CENDEKIA MEDIKA p-ISSN: 2503-1392 Volume 5 Nomor 1. April 2020 e-ISSN: 2620-5424 HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJDIAN DIMENSIA RELATIONSHIP BETWEEN NUTRITION STATUS AND PHYSICAL ACTIVITIES WITH DIMENSIONAL EVENTS Rani Oktarina Akademi Kebidanan Rangga Husada Prabumulih. Gunung Ibul Barat. Prabumulih Timur. Gunung Ibul Barat. Kecamatan Prabumulih Timur 31146. Kota Prabumulih. Sumatera Selatan. Indonesia email: ranioktarina86@gmail. ABSTRAK Berdasarkan hasil Susenas Tahun 2014, jumlah Lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta orang atau sekitar 8,03% dari seluruh penduduk Indonesia. Tujuan yaitu mengetahui yang berhubungan antara status gizi dan aktivitas fisik dengan kejadian dimensia di Puskesmas Pasar Kota Prabumulih Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan Survey Analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi adalah lansia yang berusia 45-59 tahun yang berjumlah 94 orang. Sampel berjumlah 94 responden. Pada analisa univariat dari 94 responden didapatkan bahwa responden yang berstatus gizi baik sebanyak 56 responden . ,6%) dan responden yang berstatus gizi buruk sebanyak 38 responden . ,4%). Aktivitas fisik baik sebanyak 52 responden . ,3%) dan responden yang aktivitas fisik buruk sebanyak 42 responden . ,7%). Analisa Bivariat menunjukkan Status Gizi mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian dimensia . value 0,. dan Aktivitas Fisik mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian dimensia . value 0,. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa ada hubungan antara status gizi dan aktivitas fisik dengan kejadian dimensia di Puskesmas Pasar Kota Prabumulih Tahun 2019. Kata Kunci: Status Gizi. AktivitasFisikdanDimensia ABSTRACT Based on the results of the 2014 National Socio-Economic Survey, the number of elderly people in Indonesia 24 million or around 8. 03% of the total population of Indonesia. The purpose was to determine the relationship between nutritional status and physical activity with the incidence of dementia in Prabumulih City Market Health Center in 2019. This study uses Analytical Survey using the Cross-Sectional approach. The population is elderly people aged 45-59 years, amounting to 94 people. The sample amounted to 94 In the univariate analysis of 94 respondents, it was found that respondents with good nutritional status were 56 respondents . 6%) and respondents with malnutrition status were 38 respondents . 4%). Good physical activity was 52 respondents . 3%) and respondents who had bad physical activity were 42 respondents . 7%). Bivariate analysis showed Nutritional Status had a significant relationship with the incidence of dementia . -value 0. and Physical Activity had a significant relationship with the incidence of dementia . -value 0. This study concludes that there is a relationship between nutritional status and physical activity with the incidence of dementia in Prabumulih City Market Health Center in 2019. Keywords: Nutritional Status. Physical Activity and Dementia CENDEKIA MEDIKA p-ISSN: 2503-1392 Volume 5 Nomor 1. April 2020 e-ISSN: 2620-5424 kesehatan provinsi Sumatera Selatan data dimensia di Sumatera Selatan mencapai 468 orang sedangkan data dimensia di kota Prabumulih sebanyak 987 lansia yang mengalami dimensia4. PENDAHULUAN Menurut WHO di kawasan Asia Tenggara populasi Lansia sebesar 8% atau sekitar 142 juta jiwa. Pada tahun 2050 diperkirakan populasi Lansia meningkat 3 kali lipat dari tahunini. Padatahun 2000 jumlahLansiasekitar 5,300,000 . ,4%) dari total populasi, sedangkan pada tahun 2010 jumlah Lansia 24,000,000 . ,77%) dari diperkirakan jumlah Lansia mencapai 28,800,000 . ,34%) dari total populasi1. Penelitian yang dilakukan oleh Dadang hubungan antara status gizi terhadap dimensia pada lansia di BPS Kota Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul dengan nilai p value = 0,0003. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Evina tahun 2017 menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik terhadap dimensia pada lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur dengan nilai p value = 0,0004. Jika melihat secara global. Indonesia berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan lansia di seluruh dunia. Indonesia diperkirakan akan mengalami elderly population boom pada 2 dekade awal abad ke 21 sebagai dampak dari baby-boom pada beberapa puluh tahun yang lalu. BPS memproyeksi pada tahun 2045 Indonesia memiliki sekitar 63,31 juta lansia atau hampir 20% populasi. Bahkan. Proyeksi PBB juga menyebutkan 25 % pada tahun 2050 atau sekitar 74 juta lansia. Penuaan penduduk ini terlihat sebagai hasil dari berhasilnya program yang telah dirancang seperti program peningkatan nutrisi, kesehatan, perumahan. KB, air minum bersih dan sanitasi yang secara signifikan mencegah kematian pada anak2. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Pasar Kota Prabumulih tahun 2018 didapatkan jumlah lansia yang mengalami dimensia berjumlah 94 orang7. Berdasarkan data di atas maka peneliti melakukan penelitian dengan judul AuHubungan antara status gizi dan aktivitas fisik terhadap dimensia pada lansia di Puskesmas Pasar Kota Prabumulih pada tahun 2019Ay. METODE Jenis penelitian ini menggunakan metode Survey Analitik dengan pendekatan Cross Sectional dimana variable independen dan varibel dependen dikumpulkan dalam Sehingga penelitian mengambil variable independen . tatus gizi dan aktivitas fisi. dan variable dependen . imensia pada lansi. yang Berdasarkan data dari WHO . diketahui bahwa 35,6 juta jiwa di dunia menderita dimensia dan pada tahun 2050 mendatang, diperkirakan presentasi dari orang-orang berusia 60 tahun keatas akan mencapai 22% jumlah populasi dunia. Sedangkan jumlah penyandang dimensia di Indonesia sendiri hampir satu juta orang pada tahun 20113. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti9. Populasi penelitian ini yaitu jumlah lansia yang berumur 45-59 tahun yang mengikuti senam lansia di Puskesmas Pasar Kota Prabumulih tahun 2019 sebanyak 94 Data yang diperoleh dari provinsi sumatera selatan menyebutkan bahwa jumlah lansia pada tahun 2018 sebanyak 6. 564 orang sedangkan data yang dipeoleh dari dinas kesehatan kota prabumulih jumlah lansia 540 lansia4. Menurut dinas CENDEKIA MEDIKA p-ISSN: 2503-1392 Volume 5 Nomor 1. April 2020 e-ISSN: 2620-5424 Sampel penelitian adalah seluruh populasi yang diambil dari seluruh objek yang diteliti8. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode Total Sampling sampel penelitian ini berjumlah 94 orang lansia yang mengalami dimensia. Penelitian ini akan dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas Pasarkota Prabumulih tahun 2019. Waktu penelitian ini akan dilaksanakan bulan Februari-April Data penelitian ini mengunakan data primer, data diperoleh dari hasil survey menggunakan kuesioner di wilayah kerja Puskesmas Pasar Kota Prabumulih Tahun 2019. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner sebagai panduan mengambil data di Puskesmas Pasar Kota Prabumulih Tahun 2019. Analisa bivariat yang digunakan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi. Analisa data dilakukan dengan menggunakan program Statistic Package Social Science (SPSS). Sehingga didapatkan bermakna jika nilai p value O 0,05 dan tidak bermakna jika p value > 0,05. HASIL AnalisaUnivariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Kejadian Dimensia Pada Lansia KejadianDimensia Tidak Frekuensi Jumlah Dari Tabel 1 di atas diketahui bahwa dari 94 responden didapatkan responden yang didiagnosa mengalami kejadian dimensia sebanyak 53 responden . ,4%) dan yang tidak didiagnosa mengalami kejadian dimensia sebanyak 41 responden . ,6%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Status Gizi Lansia Status Gizi Baik Buruk Jumlah Frekuensi Dari Tabel 2 di atas diketahui bahwa dari 94 responden didapatkan bahwa responden yang berstatus gizi baik sebanyak 56 responden . ,6%) dan responden yang berstatus gizi buruk sebanyak 38 responden . ,4%). CENDEKIA MEDIKA p-ISSN: 2503-1392 Volume 5 Nomor 1. April 2020 e-ISSN: 2620-5424 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Aktivitas Fisik Lanisa AktivitasFisik Baik Buruk Jumlah Frekuensi Dari Tabel 3 di atas diketahui bahwa dari 94 responden didapatkan bahwa responden yang aktivitas fisik baik sebanyak 52 responden . ,3%) dan responden yang aktivitas fisik buruk responden . ,7%). Tabel 4. Hubungan antara Status Gizi dengan Kejadian Dimensia Pada Lansia Kejadian Dimensia Status Gizi Jumlah Tingkat Kemaknaan Tidak Baik Buruk Jumlah Dari Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa dari 94 responden didapatkan responden yang didiagnosa mengalami kejadian dimensiasebanyak 53responden . ,4%) danyang tidak didiagnosa mengalami kejadian dimensiasebanyak41 responden . ,6%). Dari 56 responden yang status gizi baik terdapat 39 responden . ,5%) dengan kejadian dimensiadan 17 . ,1%) Dari 38 responden yang status gizi buruk terdapat 14 . ,9%) responden 0,003 Bermakna dengan kejadian dimensia dan 24 . ,5%) Berdasarkan hasil analisa bivariat dengan uji statistik mengunakan Chi-Square didapatkan hasil p value = 0,003 ( p < 0,05 ) berarti hipotesis menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Status Gizi dengan Kejadian Dimensia Lansia Pada terbukti. Tabel 5. Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Kejadian Dimensia Pada Lansia KejadianDimensia AktivitasFisik Jumlah Tidak Baik Buruk Jumlah Tingkat Kemaknaan 0,000 Bermakna Dari Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa dari 94 responden didapatkan responden CENDEKIA MEDIKA p-ISSN: 2503-1392 Volume 5 Nomor 1. April 2020 e-ISSN: 2620-5424 dengan kejadian dimensia dan 24 . ,5%) yang didiagnosa mengalami kejadian dimensia sebanyak 53responden . ,4%) danyang tidak didiagnosa mengalami kejadian dimensia sebanyak41 responden . ,6%). Dari 52 responden yang aktivitas fisik baik terdapat 38 responden . ,4%) dengan kejadian dimensia dan 14 . ,8%) Dari 42 responden yang aktivitas fisik buruk terdapat 16 . ,0%) responden dengan kejadian dimensia dan 27 . ,7%) Berdasarkan hasil analisa bivariat dengan uji statistik mengunakan Chi-Square didapatkan hasil p value = 0,000( p < 0,05 ) berarti hipotesis menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Aktivitas Fisik dengan Kejadian Dimensia Lansia Pada terbukti. Hasil uji statistik mengunakan Chi-Square didapatkan hasil p value = 0,003 ( p < 0,05 ) berarti hipotesis menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Status Gizi dengan Kejadian Dimensia Lansia Pada terbukti. Hal ini seusai dengan penelitian yang Dadang, menunjukkan adanya hubungan antara status gizi terhadap dimensia pada lansia di BPSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul dengan nilai p value = 0,0003. Hubungan aktivitas fisik dengan kejadian dimensia pada lansia di Puskesmas Pasar Kota Prabumulih Tahun 2019. Pada penelitian ini variabel Aktivitas Fisik dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Baik (Bila lansia dapat beraktivitas dengan bai. dab Buruk (Bila lansia tidak dapat beraktivitas bai. Pada analisa univariat diketahui bahwa dari 94 responden didapatkan bahwa responden yang aktivitas fisik baik sebanyak 52 responden . ,3%) dan responden yang aktivitas fisik buruk sebanyak 42 responden . ,7%). PEMBAHASAN Hubungan antara Status Gizi dengan Dimensia Pada Lansiadi Puskesmas Pasar Kota Prabumulih Tahun Pada penelitian ini variabel Status Gizi dibedakan menjadi dua kelompok yaitu Baik (Bila berat badan sesuai IMT) dan Buruk (Bila berat badan tidak sesuai dengan IMT). Pada analisa univariat diketahui bahwa dari 94 responden didapatkan bahwa responden yang berstatus gizi baik sebanyak 56 responden . ,6%) dan responden yang berstatus gizi buruk sebanyak 38 responden . ,4%). Hasil analisa bivariat didapatkan bahwa dari 94 responden didapatkan responden yang didiagnosa mengalami kejadian dimensia sebanyak 53 responden . ,4%) danyang tidak didiagnosa mengalami kejadian dimensia sebanyak41 responden . ,6%). Dari 52 responden yang aktivitas fisik baik terdapat 38 responden . ,4%) dengan kejadian dimensia dan 14 . ,8%) Dari 42 responden yang aktivitas fisik buruk terdapat 16 . ,0%) responden dengan kejadian dimensia dan 27 . ,7%) Hasil uji statistik mengunakan Chi-Square didapatkan hasil p value = Hasil analisa bivariat didapatkan bahwa dari 94 responden didapatkan responden yang didiagnosa mengalami kejadian dimensiasebanyak 53responden . ,4%) danyang tidak didiagnosa mengalami kejadian dimensiasebanyak41 responden . ,6%). Dari 56 responden yang status gizi baik terdapat 39 responden . ,5%) dengan kejadian dimensia dan 17 . ,1%) Dari 38 responden yang status gizi buruk terdapat 14 . ,9%) responden CENDEKIA MEDIKA p-ISSN: 2503-1392 Volume 5 Nomor 1. April 2020 e-ISSN: 2620-5424 0,001 ( p < 0,05 ) berarti hipotesis menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Aktivitas Fisik dengan Kejadian Dimensia Lansia pada terbukti. Penelitiian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Evina, 2017 menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik terhadap dimensia pada lansia di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur dengan nilai p value = 0,0004. melakukan penelitian dengan judul yang sama tetapi dengan materi yang lebih lengkap dan metode penelitian yang lebih Peneliti juga dapat menambah melaksanakan penelitian terutama dalam materi Dimensia sesuai dengan metode penelitian yang benar menurut daftar pustaka yang ada di perkuliahan. KESIMPULAN DAN SARAN Kepmenkes. Angka Lansia Indonesia Dan Angka Kejadian Dimendia Di Dunia Dan Di Indonesia. Jakarta. Badan Pusat Statistik. Survei Sosial Ekonomi Nasional. Badan Pusat Statistik. Jakarta:2018. Dadang. Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Dimensia Pada Lansia Di BPSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul Tahun2017. Skripsi. Yogyakarta. Yudhanti. Evina. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Dimensia Pada Lansia Di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur Tahun 2017. Skripsi. Yogyakarta Rekam Medik Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Kejadian Dimensia dan angka lansia di provinsi Sumatera Selatan. Palembang. Rekam Medik Dinas Kesehatan Kota Prabumulih. Kejadian Dimensia dan angka lansia di kota Prabumulih. Prabumulih. Rekam Medik. Angka lansia yang mengalami kejadian dimensia di Puskesmas Pasar Kota Prabumulih. Notoadmodjo. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: ReniekaCipta . DAFTAR PUSTAKA