JNUS:Journal of Nahdlatul Ulama Studies Vol. 5 No. : p. DOI: https://doi. org/10. 35672/jnus. Website: https://jnus. id/index. php/jnus/index Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi Lokal: Praktik Keagamaan Masyarakatan Nahdlatul Ulama di Kelurahan Dukuh. Kota Salatiga Lutfiani Dewi Fatmawati Fakultas Syariah UIN Salatiga Jalan Nakula Sadewa VA No. Dukuh. Sidomukti Kota Salatiga, 50722. Jawa Tengah Email: lutfianidewifatmawati30@gmail. Abstract The Merti Dusun tradition in Dukuh Subdistrict (Kelurahan Duku. Salatiga City, is a religio-cultural practice that continues to persist amid modernization and shifting social orientations within the community. This tradition functions not only as an expression of gratitude and respect for ancestral heritage, but also as a space for integrating Nahdlatul UlamaAos distinctive religious practices . and for stimulating an event-based local economy. Against this backdrop, the study addresses two questions: . how is Merti Dusun constructed as an NU-oriented religio-cultural practice encompassing ritual, symbols, ritual time-space, and tahlil/pilgrimage that shapes meaning and community and . how does Merti Dusun strengthen adat awareness and mobilize social capital and the local economy through participation, networks, collective contributions, and transactions in the context of modernization? The study employs a qualitative fieldresearch design, using purposive interviews, documentation, and a literature review. Key informants include Head of RW 01. Dukuh Krajan and Zumrotun wife of the local modi. , enabling the study to capture both community governance perspectives and religio-ritual dimensions. The findings show that Merti Dusun is held annually in the month of Safar through two main sequences: a ritual procession on Selasa Kliwon . ommunal village/cemetery cleaning, tahlil, collective prayers, and communal meals at the cemeter. and a cultural celebration on Minggu Kliwon . cultural parade and traditional performance. The tradition reinforces solidarity and adat awareness through mutual cooperation, norms of reciprocity, and coordination across neighborhood units (RT/RW), while also generating an event-based local economy through routine community contributions, ritual donations . pproximately IDR 6 millio. , and transaction flows during the cultural parade . pproximately IDR 90 millio. The study concludes that Merti Dusun constitutes a key nexus of culture, religion, economy, yet it faces risks of meaning erosion and commodification. The study recommends strengthening intergenerational transmission of values, improving event governance to safeguard authenticity and the sacred dimension, and developing local MSMEs in a targeted manner to enhance economic benefits without undermining the traditionAos religio-social Keywords: Merti Dusun. Local Tradition. Nahdlatul Ulama. Adat Awareness. Social Capital. Event Based Economy. Salatiga Abstrak Tradisi Merti Dusun di Kelurahan Dukuh. Kota Salatiga merupakan praktik budaya-religius yang masih bertahan di tengah modernisasi dan perubahan orientasi sosial masyarakat. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi syukur dan penghormatan terhadap warisan Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. leluhur, tetapi juga menjadi ruang integrasi amaliyah keagamaan khas Nahdlatul Ulama serta mendorong dinamika ekonomi lokal berbasis peristiwa. Berangkat dari konteks tersebut, penelitian ini merumuskan dua pertanyaan: . bagaimana Merti Dusun dikonstruksi sebagai praktik budaya-religi NU . itual, simbol, ruang-waktu, tahlil/ziara. yang membentuk makna dan solidaritas warga. bagaimana Merti Dusun memperkuat kesadaran adat serta menggerakkan modal sosial dan ekonomi lokal melalui partisipasi, jaringan, iuran, dan transaksi di tengah modernisasi. Penelitian menggunakan desain kualitatif lapangan dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara purposif, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Informan kunci meliputi Ketua RW 01 Dukuh Kraja. dan istri modin setempat, untuk menangkap perspektif tata kelola komunitas dan dimensi ritual-keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Merti Dusun dilaksanakan tahunan pada bulan Safar melalui dua rangkaian utama: prosesi ritual Selasa Kliwon . ersih desa/makam, tahlil, doa bersama, makan bersama di maka. dan perayaan budaya Minggu Kliwon . irab budaya dan pertunjukan kesenia. Tradisi ini memperkuat solidaritas dan kesadaran adat melalui gotong royong, norma resiprositas, serta koordinasi lintas RT/RW, sekaligus memicu ekonomi lokal berbasis event melalui iuran warga, sedekah ritual (ARp6 jut. , dan perputaran transaksi pada kirab budaya (ARp90 jut. Penelitian menyimpulkan bahwa Merti Dusun merupakan simpul penting integrasi budayaAeagamaAeekonomi, namun menghadapi risiko pengikisan makna dan Rekomendasi penelitian menekankan perlunya penguatan transmisi nilai lintas generasi, tata kelola event yang menjaga otentisitas dan dimensi sakral, serta pengembangan UMKM lokal secara terarah agar manfaat ekonomi meningkat tanpa mengurangi makna religius-sosial tradisi. Kata Kunci: Merti Dusun. Tradisi Lokal. Nahdlatul Ulama. Kesadaran Adat. Modal Sosial. Ekonomi Berbasis Peristiwa. Salatiga Latar Belakang Bangsa Indonesia memiliki ribuan pulau beserta berbagai sumber alam di dalamnya. Hal tersebut memiliki manfaat yang sangat besar jika diolah dan dimanfaatkan dengan baik oleh manusianya. Salah satu keberagaman tersebut adalah pada aspek budaya dan tradisi. Setiap budaya dan tradisi tentu memiliki ciri khas atau corak yang berbeda pada setiap daerahnya dengan keunikannya masing-masing. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi diartikan sebagai adat kebiasaan turun-temurun . ari nenek moyan. yang masih dijalankan dalam masyarakat (Rahayu, 2. Budaya memiliki sifat kompleks dan abstrak. Budaya dapat berarti semua yang berkaitan dengan budi maupun akal manusia. Sedangkan kebudayaan sendiri merupakan hasil manifestasi dari budi maupun akal manusia tersebut yang berbentuk dalam adat istiadat, kepercayaan maupun kesenian. Bisa dikatakan hasil berfikir manusia dalam kehidupan seharihari merupakan perwujudan kebudayaan. Manusia diciptakan dengan anugerah berupa akal agar dapat dimanfaatkan untuk menciptakan suatu kebudayaan yang nantinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kebudayaan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lahiriah atau jasmaniahnya saja, namun juga kebutuhan akhirat (Suhandjati, 2. Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. Tanah Jawa sendiri dahulu memiliki kepercayaan animisme, dinamisme. Hindu dan Budha, lalu Islam masuk dan turut menjadi kepercayaan baru (Bakker, 1. Animisme merupakan kepercayaan kepada semua benda mempunyai roh. Sedangkan dinamisme merupakan kepercayaan bahwa semua benda memiliki kekuatan (Husodo, 2. Masyarakat yang mempercayai akan anismisme dan dinamisme melakukan ritual-ritual tertentu. Tujuan dari diadakannya ritual tersebut yakni untuk mendapat keselamatan. Salah satu perwujudan dari kebudayaan tersebut yakni berbentuk tradisi ataupun slametan yang dalam pelaksanaannya terkandung berbagai nilai, norma serta aturan tatanan masyarakat yang dipatuhi dan dilestarikan oleh masyarakat. Tradisi adalah sesuatu yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat sejak dahulu dan menjadi bagian di lingkungan masyarakat itu sendiri (Sabardila, 2. Secara sederhana tradisi dapat diartikan sebagai bagian dari kehidupan manusia (Syam, 2. Menurut Funk dan Wagnalis seperti yang dikutip oleh Muhaimin tentang istilah tradisi dimaknai sebagai pengetahuan, doktrin, kebiasaan praktek dan lain-lain yang dipahami sebagai pengetahuan yang telah diwariskan secara turun-temurun termasuk cara penyampaian doktrin dan praktek tersebut (Muhaimin, 2. Masyarakat Indonesia khususnya Jawa sangat identik dengan tradisi dan budaya Begitu banyaknya orang Jawa menjadi faktor utama mendominasinya tradisi dan budaya di Inonesia (Rahayu, 2. Di dalam tradisi Masyarakat Jawa terdapat nilai-nilai keluhuran dan kearifan budaya lokal yang menjadi ciri khas tersendiri. Masyarakat Jawa beranggapan bahwa tradisi merupakan sesuatu yang sakral baik dari segi maksud, tujuan, bentuk, tata cara maupun proses pelaksanaan serta perlengkapannya sehingga dalam pelaksanaan adat tidak bisa dilakukan secara sembarangam dan harus dipersiapkan dengan matang, sehingga pada hari pelaksanaan tidak terjadi kendala dan berjalan lancar sesuai dengan keinginan. Tradisi merti dusun merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Kelurahan Dukuh Kota Salatiga yang sudah berlangsung dari dulu secara turun-temurun. Secara epistemology, merti dusun berasal dari kata AumertiAy yang berarti Aubersih-bersihAy dan AudusunAy yang berarti desa, atau sebuah tempat di daerah tertentu. Merti dusun dimaknai sebagai bersih desa, atau biasa dirangkai dalam sedekah bumi sebagai wahana membersihkan desa dari dosa sekaligus ungkapan rasa syukur pada Tuhan atas nikmat yang diberikan (Ibda. Tradisi merti dusun dilaksanakan setahun sekali oleh masyarakat pada bulan safar. Dalam proses pelaksanaan tradisi ini terlihat jelas unsur sosial yang masih kental. Adapun tujuan dari pelaksanaan tradisi ini tidak lain adalah untuk penyucian atau JNUS: Journal of Nahdlatul Ulama Studies. Vol. 5 No. pembersihan serta sebagai wujud rasa syukur atas nikmat dan segala karunia dari Tuhan. Rangkaian acara ini dimulai dengan acara bersih-bersih bersama lingkungan sekitar. Berbagai jenis makanan dipersiapkan untuk puncak acara tersebut yaitu tahlil yang diadakan di makam dilanjutkan dengan doa lalu makan bersama. Setelah selesai, masyarakat akan kembali ke rumah masing-masing. Biasanya beberapa hari kemudian yakni tepatnya di minggu kliwon, masyarakat akan melanjutkan tradisi merti dusun tersebut dengan kirab budaya, dimana bermacam-macam kesenian dan bentuk kreatifitas hasil bumi ditampilkan yang tumpah ruah turut memeriahkan acara merti dusun, dan terakhir berupa pertunjukan tradisi kesenian reog. Tradisi merti dusun yang dilaksanakan di Kelurahan Dukuh berbeda dengan yang Hal ini karena tradisi merti dusun ini dilakukan serempak oleh satu kelurahan yang diikuti beberapa RT dan RW. Selain itu, keberagaman agama yang dianut oleh masyarakat Kelurahan Dukuh Kota Salatiga menjadi daya tarik sendiri bagi penulis untuk meneliti di Kelurahan Dukuh Kota Salatiga ini. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis melakukan penelitian untuk memperoleh informasi berkaitan Bagaimana Merti Dusun di Kelurahan Dukuh dikonstruksi sebagai praktik budaya-religi NU . itual, simbol, ruang-waktu, tahlil/ziara. yang membentuk makna dan solidaritas warga? Dan Bagaimana Merti Dusun memperkuat kesadaran adat serta menggerakkan modal sosial dan ekonomi lokal . artisipasi, jaringan, iuran, transaks. di tengah modernisasi? Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian lapangan . ield researc. untuk memahami secara mendalam pelaksanaan Tradisi Merti Dusun di Kelurahan Dukuh. Kota Salatiga, termasuk makna yang dibangun oleh warga serta dinamika sosial-ekonomi yang menyertainya. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu mengungkap situasi sosial secara naturalistik melalui deskripsi berbasis kata-kata, pengalaman, dan perspektif subjek penelitian, sehingga realitas yang diteliti dapat dipaparkan secara lebih utuh dan kontekstual. Dalam penelitian kualitatif, peneliti menelaah fenomena secara mendalam, termasuk variasi sikap, perspektif, serta pengalaman hidup masyarakat untuk memperoleh gambaran kemajemukan secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian lapangan dipandang relevan karena memungkinkan peneliti terlibat langsung dengan masyarakat di lokasi penelitian sehingga dapat menangkap pengalaman sosial sebagaimana dirasakan oleh (Zacharias. Wenni and Laurens, 2019. Mujib, 2015. Rukhmana, 2022. Ambarwati. Lokasi penelitian ditetapkan di Kelurahan Dukuh. Kecamatan Sidomukti. Kota Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. Salatiga. Jawa Tengah, mengingat wilayah ini secara aktif melaksanakan tradisi Merti Dusun secara periodik dan melibatkan partisipasi warga dalam skala kelurahan. Informan dipilih secara purposive berdasarkan relevansi pengetahuan dan kedekatan mereka dengan praktik tradisi, sehingga data yang diperoleh bersifat kaya, mendalam, dan tepat sasaran. Informan utama terdiri atas Asharun . selaku Kepala RW 01 Dukuh Krajan, yang memahami koordinasi sosial, mekanisme pelaksanaan, serta dampak tradisi bagi warga, dan Zumrotun Ilma . , istri dari Bapak Mualif Ghozali selaku modin . emuka agama setempa. , yang memiliki kedekatan dengan dimensi ritual dan otoritas religius dalam pelaksanaan tahlil, doa, dan ziarah. Pemilihan kedua informan ini memungkinkan penelitian menangkap sisi struktural-kemasyarakatan sekaligus sisi religius-kultural dari tradisi Merti Dusun. (Ambarwati, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, wawancara, dan Studi kepustakaan digunakan untuk menghimpun dan menelaah sumbersumber berupa buku, dokumen, catatan, dan laporan yang relevan guna memperkuat landasan konseptual serta konteks historis-sosiologis tradisi yang diteliti. Wawancara dilakukan secara tatap muka sebagai pertemuan yang direncanakan antara peneliti dan informan untuk bertukar informasi, dengan format tanya-jawab yang memungkinkan peneliti menggali detail proses pelaksanaan Merti Dusun, makna yang dipahami warga, serta perubahan-perubahan yang mungkin terjadi. dalam wawancara, aspek nonverbal seperti gerak dan mimik dipertimbangkan sebagai pelengkap data verbal. Dokumentasi berfungsi sebagai data pendukung melalui pengumpulan teks tertulis, foto, artefak, maupun catatan peristiwa sosial yang berkaitan dengan Merti Dusun, sehingga memperkuat ketepatan dan kedalaman deskripsi penelitian. Seluruh data yang terkumpul dianalisis secara deskriptifkualitatif dengan mengorganisasi data, mengelompokkan tema-tema utama, menafsirkan keterkaitan antar-temuan, dan menyusun simpulan secara runtut sesuai fokus penelitian. (Lidi, 2021. Mamik, 2015. Gulo, 2000. Yusuf, 2. Kerangka Teori: Tradisi Merti Dusun sebagai Praktik Budaya Religius dalam Perspektif Nahdlatul Ulama Tradisi dapat dipahami sebagai pola tindakan kolektif yang diwariskan dan dipertahankan karena dianggap bermakna, mengikat, serta memberi orientasi nilai bagi Dalam antropologi-budaya, tradisi bukan sekadar AukebiasaanAy, melainkan perangkat makna yang mengatur cara masyarakat memahami dunia sosialnyaAiapa yang dianggap pantas, sakral, penting, dan layak dilanjutkan lintas generasi. Karena itu, tradisi JNUS: Journal of Nahdlatul Ulama Studies. Vol. 5 No. seperti Merti Dusun relevan dibaca sebagai institusi kultural yang terus direproduksi melalui pengulangan, pewarisan, dan penguatan norma dalam kehidupan bersama. (Shils, 1981. Koentjaraningrat, 2. Sebagai praktik budaya. Merti Dusun memuat struktur simbolik yang jelas mulai dari kerja bakti/bersih desa, penyiapan uba rampe, hingga puncak ritual dan perayaan yang berfungsi menegaskan rasa syukur, ketertiban sosial, dan identitas kolektif. Pendekatan interpretatif menekankan bahwa simbol . isalnya makanan, tempat, waktu, dan urutan proses. bekerja sebagai Aubahasa budayaAy yang menata pengalaman religius dan sosial warga. sementara studi ritual menekankan bahwa ritual mengaktifkan solidaritas, mengikat emosi kolektif, dan menghadirkan Aupengalaman bersamaAy yang memperkuat kohesi komunitas. Dengan demikian. Merti Dusun dapat dibaca sebagai praktik budaya-ritual yang memproduksi makna syukur dan kebersamaan secara serentak. (Geertz, 1973. Turner, 1. Dalam konteks Nahdlatul Ulama, tradisi lokal seperti Merti Dusun sering tampil sebagai praktik keagamaan-kemasyarakatan ketika diisi dan dipandu oleh amaliyah yang akrab di komunitas NU, seperti tahlil, doa bersama, dan ziarah. Secara sosiologis. NU dikenal sebagai arus Islam tradisional yang memiliki kedekatan dengan ekspresi budaya lokal dan mekanisme pemaknaan keagamaan yang berorientasi kemaslahatan sosial. Gagasan Aupribumisasi IslamAy juga menegaskan bahwa Islam dapat hadir secara membumi melalui medium budayaAibukan untuk meleburkan ajaran, tetapi untuk menjembatani dakwah, etika sosial, dan harmoni komunitas dalam ruang lokal. (Fealy & Barton, 1996. Wahid, 2. Kesadaran Adat. Modal Sosial, dan Dinamika Ekonomi Lokal dalam Tradisi Merti Dusun Kesadaran adat merujuk pada kesediaan warga untuk mengetahui, menerima, dan menjalankan tradisi sebagai bagian identitas kolektif serta pedoman perilaku sosial. Kesadaran ini tidak berhenti pada pengetahuan tentang Auapa dan bagaimana tradisi dilakukanAy, tetapi bergerak pada dimensi afektif . asa memiliki, bangga, hormat pada leluhu. dan dimensi praksis . artisipasi nyata dalam gotong royong, iuran, kepanitiaan, dan keterlibatan lintas generas. Dalam kerangka sosiologi budaya, tradisi bertahan ketika ia terus diproduksi ulang melalui praktik bersama yang membuat warga merasa AuterikatAy secara sosial dan moral pada tata nilai komunitasnya. (Koentjaraningrat, 2009. Durkheim, 1. Kesadaran adat tersebut biasanya kuat ketika ditopang oleh modal sosial, yaitu sumber daya sosial yang muncul dari kepercayaan, norma bersama, dan jaringan relasi. Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. Kepercayaan membuat warga berani berkontribusi dan berkolaborasi. norma memastikan perilaku kolektif berjalan tertib . isalnya etika, sopan santun, saling berbag. jaringan memperluas koordinasi lintas RT/RW, tokoh agama, pemuda, hingga kelompok seni dan pelaku UMKM. Dalam studi modal sosial, relasi-relasi ini bukan sekadar hubungan personal, melainkan Auinfrastruktur sosialAy yang memungkinkan komunitas mengorganisasi kegiatan besar secara berkelanjutan termasuk tradisi tahunan seperti Merti Dusun. (Bourdieu. Coleman, 1988. Putnam, 2. Dari sisi ekonomi. Merti Dusun dapat dianalisis sebagai pemicu ekonomi berbasis peristiwa . vent-based econom. yang menciptakan perputaran uang melalui kebutuhan logistik dan efek keramaian. Aktivitas ekonomi muncul pada tahap persiapan . embelian bahan pangan, perlengkapan, kostum, konsums. , saat acara berlangsung . edagang makanan-minuman, jasa parkir. UMKM, transaksi sponta. , hingga dampak lanjutan ketika tradisi makin dikenal dan menarik pengunjung. Literatur ekonomi-budaya menegaskan bahwa perayaan budaya dapat menghasilkan nilai ekonomi tanpa harus melepaskan makna sosialnya, asalkan dikelola dengan menjaga keseimbangan antara otentisitas budaya, partisipasi warga, dan tata kelola event yang rapi. (Throsby, 2001. Getz, 2008. Richards, 2. Hasil dan Pembahasan Profil Kelurahan Dukuh. Kota Salatiga Dukuh merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Sidomukti. Kota Salatiga. Jawa Tengah. Kelurahan Dukuh memiliki luas -377. 15 hektar. Secara geografis Kelurahan Dukuh terletak di sebelah barat daya Kota Salatiga. Wilayah administratif Kelurahan Dukuh bersinggungan dengan wilayah Kabupaten Semarang di sebelah selatan. Kontur tanah dan topografi wilayah Kelurahan Dukuh berbukit dan berhawa sejuk dengan rata-rata suhu 26AC. Adapun rata-rata curah hujan di Kelurahan Dukuh yaitu 2500-an mm/ Sebagian besar wilayah Kelurahan Dukuh dimanfaatkan untuk areal permukiman Selanjutnya juga terdapat lahan bagi areal pendidikan. Areal pertandingan atau pertengahan penduduk juga masih terdapat di wilayah Kelurahan Dukuh, utamanya di bagian Selatan. Adapun areal yang diperuntukkan bagi kegiatan perdagangan dan jasa terletak di tengah wilayah Kelurahan Dukuh, utamanya di sepanjang jalan raya (Wahyudi, 2. JNUS: Journal of Nahdlatul Ulama Studies. Vol. 5 No. Proses Pelaksanaan Tradisi Merti Dusun di Kelurahan Dukuh Tradisi merti dusun merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan setahun sekali yang selalu dinantikan masyarakat. Dilakukan serempak oleh warga Kelurahan Dukuh pada salah satu hari di bulan safar. Sebelum pelaksanaan tradisi merti dusun, uba rampe telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh masyarakat. Selain itu, dilaksanakannya berbagai macam kegiatan diantaranya seperti bersih desa, tahlil dan doa serta makan bersama di makam. Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan dengan Bapak Asharun, beliau selaku ketua RW Dukuh Krajan dan Ibu Zumrotul Ilma, istri dari Bapak Mualif Ghozali selaku modin, berikut ini merupakan rangkaian dari proses pelaksanaan tradisi merti dusun di Kelurahan Dukuh Kota Salatiga. Terdapat dua tahap proses pelaksanaan merti dusun ini, yaitu: Tahap Persiapan Tradisi merti dusun di Kelurahan Dukuh Salatiga tahun ini diikuti oleh sepuluh RT dan dua RW. Tradisi merti dusun dilaksanakan pada hari selasa kliwon untuk pelaksanaan tahlil dan makan bersama di makam. Seminggu sebelum acara dilaksanakan, masyarakat akan memberi kabar dan mengundang kerabatnya untuk ikut serta menikmati tradisi merti dusun. Masyarakat mulai melakukan persiapan segala keperluan yang akan diolah dan disajikan. Mengingat hal tersebut memerlukan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang cukup banyak. Oleh karena itu, masyarakat perlu mempersiapkannya jauh-jauh hari untuk berbelanja untuk diolah menjadi uba rampe yang disajikan pada saat pelaksanaan tradisi merti dusun. Uba rampe yang disajikan pada upacara tradisi merti dusun sendiri memiliki kriteria yang harus dipenuhi yaitu nasi tumpeng yang sudah dilengkapi dengan lauk pauk dan tiga makanan pendamping seperti ketan, roti dan pisang. Uba rampe tersebut berbeda dengan uba rampe yang disajikan untuk tamu yang tidak memiliki kriteria, hanya disesuaikan dengan kemampuan dan selera masyarakat. Uba rampe tersebut bermakna keragaman masyarakat yang turut mewarnai dalam berkehidupan sosial dan sebagai wujud rasa syukur. Dua hari sebelum pelaksanaan tradisi merti dusun tersebut dilaksanakan acara bersih-bersih desa oleh masyarakat khusus laki-laki yakni seperti membersihkan makam, jalan maupun tempat dan fasilitas umum. Ibu kepala dusun akan memasak uba rampe untuk sesajen sehari sebelum tradisi merti dusun dilaksanakan. Berbagai uba rampe tersebut seperti nasi ketan, jagung, mentimun, tembakau, kertas baret, daun pepaya, petai, ikan teri, ayam, pisang, rengginang, tales dan ketela. Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. Tahap pelaksanaan Pertama, sehabis subuh ibu-ibu akan memasak uba rampe yang akan dibawa untuk acara merti dusun tersebut yakni berupa nasi, sayur dan daging ayam. Pukul 09. 30 semua uba rampe yang telah selesai dimasak ditata dan dimasukkan ke dalam wadah. Baru pada 00 masyarakat akan berbondong-bondong membawa uba rampe menuju ke Masyarakat akan berkumpul di makam dimana mereka akan saling mengajak tetangganya untuk berangkat bersama. Adapun uba rampe yang dibawa tersebut berisi nasi, ayam, sayur, tahu dan tempe serta dilengkapi dengan ketan, roti dan pisang. Nasi tumpeng diletakkan di bakul anyaman bambu yang berukuran kecil, sedangkan lauk dan sayur ditempatkan di mangkuk serta ketan, roti dan pisang yang dimasukkan ke dalam Uba rampe tersebut diletakkan di tampah sebagai wadahnya yang selanjutnya ditutup menggunakan kain. Kedua, acara inti mulai dilaksanakan yaitu pembacaan tahlil atau kirim doa arwah keluarga maupun leluhur yang dipimpin langsung oleh bapak Mualif Ghozali selaku Adapun istilah modin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk pada orang yang azan atau muazin, atau pengurus masjid. Sedangkan jika dilihat dari asal bahasa serapannya . yaitu immaduddin dimana maksudnya adalah imam agama atau tokoh agama (Sutopo, 2. Ketiga, doa bersama. Doa berisi ungkapan terima kasih, rasa syukur dan permohonan agar rezeki lancar dan diberi keselamatan. Bagian terakhir yakni membuka uba rampe yang sudah dipersiapkan untuk dimakan secara bersama-sama. Masyarakat yang menikmati uba rampe tersebut akan saling menawarkan lauk yang dibawa kepada yang lain sehingga juga terjadi percakapan ringan ditengahnya. Setelah selesai makan bersama, masyarakat akan pulang ke rumah masing-masing. Upacara tradisi merti dusun yang dilaksanakan di makam pada hari selasa kliwon bulan safar telah selesai, hal itu tanda dilanjutkannya acara merti dusun berupa kirab budaya dengan berbagai kreasi dari masyarakat dengan hiburan berupa kesenian. Kirab budaya dilaksanakan di hari minggu kliwon pada minggu yang sama dengan prosesi upacara merti dusun. Setiap dusun akan menampilkan kesenian yang bertujuan untuk turut memeriahkan tradisi merti dusun yang mana dilakukan hanya setahun sekali. Sedangkan para orang tua akan di rumah menunggu mereka yang telah diundang Suasana dusun seketika ramai oleh tamu undangan, tak lupa dimanfaatkan oleh para pedagang yang menjajakan bermacam-macam makanan dan minuman. JNUS: Journal of Nahdlatul Ulama Studies. Vol. 5 No. Semarak kirab budaya berakhir, kemudian giliran hiburan untuk masyarakat berupa pagelaran kesenian reog diselenggarakan yang biasanya berlokasi di tanah lapang, sehingga masyarakat dapat leluasa menonton, mengingat hal ini merupakan salah satu yang dinanti-nanti masyarakat. Konstribusi Tradisi Merti Dusun dalam Menciptakan Masyarakat Sadar Adat Adat merupakan tradisi yang dijalankan sebagai tuntutan sosial. Ketika melaksanakannya mendapatkan ketentraman dan menjadi bagian dari kesepakatan sosial yang mesti dijalankan (Ali dan Ismail Suardi Wekke, 2. Demikian juga akan pentingnya masyarakat sadar adat untuk mengupayakan hal tersebut. Tradisi Merti Dusun di Kelurahan Dukuh Kota Salatiga masih dilaksanakan sampai saat ini. Eksistensi dari pelaksanaannya yang mempunyai tujuan dalam menjaga dan melestarikan tradisi yang ada di dalam masyarakat. Sikap serba rasional yang ada dalam masyarakat tidak mempengaruhi eksistensi dari pelaksanaan tradisi merti dusun ini. Namun meskipun demikian, kenyataan yang dihadapi sekarang adalah terkait ancaman modernisasi yang ada di dalam masyarakat itu sendiri saat ini. Modernisasi tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, karena merupakan salah satu perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Terbentuknya modernisasi kebudayaan yang terjadi disebabkan karena adanya interaksi terusmenerus pada masyarakat yang terpengaruh oleh adanya perkembangan teknologi serta pengaruh cara fikirnya yang rasional (Rosana, 2. Proses Pelaksanaan tradisi merti dusun dilaksanakan dengan mengutamakan kebersamaan dan gotong royong dari masyarakat. Setelah upacara tradisi merti dusun selesai, maka dilaksanakan kirab budaya dengan berbagai macam kreasi hasil bumi dan kesenian dari masyarakat yang ditampilkan. Tradisi ini dilaksanakan dalam rangka perwujudan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan. Mengingat perkembangan zaman yang semakin menggerus generasi muda, terlihat seperti kurang diperhatikannya nilai-nilai budaya dan tradisi (Umami dan Sobri, 2. Dalam pelaksanaannya, tradisi merti dusun tidak mengalami perubahan yang Hanya saja pada pemaknaan pelaksanaanya seiring berjalannya waktu dari generasi ke generasi mengalami pengikisan. Modernisasi budaya yang terjadi memberikan dampak pada masyarakat yakni longgarnya ikatan tradisi di masyarakat yang kemudian tergantikan oleh relasi yang dikatakan bersifat rasional. Hal inilah yang juga merupakan suatu tantangan masyarakat Kelurahan Dukuh Kota Salatiga dalam menjaga eksistensi dari tradisi merti dusun Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. yang dalam pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan partisipasi seluruh lapisan Semangat yang ditunjukkan oleh masyarakat Kelurahan Dukuh Kota Salatiga dalam upaya melestarikan peninggalan leluhur tersebut masih kuat. Kesadaran yang terpatri dari masing-masing individu juga seluruh lapisan masyarakat tersebut yang mampu menjaga tradisi merti dusun ini tetap eksis hingga sekarang. Melalui pelestarian budaya, kehidupan masyarakat tercipta lebih damai dan menguatkan tali persaudaraan. Tradisi merti dusun ini merupakan suatu hal yang amat dinantikan oleh masyarakat setiap tahunnya, yang dalam pelaksanaannya selalu meriah dan membuat berbagai pihak tertarik untuk datang. Tak luput juga yang unik dan berkesan pada pelaksanaan tradisi merti dusun tahun ini yaitu terdapat beberapa bule yang justru antusias ikut serta dalam tradisi merti dusun ini (Ilma, 2. Adanya pelaksanaan tradisi merti dusun setiap setahun sekali ini turut berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang sadar akan adat maupun warisan leluhur. Tradisi merti dusun ini sebagai wujud dari pelestarian budaya yang sudah turun-temurun diwariskan oleh para pendahulu (Ratnawati. Emy Wuryani dan Wahyu Purwiyastuti, 2. Dengan adanya kesadaran tentang kelestarian budaya atau kearifan lokal masyarakat Kelurahan Dukuh Kota Salatiga diharapkan akan membawa kesejahteraan bagi warga masyarakat. Makna yang terkandung dalam tradisi Merti Dusun Pelaksanaan tradisi merti dusun bertujuan sebagai bentuk penghormatan atas peninggalan sejarah yang telah ada sehingga terus dilestarikan oleh masyarakat. Selain itu, tujuan daripada tradisi merti dusun yaitu sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas limpahan rezeki sehingga pelaksanaan tradisi tersebut berupa ajang sedekah masyarakat (Shiddiqi, 1. Hal ini merupakan upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk melestarikan tradisi warisan nenek moyang yang harus dilaksanakan setiap tahunnya. Pada hakikatnya tradisi ini adalah dari masyarakat dan untuk masyarakat sendiri, yang berarti bahwa selain dalam rangka melestarikan sebuah tradisi juga untuk mengeratkan tali silaturahmi masyarakat sehingga terjalin dengan baik. Sikap toleransi dan banyak hal positif yang diperoleh dalam pelaksanaan tradisi, sehingga sudah seharusnya tradisi ini harus dijaga agar tetap dilestarikan oleh generasi penerus. JNUS: Journal of Nahdlatul Ulama Studies. Vol. 5 No. Adapun makna tradisi merti dusun adalah sebagai berikut: Aspek Keagamaan Tradisi merti dusun tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan di dalamnya. Bisa dikatakan tradisi ini merupakan bentuk implementasi ungkapan rasa syukur masyarakat masyarakat Kelurahan Dukuh Kota Salatiga. Dalam rangkaian pelaksanaan tradisi merti dusun ini merupakan media untuk beribadat dan media interaksi kepada Tuhan sebagai wujud harapan dan doa agar diberi keselamatan, kemudahan, kesejahteraan dan kemakmuran hidup Kelurahan Dukuh Kota Salatiga serta mengajarkan agar lebih bersyukur terhadap segala nikmat yang telah diberikan Tuhan. Aspek Sosial Tidak bisa dipungkiri akan manusia merupakan makhluk sosial dimana membutuhkan antar satu dengan yang lain. Dengan adanya tradisi merti dusun ini mempererat tali persaudaraan sekaligus juga menanamkan akan jiwa sosial tinggi bagi Dari proses pelaksanaan tradisi merti dusun ini akan melahirkan sikap kepedulian terhadap sesama serta masyarakat yang bahu-membahu bersama-sama Aspek Ekonomi Sehubungan dengan pelaksanaan tradisi merti dusun yang dilakukan setahun sekali dan merupakan suatu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat sehingga akan sangat menarik perhatian masyarakat untuk berdatangan melihatnya. Keadaan ramai inilah yang dimanfaatkan oleh para pedagang asongan sebagai media untuk menjajakan dagangannya mulai dari makanan, minuman dan lain sebagainya. Para pedagang menjajakan dagangannya di kerumunan masyarakat, ada juga yang di pinggir jalan. Selain hal tersebut juga dalam proses persiapan pelaksanaan tradisi merti dusun membutuhkan banyak keperluan semacam gununagan makanan, kostum yang digunakan, serta perlengkapan lain yang tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit, sehingga menjadi penghasilan untuk masyarakat pula. Hal ini merupakan salah satu bentuk berkah dari adanya tradisi merti dusun ini bagi masyarakat untuk meraup keuntungan yang menjadi nilai ekonomi Aspek Kebudayaan Kebudayaan merupakan suatu hal yang berkaitan erat dengan tingkah laku Manusia perantara kemampuannya menciptakan bermacam-macam kebudayaan dalam kehidupannya. Hal tersebut selalu berkembang sesuai dengan zamannya. Adapun Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. salah satu bentuk kebudayaan tersebut yaitu tradisi merti dusun seperti di Kelurahan Dukuh Kota Salatiga. Namun demikian, pokok dari tujuan maupun maksud dari tradisi merti dusun ini bersifat mutlak. Pelaksanaan tradisi ini terikat dengan asas maupun normanorma yang berlaku di masyarakat. Aspek Pendidikan Bentuk pendidikan dari tradisi merti dusun yakni dari berbagai rangkaian proses pelaksanaannya seperti doa bersama, bersih-bersih desa dan lain sebagainya mengajarkan tentang arti pentingnya sebuah sikap toleransi dan bahu membahu sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang rukun (Bawani, 1. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Tradisi Merti Dusun di Kelurahan Dukuh Kota Salatiga Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan dalam penelitian ini, tradisi merti dusun memiliki kandungan nilai-nilai positif yang perlu dijaga dan dilestarikan. Adapun nilai-nilai tersebut diantaranya: Nilai Etika Keberadaan tradisi merti Dusun di kelurahan dukuh kota salatiga tidak terlepas dari suatu nilai etika. Dalam pelaksanaan tradisi merti Dusun tersebut akan menciptakan penyempurnaan niat dimana turut pula meyakinkan keimanan terhadap tuhan sehingga pelaksanaan tradisi tersebut tetap sesuai dengan tatanan dan aqidah. Nilai Religi Dalam tradisi Merti dusun ini nilai religius terlihat jelas pada kegiatan pembacaan tahlil yang ditujukan untuk arwah leluhur dan sebagai ungkapan wujud syukur kepada Tuhan. Selain itu juga doa yang merupakan harapan yang dipanjatkan kepada Tuhan agar selalu tercurah limpahan keselamatan dan kesehatan. Nilai Moral Tradisi Merti dusun ini memiliki makna moralitas yang tinggi. Dimana dalam pelaksanaannya sikap sopan santun dan saling menghargai sangat di utamakan. Nilai moral juga terlihat dari kebiasaan gotong royong masyarakat, rasa ikhlas, partisipasi saling membantu dalam persiapan dan pelaksanaan tradisi merti dusun serta mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi (Ratnawati. Emy Wuryani dan Wahyu Purwiyastuti, 2. JNUS: Journal of Nahdlatul Ulama Studies. Vol. 5 No. Peluang Transaksi Ekonomi Ekonomi adalah suatu bidang dalam kehidupan dimana itu merupakan perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidunpnya yang bervariasi, berkembang dengan sumber daya yang ada (Yuhelfaiza dan Vera Andriani, 2. Jauh hari sebelum acara merti dusun dilaksanakan, masyarakat biasanya membayar semacam kas iuran warga setiap minggu dan ada pula yang perbulan, senilai lima atau sepuluh ribu rupiah. Uang inilah yang juga dipakai untuk pelaksanaan tradisi merti dusun, sehingga tidak memberatkan masyarakat jika harus mengeluarkan uang sebanyak berapa orang per-KK dengan jumlah ratusan ribu dalam waktu singkat. Selain hal tersebut, pada upacara tahlil dan doa bersama biasanya memberi semacam uang sedekah atau kas untuk Aukirim arwahAy yang kisaran perorang sendiri paling tidak sejumlah lima puluh ribu rupiah, untuk tahun ini didapat sejumlah enam juta rupiah (Ilma, 2. Rangkaian acara merti dusun Kelurahan Dukuh Kota Salatiga begitu terasa semaraknya, mengingat tiga tahun sebelumnya tidak dilaksanakan karena adanya wabah pandemi COVID-19. Hal ini bisa dikatakan pula sebagai wujud kebangkitan semangat Kemeriahan pelaksanaan tradisi merti dusun tahun ini tentunya yang tak luput dari perhatian yakni terkait peluang besar besar yang bisa diraup oleh masyarakat bagi Seperti yang diutarakan oleh Bapak Asharun selaku ketua RW 01 Dukuh Krajan, bahwa tradisi ini sangat memberikan kontribusi besar bagi ekonomi dari rangkaian pelaksanaan tradisi merti dusun Kelurahan Dukuh Kota Salatiga yang mampu terjadi transaksi ekonomi secara global mencapai kurang lebih 90 juta untuk prosesi kirab budaya. Bapak Asharun juga menuturkan bahwa harapan agar potensi-potensi yang ada di masyarakat agar lebih dikembangkan lagi sehingga bisa menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan dalam negeri maupun dari luar negeri. Bahkan kemarin terdapat beberapa bule yang antusias mengikuti tradisi merti dusun ini. Oleh karena itu, para ketua RT maupun RW saling berlomba-lomba dalam menampilkan kreasi yang berhubungan dengan hasil bumi maupun kesenian turut dinanti-nanti masyarakat. Semakin dikenal oleh banyak khalayak akan memunculkan potensi peluang ekonomi yang lebih. Analisis Merti Dusun sebagai Praktik Budaya-Religius warga Dukuh Tradisi Merti Dusun di Kelurahan Dukuh dapat dibaca sebagai institusi kultural yakni pola tindakan kolektif yang diwariskan dan dipertahankan karena memberi orientasi nilai, mengikat warga, serta dianggap bermakna bagi keberlangsungan komunitas. Keberulangan Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. tahunan pada bulan Safar dan kepatuhan pada urutan prosesi menunjukkan bahwa tradisi bekerja sebagai Auaturan hidup bersamaAy yang direproduksi lintas generasi melalui pengulangan, pembiasaan, dan legitimasi sosial. (Shils, 1981. Koentjaraningrat, 2. Dalam perspektif interpretatif. Merti Dusun memuat struktur simbolik yang menata pengalaman religius dan sosial warga: kerja bakti/bersih desa dan makam sebagai simbol pemulihan ketertiban ruang bersama. penyiapan uba rampe sebagai representasi syukur dan serta pemilihan ruang makam dan penanggalan Kliwon sebagai Aubahasa budayaAy yang menegaskan hubungan warga dengan leluhur dan dengan tatanan sakral desa. Dengan demikian, tindakan-tindakan material . embersihkan, menyiapkan makanan, berkumpul di maka. berfungsi sekaligus sebagai media pemaknaan kolektif membuat syukur dan kebersamaan AuterlihatAy dan AudialamiAy dalam praktik. (Geertz, 1973. Turner, 1. Rangkaian pelaksanaan yang terekam dalam data lapangan persiapan seminggu sebelumnya, kerja bakti dua hari sebelum acara, lalu puncak ritual Selasa Kliwon berupa tahlil, doa, makan bersama di makam, dan kelanjutan Minggu Kliwon berupa kirab budaya serta pagelaran reog menunjukkan struktur ritual yang bergerak dari penguatan sakralitas menuju perayaan identitas publik. Dua episode ini memperluas jangkauan tradisi: episode makam memusatkan dimensi religius-komunal, sedangkan kirab dan kesenian memusatkan ekspresi kebudayaan yang mengundang partisipasi lintas kelompok dan lintas generasi. (Turner, 1969. Asharun, 2022. Ilma, 2. Dalam bingkai sosiologi ritual, titik-titik seperti tahlil dan doa bersama tidak hanya dipahami sebagai aktivitas devosional, melainkan mekanisme yang mengaktifkan solidaritas: warga AudikumpulkanAy dalam emosi bersama, diikat dalam nilai yang sama, lalu dipulihkan kembali sebagai kesatuan moral setelah serangkaian interaksi komunal . ermasuk makan bersama dan saling berbagi lau. Karena itu, tradisi memproduksi ketenteraman sosial bukan semata karena Auadat dijalankanAy, tetapi karena ritual menegaskan ulang keberadaan desa sebagai komunitas moral yang memiliki norma dan rasa kebersamaan. (Durkheim, 1912. Geertz, 1. Kekhasan penelitian ini adalah penegasan Merti Dusun sebagai praktik keagamaankemasyarakatan NU, ketika tradisi lokal diisi oleh amaliyah yang akrab di lingkungan NU seperti tahlil, doa bersama, dan ziarah yang dipimpin modin. Di sini, kerangka Aupribumisasi IslamAy menjelaskan bahwa agama hadir membumi melalui medium budaya tanpa meniadakan substansi etika dan tujuan sosialnya: tradisi tetap hidup sebagai perangkat harmoni komunitas, sementara ekspresi religius memberi legitimasi normatif dan jembatan JNUS: Journal of Nahdlatul Ulama Studies. Vol. 5 No. penerimaan di tengah keberagaman warga. (Fealy and Barton, 1996. Wahid, 2001. Sutopo. Kontribusi Merti Dusun terhadap kesadaran adat tampak pada pergeseran dari AupengetahuanAy menuju Aurasa memilikiAy dan Aupartisipasi praksisAy: warga membangun kepanitiaan, melakukan gotong royong, menyiapkan logistik, serta menjaga keterlibatan sosial yang membuat tradisi terus direproduksi. Namun penulis juga menunjukkan gejala penting: bentuk tradisi relatif stabil, sementara makna berisiko tererosi oleh modernisasi yakni ketika relasi sosial mulai bergeser menjadi lebih rasional-instrumental sehingga tradisi rentan dipahami sekadar rutinitas atau hiburan. (Koentjaraningrat, 2009. Rosana, 2015. Umami and Sobri, 2. Analisis Modal Sosial dan Ekonomi Berbasis Peristiwa: Perputaran Nilai. Tata Kelola, dan Tantangan Modernisasi Keberlanjutan Merti Dusun di Dukuh dapat dijelaskan melalui konsep modal sosial: tradisi berjalan karena ada kepercayaan . terhadap panitia/tokoh, norma bersama yang mengatur kepantasan, dan jaringan koordinasi lintas RT/RW yang memungkinkan mobilisasi sumber daya dalam skala kelurahan. Fakta bahwa kegiatan diikuti sepuluh RT dan dua RW, dengan pembagian kerja yang relatif jelas . isalnya kerja bakti, persiapan uba rampe, koordinasi acar. , memperlihatkan adanya Auinfrastruktur sosialAy yang membuat tradisi besar tetap dapat diorganisasi setiap tahun. (Bourdieu, 1986. Coleman, 1988. Putnam, 2. Data tentang mekanisme iuran . as warga mingguan/bulana. dan sedekah/kas Aukirim arwahAy menunjukkan bagaimana modal sosial bekerja dalam bentuk paling konkret: warga bersedia menyetor kontribusi kecil tetapi rutin, sehingga beban biaya tidak menumpuk pada satu waktu dan tidak menimbulkan resistensi. Praktik ini menandakan adanya norma resiprositas dan kepercayaan bahwa kontribusi akan kembali sebagai manfaat sosial . etertiban, kebersamaan, dan keberlangsungan tradis. , sekaligus sebagai dukungan pada otoritas lokal yang memimpin ritual. (Putnam, 2000. Ilma, 2. Dari sisi ekonomi. Merti Dusun dapat dipahami sebagai event-based economy yang menciptakan perputaran uang melalui kebutuhan logistik dan efek keramaian. Dalam temuan lapangan, transaksi ekonomi tidak hanya muncul saat acara berlangsung . edagang makananminuman, aktivitas jasa di sekitar kerumuna. , tetapi sudah dimulai pada fase persiapan . embelian bahan pangan, perlengkapan, kostum, kebutuhan kira. , lalu memuncak ketika kirab budaya menarik penonton dan tamu undangan. Klaim informan mengenai total Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. transaksi global sekitar 90 juta pada prosesi kirab menegaskan bahwa tradisi menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan bagi warga dan pelaku usaha sekitar. (Getz, 2008. Throsby. Asharun, 2. Penting dicatat bahwa nilai ekonomi di sini tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan nilai sosial-budaya: tradisi menghasilkan kerumunan, kerumunan menciptakan pasar musiman, dan pasar musiman memberi insentif tambahan untuk melestarikan tradisi. Literatur ekonomi-budaya menekankan bahwa dampak ekonomi yang sehat cenderung muncul ketika otentisitas budaya, partisipasi warga, dan tata kelola event dijaga seimbangAisehingga tradisi tidak jatuh menjadi sekadar komoditas, tetapi tetap berfungsi sebagai ruang produksi makna dan identitas kolektif. (Throsby, 2001. Richards. Getz, 2. Namun dinamika modernisasi menghadirkan risiko ganda: pertama, pengikisan makna ketika generasi muda memandang tradisi sebatas Auevent meriahAy tanpa menginternalisasi nilai syukur, gotong royong, dan hormat pada leluhur. kedua, komodifikasi ketika orientasi ekonomi menjadi terlalu dominan sehingga dimensi sakral-ritual menyempit. Karena itu, tantangan utama bukan menjaga agar tradisi Autetap adaAy, melainkan menjaga agar tradisi tetap bermakna yakni dengan memperkuat narasi edukatif, regenerasi partisipasi, dan pengelolaan event yang tidak menggerus substansi ritual. (Rosana, 2015. Umami and Sobri. Turner, 1. Secara kontekstual, profil Dukuh sebagai wilayah permukiman dengan kantong perdagangan/jasa di sepanjang jalan raya juga menjelaskan mengapa efek ekonomi mudah terbentuk saat event berlangsung: kepadatan penduduk, akses ruang publik, dan mobilitas tamu mendukung terciptanya titik-titik transaksi selama rangkaian Merti Dusun. Dengan demikian. Merti Dusun bekerja sebagai simpul yang mempertemukan struktur sosial . aringan RT/RW, tokoh agam. , struktur budaya . imbol dan ritu. , dan struktur ekonomi lokal . elaku dagang/jas. dalam satu momentum kolektif tahunan. (Wahyudi, 2021. Putnam. Geertz, 1. Penutup Tradisi Merti Dusun di Kelurahan Dukuh. Kota Salatiga dikonstruksi sebagai praktik budaya-religi yang memadukan struktur ritual Jawa dengan amaliyah keagamaan khas Nahdlatul Ulama. Pelaksanaan tahunan pada bulan SafarAidengan prosesi inti Selasa Kliwon berupa bersih desa/makam, tahlil, doa bersama, dan makan bersama di makam, serta kelanjutan Minggu Kliwon melalui kirab budaya dan pertunjukan reogAimenunjukkan JNUS: Journal of Nahdlatul Ulama Studies. Vol. 5 No. bahwa tradisi berfungsi sebagai institusi kultural yang diwariskan dan dipertahankan karena mengikat warga serta memberi orientasi nilai bersama. Struktur simbolik . uang makam, uba rampe/tumpeng, penanggalan Kliwon, urutan proses. bekerja sebagai Aubahasa budayaAy yang menegaskan syukur, keterhubungan dengan leluhur, dan identitas kolektif warga Dukuh, sekaligus menghadirkan pengalaman kebersamaan yang memperkuat solidaritas sosial. Dalam konteks NU, tradisi lokal ini memperoleh legitimasi religius melalui integrasi praktik tahlil, doa, dan ziarah yang dipandu modin, sehingga Merti Dusun tampil sebagai praktik keagamaan-kemasyarakatan yang membumi. Pola ini selaras dengan gagasan pribumisasi Islam, yakni hadirnya Islam melalui medium budaya lokal untuk menjembatani dakwah, etika sosial, dan harmoni komunitas tanpa meniadakan makna tradisi. Dengan demikian. Merti Dusun tidak sekadar dipahami sebagai perayaan budaya, melainkan juga sebagai mekanisme religius-sosial yang memelihara ketertiban moral komunitas serta memperkuat rasa AukitaAy melalui ritus kolektif dan perjamuan komunal. Lebih lanjut. Merti Dusun berkontribusi nyata dalam memperkuat kesadaran adat warga melalui keterlibatan kognitif . engetahuan tentang tata cara dan waktu ritua. , afektif . asa bangga, hormat pada leluhur, dan tradisi yang dinantika. , serta praksis . artisipasi gotong royong, kepanitiaan, iuran, dan keterlibatan lintas RT/RW). Kesadaran adat ini bertahan karena didukung modal sosial berupa kepercayaan terhadap tokoh/panitia, norma resiprositas dan etika sosial . aling berbagi dan menjaga ketertiba. , serta jaringan sosial yang memungkinkan koordinasi skala kelurahan. Meski demikian, penelitian ini juga menunjukkan tantangan modernisasi, terutama pada pengikisan pemaknaan lintas generasi ketika tradisi rentan dipersepsi sekadar agenda rutin atau hiburan, sehingga penguatan transmisi nilai menjadi kebutuhan strategis agar tradisi tetap bermakna. Dari sisi ekonomi. Merti Dusun berfungsi sebagai pemicu ekonomi berbasis peristiwa . vent-based econom. yang menciptakan perputaran uang pada fase persiapan hingga puncak acara. Mekanisme iuran mingguan/bulanan dan sedekah Aukirim arwahAy menunjukkan model pembiayaan kolektif yang memperkecil beban individu sekaligus memperkuat resiprositas sosial. Pada saat pelaksanaan, keramaian kirab budaya dan hiburan memunculkan aktivitas perdagangan/jasa . edagang makanan-minuman, transaksi spontan, kebutuhan logistik dan perlengkapa. , bahkan menurut informan terjadi transaksi ekonomi kumulatif yang mencapai sekitar puluhan juta hingga A90 juta pada prosesi kirab budaya. Dampak ini menegaskan bahwa tradisi tidak hanya memproduksi kohesi sosial, tetapi juga nilai ekonomi lokal. namun pengelolaan ke depan perlu menjaga keseimbangan antara Tradisi Merti Dusun. Kesadaran Adat, dan Dinamika Ekonomi. (Lutfiani Dewi Fatmawat. otentisitas budaya, partisipasi warga, dan tata kelola event agar manfaat ekonomi tidak berubah menjadi komodifikasi yang menggerus dimensi sakral-ritual. Referensi