JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Determinan Regenerasi Petani Di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya Hery Medianto Kurniawan1*). Rudy Triadi Yuliarto. Prodi Agribisnis. Fakultas Pertanian Sains dan Teknologi. Universitas Panca Bhakti Prodi Manajemen. Fakultas Ekonomi. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Boedi Oetomo email: *herymedianto@upb. id, syifapga@gmail. Abstract The aim of this research is to determine the determinant factors of farmer regeneration in Kuala Dua Village. Sungai Raya District. To find out the determinant factors that influence farmer regeneration, use quantitative analysis tools with multiple linear regression. The results of the research concluded that the magnitude of the influence of the independent variable on the rise and fall of the value or variation of the dependent variable was 82. 20%, while 17. 80% was influenced by variables other than the variables in this study. The determinant factors for farmer regeneration in Kuala Dua Village that have a positive correlation are individual encouragement, individual needs, individual feelings, family, friends and social media, while parental factors, technology, marketing and readiness have a negative relationship. Based on the Simultaneous Test, it was concluded that the independent variable determinant factor had a significant influence on the dependent variable factor, namely farmer regeneration in Kuala Dua Village. Sungai Raya District. Based on the t test, the determinant factors that have a significant influence on the regeneration of farmers in Kuala Dua Village. Sungai Raya District are individual encouragement, individual needs, individual feelings, parents, friends and readiness, while the determinant factors in the form of family, technology, marketing and social media have no significant influence. towards the regeneration of farmers in Kuala Dua Village. Sungai Raya District. Keywords: Determinants. Farmers. Regeneration PENDAHULUAN Pertanian merupakan salah satu sektor utama dalam perekonomian banyak negara, yang tidak hanya menyediakan pangan bagi populasi, tetapi juga memberikan mata pencaharian bagi jutaan orang di seluruh dunia. Namun, terdapat sebuah tren global yang mengkhawatirkan terkait dengan penuaan petani dan kurangnya minat generasi muda untuk terlibat dalam Krisis regenerasi petani menjadi isu penting yang perlu ditangani untuk memastikan kelangsungan produksi pangan dan keberlanjutan pertanian di masa depan. Fenomena yang terjadi adalah banyak generasi muda tidak melirik profesi sebagai petani karena dianggap tak Penyebab krisis regenerasi petani bisa sangat beragam dan kompleks, tergantung pada konteks sosial, ekonomi, dan lingkungan setiap wilayah. Banyak generasi muda cenderung beralih profesi dari pertanian ke sektor non-pertanian karena ada persepsi bahwa pekerjaan di kota menawarkan lebih banyak peluang dan gaji yang lebih baik. Urbanisasi mengakibatkan penurunan jumlah petani muda yang masuk ke dalam pertanian. Generasi muda seringkali menghadapi kesulitan dalam mengakses lahan pertanian yang terjangkau dan sesuai untuk praktik pertanian. Harga tanah yang tinggi dan peraturan yang kompleks bisa menjadi hambatan besar. Pertanian modern membutuhkan modal yang signifikan untuk investasi dalam peralatan, infrastruktur, dan teknologi. Generasi muda yang baru memulai seringkali kesulitan dalam mengakses sumber daya ini. Kurangnya dukungan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan, insentif, atau program bantuan bagi petani muda dapat memperparah krisis regenerasi petani. Proses globalisasi dapat membuat persaingan dalam pasar pertanian menjadi lebih ketat dan kompleks, yang mungkin membuat generasi muda enggan untuk terlibat dalam pertanian. Director Research and Development Biops Agrotekno Indonesia . , menyatakan bahwa anggapan pertanian yang panas-panasan, kotor, berlumpur, dan sebagainya, menjadi penghalang bagi kaum muda yang lebih menyukai bekerja dengan nyaman. Lembaga penelitian Center for JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Indonesian Policy Studies (CIPS) . , menyebut regenerasi petani masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Indonesia agar bisa mewujudkan ketahanan pangan secara berkelanjutan. Alasan lainnya bahwa pendapatan dari sektor pertanian dinilai kurang menjanjikan, selain itu Indonesia menghadapi alih fungsi lahan produktif ke perindustrian dan infrastruktur jalan. Selain itu adanya stigma dikalangan masyarakat yang menganggap level pekerjaan sektor pertanian hanya level biasa-biasa saja jika dibandingkan bekerja sebagai di sektor lainnya, faktor ini menyebabkan generasi muda merasa gengsi untuk turun ke dunia pertanian dan bekerja sebagai petani. Lembaga penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebut regenerasi petani masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Indonesia agar bisa mewujudkan ketahanan pangan secara berkelanjutan sebagai solusi pembangunan pertanian. Regenerasi petani merupakan sebuah proses transfer kegiatan usahatani dari petani tua kepada generasi penerusnya/petani muda. Regenerasi petani perlu dilakukan karena mengingat tenaga kerja pertanian sekarang berada pada usia lansia yang semakin tua, dapat mengakibatkan penurunan kinerja dalam bidang pertanian. Semakin terbukanya dunia dan persaingan pasar menyebabkan pelaku yang harus bekerja pada sektor pertanian adalah petani yang produktif dan Melalui Kementerian Pertanian (Kementa. menargetkan 2024 mendatang, mampu mencetak 2,5 juta petani milenial. Hal ini dilakukan mengingat regenerasi petani merupakan hal mutlak yang harus segera dilakukan bila pembangunan pertanian mau terus berjalan. Oleh karena itu Kementan terus berupaya mengubah pola pikir generasi muda bahwa pertanian itu keren, hebat, dan satu-satunya sektor yang menjanjikan. Maka peran generasi muda dalam pertanian memiliki urgensi dalam menciptakan sektor pertanian yang efektif, efisien dan produktif dengan pemikiran solutif dan milenial dengan penggunaan teknologi. Generasi muda Indonesia harus berdaya, dengan melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar terkhusus pada sektor pertanian. Menurut Wiyono dkk. , model pertanian di Indonesia yaitu model pertanian keluarga yang diwariskan secara turun menurun dan mampu menjaga produksi serta keberlangsungan kehidupan petani. Selain berkurangnya jumlah petani, masalah lain yang dihadapi oleh pertanian Indonesia yaitu terkait usia dan produktifitas petani. Struktur umur petani di Indonesia sebesar 60,8% diatas 45 tahun yang sudah tua dengan 73,97% hanya berpendidikan tingkat SD, dan kemampuan dalam menerapkan teknologi baru masih rendah. Hal tersebut menyebabkan produktivitas petani Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN. Kondisi tersebut perlu dipikirkan bagaimana keberlanjutan usaha tani di masa yang akan Sedikitnya jumlah pemuda yang mau meneruskan pekerjaan orang tua mereka dan mewariskan dari generasi ke generasi dapat membuat sektor tersebut mengalami krisis generasi Ironisnya pula, sebagian besar orang tua di daerah perdesaan tidak menginginkan anakanaknya bekerja sebagai petani sebagaimana pekerjaan mereka saat ini. Penurunan jumlah petani berusia muda disebabkan oleh berkurangnya keinginan pemuda, baik di daerah desa tempat tinggalnya maupun di daerah perkotaan untuk bekerja di sektor pertanian. Mereka memiliki kecenderungan untuk lebih memilih pekerjaan di luar sektor pertanian (Susilowati. Menurut Susilowati . , ada berbagai alasan yang menjadi penyebab menurunnya minat pemuda untuk bekerja di sektor pertanian, salah satunya adalah sektor pertanian memiliki citra yang kurang bergengsi dengan teknologi yang belum maju dan belum dapat memberikan pendapatan yang memadai. Sektor pertanian di Indonesia mayoritas masih menggunakan teknologi yang tradisional dan adopsi teknologi yang masih rendah, sedangkan di sektor industri dan jasa teknologi sudah sangat maju sehingga banyak pemuda yang tertarik untuk bekerja di sektor tersebut. Selain itu, rendahnya pendapatan, risiko yang tinggi pada usaha pertanian dan keuntungan yang tidak mencukupi dibandingkan dengan usaha di sektor lain membuat pertanian menjadi pilihan terakhir dibandingkan pekerjaan lain (Umunnakwe dkk. , 2. Oleh karena itu, gambaran krisis petani muda diatas dimungkinkan terjadi pula pada regenerasi petani di Kabupaten Kubu Raya, khsususnya di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Raya. Hal ini sangat penting untuk diteliti dengan melihat bagaimana perubahan struktural tenaga kerja pertanian di Desa Kuala Dua Kecamatan Sunngai Raya. Perlu dilakukan kajian terhadap faktor determinan regreneasi penati di Desa Kuala Dua Kecamatan Sugai Raya dan bagaimana kebijakan yang diperlukan untuk mendukung pemuda masuk ke dalam sektor METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan dimulai dari bulan September hingga bulan November tahun Pengumulan data dilakukaan dengan kuesioner, wawancara, laporan dan studi terdahulu dan pengunaan data demografis. Populasi di dalam penelitian ini adalah generasi muda yang masuk ke dalam generasi milenial yang ada di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya sebanyak 64 orang petani. Populasi adalah kumpulan dari satuan elementer yang sifatnya akan Sugiyono . menyatakan bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan atau karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Soeparmoko, 2. Penentuan sampel mengambil persentase (%) tertentu, misalnya 10% dari seluruh jumlah populasi. Menurut Soeparmoko . berpendapat sebagai berikut : bila populasi N besar, persentase yang kecil saja sudah dapat memenuhi syarat, besarnya sampel hendaknya mempertimbangkan dana dan waktu masih dapat menjangkau. Berdasarkan pendapatan diatas maka cara penentuan sampel penelitian ini adalah dengan cara sensus, artinya semua popuplasi menjadi sampel, yakni sebanyak 64 orang petani. Variabel pengamatan di dalam kajian ini adalah karakteristik responden dan faktor yang mempengaruhi regenerasi petani. Berdasarkan studi terdahulu yang menjelaskan tentang tantangan pada regenerasi petani bahwa petani lanjut usia lebih banyak jika dibandingkan dengan generasi muda yang akan menjadi petani (Oktafiani et al. , 2. Variabel terkait regenerasi petani melalui beberapa faktor, yaitu karakter generasi muda, dukungan pemerintah, dukungan keluarga, dukungan masyarakat, dukungan pasar, peran penyuluh pertanian, motivasi generasi muda, dan keterlibatan mereka di bidang pertanian (Oktafiani et al. , 2. Dalam melakukan analisis penelitian ini, penulis mengunakan metode analisis kuantitatif. Untuk memudahkan pengukuran data kualitatif menjadi data kuantitatif maka dipergunakan sistem skoring Scala Likert dengan kriteria sangat berdampak hingga sangat tidak berdampak sebagai = Sangat Berpengaruh, nilai : 5 = Berpengaruh, nilai : 4 = Cukup Berpengaruh, nilai : 3 = Tidak Berpengaruh, nilai : 2 STB = Sangat Tidak Berpengaruh, nilai : 1 Menurut Sugiyono . menyatakan Scala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Scala Likert maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator-indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk mengukur item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrument yang menggunaka Scala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Pengolahan data kuantitatif menggunakan Regresi Linier Sederhana dan Regrsi Linier Berganda. Adapun persamaan umum Regresi Linier Berganda (Umar, 2. adalah sebagai Y = a b1X1 b2X2 b3X3 b4X4 b5X5 b6X6 b7X7 b8X8 b9X9 b10X10 Keterangan : = Regenerasi Petani X1 = Dorongan Individu X2 = Kebutuhan Individu X3 = Perasaan Individu JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 X4 = Orang Tua X5 = Keluarga X6 = Teman X7 = Teknologi X8 = Pemasaran X9 = Kesiapan X10 = Sosial Media Pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel independen dalam penelitian secara parsial dengan menggunakan Uji Statistik t. Pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan dengan menggunakan Uji Statistik F. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian diketahui signifikan 0,002 kepercayaan kebenaran pada nilai alfa 0,05. Dengan demikian nilai signifikan lebih kecil dari nilai alfa yakni 0,05, maka 0,002 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa dorongan individu (X. , kebutuhan individu (X. , perasaan individu (X. , orang tua (X. , keluarga (X. , teman (X. , tknologi (X. , pemasaran (X. , kesiapan (X. , dan sosial Media (X. menjadi faktor determinan yang berpengaruh signifikan terhadap regenerasi petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Untuk lebih jelasnya hasil anaisis dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Uji Simutan Model Sum of Squares Mean Square Sig. 1 Regression Residual Total Predictors: (Constan. Sosial Media. Orang Tua. Kebutuhan Individu. Keluarga. Dorongan Individu. Pemasaran. Kesiapan. Perasaan Individu. Teknologi. Teman Dependent Variable: Regenerasi Petani Secara parsial untuk mengetahui pengaruh faktor determinan dari variabel independent terhadap faktor dari variabel dependent secara menyeluruh dilakukan melalui Uji Parsial (Uji . Uji secara parsial ini yaitu dengan membandingkan antara nilai signifikan dengan alfa yakni 0,05. Jika nilai signifikan < 0,05 maka dapat dikatakan faktor variabel bebas secara parsial . er fakto. berpengaruh nyata terhadap faktor variabel terikat. Hasil analisis dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Uji Parsial Standardized Model Coefficients Sig. Std. Error Beta 1 (Constan. Dorongan Individu Kebutuhan Individu Perasaan Individu Orang Tua Keluarga Teman Teknologi Pemasaran Kesiapan Sosial Media Dependent Variable: Regenerasi Petani Berdasarkan hasil uji pasrial pada Tabel 2 diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 Nilai signifikan faktor dorongan individu (X. sebesar 0,01 lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,001 < 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor dorongan individu berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Nilai signifikan faktor kebutuhan individu (X. sebesar 0,000 lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,000 < 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor kebutuhan individu berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Nilai signifikan faktor perasaan individu (X. sebesar 0,015 lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,015 < 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor perasaan indiividu berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Nilai signifikan faktor orang tua (X. sebesar 0,001 lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,001 < 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor orang tua berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Nilai signifikan faktor keluarga (X. sebesar 0,141 lebih besar jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,141 > 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Nilai signifikan faktor teman (X. sebesar 0,007 lebih besar jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,007 < 0,05. Jadidapat disimpulkan bahwa teman berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya . Nilai signifikan faktor teknologi (X. sebesar 0,151 lebih besar jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,151 > 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor teknologi tidak berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Nilai signifikan faktor pemasaran (X. sebesar 0,137 lebih besar jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,137 > 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor pemasaran tidak berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya . Nilai signifikan faktor kesiapan (X. sebesar 0,023 lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,023 < 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor kesiapan berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Nilai signifikan faktor sosial media (X. sebesar 0,320 lebih besar jika dibandingkan dengan nilai alfa = 0,05 yakni 0,320 > 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor sosial media tidak berpengaruh signifikan terhadap Regenerasi Petani (Y) di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya. Kesimpulan Besarnya pengaruh faktor determinan dari variabel bebas terhadap naik turunnya nilai atau variasi variabel terikat sebesar 82,20% sedangkan sebesar 17,80% dipengaruhi oleh variabel lain selain variabel dalam penelitian ini. Berdasarkan Uji Simultan menunjukan bahwa faktor determinan variabel bebas bepengaruh nyata terhadap faktor variabel terikat yakni regenerasi petani di Desa Kuala Kecamatan Sungai Raya. Secara parsial faktor determinan yang berpengaruh signifikan terhadap regenerasi petani di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya adalah dorongan individu, kebutuhan individu, perasaan individu, orang tua, teman dan kesiapan, sedangkan faktor keluarga, teknologi, pemasaran dan faktor determinan berua sosial media tidak berpengaruh signifikan terhadap regenerasi petani di Desa Kuala dua Kecamatan Sungai Raya. JURNAL AGROSAINS VOL 17 N0 2 2024 ISSN: 1693-5225 REFERENSI