E-ISSN: 2809-8544 PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH MULTICULTURAL APPROACH TO RELIGIOUS EDUCATION IN MADRASAH Ahmad Jauhari1*. Suwendi2 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Indonesia *Email Correspondence: ahmadjauhari@mail. Abstract This research aims to analyze the Multicultural Approach in Islamic Religious Education in Madrasahs. The method used is descriptive qualitative. This research conducts an in-depth review of various sources such as reference books, scientific journal articles, educational policy documents, and relevant research reports. The study results indicate that there are efforts to implement a multicultural approach in madrasahs, which is integrated into various learning activities. The goal of this effort is to foster attitudes of tolerance and respect for diversity, whether in terms of religion, culture, ethnicity, and so on. However, in practice, the implementation is not as easy as it is imagined in theory. There are obstacles, such as the lack of in-depth understanding of the multicultural approach among educators and students. The proposed solution is to implement education and training for educators so that they can master the techniques of conducting lessons with a multicultural approach effectively. Related to this approach, there have been several previous studies examining its implementation in schools with highly heterogeneous students. Unlike this study, which focuses on implementation in madrasahs, where students are generally homogeneous, especially in terms of religion. The findings of this research emphasize the importance of applying a multicultural approach in madrasahs to create a more inclusive and tolerant learning environment. Keywords: Multicultural Approach. Islamic Religious Education. Diversity. Madrasah. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pendekatan Multikultural dalam Pendidikan Agama Islam di Madrasah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Penelitian ini melakukan telaah mendalam terhadap berbagai sumber seperti buku referensi, artikel jurnal ilmiah, dokumen kebijakan pendidikan, dan laporan penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ada upaya untuk menerapkan pendekatan multikultural di madrasah, yang diintegrasikan dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Tujuan dari upaya ini adalah untuk membentuk sikap toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman, baik dalam hal agama, budaya, suku, dan lainnya. Namun, dalam praktiknya, penerapan ini tidak semudah yang dibayangkan dalam teori. Terdapat hambatan, seperti kurangnya pemahaman yang mendalam tentang pendekatan multikultural di kalangan pendidik dan peserta didik. Solusi yang diusulkan adalah melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi pendidik agar mereka dapat menguasai teknik pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan multikultural secara efektif. Terkait dengan pendekatan ini, terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang meneliti implementasinya di sekolah dengan peserta didik yang sangat heterogen. Berbeda dengan penelitian ini, yang fokus pada penerapan di madrasah, di mana peserta didik umumnya homogen, terutama dalam aspek agama. Temuan penelitian ini menekankan pentingnya penerapan pendekatan multikultural di madrasah untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif dan toleran. Kata kunci: Pendekatan Multicultural. Pendidikan Agamaislam. Keberagaman. Madrasah. PENDAHULUAN Pendidikan agama di madrasah memiliki peranan yang krusial dalam membentuk karakter dan sikap toleransi peserta didik di lingkungan masyarakat yang beragam. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dirancang dengan pendekatan inklusif dan kontekstual dapat menanamkan nilai-nilai universal seperti cinta kasih, keadilan, dan perdamaian, yang berkontribusi besar dalam membangun sikap toleran dan penghargaan terhadap Menurut (W. Kurniawan, 2. bahwa pendidikan agama Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik, terutama di masyarakat Dengan adanya keragaman latar belakang budaya, agama, dan etnis, pendidikan agama tidak hanya mengajarkan ajaran agama secara tekstual, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang bersifat universal. Menurut (Tobondo, 2. menambahkan bahwa pendidikan Islam yang dikelola dengan baik dapat menjadi alat yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan keadilan. Menurut Huda dalam (Mukarom, 2. juga menyatakan bahwa pendidikan Islam perlu menyeimbangkan aspek spiritual, intelektual, dan sosial agar peserta didik dapat memahami agama secara inklusif. Adapun Edi Susanto dalam (Noviana, 2. juga mengungkapkan bahwa pendidikan agama Islam multikultural merupakan upaya komprehensif untuk mencegah konflik antaragama, menghindari radikalisasi, serta sekaligus memupuk sikap positif terhadap pluralitas dalam berbagai dimensi, dengan visi dan misi untuk mewujudkan agama yang lebih santun, dialogis, dan peduli terhadap isu-isu komunal yang transformatif. Selain itu, penerapan desain pembelajaran PAI yang terstruktur dan berbasis multikultural terbukti efektif dalam meningkatkan sikap toleransi peserta didik, terutama melalui metode pembelajaran yang mendorong penerapan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Peran pendidik PAI juga sangat strategis dalam mencegah intoleransi dengan mengintegrasikan nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara tekstual tetapi juga mampu menginternalisasi sikap toleran dan moderat. Oleh karena itu, pendidikan agama di madrasah tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengajaran agama, tetapi juga sebagai wahana strategis dalam membangun karakter peserta didik yang toleran dan mampu hidup berdampingan secara harmonis di masyarakat yang pluralistik. Masyarakat Indonesia yang multikultural memerlukan pendekatan pendidikan yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menghargai keberagaman budaya dan agama sebagai dasar penting dalam menciptakan harmoni sosial dan kohesi Pendidikan multikultural di Indonesia berperan penting dalam membangun kesadaran akan pentingnya toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan, yang diwujudkan melalui integrasi nilai-nilai keberagaman dalam kurikulum dan praktik pembelajaran di sekolah maupun madrasah. Terkait dengan pendidikan multikultural ini. Ambaraudin dalam (Iskandar, 2. menyatakan bahwa pendidikan multikultural merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan penghargaan terhadap keberagaman budaya, etnis, serta nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. Menurut Ibrahim dalam (Arifudin, 2. juga menegaskan bahwa pendekatan ini tidak hanya berupaya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, tetapi juga mendorong peserta didik untuk memahami, menghormati, dan menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan sosial. Implementasi pendidikan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. multikultural yang efektif melibatkan kolaborasi antara peserta didik, lembaga pendidikan, orang tua, dan komunitas untuk memberdayakan peserta didik melalui dialog antarbudaya, penggunaan bahan ajar yang relevan secara budaya, serta proyek kolaboratif lintas budaya yang mendorong sikap saling menghargai. Pendekatan multikultural dalam pendidikan agama menjadi strategi yang sangat relevan dalam mengembangkan sikap saling menghormati dan mengurangi konflik antar kelompok sosial dan agama, khususnya di lingkungan madrasah yang memiliki keberagaman latar belakang peserta didik. Menurut (W. Kurniawan, 2. menyatakan bahwa teori sosial menunjukkan bahwa dalam masyarakat multikultural, pendidikan harus bersifat inklusif dan dialogis untuk menciptakan lingkungan yang harmonis. Dalam konteks ini, pendidikan agama Islam memiliki peran penting dalam merespons keberagaman budaya dan agama yang ada. Dengan menerapkan pendekatan pendidikan yang dialogis, pendidikan agama dapat menjadi sarana untuk mempertemukan berbagai perspektif, mendorong peserta didik untuk berbagi pandangan dan pengalaman mereka. Teori interaksi sosial menjelaskan bahwa pembelajaran yang terjadi melalui interaksi antara individu dapat memperkaya pemahaman dan mengembangkan sikap saling menghargai. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam harus dirancang untuk menciptakan ruang di mana peserta didik dapat berinteraksi secara positif dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda, sehingga mereka dapat belajar untuk menghargai dan memahami perbedaan Salah satu hasil penelitian terbaru (Mahmud, 2. menyatakan bahwa pendekatan multikultural perlu dimasukkan ke dalam kurikulum dan kegiatan Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan cara memperkenalkan dan menghormati keragaman budaya, agama, dan nilainilai yang ada di masyarakat. Dalam PAI, ini dapat diwujudkan dengan mengajarkan peserta didik nilai-nilai universal seperti toleransi, kerja sama, dan rasa hormat satu sama lain. Hasil penelitian lain juga memperlihat perihal yang sama, seperti yang dikemukakan oleh (Syahidin, 2. dalam penelitiannya di SMA Negeri 1 Bunguran Timur Kabupaten Natuna, yang menyatakan bahwa pendidikan multikultural merupakan suatu keharusan dalam pendidikan di Indonesia mengingat kemajemukan yang dimiliki oleh masyarakat. Kemajemukan tersebut tidak hanya dalam perbedaan agama, tetapi juga mencakup banyak suku, budaya, seni, adat istiadat, dan kebiasaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemajemukan ini, baik diakui atau tidak, dapat menimbulkan berbagai persoalan atau konflik antarkelompok dalam masyarakat, sehingga dapat memunculkan instabilitas keamanan dan ketidakharmonisan sosial jika masyarakat Indonesia tidak memiliki kesadaran multikultural. Dengan demikian, multikulturalisme menjadi sangat penting untuk menjaga keutuhan Indonesia. Pendapat-pendapat ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan agama (Isla. yang mengadopsi pendekatan multikultural sangat mendesak dalam rangka memperkuat harmoni sosial di sekolah maupun masyarakat luas, sekaligus membentuk generasi yang toleran dan berwawasan luas. Alhikmah dalam (Suryana, 2. menjelaskan implementasi pendekatan multikultural di madrasah masih menghadapi berbagai tantangan signifikan, termasuk ketidaksesuaian kurikulum dengan kebutuhan keberagaman dan kurangnya kompetensi pendidik dalam SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. mengelola dinamika multikultural di kelas. Kurikulum yang ada sering kali belum responsif terhadap konteks sosial budaya yang majemuk, sehingga kurang mampu mengakomodasi nilai-nilai keberagaman secara efektif dalam proses pembelajaran. Menurut Amin dalam (Zaelani, 2. menyatakan bahwa pendidikan multikultural di negara multikultural seperti Indonesia memiliki peranan yang sangat penting, karena tanpa pendidikan multikultural. Indonesia berpotensi mengalami perpecahan mengingat masyarakatnya yang sangat Oleh karena itu, dalam kurikulum pendidikan, kebijakan pemerintah memberikan porsi pendidikan multikultural untuk peserta didik. Di pendidikan formal, setiap peserta didik memperoleh pembelajaran pendidikan multikultural yang terintegrasi dalam mata pelajaran atau mata kuliah, seperti pendidikan agama Islam, pendidikan Pancasila, pendidikan kewarganegaraan, sejarah, dan lain-lain. Pendidikan multikultural memiliki beberapa nilai yang harus dibentuk pada setiap peserta didik, yaitu kesetaraan, demokrasi, toleransi, dan pluralisme. Selain tantangan yang telah disebutkan, keterbatasan sumber daya dan resistensi budaya juga menjadi hambatan utama dalam penerapan pendidikan multikultural, terutama di lingkungan madrasah dan pesantren yang memiliki tradisi pendidikan yang kuat dan khas. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tarnoto dalam (Ruslan, 2. yang menunjukkan bahwa di beberapa lingkungan pendidikan Nahdlatul Ulama (NU), pendidikan berbasis kitab kuning dan metode pengajaran tradisional masih sangat dominan. Integrasi pendidikan multikultural dalam kurikulum sering kali dianggap perlu disesuaikan agar tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang dianut. Selain itu, tidak semua tenaga pendidik memiliki pemahaman yang mendalam tentang pendidikan multikultural, sehingga diperlukan pelatihan khusus agar mereka dapat mengajarkan nilai-nilai keberagaman dengan cara yang tetap relevan dengan tradisi keislaman. Temuan yang serupa juga dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Zakiah dkk dalam (Kusmawan, 2. bahwa yang mengidentifikasi kendala atau tantangan yang muncul dalam pelaksanaannya. Tantangan lainnya adalah adanya perbedaan dalam penerimaan masyarakat terhadap konsep multikulturalisme. Di beberapa daerah, keberagaman budaya dan agama masih menjadi isu yang sensitif, sehingga upaya membangun lingkungan belajar yang inklusif menghadapi hambatan sosial. Prasangka dan stereotip terhadap kelompok lain masih sering muncul, yang membuat implementasi pendidikan multikultural menjadi lebih Selain itu, infrastruktur pendidikan di lingkungan NU masih terbatas, sehingga dukungan dari Kementerian Agama dalam bentuk kebijakan afirmatif sangat diperlukan agar pendidikan multikultural dapat berjalan lebih efektif. Tantangan lain yang juga cukup mendesak adalah kurangnya pelatihan dan pengembangan kapasitas pendidik dalam mengelola kelas multikultural, yang menyebabkan rendahnya pemahaman pendidik terhadap prinsip-prinsip pendidikan inklusif dan Hal ini membuat pembelajaran yang diberikan kurang mampu menumbuhkan sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Eksklusivisme dalam pemahaman agama yang masih melekat pada sebagian pendidik dan peserta didik berpotensi menghambat proses dialog antarbudaya dan antaragama di madrasah. Oleh karena itu, penguatan kebijakan pendidikan yang inklusif, pengembangan kurikulum berbasis SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. keberagaman, serta peningkatan kapasitas pendidik melalui pelatihan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak untuk mengatasi hambatan tersebut dan menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mampu membentuk peserta didik yang toleran dan berwawasan TINJAUAN PUSTAKA Multikultural Menurut Abdullah dalam (Waluyo, 2. , multikulturalisme merupakan pemahaman yang menekankan pada disparitas dan persamaan budaya lokal tanpa mengabaikan hak dan eksistensi budaya yang ada. Dengan kata lain, penekanan multikulturalisme terletak pada kesetaraan budaya. Choirul Mahfud dalam (Lahiya, 2. menyatakan bahwa multikulturalisme adalah Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi . , kultur . , dan isme . liran/ paha. Secara hakiki dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dengan komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing. Multikulturalisme sendiri didefinisikan oleh May dalam (Kartika, 2. sebagai, sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas budaya seseorang, serta sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain. Ia meliputi sebuah penilaan terhadap budaya-budaya orang lain, bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari budaya-budaya tersebut, melainkan mencoba melihat bagaimana sebuah budaya yang asli dapat mengeskpresikan nilai bagi anggotaanggotanya sendiri. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa multikulturalisme adalah pemahaman yang membenarkan dan meyakini relativisme budaya yang disebabkan oleh keragaman budaya, keragaman etnis dengan ciri-cirinya. Sehingga dasar munculnya multikulturalisme bermuara pada kajian dan kebudayaan. Dari doktrin ini diharapkan akan muncul antusiasme dan rasa hormat terhadap perbedaan budaya dan akan muncul toleransi lebih lanjut dalam hidup berdampingan dengan keberagaman. Pendidikan Agama Islam Zuhairimi dalam (Farid, 2. mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai asuhanasuhan secara sistematis dalam membentuk anak didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam. Menurut Zakiah Daradjat dalam (As-Shidqi, 2. menjelaskan pendidikan agama Islam adalah suatu usaha dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung didalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat kelak. Sedangkan berdasarkan Uhbiyati dalam (As-Shidqi, 2. menjelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan anak untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antarumat beragama hingga terwujud kesatuan persatuan bangsa. Pendidikan Agama Islam juga SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. merupakan upaya mendidikkan agama Islam atau ajaran dan nilai- nilainya agar menjadi way of life . andangan hidu. dan sikap hidup seseorang. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah merupakan usaha sadar dan terencana dalam rangka untuk mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yag telah ditetapkan serta menjadikan ajaran ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat kelak. METODE Menurut Rahardjo dikutip (Arifudin, 2. bahwa metode penelitian merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mencari kebenaran yang bersifat tentatif, bukan kebenaran Hasilnya berupa kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang terbuka untuk terus diuji, dikritik bahkan direvisi. Oleh karena itu tidak ada metode terbaik untuk mencari kebenaran, tetapi yang ada adalah metode yang tepat untuk tujuan tertentu sesuai fenomena yang ada. Budiharto dikutip (Rismawati, 2. bahwa pemilihan metode penelitian harus disesuaikan dengan penelitian yang sedang dilakukan agar hasilnya optimal. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa metode deskriptif. Menurut (Judijanto, 2. bahwa kualitatif deskriptif adalah penelaahan dengan memusatkan diri secara intensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu Dalam penelitian ini, digunakan untuk menggali secara mendalam analisis pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di Madrasah. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam (Kartika, 2. menyatakan pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut (Arifudin, 2. bahwa caranya dengan mentranskripsikan data, kemudian pengkodean pada catatan-catatan yang ada di lapangan dan diinterpretasikan data tersebut untuk memperoleh kesimpulan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian lapangan . ield researc. Menurut (Wahrudin, 2. bahwa pendekatan ini disesuaikan dengan tujuan pokok penelitian, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis mengenai analisis pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di Madrasah. Sehingga dengan metode tersebut akan mampu menjelaskan permasalahan dari penelitian (Nuryana, 2. Bungin dikutip (Supriani, 2. menjelaskan bahwa penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan situasi, kondisi, atau fenomena sosial yang terdapat di masyarakat kemudian dijadikan sebagai objek penelitian, dan berusaha menarik realitas ke permukaan sebagai suatu mode atau gambaran mengenai kondisi atau situasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di Madrasah. Penentuan teknik pengumpulan data yang tepat sangat menentukan kebenaran ilmiah suatu penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi. Wawancara dan Dokumentasi. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Teknik dapat dilihat sebagai sarana untuk melakukan pekerjaan teknis dengan hatihati menggunakan pikiran untuk mencapai tujuan. Walaupun kajian sebenarnya merupakan upaya dalam lingkup ilmu pengetahuan, namun dilakukan untuk mengumpulkan data secara realistik secara sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Metodologi penelitian adalah sarana untuk menemukan obat untuk masalah apa pun. Dalam hal ini, penulis mengumpulkan informasi tentang analisis pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di Madrasah, artikel, jurnal, skripsi, tesis, ebook, dan lain-lain (Zulfa, 2. Karena membutuhkan bahan dari perpustakaan untuk sumber datanya, maka penelitian ini memanfaatkan penelitian kepustakaan. Peneliti membutuhkan buku, artikel ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan topik dan masalah yang mereka jelajahi, baik cetak maupun online (Aidah, 2. Mencari informasi dari sumber data memerlukan penggunaan teknik pengumpulan Amir Hamzah dalam (Delvina, 2. mengklaim bahwa pendataan merupakan upaya untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pokok bahasan yang diteliti. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk mengumpulkan data. Secara khusus, penulis memulai dengan perpustakaan untuk mengumpulkan informasi dari buku, kamus, jurnal, ensiklopedi, makalah, terbitan berkala, dan sumber lainnya yang membagikan pandangan pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di Madrasah. Lebih lanjut Amir Hamzah mengatakan bahwa pengumpulan data diartikan berbagai usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang berkaitan dengan topik atau pembahasan yang sedang atau akan digali (Abduloh et al, 2. Rincian tersebut dapat ditemukan dalam literatur ilmiah, penelitian, dan tulisan-tulisan ilmiah, disertasi, tesis, dan sumber tertulis Menurut (Nasril, 2. bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai keadaan, menggunakan sumber yang berbeda, dan menggunakan teknik yang berbeda. Observasi adalah bagian dari proses penelitian secara langsung terhadap fenomenafenomena yang hendak diteliti (Nuryana, 2. Dengan metode ini, peneliti dapat melihat dan merasakan secara langsung suasana dan kondisi subyek penelitian . Hal-hal yang diamati dalam penelitian ini adalah tentang analisis pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di Madrasah. Teknik wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan menggunakan berbagai pedoman baku yang telah ditetapkan, pertanyaan disusun sesuai dengan kebutuhan informasi dan setiap pertanyaan yang diperlukan dalam mengungkap setiap data-data empiris (Nita, 2. Dokumentasi adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui dokumen atau catatan-catatan tertulis yang ada. Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, notula rapat, dan catatan harian. Menurut Moleong dalam (Supriani, 2. bahwa metode dokumentasi adalah cara pengumpulan informasi atau data-data melalui pengujian arsip dan dokumen-dokumen. Lebih lanjut menurut (Supriani, 2. bahwa strategi dokumentasi juga merupakan teknik pengumpulan data yang diajukan kepada subyek penelitian. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data tentang keadaan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. byek penelitia. yaitu analisis pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di Madrasah. Moleong dikutip (M. Kurniawan, 2. menjelaskan bahwa data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun Syarifah et al dalam (Kartika, 2. menjelaskan reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi yang relevan, penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi yang sistematis, dan kesimpulan ditarik berdasarkan temuan penelitian. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yakni membandingkan informasi dari para narasumber. Menurut Moleong dalam (Romdoniyah, 2. , triangulasi sumber membantu meningkatkan validitas hasil penelitian dengan membandingkan berbagai perspektif terhadap fenomena yang diteliti. Menurut Muhadjir dalam (Paturochman, 2. menyatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan melakukan, mencari dan menyusun catatan temuan secara sistematis melalui pengamatan dan wawancara sehingga peneliti fokus terhadap penelitian yang Setelah itu, menjadikan sebuah bahan temuan untuk orang lain, mengedit, mengklasifikasi, dan menyajikannya. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi meliputi teknik dan sumber. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dalam (Arif, 2. terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Penerapan Pendekatan Multicultural Dalam Pendidikan Agama Di Madrasah Dalam era globalisasi yang ditandai oleh meningkatnya mobilitas manusia, arus informasi yang tak terbatas, serta interaksi antarbudaya yang semakin intens, isu mengenai keragaman budaya menjadi semakin penting untuk dibahas, terutama dalam konteks Pendidikan dengan pendekatan multikultural hadir sebagai respons terhadap tantangan keberagaman ini. Konsep ini tidak hanya menekankan pentingnya toleransi dan pengakuan terhadap perbedaan, tetapi juga mengedepankan keadilan dan kesetaraan dalam mengakses pendidikan yang inklusif dan relevan bagi semua kelompok etnis, agama, dan Pendidikan multikultural bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis melalui proses pendidikan yang menghargai perbedaan dan mengeliminasi diskriminasi. Dalam konteks penerapan pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di madrasah, menjadi strategi penting untuk membentuk sikap toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman budaya dan agama di Indonesia yang majemuk. Pendekatan ini menekankan integrasi nilai-nilai multikultural ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan tujuan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan harmonis, di mana peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara tekstual, tetapi juga menginternalisasi sikap saling menghormati antar kelompok sosial dan agama. Sejalan dengan pendapat Moussa et al. Purnomo et al. Atika & Yuniarti dalam (Rifa'i, 2. yang menyatakan bahwa pendidikan multikultural dalam Islam dapat dilihat sebagai upaya untuk membangun karakter peserta didik yang toleran dan menghargai perbedaan, yang merupakan nilai-nilai inti dalam ajaran Islam. Menurut Kurniawan dalam (Firdaus, 2. implementasi SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. pendidikan multikultural dalam kurikulum pendidikan Islam dapat dilakukan melalui beberapa strategi, di antaranya adalah integrasi nilai-nilai multikultural dalam materi pelajaran, metode pengajaran yang inklusif, serta budaya sekolah yang menghargai Kurikulum pendidikan Islam perlu mengadopsi prinsip pluralisme pemikiran, sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah peradaban Islam klasik yang merangkul perbedaan mazhab, pemikiran, dan budaya. Lebih lanjut. Hadi Saputra dalam (Rohimah, 2. menyebutkan bahwa sejumlah madrasah di Indonesia sudah mulai mengadopsi pendekatan ini, misalnya melalui pelajaran akhlak, sejarah Islam, dan fikih lintas mazhab. Demikian pula (Asendi, 2. menegaskan dalam penelitiannya bahwa pendekatan multikultural dapat meningkatkan toleransi peserta didik antar kelompok agama dan etnis di madrasah. Metode pengajaran yang digunakan juga harus mencerminkan nilai-nilai multikultural, seperti diskusi terbuka, dialog antar budaya, dan refleksi kritis terhadap keberagaman sosial. Dengan demikian, strategi pembelajaran yang dapat dilakukan adalah melalui diskusi, kerja kelompok, proyek kolaboratif, dan dialog antarbudaya menjadi praktik utama yang diterapkan madrasah untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional peserta didik, seperti empati dan kemampuan menyelesaikan konflik, yang sangat penting dalam konteks masyarakat multikultural. Meskipun demikian, dalam mengimplementasikan pendidikan agama berbasis multikultural di madrasah masih menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut di antaranya adalah kurikulum yang belum sepenuhnya responsif terhadap keberagaman, keterbatasan kompetensi pendidik dalam mengelola kelas dengan pendekatan multikultural, serta resistensi budaya dan sosial yang menjadi hambatan dalam mewujudkan pendidikan agama yang inklusif. Selain itu, masih terdapat kesenjangan antara teori multikulturalisme dengan praktik pembelajaran di lapangan, di mana metode pembelajaran yang lebih tradisional sering kali mendominasi, sehingga kurang memberikan ruang bagi dialog dan refleksi terhadap keberagaman sosial. Tantangan lain, pendidikan agama di sekolah maupun di madrasah sering menjadi sorotan negatif dan mendapat banyak kritik. Salah satu kritik utama adalah kurangnya dampak signifikan pendidikan agama terhadap perbaikan kualitas hidup peserta didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Sodik. Sahal, and Herlina dalam (Arikarani, 2. yang menyatakan bahwa pendidikan agama Islam di era multikulturalisme dan pluralisme menghadapi tantangan yang signifikan, yaitu belum berhasil menghilangkan sikap eksklusif dalam beragama dari peserta didik. Sehingga dapat dipahami bahwa pendidikan multikultural merupakan upaya membangun kesadaran akan keragaman budaya, penghormatan terhadap hilangnya diskriminasi, dan terciptanya kesetaraan melalui penghormatan hak asasi manusia. Dengan demikian, penerapan pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di madrasah dapat meningkatkan kesadaran peserta didik terhadap pentingnya menghargai perbedaan dan mengelola konflik secara konstruktif. Pendekatan ini tidak hanya membentuk peserta didik yang taat beragama, tetapi juga menjadikan mereka agen perdamaian yang berkontribusi dalam menciptakan keharmonisan sosial di masyarakat yang beragam. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan pendekatan Multikulturalisme adalah sistem keyakinan dan perilaku yang mengakui dan menghormati kehadiran semua kelompok yang beragam dalam suatu organisasi atau masyarakat, mengakui sosial-budaya mereka yang berbeda, dan mendorong serta memungkinkan kontribusi mereka dalam konteks budaya inklusif yang memberdayakan semua dalam organisasi atau masyarakat. Pendidikan multikultural merupakan kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh kelompok budaya dalam masyarakat. Pendidikan multikultural adalah sikap dalam memandang keunikan manusia tanpa membedakan ras, budaya, jenis kelamin, kondisi jasmaniah, atau status ekonomi seseorang. Dalam lingkup pendidikan, diperlukan pembelajaran yang mencakup tentang multikulturalisme agar peserta didik dapat mengakui dan menghormati keragaman kelompok sosial lainnya (Sipuan, 2. Savage & Amstrong, dalam (Sipuan, 2. menjelaskan lebih lanjut bahwa pembelajaran berbasis multikultural berusaha memberdayakan peserta didik untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. Pendidikan multikultural juga membantu peserta didik untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam, membantu mereka mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, serta menyadarkan mereka bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, pendidikan multikultural mencoba membantu menyatukan bangsa secara demokratis, dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa, etnis, dan kelompok budaya yang berbeda. Dengan demikian, pembelajaran di madrasah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dari nilainilai demokrasi. Kurikulum menampilkan aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat, bahasa, dan dialek, di mana para peserta didik lebih baik berbicara tentang rasa hormat di antara mereka dan menjunjung tinggi nilai-nilai kerja sama, daripada membicarakan persaingan dan prasangka di antara peserta didik yang berbeda dalam hal ras, etnis, budaya, dan kelompok status sosial. Paparan singkat di atas menunjukkan konsep pendekatan multikultural secara ideal dalam pembelajaran. Namun, pengimplementasiannya, pendekatan multikultural khususnya di madrasah sering kali menghadapi berbagai hambatan dan tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kurikulum yang belum sepenuhnya responsif terhadap keberagaman budaya dan agama yang ada dalam masyarakat, sehingga nilai-nilai multikultural belum terintegrasi secara optimal dalam proses pembelajaran. Dalam konteks kurikulum Merdeka, belum terlihat secara langsung konsep pendekatan multikultural dalam sub-sub pembelajarannya. Konsep tersebut lebih pada bagaimana upaya madrasah mengkreasikannya dalam bentuk P5RA, di mana madrasah-madrasah tersebut mengintegrasikannya sesuai dengan karakteristik dan kekhasan madrasahnya. Pada tahun pelajaran yang akan datang, yakni 2025/2026, seluruh madrasah harus sudah menerapkan kurikulum Merdeka yang memiliki fungsi dan tujuan sebagai perubahan kurikulum dalam menghadapi tantangan zaman dan mewariskan nilai serta budaya karakter SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Madrasah adalah sekolah umum yang memiliki ciri khas agama Islam, sebagaimana dijelaskan dalam Bab I yang menyatakan bahwa madrasah merupakan satuan pendidikan formal di bawah binaan Kementerian Agama yang menyelenggarakan pendidikan umum berciri khas Islam (Direktorat KSKK Madrasah, 2. Dalam operasionalisasinya, ini mengharuskan penerapan panduan dari Kemendikbudristek, namun dengan beberapa penyesuaian sesuai dengan karakteristik, kekhasan, dan kebutuhan madrasah. Nilai-nilai agama Islam dimasukkan dalam penyusunan kurikulum untuk memperkuat identitas dan ciri khas madrasah. Dengan demikian, kekhasan tidak hanya terletak pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai agama membentuk cara berpikir, sikap, dan tindakan dalam menyikapi situasi pendidikan serta kebijakan dan praktiknya di madrasah. Selain tantangan kurikulum seperti yang disebutkan pada paragraf sebelumnya, resistensi budaya dan sosial masih menjadi penghalang signifikan, terutama ketika masyarakat atau lingkungan pendidikan belum sepenuhnya menerima konsep multikulturalisme sebagai bagian dari pendidikan agama. Keterbatasan sumber daya, baik dari segi fasilitas maupun kompetensi pendidik, juga menjadi kendala yang cukup besar, di mana belum semua pendidik memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai untuk mengelola kelas yang multikultural secara efektif. Eksklusivisme dalam pemahaman agama yang masih melekat pada sebagian pendidik dan peserta didik turut memperumit proses implementasi, menghambat dialog antaragama dan pengembangan sikap toleransi yang Selain itu, ketidaksesuaian antara kebijakan pendidikan multikultural yang digagas pemerintah dengan praktik nyata di madrasah dan pesantren juga menjadi tantangan yang harus dihadapi, sehingga diperlukan adaptasi kebijakan agar lebih fleksibel dan sesuai dengan konteks lokal. Berdasarkan berbagai hambatan yang telah disebutkan, lembaga pendidikan yang dibina oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam mengurai berbagai hambatan tersebut kemudian secara sederhana mengeksplorasinya dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk menanamkan nilai-nilai multikultural tersebut sebagaimana dijelaskan Nurasmawi & Ristiliana dalam (Aldoni, 2. Untuk lembaga pendidikan di bawah binaan Kementerian Agama, ditambahkan konsep Rahmatan lil-Alamin sebagai tambahan penanaman karakter bagi siswa madrasah Lebih lanjut, tantangan dalam penerapan pendekatan multikultural di madrasah juga berkaitan dengan kesenjangan sosio-ekonomi peserta didik yang mempengaruhi akses dan kualitas pendidikan multikultural itu sendiri. Menurut (Pohan, 2. menambahkan bahwa ketidaksetaraan gender dan homogenitas lingkungan sosial dapat menghambat proses pembelajaran yang inklusif dan beragam. Selain itu, (Pohan, 2. menyatakan bahwa arus globalisasi yang cepat juga membawa dampak ganda, di satu sisi membuka peluang dialog lintas budaya, tetapi di sisi lain dapat memperkuat stereotip dan prasangka jika tidak diimbangi dengan pendidikan yang tepat. Dalam konteks ini, pelatihan berkelanjutan bagi pendidik sangat diperlukan untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mengelola keberagaman dan menerapkan metode pembelajaran multikultural yang efektif. Di samping itu, dukungan kebijakan yang kuat dan pengembangan kurikulum berbasis keberagaman SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi hambatan tersebut dan mewujudkan pendidikan agama yang inklusif di madrasah. Dampak pendekatan multikultural terhadap sikap toleransi dan pemahaman keberagaman peserta didik Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, di mana keberagaman suku, adat istiadat, agama, dan budaya menjadi ciri khas yang sangat mencolok. Keberagaman ini tidak hanya memperkaya kehidupan sosial, tetapi juga menciptakan dinamika yang unik dalam interaksi antarwarga. Dalam konteks multikulturalisme, masyarakat Indonesia menunjukkan kemampuan untuk hidup berdampingan meskipun terdapat perbedaan yang signifikan. Selain itu, berbagai bentuk budaya yang ada, mulai dari tradisi lisan hingga seni pertunjukan, memberikan warna tersendiri bagi identitas nasional. Di sisi lain, tantangan dalam menjaga harmonisasi antar berbagai kelompok juga menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan karakter dan pendidikan multikultural, tampak semakin relevan dalam menghadapi tantangan global yang beragam dan kompleks. Ramadhan et al. dalam (Diniah, 2. menyatakan bahwa pendidikan karakter berupaya menanamkan nilainilai kebajikan dalam berpikir, hati, dan perasaan serta mengembangkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, keadilan, dan rasa hormat. Nilai-nilai ini berasal dari sumber-sumber moral universal dan agama, bertujuan membentuk individu yang berakhlak mulia dan etis. Sementera itu. Amin, dalam (Diniah, 2. menegaskan bahwa pendidikan multikultural menekankan pentingnya penghargaan dan penerimaan terhadap keragaman budaya, etnis, agama, dan ras dalam masyarakat. Tujuan utama pendidikan ini adalah mengembangkan sikap simpati, respek, apresiasi, dan empati terhadap perbedaan tersebut. Melalui pendekatan ini, diharapkan peserta didik memiliki kepekaan sosial yang tinggi di berbagai tingkatan, baik lokal, nasional, maupun global. Sedikit membahas tentang toleransi dalam konteks pembelajaran dan lebih khusus dalam konteks pendekatan multikultural, merupakan sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan serta keanekaragaman, dengan tujuan menciptakan kehidupan yang Secara etimologi, kata toleransi berasal dari bahasa Latin, yaitu kata "tolerare" yang berarti menahan, menanggung, membetahkan, dan tabah . (Afriani, 2. Ia juga mengutip pendapat Gularnic, kata toleransi itu berasal dari Bahasa Inggris yang berarti sikap membiarkan, mengakui, dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan Putri & Witro dalam (Qoffal, 2. menyatakan bahwa toleransi merupakan bagian penting dalam moderasi beragama. Toleransi dalam bahasa Inggris "tolerance" memiliki arti mendiamkan atau membiarkan, dalam Islam kata toleran disebut dengan istilah "tasamuh" atau "al-hanifiyah as-samhah", yang diartikan sebagai sifat penerimaan terhadap perbedaan dan keanekaragaman pendapat atau pendirian. Dengan demikian, toleransi merupakan sikap yang diharapkan pada individu agar tumbuh rasa saling menghormati perbedaan satu sama lain agar tercipta harmoni dan kerja sama yang produktif dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga sikap toleransi ini tercermin dalam sikap saling SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. menghargai dan menghormati perbedaan serta keanekaragaman yang merupakan landasan penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan inklusif. Terkait dampak pendekatan multikultural terhadap sikap toleransi dan pemahaman keberagaman peserta didik, terdapat bukti empiris yang menunjukkan bahwa pendidikan multikultural memiliki dampak yang signifikan terhadap sikap peserta didik, terutama dalam hal memupuk toleransi dan empati. Selain itu, pendidikan juga berperan penting dalam meningkatkan kompetensi antarbudaya, yang merupakan keterampilan krusial di era globalisasi saat ini. Dengan demikian, penerapan pendidikan multikultural di madrasah dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan harmonis, yang pada gilirannya akan mempersiapkan peserta didik untuk berinteraksi secara efektif di masyarakat yang beragam. Penelitian yang telah dilakukan oleh Muqarramah dalam (Kurdi, 2. menunjukkan bahwa pendidikan multikultural dapat berdampak positif memengaruhi sikap peserta didik terhadap keberagaman, di mana mereka akan memiliki sikap toleransi dan semangat egaliter. Peserta didik yang menerima pendidikan multikultural menunjukkan tingkat toleransi, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan budaya yang lebih tinggi, memperlihatkan potensi transformatif dari pendekatan pendidikan tersebut. Melalui pendidikan multikultural, peserta didik diperkenalkan pada berbagai budaya, tradisi, dan latar belakang yang berbeda. Hal ini membantu mereka memahami bahwa keberagaman adalah sesuatu yang alami dan kaya, bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau Selain itu, melalui eksposur terhadap keberagaman, peserta didik dapat membangun sikap toleransi terhadap perbedaan. Mereka belajar untuk menghargai dan menghormati latar belakang, keyakinan, dan budaya orang lain tanpa memandangnya sebagai sesuatu yang lebih baik atau lebih rendah. Pendidikan multikultural juga mengajarkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan, di mana peserta didik belajar untuk melihat semua orang sebagai individu yang sama-sama berharga, terlepas dari latar belakang budaya atau sosial mereka. Hal ini dapat mendorong semangat egaliter di antara peserta didik. Suharto dalam . urdi, 2. juga menyatakan bahwa beberapa organisasi kemasyarakatan beragama juga mempromosikan nilai-nilai multikultural Islam di Indonesia sebagai representasi dari Islam moderat yang memegang prinsip-prinsip toleransi dan keberagaman sebagai nilai inti. Oleh karena itu, pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan sangat diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang inklusif. Dengan demikian, masyarakat Indonesia tidak hanya sekadar kumpulan individu, tetapi juga sebuah entitas yang kaya akan nilai-nilai kebersamaan dan toleransi. Lebih lanjut, pendekatan multikultural terhadap sikap toleransi dan pemahaman keberagaman tidak hanya berdampak pada peserta didik tetapi juga berdampak pada Atmaja dalam (Diniah, 2. menyatakan bahwa implementasi pendidikan multikultural mengarahkan pendidik untuk tidak memaksakan budaya tertentu yang mendominasi proses pembelajaran di kelas. Sebaliknya, pendidik diarahkan untuk menerapkan pendidikan multikultural yang memungkinkan beragam latar belakang budaya peserta didik masuk dalam pembelajaran. Selain itu, pendidik diharapkan mampu memberikan pemahaman dan menanamkan nilai-nilai inti pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme, dan pluralisme. Amin dalam (Diniah, 2. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH Ahmad Jauhari et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. menambahkan bahwa pendidikan multikultural mencakup empat nilai utama: kesetaraan, toleransi, demokrasi, dan pluralisme. Dengan demikian, pendekatan multikultural berperan ganda, sebagai sarana pembentukan karakter peserta didik yang toleran dan inklusif serta sebagai proses transformasi profesional bagi pendidik dalam mengelola keberagaman. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan mengurangi prasangka antar kelompok dalam masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan multikultural yang komprehensif dan didukung oleh kebijakan serta pelatihan pendidik yang memadai sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan berkeadaban. PENUTUP Kesimpulan Pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di madrasah menunjukkan bahwa pendidikan agama memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter dan sikap toleransi peserta didik di tengah masyarakat yang beragam. Dengan menerapkan pendekatan inklusif dan kontekstual. Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat menanamkan nilai-nilai universal seperti cinta kasih, keadilan, dan perdamaian, yang sangat penting dalam membangun sikap saling menghormati dan penghargaan terhadap keberagaman. Selain itu, pendidikan multikultural juga memberikan dampak positif terhadap pemahaman keberagaman, di mana peserta didik tidak hanya belajar ajaran agama secara tekstual, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai moral dan etika yang bersifat universal. Meskipun demikian, implementasi pendekatan ini masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketidaksesuaian kurikulum dengan kebutuhan keberagaman dan kurangnya kompetensi pendidik dalam mengelola dinamika kelas yang multikultural. Keterbatasan sumber daya dan resistensi budaya juga menjadi hambatan yang signifikan dalam mewujudkan pendidikan agama yang inklusif dan efektif. Saran Berdasarkan hasil penelitian, disarankan penguatan kebijakan pendidikan yang inklusif, pengembangan kurikulum berbasis keberagaman, serta peningkatan kapasitas pendidik melalui pelatihan berkelanjutan untuk mengatasi hambatan tersebut. Secara keseluruhan, penerapan pendekatan multikultural dalam pendidikan agama di madrasah sangat mendesak untuk memperkuat harmoni sosial dan membentuk generasi yang toleran serta berwawasan luas. Dengan demikian, pendidikan multikultural tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengajaran agama, tetapi juga sebagai upaya strategis dalam membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis, di mana berbagai perbedaan dapat dihargai dan diterima sebagai bagian dari kehidupan. DAFTAR PUSTAKA