Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Perkembangan Arsitektur dan Fungsi Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait Tahun 1959-2018 Fillah Hania Baasila1. Yuni Maryuni2. Tubagus Umar Syarif Hadi Wibowo3 1,2,3 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa hanibaasila@gmail. ABSTRACT This study aims to explain the history, development building form, and explain the function of Tjo Soe Kong Temple in Tanjung Kait. Historical methods used in research consisting heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that the establishment of the Tjo Soe Kong Temple was related Kongco Tjo Soe Kong to the expansion of sugarcane land. The construction was carried out by residents of Chinese descent were immigrants from Anxi district, in early decades of the 18th century to be precise in 1792, and has undergone several physical changes the building with addition of modern construction. First renovation in 1959, condition the building was made of wood, bamboo and blocks were replaced with bricks and cement to strengthen the building. Second renovation in 2018, namely repairing the roof, walls, poles, fences, and ornaments. As well as the structure of the wall construction is coated with granite which serves to add to the impression of beauty of the building without losing its original shape. Establishment of the Tjo Soe Kong Temple follows general rules of feng shui but not completely. The function of the temple building is use as a place of worship for Buddhists, center for social activities and assimilation of arts, historical marker of development of Chinese community, a place where spiritual teachings also used for recreation because itAos crowded with visitors and open to public. Addition of red bridge building with fish pond to enjoy the beautiful scenery at the Tjo Soe Kong Temple. Keywords: Architecture. Function. Tjo Soe Kong Temple ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah berdiri, perkembangan bentuk bangunan, dan fungsi arsitektur Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait. Metode penelitian menggunakan metode historis/sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik sumber, interpretasi, serta historiografi. Hasil penelitian menunjukan awal berdiri Kelenteng Tjo Soe Kong berkaitan dengan Kongco Tjo Soe Kong yang melakukan perluasan lahan tebu. Pembangunan dilakukan oleh warga keturunan Tionghoa yang merupakan imigran dari kabupaten Anxi, pada tahun 1792, dan mengalami beberapa kali perubahan fisik bangunan dengan penambahan konstruksi modern. Renovasi pertama dilakukan tahun 1959, kondisi bangunan awalnya dari kayu, bambu dan balok-balok yang diganti menggunakan batu bata dan semen untuk memperkokoh bangunan. Renovasi kedua dilakukan pada tahun 2018, yaitu memperbaiki atap, dinding, tiang, pagar, dan ornament. Serta struktur konstruksi dinding dilapisi dengan granit yang berfungsi untuk menambah kesan keindahan bangunan tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Pendirian Kelenteng Tjo Soe Kong mengikuti aturanaturan umum fengshui. Fungsi bangunan Kelenteng digunakan tempat ibadah umat Buddha, pusat kegiatan sosial dan pembauran kesenian, penanda sejarah perkembangan masyarakat Tionghoa, tempat sumber ajaran spiritual juga dijadikan tempat rekreasi karena ramai dengan para pengunjung yang terbuka untuk umum. Dengan adanya tambahan bangunan 1847 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. jembatan merah yang terdapat kolam ikan untuk menikmati keindahan pemandangan pada Kelenteng Tjo Soe Kong. Kata kunci: Arsitektur. Fungsi. Kelenteng Tjo Soe Kong PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu bangsa yang majemuk akan keanekaragaman suku, etnis, golongan, bahkan agama. Masyarakat menganut suatu sistem kepercayaan yang dikenal dengan agama dan secara tidak langsung menjadi komunikasi dan interaksi secara sosial pada lingkungan masyarakat. Islam. Kristen. Katolik. Hindu. Buddha, dan Konghucu merupakan suatu ajaran agama resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia (Hendropuspito,1983: . Tridharma merupakan ajaran yang didalamnya terdapat tiga agama, biasa disebut San Jiau/Sam Kauw yang dianut oleh Orang Tionghoa. Tiga agama tersebut meliputi Konfusianisme. Buddha, dan Taoisme. Setiap agama membutuhkan sarana yang menunjang kebutuhan para pemeluknya dalam beragama. Sarana tersebut bisa berupa suatu bangunan untuk beribadah yang digunakan sebagai tempat untuk melakukan ritual para pemeluknya, tidak terkecuali orang Tionghoa yang memiliki tempat untuk melakukan pemujaan biasa disebut dengan kelenteng. Kelenteng secara sederhana adalah tempat beribadah para pemeluk ajaran Konghucu. Taoisme, dan Buddha yang biasa melekat pada orang Tionghoa (Depdiknas, 2000:. Penjelasan lain menguraikan bagaimana asal-usul dari pemberian istilah kelenteng, berasal dari bunyi Auklinting-klingtingAy yang terdengar dari dalam tempat ibadah tersebut saat adanya suatu kegiatan acara ibadah (Setiawan dkk, 1999:. Kelenteng di Cina memiliki beberapa nama lain seperti pada ajaran Konfusius yang diberi istilah Bio ataupun Miao. Buddha dengan Sie atau Si. Tao dengan Koan atau Guan, maupun Kiong atau Gong (Yoest, 2008: 142-. Kelenteng bisa disimpulkan sebagai tempat suci yang digunakan untuk melakukan kegiatan peribadatan spiritual untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai kajian arsitektural, bangunan Kelenteng Tjo Soe Kong juga menggambarkan peradaban Tionghoa di masa lalu. Bangunan kelenteng ini sangat menarik dari segi arsitektur karena memiliki ornamen Cina, struktur bangunan, dan pola tata ruang. Bagian dari arsitektur bangunan juga berfungsi sebagai tempat upacara keagamaan. Kehadirannya dapat memberikan nuansa pada kegiatan tertentu, mengingatkan orang akan jenis kegiatan, menunjukkan kekuasaan, status, atau persoalan pribadi, mendukung keyakinan tertentu, menyampaikan informasi, membantu perkembangan identitas pribadi atau kelompok, dan sebagainya. Selain itu, arsitektur mampu membedakan antara ruang privat dan ruang publik, laki-laki dan perempuan, yang sakral dan yang duniawi (Rapport, 1989:. Lebih lanjut. Ada dua jenis konsep ruang dari perspektif kepercayaan dan agama, yaitu ruang yang dianggap sakral dan ruang yang dihuni dan disebut sebagai dunia yang teratur . uang penghormatan kepada pemilik Kelenteng. Kongco Tjo Soe Kon. Ruang lainnya adalah ruang yang tidak sakral, seperti ruang yang dianggap tidak beraturan dan tidak berbentuk . uang yang tidak berfungsi sebagai tempat 1848 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. ibadah atau ritual sembahyan. , dan perbedaan utama di antara ruang tersebut adalah sakral atau tidaknya ruang tersebut. Pembangunan kelenteng merupakan salah satu contoh bangunan keagamaan yang harus mengikuti pedoman tertentu. Secara alami, desain dasar kelenteng didasarkan pada konsep Tionghoa. Contoh arsitektur bangunan antara lain: Pada arsitektur Tionghoa, pola tata ruang ditandai dengan adanya impluvium, yang dirancang untuk mengalirkan air hujan yang masuk melalui atap. Pada arsitektur Cina halaman belakang terdapat taman beratap, dan sistem struktur terdiri dari pilar, balok, dan motif dekoratif untuk memperindah bangunan (Lip, 1986: . Desa Tanjung Anom merupakan salah satu dari 12 desa yang ada di Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang, menurut data (Badan Pusat Statistik Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang Dalam Angka 2. Tanah seluas 3. km2 yang membentuk Desa Tanjung Anom di sebelah utara dikelilingi oleh pantai dan laut. Awalnya Desa Tanjung Anom terbentuk saat Desa Karang Serang dan Desa Pekayon dipecah dan dijadikan desa sendiri pada tahun 1982. Desa Karang Serang dan Pekayon dianggap memiliki lahan yang terlalu luas, sehingga wilayah tersebut Selain itu. Desa Tanjung Anom dinilai cukup potensial untuk dijadikan desa sendiri, khususnya dalam hal hasil laut dan wisata lokal. Sejarah desa ini tidak dapat ditentukan dengan pasti karena kurangnya bukti tertulis atau sisa-sisa. Namun, sejarah desa ini bisa dipelajari dari dongeng yang diceritakan oleh orang tua yang nenek moyangnya pernah tinggal di sana. Masyarakat desa Tanjung Anom konon terbentuk dari suku Betawi. Sunda Banten. Jawa Indramayu, dan Bugis di sekitar Pantura, serta Tionghoa, yang lambat laun mempertahankan wilayah pesisir utara Jawa. yang sebelumnya merupakan tanah tak berpenghuni yang dimiliki sebagian oleh TNI AU dan sebagian oleh PT, sebuah perusahaan swasta Sangrila Indah, (Dokumen Desa Tanjung Anom: 2. Kelenteng Tjoe Soe Kong yang berusia ratusan tahun sebelum desa Tanjung Anom berdiri juga merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah desa tersebut. Kelenteng Tjo Soe Kong merupakan salah satu kelenteng yang berada di sekitar pelabuhan Tanjung Kait dan di kota besar yang digunakan sebagai pemukiman Tionghoa (Dokumen Desa Tanjung Anom: 2. Secara administratif kelenteng ini berada di Desa Tanjung Anom. Kecamatan Mauk. Kabupaten Tangerang. Provinsi Banten, di Jalan Karang Serang. Pemukiman berbaris di perbatasan timur dan selatan Kuil. Kelenteng Hok Tek Tjeng Sin, dan garis Laut Jawa masing-masing berbatasan dengan utara dan barat. Ada beberapa nama berbeda untuk Kelenteng Tjo Soe Kong. ada yang mengatakan bahwa Kelenteng Tanjung Kait bernama Dan Rong Jia Yi Da Bo Gong Miao (Depdiknas, 2000: . Kelenteng tersebut biasa disebut Kongco Tjo Soe Kong oleh masyarakat sekitar di Tajung Kait (Lombard, dan Salmon 1985:. Lebih luas lagi, ada juga kelenteng yang dinamai dengan lokasi bangunan tersebut (Dewi, 2000:. Contohnya adalah Tanjung Kait yang merupakan kelenteng yang dibangun di lokasi Tanjung Kait (Lombard, 1985:. 1849 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Dalam bukunya Chinese Epigraphic Materials in Indonesia. Andries Teisseire mengklaim bahwa kelenteng tersebut didirikan pada tahun 1792. Setiap tahun, pada akhir November atau awal Desember, orang Tionghoa yang tinggal di sana mengadakan upacara besar yang dihadiri oleh 100 pemuja (Franke. Salmon. Anthony K. K Siu,1997: . Sejak abad ke-18. Kelenteng Tjo Soe Kong mengalami beberapa kali perubahan fisik bangunan. Sebuah prasasti di atas batu berisi pemugaran besar-besaran pada tahun 1882. Kelenteng ini pernah mengalami masamasa sulit pada masa pergolakan pasca revolusi sekitar tahun 1946-1948. kerusakan yang dialami berada pada atap Kelenteng. Pada tahun 1959 bangunan utama kelenteng ini mengalami renovasi, renovasi dilakukan oleh panitia dan tertera di prasasti. Pada tahun 1882 bangunan tambahan yang terletak di sebelah utara bangunan utama direnovasi dan berdasarkan prasasti, biaya renovasi ditanggung oleh donatur yang berasal dari penduduk setempat (Lombard, 1980: Kelenteng Tjo Soe Kong pertama kali dibangun pada tahun 1792. Pada tahun 1959, kelenteng ini mengalami renovasi pertama. Banyaknya tujuan, termasuk sumbangan dari komunitas Tionghoa, membuat renovasi awal ini menjadi signifikan, memungkinkan Kelenteng Tjo Soe Kong dibangun kembali dan dibuat agar terlihat lebih rapi (Lombard, 1980: . Ruang tengah, yang biasa digunakan untuk acara pemujaan, dan Ruang Dharmasala, juga dikenal sebagai Ruang Dewa, yang berisi lukisan 15 dewa dan patung, atau 5 Artar, dibangun setelah renovasi pertama, yang memakan waktu sekitar satu atau dua tahun. bertahun-tahun (Morgan, 2007: . Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui AuPerkembangan Arsitektur dan Fungsi Kelenteng Tjo Soe kong di Tanjung Kait Tahun 1959-2018Ay. Berdasarkan uraian di atas, menarik untuk dilakukan penelitian yang berangkat dari pluralitas masyarakat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang terutama terdiri dari suku atau etnis, agama, ras, dan antar golongan. Seorang pemeluk suatu agama dalam memenuhi kebutuhan ritual keagamaannya, membutuhkan suatu bangunan sebagai tempat untuk melakukan ritual keagamaan tertentu seperti Kelenteng yang digunakan sebagai tempat ritual keagamaan Khonghucu yang memiliki arsitektur kelenteng masih kental dengan konsep Cina dan masih terjaga di era sekarang. Selain Kelenteng sebagai tempat kegiatan ritual keagamaan. Klenteng ini berpotensi menjadi tempat wisata lokal yang berkaitan dengan agama dan budaya yang mempengaruhi keberadaan Kelenteng sehingga banyak orang yang mengetahuinya (Schraf, 1999:. Selain itu, permasalahan terjadi dari minimnya pengetahuan masyarakat sekitar tentang sejarah berdirinya Kelenteng Tjo Soe Kong, meskipun sudah banyak yang mengetahui keberadaanya tetapi belum begitu meluas, hanya sekedar mengetahui Kelenteng Tjo Soe Kong sebagai tempat ritual agama Konghucu dan hanya mengetahui bangunan tua berarsitektur Cina yang ada di Banten, tetapi banyak masyarakat tidak mengetahui tentang asal muasal sejarah berdirinya Kelenteng Tjo Soe Kong serta perkembangan bangunan dan arsitekturnya. Kedua, 1850 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Kelenteng Tjo Soe Kong mengalami perkembangan dan perubahan bangunan baik dari segi arsitektur dan ornamennya. Kelenteng Tjo Soe Kong yang dimulai dari renovasi pertama tahun 1959 dan kedua tahun 2018. Serta terdapat beberapa perubahan dan penambahan bahan konstruksi bangunanserta tambahan bangunan Ketika dilakukan renovasi yaitu penambahan bangunan jembatan merah, altar hiolo, dan tempat penginapan untuk para pengunjung ke Kelenteng Tjo Soe Kong. Ketiga, fungsi Kelenteng yang sebelumnya hanya dijadikan sebagai tempat ritual keagamaan, pusat kegiatan social, dan pembauran kesenian. setelah renovasi kedua dan ditambahkan bangunan baru seperti jembatan merah, fungsi dari Kelenteng bertambah menjadi tempat wisata local yaitu tempat wisata religi dan kebudayaan. Karena memiliki potensi yang cukup baik untuk menarik para pengunjung datang ke Kelenteng dan dapat berpengaruh pada eksistensi Kelenteng untuk dikenal banyak orang (Schraf, 1999:. METODE PENELITIAN Penelitian ini didukung dengan metode sejarah yang umum digunakan dalam penelitian sejarah. metode sejarah sendiri merupakan proses yang harus dilakukan secara sistematis untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan yang sedang dicari (Sjamsuddin, 2. Lebih lanjut, tahapan dalam metode sejarah terdiri dari : Heuristik Heuristik adalah metode yang digunakan oleh sejarawan untuk mengumpulkan sumber atau bukti sejarah. Heuristik merupakan langkah dalam pekerjaan sejarawan untuk mencari dan mengumpulkan sumber atau bukti sejarah. heuristik adalah sebuah cara teknis, seni dan bukan ilmu (Renier, 1997:. Data-data mengenai AuPerkembangan Arsitektur dan Fungsi Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait Tahun 1959-2018Ay dikumpulkan guna memecahkan masalah. Sumber-sumber dicari melalui beberapa media seperti cetak, ebook, jurnal yang mendukung, artikel yang membahas penelitian tersebut dan sumber dari internet. Sumber lain yang diperoleh dalam bentuk lisan diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara kepada informan yang merupakan pelaku dan mengetahui tentang AuPerkembangan dan Fungsi Arsitektur Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait Tahun 1959-2018Ay. Pada tahap ini beberapa sumber relevan digunakan untuk memecahkan masalah yang sedang diteliti. Pencarian data melalui sumber-sumber terkait dilakukan dengan studi pustaka atau sumber tertulis dan melalui kegiatan lain yaitu wawancara sebagai sumber Kritik Setelah melakukan tahap heuristik, dilakukan penyaringan terhadap data-data yang telah ditemukan terkait dengan penelitian yang terdiri dari sumber primer maupun sekunder guna memperoleh fakta-fakta yang akan menjadi bahan kajian penelitian. 1851 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Aspek internal dan eksternal dimiliki oleh penulisan sumber sejarah. Kritik eksternal dilakukan untuk meneliti keaslian sumber, sahih, utuh dan tidak berubah bentuk tampilan dan isi dalam sumber tersebut. Kritik eksternal dilakukan dengan merujuk kepada sumber yang digunakan oleh penulis terkait dengan latar belakang dan waktu penulisan. Kritik internal dipraktikkan dengan maksud mengelaborasi ringkasan yang sebanding dengan jumlah semua data yang relevan. Tahap ini mengukur objektivitas penulis ketika berkolaborasi dengan data atau sumber yang telah dikumpulkannya dan tentu saja memutuskan tugas mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu (Notosusanto, 1971: 20 dalam Sulasman, 2014: . Kritik Eksternal . Sumber tertulis Pertama, buku dengan judul Les Chinois de Jakarta et vie Collective, ditulis oleh Claudine Salmon dan Denys Lombard dan diterbitkan oleh Yayasan Cipta Loka Caraka pada tahun 1980, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1985 dan diterbitkan pada tahun 2003 sebagai edisi perbaikan dengan judul Kelenteng dan Komunitas Tionghoa di Jakarta . Buku ini menjelaskan banyak tentang sejarah Klenteng, orang Tionghoa yang tinggal di Jakarta, alat-alat yang biasa digunakan di Klenteng, dan dewa-dewa yang tinggal di sana. Selanjutnya buku yang digunakan adalah terbitan Direktorat Purbakala Depdiknas tahun 2000 yang berjudul Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Buku ini memberikan gambaran tentang bangunan kelenteng di DKI Jakarta dan Jawa Barat, serta penjelasan Buku ini sebagian besar didasarkan pada buku yang ditulis oleh Denys Lombard dan Claudine Salmon tentang masyarakat, kelenteng, dan Tinghoa di Jakarta. Namun juga membahas kelenteng-kelenteng yang ada di Jawa Barat. Jurnal yang diteliti oleh Cindy Ratnasari. Yuliantoro. Asyrul Fikri yang menjelaskan keberadaan Kelenteng Hoo Ann Kiong Sebagai Objek Wisata Budaya di Kabupaten Meranti, dari Program Studi Pendidikan Sejarah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Riau. Vihara Sejahtera Sakti atau memiliki nama asli Kelenteng Hoo Ann Kiong adalah bangunan bersejarah yang berada di kabupaten Meranti. Kota Selat Panjang. Keberadaan Kabupaten Meranti memberikan dampak yang signifikan, khususnya sebagai daerah tujuan wisata. Kelenteng Hoo Ann Kiong yang terlihat dari puncak perayaan tahun baru Imlek menjadi tujuan para wisatawan dan warga Tionghoa untuk beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Keunikan dan keindahan dari Kelenteng Hoo Ann Kiong dapat dilihat dari 1852 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. arsitektur dan konstruksinya, dan didukung oleh tradisi sehingga memiliki nilai sejarah. Sumber lisan Umumnya banyak digunakan oleh pakar ilmu sosial lainnya. Ada dua kategori sumber lisan, yaitu: pertama sejarah lisan, ingatan yang diceritakan secara lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh para sejarawan. Kedua tradisi lisan, yaitu narasi dan deskripsi dari mulut ke mulut selama beberapa generasi (Sjamsuddin, 2019: Koh Cute selaku wakil ketua Yayasan Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait. Koh Cute memberikan informasi mengenai pola ibadah yang dilakukan di Kelenteng dan menjelaskan bangunan yang pertama kali dibangun sampai dilakukan renovasi yang ke2 kali. Bapak Oey Tjin Eng selaku Budayawan Tangerang serta HUMAS di Kelenteng Boen Tek Bio serta tetua komunitas Cina Benteng, memberikan informasi seputar sejarah Kelenteng Tanjung Kait serta menjelaskan masuknya Tionghoa di Indonesia sampai Tangerang dan Tanjung Kait, selain itu memberikan gambaran terkait arsitektur pada Kelenteng Tjo Soe Kong. Selanjutnya. Bapak Pania Muda Rusli selaku pengawas Kelenteng Tjo Soe Kong, memberikan informasi seputar sejarah Kelenteng Tjo Soe Kong hingga menjelaskan awal mula berdiri bangunan Kelenteng sampai sekarang yang sudah direnovasi dua kali. Bapak Kasum Tri Harja selaku Ketua Yayasan Kelenteng Tjo Soe Kong memberikan informasi terkait arsitekur yang ada pada Kelenteng tersebut, serta menjelaskan saat ini Kelenteng tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah tetapi sebagai tempat rekreasi karena adanya tambahan bangunan jembatan merah jadi siapapun pengunjung bebas untuk memasuki Kelenteng Tjo Soe Kong. Dr. Nanang Chaeroni selaku Kepala Seksi Pariwisata DISPORABUDPAR Kab Tangeranng. Memberikan informasi terkait pelestarian cagar budaya pada Kelenteng Tjo Soe Kong yang sudah termasuk menjadi tempat objek wisata di Tanjung Kait. Kritik Internal Kritik internal merupakan isi dari sumber kesaksian orang maupun sumber-sumber terkait. kritik internal seperti yang dikemukakan oleh aspek AudalamAy, yaitu isi dari sumber kesaksian. Sejarawan sekarang bertanggung jawab 1853 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. untuk mengevaluasi kesaksian setelah kritik eksternal menetapkan fakta (Sjamsuddin, 2019: . Adapun kritik internal penelitian terdiri atas: Sumber tertulis Pertama. Buku Les Chinois de Jakarta et vie Collective yang ditulis oleh Claudine Salmon dan Denys Lombard dan diterbitkan oleh Yayasan Cipta Loka Caraka pada tahun 1980 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1985 dengan judul Kelenteng dan Komunitas Tionghoa di Jakarta. Edisi perbaikan diterbitkan pada Buku ini menjelaskan banyak hal tentang sejarah Klenteng, orang Tionghoa yang tinggal di Jakarta, alat-alat yang biasa digunakan di Klenteng, dan dewa-dewa yang tinggal di sana. Kedua. Direktorat Purbakala Depdiknas menerbitkan buku dengan judul Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat pada Buku ini memberikan gambaran tentang bangunan kelenteng di DKI Jakarta dan Jawa Barat, serta penjelasan sejarahnya. Denys Lombard dan Claudine Salmon menulis buku tentang kelenteng Tinghoa di Jakarta dan orang-orang yang tinggal di sana. Buku ini, di sisi lain, berbicara tentang kelenteng di Jawa Barat. Selanjutnya. Jurnal yang diteliti oleh Cindy Ratnasari. Yuliantoro. Asyrul Fikri yang menjelaskan keberadaan Kelenteng Hoo Ann Kiong Sebagai Objek Wisata Budaya di Kabupaten Meranti, dari Program Studi Pendidikan Sejarah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Riau. Vihara Sejahtera Sakti atau memiliki nama asli Kelenteng Hoo Ann Kiong adalah bangunan bersejarah yang berada di kabupaten Meranti. Kota Selat Panjang. Keberadaan Kabupaten Meranti memberikan dampak yang signifikan, khususnya sebagai daerah tujuan wisata. Kelenteng Hoo Ann Kiong yang terlihat dari puncak perayaan tahun baru Imlek menjadi tujuan para wisatawan dan warga Tionghoa untuk beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Keunikan dan keindahan dari Kelenteng Hoo Ann Kiong dapat dilihat dari arsitektur dan konstruksinya, dan didukung oleh tradisi sehingga memiliki nilai sejarah. Sumber lisan Penelitian ini memperoleh sejumlah sumber lisan dari beberapa narasumber terkait informasi mengenai Perkembangan Arsitektur Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait Tahun 1959-2018 dan dilakukannya kritik intern terhadap sumber lisan, diantarana sebagai berikut: Kasum Tri Harja selaku Ketua Yayasan Kelenteng Tjo Soe Kong, memberikan informasi terkait sejarah Kelenteng Tjo Soe Kong, serta menjelaskan luas tanah Kelenteng, perbedaan bangunan 1854 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. dahulu sampai sekarang, biaya renovasi, serta penanggung jawab Kelenteng Tjo Soe Kong. Koh Cute merupakan wakil ketua Yayasan Kelenteng Tjo Soe Kong. Koh Cute memberikan informasi mengenai ciri khas pada Kelenteng, arsitektur Kelenteng, pola ibadah yang dilakukan jemaat diKelenteng, dalam pembangunanya apakah masih menggunakan prinsip Feng shui baik dari letak, arah, warna, serta penataan dalam ruangnya. Panita Muda Rusli selaku pengawas Kelenteng Tjo Soe Kong, memberikan informasi terkait Kelenteng yang berpotensi menjadi objek wisata, kesenian yang ada di Kelenteng seperti shejit, cap gomeh, serta keuntungan yang didapat jika Kelenteng dijadikan objek wisata. Oey Tjin Eng merupakan Budayawan Tangerang serta HUMAS di Kelenteng Boen Tek Bio serta tetua komunitas Cina Benteng, memberikan informasi seputar sejarah Kelenteng Tanjung Kait serta menjelaskan awal mula dan perkembangan masuknya masyarakat Tionghoa di Indonesia sampai Tangerang dan Tanjung Kait. Koh Ancih merupakan pengurus Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait, beliau dipercaya menjadi pengurus Kelenteng sekitar kurang lebih 5 tahun. Koh Ancih memberikan informasi mengenai tatacara ritual keagamaan pada Kelenteng, dewa yang ada di Kelenteng, perayaan kesenian serta bakti social yang dilakukan Kelenteng. Dr. Nanang Chaeroni selaku Kepala Seksi Pariwisata DISPORABUDPAR Kab Tangeranng. Memberikan informasi terkait pelestarian cagar budaya pada Kelenteng Tjo Soe Kong yang sudah termasuk menjadi tempat objek wisata di Tanjung Kait. Interpretasi Tahap menginterpretasikan fakta yang diperoleh dilakukan dengan mengelola fakta yang dikritik dengan mengacu pada sejumlah referensi pendukung sebagai bahan kajian penulis disebut interpretasi. Tiga gaya penulisan teknis mendasarAideskripsi, narasi, dan analisisAidigunakan secara bersamaan dalam penulisan sejarah (Sjamsuddin, 2019: . Maknanya harus berbicara sendiri. Kemampuan menjelaskan persoalanpersoalan kekinian selain memaparkan fakta-fakta sejarah dan makna penting dari subyek-subyek sejarah disebut kemampuan interpretatif. Dalam konteks sejarah dunia nyata, yang ada hanya interpretasi sejarah, jadi tidak ada masa Setiap generasi berhak mengkonstruksi interpretasinya sendiri karena tidak ada interpretasi final (Sulasman, 2014: . 1855 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Interpretasi dilakukan untuk menginterpretasikan sumber-sumber yang telah diperoleh. Kritik sumber akan berlanjut pada tahap interpretasi, ketika sumber telah dikritik maka akan muncul interpretasi terhadap sumber yang telah ditemukan. Menganalisis sumber dari berbagai sudut pandang untuk menghindari subjektivitas. Seringkali subjektivitas akan muncul dalam proses penafsiran, karena penafsiran yang dipahami bisa dibilang cukup berimbang. Namun, satu sumber dan sumber lainnya akan diintegrasikan, sehingga tidak ada subjektivitas dalam proses interpretasi. Historiografi Historiografi merupakan langkah terakhir untuk menuangkan isi pemikiran berdasarkan data-data yang telah ditemukan dan diolah dengan kritik baik eksternal maupun internal. Menulis sejarah merupakan cara utama paling ampuh dalam memahami sejarah. pada tahap menulis, sejarawan menggunakan dan menuangkan isi pikirannya kepada setiap bait dalam tulisan dan penggunaan pemikiran kritis analisis yang bermuara pada sintesa hasil yang disebut historigrafi (Sjamsuddin, 2019: . Pada tahap ini, temuan di lapangan kemudian akan dipelajari dan dituliskan dalam bentuk tulisan sejarah dengan judul AuPerkembangan Arsitektur dan Fungsi Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait Tahun 19592018Ay. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Berdirinya Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait Gambar 1. Bangunan Utama Kelenteng (Sumber: Nandita Erisca 2008:. Bunyi lonceng yang dibunyikan di dalam bangunan untuk memanggil orang sembahyang menjadi inspirasi istilah Kenteng. Ketika sedang diadakan upacara sembahyang, suara Auklinting-klintingAy yang sering terdengar dari dalam gedung (Setiawan et al. , 1990: . Kuil ini dikenal dengan sejumlah nama di Tiongkok, termasuk kuil Konfusius atau Tao. Bio atau Miao. untuk kuil Buddha. Sie atau Si. untuk kuil Tao. Koan atau Guan. dan untuk kuil Tao. Kiong atau Gong (Yoest, 2008: Namun. Kelenteng lebih umum digunakan di Jawa. Disebut Tepekong atau 1856 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Toapekong di luar Jawa, yaitu nama yang diberikan kepada Dewa Air. Secara administratif Kelenteng Tjo Soe Kong berada di Desa Tanjunganom. Kecamatan Mauk. Kabupaten Tangerang. Provinsi Banten, di Jalan Tanjung Kait. Pemukiman mengelilingi Pura di sisi timur dan selatannya, perkampungan di utaranya, klenteng Hok Tek Tjeng Sin, dan Laut Jawa, serta kawasan pemukiman dan Jalan Raya Tanjung Kait di baratnya. Ekspansi ladang tebu oleh orang Tionghoa dari wilayah pesisir antara Banten dan Jakarta pada awal abad ke-18 dikaitkan dengan pembangunan Kelenteng Tjo Soe Kong. Tahun tepatnya Kelenteng Tjo Soe Kong didirikan tidak diketahui mengingat konteks sejarahnya. Diperkirakan komunitas Tionghoa Tanjung Kait, pendatang dari distrik Anxi di provinsi Hok Kian, membangunnya pada tahun 1792 dan abad ke-18 (Franke et al. , 1997: . Sumber tersebut mengklaim, dalam kapasitasnya sebagai ketua yayasan. Kasum Tri Harja menyatakan luas lahan kelenteng melebihi 9 hektare dari bangunan kelenteng di Jl. Tanjung Kait Kec Mauk ke Jl. Karang Serang Kec Sukadiri, namun luas tanah yang digunakan untuk pembangunan Pura hanya sekitar 1 hektar. Alih-alih menghadap laut Tanjung Kait, bangunan Klenteng Tjo Soe Kong justru menghadap ke barat. Sekitar 200 meter memisahkan struktur kelenteng dari pantai Tanjung Kait. Ini tidak biasa karena Kuil biasanya dibangun dengan membelakangi gunung atau menghadap ke laut. Karena Thian Siang Sing Bo, dewi pelindung para pelaut, bukanlah tuan rumah utama, dapat dipahami mengapa Kelenteng Tjo Soe Kong dibangun di sebelah barat, bukan di laut. Namun. Kongco Tjo Soe Kong adalah tuan rumah sekaligus petani tebu. Menurut manuskrip Andries Teisseire, "Kelenteng khusus Tionghoa ditemukan terisolasi, tetapi dipertahankan. ", kelenteng ini didirikan pada tahun Setiap tahun, pada akhir November atau awal Desember, penduduk Tionghoa berkumpul untuk upacara besar, yang selalu dihadiri oleh 100 jemaat dari Batavia. Tangerang, dan sekitarnya (Franke. Salmon. Anthony K. K Siu, 1997: . Kelenteng Tjo Soe Kong telah mengalami sejumlah transformasi fisik sejak abad ke-18. Pemugaran yang signifikan terjadi pada tahun 1882, menurut sebuah prasasti di atas batu. Selama pergolakan setelah revolusi yang terjadi antara tahun 1946 dan 1948, kelenteng ini mengalami masa-masa sulit. Setelah kemerdekaan dilakukan pemugaran pertama, atap, tiang, dan dinding kelenteng rusak karena bangunannya masih sederhana dan menggunakan kayu, bambu, dan balok. Belakangan, bahan tambahan dan konstruksi modern ditambahkan untuk memperkuat bangunan utama dengan batu bata dan semen. Pada 21 Maret 1959, renovasi pertama dilakukan. Lim Tiang Pah, putra Lim Tju Ban, merenovasi Tju Ban adalah anak dari Lim Tjeng Houw, yang bersembunyi di Pura saat tsunami Krakatau dan selamat. Untuk membangun kembali Klenteng Tjo Soe Kong agar terlihat lebih bersih, seperti yang kita lihat pada era sekarang ini, kurang lebih satu selang waktu atau lebih, renovasi pertama ini merupakan renovasi yang signifikan karena banyaknya aspirasi, termasuk sumbangan atau sumbangan dari orang Tionghoa. masyarakat itu sendiri. Setelah dua tahun, dibangunlah ruang 1857 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. tengah yang disebut juga Ruang Dewa sebagai tempat ibadah. Ruang Dharmasala, juga dikenal sebagai Ruang Dewa, memiliki lukisan 15 dewa dan patung dewa, atau Bangunan kelenteng utama direnovasi dan diperbaiki pada tahun 1959. Dalam prasasti disebutkan bahwa renovasi dilakukan atas upaya panitia. Menurut prasasti Kelenteng, biaya renovasi ditanggung oleh para donatur dari penduduk setempat pada tahun 1882, ketika sebuah Kelenteng tambahan di sebelah utara bangunan utama direnovasi (Lombard, 1980: . Renovasi kedua pada tahun 2018 hanya mencakup pembangunan dan perbaikan baru untuk menyempurnakan penampilan dan fungsi Bait Suci. Tidak ada pemugaran bangunan, seperti mengganti atap, dinding, pilar, dan pagar. Bangunan utama diperkuat dengan sejumlah konstruksi modern dan penambahan material. Awalnya, dinding bangunan dilapisi granit dan hanya menggunakan semen. Selain itu, dibangun atap hiolo besar dengan pagoda delapan dewa yang dimaksudkan untuk membawa keberuntungan bagi masyarakat sekitarnya, dan pagar diganti dengan semen dan besi serta diberi lukisan ornamen flora dan fauna. Selain itu, ada bangunan kedua yang menonjol dengan jembatan merahnya dan sering dikunjungi. Namun, bentuk asli kelenteng tidak banyak berubah karena renovasi. Struktur Kuil pada dasarnya adalah arsitektur tradisional Tionghoa. Kuil juga digunakan untuk pertemuan sosial selain perannya sebagai tempat latihan spiritual. Halaman depan, ruang suci utama, ruang tambahan, dan bangunan samping adalah empat bagian utama kelenteng. Setiap komponen Bait Suci melayani tujuan yang Ada beberapa sosok dewa yang berperan sangat penting di seluruh Kompleks Kelenteng Tjo Soe Kong. Sebuah altar di bangunan utama Kelenteng Tanjung Kait dikhususkan untuk Tuhan Yang Maha Esa (Thian Thi Kon. Selain itu, di gedung ini terdapat altar yang dikhususkan untuk Kongco Tjo Soe Kong, dewa utama yang disembah. Dewa Bumi (Hok Tek Tjeng Si. , yang sangat dipuja oleh para pemujanya, bertempat di bangunan tempat peziarahan dan Pura. Altar Empe Dato dan Embah Rachman dapat ditemukan di gedung ini selain Hok Tek Tjeng Sin. Altar yang didedikasikan untuk Dewi Neng dapat ditemukan di kuil dewa. Perkembangan Arsitektur Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait Gambar 2 Pintu masuk Utama (Sumber: dokumentasi pribad. 1858 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Tembok bata mengelilingi Klenteng Tjo Soe Kong, dan pagar besi menutupi setengah bagian atasnya. Gapura bergaya paduraksa beratap runcing dan ujung runcing berfungsi sebagai pintu masuk utama Kelenteng yang berada di sebelah Nama Klenteng Tjo Soe Kong Tandjung Kait tertulis di atapnya. Terdapat lapangan atau halaman luas di sebelah utara gapura utama yang digunakan untuk parkir dan sebagai jalan menuju bangunan utama Pura Tanjung Kait. Pintu masuk utama, halaman depan, ruang suci utama, dan bangunan penghubung membentuk bangunan utama Pura Tanjung Kait. Halaman depan berbentuk persegi panjang dengan panjang 9,20 meter dan lebar 14,30 meter. Gambar 3 Pintu Masuk Utama (Sumber: dokumentasi pribad. Terdapat lapangan atau halaman luas di sebelah utara gapura utama yang digunakan untuk parkir dan sebagai jalan menuju bangunan utama Pura Tanjung Kait. Pintu masuk utama, halaman depan, ruang suci utama, dan bangunan penghubung membentuk bangunan utama Pura Tanjung Kait. Halaman depan berbentuk persegi panjang dengan panjang 9,20 meter dan lebar 14,30 meter. Selanjutnya. Bangunan utama Pura Tanjung Kait berbentuk persegi panjang dan menghadap ke barat. Panjangnya 15 meter dan lebar 14,70 meter. Ada tiga tahapan dalam deskripsi Pura Tanjung Kait: tubuh bangunan utama, atap, dan alas Gambar 4 Halaman Depan Bangunan Utama (Sumber: dokumentasi pribad. 1859 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Dua tempat pembakaran kertas, dua patung singa, dua batu pipih berbentuk gendang dengan alas persegi . , dan sebuah altar dengan pembakar dupa . iolo/pedupaa. dapat ditemukan di halaman ini. Di sisi utara dan selatan pintu masuk terdapat tempat pembakaran kertas. Tata letak tempat pembakaran kertas berbentuk segi enam dengan ukuran yang sama, lebar 5,80 meter dengan tinggi 4 Cat kuning membaginya menjadi enam tingkat, dan lubang untuk pembuangan asap dibor ke dinding bangunan. Bentuk bulat memiliki tiga tingkatan bercat merah di bagian atas. Prasasti Cina dapat ditemukan di tempat pembakaran kertas (Salmon dan Siu, 1997: . , prasasti Cina mengatakan bahwa Huang Qingsog dari Tingzijiao (Pasar Gelap. Batavi. menyumbangkan tempat pembakaran kertas di sisi utara bangunan utama, yang dibangun pada tahun 1873. Prasasti di sisi selatan bertuliskan "Paviliun Perlindungan Berharga", yang berarti Zheng Cheng An menyumbangkan tempat suci utama pada tahun 1868. Gambar 5 Patung Singa Bagian Kiri (Utar. dan Bagian Kanan (Selata. (Sumber: dokumentasi pribad. Di sisi utara dan selatan pintu masuk terdapat dua patung singa yang melambangkan kerukunan beragama. Patung singa batu andesit ini terletak sejajar dengan bangunan tempat pembakaran kertas. Kedua arca singa sumbangan Zhang De Hai ini memiliki tinggi 1,25 meter dan terpahat tahun 1832 dan 1833. pelataran Kelenteng Tjo Soe Kong terdapat dua arca Ciok-Say . yang terbuat dari batu andesit (Salmon dan Siu, 1997: . Sementara Ciok-Say betina sedang bermain dengan anaknya seperti biasa, singa jantan mengayunkan bola yang diletakkan di atas batu dengan relief kuda dan singa serta ornamen melengkung. Sebuah batu bundar dengan relief binatang dan ukiran daun, bunga-bunga indah, dan patung singa tersembunyi di baliknya. Mungkin ini adalah batu nisan yang dibawa Andries Teisseire, tuan tanah Batavia terkaya . 6Ae1. yang dibawa langsung dari Cina selama pembangunan kelenteng, kepada masyarakat. Kelenteng Tjo Soe Kong ditemukan oleh Andries pada tahun 1792, namun tanggal pembangunannya tidak diketahui secara pasti. 1860 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Gambar 6 Hiolo Besar (Sumber: dokumentasi pribad. Altar yang dilengkapi dengan pembakar dupa . iolo atau pedupaa. terletak di tengah depan bangunan utama. Altar awalnya terbuat dari kayu, dan dupa yang digunakan adalah tongkat dan sering disebut dupa. Altar ini dikelilingi oleh hiolo besar yang terbuat dari kuningan dan memiliki empat kaki serta ornamen singa di sisi kanan dan kirinya. Pembakar dupa adalah peringatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebuah prasasti bertanggal 1971, ditulis oleh Li Hui Chun. Chen Chun Zhang. Li Chen Hwa. Li Xing Ye. Li Bao Ye, dan Li Zhan Ye, dapat ditemukan di hiolo besar (Salmon dan Siu, 1997: . Namun, setelah renovasi, sebuah altar yang menyerupai delapan pagoda sekarang mengelilingi hiolo, dengan lukisan dewa yang melambangkan keberuntungan dan atap yang dirancang untuk melindungi hiolo dari panas dan hujan. Gambar 8 Baogushi (Sumber: dokumentasi pribad. Ada juga dua baogushi abad ke-18 di sisi utara dan selatan hiolo besar ini. Relief yang menggambarkan burung, pohon, manusia, dan bunga menghiasi baogushi ini. Denah Kelenteng Tjo Soe Kong berbentuk persegi panjang yang menghadap ke Barat dan berorientasi timur-barat. Tiga dinding yang membentuk ruang suci 1861 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. utama adalah dinding Utara. Selatan, dan Timur. Karena tidak ada tembok di sisi barat, menyatu dengan halaman depan. Sebuah altar utama yang terbuat dari semen dan didedikasikan untuk Kongco Tjo Soe Kong dapat ditemukan di sisi timur tembok Rangka kayu berhias kain emas dan merah menampung Kongco Tjo Soe Kong di atas altar. Selain itu, papan kayu yang diukir dengan karakter Ciam Si dan Cina digunakan untuk meramal. Jubah merah bersulam emas digambarkan pada Kongco Tjo Soe Kong yang duduk di singgasana. Hiolo diletakkan di atas meja kayu kecil di depan altar. Kain merah memanjang digunakan untuk menggantung atap dari langit-langit. Gambar orang dan bunga bersulam emas tertulis di kain dalam huruf Cina. Altar Pek How dan Pe-Coa Cian Kun dapat ditemukan di dasar altar Kong Tjo Soe Kong. Ular dan harimau Pek How dan Pe-Coa Cian Kun diduga adalah pengawal Kongco Tjo Soe Kong. Hiolo kuningan dengan dua ornamen singa di kedua sisinya dapat ditemukan di altar ini. Persembahan buah-buahan dibuat di altar ini. Altar yang didedikasikan untuk pengobatan Kongco dapat ditemukan di belakang altar Kongco Tjo Soe Kong. Telur dan buah-buahan dipersembahkan sebagai persembahan di altar ini. Gambar Kongco Tjo Soe Kong dipajang di altar dan dapat ditemukan di laci di samping meja altar tempat menyimpan obat resep. Kain merah dengan pola naga, bunga, dan phoenix menghiasi altar. Gambar 9 Perubahan Keramik di Klenteng Tjo Soe Kong (Sumber: Dokumentasi Pribad. Lantai bangunan utama berukuran 10 x 10 cm dan terbuat dari keramik berwarna merah. Sisi panjang lantai ubin ini diletakkan utara-selatan, sedangkan sisi lebar diletakkan barat-timur. Lantai yang digunakan saat ini masih baru dan dipasang pada tahun 1990. Granit merah dengan pola titik-titik kecil berukuran 50x50 menggantikan dua lantai ubin setelah direnovasi. Dekorasi sederhana menghiasi lantai sebagian besar kuil Tionghoa. 1862 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Gambar 10 Jendela Bulat dengan Motif Batang Pohon Bambu (Sumber: Dokumentasi Pribad. Dinding yang saat ini terbuat dari batu bata tetapi sebelumnya terbuat dari bambu dan kayu dapat ditemukan di badannya. Dua dinding, di sisi selatan dan utara, menjaga ruang suci utama. Dengan delapan tiang penyangga, serambi depan merupakan ruang terbuka. Jendela bundar dengan hiasan batang pohon bambu di tengahnya terletak di dinding depan yang menghadap ke barat. Udara di ruang utama berventilasi melalui jendela ini. Di ruang sakral primer, keramik merah di bagian bawah dan keramik putih di bagian atas menutupi seluruh dinding berukuran 10 x 10 cm. Setelah renovasi, granit dipasang di dinding. Biasanya, motif pohon plum dan bambu digunakan untuk menghiasi dinding bagian dalam kelenteng. Pohon bambu yang selalu hijau, juga dikenal sebagai "teman China", adalah simbol umur panjang karena daya tahannya (Morgan, 2007: Legenda menyatakan bahwa filsuf besar Tiongkok Lao Tze lahir di bawah pohon plum, itulah sebabnya pohon plum dipuja di Tiongkok. Menggambar, melukis, dan karya seni hias lainnya dibuat dengan menggunakan bunga. Musim dingin diasosiasikan dengan prem (Morgan, 2007: . Sementara itu, prasasti dalam bahasa Tionghoa disebut "fu", yang artinya "semoga berhasil", menghiasi dinding luar kelenteng. Jendela bangunan Tionghoa bisa berbentuk persegi, segi delapan, atau bahkan berbentuk binatang khas Tionghoa. Mereka diisi dengan batang bambu sejajar yang terbuat dari semen atau keramik hijau (Kohl, 1984: . Jendela Yuedong berbentuk lingkaran. Jendela yang berbentuk segi delapan . disebut segi delapan. Ada nama yang berbeda untuk setiap komponen jendela, seperti chuang . embukaan jendel. , chuang kuang . ingkai jendel. , dan chuang ling . Kisi-kisi tersebut dapat disusun dengan berbagai cara, antara lain bambu, kotak, desain silang, desain kulit penyu, dan desain huruf seperti kou dan yu (Lip, 2009: . Jendela kelenteng ini berbentuk bulat. 1863 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Gambar 11 Pintu Penghubung dengan Ruangan Jin Ji Le Thie Sin (Sumber: dokumentasi pribad. Di sisi utara dan selatan altar Kongco Tjo Soe Kong di bangunan utama terdapat dua buah pintu. Sebuah pintu juga terletak di sisi timur altar obat Kongco. Kamar Jin Ji Le Thie Sin dan bangunan utama di hubungkan oleh pintu ini. Gambar 12 Tiang Ruang Utama (Sumber: dokumentasi pribad. Di ruang suci utama tidak ada pilar penyangga atap. Di serambi depan, terdapat delapan pilar yang menopang atap. Kedelapan pilar tersebut terdiri dari: empat pilar di sisi barat dan empat pilar di sisi timur. Di sisi timur terdapat dua tiang yang masing-masing dihiasi kain berhuruf Tionghoa. Semua pilar di teras depan dilapisi ubin granit setinggi A 1 m. Orang suci, prajurit, mawar . mur panjan. , gajah . ekuatan, kecerdasan, dan kebijaksanaa. , burung phoenix . eberuntungan, pengaruh baik, dan penjag. , dan naga . enjaga, perlindunga. adalah di antara dekorasi pada pilar dan rangka. dan kekuata. , qilin . ewan mirip rusa dengan ekor seperti sapi dan sisik ika. , atau binatang misterius lainnya. 1864 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Gambar 13 Atap Bangunan Utama (Tampak Depa. (Sumber: dokumentasi pribad. Dua atap menutupi bangunan utama: satu menutupi teras dan yang lainnya menutupi ruang tamu dan ruang suci utama. Atap teras berbentuk perpaduan atap pelana dan jurai, sedangkan ruang keramat utama dan bagian tengah atap berbentuk atap pelana. Salmon dan Lombard . 3:53-. menyatakan bahwa bubungan atap kelenteng memiliki ujung yang runcing seperti ujung sedotan. Ketiadaan hiasan naga dan mutiara merupakan salah satu ciri arsitektur Cina. Jenis ini sering dikaitkan dengan tema fauna, seperti ekor phoenix yang menonjol. Sistem V memiliki dinding yang langsung menempel dan menopang atap. Gambar 14 Atap Hiolo Utama (Sumber: dokumentasi pribad. Gaya Cina memiliki struktur atap melengkung dengan motif dekoratif dan sistem struktur rangka balok dan pilar (Lip, 1986. Di Indonesia, hanya ada dua tipe atap pelana ini: tipe dengan bubungan yang runcing tajam dan tipe dengan ornamen v terbalik. Selain itu, hanya daerah tertentu di Cina Selatan yang memiliki atap dengan bubungan melengkung dan ujung ngarai yang menjulang ke Karena bubungan atap di Cina Utara memiliki alur vertikal yang membentang dari ujung rusuk ke tengah, ini merupakan perbedaan yang besar. Latar belakang budaya dan estetika menjadi akar penyebab perbedaan tersebut. (Lip, 2009: . 1865 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Lanjut. Genteng kelenteng ini juga cocok dengan jenis atap yang biasa digunakan di kelenteng dan rumah ibadah Tionghoa. Dalam bukunya Feng Shui dalam Arsitektur Cina. Lip membagi berbagai jenis ubin menjadi dua kategori utama: xiaowa . entuk kupu-kup. , yang dapat menutupi permukaan atap apa pun, dan tongwa . entuk silinde. , yang digunakan di tempat yang lebih mewah dan bangunan penting. Ubin yang tercantum di bawah ini sebagian besar berasal dari dinasti Ming dan Qing dan disebut dengan nama masing-masing. (Lip, 2009: Fungsi Bangunan Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait Seperti kebanyakan tempat pemujaan, fungsi utama Kelenteng Tjo Soe Kong adalah sebagai tempat pemujaan seperti banyak tempat ibadah lainnya. Kelenteng juga menjadi tempat kegiatan sosial, objek wisata, serta perayaan lainnya seperti Shejit. Cap Gomeh. Imlek dan Peh Cun. Namun di Indonesia, khususnya di Tanjung Kait. Kelenteng tua juga menjadi tempat situs sejarah dan pelestarian budaya Tionghoa yang sudah menjadi Cagar Budaya Banten, bahkan menjadi tempat perajutan budaya antara budaya Tionghoa dengan budaya lainnya. Temuan studi ini akan digunakan untuk mengidentifikasi dan menyelidiki filosofi dan tujuan arsitektur Kelenteng Tjo Soe Kong. Dekorasi arsitektural bangunan Kelenteng yang unik dan filosofis, diawali dengan pemilihan warna dan penggunaan atribut untuk menghiasi ruang Kelenteng, pada hakekatnya mewarisi heterogenitas dari budaya Tionghoa. Warna merah, hijau, emas, dan kuning mendominasi interior Kelenteng Tjo Soe Kong, menurut temuan penelitian. Emas adalah warna yang berarti keberuntungan dan kebahagiaan bagi orang Tionghoa. Warna merah dikaitkan dengan kebahagiaan dan kemakmuran, sedangkan warna hijau dikaitkan dengan kebahagiaan. Filosofi dan tujuan arsitektur Kelenteng Tjo Soe Kong akan diidentifikasi dan diselidiki menggunakan temuan penelitian ini. Diawali dengan pemilihan warna dan penggunaan atribut untuk menghiasi ruang Kelenteng, dekorasi arsitektur bangunan Kelenteng yang unik dan filosofis pada dasarnya mewarisi keragaman budaya Tionghoa. Berdasarkan temuan penelitian, interior Klenteng Tjo Soe Kong didominasi oleh warna merah, hijau, emas, dan kuning. Orang Cina menganggap emas sebagai warna keberuntungan dan kebahagiaan. Hijau dikaitkan dengan kebahagiaan, sedangkan merah dikaitkan dengan kemakmuran dan kebahagiaan. Berbagai agama terwakili dalam masyarakat Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka, setiap agama membutuhkan tempat ibadah. Selain itu, tata letak dan bentuk setiap tempat ibadah juga unik. Dwi Ananta Devi menggambarkan Klenteng sebagai tempat pemujaan Tridharma Khonghucu. Budha, dan Tao dalam bukunya Toleransi Beragama. Berikut fungsi kelenteng: Sumber ajaran spiritual Penanda sejarah perkembangan masyarakat Tionghoa Sumber simbol ajaran berbagai kepercayaan Pusat kegiatan sosial dan pembauran kesenian 1866 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Dahulu, kelenteng ini hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan dan tempat berkumpulnya umat Buddha pada hari-hari besar umat Buddha. Namun, antara tahun 1970 dan 1990, pengunjung dari luar kota, mulai dari pulau Jawa hingga daerah lain di Jawa, datang ke kelenteng ini. seperti Palembang. Medan. Nias, dan Sumatera. Bahkan orang India, dari luar negeri, datang ke kuil ini untuk beribadah. Keberadaan kelenteng di Indonesia sebagai tempat ibadah, bangunan bersejarah, dan tempat pelestarian budaya TionghoaAibahkan sebagai tempat pertemuan budaya antar budaya lain. Tangerang memiliki kawasan Pecinan yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan berbisnis bagi etnis Tionghoa. Pecinan, perpaduan budaya Tionghoa dan tradisi lokal (Marwati & Ikrama, 2. Kecamatan Mauk Kota Tangerang dan kawasan Tanjung Anom sekitarnya terdapat bangunan-bangunan bergaya Tionghoa yang dapat dilihat secara visual. dengan hadirnya sebuah kelenteng di kawasan tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi juga berperan penting di masa lampau dalam kehidupan masyarakat Tionghoa. juga mengisyaratkan estetika Cina pada bangunan di Pecinan Kota Tangerang. Komunitas Tionghoa di Tangerang telah meninggalkan warisan arsitektural yang signifikan berupa bangunan tempat tinggal maupun bangunan religi. Banyak jejak budaya Tionghoa yang masih dapat ditemukan di wilayah mana pun di dunia. Bangsa Tionghoa masih memegang teguh tradisi budaya kosmologis, yang seringkali melengkapi alam dan memberinya filosofi kerja yang khas dan Desain khas oriental memiliki akar budaya yang dalam dan sangat filosofis. Dalam hal ini akan menyenangkan dan unik, dan desain arsitektur dalam gaya oriental indah, terutama di ruang utama Kelenteng Tjo Soe Kong. Ruang utama Kuil menampilkan banyak penerapan elemen khas Cina dan oriental. Untuk menciptakan sebuah desain yang bernilai estetika, komponen-komponen tersebut dibentuk dan dibangun berdasarkan pemahaman akan fungsi, bentuk, dan makna desain. Karena terbuka untuk umum. Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjug Kait merupakan salah satu kelenteng umum tertua di Banten. Pagoda ini memiliki dua tujuan: pertama, sebagai tempat suci dimana umat dapat beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan kedua, sebagai tempat berlangsungnya kegiatan masyarakat yang bernuansa religi dan budaya. Untuk pemujaan, terdapat ruangan suci dengan beberapa dewa. KESIMPULAN DAN SARAN Jadi dapat disimpulkan bahwa Kelenteng Tjo Soe Kong di Tanjung Kait merupakan Kelenteng tua yang diberdiri pada tahun 1792 abad -18 oleh komunitas Tionghoa Tanjung Kait yang merupakan imigran asal dari kabupaten Anxi propinsi Hok Kian. Pembangunan Kelenteng Tjo Soe Kong berkaitan dengan perluasan lahan tebu . aat ini sudah tidak ad. Kelenteng Tjo Soe Kong hingga saat ini masih dapat digunakan sebagai tempat aktivitas keagamaan oleh masyarakat pendukungnya yang masih terawat dengan baik karena memiliki struktur kepengurusan untuk merawat Kelenteng. Dari segi bangunan. Kelenteng Tjo Soe Kong telah mengalami 1867 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1847-1869 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. beberapa kali perbaikan dan penambahan bangunan hal tersebut sangat wajar sekali mengingat perkembangan umat yang semakin banyak dan berkembang serta fungsi bangunan yang terus bertambah. Kelenteng sebagai bangunan suci masyarakat Cina, dibangun dengan dasar pemikiran yang berlandaskan dengan apa yang mereka percayai serta berlandaskan kepada aturan-aturan yang telah dijadikan pedoman. Pembuatannya juga memiliki makna filosofi yang berasal dari kebudayaan mereka. Selain dari segi arsitektur, dalam pembangunan Kelenteng didasari penggunaan ornamentasi/hiasan dan Feng Shui sangat mempengaruhi hal tersebut. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya, dapat terlihat bahwa dari segi arsitektur, pendirian bangunan Kelenteng Tjo Soe Kong mengikuti konsep-konsep arsitektur bangunan Cina yang biasa diterapkan pada Kelenteng namun tidak sepenuhnya. Ada pula beberapa hal yang tidak diterapkan pada bangunan utama, hal tersebut bisa saja karena perbedaan keadaan iklim dan kondisi lingkungan, serta penambahan bangunan yang merubah material bangunan tersebut. Aturan-aturan yang masih terlihat pada bangunan Kelenteng Tanjung Kait yaitu: Denah ruang pada bangunan utama simetris. Dinding terbuat dari batu, tanah, atau kayu. Tiang berbentuk segi empat. Sebagian besar tiang terbuat dari batu khususnya batu granit atau kayu. Memiliki salah satu tipe atap yang merupakan ciri arsitektur bangunan Cina. Memiliki salah satu tipe bubungan atap yang merupakan ciri arsitektur bangunan Cina. Atap berbentuk landai. Atap mempunyai warna-warna terang. Patung dewa/objek pemujaan diletakkan di altar yang diberi ornamen atau relung. Patung dewa/objek pemujaan pada posisi pusat ruang, dan Dewa yang terpenting diletakkan di bagian tengah. Bangunan kelenteng Tjo Soe Kong menjadi penting karena digolongkan kedalam living monument yang masih difungsikan sebagai tempat aktivitas keagamaan oleh masyarakat pendukung, dengan menunjukkan keberadaan komunitas Cina di Tanjung Kait. Dari segi bangunan. Kelenteng Tanjung Kait telah mengalami beberapa kali perbaikan dan penambahan bangunan hal tersebut sangat wajar sekali mengingat perkembangan umat yang semakin banyak, akan tetapi penulis sangat mengharapkan sekali agar perbaikan-perbaikan yang dilakukan terhadap Kelenteng ini pada masa kemudian tidaklah menyimpang dari bentuk Peran pemerintah sangat diharapkan untuk menjadikan bangunan Kelenteng Tanjung Kait sebagai bangunan yang dilindungi Pemerintah, yang keberadaannya harus terus dilestarikan dan dijaga. Kelenteng juga merupakan suatu bukti keberdaan masyarakat Cina di daerah Tanjung Kait. Tangerang. DAFTAR PUSTAKA