Gorontalo Development Review Vol. 6 No. 2 Oktober 2023 P-ISSN: 2614-5170. E-ISSN: 2615-1375 Faktor Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Pengelolaan Lahan Miring Factors Socioeconomic Affecting the Management of Sloping Land Fahrulyan Olii. Mahludin Baruadi. Iswan Dunggio. Program Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Gorontalo. email:fahrulyan. olii@gmail. Disubmit: 5 Juni 2023. Direvisi. 30 Juni 2023. Dipublish. 1 Oktober 2023 Abstract The goal of this paper is to examine the socioeconomic elements that affect how sloped terrain is managed in the North Gorontalo District. The research method employs a mixed approach, and cross-table analysis . rosstab analysi. is used to assess the study hypothesis. The findings revealed that while other variables had no impact on managing sloped land, age, education level, family dependents, farming experience, land acreage, and average income per harvest all had a significant impact on sloping land with a p value 0. p-values higher than 0. The study's findings demonstrate that socioeconomic considerations have a significant influence on how sloping land farming is managed. Keywords : socio-economic. sloping land Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menganalisis faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi pengelolaan lahan miring di Kabuaten Gorontalo Utara. Metode penelitian menggunaka mix method dengan hipotesis penelitian diuji menggunakan analisis tabel silang . nalysis crossta. Hasil penelitian menunjukkan variabel usia, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, pengalaman bertani, luas lahan dan pendapatan rata-rata setiap panen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap lahan miring dengan nilai p<0,05, sedangkan variabel variabel lainnya tidak memiliki pengaruh terhadap pengelolaan lahan miring dengan nilai p>0,05. Dari hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pengelolaan usaha tani lahan miring dipengeruhi oleh faktor sosial ekonomi. Kata kunci : sosial ekonomi. lahan miring Gorontalo Development Review (GOLDER) P-ISSN: 2614-5170. E-ISSN: 2615-1375 PENDAHULUAN Lahan miring merupakan lahan yang pertanian dengan tingkat kemiringan tertentu yang semakin besar sudut kemiringan akan semakin besar kemungkinan berdampak terhadap kerusakan menurut (Mamangkay et al. , 2023 : Payuyu et al. , 2. bahwa Aktivitas pertanian berdampak langsung terhadap lingkungan salah satunya adalah pemanfaatan lahan intensif tanpa kaidah konservasi dan alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Akibatnya, kerusakan lingkungan yang parah dapat menggangu fiskal daerah, karena banyaknya wilayah-wilayah yang harus diperbaiki akibat kerusakan lingkungan (Alex Kojongkam et al. , 2. Kerusakan lingkungan akibat pengelolaan lahan miring berada pada daerah aliran sungai yang berdampak terhadap ekosistem daerah aliran Menurut (Cahyono et al. , 2. peningkatan kebutuhan lahan di sebagian besar DAS di Provinsi Gorontalo menyebabkan ekosistem DAS menjadi tidak seimbang dengan daya dukung DAS. Disamping itu pemanfaatan lahan miring juga menimbulkan berbagai macam masalah lingkungan seperti penebangan pohon yang berlebihan dan penggundulan hutan, kebakaran hutan dan lahan yang karena keserakahannya berdampak terjadinya banjir, longsor dan erosi ketika musim hujan dan peningkatan suhu bumi ketika musim kemarau (Salote et al. , 2. Pemanfaatan lahan miring didasari faktor sosial ekonomi Sosial dan ekonomi merupakan status ataupun kedudukan seseorang atau kelompok masyarakat yang ditentukan oleh aktivitas ekonomi (Astrawan et al. , 2. Disamping itu faktor sosial ekonomi secara langsung akan berpengaruh terhadap usaha pertanian (Hoar & Fallo, 2. Beberapa indikator yang mempengaruhi faktor sosial ekonomi salah satunya kepadatan penduduk, dimana meningkatnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan lahan juga meningkat sehingga eksploitasi lahan tidak bisa dihindari oleh petani. Dengan kata lain jumlah penduduk berhubungan terhadap luas lahan pertanian yang dikelola (Munibah et al. , 2. Demikian juga terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara yang setiap tahunnya terjadi peningkatan luas lahan pertanian yang sebagian besar ditanami tanaman jagung. Berdasarkan data Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Bone Bolango perubahan tutupan lahan yang terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara rentang tahun 2015 sampai tahun 2020 telah mengalami perubahan yang cukup besar, diantaranya semak/belukar pada tahun 2015-2016 dengan luas 23. 159,23 Ha pada tahun 2020 tersisa 6. 596,33 Ha, sehingga dari data tersebut ada penurunan 71,52% selang jangka waktu 5 tahun terakhir dan luas lahan pertanian kering Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2015 dengan 974,53 Ha dan pada tahun 2020 mengalami peningkatan yang cukup sigfnifikan yaitu mencapai 22. 627,54 Ha yang jika dipresentasekan mengalami peningkatan sebesar 106,18%. Dari uraian diatas aktivitas usahatani lahan miring yang berdampak terhadap kerusakan lingkungan di Kabupaten Gorontalo Utara tidak terlepas dari faktor sosial ekonomi petani sehingga keputusan penggunaan dan pemanfaatan lahan dengan cara mengekspoitasi lahan yang berdampak terhadap lingkungan pun tidak bisa dihindari. Oleh karena itu penelitian tentang faktor yang mempengaruhi pengelolaan lahan miring ini sangat penting karena bertujuan untuk menganalisis Gorontalo Development Review (GOLDER) Volume 6 Nomor 2 . Oktober 2023 kondisi sosial ekonomi terhadap usahatani lahan miring di Kecamatan Kwandang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode mix method yaitu analisis kuantitatif yang dilakukan dengan observasi, wawancara dan angket terhadap 90 responden yang diperoleh dengan metode Purprosive Sampling pada bulan Oktober 2022, dimana penentuan didasarkan atas pengambilan sampel yang difokuskan pada petani lahan miring dengan ketentuan margin error atau batas toleransinya adalah sebesar 10% dengan data yang dikumpulkan yaitu dengan memberikan instrumen yang telah tersusun kepada setiap responden yang dipilih dengan cara system purpose sampling. Instrumen memiliki kedudukan yang penting dalam penelitian karena instrumen berperan dalam proses pengambilan data (Syamsuryadin & Wahyuniati, 2. Adapun variabel yang digunakan yaitu usia. tingkat pendidikan. tanggungan keluarga. pengalaman bertani. kepemilikan lahan. pendapatan rata-rata/panen. dan pendapatan diluar bertani. Variabel yang digunakan telah melalui proses validasi yang dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitas menggunakan Aplikasi SPSS 26. Aplikasi SPSS memecahkan berbagai persoalan penelitian kuantitatif dengan mengetahui nilai rata-rata, simpangan baku, skor terkecil, atau skor terbesar dari data yang kita miliki serta mencari validitas . dan reliabilitas . instrumen penelitian (Janna & Herianto, 2. 1 Uji Validitas Uji validitas pada penelitian ini bertujuan sebagai alat ukut untuk menguji valid dan tidaknya instrumen yang digunakan. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan bahwa variabel yang diukur memang benar-benar variabel yang hendak diteliti oleh peneliti (Arsi, 2. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan tersebut pada kuesioner dapat mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuesioner (Janna & Herianto, 2. Teknik pengujian yang digunakan yaitu korelasi Bivariate Pearson (Produk Momen Pearso. yaitu cara mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total. Skor total adalah penjumlahan dari keseluruhan item. Item-item pertanyaan yang berkorelasi signifikan dengan skor total menunjukkan item-item tersebut mampu memberikan dukungan dalam mengungkap apa yang ingin diungkap y Valid. Jika r hitung Ou r tabel . ji 2 sisi dengan sig. maka instrumen atau item-item pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total . inyatakan vali. yccyce = ycu Oe 2 a . Ket : jumlah sampel, two tail test dengan nilai koefisien digunakan rumus pearson product moment: yc= ycu Oc Oe (Oc yc. (Oc y. Oo. cu Oc ycu 2 (Oc yc. 2 ). cu Oc ycu 2 (Oc yc. 2 ) A A A A A A A A A A A A . 2 Uji Reliabilitas Uji reabilitas digunakan untuk menggambarkan dan hasil penelitian berupa informasi yang sebenarnya. Uji reliabilitas dapat digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat ukur tetap Gorontalo Development Review (GOLDER) P-ISSN: 2614-5170. E-ISSN: 2615-1375 konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Alat ukur dikatakan reliabel jika menghasilkan hasil yang sama meskipun dilakukan pengukuran berkali-kali (Janna & Herianto, 2. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Adapun uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan rumus CronbachAos Alpha yang dinyatakan reliabel apabila CronbachAos Alpha lebih besar atau sama dengan 0,6: 3 CronbachAos Alpha CronbachAos Alpha adalah hasil perhitungan dengan uji reliabilitas yang memunculkan output berupa tabel, yaitu Case Processing Summary. Reliability Statistics. Item-Total Statistics, dan Scale Statistics. Pada tabel Case Processing Summary dapat dilihat baris Cases Valid menyatakan bahwa jumlah responden persentase menunjukkan 100%, yang menandakan bahwa responden valid dan tidak ada responden yang masuk ke kategori Exculded. Lalu, untuk mengetahui apakah hasil perhitungan data dapat dipercaya dan konsisten atau reliabel, dapat diperhatikan pada tabel Reliability Statistics. Analisis cronbachAos Alpha penerimaan/penolakan hipotesis 1 yang menyatakan AuAda pengaruh yang signifikan antara kondisi sosial ekonomi dan aktivitas lahan miring variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondisi sosial ekonomi dan aktivitas lahan miring. Dasar penerimaan hipotesis jika nilai signifikansi< 0,05 dan nilai Pearson Chi Square Positif, maka ada pengaruh antara kondisi sosial ekonomi dengan aktivitas lahan miring, sehingga hipotesis 1 diterima, dan jika nilai signifikansi> 0,05, maka tidak ada pengaruh antara kondisi sosial ekonomi dengan aktivitas lahan miring, sehingga hipotesis 1 ditolak. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Penelitian Kondisi Sosial Ekonomi Petani Lahan Miring . Usia Usia berimplikasi pada upaya peningkatan pendapatan petani (Dewi et al. , 2. Usia petani memengaruhi proses budidaya tanaman mulai dari proses pemikiran sampai proses berjalannya kegiatan budidaya yang dijalankan (Thamrin et al. , 2. Pengelompokan berdasarkan interval atau rentang umurnya yang sudah mampu bekerja dan menghasilkan hasil produksi. Menurut (Jamil et al. , 2. bahwa kinerja pertanian salah satuanya dipengaruhi oleh faktor usia. Berikut data usia petani lahan miring di Kecamatan Kwandang. Gorontalo Development Review (GOLDER) Volume 6 Nomor 2 . Oktober 2023 Diagram 1. Usia responden 15 - 25 Tahun 26 - 40 Tahun 41 Ae 60 Tahun > 60 Tahun Sumber : Data primer setelah diolah,2022 Dari diagram diatas diperoleh usia responden petani lahan miring di Kecamatan Kwandang sebagian besar didominasi oleh responden usia 26- 40 tahun berjumlah 34 responden dan paling rendah usia lebih dari 60 tahun tahun berjumlah 15 responden sementara usia 41-60 tahun berjumlah 23 responden dan usia muda 15-25 tahun berjumlah 18 . Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan merupakan kegiatan seseorang dalam mengembangkan kemampuan, sikap , dan bentuk tingkah lakunya melalui jenjang pendidikan, semakin tinggi pendidikan yang didapatkan maka perencan dalam usaha akan matang sehingga dapat meningkatkan pendapatan dari usahanya. Menurut (Dewi et al. , 2. tingkat pendidikan berimplikasi dalam upaya peningkatan pendapatan petani, dan menurut (Moroki et al. , 2. bahwa tingkat Pendidikan berpengaruh positif terhadap pendapatan petani. Karena pendidikan merupakan faktor penentu untuk sebagian besar praktik pertanian maka tingkat pendidikan yang dipertimbangkan (Tatis Diaz et al. , 2. Berikut data tingkat pendidikan petani di Kecamatan Kwandang. Diagram 2. Tingkat pendidikan responden SMP/MTS SMA/SMK/MA Sumber : Data primer setelah diolah,2022 Dari diagram diatas tingkat pendidikan petani lahan miring didominasi oleh respponden dengan tingkat pendidikan menengah Hasil yang diperoleh menunjukkan rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki petani lahan miring dimana responden pada Gorontalo Development Review (GOLDER) P-ISSN: 2614-5170. E-ISSN: 2615-1375 tingkat SMP/MTs sebanyak 33 responden. SD sederajat sebanyak responden 31 responden dan SMA sederajat sebanyak 26 responden. Tanggungan Keluarga Jumlah tanggungan keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang masih menjadi tanggungan dari keluarga tersebut. Tanggungan keluarga merupakan salah satu faktor seseorang untuk bekerja untuk mendapatkan pendapatan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Menurut (Wulandari et al. , 2. bahwa faktor yang mempengaruhi keputusan petani melakukan konversi lahan salah satunya adalah jumlah tanggungan keluarga. Tanggungan keluarga juga berimplikasi pada upaya peningkatan pendapatan petani (Dewi et al. , 2. Berikut data tentang tanggungan keluarga petani di Kecamatan Kwandang Diagram 3. Tanggungan keluarga responden Tidak Ada 1 Orang 2 Orang > 2 Orang Sumber : Data primer setelah diolah,2022 Dari diagram diatas jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki petani lahan miring dengan jumlah tanggungan 1 orang sebanyak 30 responden, jumlah tanggungan 2 orang sebanyak 27 responden, responden dengan jumlah tanggungan lebih dari 2 orang sebanyak 15 responden sedangkan yang tidak memiliki tanggungan sebanyak 18 . Pengalaman Bertani Pengalaman bertani adalah petani yang sudah memiliki pengalaman yang cukup dalam hal pertanian. Petani yang sudah lama akan lebih mudah membuat perbandingan dalam mengambil keputusan bertani. Petani yang berpengalaman akan lebih matang mengambil keputusan untuk bekerja. Pengalaman bertani berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas petani (Sugiantara & Utama, 2. Berikut data pengalaman bertani petani di Kecamatan Kwandang. Diagram 4. Pengalaman bertani responden 1 - 5 Tahun 6 - 10 Tahun > 10 Tahun Sumber : Data primer setelah diolah,2022 Gorontalo Development Review (GOLDER) Volume 6 Nomor 2 . Oktober 2023 Dari diagram diatas pengalaman bertani responden sebagai petani lebih dari 10 tahun berjumlah responden 35 orang, pengalaman bertani dengan rentang waktu 6-10 tahun dengan jumlah responden 33 orang, dan pengalaman bertani dengan rentang waktu 1-5 tahun sebanyak 22 . Status Kepemilikan Lahan Kepemilikan lahan bagi petani pada dasarnya untuk memnuhi kebutuhan ekonomi. lahan yang dimiliki dan dikelola bertujuan untuk mengontrol meningkatkan pendapatan melalui aktivitas bertani. Menurut (Pratiwi & Moeis, 2. bahwa kepemilikan lahan pertanian berdampak positif terhadap pendapatan. Berikut data tentang kepemilikan lahan pertanian oleh petani di Kecamatan Kwandang. Diagram. Status kepemilikan lahan Milik Bukan Milik Sewa Sumber : Data primer setelah diolah,2022 Dari diagram diatas diperoleh status kepemilikan lahan oleh petani lahan miring sebagian besar tidak jelas kepemilikannya . ukan Mili. berjumlah 43 responden dengan status milik berjumlah 17 responden, dan status sewa lahan atau bagi hasil panen dengan pemilik lahan berjumlah 17 responden. Luas Lahan Luas lahan merupakan luas areal atau bidang tanah yang dikelola pada musim tertentu dari proses penanaman sampai pada jumlah atau hasil yang akan diperoleh petani. Luas lahan berpengaruh terhadap pendapatan, semakin luas lahan yang dikelola maka semakin besar pendapatan yang didapatkan. Menurut (Moroki et al. , 2. bahwa luas lahan berpengaruh terhadap pendapatan petani. Luas lahan merupakan salah satu faktor utama dalam peningkatan produksi sehingga berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani (Wahed, 2. Berikut data tentang luas lahan yang dimiliki petani di Kecamatan Kwandang. Diagram 6. Luas lahan 1-5 Ha 6-10 Ha > 10 Ha Sumber : Data primer setelah diolah,2022 Gorontalo Development Review (GOLDER) P-ISSN: 2614-5170. E-ISSN: 2615-1375 Dari diagram diatas diperoleh luas lahan yang dikelola petani lahan miring sebagian besar dengan luas lahan 6-10 Ha berjumlah 35 responden, luas lahan yang dikelola responden 1-5 Ha berjumlah 22 responden, dan luas lahan lebih dari 10 Ha berjumlah 33 responden. Pendapatan Rata-Rata Pendapatan rata-rata merupakan pendapatan yang didapatkan oleh petani lahan miring setiap musim panen. Pendapatan yang didapatkan sesuai dengan hasil produksi yang didapatkan. Menurut (Paita et al. bahwa besar kecilnya pendapatan usahatani padi dipengaruhi oleh penerimaan dan biaya produksi. Sementara menurut (Tatis Diaz et , 2. mengatakan bahwa pendapatan dari pertanian merupakan faktor penentu untuk sebagian besar praktik pertanian yang Berikut data pendapatan rata-rata petani di Kecamatan Kwandang. Diagram 7. Pendapatan petani 5 - 10 Juta 11 - 20 Juta > 20 Juta Sumber : Data primer setelah diolah,2022 Dari diagram diatas diperoleh pendapatan petani lahan miring yang sebagian besar ditanami jagung ini berpenghasilan dengan kisaran 5-10 juta berjumlah 22 orang, pendapatan dengan kisaran 11-20 juta berjumlah 34 orang dan pendapatan lebih dari 20 juta juga berjumlah 34 responden atau 37,78%. Pendapatan Diluar Bertani Pendapatan diluar bertani adalah pendapatan yang didapatkan oleh petani diluar dari aktivitas pertanian. Peranan pekerjaan yang memberikan pendapatan di luar usaha tani amat penting di lakukan petani untuk mendatangkan penghasilan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga dan untuk kelangsungan hidup sehingga dapat memberikan sumbangan bagi keluarga petani untuk memenuhi kebutuhan hidup (Mandang et al. , 2. Berikut pendapatan petani diluar kegiatan bertani di Kecamatan Kwandang. Diagram 8. Pendapatan diluar bertani Tidak ada 100 Ribu s. d 1 Juta > 1 Juta Sumber : Data primer setelah diolah,2022 Gorontalo Development Review (GOLDER) Volume 6 Nomor 2 . Oktober 2023 Dari diagram diatas diperoleh petani lahan miring sebagian besar tidak memiliki pendapatan sampingan dari data yang diperoleh terdapat 48 responden, sedangkan yang lainnya memiliki pendapatan sampingan 100 ribu sampai dengan 1 juta/bulan. Uji Validitas Uji validitas dari 90 responden yang dipilih dianaisis dengan tingkat signifikansi 0,05 diperoleh . = 88, sehingg aR tabel berada pada tabel 0,1745, dan dinyatakan valid jika nilai pearson correlation sama dengan atau diatas 0,1745. Tabel 1. Uji Validitas Kuisioner Correlations Usia Pendidikan Usia Pendidikan Tanggungan Keluarga Pengalaman Bertani Kepemilikan Lahan Luas Lahan Pendapatan Rata-Rata Pendapatan Diluar Bertani Total Pearson Correlation Sig. -taile. -0,127 ,978** ,792** -0,033 ,770** ,759** -0,002 ,840** 0,232 0,759 0,981 -0,127 -0,137 0,039 0,171 0,036 0,038 0,13 0,18 0,09 Pearson Correlation Sig. -taile. Tanggungan Keluarga Pearson Correlation Sig. -taile. Pengalaman Bertani Pearson Correlation Sig. -taile. Kepemilikan Lahan Pearson Correlation Sig. -taile. Luas Lahan Pearson Correlation Sig. -taile. Pendapatan Rata-Rata Pearson Correlation Sig. -taile. Pendapatan Diluar Bertani Pearson Correlation Sig. -taile. Total Pearson Correlation Sig. -taile. 0,232 0,197 0,716 0,106 0,733 0,725 0,224 ,978** -0,137 ,780** -0,01 ,760** ,763** 0,004 ,840** 0,197 0,925 0,967 ,792** 0,039 ,780** 0,023 ,982** ,973** 0,184 ,930** 0,716 0,833 0,082 -0,033 0,171 -0,01 0,023 -0,012 0,005 0,079 0,199 0,759 0,106 0,925 0,833 0,911 0,96 0,462 0,06 ,770** 0,036 ,760** ,982** -0,012 ,991** ,211* ,923** 0,733 0,911 0,046 ,759** 0,038 ,763** ,973** 0,005 ,991** ,236* ,926** 0,725 0,96 0,025 -0,002 0,13 0,004 0,184 0,079 ,211* ,236* ,322** 0,981 0,224 0,967 0,082 0,462 0,046 0,025 ,840** 0,18 ,840** ,930** 0,199 ,923** ,926** ,322** 0,09 0,06 0,002 0,002 Sumber : Data primer setelah diolah Dari tabel diatas menunjukkan bahwa variabel sosial ekonomi yang diiukur yaitu usia, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, pengelaman bertani, kepemilikan lahan, luas lahan, pendapatan ratarata/panen dan pendapatan diluar bertani diatas 1,745, sesuai dengan tingkat signifikansi 0,05 kuisioner faktor sosial ekonomi terhadap aktivitas usahatani lahan miring valid. Hasil validitas yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa variabel yang diukur memang benar-benar variabel yang diteliti. Hal ini ditunjukkan dengan adanya korelasi atau dukungan terhadap item total . kor tota. sesuai yang disajikan dalam bentuk tabel diatas yang dilakukan perhitungannya dengan cara mengkorelasikan antara skor item dengan skor total item Gorontalo Development Review (GOLDER) P-ISSN: 2614-5170. E-ISSN: 2615-1375 atau skor faktor menggunakan aplikasi SPSS 26 dan dibantu dengan aplikasi Microsoft Excel 2010, kemudian dilanjutkan mengkorelasikan antara skor item dengan skor total faktor . enjumlahan dari beberapa Uji Reliabilitas Uji reabilitas pada penelitian ini menggunakan 90 responden dengan menggunakan CronbachAos Alpha. yang skornya bukan 1 dan 0. Instrumen dinyatakan reliabel apabila CronbachAos Alpha lebih besar atau sama dengan 0,6, dan jika CronbachAos Alpha lebih kecil 0,6 maka instrumen dinyatakan tidak reliabel. Tabel 2. Case Processing Summary Case Processing Summary Cases Valid Excluded Total Listwise deletion based on all variables in the procedure. Sumber : Data primer setelah diolah Tabel 3. Reliability Statistics Reliability Statistics Cronbach's N of Alpha Items ,816 Sumber : Data primer setelah diolah Tabel 4. Item-Total Statistics Item-Total Statistics Scale Scale Mean Variance if Corrected if Item Item Item-Total Deleted Deleted Correlation Usia 14,5333 12,724 ,748 Pendidikan 15,0000 18,382 ,011 Tanggunan Keluarga 14,4889 12,702 ,748 Pengalaman Bertani 14,7778 13,231 ,898 Kepemilikan Lahan 14,7778 18,265 ,037 Luas Lahan 14,8000 13,353 ,888 Pendapatan Rata-Rata 14,7889 13,292 ,893 Pendapatan Diluar Bertani 15,2889 17,444 ,155 Sumber : Data primer setelah diolah Cronbach's Alpha if Item Deleted ,759 ,857 ,759 ,743 ,852 ,745 ,744 ,842 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan 90 responden yang diujikan pada penelitian ini valid dengan nilai cronbachAos alpha yaitu 0,816 lebih besar 0,6 sehingga dapat disimpulkan bahwa kuisioner pada penelitian ini reliabel. Gorontalo Development Review (GOLDER) Volume 6 Nomor 2 . Oktober 2023 Analisis CronbachAos Alpha Analisis cronbachAos alpha dilakukan untuk mengetahui terdapat hubungan deskriptif antara variabel sosial ekonomi terhadap pengelolaan lahan miring menggunakan analisis crosstab untuk beberapa pertanyaan untuk dapat mengetahui dari setiap pertanyaan memiliki hubungan atau tidak dengan dasar perolehan nilai chiAosquare yaitu jika nilai Asymp sig < 0,05, maka terdapat hubungan yang signifikan antara variabel sosial ekonomi dengan pengelolan lahan miring, dan jika nilai Asymp. Sig > 0,05, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel sosial ekonomi dengan pengelolan lahan Analisis cronbachAos alpha menggunakan software IMB SPSS 26. Berikut data yang diperoleh setelah dilakukan Uji Stastistik Analisis Crosstabs : Tabel 5. Analisis CrosstabAos Case Processing Summary Usia * Lahan Miring Tingkat Pendidikan * Lahan Miring Tanggungan Keluarga * Lahan Miring Pengalaman Bertani * Lahan Miring Kepemilikan Lahan * Lahan Miring Luas Lahan * Lahan Miring Pendapatan Rata/Panen * Lahan Miring Pendapatan Diluar Bertani/Bulan * Lahan Miring Valid Percent 90 100,0% 90 100,0% 90 100,0% 90 100,0% 90 100,0% 90 100,0% 90 100,0% 90 100,0% Cases Missing N Percent 0,0% 0,0% 0,0% 0,0% 0,0% 0,0% 0,0% 0,0% Total Percent 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% Sumber : Data primer setelah diolah Tabel 6. Chi Square Value Usia 0,036 Pendidikan 0,026 Tanggungan Keluarga 0,042 Pengalaman Bertani 0,049 Kepemilikan Lahan 0,226 Luas Lahan 0,031 Pendapatan Rata-Rata/Panen 0,040 Pendapatan Diluar Bertani/Hari 0,789 Sumber : Data primer setelah diolah Indikator S/TS Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa variabel usia, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, pengalaman bertani, luas lahan dan pendapatan rata-rata/panen berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan lahan miring dengan nilai p<0,05, sementara variabel kepemilikan lahan dan pendapatan diluar bertani nilai p>0,05 tidak berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan lahan miring. 2 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan faktor sosial ekonomi berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan lahan miring di Kecamatan Kwandang. Adapun variabel yang mempengaruhi adalah variabel usia yang berpengaruh terhadap kemampuan fisik petani dalam mengelola Hasil uji square usia petani lahan miring di Kecamatan Gorontalo Development Review (GOLDER) P-ISSN: 2614-5170. E-ISSN: 2615-1375 Kwandang diperoleh nilai p sebesar 0,036<0,05. Berdasarkan uji statistik terdapat hubungan yang signifikan antara usia petani dan lahan miring. Berdasarkan data kondisi petani lahan miring didominasi oleh usia produktif. Usia produktif adalah usia produktif yang dianggap memiliki kemampuan fisik yang baik dalam mengelola usahataninya. Usia yang masih dalam masa produktif biasanya mempunyai tingkat produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan tenaga kerja yang sudah berusia tua sehingga fisik yang dimiliki menjadi lemah dan terbatas (Aprilyanti, 2. Variabel pendidikan juga berpengaruh terhadap pengelolaan lahan miring dengan nilai p sebesar 0,026<0,05. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap usahatani. kualitas pendidikan mempengaruhi pola berfikir dan kreativitas dari lingkungan bekerja serta kreativitas dalam bekerja. Pada dasarnya semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka semakin luas juga pengetahuan tentang usahatani. Menurut (Gusti et al. , 2. bahwa tingkat pendidikan berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan petani. Dengan pengetahuan tersebut petani dapat menerapkan inovasi teknologi yang dapat mengembangkan Variabel tanggungan keluarga dengan nilai p yang diperoleh sebesar 0,042<0,05 karena sebagian responden sudah memiliki tanggungan keluarga. Karena semakin banyak jumlah tanggungan keluarga, maka kebutuhan keluarga dapat semakin tidak terpenuhi (Yasin & Priyono, 2. Jumlah tanggungan bisa menjadi alasan seseorang untuk bisa bekerja, misal saja seorang pekerja yang memiliki tanggungan akan lebih semangat karena dia sadar bahwa bukan hanya dia yang akan menikmati hasilnya tapi ada orang lain yang menunggu jerih payahnya dan menjadi tanggung jawabnya (Purwanto & Taftazani. Variabel pengalaman bertani diperoleh nilai p sebesar 0,049<0,05 yang berarti variabel ini berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan lahan miring. Pengalaman kerja sebagai petani oleh petani lahan miring menjadi salah satu indikator yang secara tidak langsung turut mendukung keberhasilan berusahatani yang dilakukan petani secara Pengalaman kerja yaitu seorang tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan tertentu, pengalaman pekerjaan ini dinyatakan dalam pekerjaan yang harus dilakukan dan lamanya melakukan pekerjaan itu (Riyadi, 2. Petani yang memiliki pengalaman berusahatani lebih lama akan lebih mampu merencanakan ushatani dengan lebih baik, karena sudah memahami segala aspek dalam berusahatani, sehingga semakin lama pengalaman yang didapat memungkinkan produksi menjadi lebih tinggi. Megalina . menyatakan bahwa, petani yang memiliki pengalaman berusaha tani yang lebih lama akan cenderung lebih mampu untuk merencanakan usaha tani lebih baik karena sudah lebih paham aspek dalam berusaha Variabel luas lahan dan pendapatan yang didapatkan oleh petani setiap panennya berpengaruh signikan terhadap pengelolaan lahan miring dengan masing-masing nilai p yang diperoleh yaitu 0,031 dan 0,040 dan keduanya <0,05 karena ada keterkaitan antara luas lahan dan pendapatan, karena semakin luas lahan yang diolah maka semakin besar pula hasil produksi atau luas lahan yang dimilikinya menjadi salah satu petunjuk besarnya pendapatan yang diterima. Jika luas lahan meningkat maka pendapatan petani juga akan meningkat dan sebaliknya jika luas lahan yang digunakan kecil atau sempit. Jadi. Gorontalo Development Review (GOLDER) Volume 6 Nomor 2 . Oktober 2023 hubungan antara luas lahan dengan pendapatan petani mempunyai hubungan positif (Isfrizal & Rahman, 2. Variabel kepemilikan lahan dan pendapatan diluar bertani tidak berpengaruh signikan terhadap pengelolaan lahan miring dengan nilai p >0,05 dengan masing-masing nilai yang diperoleh yaitu 0,226 dan 0,789. Berdasarkan data yang diperoleh sebagian besar lahan miring yang dikelola menunjukkan adanya ketimpangan kepemilikan lahan. Ketimpangan kepemilikan lahan secara tidak langsung merupakan dampak dari adanya konversi lahan pertanian di wilayah yang bersangkutan (Rohani, 2. Sedangkan pada variabel pendapatan yang diperoleh petani diluar aktivitas bertani menunjukkan sebagian besar tidak memiliki pendapatan diluar bertani. Artinya fokus pekerjaan dan pendapatan petani hanya diperoleh dari aktivitas pertanian. Menurut (Mandang et al. , 2. bahwa pekerjaan yang memberikan pendapatan di luar usaha tani amat penting di lakukan petani untuk mendatangkan penghasilan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Akan tetapi pada penelitian ini diperoleh sebagian besar petani tidak memiliki pendapatan diluar aktivitas bertani sehingga petani enggan meninggalkan aktivitas bertani. Berdasarkan menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi terdapat pengaruh yang signifikan terhadap pengelolaan lahan miring sesuai dengan variabel yang telah di uji yang memiliki pengaruh yaitu usia, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, pengalaman bertani, luas lahan dan pendapatan yang didapatkan oleh petani setiap panen. Sehingga dengan variabel ini petani enggan meninggalkan lahan miring, alasannya karena tidak tersedianya lapangan kerja selain bertani juga keterbatasan akan lahan pertanian di Kecamatan Kwandang. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan lahan miring sebagian dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi diantaranya variabel usia, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, pengalaman bertani, luas lahan dan pendapatan yang didapatkan petani setiap panen. Faktor inilah yang mendorong petani terus menerus melakukan kegiatan pertanian pada lahan miring sehingga cenderung enggan meninggalkan pertanian lahan miring. Rekomendasi yang dapat diberikan terkait hasil penelitian ini yaitu perlu adanya peran pemerintah dalam memberikan perhatian khusus terhadap kesejahteraan pada sektor pertanian sehingga tercapainya kegiatan pertanian yang produktif dan efisien memberikan peningkatan nilai ekonomi petani. Disamping itu, perlu adanya sosialisasi dan edukasi dari dinas terkait tentang pemanfaatan lahan miring agar tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomis saja akan tetapi perlu memperhatikan juga kondisi dan dampak lingkungan yang ditimbulkan serta mencegah dan memulihkan kembali fungsi lahan miring melalui upaya konservasi lahan miring. DAFTAR PUSTAKA