Cakrawala Jurnal Pendidikan Volume 19 No 2 . http://cakrawala. id/index. php/Cakrawala email: cakrawala. upstegal@gmail. Literatur Review Tren Pengembangan E-Modul pada Pembelajaran IPA untuk Jenjang SD-SMA Rentang Tahun 2020-2025 Fitriana Dwi Lestari nC, 2 Tri Astuti, 3 Bambang Subali, 4 Nuni Widiarti History _______________________________________________ 1,2,3,4 Pascasarjana Universitas Negeri Semarang. Indonesia Received Januari Revised Accepted Februari Publish Maret DOI: Email: fitrianadwi773@students. _____________________________________ DOI: . Abstract Science subjects include physics, chemistry, biology, and earth and space sciences, integrated to provide a thorough understanding of natural phenomena and scientific principles. Due to the abstract nature of many scientific concepts, students often struggle to understand them. E-modules are an effective medium to address this challenge. This study aims to identify trends in the development of science e-modules and explore research opportunities for future development. A Systematic Literature Review (SLR) method was used to analyze 53 articles from elementary to senior high school levels, obtained from Google Scholar. Scopus, and Mendeley Web. Articles were filtered by publication years . 0Ae2. and topic relevance. The results show that: . most e-modules are developed at the elementary level. research mainly focuses on improving learning . dominant fields include science/tematics/IPAS. Flip PDF Professional is the most used application in e-module development. Keywords : E-Module Development. Science Learning. Literature Review Abstrak Pelajaran IPA mencakup fisika, kimia, biologi, serta ilmu bumi dan antariksa yang disatukan untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang gejala alam dan prinsip ilmiah. Karena banyak konsep ilmia yang bersifat abstrak, peserta didik sering mengalami kesulitan dalam memahaminya. E-modul menjadi salah satu media pembelajaran yang efektif untuk membantu mengatasi hal tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tren pengembangan e-modul pada pembelajaran IPA. Manfaatnya adalah untuk menemukan peluang riset yang dapat menjadi rujukan bagi peneliti lain dalam mengembangkan e-modul IPA di masa mendatang. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap 53 artikel dari jenjang SD hingga SMA, yang diperoleh melalui Google Scholar. Scopus, dan Mendeley Web. Artikel disaring berdasarkan tahun terbit . 0Ae 2. dan kesesuaian topik. Hasilnya menunjukkan: . e-modul IPA paling banyak dikembangkan di jenjang SD. mayoritas penelitian berfokus pada peningkatan hasil belajar. bidang yang dominan adalah IPA Tematik/IPAS. Aplikasi paling dominan digunakan adalah Flip PDF Profesional. Kata Kunci: Pengembangan E-Modul. Pembelajaran IPA. Literature Review Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 38 | Fitriana Dwi Lestari . Tri Astuti. Bambang Subali. Nuni Widiarti / Cakrawala 19. PENDAHULUAN Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mencakup bidang Fisika. Kimia. Biologi, serta Ilmu Bumi dan Antariksa. Integrasi keempat bidang ini dalam satu mata pelajaran bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh kepada peserta didik tentang fenomena alam dan prinsip-prinsip ilmiah yang mendasarinya. Melalui pendekatan terpadu ini, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, serta memahami keterkaitan antara berbagai konsep ilmiah, sehingga dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata atau sehari-hari (Kemendikbudristek, 2. Pembelajaran IPA diajarkan di sekolah dari Tingkat SD hingga SMA. Masa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama merupakan periode peralihan dari tahap berpikir operasional konkret menuju operasional formal. Pada tahap ini, peserta didik mulai mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis, namun pemahaman terhadap konsep yang bersifat abstrak masih terbatas dan memerlukan bantuan media konkret atau pengalaman langsung dalam pembelajaran (Asdar & Barus, 2. Hal ini berdampak pada proses pembelajaran, terutama pada mata pelajaran IPA yang sarat dengan konsep ilmiah dan abstrak sehingga peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami konsep materi dengan baik (Mardiana, 2. Dalam proses pembelajaran IPA, guru memiliki peran penting dalam menyiapkan media yang sesuai agar konsep-konsep ilmiah dapat dipahami dengan lebih mudah oleh peserta Pemilihan media pembelajaran yang tepat harus disesuaikan dengan karakteristik materi, tujuan pembelajaran, serta kebutuhan peserta didik. Media pembelajaran merujuk pada segala sesuatu yang dapat digunakan untuk memotivasi pikiran, perasaan, perhatian, serta keterampilan atau kemampuan peserta didik, sehingga dapat membantu proses pembelajaran dengan lebih efektif (Putra et al. , 2. Media dapat berbentuk visual, audio, audio-visual, maupun multimedia. Media digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai sarana yang mampu memberikan pengalaman visual kepada peserta didik. Tujuannya adalah untuk meningkatkan motivasi belajar, memperjelas materi, serta menyederhanakan konsep-konsep yang rumit dan abstrak agar menjadi lebih konkret dan mudah dipahami (Silahuddin, 2. Dengan penggunaan media yang efektif, diharapkan peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan ilmiah lainnya dalam menyelesaikan masalah di dunia nyata. Salah satu media pembelajaran yang sangat layak, praktis dan efektif dalam mendukung proses pembelajaran IPA adalah e-modul. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri & Erita . mengenai pengembangan e-modul untuk pembelajaran IPA di tingkat sekolah dasar menunjukkan bahwa e-modul yang dikembangkan dinyatakan layak digunakan. Hal ini didasarkan pada hasil uji validitas, praktikalitas, dan efektivitas yang menunjukkan bahwa e-modul tersebut tergolong valid, mudah digunakan, serta dapat meningkatkan hasil belajar. Pada jenjang SD hingga SMA, pembelajaran IPA memerlukan media yang efektif agar peserta didik dapat memahami konsep-konsep ilmiah yang Oleh karena itu, integrasi e-modul dalam pembelajaran IPA diharapkan dapat memberikan solusi terhadap berbagai tantangan dalam pengajaran IPA, seperti keterbatasan sumber daya dan metode pengajaran yang kurang menarik (Agung et al. , 2. Menurut Arisman & Hidayati . e-modul adalah modul pembelajaran berbasis elektronik yang dirancang untuk memfasilitasi proses belajar dengan memanfaatkan teknologi E-modul umumnya berisi materi pelajaran yang dilengkapi dengan berbagai media interaktif seperti teks, gambar, video, dan animasi, yang bertujuan untuk memperkaya Literatur Review Tren Pengembangan E-Modul pada Pembelajaran IPA untuk Jenjang SD-SMA | 39 | pengalaman belajar peserta didik. Glosita, et al. mengemukanan bahwa penggunaan emodul interaktif memungkinkan pembelajaran yang lebih fleksibel, di mana peserta didik dapat mengakses materi kapan saja dan di mana saja, sesuai dengan kebutuhan dan kecepatan belajar peserta didik. Sementara isi materinya dirancang agar sesuai dengan situasi nyata yang dihadapi peserta didik, sehingga menjadikannya sebagai sumber belajar yang kontekstual dan mudah Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bobihu et al. menyatakan bahwa penggunaan e- modul terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi dan kemandirian belajar peserta didik. Seiring dengan kemajuan teknologi, pengembangan e-modul pada pembelajaran IPA banyak dilakukan oleh guru dengan berbagai platform digital. E-modul yang dirancang umumnya fleksibel dan dapat diterapkan dalam berbagai strategi serta model pembelajaran di Selain itu e-modul yang dikembangkan juga harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang telah dirancang oleh guru. Berdasarkan hasil analisis dan latar belakang permasalahan yang telah dijelaskan, tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan tren serta mengidentifikasi peluang penelitian yang dapat dijadikan rujukan bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan e-modul pembelajaran IPA dari berbagai aspek. METODE Artikel ini disusun menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai tinjauan pustaka sistematis. Identifikasi dalam pencarian artikel menggunakan software Publish or Perish (PoP) menggunakan kata kunci AuE-Modul IPAAy. Analisis dilakukan dengan memperhatikan sejumlah aspek, antara lain jenjang pendidikan yang menjadi sasaran penelitian, orientasi atau tujuan penggunaan e-modul, ruang lingkup materi pembelajaran IPA yang dikaji dan jenis aplikasi atau platform digital yang digunakan. Tahapan dalam pencarian artikel jurnal dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram Flow Proses Pencarian dan Seleksi Artikel Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 40 | Fitriana Dwi Lestari . Tri Astuti. Bambang Subali. Nuni Widiarti / Cakrawala 19. Berdasarkan Gambar 1, proses pencarian artikel dibatasi sejumlah 100 artikel berbahasa Indonesia dan Inggris yang terbit pada rentang waktu lima tahun terakhir yaitu tahun 20202025 menggunakan database Google Scholar dan Scopus. Selain itu, sebanyak 50 artikel juga telah diperoleh melalui platform Mendeley Web sebagai sumber referensi tambahan dalam penyusunan kajian ini. Hasil pencarian diperoleh 150 artikel. Kemudian, setelah dilakukan penyaringan berdasarkan judul dan abstrak diperoleh sejumlah 100 artikel. Ditemukan 30 artikel yang tidak termasuk kriteria karena artikel tersebut tidak fokus mengkaji e-modul pada pembelajaran IPA. Artikel yang dinilai layak untuk dianalisis sejumlah 70 artikel, kemudian data tersebut diverifikasi kembali dan ditemukan 17 artikel yang tidak masuk kriteria karena tidak ada kajian aplikasi yang digunakan dalam pengembangan e-modul serta jenjang pendidikan tidak sesuai. Hasil artikel yang akan dianalisis sejumlah 53 artikel yang sesuai dengan penelitian tren e-modul pada pembelajaran IPA. HASIL DAN PEMBAHASAN E-modul merupakan bentuk modul pembelajaran digital yang dapat diakses melalui berbagai perangkat elektronik seperti laptop, komputer, tablet, maupun smartphone. Salah satu kelebihan utama dari e-modul adalah tingkat fleksibilitasnya yang tinggi, memungkinkan peserta didik untuk belajar di waktu dan tempat yang mereka tentukan sendiri (Pramesti et al. E-modul menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki oleh modul cetak. Salah satu kelebihannya adalah sifatnya yang interaktif, dengan kemampuan menampilkan elemen visual dan multimedia seperti gambar, animasi, video, dan audio yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran (Putri et al. , 2. Pembuatan e-modul dapat mendorong guru untuk lebih kreatif dalam merancang materi pembelajaran, serta menyajikan konten yang lebih menarik dan interaktif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan semangat dan motivasi belajar dan pemahaman konsep peserta didik (Putri & Erita, 2. Selanjutnya e-modul dalam pembelajaran IPA sangat baik digunakan untuk megembangkan keterampilan berpikir kritis peserta didik (Suastrawan et al. , 2. Analisis Pengembangan E-Modul IPA pada Jenjang Pendidikan Berdasarkan hasil telaah terhadap jurnal-jurnal yang terindeks pada SINTA dan Scopus, ditemukan sebanyak 53 artikel yang membahas tentang pengembangan e-modul pembelajaran IPA yang diterbitkan dalam rentang tahun 2020 hingga 2025. Pengembangan e-modul tersebut mencakup jenjang pendidikan mulai dari tingkat SD hingga SMA. Rincian pengembangan emodul berdasarkan jenjang pendidikan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Jumlah Pengembangan E-Modul Berdasarkan Jenjang Pendidikan Jenjang Pendidikan SMP SMA Jumlah Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa pengembangan e-modul pembelajaran IPA paling banyak dilakukan pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Tingginya jumlah penelitian pada jenjang SD ini dapat dikaitkan dengan teori perkembangan kognitif Piaget, yang menyatakan bahwa peserta didik usia SD berada pada tahap operasional konkret, di mana mereka mulai mampu berpikir logis namun masih sangat bergantung pada objek dan situasi nyata (Asdar & Literatur Review Tren Pengembangan E-Modul pada Pembelajaran IPA untuk Jenjang SD-SMA | 41 | Barus, 2. Oleh karena itu, media pembelajaran seperti e-modul interaktif yang menyajikan visualisasi, animasi, dan simulasi konkret sangat sesuai untuk mendukung pemahaman konsepkonsep IPA pada tahap ini. Sementara itu, pada jenjang SMP dan SMA, peserta didik umumnya telah berada pada tahap operasional formal, yaitu tahap di mana mereka sudah mampu berpikir secara abstrak dan sistematis (Anggraeni et al. , 2. Hal ini memungkinkan mereka untuk memahami materi IPA dengan pendekatan yang lebih teoretis, sehingga kebutuhan akan media interaktif berbasis e-modul mungkin dianggap tidak terlalu mendesak dibandingkan pada jenjang yang lebih rendah. Orientasi Pengembangan E-Modul pada Pembelajaran IPA Berdasarkan hasil analisis, pengembangan e-modul pembelajaran IPA pada jenjang SD-SMA secara umum difokuskan pada peningkatan kualitas proses pembelajaran. Pengembangan e-modul interaktif dalam pembelajaran IPA paling dominan bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan memperdalam pemahaman konsep peserta didik. Selain itu, emodul juga banyak dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, serta kemampuan analitis peserta didik. Tidak hanya itu, beberapa e-modul juga difokuskan untuk meningkatkan literasi sains, minat dan motivasi belajar, serta mendorong kemandirian peserta didik. Ada pula e-modul yang mendukung pelaksanaan praktikum IPA serta melatih keterampilan komunikasi dalam konteks sains. Adapun distribusi tujuan pengembangan emodul pada pembelajaran IPA dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Diagram distribusi tujuan penggunaan e-modul Beradasarkan Gambar 2, e-modul interaktif memberikan kontribusi yang signifikan tidak hanya dalam aspek kognitif, tetapi juga dalam aspek sikap dan keterampilan peserta didik. Penelitian Zulkan et al. Putri & Erita . , dan Manzil et al. menggunakan emodul IPA untuk hasil belajar peserta didik. Penelitian Anjarsari, et al. Aliyah & Widiyatmoko . serta Latifah et al. mengembangkan e-modul IPA untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Amini & Usmeldi . dan Taufan et al. mengembangkan e-modul IPA untuk pemahaman konsep. Dengan demikian, emodul interaktif tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian materi, tetapi juga dirancang untuk mengembangkan keterampilan esensial abad ke-21. Menurut Harahap et al. keterampilan abad 21 atau 4C mencakup Communication (Komunikas. Collaboration Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 42 | Fitriana Dwi Lestari . Tri Astuti. Bambang Subali. Nuni Widiarti / Cakrawala 19. (Kolaboras. Creativity and Innovation (Kreativitas dan Inovas. , serta Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan Masala. Bidang IPA yang Dikaji dalam Pengembangan E-Modul Fokus kajian materi pembelajaran IPA berdasarkan artikel yang dianalisis dibagi ke dalam empat bidang, yaitu Fisika. Biologi. Kimia. IPA Terpadu/Tematik/IPAS di SD. Kelima bidang tersebut merupakan fokus utama dalam kajian pembelajaran IPA. Bidang IPA yang menjadi pokok bahasan pada e-modul dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Bidang IPA pada Pengembangan E-Modul Bidang IPA Jumlah Artikel Persentase Fisika Biologi Kimia IPA Tematik/IPAS Berdasarkan Tabel 2, kajian materi dalam pengembangan e-modul IPA pada jenjang SD-SMA yang paling banyak di bahas adalah bidang IPA Tematik/IPAS. Menurut Putri et al. pembelajaran IPA di jenjang sekolah dasar memegang peranan penting dalam membangun fondasi pengetahuan siswa mengenai lingkungan alam serta berbagai proses yang berlangsung di dalamnya. Dalam Kurikulum Merdeka, mata pelajaran IPA dan IPS di tingkat Sekolah Dasar digabungkan menjadi satu bidang yang disebut Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Penggabungan ini didasarkan pada karakteristik perkembangan kognitif siswa SD yang masih berada pada tahap berpikir konkret, menyeluruh, dan terpadu, sehingga pendekatan pembelajaran yang tematik dan terintegrasi dianggap lebih tepat untuk mendukung proses belajar mereka (Kemendikbudristek, 2. Aplikasi atau Platform Digital yang Digunakan dalam Pengembangan E-Modul IPA Hasil analisis terhadap 53 artikel menunjukkan bahwa jenis aplikasi yang digunakan dalam pengembangan e-modul IPA sangat bervariasi. Data jenis aplikasi pengembangan emodul dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Grafik Penggunaan Aplikasi Pengembangan E-Modul IPA Berdasarkan Gambar 3, hasil analisis menunjukkan bahwa Flip PDF Professional merupakan aplikasi yang paling dominan digunakan dalam pengembangan e-modul interaktif Literatur Review Tren Pengembangan E-Modul pada Pembelajaran IPA untuk Jenjang SD-SMA | 43 | untuk pembelajaran IPA. Selain itu. Canva juga termasuk aplikasi yang cukup banyak dipilih dalam tahap desain e-modul. Beberapa aplikasi lain yang digunakan meskipun tidak sebanyak dua aplikasi tersebut antara lain Kvisoft Flipbook Maker. Adobe Flash. Flipbook Builder Professional, dan Flipbook Maker. Di samping itu, pengembang juga memanfaatkan berbagai aplikasi lain dengan frekuensi lebih rendah, seperti Anyflip. Book Creator. Liveworksheet. Google Sites, serta perangkat desain grafis seperti Corel DRAW. dan Adobe Illustrator. Flip PDF Professional adalah perangkat lunak yang banyak dimanfaatkan dalam pengembangan e-modul interaktif karena kemampuannya mengubah dokumen PDF menjadi buku digital dengan efek membalik halaman yang realistis. Aplikasi ini memungkinkan penambahan elemen multimedia seperti video, audio, gambar, dan hyperlink, sehingga meningkatkan interaktivitas dan daya tarik materi pembelajaran. Keunggulan ini menjadikan Flip PDF Professional sebagai pilihan utama dalam menciptakan bahan ajar yang menarik dan mudah diakses oleh peserta didik (Wijaya et al. Banyak juga peneliti yang memanfaatkan Canva. Canva adalah platform desain berbasis daring yang menyediakan berbagai alat untuk membuat berbagai media visual, seperti presentasi, resume, poster, pamflet, brosur, grafik, infografis, spanduk, penanda buku, hingga buletin. Penggunaan Canva dalam pembuatan e-modul pembelajaran memberikan daya tarik yang lebih pada proses belajar, karena mampu meningkatkan minat dan motivasi peserta didik. Selain itu, materi yang disampaikan melalui media ini menjadi lebih mudah dipahami karena disajikan dengan cara yang visual dan menarik (Qiftiyah, 2. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam pengembangan e-modul interaktif IPA, terdapat kecenderungan signifikan untuk memilih aplikasi yang mendukung visualisasi yang menarik, kemudahan penggunaan, dan fleksibilitas Pilihan aplikasi yang beragam juga mencerminkan upaya untuk menghasilkan media pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menarik dan dapat memotivasi peserta didik. Model Pengembangan yang Digunakan dalam Pengembangan E-Modul IPA Model pengembangan e-modul IPA berdasarkan analisis terhadap 53 artikel yang membahas pengembangan e-modul interaktif untuk mata pelajaran IPA dari jenjang SD hingga SMA menunjukkan variasi yang cukup beragam. Informasi mengenai model-model pengembangan yang digunakan dalam pembelajaran IPA tersebut disajikan pada Gambar 4. Gambar 4. Diagram Analisis Model Pengembangan E-Modul IPA Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN: 2549-9300 (Onlin. | ISSN: 1858-4497 (Prin. | 44 | Fitriana Dwi Lestari . Tri Astuti. Bambang Subali. Nuni Widiarti / Cakrawala 19. Beradasarkan Gambar 4, menunjukkan bahwa model ADDIE merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan, yaitu oleh 33 artikel. Hal ini menunjukkan bahwa model ADDIE masih menjadi pilihan utama karena strukturnya yang sistematis dan mudah diadaptasi, mencakup lima tahap: analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Dalam penelitiannya. Adeoye et al. mengemukakakn bahwa kelima tahap dalam model ADDIE menjadi dasar yang kuat dalam pengembangan desain pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara terus-menerus, sambil tetap memperhatikan kebutuhan peserta didik di era abad ke-21. Model 4D juga cukup banyak diterapkan, ditemukan dalam 13 artikel. Namun, terdapat satu artikel yaitu penelitian yang dilakukan oleh Istiqomah et al. hanya melibatkan tiga tahap awal (Define. Design. Develo. sehingga hanya sampai pada tahapan 3D. Model ini banyak dipilih karena memberikan panduan yang terstruktur dalam merancang produk pembelajaran. Beberapa model lain yang digunakan dalam jumlah lebih sedikit meliputi model ASSURE. PPE (Planning. Production. Evaluatio. Plomp, dan Dick. Carey & Carey. Penggunaan model-model ini menunjukkan adanya variasi pendekatan dalam pengembangan e-modul sesuai kebutuhan dan konteks penelitian masing-masing. KESIMPULAN Berdasarkan analisis 53 artikel pengembangan e-modul interaktif IPA jenjang SD hingga SMA tahun 2020Ae2025, diketahui bahwa pengembangan paling banyak dilakukan di tingkat SD. Hal ini sejalan dengan teori Piaget yang menekankan perlunya media konkret dan visual bagi siswa usia SD. Tujuan utama pengembangan e-modul adalah meningkatkan hasil belajar dan pemahaman konsep. Materi yang dominan dikembangkan adalah IPA tematik, atau IPAS, sesuai dengan karakteristik berpikir konkret dan terpadu siswa SD dalam konteks Kurikulum Merdeka. Aplikasi yang paling sering digunakan yaitu Flip PDF Professional dan Canva karena mendukung visualisasi menarik dan kemudahan penggunaan. Model ADDIE menjadi pilihan utama karena sistematis dan fleksibel, diikuti oleh model 4D. Secara keseluruhan, tren pengembangan e-modul interaktif IPA menunjukkan kemajuan dan inovasi yang signifikan dalam menjawab tuntutan pembelajaran abad ke-21. Temuan ini memberikan gambaran yang komprehensif sekaligus membuka peluang riset lanjutan, sehingga dapat menjadi rujukan penting bagi para peneliti lain dalam mengembangkan e-modul IPA yang lebih adaptif, kontekstual, dan efektif di masa mendatang. DAFTAR PUSTAKA