ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 49-57 DOI : https://doi. org/10. 31938/jns. EVALUASI KARAKTERISTIK DAN OPTIMASI LAHAN BERDASARKAN KESESUAIAN LAHAN KEBUN BENIH SEMAI GMELINA (Gmelina arborea Roxb. ) DAN TISUK (Hibiscus macrophyllu. Roxb. Ex Horne. HUTAN KIARAPAYUNG. SUMEDANG. JAWA BARAT An Assessment of the Land Characteristics and Optimization Based on the Land Requirements of Gmelina (Gmelina arborea Roxb. ) and Tisuk (Hibiscus macrophyllus Roxb. Ex Horne. the Kiarapayung Forest. Sumedang. West Java. Sopandi Sunarya1 dan Alfi Rumidatul2* Rekayasa Kehutanan. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Institut Teknologi Bandung. Jl. Let. Jend. Purn. Dr. (HC) Mashudi 1. Jatinangor. Kabupaten Sumedang. Jawa Barat 45363. Indonesia. Teknologi Pasca Panen. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Institut Teknologi Bandung. Jl. Let. Jend. Purn. Dr. (HC) Mashudi 1. Jatinangor. Kabupaten Sumedang. Jawa Barat 45363. Indonesia. *Corresponding author: alfirumidatul@itb. ABSTRACT The degradation of forests in Indonesia has resulted in a decrease in the productivity of the land, necessitating the need for the restoration and expansion of forest planting. The primary issue with forest rehabilitation activities is that the characteristics of the growing area are typically marginal and deficient in nutrients. Furthermore, each plant possesses distinct attributes and appropriateness for its specific growing environment. Hence, in order to perform suitable site engineering, it is imperative to undertake land evaluation activities to ascertain the suitability of the land for cultivation and to identify any constraints on the land. The objective of this study is to determine the attributes of the habitat and the factors that restrict the growth of G. arborea and H. macrophyllus seedlings in the Kiarapayung forest. We conducted measurements of soil samples, rainfall, slope, and altitude. The rate analysis identified five suboptimal parameters in the arborea seedling seed garden land: slope, soil pH. C-organic. P, and K potent. Within the suboptimal category, the macrophyllus land is characterized by a single parameter, which is the slope. In order to attain the most favorable plant growth, it is imperative that we enhance the six factors that currently restrict growth on this research land. enhance the inadequate preservation and accessibility of essential nutrients such as pH. C-organic. N, available P, and potential K, it is recommended to administer lime and fertilizer to the soil. Keywords: Gmelina arborea. Hibiscus macrophyllus. Land characteristics. Limiting factor ABSTRAK Degradasi hutan di Indonesia menyebabkan menurunnya produktivitas lahan, sehingga diperlukan kegiatan rehabilitasi dan perluasan penanaman hutan. Permasalahan utama kegiatan rehabilitasi hutan adalah karakteristik tempat tumbuh umumnya lahan marginal dan miskin hara. Di samping itu, setiap tanaman memiliki karakteristik dan kesesuaian yang berbeda-beda terhadap tempat tumbuhnya. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan evaluasi lahan untuk mengetahui karakteristik lahan dan faktor pembatas yang terdapat pada lahan, sehingga bisa melakukan rekayasa tapak yang tepat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik tempat tumbuh dan faktor pembatas kebun benih semai G. dan H. macrophyllus hutan Kiarapayung. Data yang diambil adalah sampel tanah, curah hujan, kelerengan, dan Hasil analisis menunjukkan bahwa lahan kebun benih semai G. arborea memiliki 5 parameter yang berkategori suboptimal yaitu kelerengan, pH tanah. C-organik. P, dan K potensial. Lahan H. macrophyllus memiliki 1 parameter dengan kategori suboptimal yaitu kelerengan. Lokasi penelitian ini memiliki 6 faktor pembatas yang perlu dilakukan perbaikan agar pertumbuhan tanaman lebih optimal. Untuk memperbaiki rendahnya retensi dan ketersediaan hara seperti pH tanah. C-organik. P tersedia, dan K potensial dapat diatasi dengan pemberian kapur dan pupuk pada Kata kunci: Faktor pembatas. Gmelina arborea. Hibiscus macrophyllus. Karakteristik lahan ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 49-57 PENDAHULUAN Hutan berdasarkan fungsinya dengan kriteria dan pertimbangan tertentu ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah RI No. 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan Pasal 5 ayat . yang terbagi atas hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Fungsi perlindungan hutan antara lain sebagai pengendali tata air, pencegah erosi dan banjir, sedangkan fungsi produksi hutan merupakan penghasil kayu dan non kayu. Fungsi hutan sebagai fungsi konservasi dapat berupa sumber plasma nutfah . yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun Indonesia mengalami degradasi hutan secara terusmenerus. Laju degradasi hutan di Indonesia hingga tahun 2022-2023 sangat besar yaitu mencapai 0,12 juta hektar per tahun (Ansar et , 2. Pada umumnya kerusakan hutan di Indonesia diakibatkan oleh penebangan liar, kebakaran hutan, pembukaan kawasan hutan untuk pemukiman, pertanian, perkebunan, dan lain-lain. Degradasi mengakibatkan fungsi-fungsi hutan menjadi Perbaikan fungsi hutan dapat dilakukan dengan kegiatan rehabilitasi dan konservasi lahan dengan melakukan penanaman pada lahan kritis dan terdegradasi serta peningkatan produktivitas lahan. Kerusakan lahan hutan juga menyebabkan terjadinya penurunan produksi kayu dari hutan alam dan meningkatkan luas lahan kritis yang kurang Kondisi ini menggambarkan bahwa Namun rehabilitasi dengan pembangunan hutan tanaman umumnya ditanam pada lahan marginal atau miskin hara (Arvianti et al. , 2. Hal ini menjadi salah satu permasalahan utama dalam melakukan rehabilitasi hutan. Permasalahan ini berkaitan dengan karakteristik tempat tumbuh tanaman karena setiap jenis tanaman memiliki karakteristik dan kesesuaian yang berbeda-beda terhadap tempat tumbuhnya (Hidayat, et al. Selain itu, kegiatan rehabilitasi lahan dan pembangunan hutan tanaman juga memerlukan pasokan benih yang bermutu baik secara fisik maupun secara genetik. Benih yang bermutu dapat diperoleh melalui tegakan hutan yang telah dilakukan program pemuliaan, sebagaimana penelitian yang telah dilakukan Setiadi . Salah satu tegakan hutan yang sudah dilakukan program pemuliaan adalah Kebun Benih Semai (KBS) Hutan Kiarapayung. Kebun Benih Semai Hutan Kiarapayung merupakan salah satu kebun benih yang bertujuan untuk memberikan pasokan benih di Jawa Barat. Spesies tanaman yang ditanam di kebun benih ini adalah Gmelina arborea dan Hibiscus macrophyllus. Sebelum didapatkan tegakan hutan yang bermutu tinggi, diperlukan adanya evaluasi karakteristik lahan untuk mengetahui apakah lahan tersebut optimal dijadikan tempat tumbuh tanaman hutan dan mengetahui faktor pembatas yang ada di lahan tersebut agar dapat menentukan rekayasa tapak yang tepat untuk diaplikasikan di lahan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tempat tumbuh dan menentukan faktor pembatas kebun benih semai G. arborea dan H. macrophyllus Hutan Kiarapayung. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kebun Benih Semai G. arborea dan H. macrophyllus di Kiarapayung. Wilayah penelitian berada pada 076 mdpl dan memiliki luas sekitar 5 hektar. Lokasi penelitian ditunjukkan oleh Gambar 1. ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 49-57 Gambar 1. Areal penelitian Data primer yang diambil adalah sampel tanah, kelerengan, dan ketinggian. Sampel tanah diambil dengan cara purposive sampling kelerengan (Damanik et al. , 2. Sampel tanah yang telah diambil kemudian dilakukan pengujian di laboratorium untuk mendapatkan data karakteristik tanah seperti pH H2O. Corganik. N-total. P2O5. K2O. Kapasitas Tukar Kation (KTK), dan salinitas. Data kelerengan diambil menggunakan drone yang kemudian dianalisis untuk mendapatkan data DEM. Data ketinggian diambil menggunakan GPS (Global Positioning Syste. Garmin dan Google Earth (Stefano, 2. Data sekunder yang digunakan pada penelitian ini adalah curah hujan dengan menggunakan Marksim DSSAT weather file generator (Ishaque et al. , 2. Seluruh data karakteristik lahan yang diperoleh dari prosedur pengambilan sampel mulai dari sampel tanah, curah hujan, kelerengan, dan ketinggian disusun dalam satu tabel untuk proses pencocokan . dengan persyaratan tumbuh tanaman yang Metode secara umum dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Kesesuaian karakteristik tempat tumbuh untuk pembangunan Sumber Benih Semai Tanaman Hutan ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 49-57 i. HASIL DAN PEMBAHASAN generator untuk mendapatkan rata-rata curah hujan 10 tahun terakhir. Grafik curah hujan dapat dilihat pada Gambar 3. Hasil Curah Hujan Data curah hujan diambil menggunakan prosedur Marksim DSSAT weather file Gambar 3. Grafik rata-rata curah hujan di areal penelitian Kelerengan dan Ketinggian Data kelerengan diambil menggunakan prosedur drone dan dianalisis menggunakan data DEM yang hasilnya dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Kelerengan lahan . Gmelina arborea dan . Hibiscus macrophyllus ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 49-57 Kesuburan Tanah Data kesuburan tanah pada lahan Gmelina arborea dan Hibiscus macrophyllus dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Kesuburan Tanah Tapak Gmelina arborea dan Hibiscus macrophyllus Parameter pH : H2O C organik N total P2O5 (Bray/Olse. K20 HCl 25% KTK Salinitas Parameter pH : H2O C organik N total P2O5 (Bray/Olse. K20 HCl 25% KTK Salinitas Gmelina arborea Hasil Kriteria* Masam Rendah Rendah Sedang Rendah Tinggi Sangat rendah Hibiscus macrophyllus Satuan Hasil Kriteria* Masam Rendah Rendah Sedang mg/100g Sedang cmol/kg Tinggi Sangat Rendah Satuan mg/100g cmol/kg Karakteristik* Suboptimal Suboptimal Suboptimal Suboptimal Suboptimal Optimal Optimal Karakteristik* Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal * Food and Agriculture Organization of The United Nations . Faktor Pembatas Faktor pembatas pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Faktor pembatas Gmelina arborea Parameter Satuan Hasil Kriteria* Kelerengan 15 s/d >45% Sangat curam pH : H2O Masam C organik Rendah N total Rendah P2O5 (Bray/Olse. Rendah K20 HCl 25% mg/100g Rendah Hibiscus macrophyllus Parameter Satuan Hasil Kriteria* Kelerengan 15 s/d >45% Sangat curam pH : H2O Masam C organik Rendah N total Rendah P2O5 (Bray/Olse. Rendah K20 HCl 25% mg/100g Sedang * Food and Agriculture Organization of The United Nations . ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 49-57 Pembahasan Curah Hujan Curah hujan merupakan jumlah air yang jatuh ke permukaan tanah selama periode tertentu yang diukur dengan satuan milimeter di atas permukaan horizontal. Dalam artian lain curah hujan juga dapat diartikan sebagai ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap maupun mengalir. Curah hujan merupakan unsur iklim yang memiliki fluktuasi tinggi dan berpengaruh terhadap produksi Air dari hujan merupakan input air terbesar dalam memenuhi kebutuhan air Proses metabolisme tanaman membutuhkan air dalam jumlah yang berbeda, bergantung pada jenis tanaman, umur dan fase pertumbuhan, waktu tanam, pola tanam,serta jenis tanah (Mahdya et al. , 2. Data curah hujan diambil menggunakan Marksim DSSAT weather file generator untuk mendapatkan rata-rata curah hujan 10 tahun Akumulasi curah hujan sebesar 843,7 mm/tahun dengan 1 bulan kering setiap tahunnya (Bulan Jul. Curah hujan optimal bagi pertumbuhan G. Arborea karena curah hujan optimal bagi pertumbuhan G. Arborea pada kisaran 750-4. 500 mm/tahun (Orwa, et. , 2. Begitu pula bagi H. dapat tumbuh baik pada wilayah dengan curah hujan hingga 3. 000 mm/tahun (Sudomo. Kelerengan dan Ketinggian Kelerengan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan harus diperhatikan sejak penyiapan lahan sebelum penanaman. Lahan yang memiliki kelerengan yang curam akan mudah terganggu dan rusak seperti erosi atau longsor. Semakin curam suatu lahan maka akan meningkatkan aliran permukaan (Maulana et al. , 2. Setelah dilakukan pengambilan foto udara menggunakan drone dan dianalisis data DEM didapat peta kelerengan seperti pada Gambar 4. Untuk lahan G. arborea, dari total 516 hektar, 1. 113 hektar diantaranya atau 73% dari total luasan memiliki kelerengan 15% hingga lebih dari 45%. Begitu juga untuk lahan H. macrophyllus, dari total areal 0,3 hektar, 0,23 hektar diantaranya atau 77% dari total luasan memiliki kelerengan 15% hingga lebih dari 45%. Kelerengan ini termasuk kategori agak curam hingga sangat curam (Febriantika et al. , 2. Kelerengan ini kurang cocok atau kurang optimal untuk dijadikan areal penanaman G. arborea karena spesies ini memiliki perakaran yang dangkal (Indrajaya dan Siarudin, 2. Begitupun dengan H. macrophyllus yang umumnya tumbuh lebih baik pada lahan yang relatif datar (Susanto dan Mashudi, 2. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor kelerengan pada penelitian ini menjadi salah satu faktor pembatas yang membutuhkan upaya perbaikan atau rekayasa tapak yang tepat agar dapat dijadikan tempat tumbuh yang optimal. Menurut Pamungkas et al. , 2024, beberapa teknik manajemen kelerengan yang efektif adalah . pembuatan terasering yang bertujuan untuk mengurangi panjang dan kemiringan lereng, menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, serta meningkatkan penyerapan air oleh tanah. pengelolaan drainase lereng untuk mengendalikan aliran air hujan yang dapat memicu longsor. analisis stabilitas lereng terhadap curah hujan dan . optimasi lereng terasering dengan analisis metode Fellenius untuk membantu dalam menentukan desain terasering yang optimal untuk mencegah longsor. Daerah penelitian ini berada pada 076 mdpl. Ketinggian pertumbuhan tanaman. Ketinggian tempat mencakup temperatur udara, intensitas cahaya matahari, dan kelembaban udara. Rentang ketinggian ini masuk kategori optimal untuk kedua jenis tanaman. arborea dapat tumbuh optimal hingga ketinggian 1. 500 mdpl (Indrajaya dan Siarudin, 2. Begitupun ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 49-57 untuk H. macrophyllus yang umum ditanam di Indonesia hingga ketinggian 1. 400 mdpl (Susanto dan Mashudi, 2. Kesuburan Tanah Kesuburan tanah merupakan suatu kondisi tanah dimana tata air, udara, dan unsur hara berada dalam keadaan yang cukup sesuai dengan kebutuhan tanaman (Banggo et al. Kesuburan tanah ditinjau dari ketersediaan dan retensi hara di dalam tanah. Beberapa parameter yang menjadi indikator kesuburan tanah adalah pH tanah. C organik. KTK (Kapasitas Tukar Katio. , dan Untuk lahan G. arborea, dari seluruh parameter kesuburan tanah terdapat 5 parameter yang masuk kategori suboptimal yaitu pH. C organik. P, dan K. Kategori ini merujuk kepada penelitian yang mengatakan bahwa G. arborea tidak cocok tumbuh pada lahan dengan kadar nitrogen, fosfor, dan kalium yang rendah (Indrajaya dan Siarudin, 2. Nilai pH 4,0-5,0 juga termasuk ke dalam kategori suboptimal bagi arborea (Nahak et al. , 2. Untuk tanaman tisuk, seluruh parameter kesuburan tanah masuk kategori optimal. Tisuk dapat tumbuh relatif bagus bahkan pada lahan dengan pH di bawah 5,0. C organik 1,161,25. Nitrogen 0,09%, kadar P di bawah 2 ppm, dan K 22-61 mg/100g (Fathoni et al. Namun dalam kondisi ini tetap direkomendasikan untuk diberikan perlakuan pertumbuhannya lebih optimal. Menurut Wardhani et al. , 2020, treatment manajemen pertumbuhan kayu tisuk, diantaranya adalah . analisis kesuburan tanah awal untuk mengetahui kandungan unsur hara dan sifat fisik tanah. pemberian pupuk makro (N. K) untuk meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman tisuk. pengelolaan tumbuhan bawah yang dapat membantu menciptakan iklim mikro di lantai hutan, menjaga tanah dari bahaya erosi, serta . penambahan bahan organik seperti kompos atau seresah dapat meningkatkan kandungan hara dan memperbaiki struktur tanah. pengelolaan pH tanah yang akan mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan . konservasi tanah dan air seperti pembuatan terasering, penanaman penutup tanah, dan pengelolaan air yang baik dapat mencegah erosi dan mempertahankan kesuburan tanah. Pada seluruh parameter yang sudah dilakukan pencocokan didapatkan bahwa karakteristik lahan G. arborea dan H. macrophyllus secara keseluruhan berkategori Terdapat satu parameter yang menyebabkan lahan tersebut menjadi suboptimal yaitu parameter kelerengan. Jika parameter kelerengan tidak cocok dengan mengakibatkan lahan tersebut menjadi marginal (Maulana et al. , 2. Kelerengan merupakan salah satu parameter yang lebih diprioritaskan dibandingkan parameter Untuk kesesuaian lahan, apabila seluruh parameter bernilai sesuai/optimal sebagai media tumbuh tanaman, namun jika parameter kelerengan bernilai kurang sesuai/kurang optimal, maka kesesuaian lahan secara keseluruhan akan menjadi kurang sesuai/kurang optimal. Faktor Pembatas Faktor pembatas adalah penyimpangan dari kondisi optimal karakteristik dan kualitas lahan yang memberikan pengaruh buruk untuk berbagai penggunaan lahan (Susanti et al. , 2. Faktor pembatas ini biasanya berkaitan dengan sifat fisik, kimia, dan biologi lahan, serta kondisi lingkungan. Faktor-faktor pembatas tersebut dapat berupa ketinggian tempat, curah hujan, tekstur tanah, kedalaman efektif, drainase, erosi, tutupan batuan, kemiringan lereng, vegetasi. Faktor-faktor pembatas tersebut dapat ISSN 2797-4502 . ISSN 1412-4696 . Jurnal Nusa Sylva Vol. 24 No. 2 (Desember 2. : 49-57 dikelompokkan ke dalam kelas kesesuaian lahan, yaitu: S1 . angat sesua. S2 . ukup sesua. S3 . esuai margina. Faktor pembatas pada penelitian ini adalah membutuhkan upaya perbaikan atau perlakuan khusus agar karakteristik lahan menjadi optimal. Dari seluruh faktor karakteristik lahan pada penelitian ini, terdapat 6 parameter yang menjadi faktor pembatas yaitu kelerengan, pH tanah. C organik, nitrogen, fosfor, dan kalium. Parameterparameter ini membutuhkan upaya perbaikan khusus agar menjadi lebih optimal untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan Kelerengan agak curam hingga curam dapat diatasi dengan penanaman tanaman penutup tanah atau Legume Cover Crop (LCC) (Astuti et al. , 2. Penanaman tanaman penutup tanah dapat melindungi tanah dari proses penghancuran agregat tanah yang disebabkan oleh air hujan dan menurunkan aliran permukaan. Sedangkan untuk kelerengan agak curam (>45%) dapat diatasi dengan pembuatan teras (Deng et al. Untuk mengatasi rendahnya unsur hara tanah dapat dilakukan dengan Pupuk yang paling tepat adalah pupuk organik untuk meningkatkan kadar C organik, pupuk urea untuk N, pupuk TSP untuk P, dan pupuk KCL untuk K (Murnita et al. , 2. Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pupuk NPK. Namun penggunaan pupuk ini seharusnya dilakukan sebelum kegiatan penanaman agar tanaman dapat tumbuh lebih optimal dari awal pertumbuhannya. IV. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Karakteristik tempat tumbuh G. arborea dan H. macrophyllus termasuk kategori suboptimal. Terdapat enam faktor pembatas karakteristik lahan pada penelitian ini yaitu kelerengan yang agak curam hingga sangat curam, pH tanah yang masam, kadar C organik rendah, nitrogen rendah, fosfor rendah, dan kalium rendah. Saran Perlu dilakukan perbaikan pada lahan penelitian agar pertumbuhan tanaman lebih Untuk memperbaiki rendahnya retensi dan ketersediaan hara seperti pH tanah. Corganik. P tersedia, dan K potensial dapat diatasi dengan pemberian kapur dan pupuk pada tanah. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini dapat terlaksana berkat pihak-pihak yang telah membantu keberjalanan Ucapan terimakasih peneliti sampaikan kepada pihak Sertifikasi Perbenihan Tanaman Hutan (SPTH) Jawa Barat yang telah membantu peneliti dalam pengumpulan data. DAFTAR PUSTAKA