Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan Vol. No. July-December 2022 http://jurnal. id/index. php/jiak/index ISSN: 2580-510X/ P-ISSN: 2548-9453 ARTICLE INFORMATION Received December 12 2022 Accepted December 21 2022 Published January 4 2023 Ukuran Perusahaan sebagai Moderator Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Revaluasi Aset Tetap Maulina Dyah Permatasari1. Adibah Yahya2. Erna Apriani3. Dina Faradilla4 1,2,3,. Universitas Pelita Bangsa email: adibah. yahya@pelitabangsa. ABSTRAK Model revaluasi aset tetap yang nilainya dapat diukur secara andal, harus dicatat sebesar nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Sedikitnya perusahaan di Indonesia untuk melakukan revaluasi aset tetap disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu intensitas aset tetap, tingkat likuiditas, leverage, serta ukuran perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas aset tetap, leverage, likuiditas terhadap keputusan perusahaan melakukan revaluasi aset tetap dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi. Populasi penelitian adalah perusahaan sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebanyak 44 perusahaan dengan periode tahun 2018 - 2021. Teknik pemilihan sampel menggunakan puposive sampling, didapat sampel sebanyak 112 data. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik, hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas aset tetap dan current ratio tidak berpengaruh terhadap pemilihan revaluasi aset tetap. Namun debt to assets ratio memiliki pengaruh positif terhadap revaluasi aset tetap. Ukuran perusahaan tidak dapat menjadi variabel moderasi bagi intensitas asert tetap dan current ratio terhadap revaluasi aset tetap. Sebaliknya ukuran perusahaan dapat memperlemah pengaruh variabel debt to assets ratio terhadap revaluasi aset tetap. Kata kunci: Intensitas Aset Tetap. Current Ratio. Debt To Assets Ratio. Ukuran Perusahaan. Revaluasi Aset Tetap DOI: https://doi. org/10. 32639/jiak. Page The fixed asset revaluation model, whose value can be reliably measured, must be recorded at fair value on the revaluation date less accumulated depreciation and accumulated impairment losses that occur after the revaluation date. The small number of companies in Indonesia to conduct fixed asset revaluation is due to several influencing factors, namely fixed asset intensity, level of liquidity, leverage, and company size. This study aims to determine the effect of fixed asset intensity, leverage, liquidity on the company's decision to revaluate fixed assets with firm size as a moderating variable. The research population is various industrial sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange with a total of 44 companies for the period 2018 - 2021. The sample selection technique used purposive sampling, obtained a sample of 112 data. The analysis technique used is logistic regression analysis, the results of the study show that the intensity of fixed assets and current ratios have no effect on the choice of fixed asset revaluation. However, the debt to assets ratio has a positive effect on the revaluation of fixed Company size cannot be a moderating variable for the intensity of fixed assets and the current ABSTRACT Permatasari. Yahya. Apriani & Faradilla UKURAN PERUSAHAAN SEBAGAI MODERATORA ratio to the revaluation of fixed assets. Conversely, company size can weaken the effect of the variable debt to assets ratio on fixed asset revaluation. Keywords: Fixed Asset Intensity. Current Ratio. Debt To Assets Ratio. Company Size. Fixed Asset Revaluation PENDAHULUAN Aset tetap merupakan salah satu aset berwujud yang dimiliki perusahaan dan digunakan dalam kegiatan produksi, penyediaan barang dan jasa serta kepentingan administratif yang diharapkan dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lama atau lebih dari satu periode. Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehannya apabila pengukuran biaya perolehan dilakukan secara andal biaya perolehannya serta memiliki manfaat ekonomi di masa mendatang. Model revaluasi aset tetap merupakan metode pengukuran aset tetap yang diputuskan oleh manajemen perusahaan dengan pengukuran didasarkan pada nilai wajar saat dilakukan revaluasi dikurangi dengan akumulasi penyusutan aset tetap dan akumulasi rugi dari penurunan nilai setelah dilakukan revaluasi aset tetap (Aziz et al. , 2. Perusahaan yang relevan dalam mengkaji mengenai revaluasi aset tetap adalah perusahaan yang bergerak dalam sektor industri manufaktur. Hal ini disebabkan karena sektor industri manufaktur di Indonesia merupakan sektor industri yang sedang berkembang pesat dan memiliki peluang untuk memperoleh dana dengan cara revaluasi aset tetap (Wijaya, 2. Revaluasi menawarkan kepada manajemen dalam penyalahgunaan pelaporan angka, yang merusak kepercayaan dan aspirasi investor dan pihak lain dan tidak dapat diterima. Di sisi lain, revaluasi aset didukung oleh pemerintah, diharapkan regulasi terbaru tentang revaluasi aset dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan dengan meningkatkan nilai aset. Nilai baru aset memiliki keuntungan pada negara atas penilaian kembali aset tetapnya karena berada pada nilai wajar (Yulistia M et al. , 2. Pemilihan revaluasi aset tetap dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya intensitas aset tetap, tingkat likuiditas, tingkat leverage, serta ukuran perusahaan. Intensitas aset tetap perusahaan menngungkapkan besar kecilnya total aset tetap yang diperoleh perusahaan dibandingkan dengan total asetnya (Sitepu & Silalahi, 2. Ketika penggunaan aset tetap yang tinggi maka perusahaan akan memilih untuk melakukan revaluasi aset (Fioni et al. , 2019. Jannah & Diantimala, 2018. Jefriyanto, 2. Sedangkan (Aziz et al. , 2017. Sitepu & Silalahi, 2. menyatakan dalam penelitiannya bahwa semakin tinggi intensitas aset tetap cenderung tidak melakukan revaluasi aset tetap. Sementara (Fauziah & Pramono, 2020. Ghozali & Tedjasuksmana, 2019. Yanto & Sari, 2. menyatakan bahwa revaluasi aset tetap tidak dipengaruhi oleh intensitas aset tetap. Page Penyajian nilai aset yang relevan diperlukan sebagai daya tarik kepada kreditur, agar perusahaan dapat dengan mudah melakukan pinjaman. Nilai aset tetap dapat dijadikan jaminan kredit dalam melakukan pinjaman, yang tercermin dalam rasio leverage yang merupakan rasio tingkat aset perusahaan yang didanai oleh utang perusahan (Aziz et al. , 2. Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi akan berupaya mengurangi biaya perjanjian utang, dengan demikian perusahaan lebih memilih model revaluasi aset dalam pencatatan asetnya. Hal tersebut sejalan dengan penelitian (Aziz et al. , 2017. Perusahaan yang memiliki masalah dalam pemnbayaan utang dapat ditunjukkan dari rendahnya tingkat Dengan demikian, perusahaan akan berusaha memberikan jaminan melalui tampilan nilai aset tetap yang lebih tinggi, serta memberi keyakinan kepada para investor mengenai kesanggupan perusahaan dalam menutup seluruh utangnya jika perusahaan tersebut mengalami likuidasi. Tingginya nilai aset mampu menyampaikan informasi mengenai penerimaan sejumlah kas atas penjualan aset penjualan aset yang dapat menunjang kesanggupan perusahaan dalam melunasi kewajibannya (Gunawan & Nuswandari, 2. Maka dari itu, pengambilan keputusan model revaluasi aset tetap akan dilakukan jika tingkat likuiditas rendah (Sitepu & Silalahi, 2. Akan tetapi beberapa penelitian menyatakan bahwa tingkat likuiditas tidak mempengaruhi perusahaan dalam pengambilan keputusan revaluasi aset tetap. (Gunawan & Nuswandari, 2019. Jannah & Diantimala, 2018. Jefriyanto, 2. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan Vol. No. January-July 2022 Sitepu & Silalahi, 2. berbeda dengan penelitian (Fauziah & Pramono, 2. yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap revaluasi aset tetap. Sementara (Jannah & Diantimala, 2018. Jefriyanto, 2021. Yanto & Sari, 2. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap revaluasi aset tetap. Ukuran perusahan menjadi salah satu variabel yang dapat mempengaruhi pemilihan revaluasi aset tetap, dimana kecenderungan perusahaan besar dalam melakukan revaluasi aset tetap (Aziz et al. , 2017. Fauziah & Pramono, 2020. Jefriyanto, 2. Sedangkan (Jannah & Diantimala, 2018. Sitepu & Silalahi, 2. tidak berhasil menemukan pengaruh ukuran perusahaan terhadap keputusan untuk merevaluasi aset tetap. Berdasarkan latar belakang permasalahan dan inkonsistensi penelitian yang telah dipaparkan, maka tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh intensitas aset tetap, leverage, likuiditas, terhadap keputusan revaluasi aset tetap dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Revaluasi Aset Tetap Model revaluasi menggunakan salah satu konsep akuntansi yakni relevansi, dimana nilai aset diakui sebagai present value. Selama perhitungan, aset diukur pada nilai wajarnya pada tanggal revaluasi yang diusulkan, dikurangi penyusutan dan kerugian penurunan nilai aset. Penggunaan metode ini harus dilakukan secara berkala untuk potensi perubahan nilai yang signifikan. Dalam menerapkan model revaluasi ini, manajemen dapat memilih antara dua jenis revaluasi, yaitu model upward revaluation, dimana nilai buku aset yang akan direvaluasi meningkat. dan model downward revaluation, dimana nilai aset yang direvaluasi menurun karena nilai pasar lebih kecil dari nilai tercatat (D. Ghozali & Tedjasuksmana, 2. Menurut PSAK 16 Aset Tetap 2016 Revisi PSAK 16 tentang Aset Tetap, dengan menggunakan metode revaluasi aset pasca pengakuan awal sendiri mencakup dua model, yaitu model biaya dan model Model biaya mengakui nilai aset yang diakui sebelumnya dikurangi akumulasi penyusutan dan kerugian penurunan nilai. Pengolahan dalam model ini berlaku sama dengan menggunakan kriteria yang telah ada sebelumnya. Banyak perusahaan menggunakan model biaya ini, karena diduga memiliki nilai yang andal serta dianggap lebih cocok dengan karakter perusahaan. Angka positif dalam revaluasi menunjukkan kenaikan niai buku aset tetap dikarenakan penyesuaian nilai pasar dan tidak dicantumkan dalam laporan laba rugi (Sitepu & Silalahi, 2. Page Likuiditas Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat waktu. Likuiditas perusahaan dinyatakan dalam ukuran aset lancarnya, yaitu aset yang diap dilikuiditas, termasuk kas, surat berharga, piutang, dan persediaan. Bergantung pada tingkat likuiditas, perusahaan dapat memutuskan apakah akan menilai kembali aset tetap (Sartono, 2. Kewajiban keuangan jangka pendek yang harus segera dipenuhi dapat berupa utang yang jatuh tempo dalam jangka dekat, upah tenaga kerja, utang atas pembelian bahan, pembayaran tagihan listrik, kebutuhan air minum untuk proses produksi, dan sebagainya. Kewajiban tersebut dapat dibayar dari aset lancar yang dimiliki perusahaan (Kariani & Budiasih, 2. Pertimbangan dalam pemilihan model revaluasi aset Intensitas Aset Tetap Intensitas aset tetap menggambarkan investasi perusahaan pada aset tetap perusahaan, pengukuran intensitas aset tetap dihitung dari perbandingan total aset tetap dengan total aset yang dimiliki Makin tinggi rasio aset tetap, maka semakin tinggi biaya penyusutan yang melekat pada aset tetap tersebut (Sitepu & Silalahi, 2. Cara yang dapat digunakan perusahaan dalam melihat tingkat proporsi aset tetap terhadap total aset dengan melihat rasio intensitas aset tetap (D. Ghozali & Tedjasuksmana, 2. Intensitas aset tetap mencerminkan besaran proporsi kepemilikan aset tetap terhadap total aset sehingga nilai beban depresiasi akan besar, perusahaan dapat memanfaatkan beban penyusutan untuk mengurangi beban pajak yang dibayarkan perusahaan, hal tersebut akan berdampak pada peningkatan profitabilitas perusahaan (Manihuruk & Farahmita, 2. Permatasari. Yahya. Apriani & Faradilla UKURAN PERUSAHAAN SEBAGAI MODERATORA tetap dapat ditunjukkan dari tingkat likuiditas, ketika entitas memiliki likuiditas yang tinggi akan lebih condong mengambil keputusan untuk memilih metode revaluasi asset tetap mengingat biaya yang dikeluarkan untuk revaluasi aset tetap cukup besar (Hidayat & Hati, 2. Revaluasi membantu memberikan informasi terkini mengenai perolehan jumlah kas dari penjualan aset, yang mampu membantu menambah kapasitas pinjaman perusahaan dan menurunkan beban kredit. Leverage Rasio keuangan yang paling umum digunakan pemangku kepentingan yaitu leverage, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar pembiayaan aset oleh hutang di sebuah perusahaan. Selanjutnya, melalui leverage anda dapat melihat struktur modal perusahaan (D. Ghozali & Tedjasuksmana, 2. Mengingat transaksi revaluasi aset tetap akan meningkatkan rasio modal terhadap utang, maka pemilihan model revaluasi akan dilakukan jika tingkat leverage tinggi (Hidayat & Hati, 2. Rasio leverage yang tinggi menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai aset (Nailufaroh, 2. Semakin tinggi rasio leverage, semakin besar risiko yang dihadapi perusahaan. Umumnya kreditor lebih tertarik pada rendahnya rasio utang dikarenakan besarnya perlindungan terhadap kerugian jika terjadi likuidasi. Kelangsungan hidup perusahaan di hadapan kreditur menjadi faktor pemilihan revaluasi aset ketika tingkat leverage tinggi (Manihuruk & Farahmita, 2. Ukuran Perusahaan Pemilihan model revaluasi aset tetap dapat diamati melalui ukuran perusahaan, ukuran perusahaan merupakan parameter penentuan besar kecilnya perusahaan dan dapat diukur melalui nilai total aset, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain (Kariani & Budiasih, 2. , (Yahya et al. , 2. Perusahaan yang lebih besar cenderung memilih metode revaluasi dibandingkan dengan perusahaan kecil, karena semakin besar ukuran perusahaan akan semakin banyak perhatian politik yang diterima perusahaan. Perusahaan berusaha untuk tidak fokus pada perhatian politik dalam mengurangi tanggungan biaya politik yang tinggi (Gunawan & Nuswandari, 2. Pengaruh Intensitas Aset Tetap Terhadap Revaluasi Aset Tetap Intensitas aset tetap mengacu pada rasio aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan terhadap total aset. Sebagain besar modal perusahaan tertanam dalam aset tetap, sehingga pemilihan model revaluasi aset tetap dianggap penting. Kegiatan operasional perusahaan dijalankan oleh aset tetap, sehingga perolehan pinjaman dapat dilakukan melalui jaminan atas aset tetap. Nilai perusahaan dapat ditingkatkan melalui aset tetap, dikarenakan tingginya intensitas aset tetap dapat meningkatkan kapasitas pinjaman perusahaan. Intensitas aset tetap juga dapat mencerminkan ekspektasi penerimaan kas atas penjualan aset tetap, oleh karena itu perusahaan cenderung memilih revaluasi aset pada saat intensitas aset tetap tinggi. Nilai intensitas aset tetap yang tinggi mendorong perusahaan untuk menggunakan keputusan revaluasi aset tetap yang lebih menunjukkan keadaan aset sebenarnya (Fioni et al. , 2019. Handari & Rianti, 2020. Jannah & Diantimala, 2018. Jefriyanto, 2021. Merryanti, 2. H1: Intensitas Aset Tetap berpengaruh terhadap Revaluasi Aset Tetap Page Kepemilikan kas yang rendah merupakan salah satu penyebab ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Dibutuhkan waktu bagi perusahaan dalam melakukan pembayaran utang melalui aset lancar lainnya. Satu diantara beberapa faktor yang mengindikasikan perusahaan mengalami kesulitan keuangan berada pada rendahnya tingkat likuiditas. Kondisi tersebut terjadi akibat ketidakseimbangan perubahan antara kewajiban lancar dan aset lancar, dimana kewajiban lancar tinggi namun aset lancar tidak mengalami kenaikan. Kekhawatiran kreditur atas likuiditas yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya, yang Pengaruh Current ratio Tetap Terhadap Revaluasi Aset Tetap Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Kebijakan dalam melakukan revaluasi aset tetap dapat ditentukan berdasarkan tingkat likuiditas perusahan, dengan kebijakan revaluasi perusahaan dapat meningkatkan kapasitas pinjaman melalui jumlah kas yang berasal dari penjualan aset. Pentingnya likuiditas dapat ditinjau dengan mempertimbangkan dampak dari ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya (Permatasari et al. , 2. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan Vol. No. January-July 2022 berdampak pada keterlambatan pembanyaran bunga dan pokok pinjamanan atau lebih lanjut pada kegagalan pengembalian pinjaman. (D. Ghozali & Tedjasuksmana, 2. Teori akuntansi positif dapat digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi pemilihan metode akuntansi terbaik ketika tingkat likuiditas rendah. Tingkat likuiditas rendah menunjukkan perusahaan dalam kondisi yang tidak baik, kondisi tersebut mengarah pada keputtusan pemilihan revaluasi aset Keadaan tersebut menunjukkan bahwa melalui revaluasi aset tetap, perusahaan dapat menyampaikan informasi yang realistis mengenai penerimaan kas atas penjualan aset yangd apat membantu menaikkan kapasitas pinjaman serta mengurangi biaya pinjaman (Sitepu & Silalahi, 2019. Teruni et al. , 2. H2: Current ratio berpengaruh terhadap Revaluasi Aset Tetap Pengaruh Debt to assets ratio Tetap Terhadap Revaluasi Aset Tetap Pengukuran atas penggunaan pembiayaan utang perusahaan ditunjukkan melalui tingkat. Rasio leverage juga bisa disebut rasio utang. Tinggunya rasio leverage mengungkapkan rendahnya rasio modal sendiri terhadap aset pembiayaan. Risiko besar akan dihadapi perusahaan ketika tingginya rasio leverage. Kreditor tertarik pada rendahnya debt ratio karena semakin rendah debt ratio maka kreditur merasa memiliki perlindungan atas pinjaman perusahaan jika terjadi likuidasi. Perusahaan memilih metode revaluasi aset tetap dalam meningkatkan basis aset ketika tingginya tingkat leverage. Kondisi tersebut dapat mengurangi rasio utang, serta mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan di hadapan Akibat revaluasi akan mengakibatkan peningkatan ekuitas perusahaan, dengan harapan dapat mengurangi leverage (D. Ghozali & Tedjasuksmana, 2019. Merryanti, 2. H3: Debt to assets ratio berpengaruh terhadap Revaluasi Aset Tetap Ukuran perusahaan sebagai moderasi pengaruh Intensitas Aset Tetap. Current ratio, dan Debt to Equity Ratio Terhadap Revaluasi Aset Tetap dengan Size sebagai Moderasi Ukuran perusahaan merupakan indikator yang mencerminkan status perusahaan. Ada beberapa parameter yang menentukan besar kecilnya suatu perusahaan, seperti jumlah karyawan yang dipekerjakan untuk menjalankan operasi perusahaan, nilai penjualan atau pendapatan perusahaan, dan total aset yang dimiliki perusahaan. Laporan laba rugi yang disampaikan oleh perusahaan telah menarik perhatian regulator dan lainnya dengan kekuatan dan kapasitas untuk membuat aturan baru untuk merealokasi sumber daya perusahaan. Perusahaan dengan skala besar dalam mengurangi tekanan politik dari pemerintah, akan menghindari pelaporan keuntungan yang tinggi. Sinyal bagi perusahaan untuk segera merevaluasi aset tetap dapat ditinjau dari penyampaian keuntungan yang tinggi, dengan revaluasi aset tetap merupakan cara efektif dalam mengurangi laba yang dilaporkan dikarenakan bertambahnya biaya penyusutan yang dihasilkan dari penilaian kembali aset tetap (Fauziah & Pramono. Sartika et al. , 2. Setelah revaluasi aset, nilai masuk aset tetap dapat mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut memfasilitasi pengambilan keputusan pemangku kepentingan. H4: Size dapat memperkuat pengaruh intensitas aset tetap terhadap revaluasi aset tetap H5: Size dapat memperkuat pengaruh current ratio tetap terhadap revaluasi aset tetap H6: Size dapat memperkuat pengaruh debt to assets ratio tetap terhadap revaluasi aset tetap Page Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif, dalam penelitian ini mengukur pengaruh variabel intensitas aset tetap, current ratio, debt to assets ratio terhadap revaluasi aset tetap dengan ukuran perusahaan . sebagai variabel moderasi. Objek penelitian ini adalah perusahaan sektor aneka industri yang terdaftar di bursa efek Indonesia (BEI) antara tahun 2018 Ae 2021. Data sekunder menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan yang dijadikan Metode pengumpulan sampel menggunakan purposive sampling. Mengenai penentuan sampel yang digunakan adalah informasi yang lengkap selama periode penelitian, perusahaan yang METODE Permatasari. Yahya. Apriani & Faradilla UKURAN PERUSAHAAN SEBAGAI MODERATORA menggunakan mata uang rupiah. Jumlah populasi sebanyak 44 perusahaan dan yang dijadikan sampel sebanyak 28 perusahaan selama 4 tahun atau sebanyak 112 data penelitian. Adapun kriteria pemilihan sampel sebagai berikut: Tabel 1. Pengambilan Sampel Kriteria Perusahaan sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Perusahaan yang menyajikanlaporan keuangan periode 2018 Ae 2021 Perusahaan yang menyajikan laporan keuangan dalam satuan rupiah Sumber: Data penelitian . Tabel 2. Definisi Operasional Variabel Variabel Pengukuran Revaluasi Aset Tetap (RAT) adalah nilai 1 = melakukan revaluasi aset atas suatu aset diakui menjadi nilai yang 0 = tidak melakukan revaluasi berlaku saat ini, nilai wajar atas aset aset tetap akan dinilai pada periode saat aset tersebut ingin direvaluasi, kemudian dikurangi penyusutan dan impairment loss dari aset tersebut (D. Ghozali & Tedjasuksmana, 2. Intensitas Aset Tetap (IAT) mengukur perbandingan aset tetap terhadap total aset perusahaan (Merryanti, 2. Current ratio (CR) adalah tingkat kemampuan asset dari perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau hutang jangka pendek (Yahya & Hidayat, 2. Debt to assets ratio (DAR) adalah tingkat perusahaan (Grediani et al. , 2022. Yahya & Hidayat, 2. Ukuran Perusahaan (SIZE) merupakan Ln (Total Asse. perusahaan (Yahya et al. , 2. Sumber: Berbagai literasi Jumlah Skala Nominal Rasio Rasio Rasio Rasio Penelitian ini menggunakan data panel dengan persamaan sebagai berikut: RAT = itIATit itCRit itDARit itIATit *SIZEit itCRit *SIZEit itDARit*SIZEit e Page Revaluasi Aset Tetap (RAT) menggambarkan perusahaan yang melakukan revaluasi aset tetap dengan variabel dummy, dimana nilai 0 menunjukkan perusahaan tidak melakukan revaluasi aset tetap dan nilai 1 perusahaan melakukan revaluasi aset tetap. Intensitas Aset Tetap (IAT) merupakan rasio aset tetap dengan total aset. Rasio likuiditas diproksikan melalui Current ratio (CR) yaitu rasio aset lancar dengan total liabilitas jangka pendek. Rasio leverage mengunakan pengukuran Debt to assets ratio (DAR) yaitu kemampuan aset perusahaan dalam menanggung kewajibannya. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan Vol. No. January-July 2022 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Uji statistik deskriptif menggambarkan data dari nilai minimum, maksimum, rata-rata, dan standar deviasi dari seluruh variabel penelitian. Untuk variabel dengan skala nominal dalam hal ini revaluasi aset tetap akan digunakan uji statistik distribusi frekuensi (Ghozali, 2. Berikut hasil uji distribusi frekuensi dan statistik deskriptif: Tabel 3. Distribusi Frekuensi RAT Frekuensi Tidak melakukan revaluasi aset tetap Melakukan revaluasi aset tetap Total Sumber: Data penelitian . Tabel 4. Hasil Uji Statistik Deskriptif IAT DAR Mean Maximum Minimum Std. Dev. Observations Sumber: Data penelitian . Jumlah Persen SIZE Hasil uji distribusi frekuensi (Tabel . menunjukkan bahwa terdapat 5 perusahaan yang melakukan revaluasi aset atau sebesar 17,86% sedangkan 23 perusahaan lainnya atau sebesar 82,14% tidak melakukan revaluasi aset tetap. Untuk tabel 4, dapat dijelaskan bahwa variabel intensitas aset tetap (IAT) memiliki nilai minimum sebesar 0,15 dan nilai maksimum 1,7992 dengan nilai rata-rata 0,5117, dan nilai standar deviasi 0,5637. Variabel current ratio (CR) memiliki nilai minimum 0,0587, nilai maksimum 13,041, nilai rata-rata 2,1182, dan standar deviasi sebesar 1,9244. Variabel debt to assets ratio (DAR) memiliki nilai minimum 0,0005, nilai maksimum 1,8233, nilai rata-rata 0,4811, dan standar deviasi sebesar 0,2978. Variabel ukuran perusahaan (SIZE) memiliki nilai minimum 20,4538, nilai maksimum 31,5633, nilai rata-rata 27,6165, dan standar deviasi sebesar 1,87896. Analisis Regresi Logistik Analisis regresi logistik diaplikasikan pada penelitian ini sebab variabel dependen yaitu revaluasi aset tetap (RAT) menggunakan variabel dummy dengan skala nominal. Proses pengujian menggunakan bantuan aplikasi e-views, hasil analisis regresi sebagai berikut: Kesimpulan H1 ditolak H1 ditolak H3 diterima H4 ditolak H5 ditolak H6 diterima Model diterima Page Tabel 5. Hasil Uji Regresi Logistik Variable Coeffisient Prob IAT DAR IAT*SIZE CR*SIZE DAR*SIZE McFadden R-squared Prob(LR statisti. Hosmer-lemeshow Sumber: Data sekunder diolah . Permatasari. Yahya. Apriani & Faradilla UKURAN PERUSAHAAN SEBAGAI MODERATORA Berdasarkan tabel 5, didapat persamaan sebagai berikut: RAT = -0,150542 Ae 21,55871(IAT) -11,67178(CR) 48,14808(DAR) 0,831804 (IAT *SIZE) 0,394967(CRi*SIZE) Ae 1,838828(DAR*SIZE) e Berikut penjelasan atas hasil pengujian: Dari persamaan dapat disimpukan bahwa nilai konstanta sebesar -0,150542 yang menunjukkan arti bahwa jika intensitas aset tetap, current ratio, debt to equity ratio, interaksi intensitas aset tetap dan ukuran perusahaan, interaksi current ratio dan ukuran perusahaan, dan interaksi debt to equity ratio dan ukuran perusahaan diasumsikan tidak mengalami perubahan, maka nilai dari revaluasi aset tetap turun sebesar 0,150542. Dapat disimpulkan bahwa perusahaan lebih memilih tidak melakukan revaluasi aset tetap. Koefisien Regresi () intensitas aset tetap adalah sebesar 21,55871, artinya intensitas aset tetap memiliki arah negatif. Keadaan tersebut menerangkan bahwa setiap kenaikan satu satuan intensitas aset tetap akan mengakibatkan penurunan revaluasi aset tetap sebesar 21,55871. Koefisien Regresi () current ratio adalah sebesar Ae 11,67178 artinya current ratio mempunyai arah negatif. Kondisi tersebut membuktikan bahwa setiap kenaikan satu satuan current ratio akan mengakibatkan penurunan revaluasi aset tetap sebesar 11,67178. Koefisien Regresi () debt to assets ratio adalah sebesar 48,14808, artinya debt to assets ratio mempunyai arah positif. Hasil uji mengindikasikan bahwa setiap kenaikan satu satuan debt to assets ratio akan mengakibatkan peningkatan revaluasi aset tetap sebesar 48,14808. Koefisien Regresi () IAT*SIZE adalah sebesar 0,831804, artinya IAT*SIZE mempunyai arah positif. Hasil uji memperlihatkan bahwa setiap kenaikan satu satuan IAT*SIZE akan mengakibatkan kenaikan revaluasi aset tetap sebesar 0,831804. Koefisien Regresi () CR*SIZE adalah sebesar 0,394967, artinya CR*SIZE mempunyai arah positif. Kondisi tersebut menerangkan bahwa setiap kenaikan satu satuan CR*SIZE akan mengakibatkan kenaikan revaluasi aset tetap sebesar 0,394967. Koefisien Regresi () DAR*SIZE adalah sebesar -1,838828, artinya DAR*SIZE mempunyai arah negatif. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu satuan DAR*SIZE akan mengakibatkan penurunan revaluasi aset tetap sebesar 1,838828. Variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 18,81% dan sisanya sebesar 81,19% dapat dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel penelitian. Hasil uji secara simultan didapat nilai probabiliti sebesar 0,003 kurang dari 0,05 yang berarti bahwa variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen. Uji hosmer-lemeshow digunakan untuk menguji model sehingga dikatakan fit jika nilai probability Chi-Square lebih dari 0,05. Model mampu memprediksi nilai observasi dan dapat dikatakan model dapat diterima. Hail pengujian menunjukkan nilai sebesar 0,6347 lebih dari 0,05, menunjukkan bahwa model dapat diterima. Page Pengaruh Intensitas Aset Tetap Terhadap Revaluasi Aset Tetap Berdasarkan hasi analisis data penelitian dan uji hipotesis yang telah dilakukan, didapati variabel intensitas aset tetap tidak berpengaruh terhadap revaluasi aset tetap. Hal ini ditunjukkan dengan nilai probabilitas sebesar 0,2515 > 0,05 (Tabel . Tidak berpengaruhnya intensitas aset tetap pada revaluasi aset tetap karena pemilihan revaluasi aset tetap oleh manajemen tidak didasarkan pada intensitas aset tetap yang diperoleh perusahaan. Bahkan jika sebuah perusahaan menetapkan revaluasi untuk menambah intensitas aset tetapnya, investor dan kreditur dapat mengkaji keputusannya tanpa ada informasi tentang revaluasi karena nilai dan penjelasan revaluasi tersedia dengan cepat. Hal ini diperkuat dengan hasil uji statistik deskriptif, nilai mean intensitas aset tetap adalah 0,5177 atau sebesar 51,77% dari total aset yang dimiliki perusahaan. Semakin besar aset tetap yang perusahan miliki, semakin banyak uang tunai yang didapat dari penjualan aset tersebut. Oleh karena itu, dapat dirumuskan bahwa besar kecilnya intensitas aset tetap tidak mempengaruhi aset tetap perusahaan yang harus direvaluasi. Hasil penelitian sejalan dengan (Fauziah & Pramono, 2020. Ghozali & Tedjasuksmana, 2019. Yanto & Sari, 2. Pembahasan Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Keuangan Vol. No. January-July 2022 Pengaruh Current ratio Tetap Terhadap Revaluasi Aset Tetap Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai probabilitas variabel current ratio terhadap revaluasi aset tetap sebesar 0,1089 > 0,05 (Tabel . Hal ini berarti bahwa likuiditas tidk berpengaruh tehadap pemilihan revaluasi aset tetap. Hasil mengindikasikan bahwa keputusan perusahaan dalam memilih revaluasi aset tetap tidak hanya berfokus pada peningkatan likuiditas perusahaan. Besar kecilnya kemampuan perusahaan dalam menanggung kewajiban lancarnya tidak menjadi patokan perusahaan dalam memilih revaluasi aset tetap. Tidak ada pengaruh variabel likuiditas terhadap revaluasi aset tetap karena terdapat asimetri informasi dalam penjelasan kreditur tentang kas yang diterima dari penjualan aset tetap perusahaan ketika aset tetap dinilai kembali. Reputasi perusahaan tidak lagi didukung oleh penilaian kembali aset tetap, dikarenakan adanya pengungkapan keputusan revaluasi yang dijabarkan dalam laporan keuangan perusahaan. Kondisi ini diperkuat dengan hasil uji statistik deskriptif, nilai mean dari likuiditas adalah 2,1182 atau sebesar 211,82%. Dari data tersebut mengindikasikan kondisi likuiditas perusahaan sampel yang baik disebabkan jumlah aset lancar yang lebih besar dibandingkan kewajiban lancar. Tingginya likuiditas menunjukkan keputusan perusahaan untuk tidak melakukan revaluasi aset tetap, karena likuiditas yang tinggi membuktikan bahwa perusahaan memiliki sumber daya untuk menjamin keberlanjutan usahanya terutama dari perbandingan aktiva lancar dan kewajiban lancar terutama dalam operasi jangka pendek (Gunawan & Nuswandari, 2019. Jannah & Diantimala. Jefriyanto, 2. Pengaruh Debt to assets ratio Tetap Terhadap Revaluasi Aset Tetap Hasil pengujian hipotesis mengungkapkan bahwa nilai probabilitas variabel debt to assets ratio memiliki nilai sebesar 0,0029 < 0,05. Hasil membuktikan bahwa variabel DAR memiliki pengaruh positif terhadap revaluasi aset tetap. Pengaruh positif berarti bahwa semakin tinggi variabel debt to assets ratio maka perusahaan akan memilih revaluasi aset tetap, hasil penelitian diperkuat oleh nilai mean debt to assets ratio sebesar 0,4811 atau sebesar 48,11% yang menunjukkan nilai rata-rata leverage cukup baik. Semakin tinggi nilai leverage akan semakin tinggi pula tingkat aset yang dibiayai utang, sehingga kepemilikan aset tetap yang tinggi akan mendorong perusahaan melakukan revaluasi aset tetap. Reputasi finansial perusahaan akan dapat diperbaiki melalui penurunan rasio leverage, memberikan keyakinan kepada kreditur dalam memberikan kapasitas pinjaman yang lebih besar. Pinjaman yang besar berdampak pada penerimaan dana perusahaan serta dapat mempengaruhi keputusan manajemen dalam memilih revaluasi aset tetap yang dapat memperkuat posisi keuangan dan pertumbuhan perusahaan. Akibatnya perusahaan dapat melakukan ekspansi pada proyek-proyek yang menguntungkan, hasil penelitian sejalan dengan (Aziz et al. , 2017. Sitepu & Silalahi, 2. Ukuran perusahaan sebagai moderasi pengaruh Intensitas Aset Tetap. Current ratio, dan Debt to Equity Ratio Terhadap Revaluasi Aset Tetap dengan Size sebagai Moderasi Hasil menunjukkan bahwa interaksi antara intensitas aset tetap dan ukuran perusahaan memiliki nilai probabilitas sebesar 0,2339 > 0,05, hal ini berarti bahwa variabel ukuran perusahaan tidak dapat dijadikan sebagai variabel moderasi. Untuk interaksi current ratio dan ukuran perusahaan memiliki nilai signifikansi sebesar 0,1181 > 0,05, hasil membuktikan bahwa variabel ukuran perusahaan tidak dapat dijadikan sebagai variabel moderasi pengaruh current ratio terhadap revaluasi aset tetap. Page Sedangkan untuk interaksi debt to assets ratio dan ukuran perusahaan, hasil menunjukkan nilai probabilitas sebesar 0,0023 < 0,05 yang berarti bahwa ukuran perusahaan memperkuat pengaruh debt to assets ratio terhadap revaluasi aset tetap dengan hubungan negatif. Hubungan negatif menunjukkan bahwa ukuran perusahaan memperlemah pengaruh debt to assets ratio terhadap revaluasi aset tetap. Hal tersebut dapat diartikan bahwa semakin besar ukuran perusahaan perusahaan akan mendorong perusahaan untuk tidak melakukan revaluasi aset tetap yang didukung oleh tingkat leverage yang Tingkat leverage yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan memiliki reputasi yang baik dihadapan kreditur. Perusahaan besar cenderung memiliki tingkat leverage rendah, dikarenakan nilai aset yang besar. Permatasari. Yahya. Apriani & Faradilla UKURAN PERUSAHAAN SEBAGAI MODERATORA SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas aset tetap, current assets, dan debt to asstes ratio terhadap revaluasi aset tetap. Serta memilih ukuran perusahan sebagai variabel moderasi antara intensitas aset tetap, current assets, dan debt to asstes ratio terhadap revaluasi aset tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh intensitas aset tetap dan current ratio terhadap pemilihan revaluasi aset tetap. Sedangkan untuk variabel debt to assets ratio terdapat pengaruh positif terhadap revaluasi aset tetap. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat intensitas dan likuiditas yang tinggi tidak dijadikan sebagai acuan dalam melakukan pemilihan revaluasi aset tetap, namun ketika tingkat leverage tinggi perusahaan cenderung melakukan revaluasi aset tetap. Ukuran perusahaan tidak dapat dijadikan sebagai variabel moderasi untuk variabel intensitas aset tetap dan current ratio terhadap revaluasi aset tetap. Namun ukuran perusahaan dapat memperlemah pengaruh debt to asset ratio terhadap revaluasi aset tetap. Hasil tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi perusahaan, tingkat leverage yang dimiliki semakin rendah hal tersebut mendorong perusahan untuk tidak melakukan revaluasi aset tetap. REFERENSI