Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Perbandingan Clinical COPD Questionnaire dengan COPD Assessment Test Dalam Menilai Tingkat Keparahan COPD Irmina Ika Yuniari1*. Reni Amiati2. Kartini Kafiana R. Siti Maryam4 1Ao2Ao3 Dosen Akper Husada Karya Jaya 4 RSUD Cibinong *Koresponden: Irmina Ika Yuniari. Alamat: Jl. Sunter Permai Raya. Tanjung Priok. Email: irminahkj@gmail. Received: 12 agust | Revised: 20 aguts | Accepted: 09 sept Abstrak Latar Belakang: Menurut Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease . Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) saat ini merupakan penyebab utama keempat kematian di dunia, namun diproyeksikan menjadi ke-3 penyebab utama kematian pada tahun 2020. Lebih dari 3 juta orang meninggal karena Chronic Obstructive Pulmonary Disease pada tahun 2012 terhitung 6% dari semua kematian secara global. Prevalensi morbiditas dan mortalitas terkait COPD telah meningkat dari waktu ke waktu. Terdapat 600 juta orang menderita Chronic Obstructive Pulmonary Disease di dunia dengan 65 juta orang menderita COPD derajat sedang hingga berat (WHO, 2. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai assessment yang lebih efektif dalam menilai tingkat keparahan pada pasien COPD. Metodologi Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional analitik. Pada penelitian ini, peneliti mengambil sampel dengan teknik sampling purposive. Total sampel pada penelitian ini sebanyak 30 orang dengan criteria: penderita COPD yang mejalani pengobatan di RSUD Cibinong dengan tidak ada batasan usia, pasien kooperatif dan bersedia untuk menjadi responden. Hasil: Pada uji univariate mayoritas pendidikan responden adalah SMA dengan 16 responden . 3%). jenis kelamin mayoritas adalah laki-laki sebanyak 22 responden . 3%). rata-rata usai 59. 50 tahun dengan standar deviasi 7. dan rata-rata lama menderita COPD selama 5. 83 tahun dengan standar deviasi 9. 494 tahun. pengkajian responden dengan menggunakan kuesioner CCQ dengan kategori tidak stabil sangat terbatas sebanyak 13 responden . 3%) sedangkan menggunakan kuesioner CAT dengan kategori yang sama hanya mendapatkan 7 responden . 3%). Berdasarkan uji hasil mann whitney menunjukan bahwa p value O 005 yang artinya terdapat perbedaan signifikan antara kuesioner CCQ dan CAT. Kesimpulan: Menggunakan kuesioner CCQ lebih efiesien untuk mengetahui tingkat keparahan pada pasien Kata Kunci: Clinical COPD Questionnaire. CCQ. COPD Assessment Test. CAT. COPD Latar Belakang dapat dicegah dan diobati, ditandai dengan keterbatasan Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau Chronic Obstructive aliran udara yang disebabkan oleh kelainan saluran napas Pulmonary Disease(COPD) merupakan penyakit umum, atau alveolus yang bersifat persisten, disebabkan oleh paparan zat, partikel atau gas berbahaya (GOLD, 2. Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 kerusakan dan memperburuk fungsi paru (GOLD, 2. Eksaserbasi didefinisikan sebagai peristiwa akut yang ditandai dengan semakin memburuknya kondisi penyakit Melihat dampak dari COPD maka diperlukan instrument pasien dari kondisi sebelumnya dan menyebabkan pengkajian yang tepat dalam menilai derajat eksaserbasi perubahan dalam pengobatannya (Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease, 2. Eksaserbasi pada penanganan yang tepat. Tujuan penanganan pada pasien COPD adalah mencegah progresif penyakit, mengurangi menentukan tingkat keparahan COPD secara keseluruhan gejala, memperbaiki status kesehatan, dan memperbaiki yang dapat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas. exercise tolerance (Mertha, dkk. , 2. Terdapat beberapa Perkembangan penyakit COPD di tentukan oleh frekuensi instrumen terhadap tingkat ekaserbasi pada pasien COPD, dan tingkat keparahan eksaserbasi. Deteksi derajad intrumen tersebut adalah Kuesioner Klinis COPD (CCQ) dan esaserbasi secara dini dalam meningkatkan kualitias hidup COPD Assessment Test (CAT). penelitian yang dilakukan pasien COPD. oleh Zhou Z et all . dengan hasil dibandingkan dengan COPD COPD CAT. CCQ lebih mungkin untuk mengklasifikasikan pasien Menurut Global Initiative for Chronic Obstructive Lung ke dalam kategori yang lebih parah, dan 1,5 mungkin Disease . COPD saat ini merupakan penyebab utama merupakan titik batas yang lebih baik untuk CCQ daripada keempat kematian di dunia, namun diproyeksikan menjadi 1,0. Baik CAT dan CCQ keseluruhan dengan 3 domainnya ke-3 penyebab utama kematian pada tahun 2020. Lebih mampu membedakan antara kelompok pasien yang dari 3 juta orang meninggal karena COPD pada tahun 2012 berbeda dalam tingkat keparahan COPD. terhitung 6% dari semua kematian secara global. Prevalensi morbiditas dan mortalitas terkait COPD telah meningkat Tujuan Penelitian dari waktu ke waktu. Terdapat 600 juta orang menderita Tujuan Penelitian ini untuk menilai assessment yang lebih COPD di dunia dengan 65 juta orang menderita COPD efektif dalam menilai tingkat keparahan pada pasien COPD. derajat sedang hingga berat (WHO, 2. Metode Penelitian Penyakit paru obstruktif kronik (COPD) merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati, ditandai oleh keterbatasan aliran udara persisten, bersifat progresif, dan disertai dengan respons inflamasi kronik pada saluran napas paru akibat gas atau partikel berbahaya. Eksaserbasi Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional analitik yaitu untuk melihat nilai perbandingan antara satu variable dengan variable yang Dampak dari penyakit COPD adalah terjadinya perburukan gejala respirasi atau eksaserbasi. Eksaserbasi akut yaitu terjadi suatu perburukan gejala pernapasan Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini, antara lain: pasien yang bersifat akut diluar variasi harian normal sehingga pasien memerlukan perubahan pengobatan (Riyanto dan Hisyam, 2. Perburukan gejala pernapasan Ho: Tidak terdapat perbedaan antara Clinical COPD Questionnaire dengan COPD Assessment Test Ha: Terdapat Clinical COPD Questionnaire dengan COPD Assessment Test ditandai dengan sesak meningkat, produksi sputum meningkat, dan perubahan warna sputum. Semakin sering terjadi eksaserbasi akut akan semakin memperberat Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita COPD Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 yang melakukan pengobatan ke RSUD Cibinong. Analisa Data Pada penelitian ini, peneliti mengambil sampel dengan teknik Analisa data pada penelitian ini dengan menggunakan analisa sampling purposive. Total sampel pada penelitian ini sebanyak 30 orang dengan criteria: penderita COPD yang mejalani pendidikan, usia dan lama menderita penyakit COPD. Analisa pengobatan di RSUD Cibinong dengan tidak ada batasan usia, pasien kooperatif dan bersedia untuk menjadi responden. menggunakan analisa frekuensi dan prosentase. Analisa data usia dan lama menderita CPOD menggunkaan mean, median. Instrumen Pengumpulan Data SD dan Min-Max. Sedangkan analisa bivariate untuk Instrument pengumpulan data menggunakan kuesioner mengetahui perbedaan yang terdapat dalam dua kuesioner Kuesioner Klinis COPD (CCQ) dengan nilai Alpha Cronbach tersebut dengan menggunakan uji Mann Whitney. 0,861 yang etrdiri dari 10 pertanyaan dan COPD Assessment Test (CAT) dengan nilai Alpha Cronbach 0,620 yang terdiri dari 8 pertanyaan. Variabel Frekuensi Persentase Tingkat Pendidikan Interprestasi hasil kuesioner CCQ total score = . tem 1 2 3 SMP 4 5 6 7 8 9 . /10. Dengan hasil analisa: SMA Perempuan Laki-laki CCQ<1 : Kesehatan Stabil 1OCCQ<2 : Kesehatan Sedang Jenis Kelamin 2OCCQ<3 : tidak stabil sangat terbatas Pertimbangan Etik CCQ Ou3 : Sangat tidak stabil-sangat parah terbatas Telah dilakukan uji etik dan dinyatakan lolos serta diterima oleh reviewer. Interpresatsi hasil kuesioner CAR dengan total skor minimal 0 dan skor maksimal 40 dengan hasil analisa: O10 : Rendah 11-20 : Sedang 21-30 : Tinggi Ou30 : sangat tinggi Hasil Penelitian Analisa Univariat Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Jenis kelamin dan tingkat pendidikan responden Berdasarkan tabel diatas mayoritas pendidikan responden Pengumpulan Data Pengumpulan Data dilakukan pada bulan April 2025 di RSUD Cibinong. adalah SMA dengan 16 responden . 3%). jenis kelamin mayoritas adalah laki-laki sebanyak 22 responden . 3%). Tabel 4. 2 Distribusi responden berdasarkan usia dan lama Variabel Frekuensi Persentase Kuesioner CCQ menderita COPD Variabel Usia Lama COPD Mean Median Min-Max Kesehatan Stabil Kesehatan Sedang Tidak Stabil sangat terbatas Berdasarkan tabel menunjukkan rata-rata usai 59. 50 tahun Sangat tidak stabil-sangat parah dengan standar deviasi 7. dan rata-rata lama menderita COPD selama 5. 83 tahun dengan standar deviasi 9. 494 tahun. Kuesioner CAT Rendah Sedang TinggiAo Sangat Tinggi Tabel 4. 3 Distribusi responden berdasarkan Kuesioner CCQ Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 dan CAT penelitian lain juga sama hasilnya yang dilakukan Berdasarkan tabel diatas pengkajian responden dengan oleh pasien COPD sebagian besar adalahlaki-laki . ,1%) menggunakan kuesioner CCQ dengan kategori tidak stabil penelitian (Asyrofyet al. , 2. sangat terbatas sebanyak 13 responden . 3%) sedangkan menggunakan kuesioner CAT dengan kategori yang sama Usia hanya mendapatkan 7 responden . 3%) jadi dapat Rata-rata usai pada penelitian ini adalah 59. 50 tahun. Pada disimpilkan bahwa menggunakan kuesioner CCQ lebih tahap awal PPOK belum menggambarkan gejala yang efiesien untuk mengetahui tingkat keparahan pada pasien memberatkan bagi penderitanya namun seiring waktu COPD keluhan dan angka kejadiannya akan terus meningkat sesuai pertambahan umur walaupun pada dasarnya secara fisiologi Analisa Bivariat bahwa faktor umur mempengaruhi aspek-aspek fungsi paru Tabel 4. 1 Uji normalitas variabel tertentu: kapasitas vital dan volume ekspansi paru menurun tetapi dengan kondisi PPOK proses tersebut akan lebih cepat Shapiro-wilk Variabel Statistic Sig. Kuesioner CCQ Kuesioner CAT Berdasarkan tabel diatas menunjukan hasil p value Ou0. terjadi (Smeltzer. , 2. Sejalan dengan penelitian Mersi (Sandhaus et al. , 2. , hasil penelitiannya pasien PPOK menggunakan uji Mann Whitney. rentang umur 56- 65 tahun . ansia akhi. 10% responden. Begitu juga dengan penelitian berada pada rentang umur 32Ae84 tahun dan menyimpulkan Tabel 4. 2 Uji Homogenitas mempengaruhi terjadinya depresi, cemas, penurunan kualitas Variabel Sig. Keterangan Kuesioner CCQ Homogen Kuesioner CAT Homogen Berdasarkan tabel diatas menunjukan hasil p value Ou0. hidup dan sesak pada pasien dengan PPOK sehingga berdistribusi data homogeny. Tabel 4. 3 Uji Mann Whitney Uji Skor Sig. Mann Whitney Berdasarkan uji hasil mann whitney menunjukan bahwa p value O 0. 005 yang artinya terdapat perbedaan signifikan antara kuesioner CCQ dan CAT. Tingkat Pendidikan Pada penelitian ini tingkat pendidikan mayoritas SMA yaitu Tingkat pendidikan mempengaruhi kemampuan untuk memahami dan mengikuti petunjuk agar sehat, apabila seseorang buta huruf informasi tertulis tentang perilaku sehat dan sumber sehat menjadi tidak berharga (Lemone. Burke. , & Bauldoff, 2. Lama menderita COPD Rata-rata lama menderita penyakit COPD dalam penelitian Pembahasan ini adalah 5. 83 tahun. Penelitian yang dilakukan mersi Jenis Kelamin ekaputri . menunjukan lama menderita penyakit Pada hasil penelitian didapatkan hasil bahwa jenis kelamin PPOK mayoritas kurang dari 10 tahun 81. Hasil yang terbanyak adalah laki-laki sebanyak 73. hal ini sesuai penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh dengan teori bahwa laki-laki diperkirakan lebih tinggi (Sharma. Kumar. , & Venkateshan, 2. bahwa dibandingkan wanita hal ini disebabkan karena gaya hidup lama menderita penyakit PPOK ditemukan kurang dari 10 laki-laki yang cenderung lebih banyak merokok (Mozenifar. et all. Sejalan dengan penelitian (Castelinoet al. , 2. pada COPD terdapat kejadian pada mayoritas laki-laki Perbandingan kuesioner CCQ dan CAT Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Pada penelitian didapatkan kuesioner CCQ lebih efisien Pasien Dengan Penyakitparuobstruktif Kronik (Ppo. Vol 6 3% dibandingkan dengan kuesioner CAT No. 1 https://jurnal. 3%). Hal ini sejalan dengan Penelitian yang dilakukan Mosenifar Z. Chronic Obstructive Pulmonary Disease oleh Zhou Z et all . dengan hasil dibandingkan dengan (COPD). Medscape. CAT. CCQ lebih mungkin untuk mengklasifikasikan pasien https://emedicine. com/article/297664-overview ke dalam kategori yang lebih parah, dan 1,5 mungkin Smeltzer. & Bare. Buku Ajar merupakan titik batas yang lebih baik untuk CCQ daripada Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8. 1,0. Baik CAT dan CCQ keseluruhan dengan 3 domainnya Jakarta : EGC mampu membedakan antara kelompok pasien yang berbeda dalam tingkat keparahan PPOK. Nahdah. , & Arbaningsih. Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis Dengan Menggunakan Kuesioner Copd Assessment Kesimpulan Test (Ca. Dan Clinical Copd Questionnaire (Cc. Jurnal Kesimpulan penelitian ini: Ilmiah Maksitek, 6. , 1-10. Sharma. Kumar. , & Venkateshan. Rata-rata usia responden 59. 50 tahun Jenis kelamin terbanyak laki-laki 73. Effectiveness of self_instructional module on knowledge of Tingkat pendidikan mayoritas SMA dengan 53. self-care management of chronic obstructive pulmonary Rata-rata menderita COPD 5. 83 tahun disease among patients with chronic obstructive pulmonary International Journal of Research in Medical menggunakan kuesioner CCQ didaptkan bahwa penderita Sciences. , 4. https://doi. org/http://dx. org/10. COPD dengan kategoro lebih parah lebih banyak 43. Dengan Sandhaus. Strand. Strange. , & Frederick. sedangkan dengan kuesioner CAT sebanyak 23. Pulmonary Disease Dif ers by Relationship Status. 654Ae https://doi. org/10. 1007/s10865-013- The Referensi