Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 TARTILA METHOD AS AN ALTERNATIVE TO LEARNING TO READ AL-QUR'AN AT TPQ AL-HIDAYAH MIFTAHUL ULUM II BEKACAK BANGIL Julvan Vebianto1. Jamhuri2 Universitas Yudharta Pasuruan. East Java. Indonesia Article History: Received: 2/3/2025 Revised: 9/3/2025 Accepted: 1/4/2023 Published: 26/4/2025 Keywords: Tartila Method. Learning al-Qur'an. Reading al-Qur'an Kata Kunci: Metode Tartila. Pembelajaran al-QurAoan. Membaca al-QurAoan Correspondence Address: julvanvebianto@gmail jamhuri@yudharta. Abstract: The Tartila method is one of the alternative methods in learning to read the Qur'an applied at TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak. Bangil. The Tartila method is one of the methods of learning to read the Qur'an that emphasizes aspects of fluency . , accuracy of mak hraj, and the application of tajweed rules in stages. This study aims to analyze the effectiveness of the Tartila method in improving the ability to read al-Qur'an of students, as well as identifying obstacles faced in the learning process. Using a descriptive qualitative approach, this research involves direct observation, semi-structured interviews with educators and parents of santri, and documentation studies of students' learning The results showed that the Tartila method was able to improve students' fluency, makhraj accuracy, and understanding of Learning is done classically with a gradual evaluation system. However, some of the obstacles faced include differences in the ability of students, the lack of involvement of educators, and the lack of support from santri guardians for religious education. Thus, efforts are needed to optimize this method to make it more effective in producing a Qur'anic Abstrak Metode Tartila merupakan salah satu metode alternatif dalam pembelajaran membaca al-Qur'an yang diterapkan di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak. Bangil. Metode Tartila adalah salah satu metode pembelajaran membaca al-QurAoan yang menekankan aspek kefasihan . , ketepatan makhraj, dan penerapan kaidah tajwid secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas metode Tartila dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur'an santri di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II yang berjumlah 40 santri, serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini melibatkan observasi langsung, wawancara semi-struktur dengan pendidik dan wali santri, serta studi dokumentasi hasil belajar peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Tartila mampu meningkatkan kefasihan, ketepatan makhraj, dan pemahaman tajwid peserta Pembelajaran dilakukan secara klasikal dengan sistem evaluasi bertahap. Namun, beberapa kendala yang dihadapi antara lain perbedaan kemampuan peserta didik, kurangnya keterlibatan pendidik, serta minimnya dukungan dari wali santri terhadap pendidikan agama. Dengan demikian, diperlukan upaya optimalisasi metode ini agar lebih efektif dalam mencetak generasi yang Qur'ani. PENDAHULUAN Sehubungan diwaktu milenial saat ini, banyak anak-anak sekarang ini yang sangat minim dalam membaca al-Qur'an, baik dari segi makhraj, tajwid dan khususnya kefamiliarannya atau kemahirannya. Oleh karena itu, tugas orang tua Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 sangat penting untuk mendidik anak-anak mereka dalam membaca al-Qur'an, karena membaca al-Qur'an tidak bisa sembarangan dibaca dan harus fokus pada cara pengucapan makhroj dan tajwid, karena akan mempengaruhi saat membaca al-Qur'an. Namun pada kenyataannya, sebagian besar umat Islam pada periode milenial ini kurang memperhatikan hal ini, dan dengan demikian sejumlah besar dari mereka juga lalai terhadap al-Qur'an (Rasita & Ginting, 2. Oleh sebab itu, mengaplikasikan rasa cinta terhadap al-QurAoan dengan cara meyakininya, menghormatinya, mempelajarinya sekaligus membacanya secara baik dan benar, memahaminya dan mengamalkannya ialah suatu perkara yang sangat diutamakan dan diperlukan. Al-QurAoan merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman dalam menetapkan dasar segala hukum, baik yang menyangkut hubungan antara hamba dengan Allah SWT, maupun hubungan antara hamba dengan (M. Jamhuri, 2. Apabila saat membaca al-QurAoan maka bernilai sebuah ibadah dan jika mengamalkan isi kandungan yang ada di dalam al-QurAoan itu termasuk bentuk kewajiban yang diperintahkan dalam agama Islam. Dan dianjurkan seorang muslim bahkan juga diwajibkan bisa membaca ayat-ayat alQurAoan dengan benar dan tepat yang sudah sesuai dalam kaidah-kaidah tajwid yang sudah ditentukan. (Fitriani & Hayati, 2. Sudah menjadi pengetahuan yang sangat lumrah bagi umat muslim di Indonesia, bahwasanya al-QurAoan adalah perkataan . Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril, dan tidak semua umat muslim Indonesia mampu membacanya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid tanpa adanya usaha untuk mempelajari kaidah atau metode tahsin al-QurAoan, karena al-QurAoan mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab suci lainnya. (Ipastion & Khadijah, 2. Dengan demikian, adapun kewajiban seorang muslim Indonesia terhadap al-QurAoan adalah membaca bacaan al-QurAoan dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid. Perlu kita ketahui bersama, bahwasanya betapa pentingnya al-QurAoan dalam kehidupan manusia yaitu sebagai pedoman berperilaku agar supaya tidak melenceng dari apa yang sudah diatur dengan baik oleh Allah SWT. Maka dari itu Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 sangat dianjurkan bagi umat muslim Indonesia untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan isi yang ada dalam al-QurAoan dikehidupan kita sehari hari. Pembelajaran al-Quran hendaknya dimulai sejak masa kanak-kanak atau masa usia dini, karena masa ini merupakan masa awal perkembangan kepribadian manusia, dan jika kita mengajarkannya dengan baik maka kita juga akan memperoleh hasil yang baik. (SamuAoah, 2. Dengan pembelajaran al-QurAoan pada masa usia dini ini akan berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Dengan pembelajaran ini juga dapat berlangsung kapan saja dan dimana saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia Khalimatus SaAodiah (Alumni IAIN Sunan Ampel Fak. Tarbiyah Jurusan PAI). AoKUALITAS PEMBELAJARAN AL-QURAoAN DENGAN METODE TARTILA DI TPQ SABILUN NAJAH SAMBIROTO TAMAN SIDOARJOAo. Pendidikan Agama Islam, 02. , 268Ae286. Pengenalan pembelajaran membaca al-QurAoan ini adalah salah satu keharusan yang wajib diberikan pada anak usia dini sebagai bagian dari umat Al-QurAoan sebagai kitab suci umat Islam berperan sebagai sumber hukum, dasar dari ilmu pengetahuan dan sebagai tolak ukur dalam pembentukan perilaku anak usia dini. Imam Suyuti mengatakan Aubahwa mengajarkan al-QurAoan pada anak-anak merupakan salah satu diantara pilar-pilar islam, sehingga mereka bisa tumbuh diatas fitrahAy. Izzati Sri Maharani. AoPembelajaran Baca Tulis Al- Qur Ao an Anak Usia DiniAo. Jurnal Pendidikan Tambusai, 4. , 1288Ae1298. Membaca al-QurAoan dituntut untuk kebenaran, kefasehan, kelancaran dalam artian sesuai dengan ilmu tajwid. Karena membaca juga merupakan kunci ilmu pengetahuan bagi seseorang, membaca orang akan memiliki pengetahuan luas, pemikiran yang lebih kritis serta dapat mengetahui kebenaran, fakta, sehingga dapat membedakan antara yang benar dan salah. (Muhsin, 2. Mengingat salah satu metode belajar membaca alQurAoan secara praktis, efektif, efisien serta cepat memahami pembelajaran alQurAoan dimana dapat mengantarkan anak didiknya mampu mengembangkan baca al-QurAoan dengan metode Tartila. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Dengan adanya metode inilah sebagai alternatif agar seorang anak bisa lebih mudah untuk bisa membaca al-QurAoan. Sehubungan dengan pembelajaran membaca al-Qur'an bagi anak, maka belajar al-Qur'an pada tingkat ini merupakan tingkat mempelajari al-Qur'an tentang membaca hingga fasih dan lancar, sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Karena kemampuan membaca al-Qur'an merupakan kemampuan yang utama dan pertama yang harus dimiliki oleh anak. (Rosi, 2. Dan Secara umum, setiap pembelajaran alQur`an pasti melibatkan peran aktif sang pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan observasi bahwa santriwan dan santriwati yang ada di Taman Pendidikan al-QurAoan al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan ini masih jauh dari harapan, seperti masih sulit menerima pelajaran yang diberikan karena kreativitas tenaga pengajar yang masih kurang sehingga diperlukan pelaksanaan metode baca al-QurAoan yang praktis, efektif dan efisien dengan demikian apabila metode pembelajaran Tartila dapat diterapkan secara cepat dan tepat dapat mencetak generasi yang QurAoani di masa yang akan datang dapat terwujud. TPQ Al-Hidayah Miftahul Ulum II ini adalah salah satu Lembaga Pendidikan Islam yang memprioritaskan pembelajaran dalam bidang baca al-QurAoan. TPQ Al-Hidayah Miftahul Ulum II ini menggunakan sebuah strategi pembelajaran al-QurAoan dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode Tartila guna untuk meningkatkan kemampuan baca alQurAoan santrinya tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan bertujuan mendapatkan gambaran mendalam tentang metode Tartila sebagai alternatif pembelajaran membaca al-Qur'an di TPQ Al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini berusaha mengungkapkan suatu masalah tertentu yang bergantung pada pengawasan manusia dan berhubungan dengan meneliti tentang hal yang berkaitan dengan latar belakang subjek penelitian. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Subjek penelitian adalah peserta didik di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II yang berjumlah 40 peserta didik, yang akan diamati melalui observasi langsung dalam kelas, wawancara semi-struktural dengan 4 guru dan 3 orang tua peserta didik, serta studi dokumentasi terhadap hasil belajar peserta didik dan catatan perkembangan mereka. Teknik analisis data yang digunakan adalah penyajian data, yakni digunakan untuk lebih meningkatkan pemahaman kasus dan sebagai acuan dalam mengambil tindakan atas pemahaman dan analisis sajian data. Dalam proses penyajian data menjelaskan secara keseluruhan dari beberapa data yang telah diperoleh agar data muda dibaca. Penyajian data tersebut dilakukan secara Peneliti tersebut akan menjelaskan secara keseluruhan data tentang metode Tartila sebagai alternatif pembelajaran dalam membaca al-Quran di TPQ Al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak Bangil. Pengambilan sampel tekniknya pada umumnya dilakukan data hasil dari penelitian diperoleh secara langsung, penggunaan data menggunakan wawancara mendalam, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana proses pembelajaran membaca al-QurAoan di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi pendidik untuk menciptakan pembelajaran yang inklusif, serta merancang strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi perbedaan karakteristik siswa secara lebih efektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses pembelajaran al-QurAoan dengan menggunakan metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak Bangil Dalam praktik pembelajaran, proses pelaksanaan pembelajaran di TPQ alHidayah Miftahul Ulum II diantaranya sebagai berikut: Pembukaan Yakni kegiatan pengkondisian pada peserta didik untuk siap dalam pembelajaran, dilanjutkan dengan salam pembuka dan membaca do'a pembuka belajar al-Qur'an bersama-sama. Pada saat masuk diruang kelas. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 pendidik mengucapkan salam dan mengkondisikan peserta didik untuk mengikuti pembelajaran dan dilanjutkan membaca do'a bersama. Mengulas kembali . Mengulas kembali materi yang telah diajarkan sebelumnya untuk dapat dikaitkan yang telah diajarkan sebelumnya untuk dapat dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari hari ini. Dari hasil pengamatan peneliti, proses pembelajaran metode Tartila yakni mengulas hafalan dan Untuk mengulas hafalan setiap masuk kelas peserta didik membaca nadzhom tajwid dan pelengkap. Dalam membaca dan mengulas hafalan tersebut dapat melancarkan cara mengenal hukum bacaan tajwid. Mengulas pelengkap yakni terdapat bacaan do'a sehari-hari Adapun hasil temuan tersebut diperkuat dengan teori yang terkait dengan penjelasan menurut Sudarna menjelaskan bahwa membaca merupakan kegiatan yang sehat, membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, (Rahmawati et al. , 2. Evaluasi Pengamatan penilaian melalui buku prestasi terhadap kemampuan dan kulitas bacaan peserta didik setiap individu. Berdasarkan pengamatan saat pembelajaran berlangsung, evaluasi pembelajaran yakni evaluasi Evaluasi materi dilakukan secara individu, peserta didik membaca dengan cara bergantian. Pendidik memberikan penilaian terhadap kualitas dan kemampuan bacaan peserta didik. (Dina Maula Bahari, 2. Jika peserta didik mampu membaca dengan benar dan lancar, maka peserta didik bisa melanjutkan kehalaman berikutnya Namun jika peserta didik masih kurang lancar dan banyak kesalahan dalam membaca, maka peserta didik akan tetap pada halaman tersebut dan akan dibaca kembali untuk pertemuan berikutnya. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Penutup Pengondisian peserta didik kemudian membaca do'a penutup dan diakhiri dengan sala penutup dari pendidik. Berdasarkan pengamatan peneliti, setelah pembelajaran selesai, peserta didik dan pendidik membaca do'a bersama-sama. Kemudian pendidik memberikan sedikit motivasi agar peserta didik tetap giat dalam menghafal dan membaca al-Qur'an. Setelah mengulas hafalan selesai, pendidik melanjutkan dengan pemberian materi jilid. Kemudian peserta didik menyerahkan buku prestasi kepada pendidik. Dalam pemberian materi jilid peserta didik bergantian maju kedepan untuk membaca. Pendidik menyimak bacaan peserta didik dan memberikan nilai dibuku prestasi peserta didik. Temuan hasil penelitian mengenai proses pembelajaran al-QurAoan diatas diperkuat oleh teori dalam al-QurAoan surat al-Ankabut:45 AA EOa a eU NO aaO eEAa e a a aO eE aO eUE a ca AA EO aa aOac EA ca A aO a aC aI EA a Aae aE aN e a eO a aU aEa esEa aN aO eE aE A u AAUaa eO aOA e a AcEEa Ua eEa aI aN A a AaOEa aE ae NA AcEE a eEa a a aO NA Terjemahannya: Bacalah (Nabi Muhamma. Kitab (Al-QurAoa. yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari . keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah . itu lebih besar . eutamaannya daripada ibadah yang lai. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Abdurrahman an-Nahlawi pembelajaran dalam membaca al-Qur'an yakni mampu membaca dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, memahami dengan baik dan menerapkannya. Tanda-tanda keefektifan dalam pembelajaran al-QurAoan dengan menggunakan metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak Bangil W/10-02-2025 Kementerian Agama RI, (Al-QurAoan dan Terjemaha. Jawa barat. Bandung: Mikhraj Khazanah Ilmu . Hlm. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Berdasarkan hasil wawancara dan observasi menyatakan bahwa penerapan metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II. Untuk pengenalan huruf hijaiyah, makhorijul huruf dalam metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum mengulang-ulang memperkenalkan huruf hijaiyah dan makhorijul huruf. Terkait penerapan tajwid dalam metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II dilaksanakan dengan panduan nadzhom dengan sistem menghafal dan dibaca ketika pembelajaran akan Dalam proses pembelajaran di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II berdasarkan observasi dalam pembelajaran menggunakan metode Tartila. Peserta didik di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II menjadi aktif dan semangat dengan menggunakan lagu dari metode Tartila. Selanjutnya Tartila dilaksanakan dengan panduan nadhom qoidah tajwid, mulanya peserta didik tidak hafal dasar hukum tajwid menjadi hafal, doa sehari-hari dinilai baik dari banyaknya kegiatan sebelum masuk kelas. Kegiatan pembelajaran metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II dilaksanakan secara klasikal dengan penyampaian materi yang sama, yakni peserta didik yang menempuh pembelajaran jilid satu maka dikelompokkan didalam satu kelas, begitu juga jilid dua, jilid tiga, jilid empat, jilid lima dan jilid enam dengan alokasi waktu 60 menit dalam satu kali pertemuan, dalam pembagian alokasi waktu tersebut disetiap satu pertemuan adalah 20 menit untuk tutorial 1, 30 menit untuk privat individu, dan 10 menit untuk tutorial II. Dalam pembelajaran metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II dilaksanakan secara klasikal dengan penyampaian materi yang sama, peserta didik menempuh pembelajaran jilid satu maka dikelompokkan dalam satu kelas, jilid dua, jilid tiga, jilid empat, jilid lima, jilid enam. Dalam sistem evaluasi pembelajaran metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II dilaksanakan pada setiap pertemuan. Evaluasi dilakukan dengan setiap kali pertemuan, yakni bahwa setiap kali pertemuan dilakukan penilaian oleh Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 penilaian A untuk peserta didik yang bacanya baik, penilaian B untuk peserta didik yang bacanya cukup baik, dan diberikan C jika bacaannya kurang Evaluasi atau penilaian dilaksanakan hingga selesai satu jilid Selanjutnya pelaksanaan evaluasi akhir jilid ini sampai jilid enam maka akan diadakan evaluasi atau ujian secara menyeluruh untuk menentukan kelulusan santri kemudian setelah itu dilakukan wisuda. Temuan hasil penelitian mengenai keefektifan dalam pembelajaran alQur'an dengan menggunakan Metode Tartila diatas diperkuat oleh teori dalam alQur'an surat al-alaq ayat 1-5: A a eC ae aO aacEa eaE ae aI yA AEaC yA AC yA a A aO aN eOA a aA aEA a aO aEA e Aa eC ae aA a Ue AeEA ae ACA e A aI aacEa EacA A aO aN Ea eI Ua eEa a eI yA AEac aI a eECaEa aI yA a a AaOA a Ue AeEA a e AEac aIA e AEacA Terjemahannya: Bacalah dengan . nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah m enciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar . dengan perantaran Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Di dalam ayat ini dikemukakan suatu perintah untuk membaca al-Qur'an. Pengulangan perintah dalam membaca al-Qur'an pada wahyu pertama ini, bukan hanya sekedar menunjukkan kecakapan dalam membaca tidak diperoleh kecuali dengan mengulang-ulangi bacaan, atau membaca dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan, akan tetapi mengulangi bacaan akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walan yang dibaca hanya itu. Sungguh perintah membaca merupakan suatu yang paling berharga dan dapat diberikan kepada umat (Ma, 1. Kementerian Agama RI, (AL-QurAoan dan Terjemaha. Jawa barat. Bandung: Mikhraj Khazanah Ilmu . Hlm. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Hambatan pembelajaran al-QurAoan menggunakan metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II Bekacak Bangil Dalam penerapan metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II tidak lepas dengan problematika dan hambatan yang dilhadapi, diantaranya yakni dalam kemapuan peserta didik yang berbeda-beda. Kemampuan membaca alQur'an tersebut dapat diperoleh karena adanya keinginan dan kemauan untuk belajar membaca al-Qur'an dari awal seperti huruf hijaiyah terlebih dahulu baru ke makhraj huruf kemudian hukum tajwid. Metode Tartila juga langsung memakai dan mempratekkan langsung bacaan dengan tartil yang sesuai dengan qaidah ilmu Kedua, tidak semua pendidik ikut aktif dalam kegiatan Tartila maka disini diadakan pemilihan dimana pendidik ketika ada kegiatan Tartila bisa ikut aktif agar tidak tertinggal dengan pembelajaran materi yang baru. Sehingga pendidik yang aktif dalam kegiatan tersebut bisa berbagi pembelajaran kepada pendidik yang lainnya. Ketiga, sebagian wali santri kurang mendukung pendidikan untuk anaknya, terdapat beberapa wali santri yang belum sadar akan pentingnya pendidikan agama dalam pembelajaran membaca al-Qur'an. Temuan hasil penelitian mengenai hambatan dalam pembelajaran alQur'an dengan menggunakan Metode Tartila diatas diperkuat oleh teori dalam QS: Al-Muzammil . : 4: a U se AEa es aN aO a a c aE eECa e Oa a e aA uAEA a A a eO a eA Terjemahannya: atau lebih dari . Bacalah Al-QurAoan itu dengan perlahan-lahan. Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwasannya ketika membaca al-Qur'an dianjurkan untuk tartil dan jelas. Dengan membaca al-Qur'an yang cepat itu akan menyerupai seperti membaca syair. Akan tetapi ketika membaca dengan tartil, makhorijul hurufnya tepat. Maka membaca al-Qur'an akan lebih tenang dan mengaruhi hati lalu tertanam didalamnya. Kementerian Agama RI, (Al-QurAoan dan Terjemaha. Jawa barat. Bandung: Mikhraj Khazanah Ilmu . Hlm. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam | Vol. No. 1, 2025 DOI: http://dx. org/10. 33477/alt. E-ISSN: 2614-3860 Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Tartila di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II sudah efektif, walaupun terdapat beberapa hambatan seperti yang sudah dijelaskan diatas. Hambatan-hambatan yang dialami di TPQ al-Hidayah Miftahul Ulum II dalam efektivitas penerapan metode Tartila adalah perbedaan individu dalam menangkap materi pembelajaran, tidak semua pendidik ikut aktif dalam kegiatan Tartila, disamping itu dukungan orang tua dari bebepara peserta didik yang masih kurang dalam hal akan pentingnya pendidikan agama dalam pembelajaran membaca al-Qur'an. KESIMPULAN Metode Tartila merupakan pendekatan efektif dalam pembelajaran membaca AlQurAoan yang diterapkan di TPQ Al-Hidayah Miftahul Ulum II. Metode ini membantu meningkatkan kefasihan, ketepatan makhraj, dan penerapan tajwid secara bertahap. Proses pembelajaran dilakukan secara klasikal dengan evaluasi bertahap untuk memastikan kemajuan santri. Meskipun metode ini terbukti efektif, terdapat beberapa hambatan dalam keterlibatan aktif pendidik, dan minimnya dukungan dari wali santri terhadap pendidikan agama anak-anak mereka. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi lebih lanjut, termasuk peningkatan pelatihan bagi pendidik dan peningkatan kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan Al-QurAoan. Dengan dukungan yang tepat, metode Tartila dapat menjadi sarana yang lebih efektif dalam mencetak generasi QurAoani yang mampu membaca dan memahami Al-QurAoan dengan baik. REFERENSI