5 PEMANFAATAN ESTIMASI POSE GERAK PADA PENARI TRANCE DALAM RITUAL ADAT NGALAKSA Wanda Listiani. Ai Juju Rohaeni Received: 14 January 2024. Accepted: 28 January 2024. Published: 30 March 2024 Ed. : 365 - 371 Abstract This research aims detected the motions poses of trance dancers as a computer vision model in the trance dancers performing arts. The annual ceremonies of the Ngalaksa ritual and the Tarawangsa art as cultural traditions in Rancakalong Tourism Village, located in Sumedang. West Java. This ritual serves as a reverent to the Rice Goddess, with the farmers engaging in ceremonial processions and traditional Ngalaksa rites. Accompanied by the melodic strains of Tarawangsa music, participants dancing in rhythmic dance, some even entering trance states. On the other hand, the advancement of artificial intelligence technology is rapid. This research used machine learning for detecting the motion poses of dancers experiencing trance. The research endeavors to discern motion poses within trance dancers during Ngalaksa rituals for understanding the dynamics motion of traditional Ngalaksa rituals. Machine learning methods applied particularly computer vision utilizing GluonCV model. The study analyzes a dataset comprising motion poses of dancers in Rancakalong Village. Data gathering involves firsthand observation, field participation, and in-depth interviews with informans, including Saehu, dancers and Arak-Arakan participants. The research findings show the accuracy of pose estimation within the Ngalaksa ritual, though refinement of detection models for both trance and non-trance dancers warrants further research. Keywords: Artificial Intelligence. Performing Arts. Estimation of Motion Poses. Tarawangsa. Ngalaksa Ritual. PENDAHULUAN Upacara adat sebagai penghormatan kepada Dewi Sri dilangsungkan dalam berbagai bentuk dan keunikan. Salah satu upacara adat tersebut adalah ritual ngalaksa di Rancakalong Sumedang. Jawa Barat. Ritus Dewi Sri dibingkai dalam seni pertunjukan dengan cara penyajian yang berbeda-beda. Berbagai aspek artistik figure Dewi Sri disimbolkan berbeda dalam konteks latar belakang budaya masyarakat adat di setiap daerah. Ritual ngalaksa memiliki aspek seni pertunjukan tradisi. Ketiga aspek ini menjadi satu kesatuan utuh dalam penyajian upacara penghormatan pada Dewi Padi. Data penelitian ini diperoleh dari penelitian lapangan dan studi literatur tentang ritual ngalaksa di Desa Wisata Rancakalong. Sumedang. Jawa Barat. Ketika tim peneliti melakukan penelitian lapangan, salah satu rurukan yang ditunjuk sebagai pamangku hajat di Desa Wisata Rancakalong saat itu adalah rurukan Cijere. Berikut pemandangan sawah yang di Desa Rancakalong. Sumedang: Gambar 1. Petunjuk Lokasi Wisata Budaya dan Hamparan Sawah di Desa Rancakalong. Sumedang. Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024. Gambar 2. Penari perempuan trance diiringi seni Tarawangsa. Sumber: Dokumentasi Penelitian. Wilayah Desa Wisata Rancakalong berada di dataran tinggi. Masyarakat Rancakalong sebagai masyarakat agraris memiliki mata pencaharian sebagai petani. Mereka menganggap upacara adat atau ritual ngalaksa merupakan bagian terpenting sebagai petani dan upaya menghormati Dewi Padi. Praktik ritual ngalaksa sebagai tradisi dan kesadaran agraris dikomunikasikan dalam bentuk simbol seni pertunjukan dan upacara adat. Ritual ngalaksa dimaknai mendalam oleh masyarakat pengikutnya. Bahkan menurut Sukarma (Suhaenah et. al, 2. sebagai Saehu Rancakalong. AuMasyarakat Rancakalong sanes migusti pare, tapi mupusti pare (Artinya : Masyarakat Rancakalong bukan menyembah padi, tapi menghormati pad. Ritual ngalaksa dilakukan secara turun-temurun. Padi menjadi kebutuhan masyarakat Rancakalong. Masyarakat Rancakalong memiliki tempat khusus di rumah berupa goah. Tempat menyimpan beras disebut padaringan yang berbahan tanah liat. Di dalam goah, terdapat juga tempat sembahyang dan memberi sesaji untuk Karuhun dan Sri Pohaci (Suhaenah et. Goah digunakan sebagai media perantara dengan roh leluhur atau karuhun dan penghormatan terhadap Nyi Pohaci. Nyi Pohaci dipercaya oleh masyarakat Desa Rancakalong sebagai dewi kesuburan. Berbagai cara penghormatan Nyi Pohaci dilakukan dalam bentuk upacara atau ritual adat terhadap padi, salah satunya adalah ritual ngalaksa. Ritual ngalaksa diiringi tarian dan seni Tarawangsa. Berikut gambar penari trance diiringi alat musik kecapi . dan rebab . gek-nge. Ritual ngalaksa dan seni Tarawangsa merupakan salah satu upaya masyarakat Rancakalong untuk menghidupkan padi dan harmonisasi antara Tuhan-Alam-Manusia. Upaya ini dilakukan oleh masyarakat Rancakalong untuk mendapat berkah sebagai petani. Berikut berbagai simbol dan sesajen dalam upacara adat ngalaksa: Gambar 3. Sesajen dan Boneka yang terbuat dari Pare. Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024 Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 364 - 371 Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif-kualitatif. Dataset pose gerak tari dikumpulkan dari para penari dalam ritual Dataset ini dianalisis menggunakan estimasi pose gerak dengan GluonCv untuk mendeteksi penari yang mengalami GluonCV merupakan salah satu teknik transfer learning yang digunakan untuk model deteksi objek (Goel et. al, 2. Tim peneliti juga melakukan pengamatan terlibat dan langsung dalam ritual adat ngalaksa sejak tahun 2014. Untuk memperdalam hasil analisis, tim peneliti melakukan wawancara mendalam pada saehu, penari yang mengalami trance dan peserta arak-arakan. Analisa data dengan model computer vision untuk mendeteksi pose gerak penari trance dalam ritual ngalaksa. Pola gerak penari dalam ritual ngalaksa dapat membantu mengidentifikasi pola gerak trance pada ritual adat ngalaksa di Desa Wisata Budaya Rancakalong. Sumedang. Jawa Barat. Penelitian sebelumnya tentang hubungan antara tarian suku dan trance dilakukan oleh Cheymol et. Tubuh penari yang mengalami trance dianggap sebagai media spiritualitas yang mengalami transendensi. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Daragmeh al . menggambarkan signifikansi dialogis trance dalam tari sebagai sebuah adegan diskursif ekspresi tubuh perempuan. Trance dalam tari merupakan praktik ritual (Maape. Trance dalam tari menunjukan perubahan kondisi kesadaran dan aspirasi untuk mengubah realitas (Garfinkel, 2. Disisi lain, penelitian tentang trance untuk penyembuhan atau terapi yang berfokus pada intensitas emosional dalam music dan tari Ju di Afrika Selatan dilakukan oleh Keeney et. Menurut Keeney et. al, bentuk trance tari Ju memanfaatkan gairah, penguatan emosi, suara improvisasi dan gerakan spontan. Trance Ju dianggap membangkitkan perasaan positif yang kuat melalui ritme dan lagu, getaran spontan dalam tubuh dan meneruskan getaran pada orang lain (Keeney et. al, 2. Temuan penelitian Keeney et. al berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hegeman . Menurut Hegeman, trance atau kerasukan roh . sebagai sarana pelarian dari kenyataan yang tak tertahankan, bentuk ekspresi kebutuhan dan keinginan yang dilarang oleh penguasa, cara memasuki identitas yang tidak tunduk pada penguasa adat dan pemeragaan kembali pengalaman traumatis (Hegeman, 2. Berdasarkan hasil kajian literatur tersebut maka penelitian tentang pemanfaatan computer vision dalam mendeteksi penari yang mengalami trance pada ritual adat menjadi penting untuk dilakukan. PEMBAHASAN Ritual ngalaksa dimulai dengan arak-arakan rurukan menuju ke tempat upacara adat. Arak-arakan ini membawa alat/jenis kesenian, alat-alat dapur, hasil bumi palawija dan hasil olahan makanan. Hasil bumi palawija disimpan dalam dongdang dan dipikul oleh dua orang. Kemudian peralatan kesenian disimpan dalam saung waditra dan makanan olahan disimpan di paniisan. Hasil panen berupa padi disimpan di leuit (Suhaenah et. al, 2. Pose gerak dalam ritual ngalaksa berupa transformasi pengalaman gerak perilaku sehari-hari masyarakat petani dalam mengolah lahan pertanian. Akumulasi pengalaman yang membentuk pola gerak tari. Hal ini dapat dilihat melalui gerak tubuh penari saat duduk dan berdiri mengikuti iringan Tarawangsa. Ritual ngalaksa yang secara terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi. Berbagai pose gerak intuitif dan beragam memiliki makna simbolis bagi masyarakat Rancakalong. Ayunan lengan, hentakan kaki dan berbagai bunyi instrumen dari kayu dan bambu mengiringi pelaku arak-arakan dan ritual ngalaksa. Arak-arakan dan ritual ngalaksa ini menjadi seni pertunjukan tersendiri bagi masyarakat rurukan. Berikut gambar arak-arakan hasil panen pare dari rurukan: Wanda Listiani. Ai Juju Rohaeni. Pemanfaatan Estimasi Pose Gerak Pada Penari Trance. Gambar 4. Arak-arakan hasil panen pare dari 5 rurukan. Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024 Gesture badan yang menyerupai perilaku petani saat menggarap lahan pertanian baik ladang dan sawah menjadi gerakan yang mudah ditiru dalam pelaksanaan ritual. Para pelaku arak-arakan dengan langkah bebas, gerak memikul padi sambil menggoyangkan bahu pikulan ke kiri-kanan, gesekan pikulan dan tali (Suhaenah et. al, 2. Gerakan tertentu bersama bunyi alat musik berbahan bambu dan kayu ini menjadi bagian dari komponen seni pertunjukan. Mereka melakukan pertunjukan di jalan perkampungan dan balebale yang disediakan sebagai tempat ritual Arak-arakan ini juga melibatkan anak-anak bersama para orang tua dari setiap Hal ini dilakukan sebagai upaya pewarisan langsung bagi anak-anak untuk melestarikan upacara adat ngalaksa. Gambar 5. Saehu melakukan ritual membakar menyan putih, mengucapkan mantra dan sebilah keris. Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024. Warna selendang atau sampur untuk penari antara lain merah, kuning, putih, hijau, pink, oranye, dan hitam. Penari saehu pangramaan dan penari laki-laki lainnya menggunakan kemeja warna putih, jas warna hitam, totopong warna hitam, kain batik lereng beragam warna, dan memakai properti keris. Sedangkan penari perempuan menggunakan kebaya dan kain batik. Warna kebaya berbeda-beda sesuai dengan kebijakan di setiap rurukan. Berikut persiapan ritual ngalaksa: Setelah melakukan upacara adat, para pelaku arak-arakan ini menuju tempat yang telah disediakan untuk menyimpan peralatan dan makanan. Berikut gambar selendang/ sampur, keris, dan sesaji lainnya: Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 364 - 371 Gambar 7. Para penari laki-laki dan penari perempuan. Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024 Gambar 6. Bale-bale tempat pelaksanaan upacara adat. Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024. Bale-bale sebagai tempat upacara adat dilengkapi dengan sesajen dan Tarawangsa. Bentuk arena pertunjukan dengan melingkar dengan posisi penari di tengah lingkaran. Upacara Ngalaksa dimulai dari proses Nginebkeun Dewi Sri. Sesajen berupa sepasang pare yang dibentuk menjadi kepala laki-laki dan perempuan, hasil olahan makanan, bunga dan buah-buahan. Bentuk boneka ini sebagai simbol Pangramaan-Paibuan. Orang yang menari dengan iringan Tarawangsa biasanya mengalami trance atau kesurupan. Penari yang trance dianggap sebagai wujud nyata dari kehadiran Karuhun. Pesan dari Karuhun tersampaikan melalui orang atau penari yang trance. Berikut para penari laki-laki dan penari perempuan sedang menari diiringi Tarawangsa: Tarawangsa sebagai musik iringan tari dalam ritual Ngalaksa. Seni Tarawangsa terdiri dari waditra kecapi yang berdawai 7 . kawat dan rebab yang terbuat dari kayu berkawat 2 . dibunyikan dengan alat gesek. Waditra kacapi disebut jentreng dan rebab disebut ngekngek. Lagu disajikan dalam tari Babadayaan adalah lagu pangaupungan, lalayaran dan pamapag, keupat eundang, panimang, jemplang, dan bangbalikan. Gerak tari dan musik Tarawangsa cenderung berulang-ulang. Motif gerak tari antara lain sembah angkenan, mincid, keupat, adeg-adeg, dan babadayaan (Suhaenah et. al, 2. Tabel 2. Motif Gerak Tari No. Motif Gerak Tari Deskripsi Sembah angkenan oleh saehu sampur yang dilipat dua. Saehu dengan posisi duduk atau berdiri kearah keempat penjuru mata angin. Sembah gerak awal se bagai tanda dimulainya tarian dan penghor matan pada Mincid/gerak nimang edua kaki dengan silih berganti, posisi tangan pola lontang kembar sampur/ selendang disi langkan di atas kedua tangan digerakkan dan diayun seperti sedang meni mang bayi. Keupat gerak tangan seperti saat berjalan tanpa Adeg-adeg sikap kaki yang sejajar dengan posisi badan rengkuh, gerak kaki jungkung Wanda Listiani. Ai Juju Rohaeni. Pemanfaatan Estimasi Pose Gerak Pada Penari Trance. reundeuk, gerak tangan melak penari laki-laki yang sedang menari di tengah arena pertunjukan sebagai berikut: Babadayaan posisi kedua kaki silang digerakkan maju dan mundur dengan posi si tangan dige rakan saling sesuai irama Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024. Suhaenah et. Suhaenah et. Gerak tari tersebut terkadang bebas sesuai dengan keinginan penari atau improvisasi. Kadang ada penari yang trance mendekati arah tamu undangan atau penari lainnya. Ketika penari mengalami trance dapat dibedakan dengan penari biasa. Untuk mengenali pose gerak penari yang trance dilakukan deteksi dengan menggunakan estimasi pose gerak dengan GluonCV. Berikut hasil eksperimen deteksi pose gerak penari yang mengalami trance dengan penari yang tidak mengalami trance. Gambar 9. Hasil estimasi pose gerak penari laki-laki Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024 Hasil akurasi penari yang mengalami trance 584 dibandingkan penari lainnya yang memiliki akurasi lebih tinggi yaitu 652, 0. 853, 0. 936 dan 0. Estimasi pose gerak penari ini masih perlu diujicobakan pada video gerak penari lainnya. Berikut hasil estimasi pose gerak penari perempuan yang mengalami trance berbaju hitam dengan selendang merah sebesar 0. Angka estimasi pose gerak ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil akurasi penari yang lain sebesar 0. 802, 0. 974, 0. 966 dan 0. Gambar 8. Deteksi Pose Gerak Trance dengan GluonCv Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024 Estimasi pose gerak penari trance dengan hasil akurasi sebesar 0. 517 dibandingkan dengan penari penari perempuan yang ada dibelakang objek utama dengan hasil akurasi sebesar 0. dan penari laki-laki yang sedang duduk dengan hasil akurasi sebesar 0. Hasil estimasi pose gerak penari ini menunjukan bahwa estimasi pose gerak penari perempuan yang mengalami trance hasil akurasinya lebih rendah dibanding hasil akurasi penari yang lainnya. Selanjutnya eksperimen dilakukan pada para Gambar 10. Hasil estimasi pose gerak penari perempuan Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2014-2024 Dari hasil estimasi pose gerak dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan motif gerak dan hasil akurasi penari yang trance dengan penari yang tidak mengalami trance. Namun hasil penelitian ini masih perlu uji coba lebih banyak lagi data untuk memastikan perbedaan motif dan hasil akurasi tersebut pada tari ritual lainnya dari berbagai upacara adat atau ritual di Indonesia. Jurnal Budaya Nusantara Vol. 6 No. 3 (Maret 2. : 365 - 371 PENUTUP Jenis data ritual ngalaksa dan ritual di Indonesia memiliki keragaman baik dari sisi metadata dan Setiap ritual memiliki makna sakral bagi masyarakat pengikutnya yang dipraktikkan secara turun temurun. Ritual ngalaksa yang dilakukan oleh masyarakat Rancakalong di 5 . rurukan yang terus melestarikan warisan budaya Karuhun. Ritual ngalaksa dengan iringan Tarawangsa sebagai penghormatan pada Dewi Padi Sang Hyang Sri atau Nyi Pohaci. Hasil penelitian ini sebagai upaya melakukan pengumpulan dataset penari trance pada ritual adat nusantara khususnya ritual ngalaksa. Dataset ini digunakan sebagai data latih dan data test untuk model deteksi penari yang mengalami trance. Model deteksi penari trance dengan teknologi kecerdasan artifisial untuk mendeteksi penari yang mengalami trance dan penari yang tidak mengalami trance masih perlu penelitian lebih lanjut. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi model pembelajaran pemanfaatan computer vision pada tari ritual nusantara. DAFTAR PUSTAKA