juga terjadi pada kelompok kontrol dalam penelitian ini karena efektivitas leaflet sebagai media edukasi yang mampu menyampaikan informasi secara langsung dan berulang. Meskipun peningkatannya tidak sebesar pada kelompok intervensi dengan media popup book, leaflet tetap memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengetahuan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa media cetak yang sederhana pun tetap memiliki nilai Page . edukatif yang signifikan, terutama bila dirancang dengan baik dan relevan dengan kebutuhan siswa. Perbedaan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Media leaflet yang digunakan kelompok kontrol memiliki kelemahan yaitu kurang melibatkan siswa secara aktif dalam proses penyampaian materi sehingga mayoritas siswa kurang memperhatikan informasi yang disampaikan. Selain itu, penggunaan leaflet hanya berisi informasi yang terbatas sehingga tidak memberikan gambaran lengkap tentang topik yang disampaikan Media leaflet tidak dapat menampilkan gerak atau dimensi yang dapat mengembangkan imajinasi anak (Darsad, 2. Hasil penelitian Lestari . menyatakan bahwa media pop-up book lebih efektif meningkatkan keterampilan menyikat gigi pada anak pra sekolah karena media edukasi menggunakan inovasi yang sebelumnya belum pernah digunakan dan media ini memvisualisasikan pembelajaran abstrak sehingga anak-anak lebih tertarik mendengarkan materi yang disampaikan dan memahaminya dengan baik. Penelitian lain oleh Stevani . menunjukkan hasil bahwa setelah diberikan penyuluhan menggunakan media pop-up book, nilai mean intervensi meningkat dari 12,76 menjadi 13,16 dikarenakan pada saat pemberian penyuluhan anak-anak memperhatikan dan menyimak penjelasan. Disamping itu, media yang digunakan menarik dan anak dapat terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran sehingga nilai pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar meningkat. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan menggunakan media pop-up book dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah di SD N Demak Ijo 1. Pendidikan kesehatan dengan media pop-up book memungkinkan anak terlibat langsung melalui aktivitas seperti menggeser, membuka, dan melipat bagianbagian buku. Desain interaktif ini membangkitkan rasa ingin tahu dan antusiasme anak, sehingga mendorong motivasi belajar dan membantu meningkatkan pengetahuan Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan di satu sekolah dengan jumlah sampel terbatas dan durasi intervensi yang singkat. Oleh karena itu, disarankan agar penelitian selanjutnya dilakukan dengan jangkauan yang lebih luas, jumlah sampel yang lebih besar, serta pengamatan jangka panjang untuk menilai efektivitas berkelanjutan dari penggunaan media pop-up book sebagai media dalam pendidikan kesehatan. DAFTAR PUSTAKA